Vol. 4, No. 1, 2026 | Hal 35 - 48 DOI: https://doi.org/10.55757/ashlach.v4i01.1361 Integrasi Pendidikan Formal Dan Pendidikan Nonformal Di Pondok Pesantren As-Sholchah Faizah Maulidiyah1*, M. Anang Sholikhudin2, Achmad Yusuf3, Saifulah4 1* Universutas Yudharta Pasuruan, Indonesia 2 Universutas Yudharta Pasuruan, Indonesia 3 Universutas Yudharta Pasuruan, Indonesia 4 Universutas Yudharta Pasuruan, Indonesia Korespondensi*: faizahmaulidiyah989@gmail.com Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submited: Januari 04, 2026 Revision: Februari 04, 2026 Accepted: April 13, 2026 Publish: April 30, 2026, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah Warungdowo, Pohjentrek, Pasuruan serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan pengasuh pondok pesantren, kepala madrasah, ustadz/ustadzah, pengelola pendidikan nonformal, dan santri sebagai informan penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah dilaksanakan melalui penyelarasan jadwal kegiatan, penguatan nilai-nilai keislaman dalam pembelajaran formal, serta pembinaan karakter santri melalui berbagai kegiatan kepesantrenan. Pendidikan formal berperan dalam mengembangkan kompetensi akademik santri, sedangkan pendidikan nonformal berfungsi dalam pembentukan akhlak, spiritualitas, dan kedisiplinan. Faktor pendukung integrasi meliputi kepemimpinan kiai, budaya pesantren yang kuat, koordinasi antarlembaga pendidikan, serta kerja sama antara guru dan ustadz. Adapun faktor penghambat meliputi padatnya jadwal kegiatan santri dan perbedaan orientasi antara pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Penelitian ini menemukan bahwa integrasi pendidikan di Pondok Pesantren As-Sholchah tidak hanya berlangsung pada aspek kurikulum, tetapi juga pada aspek kelembagaan dan budaya pesantren yang berperan sebagai mekanisme integratif dalam menyatukan seluruh aktivitas pendidikan. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal dapat menjadi model pendidikan Islam yang efektif dalam membentuk lulusan yang memiliki keseimbangan antara kompetensi akademik dan karakter religius. Kata Kunci : Integrasi pendidikan, pendidikan formal, pendidikan non formal, pondok pesantren Abstract This study aims to analyze the implementation of the integration of formal and non-formal education at As-Sholchah Islamic Boarding School, Warungdowo, Pohjentrek, Pasuruan, and to identify the supporting and inhibiting factors affecting its implementation. This study employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation involving the boarding school leader, madrasa principal, teachers, non-formal education managers, and students as research participants. Data were analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, consisting of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the integration of formal and non-formal education is implemented through the alignment of educational schedules, the reinforcement of Islamic values within formal learning activities, and character development through various boarding school programs. Formal education contributes to the development of students' academic competencies, while non-formal education strengthens moral values, spirituality, and discipline. Supporting factors include the leadership of the kiai, a strong pesantren culture, institutional coordination, and collaboration among educators. In contrast, the main inhibiting factors are the dense schedule of student activities and differences in orientation between formal and non-formal education. The study further reveals that educational integration at As-Sholchah Islamic Boarding School occurs not only at the curricular level but also at the institutional and cultural levels, which function as integrative mechanisms connecting all educational activities. These findings indicate that the integration of formal and non-formal education can serve as an effective model of Islamic education in developing graduates who possess both academic competence and strong religious character. PENDAHULUAN Pendidikan pada era globalisasi tidak hanya dituntut menghasilkan peserta didik yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter, moral, spiritualitas, serta keterampilan sosial yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin kompleks menuntut lembaga pendidikan untuk menyelenggarakan proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif, tetapi juga memperhatikan dimensi afektif dan psikomotorik peserta didik. Oleh karena itu, pendidikan yang bersifat holistik dan integral menjadi kebutuhan penting dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berkarakter (Mastuhu, 1994). Pandangan tersebut juga diperkuat oleh kajian mengenai modernisasi pendidikan pesantren yang menegaskan pentingnya integrasi antara penguasaan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter dalam menghadapi tuntutan zaman (Heriyudanta, 2016). Namun demikian, sistem pendidikan modern masih menghadapi persoalan dikotomi antara pendidikan yang berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan pendidikan yang menekankan pembentukan karakter serta nilai-nilai spiritual. Pendidikan formal cenderung berfokus pada pencapaian kompetensi akademik melalui kurikulum yang terstruktur, sedangkan pendidikan nonformal lebih menitikberatkan pada pembinaan karakter, internalisasi nilai-nilai kehidupan, serta penguatan aspek moral dan religius peserta didik. Akibatnya, proses pendidikan sering kali berjalan secara parsial sehingga menghasilkan lulusan yang unggul dalam aspek akademik tetapi belum tentu memiliki keseimbangan dalam aspek moral dan spiritual. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya integrasi antara pendidikan formal dan pendidikan nonformal sebagai solusi dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan berorientasi pada pengembangan manusia secara utuh (Hopid, 2021) Gagasan integrasi ini juga sejalan dengan pemikiran Azyumardi Azra mengenai perlunya penyatuan ilmu agama dan ilmu umum dalam sistem pendidikan Islam modern (Elkhatt, 2017). Dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia, pondok pesantren merupakan salah satu lembaga yang memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan pendidikan akademik dan pendidikan karakter secara bersamaan. Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat transmisi ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga sebagai lembaga pembinaan moral, spiritual, dan sosial masyarakat (Azra, 2000). Seiring perkembangan zaman, banyak pesantren yang mengembangkan sistem pendidikan formal melalui sekolah atau madrasah tanpa meninggalkan sistem pendidikan nonformal yang menjadi ciri khasnya. Perkembangan tersebut melahirkan model pendidikan terpadu yang memungkinkan peserta didik memperoleh pendidikan umum dan pendidikan keagamaan dalam satu lingkungan pendidikan yang sama (Purwanto & Siregar, n.d.). Karakteristik tersebut menjadikan pesantren sebagai model pendidikan yang mampu mengintegrasikan berbagai dimensi pendidikan secara utuh (Fauzi, 2006). Integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal dalam lingkungan pesantren menjadi fenomena yang menarik untuk dikaji karena kedua sistem pendidikan tersebut memiliki karakteristik, tujuan, dan pendekatan yang berbeda. Pendidikan formal berorientasi pada pencapaian standar akademik yang ditetapkan pemerintah, sedangkan pendidikan nonformal berorientasi pada pembentukan karakter, pendalaman ilmu agama, serta pembiasaan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari (Abdillah, 2025). Perbedaan orientasi tersebut berpotensi menimbulkan berbagai tantangan dalam pengelolaan kurikulum, pembagian waktu belajar, sinkronisasi program pendidikan, hingga penyelarasan tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, keberhasilan integrasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh keberadaan kedua sistem pendidikan dalam satu lembaga, tetapi juga dipengaruhi oleh kemampuan pengelola pendidikan dalam membangun sinergi antara keduanya. Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa integrasi pendidikan di lingkungan pesantren memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik. Penelitian Aspiyah (Aspiyah, 2024) menemukan bahwa integrasi kurikulum pesantren dan madrasah mampu memperkuat pembentukan karakter santri melalui sinergi antara pembelajaran akademik dan pendidikan keagamaan. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa integrasi pendidikan menjadi strategi penting dalam menciptakan proses pendidikan yang lebih komprehensif dan berorientasi pada pembentukan kepribadian peserta didik. Penelitian lain yang dilakukan oleh (Sopwandin et al., 2024) menjelaskan bahwa integrasi pendidikan formal dan nonformal dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran karena kedua sistem pendidikan saling melengkapi dalam mencapai tujuan Pendidikan. Selain itu, berbagai kajian mengenai pendidikan pesantren juga menunjukkan bahwa keberhasilan integrasi pendidikan sangat dipengaruhi oleh budaya organisasi yang berkembang di lingkungan pesantren. Budaya pesantren yang diwujudkan melalui pembiasaan ibadah, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, dan kehidupan berasrama berperan penting dalam membentuk karakter peserta didik secara berkelanjutan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa integrasi pendidikan di pesantren tidak hanya terjadi pada aspek kurikulum, tetapi juga berlangsung melalui proses internalisasi nilai-nilai keislaman yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari santri (Fitriani, 2022). Meskipun penelitian mengenai integrasi pendidikan di pesantren telah banyak dilakukan, sebagian besar penelitian masih berfokus pada integrasi kurikulum, pembentukan karakter santri, atau implementasi pendidikan terpadu secara umum. Penelitian yang secara khusus mengkaji implementasi integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal beserta faktor-faktor pendukung dan penghambatnya dalam konteks kelembagaan pesantren tertentu masih relatif terbatas. Padahal, setiap pesantren memiliki karakteristik budaya organisasi, sistem pengelolaan, dan strategi integrasi yang berbeda sehingga menghasilkan praktik integrasi pendidikan yang beragam. Dengan demikian, masih terdapat ruang penelitian (research gap) terkait implementasi integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal yang tidak hanya berfokus pada aspek kurikulum, tetapi juga mencakup aspek kelembagaan dan budaya pesantren. Pondok Pesantren As-Sholchah Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan merupakan salah satu pesantren yang menerapkan integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal dalam satu sistem pendidikan yang terpadu. Pendidikan formal diselenggarakan melalui lembaga madrasah, sedangkan pendidikan nonformal dilaksanakan melalui berbagai kegiatan kepesantrenan seperti kajian kitab kuning, tahfidz Al-Qur'an, pembinaan ibadah, pembentukan karakter, serta berbagai kegiatan pengembangan minat dan bakat santri. Menariknya, integrasi pendidikan di Pondok Pesantren As-Sholchah tidak hanya terlihat pada aspek pembelajaran, tetapi juga pada pengelolaan waktu, pembinaan karakter, budaya pesantren, serta koordinasi antar lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan yayasan yang sama. Berdasarkan observasi awal, pelaksanaan integrasi pendidikan di Pondok Pesantren As-Sholchah menunjukkan adanya upaya sinkronisasi antara program pendidikan formal dan pendidikan nonformal untuk membentuk santri yang memiliki keseimbangan antara kemampuan akademik, pemahaman keagamaan, dan karakter religius. Namun demikian, pelaksanaan integrasi tersebut juga menghadapi berbagai tantangan yang berkaitan dengan manajemen waktu, beban belajar santri, serta koordinasi program pendidikan. Kondisi ini menjadikan Pondok Pesantren As-Sholchah sebagai lokasi yang relevan untuk mengkaji praktik integrasi pendidikan secara lebih mendalam. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah Warungdowo, Pohjentrek, Pasuruan serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan faktor-faktor penghambat yang memengaruhi pelaksanaan integrasi pendidikan tersebut. METODE Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan memahami secara mendalam fenomena integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal yang berlangsung dalam konteks alamiah Pondok Pesantren As-Sholchah. Sementara itu, desain studi kasus digunakan karena memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai proses, dinamika, serta faktor-faktor yang memengaruhi integrasi pendidikan pada satu lokasi penelitian secara mendalam dan kontekstual (Creswell & Poth, 2016). Pengumpulan Data Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan pendidikan formal dan pendidikan nonformal serta interaksi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari santri. Wawancara mendalam dilakukan kepada informan penelitian guna memperoleh informasi mengenai implementasi integrasi pendidikan, faktor pendukung, serta faktor penghambat yang dihadapi dalam pelaksanaannya. Adapun dokumentasi digunakan untuk melengkapi data penelitian melalui berbagai dokumen yang relevan, seperti profil pesantren, struktur organisasi, jadwal kegiatan pendidikan, kurikulum, arsip kelembagaan, dan dokumen lain yang berkaitan dengan fokus penelitian. Penggunaan observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dijelaskan oleh Creswell (Creswell & Poth, 2016). Subjek dan Lokasi Penelitian Subjek penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik ini digunakan karena informan yang dipilih dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman, dan keterlibatan langsung dalam pelaksanaan integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di lingkungan pesantren (Sugiyono, 2020). Informan penelitian terdiri atas pengasuh pondok pesantren, kepala madrasah, ustadz/ustadzah, pengelola pendidikan nonformal, serta santri yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan program pendidikan. Penelitian dilaksanakan di Pondok Pesantren As-Sholchah yang berlokasi di Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Lokasi penelitian dipilih karena pesantren ini menyelenggarakan pendidikan formal dan pendidikan nonformal secara terpadu sehingga relevan dengan fokus penelitian mengenai integrasi pendidikan. Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña (Miles et al., 2014) yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Reduksi data dilakukan dengan memilih, memfokuskan, dan menyederhanakan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk narasi deskriptif sehingga memudahkan peneliti dalam memahami pola dan hubungan antar data. Tahap terakhir dilakukan melalui penarikan kesimpulan dan verifikasi secara terus-menerus selama proses penelitian berlangsung hingga diperoleh temuan yang valid dan konsisten. Untuk menjamin keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari pengasuh pesantren, kepala madrasah, ustadz/ustadzah, pengelola pendidikan nonformal, dan santri. Sementara itu, triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi pada tema yang sama. Melalui proses tersebut, data yang diperoleh dapat diuji tingkat kredibilitasnya sehingga temuan penelitian memiliki validitas yang lebih kuat (Creswell & Poth, 2016). HASIL PENELITIAN Gambaran Umum Pondok Pesantren As-Sholchah Yayasan Pondok Pesantren As-Sholchah merupakan lembaga pendidikan Islam yang berlokasi di Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pesantren ini mengembangkan sistem pendidikan yang mengintegrasikan pendidikan formal dan pendidikan nonformal dalam satu lingkungan pendidikan yang terpadu. Pendidikan formal diselenggarakan melalui berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK Islam Salam, SD Islam Salam, MTs As-Sholchah, MA As-Sholchah, hingga program Sarjana (S1) melalui kerja sama dengan Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan. Adapun pendidikan nonformal diselenggarakan melalui sistem kepesantrenan yang meliputi kajian kitab kuning, madrasah diniyah, tahfidz Al-Qur'an, pembinaan ibadah, dan pembentukan karakter santri. Visi Pondok Pesantren As-Sholchah adalah mewujudkan generasi Islami yang berilmu, sehat, cerdas, berakhlakul karimah, serta bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara. Untuk mendukung visi tersebut, pesantren mengembangkan berbagai program unggulan, antara lain Tahfidzul Qur'an, kajian kitab kuning menggunakan metode Al-Miftah, program AMB (As-Sholchah Mencari Bakat), serta program magang bagi santri kelas XII. Program-program tersebut menjadi bagian dari upaya pesantren dalam membentuk santri yang memiliki keseimbangan kemampuan intelektual, spiritual, sosial, dan keterampilan hidup. Profil lembaga Yayasan Pondok Pesantren As-Sholchah Aspek Keterangan Nama Lembaga Pondok Pesantren As-Sholchah Lokasi Warungdowo, Pohjentrek, Pasuruan Jenis Lembaga Pondok Pesantren Jenjang Pendidikan MTS, MA, Program S1 (kerjasama UNU Pasuruan) Visi Program Unggulan Mewujudkan generasi Islami yang berilmu, sehat, cerdas, dan berakhlakul karimah Tahfidz, Kajian Kitab Kuning, AMB, Magang Implementasi Integrasi Pendidikan Formal dan Pendidikan Nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi, implementasi integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah dilaksanakan secara sistematis melalui pengintegrasian kurikulum, pengaturan waktu pembelajaran, pembinaan karakter, dan sistem evaluasi pendidikan. Integrasi tersebut bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan umum dan ilmu keagamaan sehingga santri memperoleh pendidikan yang utuh. Implementasi integrasi pendidikan diawali dengan penyusunan program pendidikan yang memadukan kurikulum formal dan kurikulum kepesantrenan. Kurikulum formal mengacu pada ketentuan Kementerian Agama, sedangkan kurikulum nonformal disusun berdasarkan kebutuhan santri dan tradisi pendidikan pesantren yang meliputi kajian kitab kuning, madrasah diniyah, tahfidz Al-Qur'an, pembinaan ibadah, serta kegiatan pengembangan karakter. Selain itu, integrasi juga diwujudkan melalui penyusunan jadwal kegiatan yang memungkinkan pendidikan formal dan nonformal berjalan secara beriringan tanpa saling mengganggu. Pada pagi hingga siang hari santri mengikuti pembelajaran formal di madrasah, sedangkan sore dan malam hari digunakan untuk mengikuti kegiatan kepesantrenan. Berdasarkan hasil penelitian, implementasi integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal diwujudkan melalui beberapa bentuk berikut. Integrasi Kurikulum Integrasi kurikulum dilakukan melalui keterkaitan antara materi yang diajarkan dalam pendidikan formal dan pendidikan nonformal. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diajarkan di madrasah diperkuat melalui kajian kitab kuning, pembelajaran fikih, akidah akhlak, nahwu, sharaf, dan tahfidz Al-Qur'an yang dilaksanakan di lingkungan pesantren. Dengan demikian, materi keagamaan yang diperoleh santri tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga diperdalam melalui pembelajaran kepesantrenan. Integrasi Waktu Pembelajaran Pelaksanaan pendidikan formal dan nonformal dilakukan secara terpadu melalui pengaturan waktu yang terstruktur. Kegiatan formal dilaksanakan pada pagi hingga siang hari, sedangkan kegiatan nonformal dilaksanakan pada sore hari, malam hari, dan setelah salat berjamaah. Pengaturan waktu tersebut memungkinkan seluruh program pendidikan berjalan secara efektif dan saling melengkapi. Integrasi Pembinaan Karakter Nilai-nilai yang diajarkan dalam pembelajaran formal diperkuat melalui pembiasaan kehidupan sehari-hari di pesantren. Santri dibiasakan untuk melaksanakan salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, mengikuti kegiatan keagamaan, menjaga kedisiplinan, serta menghormati guru dan sesama santri. Pembiasaan tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan akhlakul karimah dan kepribadian Islami. Selain pembinaan karakter, pesantren juga memberikan perhatian terhadap pengembangan minat dan bakat santri melalui berbagai program ekstrakurikuler dan kegiatan pentas bakat. Salah satu program unggulan yang dimiliki adalah AMB (As-Sholchah Mencari Bakat) yang bertujuan menyalurkan minat dan bakat santri dalam berbagai bidang. Program tersebut menjadi sarana pengembangan kreativitas, kepercayaan diri, dan kemampuan nonakademik santri. Di samping itu, pesantren juga melaksanakan program magang bagi siswa kelas XII sebagai upaya memberikan pengalaman keterampilan dan kesiapan menghadapi kehidupan bermasyarakat maupun dunia kerja. Integrasi Evaluasi Pendidikan Evaluasi pendidikan tidak hanya dilakukan melalui ujian akademik di madrasah, tetapi juga melalui penilaian kemampuan membaca kitab, hafalan Al-Qur'an, praktik ibadah, kedisiplinan, dan perilaku sehari-hari santri di lingkungan pesantren. Sistem evaluasi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan di Pondok Pesantren As-Sholchah tidak hanya diukur dari aspek akademik, tetapi juga dari aspek spiritual dan karakter. Berdasarkan hasil observasi, implementasi integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah berlangsung secara berkesinambungan dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan pesantren. Faktor Pendukung dan Penghambat Integrasi Pendidikan Formal dan Pendidikan Nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah Faktor Pendukung Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa faktor yang mendukung pelaksanaan integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah. Pertama, dukungan pengasuh pesantren dan pihak yayasan yang memberikan kebijakan serta pengelolaan program pendidikan secara terarah. Kedua, ketersediaan lembaga pendidikan formal dan nonformal dalam satu lingkungan yang sama sehingga memudahkan koordinasi dan pelaksanaan kegiatan pendidikan secara terpadu. Ketiga, komitmen guru madrasah dan ustaz/ustazah yang tinggi dalam membimbing santri baik dalam aspek akademik maupun keagamaan. Keempat, lingkungan pesantren yang religius dan kondusif sehingga mendukung pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kebiasaan belajar santri. Kelima, dukungan orang tua yang memberikan kepercayaan kepada pesantren untuk mendidik putra-putrinya secara menyeluruh. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa integrasi pendidikan memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran. Guru Bahasa Arab pendidikan formal menyatakan bahwa keberadaan pendidikan nonformal sangat membantu peningkatan kemampuan kosakata bahasa Arab santri. Pembelajaran bahasa Arab yang diperoleh santri dalam kegiatan kepesantrenan memberikan penguatan terhadap materi yang dipelajari pada pendidikan formal sehingga memudahkan guru dalam proses pembelajaran di kelas. Selain itu, hasil wawancara menunjukkan bahwa keseimbangan antara kegiatan formal dan nonformal dapat terjaga karena adanya kerja sama antara kepala lembaga pendidikan formal dan kepala lembaga pendidikan nonformal dalam menyusun serta mengatur jadwal kegiatan sehingga tidak terjadi benturan antara kedua program pendidikan tersebut. Faktor Penghambat Di samping faktor pendukung, terdapat beberapa faktor yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah. Pertama, padatnya jadwal kegiatan santri yang terkadang menimbulkan kelelahan sehingga memengaruhi konsentrasi belajar. Kedua, perbedaan kemampuan akademik santri yang disebabkan oleh latar belakang pendidikan yang beragam. Ketiga, keterbatasan sarana dan prasarana yang masih memerlukan pengembangan untuk menunjang efektivitas pembelajaran. Keempat, manajemen waktu yang menjadi tantangan karena berbagai program pendidikan harus dilaksanakan secara bersamaan tanpa mengurangi kualitas masing-masing kegiatan. Kelima, masih terdapat sebagian santri yang memerlukan pendampingan lebih lanjut untuk meningkatkan motivasi dan kedisiplinan dalam mengikuti seluruh program pendidikan. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa beban hafalan pada pendidikan nonformal terkadang menjadi kendala bagi santri dalam mengatur waktu belajar. Dalam beberapa kondisi, santri menggunakan waktu pembelajaran formal untuk menghafalkan materi pendidikan nonformal. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada proses belajar santri, tetapi juga memengaruhi pelaksanaan pembelajaran di kelas formal. Sebagaimana disampaikan oleh guru Bahasa Arab, terdapat sebagian guru formal yang kurang menyetujui penggunaan waktu pembelajaran formal untuk menghafalkan materi pendidikan nonformal karena dapat mengurangi fokus santri terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung. DISKUSI DAN PEMBAHASAN Integrasi Pendidikan Formal dan Pendidikan Nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah dilaksanakan melalui integrasi kurikulum, integrasi waktu pembelajaran, integrasi pembinaan karakter, serta integrasi sistem evaluasi pendidikan. Integrasi tersebut tidak hanya bertujuan menghubungkan pendidikan umum dan pendidikan keagamaan, tetapi juga membentuk keseimbangan antara aspek intelektual, spiritual, sosial, dan moral santri. Temuan ini menunjukkan bahwa pendidikan yang diterapkan di Pondok Pesantren As-Sholchah mengarah pada model pendidikan integralistik yang memandang peserta didik sebagai individu yang harus berkembang secara utuh dalam berbagai dimensi kehidupan. Pelaksanaan integrasi kurikulum terlihat dari keterhubungan antara materi yang diajarkan dalam pendidikan formal dengan materi yang dipelajari dalam pendidikan nonformal. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang dipelajari di madrasah diperkuat melalui kajian kitab kuning, tahfidz Al-Qur'an, pembelajaran fikih, akidah akhlak, nahwu, dan sharaf yang diselenggarakan di lingkungan pesantren. Temuan ini sejalan dengan penelitian Adi Wibowo yang menjelaskan bahwa integrasi pendidikan formal dan nonformal di lingkungan pesantren memungkinkan terjadinya kesinambungan proses pembelajaran sehingga peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih komprehensif. Integrasi tersebut tidak hanya terjadi pada aspek pembelajaran, tetapi juga pada pengelolaan pendidikan secara menyeluruh (Wibowo, 2019). Selain pada aspek kurikulum, integrasi juga terlihat pada pengaturan waktu pembelajaran yang disusun secara sistematis. Kegiatan formal dilaksanakan pada pagi hingga siang hari, sedangkan kegiatan kepesantrenan berlangsung pada sore dan malam hari. Pengaturan tersebut menunjukkan adanya sinkronisasi antara sistem pendidikan formal dan nonformal sehingga keduanya dapat berjalan secara beriringan tanpa saling mengganggu. Kondisi ini mendukung terciptanya lingkungan belajar yang memungkinkan santri memperoleh penguatan akademik sekaligus pembinaan keagamaan secara berkelanjutan. Temuan penting lainnya adalah integrasi pembinaan karakter yang dilaksanakan melalui kehidupan sehari-hari santri di lingkungan pesantren. Nilai-nilai yang diajarkan dalam pembelajaran formal diperkuat melalui pembiasaan salat berjamaah, membaca Al-Qur'an, pengajian kitab, kedisiplinan, tanggung jawab, serta penghormatan kepada guru dan sesama santri. Temuan ini sejalan dengan penelitian Maryono yang menjelaskan bahwa budaya pesantren merupakan instrumen utama dalam pembentukan karakter karena nilai-nilai yang diajarkan tidak hanya disampaikan melalui pembelajaran formal, tetapi juga diinternalisasikan melalui kehidupan sehari-hari santri (Maryono, 2022). Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa integrasi pendidikan di Pondok Pesantren As-Sholchah tidak berhenti pada aspek kurikulum dan pembelajaran, tetapi berkembang menjadi integrasi budaya pendidikan. Budaya pesantren yang diwujudkan melalui berbagai aktivitas keagamaan, pembiasaan disiplin, kehidupan berasrama, dan interaksi sosial antarwarga pesantren berfungsi sebagai sarana internalisasi nilai-nilai Islam secara berkelanjutan. Temuan ini memperkuat penelitian Fitriani yang menyatakan bahwa budaya pesantren memiliki peran strategis dalam membentuk karakter santri karena nilai-nilai pendidikan tertanam melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari (Fitriani, 2022). Jika dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini menemukan bahwa integrasi pendidikan di Pondok Pesantren As-Sholchah tidak hanya terjadi pada aspek kurikulum sebagaimana banyak ditemukan dalam kajian integrasi pendidikan pesantren, tetapi juga berlangsung pada level kelembagaan dan budaya organisasi pesantren. Integrasi diwujudkan melalui sinkronisasi program pendidikan formal dan nonformal, koordinasi antarpendidik, serta internalisasi nilai-nilai keislaman dalam seluruh aktivitas santri. Dengan demikian, integrasi pendidikan yang diterapkan dapat dikategorikan sebagai integrasi yang bersifat holistik karena mencakup dimensi akademik, spiritual, sosial, dan kultural secara bersamaan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Pondok Pesantren As-Sholchah mampu mempertahankan tradisi pendidikan Islam sekaligus mengakomodasi kebutuhan pendidikan modern. Oleh karena itu, model integrasi pendidikan yang diterapkan memiliki relevansi yang tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat terhadap lembaga pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter religius yang kuat. Faktor Pendukung dan Penghambat Integrasi Pendidikan Formal dan Pendidikan Nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah, Warungdowo, Pohjentrek, Pasuruan Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah didukung oleh beberapa faktor, yaitu dukungan pengasuh dan yayasan, keberadaan lembaga pendidikan formal dan nonformal dalam satu lingkungan pendidikan, komitmen guru dan ustaz/ustazah, budaya pesantren yang kondusif, serta dukungan orang tua santri. Faktor-faktor tersebut saling melengkapi dalam menciptakan sistem pendidikan yang terintegrasi dan berkelanjutan. Dukungan pengasuh dan yayasan menjadi faktor penting karena berperan dalam penyusunan kebijakan, koordinasi program, dan pengawasan pelaksanaan pendidikan. Temuan ini sejalan dengan penelitian tentang efektivitas kepemimpinan kiai yang menunjukkan bahwa kepemimpinan pesantren yang kuat mampu mengintegrasikan nilai-nilai tradisional pesantren dengan kebutuhan manajemen pendidikan modern sehingga mutu pendidikan dapat terus ditingkatkan (Safitri, 2025). Faktor pendukung lainnya adalah keberadaan pendidikan formal dan nonformal dalam satu lingkungan pesantren. Kondisi ini memudahkan koordinasi antarlembaga, sinkronisasi jadwal kegiatan, serta pengawasan terhadap perkembangan santri. Selain itu, komitmen guru dan ustaz/ustazah dalam membimbing santri secara akademik maupun keagamaan turut memperkuat keberhasilan integrasi pendidikan yang diterapkan. Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa integrasi pendidikan memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran formal. Guru Bahasa Arab menyatakan bahwa keberadaan pendidikan nonformal membantu meningkatkan penguasaan kosakata bahasa Arab santri karena materi yang diperoleh dalam kegiatan kepesantrenan memperkuat pembelajaran yang berlangsung di kelas formal. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan timbal balik yang saling menguatkan antara pendidikan formal dan pendidikan nonformal sehingga keduanya tidak berjalan secara terpisah, melainkan saling mendukung dalam mencapai tujuan pendidikan. Selain faktor pendukung, penelitian ini juga menemukan beberapa faktor penghambat dalam pelaksanaan integrasi pendidikan. Hambatan utama yang ditemukan adalah padatnya jadwal kegiatan santri. Santri dituntut untuk mengikuti berbagai kegiatan akademik dan kepesantrenan dalam waktu yang relatif terbatas sehingga membutuhkan kemampuan manajemen waktu yang baik. Kondisi tersebut sering kali menyebabkan kelelahan dan berpengaruh terhadap konsentrasi belajar santri. Temuan ini sejalan dengan penelitian mengenai implementasi karakter disiplin berbasis budaya pesantren yang menunjukkan bahwa keberhasilan pelaksanaan program pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemampuan pengelolaan waktu, kedisiplinan, serta kepatuhan terhadap tata tertib yang berlaku di lingkungan pesantren (Fauzi & Mokhtar, 2024). Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa beban hafalan dalam pendidikan nonformal terkadang menimbulkan kendala dalam proses pembelajaran formal. Beberapa santri memanfaatkan waktu pembelajaran formal untuk menghafalkan materi pendidikan nonformal sehingga mengurangi fokus terhadap materi yang sedang diajarkan di kelas. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada santri, tetapi juga menimbulkan tantangan bagi guru formal dalam mengelola proses pembelajaran. Selain itu, perbedaan kemampuan akademik santri, keterbatasan sarana dan prasarana, serta motivasi belajar yang beragam juga menjadi faktor yang memengaruhi efektivitas integrasi pendidikan. Meskipun demikian, Pondok Pesantren As-Sholchah berupaya mengatasi berbagai hambatan tersebut melalui koordinasi antarpendidik, penyesuaian jadwal kegiatan, pembinaan kedisiplinan, serta evaluasi program secara berkala. Berdasarkan keseluruhan temuan penelitian, dapat dipahami bahwa keberhasilan integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah tidak hanya ditentukan oleh keberadaan dua sistem pendidikan dalam satu lembaga, tetapi juga dipengaruhi oleh kekuatan budaya pesantren, kepemimpinan lembaga, koordinasi antarpengelola pendidikan, serta kemampuan dalam mengelola berbagai tantangan yang muncul selama proses pelaksanaan. Temuan ini memperlihatkan bahwa integrasi pendidikan yang efektif memerlukan sinergi antara aspek struktural, kultural, dan pedagogis sehingga mampu menghasilkan pendidikan yang utuh dan berkelanjutan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal di Pondok Pesantren As-Sholchah Warungdowo, Pohjentrek, Pasuruan dilaksanakan melalui integrasi kurikulum, pengelolaan waktu pembelajaran, pembinaan karakter, dan budaya pesantren yang berlangsung secara berkesinambungan. Integrasi tersebut memungkinkan terjadinya sinergi antara pencapaian kompetensi akademik melalui pendidikan formal dengan pembentukan karakter, spiritualitas, dan kedisiplinan melalui pendidikan nonformal. Dengan demikian, pendidikan yang diselenggarakan tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan kepribadian santri yang religius dan berakhlakul karimah. Keberhasilan integrasi pendidikan didukung oleh kepemimpinan kiai, budaya pesantren yang kuat, koordinasi antarlembaga pendidikan, komitmen guru dan ustaz/ustazah, serta dukungan orang tua santri. Adapun faktor penghambat yang ditemukan meliputi padatnya jadwal kegiatan santri, beban hafalan yang cukup tinggi, perbedaan kemampuan akademik santri, serta tantangan dalam pengelolaan waktu antara kegiatan formal dan nonformal. Meskipun demikian, berbagai hambatan tersebut dapat diminimalkan melalui koordinasi yang baik, penyesuaian jadwal kegiatan, dan evaluasi program secara berkelanjutan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi pendidikan di Pondok Pesantren As-Sholchah tidak hanya berlangsung pada aspek kurikulum, tetapi juga pada aspek kelembagaan dan budaya pesantren. Temuan ini menjadi kontribusi penting penelitian karena memperlihatkan bahwa keberhasilan integrasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh penyatuan program pembelajaran, melainkan juga oleh budaya organisasi dan sistem pengelolaan pendidikan yang mampu menghubungkan seluruh aktivitas pendidikan formal dan nonformal secara terpadu. Saran Berdasarkan hasil penelitian, Pondok Pesantren As-Sholchah diharapkan dapat terus memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan formal dan pendidikan nonformal melalui peningkatan koordinasi program, penyelarasan target pembelajaran, dan pengelolaan jadwal kegiatan yang lebih efektif. Langkah tersebut penting dilakukan untuk mengurangi potensi tumpang tindih kegiatan serta menjaga keseimbangan antara tuntutan akademik dan kegiatan kepesantrenan yang diikuti santri. Bagi pendidik dan pengelola pesantren, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan evaluasi dalam mengembangkan model pendidikan yang lebih integratif dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara pencapaian akademik, pembentukan karakter, dan penguatan nilai-nilai keislaman. Selain itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas koordinasi antarpendidik serta optimalisasi sarana dan prasarana guna mendukung efektivitas pelaksanaan integrasi pendidikan. Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk mengkaji integrasi pendidikan formal dan pendidikan nonformal pada konteks pesantren yang lebih beragam. Penelitian lanjutan dapat diarahkan pada aspek manajemen pendidikan, pengembangan kurikulum integratif, efektivitas model pembelajaran terpadu, maupun pengaruh integrasi pendidikan terhadap perkembangan akademik, karakter, dan kompetensi sosial santri sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai praktik integrasi pendidikan di lingkungan pesantren. REFERENSI Abdillah, A. A. (2025). PERANAN PENDIDIKAN FORMAL DAN NON-FORMAL. 6(1), 24-37. Aspiyah. (2024). INTEGRASI KURIKULUM PESANTREN DAN MADRASAH DALAM MENINGKATKAN KARAKTER SANTRI ( STUDI KASUS DI PONDOK PESANTREN AZZAHRO ) Aspiyah Manajemen Pendidikan Islam Program Doktoral Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta Abstrak Al-Madrasa. Al-Madrasah: Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 8(1), 231-242. https://doi.org/10.35931/am.v8i1.2948 Azra, A. (2000). Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru. Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2016). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches. Sage publications. Elkhatt, K. (2017). Modernisasi Kurikulum Pesantren Menurut Azyumardi Azra. Perspektif: Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 46-65. Fauzi. (2006). Model Kajian Pesantren: Studi Kritis terhadap Buku Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren karya Mastuhu. JURNAL PEMIKIRAN ALTERNATIF KEPENDIDIKAN, 11(3), 1-9. Fauzi, A., & Mokhtar, H. (2024). Implementasi Karakter Disiplin Santri Berbasis Budaya Pesantren. Journal of Islamic Education and Innovation, 5(2), 89-97. Fitriani. (2022). Peran Budaya Pondok Pesantren dalam Membentuk Karakter Santri. Jurnal Lentera Jurnal Studi Pendidikan, 4(1), 21-32. Heriyudanta, M. (2016). Modernisasi Pendidikan Pesantren Perspektif Azyumardi Azra. Mudarrisa, Jurnal Kajian Pendidikan Islam, 8(1), 145-172. https://doi.org/10.18326/mudarrisa.v8i1.145-172 Hopid, A. (2021). INTEGRASI ILMU DALAM PENDIDIKAN : Membaca Potensi Integrasi Sains dan Agama di Pondok Pesantren Mahasiswa UII Yogyakarta. ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albal, 2(2), 97-114. Maryono. (2022). Budaya Pesantren dalam Pembentukan Karakter pada Santri Sekolah Menengah Pertama Berbasis Pesantre. DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik, 6(2). Mastuhu. (1994). Dinamika sistem pendidikan pesantren : suatu kajian tentang unsur dan nilai sistem pendidikan pesantren. In Seri INIS; 20 TA - TT -. https://doi.org/ LK - https://worldcat.org/title/246896529 Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook. In (No Title). Purwanto, Y., & Siregar, C. N. (n.d.). Pesantren dalam Kebijakan Pendidikan Indonesia. 233-272. Safitri, E. (2025). Efektivitas Kepemimpinan Kiai dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Pesantren. IJoEd: Indonesian Journa Lon Educationn, 2(3), 267-275. Sopwandin, I., Munawar, S. H., Sumarna, C. P., & Nurjalilah, S. (2024). Integrasi sistem pendidikan pada lembaga formal dan lembaga nonformal. JURNAL PENDIDIKAN DAN KEGURUAN, 2(5), 993-1002. Sugiyono. (2020). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Wibowo, A. (2019). NTEGRASI MANAJEMEN KESISWAAN PENDIDIKAN FORMAL DAN NON FORMAL DI PONDOK PESANTREN AN-NAWAWI BERJAN PURWOREJO. Jurnal Islamic Education Manajemen, 4(2), 221-228. Ashlach : Journal of Islamic Education Alfiya, Sandri & Nisa ¦ Integrasi Pendidikan Islam Berbasis Aswaja... Ashlach : Journal of Islamic Education Faizah Maulidiyah dkk ¦ Integrasi Pendidikan Formal Dan Pendidikan Nonformal Di Pondok Pesantren As-Sholchah | | 36 Journal of Islamic Education e-ISSN/p- ISSN : 2988-1285/2988-1277 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/ashlach Copyright (c) 2026 The Author(s) | Published by: Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan.