Vol. 4, No. 1, 2026 | Hal 91 - 102 DOI: https://doi.org/10.55757/ashlach.v4i01.1404 Integrasi Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran Pai Berbasis Deep Learning Untuk Menumbuhkan Toleransi Muhammad Ilyas1* , Ubaidillah2, Mashudi3, Dyah Nawangsari4 1* Universitas Islam Jember, Indonesia 2 Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember 3 Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember 4 Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Shiddiq Jember Korespondensi*: ilyasalmaduri@gmail.com Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submited: Februari 03, 2026 Revision: Maret 05, 2026 Accepted: April 16, 2026 Publish: April 30, 2026 Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan menumbuhkan sikap toleransi siswa, terutama di sekolah menengah kejuruan dengan keberagaman sosial dan budaya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh urgensi penguatan moderasi beragama, yang menjadi strategi penting untuk mengurangi konflik dan membangun harmoni sosial di kalangan peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemahaman guru mengenai moderasi beragama, integrasinya dalam pembelajaran PAI berbasis Deep Learning, dan dampaknya terhadap sikap toleransi siswa di SMKN 5 Jember. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian berupa guru PAI dan Budi Pekerti serta siswa kelas X dan XI. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi materi pembelajaran, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman, dengan validasi melalui triangulasi sumber, teknik, dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memahami moderasi beragama sebagai sikap seimbang, adil, toleran, dan anti-ekstremisme. Integrasi nilai moderasi melalui pembelajaran PAI berbasis Deep Learning terbukti efektif menumbuhkan sikap toleransi siswa, dengan strategi seperti diskusi kelompok, problem-based learning, dan refleksi kritis. Observasi dan dokumentasi menunjukkan peningkatan perilaku siswa dalam hal komunikasi, empati, pengambilan keputusan adil, dan penghargaan terhadap perbedaan. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan kombinasi moderasi beragama dan Deep Learning dapat menjadi model pedagogis yang efektif dan dapat direplikasi di sekolah menengah lain. Kata Kunci : Deep learning, moderasi beragama, PAI, pendidikan karakter, sikap toleransi, SMKN 5 Jember Abstract Islamic Religious Education plays a crucial role in shaping students' character and fostering tolerance, particularly in vocational secondary schools characterized by social and cultural diversity. This study is motivated by the urgency of strengthening religious moderation as an important strategy for reducing conflict and building social harmony among students. The study aims to explore teachers' understanding of religious moderation, its integration into Deep Learning-based PAI instruction, and its impact on students' tolerance at SMKN 5 Jember. This research employed a descriptive qualitative approach, with Islamic Religious Education and Character Education teachers, as well as Grade X and XI students, serving as the research subjects. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation of instructional materials. The data were then analyzed using the interactive model of Miles and Huberman, with validation conducted through source triangulation, technique triangulation, and member checking. The findings indicate that teachers understand religious moderation as a balanced, just, tolerant, and anti-extremist attitude. The integration of moderation values through Deep Learning-based PAI instruction was found to be effective in fostering students' tolerance, particularly through strategies such as group discussions, problem-based learning, and critical reflection. Observations and documentation revealed improvements in students' behavior in terms of communication, empathy, fair decision-making, and appreciation of differences. These findings affirm that the combined approach of religious moderation and Deep Learning can serve as an effective pedagogical model that may be replicated in other secondary schools. PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter peserta didik, khususnya dalam menumbuhkan nilai toleransi dan moderasi beragama. Di tengah masyarakat yang semakin plural dan kompleks, penguatan moderasi beragama menjadi salah satu strategi penting untuk mencegah konflik sosial dan membangun harmoni dalam interaksi sosial (Bahri, R., Rofiqi, R., 2025). Moderasi beragama menekankan prinsip keseimbangan, keadilan, dan penghormatan terhadap perbedaan, yang sangat relevan untuk pembentukan karakter di sekolah (Chotimah, C., Qudsy, S. Z., & Yusuf, 2025). Konsep ini juga sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dan tujuan pendidikan karakter nasional, yang menekankan toleransi, saling menghormati, dan sikap adil dalam kehidupan sosial (Hanif, Maruti, & Anwar, 2025). Dalam praktik pembelajaran PAI, implementasi nilai moderasi beragama seringkali masih bersifat superfisial dan terbatas pada pengajaran teori tanpa interaksi praktis yang memadai (Chotimah, C., Qudsy, S. Z., & Yusuf, 2025). Hal ini menimbulkan kebutuhan untuk mengembangkan metode pembelajaran inovatif yang dapat menginternalisasi nilai-nilai tersebut secara lebih efektif. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah Deep Learning dalam konteks pendidikan, yang memungkinkan peserta didik belajar secara adaptif, kontekstual, dan interaktif. Deep Learning dalam pendidikan bukan sekadar penggunaan teknologi, tetapi merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, analisis kritis, dan penerapan pengetahuan dalam situasi nyata (Mukhibat et al., 2023); (Fajar et al., 2024). Beberapa studi menunjukkan bahwa integrasi teknologi pendidikan dengan nilai-nilai moral dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan memperkuat pembentukan karakter. Misalnya, pembelajaran berbasis Deep Learning dapat menempatkan siswa sebagai learning leaders, yang aktif mengeksplorasi dan menerapkan konsep moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari (Mukhibat et al., 2023). Dengan demikian, metode ini memungkinkan peralihan dari pembelajaran surface learning menjadi deep learning, di mana siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga menginternalisasi nilai moral dan sosial secara mendalam. Penanaman sikap toleransi melalui moderasi beragama sangat penting di jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), karena siswa berada pada fase perkembangan sosial dan emosional yang kritis. Penelitian di SMK dan sekolah menengah lain menunjukkan bahwa strategi pembelajaran yang menggabungkan teknologi dan pendidikan karakter dapat meningkatkan kesadaran sosial siswa serta menumbuhkan sikap toleran yang konsisten (Drajat Tri Kartono, Bagong Suyanto, Rahma Sugihartati et al., 2025). Selain itu, literasi digital yang dipadukan dengan moderasi beragama dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap pentingnya menghormati perbedaan dalam masyarakat modern (Drajat Tri Kartono, Bagong Suyanto, Rahma Sugihartati et al., 2025). Meskipun banyak penelitian mengenai moderasi beragama di tingkat pendidikan dasar dan tinggi, masih terdapat gap penelitian terkait implementasi moderasi beragama dalam pembelajaran PAI berbasis Deep Learning khususnya di SMK. Studi-studi sebelumnya cenderung fokus pada pendekatan teoritis atau kurikulum formal, tanpa menekankan praktik pembelajaran inovatif yang menggabungkan teknologi, nilai-nilai karakter, dan interaksi sosial nyata (Bahri, R., Rofiqi, R., 2025); Hanif et al., 2025). Gap ini menunjukkan perlunya penelitian yang mengkaji secara mendalam proses integrasi nilai moderasi beragama ke dalam metode pembelajaran PAI berbasis Deep Learning, serta pengaruhnya terhadap sikap toleransi siswa. Tujuan Penelitian ini untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai moderasi beragama dapat diinternalisasi melalui pembelajaran PAI berbasis Deep Learning di SMKN 5 Jember. Penelitian dapat menggali proses, pengalaman, dan persepsi guru serta siswa, sehingga diperoleh pemahaman mendalam tentang praktik terbaik dan tantangan implementasi. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar rekomendasi praktis bagi pendidik dan pengambil kebijakan untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang inovatif, kontekstual, dan berdampak pada peningkatan toleransi siswa. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap literatur pendidikan karakter berbasis teknologi, khususnya dalam konteks moderasi beragama, sekaligus menutup gap penelitian yang ada dalam implementasi praktis di sekolah menengah kejuruan. Integrasi nilai moderasi beragama dengan metode pembelajaran Deep Learning memiliki potensi besar untuk membentuk generasi muda yang toleran, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan masyarakat yang multikultural. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif-eksploratif. Pendekatan kualitatif dipilih karena tujuan penelitian adalah untuk memahami proses integrasi nilai moderasi beragama dalam pembelajaran PAI berbasis Deep Learning serta pengaruhnya terhadap pembentukan sikap toleransi siswa secara mendalam. Pendekatan ini memungkinkan peneliti mengeksplorasi persepsi, pengalaman, dan interaksi antara guru dan siswa dalam konteks pembelajaran yang nyata (Creswell, 2019); (Mundofi, 2025). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai moderasi beragama dapat diinternalisasi melalui pembelajaran PAI berbasis Deep Learning di SMKN 5 Jember. Pengumpulan Data Teknik Pengumpulan Data, Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik triangulasi untuk meningkatkan keabsahan data, antara lain: Wawancara mendalam dengan guru dan siswa untuk mendapatkan informasi mengenai pengalaman dan persepsi mereka terkait pembelajaran moderasi beragama (Ahmad Izzuddin Faqih, Abd Muhith, 2026). Observasi partisipatif selama proses pembelajaran berlangsung untuk mencatat interaksi, respons siswa, dan implementasi Deep Learning (Akib, 2025). Dokumentasi berupa catatan RPP, materi pembelajaran, serta hasil tugas siswa untuk mendukung data kualitatif (Maftuhah, 2025). Instrumen Penelitian, Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai pengamat, pengumpul, dan analis data. Selain itu, digunakan pedoman wawancara semi-terstruktur, lembar observasi, dan checklist dokumentasi sebagai instrumen pendukung (Mundofi, 2025; (Ritonga & Nurmawati, 2025). Subjek dan Lokasi Penelitian Subjek penelitian terdiri dari guru PAI dan Budi Pekerti serta siswa kelas X dan XI, yang menjadi peserta aktif dalam pembelajaran berbasis Deep Learning. Sumber data meliputi: Data primer: hasil wawancara mendalam dengan guru dan siswa, observasi langsung proses pembelajaran, dan dokumen pembelajaran seperti RPP dan modul. Data sekunder: literatur terkait moderasi beragama, toleransi siswa, dan teknologi pembelajaran Deep Learning (Nurseha, 2025); (Fasyiransyah et al., 2025). Jumlah subjek penelitian sebanyak 15 Orang. Penelitian dilaksanakan di SMKN 5 Jember, yang merupakan salah satu sekolah menengah kejuruan dengan keragaman peserta didik dari berbagai latar belakang budaya dan agama. Lokasi ini dipilih karena relevansi praktik pembelajaran PAI dan Budi Pekerti serta implementasi nilai toleransi dalam kehidupan sekolah sehari-hari (Wawancara, 5 Juni 2026). Analisis Data Teknik Analisis Data, Analisis data dilakukan melalui prosedur interaktif model (Miles, M. B., A. M. Huberman, 2020), meliputi: kondensasi data: menyaring, merangkum, dan menyoroti informasi penting dari wawancara, observasi, dan dokumentasi (Nurseha, 2025). Penyajian data: mengelompokkan temuan ke dalam tema-tema sesuai variabel penelitian, seperti integrasi moderasi beragama, implementasi Deep Learning, dan sikap toleransi siswa (Mukhibat et al., 2024). Penarikan kesimpulan: menarik makna dari pola dan hubungan antar tema untuk menghasilkan pemahaman yang mendalam mengenai proses pembelajaran (Fasyiransyah et al., 2025). Instrumen Penelitian Instrumen Penelitian, Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai pengamat, pengumpul, dan analis data. Selain itu, digunakan pedoman wawancara semi-terstruktur, lembar observasi, dan checklist dokumentasi sebagai instrumen pendukung (Mundofi, 2025; (Ritonga & Nurmawati, 2025). Keabsahan Data, Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber, metode, dan teknik, serta dilakukan member check dengan guru dan siswa untuk memverifikasi interpretasi peneliti (Ahmad Izzuddin Faqih, Abd Muhith, 2026); (Akib, 2025). Tahapan Penelitian, Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahap, yaitu: Persiapan penelitian: penyusunan instrumen, koordinasi dengan pihak sekolah, dan izin penelitian. Pengumpulan data: wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data: reduksi, penyajian, dan interpretasi data. Pelaporan: penyusunan temuan penelitian, diskusi hasil, dan kesimpulan (Maftuhah, 2025). Dengan metode ini, penelitian dapat menggali proses dan dinamika internalisasi nilai moderasi beragama dalam pembelajaran PAI berbasis Deep Learning, sekaligus menilai pengaruhnya terhadap sikap toleransi siswa, sehingga memberikan kontribusi yang kuat bagi literatur pendidikan karakter berbasis teknologi. HASIL PENELITIAN Integrasi nilai moderasi beragama dalam pembelajaran PAI dan Budi Pekerti di SMKN 5 Jember tidak berlangsung sebagai sisipan tematik yang bersifat insidental, tetapi hadir sebagai proses pedagogis yang dirancang sejak perencanaan, dilaksanakan melalui aktivitas belajar mendalam, dinilai melalui asesmen sikap dan karya, serta diperkuat oleh kultur sekolah. Data utama diperoleh dari wawancara guru PAI dan Budi Pekerti, wakil kepala bidang kurikulum, siswa Muslim, serta siswa non-Muslim; observasi pembelajaran berkelompok dan pendampingan diskusi; serta dokumentasi modul ajar, kegiatan keputrian, shalat dhuha, literasi keagamaan, dan pembelajaran agama bagi siswa non-Muslim. Pertama, guru memahami moderasi beragama sebagai sikap beragama yang seimbang, tidak berlebihan, tidak meremehkan ajaran agama, dan tidak ekstrem. Dalam wawancara, guru menegaskan bahwa siswa perlu dibimbing agar tetap taat pada keyakinannya, tetapi pada saat yang sama mampu menghargai orang lain yang berbeda pandangan, organisasi keagamaan, budaya, maupun agama. Moderasi dipahami bukan sebagai upaya melemahkan identitas agama, melainkan sebagai cara menjalankan ajaran agama secara bijak, damai, dan tidak merugikan orang lain. Pemahaman ini menjadi fondasi penting karena menentukan cara guru memilih materi, mengarahkan diskusi, memberi teladan, serta membangun suasana kelas yang aman bagi perbedaan. Kedua, nilai moderasi diintegrasikan secara eksplisit dalam perencanaan pembelajaran. Guru mengidentifikasi nilai gotong royong, saling menghormati, menghargai perbedaan, cinta damai, tidak berlebihan dalam bersikap, adil, terbuka, dan mau berdialog ketika ada perbedaan pendapat. Nilai-nilai tersebut dipilih dengan cara menelaah kompetensi dasar atau capaian pembelajaran yang berkaitan dengan akhlak, hubungan sosial, dan kehidupan bermasyarakat, kemudian dikaitkan dengan pengalaman konkret siswa. Dalam modul ajar, nilai moderasi dimasukkan ke tujuan pembelajaran, studi kasus, kerja kelompok, diskusi, proyek, presentasi, portofolio, serta refleksi akhir pembelajaran. Dokumentasi modul ajar menunjukkan penggunaan Project Based Learning (PjBL), Problem Based Learning (PBL), pembelajaran berdiferensiasi, Social Emotional Learning, dan small group discussion sebagai ruang untuk melatih siswa berinteraksi dengan perbedaan. Ketiga, pelaksanaan pembelajaran menunjukkan bahwa deep learning dipahami sebagai pendekatan belajar mendalam yang menuntut siswa memahami makna, menganalisis masalah, menghubungkan materi dengan kehidupan, dan merefleksikan sikap. Guru tidak hanya menggunakan ceramah, tetapi menghadirkan diskusi, video, cerita, contoh kasus, debat aktif, proyek kecil, dan tanya jawab terbuka. Siswa diberi kesempatan mencari sumber, mengemukakan alasan, menilai beberapa perspektif, dan menyusun solusi. Beberapa siswa menyatakan pembelajaran terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, tidak cepat membosankan, dan membantu mereka memahami alasan di balik ajaran agama, bukan sekadar menghafal. Keempat, integrasi moderasi beragama tampak kuat ketika guru menghadirkan perbedaan nyata ke dalam kelas. Dalam praktik debat aktif, guru memfasilitasi pembahasan perbedaan praktik keagamaan seperti qunut dan tidak qunut dengan meminta siswa menelusuri sumber masing-masing. Guru menegaskan bahwa perbedaan dalam satu agama tidak boleh menjadi alasan saling merendahkan. Pada kasus perbedaan bacaan salat karena latar belakang organisasi keagamaan, guru memberi ruang kepada siswa untuk melafalkan bacaan yang biasa digunakan dalam keluarga atau komunitasnya. Hal ini penting karena toleransi tidak hanya diarahkan pada relasi Muslim dan non-Muslim, tetapi juga pada keragaman internal umat Islam seperti perbedaan NU, Muhammadiyah, LDII, dan kelompok keagamaan lain. Kelima, observasi pembelajaran memperlihatkan bahwa nilai toleransi dibiasakan melalui kerja kelompok heterogen, presentasi, musyawarah, dan pendampingan guru ketika muncul perbedaan pendapat. Guru sengaja membentuk kelompok yang beragam agar siswa belajar mendengarkan pendapat teman, tidak memaksakan kehendak, tidak memotong pembicaraan, serta memberi kritik dengan bahasa yang sopan. Ketika terjadi konflik kecil, guru menengahi dan mengarahkan penyelesaian melalui musyawarah. Siswa juga mengakui bahwa guru mengingatkan mereka untuk menghormati teman yang berbeda, termasuk ketika ada teman yang izin ibadah atau memiliki pandangan berbeda dalam diskusi. Keenam, dampak pembelajaran terlihat pada perubahan sikap siswa. Wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa mereka mulai memandang perbedaan pendapat sebagai sesuatu yang wajar. Mereka berusaha mendengarkan terlebih dahulu, menyampaikan ketidaksetujuan dengan baik, tidak mengejek, tidak marah, dan mencoba memahami alasan di balik pendapat orang lain. Sikap ini menunjukkan bahwa toleransi tidak berhenti pada pengetahuan tentang pentingnya menghargai perbedaan, tetapi bergerak ke ranah afektif dan perilaku. Siswa belajar mengelola emosi, menjaga komunikasi, dan menempatkan perbedaan sebagai kesempatan memperluas pemahaman. Ketujuh, data lapangan menunjukkan adanya kolaborasi lintas agama yang konkret. Guru menyebutkan contoh siswa non-Muslim yang ikut membantu mengambil buku saat pembelajaran PAI, sementara siswa Muslim juga membantu ketika siswa non-Muslim mengalami kesulitan. Guru lain menyampaikan bahwa siswa Muslim dan non-Muslim dapat bekerja kelompok, bermain peran, serta mengikuti aktivitas kelas dengan tetap menjaga batas keyakinan. Bahkan ketika seorang siswa non-Muslim menolak menggambar kaligrafi karena alasan keyakinan, guru memahami penolakan itu sebagai tanda bahwa siswa telah mengetahui batas keyakinannya tanpa menimbulkan konflik. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa toleransi tidak berarti menyeragamkan keyakinan, tetapi mengakui hak setiap siswa untuk terlibat sekaligus menjaga batas agamanya. Kedelapan, dukungan sekolah memperkuat integrasi nilai moderasi beragama. Waka kurikulum menjelaskan bahwa sekolah memfasilitasi siswa Islam, Kristen, Katolik, dan Hindu untuk belajar sesuai agamanya. Program literasi keagamaan dilaksanakan setiap hari, sementara pada hari Jumat terdapat penguatan keagamaan dan karakter melalui shalat dhuha, tausiyah menjelang shalat Jumat, kegiatan keputrian, serta pembelajaran agama bagi siswa non-Muslim dengan pendampingan guru agama masing-masing. Siswa non-Muslim juga menyatakan bahwa mereka dilibatkan dalam kerja bakti, peringatan hari besar nasional, dan kegiatan sosial tanpa dibedakan latar belakang agama. Dengan demikian, pembelajaran PAI berbasis deep learning tidak berdiri sendiri, tetapi didukung oleh budaya sekolah yang memberi ruang pengakuan, perlindungan, dan partisipasi setara. Kesembilan, hasil penelitian juga menemukan beberapa tantangan. Guru menghadapi kesulitan mengaitkan nilai toleransi dengan materi PAI secara alami agar tidak terkesan dipaksakan. Pembelajaran deep learning menuntut dialog kritis, tetapi isu keagamaan kadang memunculkan sensitivitas atau kebebasan berpendapat yang perlu diarahkan agar tidak melukai teman lain. Tantangan lain adalah keterbatasan waktu karena diskusi, eksplorasi, dan refleksi membutuhkan durasi yang cukup, sedangkan guru tetap harus mengejar target kurikulum. Selain itu, terdapat kendala teknis berupa penguasaan teknologi yang belum merata pada guru, LCD yang belum permanen di beberapa kelas, perbedaan kemampuan siswa, serta kebutuhan memahami karakter siswa dalam kelas besar. Untuk mengatasi hal tersebut, guru menyisipkan nilai toleransi secara konsisten pada berbagai materi relevan, merancang skenario PBL/PjBL yang dekat dengan kehidupan siswa, dan memperkuat kolaborasi dengan guru lain. Tabel 1. Temuan Integrasi Moderasi Beragama dalam Pembelajaran PAI Berbasis Deep Learning Sumber data Bukti inti Makna temuan Wawancara guru PAI dan waka kurikulum Moderasi dipahami sebagai sikap seimbang, tidak ekstrem, menghargai perbedaan, cinta damai, adil, dan terbuka; relevan untuk siswa SMK yang akan masuk dunia kerja majemuk. Moderasi menjadi fondasi karakter, bukan sekadar materi kognitif. Dokumentasi modul ajar Nilai moderasi dimasukkan ke tujuan pembelajaran, diskusi, studi kasus, proyek, portofolio, refleksi, PBL/PjBL, pembelajaran berdiferensiasi, SEL, dan small group discussion. Integrasi nilai dirancang dalam perangkat pembelajaran, bukan muncul secara kebetulan. Observasi pembelajaran Siswa belajar dalam kelompok heterogen, presentasi, debat aktif, pencarian sumber, serta mendapat pendampingan guru agar perbedaan pendapat tidak berubah menjadi perselisihan. Deep learning menjadi ruang latihan toleransi, musyawarah, dan argumentasi santun. Wawancara siswa Muslim Siswa menyatakan belajar mendengarkan, tidak memotong pembicaraan, tidak mengejek, tidak memaksakan kehendak, dan menyelesaikan konflik kecil melalui musyawarah. Toleransi tampak pada perilaku komunikasi dan kontrol diri dalam kelas. Wawancara siswa non-Muslim dan dokumentasi sekolah Siswa non-Muslim merasa dilibatkan dalam kegiatan sekolah, difasilitasi pembelajaran agama, diberi pilihan saat pembelajaran PAI, dan dihargai ketika menjaga batas keyakinan. Budaya sekolah memperkuat rasa diterima, aman, dan setara. Temuan tantangan Guru menghadapi keterbatasan waktu, sensitivitas isu agama, kebutuhan skenario yang matang, kelas besar, sarana digital belum merata, dan kebutuhan peningkatan kompetensi teknologi. Efektivitas model membutuhkan perencanaan berkelanjutan dan dukungan institusional. DISKUSI DAN PEMBAHASAN Temuan penelitian memperlihatkan bahwa keberhasilan integrasi moderasi beragama dalam pembelajaran PAI berbasis deep learning terletak pada kesinambungan antara pemahaman guru, desain pembelajaran, pengalaman belajar siswa, asesmen, dan budaya sekolah. Moderasi tidak hanya diposisikan sebagai tema yang diajarkan, tetapi sebagai nilai yang dihidupkan dalam cara guru mengelola kelas, memberi contoh, memilih kasus, memfasilitasi dialog, dan merespons perbedaan. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperluas pandangan bahwa pendidikan moderasi beragama dalam PAI tidak cukup dilakukan melalui penjelasan normatif, tetapi perlu diwujudkan dalam praktik pedagogis yang memberi pengalaman langsung kepada siswa untuk berjumpa, berdialog, berbeda, dan bekerja sama. Secara konseptual, temuan tersebut sejalan dengan gagasan bahwa moderasi beragama menekankan keseimbangan, keadilan, penghormatan terhadap perbedaan, dan penolakan terhadap ekstremisme (Bahri, R., Rofiqi, R., 2025); (Chotimah, C., Qudsy, S. Z., & Yusuf, 2025). Namun, data lapangan menambahkan penekanan penting: moderasi beragama di SMKN 5 Jember tidak hanya muncul dalam relasi antaragama, tetapi juga dalam relasi intraagama. Praktik guru ketika memediasi perbedaan qunut dan tidak qunut, memberi ruang pada variasi bacaan salat, serta menghindari marginalisasi siswa dari organisasi keagamaan tertentu menunjukkan bahwa toleransi perlu dibangun dari perbedaan paling dekat dengan kehidupan siswa. Penguatan ini membuat artikel menjadi lebih tajam karena moderasi tidak dipahami secara abstrak, melainkan sebagai kemampuan mengelola keragaman nyata di kelas. Pendekatan deep learning berperan sebagai jembatan antara pengetahuan agama dan pembentukan sikap. Dalam pembelajaran yang berorientasi surface learning, siswa cenderung hanya menghafal dalil, definisi, atau aturan; sedangkan dalam deep learning, siswa diajak memahami alasan, konteks, makna, dan konsekuensi sosial dari ajaran agama. PBL, PjBL, diskusi kasus, debat aktif, pencarian sumber, presentasi, dan refleksi mendorong siswa menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk menilai masalah sosial-keagamaan secara lebih adil. Hal ini mendukung pandangan bahwa pembelajaran PAI perlu bergerak dari transfer pengetahuan ke internalisasi nilai yang reflektif dan aplikatif (Mukhibat et al., 2024); (Nurseha, 2025); (Mundofi, 2025); (Fajar et al., 2024). Dari sudut pedagogis, pola yang ditemukan dapat dirumuskan sebagai model empat lapis. Lapis pertama adalah perencanaan nilai, yaitu integrasi moderasi ke dalam tujuan, materi, aktivitas, dan asesmen. Lapis kedua adalah pengalaman belajar, yaitu aktivitas kolaboratif dan kontekstual yang mempertemukan siswa dengan perbedaan pendapat. Lapis ketiga adalah refleksi dan asesmen, yaitu penilaian proyek, portofolio, presentasi, observasi sikap, kedisiplinan, kebersihan, dan cara siswa berkomunikasi. Lapis keempat adalah budaya sekolah, yaitu pembiasaan literasi keagamaan, fasilitasi ibadah, kegiatan sosial lintas siswa, dan pengakuan terhadap kebutuhan rohani masing-masing agama. Keempat lapis ini saling menguatkan sehingga moderasi beragama tidak berhenti di ruang kelas, tetapi menjadi bagian dari ekosistem sekolah. Temuan tentang siswa non-Muslim memperkaya pembahasan karena menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar kesediaan hadir bersama, tetapi juga rasa aman untuk diakui sebagai subjek yang memiliki batas keyakinan. Pilihan bagi siswa Hindu untuk tetap berada di kelas atau ke perpustakaan saat pembelajaran PAI, permintaan maaf guru ketika membahas tema ketuhanan, serta fasilitasi pembelajaran agama Kristen, Katolik, dan Hindu menunjukkan adanya pedagogi penghormatan. Di sisi lain, keterlibatan siswa non-Muslim dalam kerja kelompok, bermain peran, kerja bakti, dan kegiatan sekolah menunjukkan bahwa batas keyakinan tidak menghalangi partisipasi sosial. Inilah inti toleransi yang matang: siswa dapat bekerja sama tanpa harus kehilangan identitasnya. Perubahan sikap siswa dapat dibaca dalam tiga dimensi. Pada dimensi kognitif, siswa memahami bahwa keyakinan tidak perlu dipaksakan kepada orang lain dan perbedaan memiliki alasan yang perlu didengar. Pada dimensi afektif, siswa menunjukkan empati, kesediaan memahami sudut pandang teman, serta kemampuan menahan diri agar tidak mengejek atau marah. Pada dimensi perilaku, siswa tampak lebih mampu bekerja sama dalam kelompok heterogen, membantu teman lintas agama, menyampaikan kritik secara sopan, dan menyelesaikan konflik kecil melalui musyawarah. Tiga dimensi ini menunjukkan bahwa pembelajaran PAI berbasis deep learning memberikan kontribusi pada pembentukan toleransi sebagai pengetahuan, sikap batin, dan tindakan sosial. Konteks SMK membuat temuan ini semakin relevan. Siswa SMK dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja yang plural, sehingga kompetensi toleransi, komunikasi, kerja sama, pengelolaan konflik, dan penghargaan terhadap perbedaan menjadi bagian dari kesiapan vokasional. Waka kurikulum menegaskan bahwa pemahaman agama yang kaku dapat menjadi hambatan ketika siswa masuk ke lingkungan industri yang majemuk. Karena itu, pembelajaran PAI yang memadukan moderasi beragama dan deep learning tidak hanya mendukung profil Pelajar Pancasila, tetapi juga memperkuat soft skills yang dibutuhkan dalam dunia kerja, seperti kolaborasi, empati, tanggung jawab, dan etika sosial (Drajat Tri Kartono, Bagong Suyanto, Rahma Sugihartati et al., 2025); (Hatamudin, Zamrud, Dewi Purnama Sari, Rahmat Iswanto, 2025). Meskipun demikian, temuan ini perlu dibaca secara proporsional. Karena penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, efektivitas yang dimaksud bukan hubungan sebab-akibat yang diukur secara statistik, melainkan kecenderungan perubahan yang tampak melalui pola wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data menunjukkan bahwa siswa semakin terbuka, mampu berdialog, dan menghargai perbedaan, tetapi pembentukan toleransi tetap membutuhkan proses panjang, konsistensi guru, dan dukungan budaya sekolah. Tantangan keterbatasan waktu, sensitivitas isu agama, perbedaan kemampuan siswa, kelas besar, dan kompetensi digital guru menunjukkan bahwa integrasi moderasi beragama tidak dapat hanya bertumpu pada inisiatif individual guru. Dengan demikian, kontribusi utama penelitian ini adalah menawarkan model praktik integratif yang dapat direplikasi secara adaptif di sekolah menengah kejuruan: nilai moderasi dirancang dalam modul ajar, diaktifkan melalui deep learning, diperkuat dengan asesmen sikap dan proyek, serta disokong oleh budaya sekolah inklusif. Model ini menutup celah penelitian sebelumnya yang banyak membahas moderasi beragama pada level konsep atau kurikulum, tetapi belum cukup menampilkan mekanisme kelas dan bukti lapangan mengenai bagaimana toleransi tumbuh melalui pengalaman belajar sehari-hari (Ahmad Izzuddin Faqih, Abd Muhith, 2026); (Maftuhah, 2025); (Fasyiransyah et al., 2025). KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa integrasi nilai moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) berbasis Deep Learning di SMKN 5 Jember berlangsung secara sistemik, terencana, dan terinternalisasi melalui berbagai dimensi pembelajaran. Proses integrasi tidak hanya berhenti pada aspek perencanaan kurikuler, tetapi juga diwujudkan dalam praktik pedagogis yang hidup melalui aktivitas pembelajaran yang dialogis, kolaboratif, reflektif, dan kontekstual. Guru PAI memaknai moderasi beragama sebagai sikap keberagamaan yang seimbang, tidak ekstrem, menjunjung keadilan, serta menghargai keberagaman keyakinan dan pandangan. Pemaknaan ini menjadi dasar dalam merancang pembelajaran yang mengintegrasikan nilai toleransi ke dalam tujuan pembelajaran, aktivitas kelas, hingga asesmen berbasis proyek dan sikap. Implementasi pembelajaran berbasis Deep Learning seperti PBL, PjBL, diskusi kelompok heterogen, studi kasus, dan refleksi kritis terbukti mampu menciptakan ruang belajar yang mendorong siswa untuk berpikir tingkat tinggi sekaligus menginternalisasi nilai-nilai sosial-keagamaan secara lebih mendalam. Hasil triangulasi data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya berdampak pada peningkatan pemahaman kognitif siswa, tetapi juga membentuk sikap afektif berupa empati, keterbukaan, dan pengendalian diri, serta perilaku sosial berupa kemampuan bekerja sama, bermusyawarah, dan menghargai perbedaan. Interaksi siswa Muslim dan non-Muslim dalam lingkungan sekolah memperlihatkan adanya praktik nyata toleransi yang tumbuh secara alami dalam aktivitas pembelajaran maupun budaya sekolah yang inklusif. Dengan demikian, integrasi moderasi beragama dan Deep Learning tidak hanya berfungsi sebagai pendekatan pembelajaran, tetapi juga sebagai model pedagogis yang efektif dalam membentuk karakter toleran dan memperkuat kesiapan sosial siswa di lingkungan masyarakat multikultural. Meskipun demikian, implementasinya masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan waktu, sensitivitas isu keagamaan, serta kesiapan teknologis guru, sehingga diperlukan penguatan berkelanjutan agar model ini dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan. Berdasarkan temuan penelitian, implementasi pembelajaran PAI berbasis Deep Learning yang terintegrasi dengan nilai moderasi beragama perlu terus dikembangkan sebagai pendekatan pedagogis yang adaptif terhadap kebutuhan pendidikan abad ke-21. Guru diharapkan tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator nilai yang mampu menciptakan ruang dialog kritis, reflektif, dan inklusif dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan profesional yang berfokus pada pengelolaan pembelajaran berbasis Deep Learning dan penguatan moderasi beragama menjadi kebutuhan yang mendesak. Di sisi lain, institusi pendidikan perlu memperkuat dukungan struktural melalui pengembangan perangkat pembelajaran yang lebih sistematis, pengayaan model asesmen berbasis karakter, serta penyediaan sarana pembelajaran yang mendukung integrasi teknologi. Budaya sekolah yang inklusif juga perlu terus diperkuat sebagai ekosistem pembentuk karakter, sehingga nilai toleransi tidak hanya menjadi bagian dari proses pembelajaran di kelas, tetapi juga terinternalisasi dalam seluruh aktivitas sekolah. Selain itu, penelitian ini membuka ruang bagi studi lanjutan yang lebih luas, khususnya penelitian kuantitatif atau mixed methods untuk mengukur secara lebih terukur pengaruh integrasi Deep Learning dan moderasi beragama terhadap peningkatan sikap toleransi siswa. Dengan demikian, model yang dihasilkan tidak hanya memiliki kekuatan deskriptif-kualitatif, tetapi juga dapat diuji secara lebih general pada konteks pendidikan yang lebih luas. REFERENSI Ahmad Izzuddin Faqih, Abd Muhith, M. (2026). Teachers' Strategies in Promoting Religious Moderation in Islamic Primary Education: A Case Study at MI Nurul Huda Bondowoso. ATTADIB, 10(1), 65-81. https://doi.org/https://doi.org/10.32832/at-tadib.v10i1.22546 Akib, A. R. M. (2025). Implementation of Deep Learning in Islamic Religious Education (PAI) Learning in Madrasah. Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS)., 1(2). https://doi.org/https://doi.org/10.62567/ijis.v1i2.909 Bahri, R., Rofiqi, R., & K. (2025). Religious moderation education: a comparative study of Islamic approaches in Indonesia and Malaysia. International Studies in Education. https://doi.org/https://doi.org/10.1080/19422539.2025.2519727 Chotimah, C., Qudsy, S. Z., & Yusuf, M. (2025). Superficial implementation of religious moderation in Islamic educational management. Cogent Education, 12(1). Creswell, J. W. (2019). Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. In Sustainability (Switzerland) (FOURTH EDI, Vol. 11, Issue 1). Pearson. Drajat Tri Kartono, Bagong Suyanto, Rahma Sugihartati, M. T. Y., Mun'im Sirry, Theofilus Apolinaris Suryadinata, B. J. P. & L., & Andriani. (2025). Tolerance of high school students in an urbantransition city: a study in Batu City. Cogent Education, 12(1), 1-16. Fajar, M., Ilyas, M., & al-Ghafir, A. A. S. (2024). Madzhab Fiqih Di Indonesia: Konstruksi Moderasi Beragama Dalam Perbedaan Pendapat Dan Aliran. In MAJEMUK Jurnal Pendidikan Agama Islam (Vol. 1, Issue 2, pp. 98-113). Fasyiransyah, Warsah, I., & Istan, M. (2025). Islamic Religious Education Learning Approach Based on Religious Moderation. Al-Hayat: Journal of Islamic Education. https://doi.org/DOI: https://doi.org/10.35723/ajie.v9i1.45 Hatamudin, Zamrud, Dewi Purnama Sari, Rahmat Iswanto, D. W. (2025). Implementation of Religious Moderation Values in Islamic Religious Education Learning and Its Implications for the Behavior of Grade XI Students at SMA Negeri 1 Muara Enim. Journal of Religious Education., 7(2), 628-640. https://doi.org/https://doi.org/10.25217/jrie.v7i2.6400 Maftuhah, L. R. (2025). Implementation of Moderate Religious Values in Deep Learning Approaches in Islamic Religious Education Subjects at SMPN 1 Jumo, Temanggung Regency. 2025 ANNUAL INTERNATIONAL INTERDISCIPLINARY CONFERENCE AND RESEARCH EXPO (AIICARE), 2(1), 24-38. Miles, M. B., A. M. Huberman, dan J. S. (2020). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook, 4th ed. SAGE Publications. Mukhibat, M., Effendi, M., Setyawan, W. H., & Sutoyo, M. (2024). Development and evaluation of religious moderation education curriculum at higher education in Indonesia. Cogent Education, 11(1). https://doi.org/10.1080/2331186X.2024.2302308 Mukhibat, M., Nurhidayati Istiqomah, A., & Hidayah, N. (2023). Pendidikan Moderasi Beragama di Indonesia (Wacana dan Kebijakan). Southeast Asian Journal of Islamic Education Management, 4(1), 73-88. https://doi.org/10.21154/sajiem.v4i1.133 Mundofi, A. A. (2025). Integration of Deep Learning Approach in Transforming Islamic Religious Education Learning in Schools: A Pedagogical and Technological Study. JoAPE: Journal of Asian Primary Education, 2(1), 79-90. https://doi.org/https://doi.org/10.59966/joape.v2i1.1787 Nurseha, I. (2025). The Integration of Deep Learning and Holistic Approaches in Moderate Islamic Religious Education amidst Digital Era. JEIM: Journal of Education and Islamic Moderation, 1(1). https://doi.org/https://doi.org/10.33754/jeim.v1i01.1643 Ritonga, A. A., & Nurmawati. (2025). Analysis of the Representation of Religious Moderation Values in Senior High School Islamic Religious Education Textbooks under the Merdeka Curriculum: A Qualitative Study Using Content Analysis. JURNAL PENDIDIKAN ISLAM, 14(1). https://doi.org/https://doi.org/10.14421/jpi.2025.141.105- 117 Ashlach : Journal of Islamic Education Alfiya, Sandri & Nisa ¦ Integrasi Pendidikan Islam Berbasis Aswaja... Ashlach : Journal of Islamic Education Muhammad Ilyas dkk¦Integrasi Nilai Moderasi Beragama Dalam Pembelajaran Pai Berbasis Deep Learning Untuk Menumbuhkan Toleransi 2| | 92 Journal of Islamic Education e-ISSN/p- ISSN : 2988-1285/2988-1277 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/ashlach Copyright (c) 2026 The Author(s) | Published by: Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan.