Model Pengembangan Kurikulum Tahfidzul Qur'an di Madrasah Muhammad Muhlis *1 Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin (STAIS) Pasuruan,? INDONESIA Korespondensi : muhlis@staispasuruan.ac.id,, Telp: 085606665266 Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submit: Agustus 25, 2025 Review: September 20, 2025 Publish: Oktober 21, 2025 Pengembangan kurikulum sangat krusial perannya dalam proses pendidikan terlebih pada proses pembelajaran. Tercapainya tujuan pembelajaran bergantung pada manajemen pengembangan kurikulum yang dilakukan pada setiap sekolah/madrasah. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah prototype kurikulum program Tahfidz yang dapat digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan program Tahfidz Qur'an di MTs Negeri Kota Pasuruan yang berfokus pada Bagaimana konsep, implementasi dan evaluasi kurikulum tahfidzul qur'an di MTs Negeri Kota Pasuruan?, dengan metode penelitian kualitatif dengan jenis studi kasus dan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data, peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mempelajari, mencatat, menganalisis dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) konsep pengembangan kurikulum Tahfidz disusun top down secara sistematis dengan jalur kelas prestasi dan target 12 juz dalam 3 tahun dengan metode setoran dan muroja'ah dengan 8-10 siswa dalam setiap kelas selama 2 jam/hari., 2) implementasi pembelajaran tahfidz dilaksanakan 4 hari dengan 2 jam di pagi hari dengan target hafalan 1 halaman dan muroja'ah 5 halaman/hari yang dikelola oleh koordinator tahfidzul qur'an, 3) sistem evaluasi terdapat tiga bentuk yaitu: a) evaluasi harian, b) evaluasi setiap bulan, dan c) evaluasi setiap semester ujian munaqosah. Kata Kunci : Pengembangan, Kurikulum Tahfidzul Qur'an, Madrasah PENDAHULUAN Al-Qur'an adalah firman Allah SWT yang diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril AS. Al-Qur'an adalah mukjizat sekaligus kunci mencapai kehidupan yang diridhoi oleh Allah SWT. Al-Qur'an, kitab suci umat islam yang terpelihara hingga hari kiamat(A. Hidayat et al., 2020). Menghafal Al-Qur'an adalah sebuah amalan yang sangat mulia. Allah SWT telah menjanjikan bahwa akan memberikan pertolongan dan kemudahan kepada siapa saja yang berusaha untuk menghafalkannya(Shafira, 2024). Wajar jika sebagian umat islam terdorong untuk melestarikan Al-Qur'an sehingga terhindar dari kepalsuan dengan jalan menghafalkannya. Salah satu diantaranya adalah dengan membuka program tahfizhul Qur'an baik oleh lembaga keagamaan, pesantren, sekolah islam, maupun secara individual. Program tahfizhul Qur'an harus selalu diperbaharui, baik dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya, terutama dalam hal metode pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa saat ini agar pelaksanaannya menjadi semakin efektif dan efesien. Untuk meningkatkan mutu program tahfizhul Qur'an maka yang pertama harus dilakukan adalah mengembangkan dan melengkapi kurikulum. Karena jantung dari pendidikan adalah kurikulum(Larasati & Murniati, 2024). Kurikulum adalah program pendidikan yang dirancang untuk mencapai tujuan tertentu(Islam et al., 1993). Fungsi kurikulum adalah peran dan manfaat yang diberikan kurikulum dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan pembelajaran(RAHAYU, 2025). Pengembangan kurikulum dipandang sebagai proses perencanaan kurikulum untuk menghasilkan rencana kurikulum yang luas dan spesifik. Proses ini berhubungan dengan pemilihan dan pengorganisasian berbagai komponen situasi belajar melalui serangkaian kegiatan. Upaya tersebut merupakan proses yang berkesinambungan yaitu dengan diawali perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi. Pengembangan kurikulum penting dalam sistem pendidikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik dan tuntutan zaman(Rohmatillah & Shaleh, 2018). Dalam desain hafalan Al-Qur'an perlu diperbarui secara berkala dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi agar lebih efektif dan efisien. Instansi pendidikan yang menyelenggarakan program Tahfidz Al-Qur'an sekaligus dijadikan subjek penelitian ini adalah MTs Negeri Kota Pasuruan. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di lembaga ini karena merupakan satu-satunya model madrasah di kota Pasuruan yang ikut andil dalam melestarikan Al-Qur'an, yang menawarkan Program Prestasi Tahfidz sejak 2020 silam, yang merupakan pilihan utama bagi masyarakat setempat untuk mendaftarkan anak-anak mereka di lembaga tersebut, alasan berikutnya adalah karena para orang tua juga tertarik dengan kualitas Madrasah tersebut yang berhasil mencetak para hafidz dan hafidzah yang juga tidak kalah dengan Pencapaian akademik maupun non akademiknya, terbukti dengan banyaknya prestasi yang mereka cetak. Tujuan program tahfizhul Qur'an di MTs Negeri Kota Pasuruan ini adalah agar siswa bisa membaca Al-Qur'an dengan baik dan lancar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid. Selain itu tidak hanya bisa membaca saja namun bagaimana siswa juga bisa menghafal Al-Qur'an dengan fasih dan lancar. Karena dengan menghafal Al-Qur'an dapat mendorong, membina, dan membimbing siswa untuk mencintai Al-Qur'an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari hari. Pembelajaran Tahfidz Qur'an di madrasah ini mempunyai tingkat hafalan minimal, dan mengedepankan pada kualitas hafalan serta pembacaan dengan benar. Pencapaian tujuan dan target kemajuan tentunya tidak lepas dari pengelolaan pembelajaran. Desain kurikulum yang efektif, terintegrasi, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik menjadi keberhasilan program tahfidz. Tercapainya target hafalan yang telah ditetapkan oleh MTs Negeri Kota Pasuruan menunjukkan bahwa anak didik tetap bisa menjalankan program Tahfidzul Qur'an secara normal meskipun dengan jadwal sekolah yang padat. Mulai hari senin sampai kamis, implementasi Tahfizhul Qur'an ini dilaksanakan. Waktu pelaksanaannya pun cukup singkat setiap harinya, berkisar 2 jam. Target perolehan hafalan siswa dalam setiap semester yaitu 2 juz, jadi dalam satu tahun siswa harus menghafal 4 juz dan dalam 3 tahun siswa harus menghafalkan 12 juz. Program ini telah menunjukkan hasil yang positif selama pelaksanaannya karena sebagian siswa sudah mampu menghafal 12 juz. Bahkan beberapa melebihi batas minimal hafalan dan seperti alumni ada yang berhasil menyelesaikan hafalan sampai khatam juz 30. Namun, ada sebagian besar siswa belum mencapai target pencapaian. Kenyataannya dalam pelaksanaan program tahfizhul Qur'an ini masih terdapat kekurangan dalam beberapa tahapan manajemen kurikulum, sehingga belum terlaksana secara optimal. Penelitian tentang tahfidzul qur'an telah banyak di madrasah maupun pesantren, namun pengembangannya yang terstruktur, sistematis, dan terintegrasi dalam madrasah negeri formal masih jarang ditemukan, diantaranya oleh Muna, Curriculum Development of Tahfidz Al-Quran Full Day School System: A Case in Indonesia (Yugo et al., 2025) yang mengembangkan kurikulum Tahfidz di SDQ Anwarul Muhlasin Magelang dengan memadukan kurikulum nasional dengan muatan lokal pesantren adapun aspek yang belum di eksplorasi adalah evaluasi efektivitas secara longitudinal. Penelitian ini memposisikan diri untuk mengisi kekosongan tersebut, dengan mengkaji secara mendalam bagaimana MTs Negeri Kota Pasuruan mengembangkan kurikulum tahfidzul Qur'an dalam kerangka pendidikan formal, termasuk aspek perencanaan, implementasi, dan evaluasinya. Selain itu, pendekatan evaluasi CIPP + Outcome yang digunakan memberikan nilai tambah dan kebaruan, karena jarang digunakan dalam studi pengembangan kurikulum tahfidz di madrasah formal. Peneliti menyimpulkan bahwa meskipun MTs Negeri Kota Pasuruan menunjukkan komitmen tinggi pada pengelolaan rencana Tahfidzul Qur'an sebagian siswa berhasil mencapai target hafalan yang telah ditetapkan, namun masih terdapat beberapa area yang memerlukan pengembangan lebih lanjut. Masih dipandang perlu adanya perbaikan dan pengembangan kurikulum Tahfidzul Qur'an. Berdasarkan latar belakang tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk memaparkan konsep, implementasi dan evaluasi pelaksanaan kurikulum tahfidzul qur'an di MTs Negeri Kota Pasuruan KAJIAN TEORI 1 Definisi Pengembangan Kurikulum Pengembangan berasal dari kata dasar "kembang" yang diberi imbuhan "pe-an", sehingga berarti proses, cara, atau tindakan dalam mengembangkan sesuatu. Dalam konteks kurikulum, pengembangan mengacu pada penyusunan materi agar pelaksanaannya menjadi lebih mudah. Proses pengembangan kurikulum mencakup tiga kegiatan utama yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan, yaitu perancangan, pelaksanaan, dan penilaian (Muhammad et al., 2020). Pengembangan Kurikulum Tahfidzul Qur'an memiliki tujuan utama untuk menghasilkan penerus yang nantinya mampu hafal lancar (mutqin), serta memahami dan menerapkan isi Al- Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan kurikulum ini harus dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif, menggabungkan kebutuhan pendidikan agama dengan pendidikan umum, serta mempertimbangkan potensi peserta didik dan tantangan zaman. Kurikulum menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), merujuk pada perangkat mata pelajaran yang diajarkan di lembaga pendidikan(Wiyarandi et al., 2020). Kurikulum Tahfidzul Qur'an adalah program pendidikan yang dirancang secara terstruktur untuk membimbing siswa dalam menghafal, memahami, dan menerapkan Al-Qur'an. Program ini meliputi metode, materi, target hafalan, dan strategi evaluasi yang bertujuan melahirkan generasi penghafal Qur'an (hafizh/hafizhah) yang mutqin (kokoh), pemahaman mendalam, serta kemampuan mengadopsi prinsip Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Model perencanaan yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely, alur pembelajaran adalah menentukan tujuan, isi materi, kemampuan awal, menentukan teknik dan strategi, pengelompokan belajar, menentukan waktu, ruang, memilih media, menyalurkan hasil belajar, dan menganalisis umpan balik Adapun Tahfidz Al-Qur'an terdiri dari dua kata, tahfidz dan Al-Qur'an, kata-kata ini memiliki arti yang berbeda. Tahfiz berasal dari kata haffadza - yuhaffidzu - tahfiidzan artinya menghafal, menjaga dan memelihara atau Tahfidz, adalah lawan kata dari lupa, yaitu jarang atau tidak pernah lupa. Menurut Quraisy Syihab, istilah "hafidz" diambil dari dua konsep yang melibatkan pemeliharaan dan pengawasan (Ramadhani & Zakaria, 2023). Menurut Abdul Aziz Abdul Ra'uf definisi menghafal adalah proses mengulang sesuatu, baik dengan membaca atau mendengar, segala aktivitas jika sering diulang pasti menjadi hafal. Sedangkan Al-Qur`an secara bahasa merupakan bentukan dari kata dasar qara`a - yaqra`u - qur`anan yang artinya bacaan atau yang dibaca. Sedangkan secara istilah Qur'an berarti kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat, dan disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allah SWT atas perantara malaikat jibril(Mu'iz, 2024) Dari konsep di atas, dapat disimpulkan bahwa tahfidz adalah tindakan menghafal, yang melibatkan pengulangan, kemampuan untuk mengingat, dan upaya untuk memelihara informasi agar tidak terlupakan. Dengan melakukan pengulangan, mengingat, dan pemeliharaan, seseorang dapat membentuk kebiasaan dalam otak untuk menghafal. Menghafal Al-Qur'an, adalah amal yang sangat tinggi dan mulia. Para hafidz dianggap sebagai salah satu dari hamba-hamba pilihan Allah di dunia. Sebab, orang yang menghafal Al- Qur'an akan dianugerahi mahkota kehormatan dan kemuliaan di akhirat sebagaimana hadist: "Barang siapa membaca Al-Qur'an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka pada hari kiamat kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota dari cahaya, yang sinarnya seperti sinar matahari". (HR. Abu Dawud, no. 1453, Al-Hakim). Syarat menghafal: Niat yang ikhlas(Pertiwi, 2023), Teguh dan sabar, tanamkan ihtimam pada Al-Qur'an, management waktu dengan baik, talaqqi dengan guru.(R. Hidayat et al., 2024) Peneliti menggunakan teori behaviorisme (Pengulangan dan Penguatan) pada pengembangan kurikulum Tahfidzul Qur'an. Menurut B.F. Skinner, Pavlov konsep teori ini yaitu menghafal Al-Qur'an dilakukan dengan pengulangan (repetition) secara terus-menerus hingga ayat melekat dalam ingatan jangka panjang. Adapun bentuk implementasinya adalah: a. Setoran ziyadah dan muraja'ah (menambah dan mengulang hafalan). b. Sistem reward dan punishment untuk meningkatkan motivasi. c. Penghafalan berbasis target harian/juz dengan jadwal yang terstruktur. d. Bin-Nazhar, yaitu ayat-ayat Al-Qur'an yang harus dipelajari dengan teliti dengan melihat mushaf Al-Qur'an berulang kali. e. Tahfidz, yang berarti menghafal sedikit demi sedikit ayat-ayat Al-Qur`an yang telah dibaca berulang kali secara bin-nazhar. f. Talaqqi, yang berarti menyetor atau memperdengarkan hafalan yang baik kepada seorang ustadz atau ustadzah. g. Takrir, yang berarti mengulang hafalan atau mensima'kan kepada ustad atau ustadzah. h. Tasmik, yang berarti memperdengarkan hafalan kepada orang lain. 2 Macam-Macam Metode Dan Strategi Hafalan Al-Qur'an Menurut Amjad Qosim penggunaan dan penerapan metode yang baik akan memudahkan seseorang dalam menghafal Al-Qur`an. Metode-metode ini adalah serangkaian langkah yang umumnya diikuti, tetapi pelaksanaannya tidak selalu harus berurutan dan seragam untuk setiap penghafal Al-Qur'an. Beberapa siswa mungkin hanya memanfaatkan metode tahfizh dan takrir dalam upaya menghafal Al-Qur'an mereka. Cara mengimplementasikan metode ini juga dapat sangat beragam, bergantung pada preferensi dan gaya menghafal yang dimiliki oleh masing-masing individu. Strategi yang digunakan dalam menghafal Al-Qur'an, yaitu: a. Menggunakan satu jenis mushaf b. Penghafal melihat mushaf secara berulang-ulang c. Kemudian hafalkan 1 baris atau 1 ayat baca dengan berulang kali sampai hafal tidak ada salahnya. d. Setelah ayat-ayat atau kalimat-kalimat tersebut dihafal lancar, kemudian melanjutkan ke ayat berikutnya. Setelah hafal ulang kembali dari ayat sebelumnya sampai benar-benar lancar. e. Teliti urutan awal per ayatnya. Mulai dari awal ayat yang dihafal sampai ayat akhir dipojok halaman. begitupun seterusnya. f. Setelah hafal satu halaman, ulangi dari awal sampai mutqin (lancar), baik lafazh maupun urutan ayatnya. Fokuskan diri Anda pada kalimat atau ayat yang sulit, dan mutasyabihat (serupa). g. Perhatikan ayat akhir pojok halaman sehingga terhubung dengan awal halaman berikutnya. Maka setiap selesai 1 halaman segera disambung dengan halaman berikutnya. h. Setelah hafal, segera menghadap ustadz atau ustadzah untuk di setorkan dan dinilai tashih dan i. tahsin hafalannya serta mendengarkan arahan dan petunjuk serta bimbingannya. 3 Evaluasi Kurikulum Tahfidzul Qur'an Secara etimologi "evaluasi" berasal dan bahasa Inggris yaitu evaluation dari akar kata value yang berarti nilai atau harga(Rusmani & Arifmiboy, 2023). Evaluasi adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur keberhasilan program pendidikan. Evaluasi dilakukan sebagai usaha menjamin bahwa semua kegiatan terlaksana sesuai dengan kebijaksanaan, strategi, keputusan, rencana, dan program kerja yang telah dianalisis, dirumuskan, dan ditetapkan sebelumnya. Evaluasi dalam kurikulum Tahfidz Qur'an, bertujuan untuk menentukan seberapa tinggi keberhasilan belajar menghafal Al-Qur'an. Model evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah model evaluasi CIPP yang dikembangkan oleh Stufflebeam, dkk. Di Ohio State University. Evaluasi CIPP merupakan singkatan dari Context (konteks), Input (masukan), Process (proses), dan Product (hasil). Konsep inti model CIPP menunjukkan pada singkatan dari CIPP, yang mana evaluasi berada pada seluruh konteks, masukan, proses, dan hasil. Penggunaan model evaluasi CIPP mampu memberikan gambaran keberhasilan program secara detail dan menyeluruh. Peneliti menambah satu dari konsep evaluasi diatas yaiu (O) yang bermakna outcome. Evaluasi Luaran (Outcome) adalah evaluasi terhadap kebermanfaatan program bagi siswa yang didampingi khususnya dalam pelaksanaan proses pembelajaran tahfidz Al-Quran(Muntiarti et al., 2020). Dalam evaluasi hasil, maka dapat dilihat perubahan awal dan akhir peserta didik, apakah ada peningkatan yang signifikan atau tidak, hal ini menentukan berhasil atau tidaknya program yang telah dilaksanakan.(Julianto et al., 2022) Aspek atau Indikator Evaluasi Tahfidzul Qur'an. Secara umum, kemampuan menghafal Al-Qur'an seseorang dapat dikategorikan baik, atau kurang baik bisa berdasarkan dari ketepatan bacaannya, yaitu sesuai dengan tajwid, fashohah, kelancaran dan taghoni. 4 Temuan Literatur Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh Siti Chodijah, penelitian tesis dengan judul "Implementasi Pembelajaran Tahfidz Al Qur'an Dalam Pengembangan Prestasi Akademik Dan Prestasi Non Akademik Siswa. Pascasarjana Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto tahun 2024. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Implementasi Pembelajaran Tahfidz Al-Qur'an dalam pengembangan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa di MTs Negeri Kota Pasuruan memiliki pengaruh yang besar dan tentunya berkaitan dengan pembelajaran Tahfidz Al-Qur'an siswa memiliki empati dan semangat yang tinggi dalam belajar. Menghafal Al-Qur'an tidak menjadi batasan seorang siswa mengembangkan prestasinya baik di bidang akademik maupun non akademik(FITHRI, 2024). Penelitian lain yang dilakukan oleh Muhammad Zikri, Nurlaili, Ahmad Syarifin dengan judul "Analisis Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal Tahfidzul Qur'an dalam Meningkatkan Mutu Lulusan di Madrasah Aliyah Darussalam Kota Bengkulu". Temuan Penelitian: Dalam hal efektivitas pengembangan kurikulum muatan lokal untuk menghafal Al-Qur'an di MA Darussalam, ditemukan belum efektif karena belum memenuhi standar dan kaidah pengembangan kurikulum muatan lokal 5 Relevansi Teori Dengan Hasil Penelitian Adapun temuan peneliti di MTs Negeri kota Pasuruan Pembelajaran program Tahfidz di MTs Negeri Kota Pasuruan tersebut sesuaidengan teori yang dipaparkan mengutip model perencanaan yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely mengatakan bahwa alur pembelajaran terdiri dari merumuskan tujuan, menentukan isi materi, menentukan kemampuan awal, menentukan teknik dan strategi, mengatur kelompok belajar, menentukan waktu, menentukan ruang, memilih media, mengevaluasi hasil belajar, dan menganalisis umpan balik. Hasil dari temuan peneliti di MTs Negeri Kota Pasuruan menguatkan teori yang dikembangkan karena hampir semua poin dari teori perencanaan yang dikembangkan Gerlach dan Ely dapat ditemukan dalam perencanaan pembelajaran Tahfidz di MTs Negeri Kota Pasuruan. Poin-poin ini termasuk menentukan tujuan (menjadikan MTs Negeri Kota Pasuruan menuju Madrasah Qur'ani), menentukan kegiatan yang harus dilakukan yaitu menunjuk penanggung-jawab (koordinator) programTahfidz Al-Qur'an, menetapkan target hafalan 2 juz per-semester, dan menetapkan lokasi untuk program Tahfidz Al-Qur'an (belajar), menetapkan jumlah jam dan hari per pekan untuk kegiatan menghafal Al-Qur'an, dan menetapkan metode yang akan digunakan dalam pelaksanaan, yaitu metode setoran, sesuai dengan teori Bu Izah bahwa bimbingan terus-menerus dari seorang pengampu diperlukan untuk menghafal Al-Qur'an, baik untuk menambah hafalan baru atau untuk takrir, yaitu mengulang kembali ayat-ayat dengan cara yang efektif dan efisien. Menurut Amjad Qosim penggunaan dan penerapan metode yang baik akan memudahkan seseorang dalam menghafal Al-Qur`an. Adapun metode-metode tersebut secara umum adalah: Bin- Nazhar, tahfidz, talaqqi, takrir, dan tasmik. Teori tersebut sangat relevan dengan hasil temuan peneliti bahwa metode pembelajaran yang digunakan adalah metode talaqqi (setoran), yang terdiri dari dua bentuk utama, yaitu membaca bersama-sama dengan bimbingan guru (bin nazar) serta menghafal secara individual dengan pengawasan guru (tahfidz). Kemudian melancarkan dengan membaca hafalan yang telah dihafal (takrir). Setelah hafalan ziyadah 1 juz selesai siswa memperdengarkan hafalannya dengan lancar kepada guru. Pendekatan ini terbukti membantu siswa dalam meningkatkan kualitas hafalan serta pemahaman mereka terhadap bacaan Al-Qur'an. Dalam kajian teori fokus ketiga yaitu menggunakan model CIPP yang dikembangkan oleh Stufflebeam, dkk, Ohio State University. Berdasarkan observasi dan wawancara dapat disimpulkan bahwa evaluasi yang dilakukan di MTs Negeri Kota Pasuruan berdasarkan Context, sudah sesuai dengan tujuan program dan program Tahfidzul Qur'an sudah terlaksana dengan baik. Berdasarkan Input, pada program tahfidz yaitu sumber daya pelaksanaan program Tahfidzul Qur'an dengan adanya sarana dan prasarana yang mendukung. Process, evaluasi ini sudah terstruktur dengan baik yaitu terdapat penanggung jawab (koordinator tahfidz) program, waktu pelaksanaan, Dan apakah kegiatan telah di laksanakan sesuai dengan juknis pelaksanaan program. Product, evaluasi ini diarahkan pada hal-hal yang menunjukkan perubahan yang terjadi pada masukan (input) setelah mengikuti program tersebut. Dalam evaluasi hasil, maka dapat dilihat perubahan awal dan akhir peserta didik, apakah ada peningkatan yang signifikan atau tidak, hal ini menentukan berhasil atau tidaknya program yang telah dilaksanakan.(Julianto et al., 2022) METODE Jenis penelitian yang dilakukan di MTs Negeri Kota Pasuruan pada bulan Desember 2024 sampai Mei 2025 adalah penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Tujuannya untuk melakukan penelitian lapangan, yang mengharuskan pengumpulan data secara langsung dari area studi penelitian. Dengan menggambarkan realitas secara tepat dan memeriksa fakta-fakta terkait yang dikumpulkan dari peristiwa-peristiwa alamiah, teknik kualitatif ini mengungkapkan kondisi sosial tertentu. Instrument utama penelitian ini adalah peneliti itu sendiri. Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian, kehadiran peneliti di tempat penelitian, sebagai pengamat Tahfidz. Sehingga memperoleh data atau keterangan yang objektif sesuai fakta dilapangan. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah observasi partisipan, wawancara mendalam, penelitian dokumentasi, dan kombinasi keduanya atau triangulasi (Fadli, 2024). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah ini dengan menerapkan berbagai metode yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi guna mendapatkan informasi yang mendukung.(Anufia & Alhamid, 2019) Dalam penelitian ini, peneliti menjumpai beberapa informan yaitu kepala madrasah, waka kurikulum, koordinator tahfidz dan menjumpai beberapa ustadz dan ustadzah pengajar BTQ tahfidz. Pada penelitian ini, jenis penelitian datanya yaitu observasi (pengamatan langsung) dan wawancara (sebagai sumber data primer) yakni kepada koordinator tahfidz dan beberapa ustadz, ustadzah di MTs Negeri Kota Pasuruan, data dokumenter (sebagai sumber data sekunder).(Niam et al., 2024) Adapun teknik analisis data penelitian ini menggunakan metode induktif, karena dalam penelitian kualitatif tidak dimulai dari fakta empiris atau pengamatan. Dalam hal ini, peneliti terjun langsung ke lapangan untuk mempelajari, mencatat, menganalisis dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Peneliti telah menarik kesimpulan sementara dari tiga rumusan masalah di atas. Kemudian peneliti mengecek keabsahan kesimpulan sementara kepada beberapa sumber. Untuk data pengamatan, peneliti dapat melakukan perpanjangan waktu penelitian dan untuk data hasil wawancara, peneliti melakukan triangulasi kepada beberapa sumber yang telah diwawancarai sebelum melakukan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Konsep Pengembangan Kurikulum Tahfidzul Qur'an Di MTs Negeri Kota Pasuruan MTs Negeri Kota Pasuruan terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 85/0343-426134 Desa Tapa'an Kecamatan Bugul Kidul Kota Pasuruan. Satu-satunya madrasah setingkat SLTP diwilayah Kota Pasuruan dalam naungan Kementerian Agama. Pada asalnya lembaga ini dirintis oleh bapak KH. Amak Fadhol beserta beberapa rekannya sejak tahun 1959, usaha ini mendapatkan dukungan dari tokoh NU bapak KH. Basyar Yasin ketua LP Ma'arif Pasuruan dengan dibantu oleh bapak Khusen dan H. Sholeh beserta tokoh-tokoh yang lainnya. Berdasarkan hasil observasi yang telah peneliti lakukan di MTs Negeri Kota Pasuruan pada hari Senin, 16 Desember 2024. MTs Negeri Kota Pasuruan mulai membuka program unggulan Tahfidz Al-Qur'an sejak tahun 2020 silam. Program ini dirancang untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan menekankan pada pengembangan kemampuan menghafal Al-Qur'an. Dilihat dari perencanaan kurikulum tahfidz di MTs Negeri Kota Pasuruan, implementasi kurikulum tahfidz sudah memiliki perencanaan yang matang. Hal ini ditinjau dari kesesuaian visi dan misi madrasah, SDM yang memadai, kurikulum yang tersedia, serta target hafalan Al-Qur'an yang harus dicapai santri pada setiap tahunnya. MTs Negeri Kota Pasuruan juga memiliki kurikulum yang sudah dirancang sedemikian rupa. Berdasarkan hasil pencapaian target, jadwal pelaksanaan, maupun ketentuan dalam kegiatan tahfidz. Dapat disimpulkan dalam perencanaan kurikulum tahfidz di MTs Negeri Kota Pasuruan sudah cukup baik. Kurikulum tahfidz direncanakan oleh kepala Madrasah, Waka Kurikulum, dan Guru Tahfidz. Dilakukan setahun sekali ketika awal tahun ajaran pendidikan. Biasanya di rencanakan pada bulan Mei. Pada perencanaan tersebut membahas tentang evaluasi kegiatan tahfidz satu tahun sebelumnya dan mempersiapkan kegiatan tahfidz yang akan dilaksanakan satu tahun kemudian. Kurikulum tahfidz tidak mengacu pada kurikulum Nasional namun dikembangkan secara mandiri oleh Madrasah dalam jalur kelas prestasi. Dalam program Tahfidz ini, ada Koordinator Tahfidz yang bertanggung jawab atas semua kegiatan. Koordinator juga bertanggung jawab atas koordinasi semua pengajar tahfidz yang ada dan memantau seberapa baik siswa menghafal. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Kepala Madrasah Drs. Nur Edi Samani, latar belakang dibentuk program tahfidz Qur'an di MTs Negeri Kota Pasuruan berawal dari keinginan para wali murid yang mempunyai anak berpotensi hafal Qur'an, agar anaknya mendapatkan wadah untuk menghafal Al-Qur'an di sekolah. Tujuan adanya pembelajaran Tahfidz Al-Qur'an di MTs Negeri Kota Pasuruan adalah agar MTs Negeri Kota Pasuruan menjadi awal menuju Madrasah Qur'ani yang berarti tempat di mana orang selalu membaca dan mempelajari Al-Qur'an. Syarat ketentuan untuk diterima sebagai siswa kelas prestasi program Tahfidz Al-Qur'an, tidak seperti siswa dari program lain, calon siswa harus lulus ujian tambahan. Mereka harus menghafal Al-Qur'an setidaknya satu juz dan membaca Al-Qur'an dengan fasih. Adapun kualifikasi guru tahfidz yang dapat dijadikan acuan di MTs Negeri Kota Pasuruan yaitu: 1 Minimal lulusan SMA/MA/pesantren 2 Memiliki syahadah (ijazah) tahfidz 30 juz atau memiliki sanad hafalan. 3 Menguasai ilmu tajwid, makharijul huruf, dan tahsin dengan baik. 4 Memahami metode menghafal dan mampu mengajarkannya kepada siswa. 5 Mampu membimbing muroja'ah hafalan dengan sistem yang terstruktur. 6 Memiliki kemampuan manajemen kelas dengan baik. Target perolehan hafalan siswa dalam setiap semester 2 juz, yaitu dimulai dari menghafal juz 30 dan diteruskan ke juz 1, jadi dalam dua semester kelas VII siswa harus menghafal 4 juz, kelas VIII siswa harus menghafal 8 juz dan kelas IX harus menghafal 12 juz. Jadi dalam masa 3 tahun siswa harus menghafal 12 juz. Dalam hal rincian dan durasi tahfidz, dua belas (12) juz dibagi menjadi tiga kelas, yaitu: Tabel 1 Materi Target Hafalan Tahfidz MTs Negeri Kota Pasuruan No. Kelas Semester Keterangan Juz 1. VII I Juz 30-1 II Juz 2-3 2. VIII I Juz 4-5 II Juz 6-7 3. IX I Juz 8-9 II Juz 10-11 Jadi, minimal santri lulus MTs Negeri Kota Pasuruan mampu menghafal 11 juz dengan kualitas bacaan dan hafalan yang baik dan benar sesuai dengan kaidah tajwid. Tercapainya target hafalan siswa tergantung dari kapasitas dan kesungguhan masing-masing siswa. Program ini telah menunjukkan hasil yang positif selama pelaksanaannya karena sebagian siswa sudah mampu menghafal 10-12 juz. Seperti alumni yang berhasil menyelesaikan hafalan sampai khatam juz 30. Namun, ada sebagian siswa belum mencapai target pencapaian. B. Implementasi Kurikulum Tahfidzul Qur'and Di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Pasuruan Berdasarkan observasi peneliti pada Rabu tanggal 01 Januari 2025 hasil observasi intensif yang peneliti lakukan di MTs Negeri Kota Pasuruan bahwasanya, pembelajaran Tahfidz Al-Qur'an akan melibatkan berbagai aspek, termasuk metode pengajaran, kurikulum, tantangan dan evaluasi, serta strategi untuk meningkatkan efektivitasnya. Pelaksanaan program Tahfidzul Qur'an melibatkan beberapa tahap, termasuk tahap awal, inti, dan penutup. Dalam tahap awal, guru tahfidz telah memulai kebiasaan dengan berdoa bersama-sama dengan peserta didik sebelum memulai proses menghafal Al-Qur'an. Setelah itu, mereka melakukan roll call untuk memeriksa kehadiran peserta didik, memberikan motivasi, dan menciptakan semangat belajar untuk menghafal Al-Qur'an. Selanjutnya, mereka melakukan revisi bersama dari hafalan sebelumnya. Akhirnya, kegiatan ditutup dengan membaca shodaqallahul 'adzim dan berdoa bersama-sama. Peneliti juga mengetahui bahwa terdapat pemetaan kelas, untuk kelas tahfidz ada tiga kelas disetiap jenjang yaitu kelas VII F, VIII G, dan IX E. Selain pemetaan kelas koordinator tahfidz juga melakukan pemetaan guru ataupun siswa/i. Pembelajaran siswa dihandel oleh 9 Guru dan masing-masing guru menghandel 8-10 siswa (Halaqoh). Halaqoh (kelompok) siswa laki-laki dihandel oleh ustadz sedangkan siswa perempuan dihandel oleh ustadzah. Hal ini dilakukan agar target atau tujuan pembelajaran lebih mudah untuk dicapai. Pembelajaran tahfidz Al-Qur'an dilaksanakan mulai hari senin sampai kamis, pelaksanaannya pun cukup singkat, yaitu dipagi hari mulai pukul 06.30- 08.30 WIB (120 menit) sebelum pendidikan dan pembelajaran (KBM) dimulai. Tempat pembelajaran BTQ tahfidz dilaksanakan di kelas dan beberapa di masjid. Untuk pembelajaran yang ditentukan oleh kurikulum Nasional mulai pukul 09.30 WIB sampai sore hari pukul 15.20 WIB" (Kristianto, n.d.). Adapun metode pembelajaran yang diterapkan yaitu metode talaqqi (setoran) siswa membaca Al-Qur'an dalam dua cara: Pertama, membaca Al-Qur'an dengan bimbingan seorang guru; kemudian, membaca Al-Qur'an secara mandiri dengan bimbingan seorang guru Media yang digunakan guru dalam melaksanakan kegiatan tahfidz hanya catatan atau buku penilaian hafalan dan Al-Qur'an. Kegiatan harian yaitu setoran hafalan (ziyadah), minimal setoran hafalan yaitu 1 halaman setiap kali pertemuan, setelah setor hafalan (ziyadah), kemudian siswa melanjutkan membacakan hafalan yang sudah dihafal sebelumnya (muroja'ah) minimal setiap kali pertemuan sebanyak 5 halaman. Tingkat bacaan yang umum digunakan Tadwir adalah cara membaca Al-Qur'an dengan tempo sedang, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Berdasarkan hasil dokumenter kelas jalur Tahfidz Al-Qur'an terdiri dari tiga kelas: VII F, VIII G, dan IX E. Jumlah total 78 siswa di program ini, dengan 29 siswa di kelas VII F, 30 siswa di kelas VIII G, dan 19 siswa di kelas IX E, menurut data yang diberikan oleh Tenaga Umum (TU). Dalam proses penilaian buku prestasi catatan setoran hafalan siswa ada beberapa kriteria yaitu nilai A (skor 90-100), B (skor 71-89) dan C (skor 50-70). Namun pembina kelas IX E menggunakan kategori nilai (L) lancar dan (L-) kurang lancar ini untuk memudahkan wali murid membaca. Dari salah satu dokumen buku prestasi setoran siswa bernama Levyna Putri Wardhani dapat digambarkan bahwa dalam rentang satu bulan dapat menghafal ziyadah juz 9 sebanyak 20 halaman (1 juz) dan muroja'ah 4 juz yaitu juz 7, 30, 1 dan juz 2. Dengan keterangan tanggal, juz, surah, ayat dan nilai dari kelancaran setoran serta paraf dari pembina dan wali murid. Pembentukan karakter melalui kurikulum tahfidz tidak lepas dari pelaksanaan kegiatan tahfidz Al-Qur'an itu sendiri. Pelaksanaan kegiatan tahfidz Al-Qur'an di MTs Negeri Kota Pasuruan seperti pelaksanaan pembelajaran pada umumnya (Qonitatillah, n.d.). Ustad dan Ustadzah wali kelas sebagai pembimbing tahfidz menggunakan beberapa metode yaitu, metode talaqqi dan metode muroja'ah. Ustad dan Ustadzah menggunakan metode tersebut agar pelaksanaan kegiatan tahfidz dapat berjalan dengan lancar (Asiyah, n.d.). Menurut hasil wawancara waka kurikulum, tahfidz dan pengembangan karakter tanggung jawab santri sangat erat kaitannya, walikelas dan guru selalu mendorong dan memotivasi untuk segera menyelesaikan tugas tahfidznya sebagai bentuk tanggung jawab mereka sebagai siswa jalur prestasi tahfidz. C. Evaluasi Kurikulum Tahfidzul Qur'an Di Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Pasuruan Berdasarkan observasi peneliti pada Senin tanggal 06 Januari 2025 yang peneliti lakukan di MTs Negri Kota Pasuruan bahwasanya, Penilaian sistem evaluasi di MTs Negeri Kota Pasuruan dapat dikategorikan baik, atau kurang baik bisa berdasarkan dari ketepatan bacaannya menghafal Al-Qur'an, yaitu sesuai dengan tajwid dengan kategori nilai 25%, fashohah 25%, kelancaran 40% dan taghoni 10%. Kegiatan evaluasi program Tahfidz Al-Qur'an di MTs Negeri Kota Pasuruan terdiri dari tiga kategori: evaluasi setiap hari, evaluasi setiap bulan, dan evaluasi yang dilakukan selama ujian tengah semester dan akhir semester, atau ujian tahunan. Berikut bentuk dari beberapa evaluasi diatas: a. Evaluasi harian yaitu apabila siswa menghafal (ziyadah) tidak sesuai target 1 halaman per hari maka guru perlu memberikan support dan jika masih belum ada perubahan diberi hukuman (punishment) berdiri hingga hafalan lancar. Evaluasi hafalan yaitu (muroja'ah) mengulang hafalan yang sudah dihafal setiap hari minimal 5 halaman kepada guru, pelaksanaan setelah siswa setor hafalan ziyadah. b. Evaluasi bulanan terdapat dua yaitu; a) apabila siswa sudah menyelesaikan hafalan (ziyadah) 1 juz maka siswa harus memperdengarkan hafalan Al-Qur'an tanpa kesalahan di depan guru (tasmik) sebanyak 1 juz, b) melakukan tes munaqosah kenaikan juz dimulai dari juz 30 sampai pada perolehan juz, siswa diuji dengan membacakan terusan ayat yang diberikan penguji secara acak. c. Evaluasi semester terdapat tiga sebagai berikut: a) ujian munaqosah mencakup beberapa juz yang telah dihafal misal juz 30, 1-5 di kelas VIII, b) program tahfidz camp setiap akhir semester sebagai bentuk intensifikasi hafalan, c) ujian sertifikasi kelulusan oleh LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an) Kota sesuai perolehan juz setiap siswa. Hasil dokumenter siswa-siswi yang tuntas (sampai ke target hafalan) sekitar 40% dari jumlah siswa per-kelas. Beberapa siswa di tahun 2025 ini mampu menghafal melebihi target seperti Muhammad Azril kelas IX E telah menghafal 17 juz, bahkan alumni sebelumnya tahun 2024 ada yang tuntas 30 Juz. Untuk memudahkan, akan digambarkan sebagai diagram berikut: Diagram 1 Evaluasi Hafalan Kelas Tahfidz Selain aspek hafalan, evaluasi tahfidz mencakup: kedisiplinan dalam muroja'ah, adab dan akhlak dalam belajar Al-Qur'an, motivasi dan komitmen dalam menghafal (Rizkiyah, n.d.). Dari beberapa evaluasi yang disebutkan diatas dapat memberikan dorongan atau semangat kepada siswa untuk mengikuti lomba-lomba dan bisa mencapai target yang telah ditentukan. KESIMPULAN 1. Konsep pengembangan kurikulum Tahfidzul Qur'an di MTs Negeri Kota Pasuruan merancang tujuan berdirinya program Tahfidz Al-Qur'an, yaitu tahap awal menjadikan MTs Negeri Kota Pasuruan menuju Madrasah Qur'ani, menunjuk penanggung-jawab (koordinator) program Tahfidz Al-Qur'an, menetapkan target hafalan per-semester, yaitu 2 juz, menentukan jumlah jam dan hari dalam seminggu untuk kegiatan menghafal Al-Qur'an, menentukan metode pelaksanaan program Tahfidz Al-Qur'an yaitu metode setor. Konsep ini mengikuti teori model perencanaan yang dikembangkan oleh Gerlach dan Ely. 2. Implementasi pembelajaran Tahfidzul Qur'an di MTs Negeri Kota Pasuruan telah menunjukkan hasil yang positif selama pelaksanaannya karena sebagian siswa telah mencapai target minimal hafalan. Metode yang digunakan yaitu metode setoran dan mengluang hafalan (takrir). Pembelajaran tahfidz dilaksanakan 4 hari mulai senin sampai kamis, dimulai pukul 06.30-08.30 WIB (120 menit) sebelum kegiatan belajar dan mengajar (KBM) dimulai yaitu mulai pukul 09.30 WIB sampai sore hari pukul 15.20 WIB". Pembelajaran siswa dihandel oleh 9 Guru dan masing- masing guru menghandel 8-10 siswa (Halaqoh). Tempat pembelajaran BTQ tahfidz dilaksanakan di kelas dan beberapa di masjid. pembelajaran yang ditentukan oleh kurikulum Nasional mulai pukul 09.30 WIB sampai sore hari pukul 15.20 WIB". 3. Sistem penilaian pembelajaran Al-Qur'an yang dilaksanakan di MTs Negeri Kota Pasuruan mengadopsi kegiatan penilaian yang terbagi menjadi tiga jenis: 1) Kegiatan penilaian yang dilakukan secara harian dengan melakukan pengulangan hafalan (muroja'ah), 2) setiap bulan adalah kegiatan evaluasi tasmik memperdengarkan hafalan 1 juz kepada guru dengan lancar dan Tes kenaikan Juz, peserta didik dites hafalan yang sudah didapat. Sedangkan evaluasi ke 3) adalah Munaqosah dilakukan ketika Ujian Akhir Semester. REFERENSI Anufia, B., & Alhamid, T. (2019). Instrumen pengumpulan data. Fadli, M. (2024). Metode Penelitian Kombinasi. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Method), 44. FITHRI, R. (2024). Implementasi hasil belajar siswa dalam pendidikan islam pada kurikulum merdeka dimadrasah tsanawiyah negeri se-kota pekanbaru. UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU. Hidayat, A., Sa'diyah, M., & Lisnawati, S. (2020). Metode pembelajaran aktif dan kreatif pada madrasah diniyah takmiliyah di kota bogor. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 9(01), 71-86. Hidayat, R., Luviadi, A., & Putra, A. E. (2024). Implementasi Metode Talaqqi Dalam Pembelajaran Tahsinul Qur'an Di Pondok Pesantren Ahmad Dahlan Candipuro. Al-Mau'izhoh: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 6(1), 596-601. Islam, D., Hamid, P., & Syarif, A. (1993). Pengembangan kurikulum. Surabaya: Bina Ilmu. Julianto, P., Samin, S., & Faizin, F. (2022). Evaluasi penerapan rencana pembelajaran semester (RPS) pada program studi manajemen IAIN Kerinci. Equilibrium: Jurnal Penelitian Pendidikan Dan Ekonomi, 19(02), 274-280. Larasati, S., & Murniati, A. (2024). Manajemen Pengembangan Kurikulum Tahfizhul Qur'an di Pondok Pesantren Tahfizh Putri Manba'ul Qur'an. Mu'iz, A. (2024). Implementasi Program Pembelajaran Tahfidz Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Al-Qur'an Santri Di Pondok Pesantren Al-Mubarok Pajo Nusa Tenggara Barat. JIM: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, 9(4), 474-487. Muhammad, M., Nurjumiati, N., Yulianci, S., & Asriyadin, A. (2020). Pengembangan Nilai-Nilai Qur'ani Pada Anak Melalui Pembentukan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) Di Desa Naru. Abdi Masyarakat, 2(1). https://doi.org/10.36312/abdi.v2i1.1334 Muntiarti, T., Ernawati, E., & Indriyanto, B. (2020). Evaluasi Program Tahfidz Al-Qur'an Di SMA-IT Buahati Jakarta. Jurnal Penelitian Dan Penilaian Pendidikan (JPPP), 3(1), 1-13. Niam, M. F., Rumahlewang, E., Umiyati, H., Dewi, N. P. S., Atiningsih, S., Haryati, T., Magfiroh, I. S., Anggraini, R. I., Mamengko, R. P., & Fathin, S. (2024). Metode penelitian kualitatif. Pertiwi, Y. (2023). Manajemen Kurikulum Tahfidz Qur'an Dalam Mencapai Target Hafalan 30 Juz di PPTQ Salafiyah Wustho An Nur Kota Bengkulu. UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. RAHAYU, S. R. I. N. U. R. (2025). IMPLEMENTASI KURIKULUM PROGRAM BILINGUAL BOARDING SCHOOL DI MTs NEGERI 5 REMBANG TAHUN AJARAN 2024/2025. Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Rohmatillah, S., & Shaleh, M. (2018). Manajemen Kurikulum Program Tahfidz Al-Qur'an di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Al-Azhar Mojosari Situbondo. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia, 3(1), 107-121. Rusmani, M. A., & Arifmiboy, A. (2023). Evaluasi kurikulum. ANTHOR: Education and Learning Journal, 2(3), 410-415. Shafira, S. A. (2024). Kerjasama Orang Tua Dalam Peningkatan Kemampuan Menghafal Al-Qur'an Pada Siswa SDIT Muhammadiyah Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya. UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Wiyarandi, U. K., KHAERUDIN, M. P., & Ariani, D. (2020). Pengembangan Kurikulum Program Tahfidz Al-Qur'an di Pondok Qur'an Bahrul Ulum Bogor. Jurnal Pembelajaran Inovatif, 3(2), 79-87. Yugo, T., Surana, D., Muhammad, G., & Imam, M. (2025). Al-Adzka?: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah The Transformation of Qur ' an Literacy Through the Tahfidz Method?: An Experimental Study on Elementary School Students. 15(1), 17-36. Ashlach : Journal of Islamic Education Muhammad Muhlis ¦ Model Pengembangan Kurikulum Tahfidzul Qur'an di Madrasah Ashlach : Journal of Islamic Education Muhammad Muhlis ¦ Model Pengembangan Kurikulum Tahfidzul Qur'an di Madrasah 10| | 11 Journal of Islamic Education Vol. 03 No. 02 Oktober 2025 | Hal. 01-11 e-ISSN/p- ISSN : 2988-1285/2988-1277 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/ashlach Hak cipta (c) 2025 Ashlach : Jurnal Pendidikan Islam. Karya ini dilisensikan di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 .