Implementasi Pendidikan Karakter Pada Anak Di Taman Pendidikan Al-Qur'an Alif Achadah *1 Nur Afni Mukholifah2 Universitas Islam Raden Rahmat Malang ,? INDONESIA Universitas Islam Raden Rahmat Malang ,? INDONESIA Korespondensi : achadahalif@gmail.com Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submit: Mei 31, 2023 Review: April 11, 2023 Publish: Oktober 09, 2023 Taman Pendidikan Al-Qur'an atau TPQ merupakan lembaga nonformal yang menyelenggarakan pendidikan Al-Qur'an dan bidang keagamaan. TPQ dapat menjadi sarana pendidikan karakter bagi anak agar berakhlak mulia. Dilihat dari banyaknya pengaruh dalam lingkungan keluarga, masyarakat, maupun teman sebaya terhadap karakter seorang anak seperti berperilaku kasar, tidak sopan dan tidak hormat kepada orang yang lebih tua, maka tindakan tersebut bukanlah tindakan yang patut dicontoh. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui bagaimana upaya guru TPQ, konsep guru TPQ, faktor pendukung dan penghambat dalam melaksanakan pendidikan karakter anak di TPQ Thoriqul Huda. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Dalam pengumpulan data, instrumen penelitian yang digunakan meliputi: wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep guru TPQ dalam melaksanakan pendidikan karakter anak seperti kurikulum dan program unggulan tahfid. Upaya guru TPQ sesuai dengan kurikulum TPQ, memberikan nasihat dan keteladanan. Faktor pendukung, orang tua dan masyarakat memberikan berbagai dukungan ketika TPQ Thoriqul Huda berdiri. Faktor penghambatnya adalah minimnya sarana dan tenaga pengajar. Kata Kunci : Karakter Anak; Pendidikan Al Qur'an; Pendidikan Karakter; PENDAHULUAN Pada zaman yang sekarang ini, kerap terjadi di lingkungan keluarga seorang anak berperilaku kasar, bertutur kata tidak sopan, dan belum bisa menghormati orang tua. Hal ini bukan murni dari kesalahan anak saja, namun dari perlakuan yang diterimanya maupun perlakuan masyarakat yang dapat dijadikan contoh. Anak dapat meniru secara langsung dari yang dilihat dan didengar. Selain itu, teman sebaya juga dapat memberikan pengaruh terhadap kebiasaan yang dilakukan pada kehidupan sehari-hari. Perilaku dan kebiasaan yang mempengaruhinya tersebut dapat menjadi pembentukan karakter anak. Dalam masyarakat Indonesia banyak anak remaja muslim yang masih kurang pemahaman tentang ilmu agama. Banyak faktor dalam hal ini seperti orang tua yang menyekolahkan anak di lembaga formal dengan harapan menjadi anak yang sukses akan tetapi mereka lupa dengan pengetahuan agamanya. Remaja zaman sekarang banyak sekali yang tidak mencerminkan nilai moral dan akhlak sebagai seorang muslim. Dapat di lihat dari lingkungan masyarakayt moral remaja saat ini semakin banyakna yang merosot, minimnya pengetahuan agama. Problematika yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah degradasi moral dan kurangnya akhlak atau degradasi moral pada remaja. Berbagai tindakan kriminal sering dijumpai dalam berbagai media massa seperti tayangan televisi, koran, atau surat kabar lainnya. Kasus tindak pidana korupsi, kolusi dan nepotisme marak terjadi, mulai dari bidang baik pemerintahan maupun swasta. Bahkan dalam bidang pendidikan, seperti mencontek pada waktu ujian dan melakukan plagiarisme merupakan bentuk praktik-praktik kebohongan yang terjadi di dunia pendidikan. Permasalahan yang muncul ini tidak terlepas dari karakter anak bangsa yang mulai mengalami penurunan Pada dasarnya setiap orang menginginkan anak yang berperilaku yang baik. Seorang anak adalah amanat dari Allah Swt yang di perintahkan kepada semua orang tuanya untuk di didik dan di rawat dengan baik. Pada era zaman sekarang ini, karakter peserta didik di Indonesia perlahan mulai menurun, Hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor yaitu berasal dari faktor keluarga, sekolah, lingkungan maupun dari diri sendiri. Akan tetapi ada kenyataan saat ini tidak semua anak tidak dapat melewati proses perkembangan dengan baik dan ada beberapa faktor dari keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat yang memperngaruhi perilaku dalam hidupnya. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh budaya luar yang kemudian di adopsi oleh masyarakat Indonesia tanpa adanya reduksi yang baik, sehingga budaya bernilai buruk berubah menjadi budaya rutinitas yang kemudian di anggap sebagai budaya trend, oleh kalangan milenial saat ini. Hal inilah yang juga menjadi penyebab degradasi moral di kalangan geberasi muda milenial bangsa ini. Realita yang ada saat ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter sangat perlu diterapkan. Agar terbentuk karakter yang benar, harus melalui proses pembinaan, sebab tanpa pembinaan karakter ibarat berjalan dalam gelap tanpa cahaya. Pendidikan karakter esensinya adalah sebuah upaya membangun kecerdasan manusia, baik kecerdasan kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan). Oleh sebab itu, Pendidikan karakter harus digaungkan secara terus-menerus supaya menghasilkan generasi yang cerdas, unggul dan memiliki karakter yang tangguh. Hal ini sejalan dengan filosofi Pancasila yang menginginkan manusia Indonesia yang ideal, menghargai nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Pembentukan karakter dan moral yang baik menjadi fokus penting dalam perkembangan anak. Semakin dini anak dikenalkan dengan nilai-nilai karakter yang baik, anak akan terbiasa melakukan hingga nanti dewasa. Karakter merupakan hal yang harus dibentuk sejak awal karena saat ini karakter anak-anak bangsa sudah mulai berubah dan cenderung merosot (Puspitaningrum, 2022) Oleh karena itu dalam konteks ini peran keluarga sangat penting untuk mendukung pendidikan peserta didik agar terciptanya karakter dan akhlaq yang lebih baik. Sekolah juga merupakan faktor penting yang tidak lepas dari pembentukan karakter, karena di sekolah pada hakikatnya mengajarkan, membimbing serta mengawasi dan menciptakan peserta didik menjadi seseorang yang berkarakter mandiri,beriman, serta dapat bertatakrama yang baik dan ber etika. Karena di suatu sekolah juga mempunyai tahap-tahap nya seperti bertahap,bertingkat berlanjut sehingga peserta didik kelak dapat menjadi orang yang bereguna bagi agama,bangsa dan negara serta dapat meraih cita-cita yang di inginkan. Selain itu lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter maupun akhlaq peserta didik. Seperti contoh jika suatu keluarga berada di lingkungan tidak baik otomatis keluarga tersebut dapat terpengaruh oleh linkungan yang berada di sekitarnya seperti contoh lingkungan yang banyak kenakalan remaja,narkoba maupun tindak kriminal. Jadi, di harapkan untuk keluarga dapat berperan aktif dalam membina maupun mendidik anaknya agar dapat berakakter yang baik dan bisa menerapkanya. Pendidikan karakter merupakan sebuah istilah semakin hari semakin nampak di masyarakat Indonesia, terlebih di rasakanya berbagai ketimpangan hasil pendidikan yaitu di lihay dari perilaku lulusan pendidikan formal saat ini. Semisal korupsi, seks bebas, narkoba, pembunuhan maupun yang lainya (Triatna Kesuma dan Purnama, 2013). Pendidikan karakter menjadi salah satu fokus utama dalam dunia pendidikan saat ini mengingat meningkatnya berbagai permasalahan sosial yang melanda generasi muda. Fenomena degradasi moral, meningkatnya perilaku individualisme, dan lunturnya nilai-nilai budaya lokal akibat arus globalisasi menjadi perhatian serius bagi dunia Pendidikan (Rika Devianti, 2020). Dalam konteks pendidikan Islam, peran pendidikan karakter semakin krusial. Pendidikan tidak hanya diarahkan untuk membentuk anak-anak yang cerdas secara akademik tetapi juga insan yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur'an dan Sunnah (Dirsa & Kusumawati, 2019). Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) hadir sebagai salah satu lembaga nonformal yang memiliki tanggung jawab besar dalam membangun karakter anak melalui pembelajaran agama. Sebagai tempat pendidikan agama di luar sekolah formal, TPA memegang peranan strategis dalam membentuk fondasi kepribadian anak sejak dini. Namun, beberapa studi menunjukkan bahwa masih banyak TPA yang menghadapi kendala dalam mengintegrasikan pendidikan karakter secara efektif ke dalam kegiatan pembelajaran Al-Qur'an (Ibrahim et al., 2023). Taman pendidikan Qur'an (TPQ) merupakan pendidikan nonformal yang menjadikan materi utamanya adalah Al-qur'an akan tetapi juga mengajarkan yang berkaitan dengan moral dan penanaman akhlaq. Menurut Maskuri (Maskuri Bakri, 2013) pentingnya mendudukkan ilmu dalam prosespembelajaran di pendidikan. TPQ mempunyai peran dalam membentuk anak mempunyai sifat religius. Adanya TPQ anak di didik untuk mendalami tentang agama dan pembacaan Al-qur'an. Oleh karena itu hal ini perlu di terapkan sejak dini agar menjadikan anak pandai dalam ilmu agama tidak hanya pengetahuan ilmu formal saja Pendidikan agama di mulai sejak dini akan berpengaruh pada anak akan menjadikan anak menjadi pribadi yang lebih baik, beragama serta berakhlaq mulia Muhammad Fahrurrozi menjelaskan bahwa, Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) sebagai suatu lembaga yang dijalankan oleh beberapa orang atau kelompok masyarakat pada pendidikan nonformal dengan berbasis keagamaan Islam yang bertujuan untuk mengajarkan membaca dan memahami nilai-nilai yang terkandung didalam Al-Qur'an (Rosiful Aqli, 2016). TPQ Thoriqul Huda sebagai lembaga non formal memberikan pengajaran dalam aspek keagamaan islam pada anak yang dimana adanya pengaruh dari lingkungan dan teman sebayanya serta kurangnya pendidikan dari orang tua karena sebagai orang awam yang kurang akan pendidikan agama Islam, serta mayoritas orang tua yang bekerja sebagai petani. Dalam implementasi belajar al qur'an dalam lembaga TPQ, dapat diidentifikasi bahwa hal tersebut sudah termasuk dalam penerapan 9 pilar pendidikan karakter, adapun yang termausk dalam hal tersebut adalah mencintai Sang Pencipta, sopan santun, menghargai dan menghormati orang lain. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya seorang anak belajar di TPQ maka dia belajar untuk semakin beriman dan mencintai Sang Pencipta dan saling mencintai sesama. Hal lain yang digambarkan adalah perilaku sopan yang bisa terbentuk dengan membaca al qur'an. Sehingga penerapan pendidikan karakter sejajar dengan penerapan pembelajaran bidang PAI dalam lembaga pendidikan formal yang memuat aspek tanggung jawab, berjiwa pemimpin, sopan santun, toleransi dan menghargai sesama (Laksana, 2021; Subianto, 2013). Beberapa penelitian terdahulu yang relevan menunjukkan pentingnya implementasi pendidikan karakter di lembaga nonformal. Penelitian oleh Aisyah dkk (Ritonga et al., 2025) berjudul Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Al-Qur'an di TPA XYZ menyoroti pentingnya metode interaktif dalam mengajarkan nilai moral kepada anak-anak. Sementara itu, studi oleh Rahman (Amrillah et al., 2022) dalam Peran TPA dalam Membentuk Karakter Islami Anak Usia Dini menunjukkan bahwa kegiatan sosial di TPA efektif dalam membangun empati dan tanggung jawab sosial anak. Penelitian lain oleh Lestari dkk (Yuli Puji Lestari, 2018) berjudul "Tantangan Pendidikan Karakter di Lembaga Pendidikan Nonformal mengungkapkan kendala umum yang dihadapi TPA, seperti keterbatasan sumber daya dan kurangnya pelatihan pengajar. TPQ Thoriqul Huda juga sebagai lembaga pendidikan non formal yang menjadi tempat atau wadah dalam menumbuh kembangkan karakter anak yang seperti berkata tidak sopan, suka bertengkar sesama teman, berlaku tidak sopan kepada orang tua, bersikap kasar dan lain-lain melalui pengajaran pendidikan Al- Qur'an. TPQ Thoriqul Huda menjadi satu-satunya TPQ yang berada di Desa Lowok Permanu, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Sehingga dalam penerapannya, TPQ Thoriqul Huda benar-benar ingin mengenalkan ajaran agama Islam dan berlomba-lomba dalam mewujudkan serta membentuk karakter anak yang berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama Islam dengan berupaya memberikan pendidikan melalui kegiatan keagamaan, mengaji bersama, memberikan suri tauladan yang baik, mengarahkan terhadap perilaku, tindakan ataupun perkataan yang baik, dan memberikan dorongan untuk santri-santri semangat dalam belajar. Namun, memang upaya guru TPQ masih memiliki suatu masalah atau faktor penghambat pada fasilitas, dimana gedung TPQ yang masih dikatakan merintis atau baru dan kurangnya tenaga pendidik, sehingga masalah tersebut perlu segera diatasi demi kelancaran proses belajar mengajar. KAJIAN TEORI Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah suatu proses pendidikan dan pengembangan diri yang bertujuan untuk membentuk kepribadian seseorang agar sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai Islam. Ini melibatkan upaya untuk memperkuat iman, mengamalkan akhlak mulia, serta menanamkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Pembentukan karakter Islami meliputi pengenalan terhadap ajaran agama, pembiasaan terhadap amal ibadah, penguatan nilai-nilai moral, dan pembentukan sikap yang mencerminkan kepribadian yang mulia sesuai dengan ajaran Islam (Endah Sulistyowati, 2012) . Tujuan utamanya adalah untuk menghasilkan individu Muslim yang taat beragama, berakhlak mulia, dan memberikan kontribusi positif bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan umat Islam secara luas. Dalam pembentukan karakter islami tentunya membutuhkan perantara agar pendidikan tersebut dapat terlaksan, maka dari itu guru memiliki peranan yang signifikan dalam pembentukan karakter siswa di lingkungan sekolah (Sukiman, 2016). Guru memiliki kendali penuh dalam membimbing, mengajar, dan membentuk kepribadian siswa sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai Islam. Guru juga memegang peran yang sangat penting dalam membentuk karakter Islami siswa, karena mereka memiliki tanggung jawab dalam mendidik, membimbing, dan memberikan teladan yang baik sesuai dengan ajaran Islam (Firdaus et al., 2023). Aspek Pembentukan karakter Anak Tokoh masyarakat seperti pemimpin lokal, ulama, dan figur publik lainnya dapat berperan sebagai teladan dengan menunjukkan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai karakter positif seperti kejujuran, tanggung jawab, dan empati (Jalil, 2016). Masyarakat dapat secara bersama-sama membangun lingkungan yang mendukung pembentukan karakter positif, sehingga setiap anggota masyarakat, terutama generasi muda, dapat berkembang menjadi individu yang berakhlak mulia dan bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya (Nugraha & Rahman, 2017). Proses pembentukan karakter Islami dapat melibatkan beberapa aspek, termasuk: 1. Pengetahuan dan Pemahaman Agama. Pembentukan karakter Islami melalui pengetahuan dan pemahaman agama merupakan suatu proses yang melibatkan pemahaman mendalam terhadap ajaran-ajaran Islam serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan karakter Islami melalui pengetahuan dan pemahaman agama melibatkan pemahaman yang mendalam terhadap prinsip-prinsip Islam dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Urgensi pembentukan karakter Islami melalui pengetahuan dan pemahaman agama juga berkaitan erat dengan tugas seorang Muslim dalam menyebarkan dakwah Islam. Dengan memiliki pemahaman yang baik tentang ajaran agama, seseorang dapat menjadi duta Islam yang baik dan memberikan contoh yang positif kepada orang lain tentang bagaimana menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran Islam (Hotimah & Hasyim, 2024; Sanika & Hidayah, 2018). 2. Akhlak dan Etika. Pembentukan karakter Islami melalui akhlak dan etika merupakan suatu proses yang memfokuskan pada pengembangan perilaku yang sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai Islam. Pembentukan karakter Islami melalui akhlak dan etika adalah proses yang menekankan pada pengembangan perilaku yang sejalan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai Islam. Pembentukan karakter Islami melalui akhlak dan etika juga mendukung terbentuknya masyarakat yang beradab, harmonis, dan sejahtera. Ketika individu memiliki akhlak yang baik, maka interaksi antarindividu akan lebih harmonis dan penuh dengan saling pengertian. Selain itu, akhlak yang baik juga memperkuat hubungan antara individu dengan Allah SWT, karena Allah SWT mencintai hamba-Nya yang memiliki akhlak yang mulia (Adibussholih, 2023; M. Yatimin Abdullah, 2007) 3. Ibadah dan kebaikan. Urgensi pembentukan karakter Islami melalui ibadah dan perbuatan baik adalah sangat penting dalam konteks kehidupan seorang Muslim. Ini karena ibadah dan perbuatan baik merupakan prinsip-prinsip utama dalam ajaran Islam yang memengaruhi perilaku dan moral seseorang. Melalui ibadah, seperti shalat, puasa, dan ibadah lainnya, serta perbuatan baik, seperti bersedekah, menolong sesama, dan berlaku adil, seseorang dapat memperkuat ikatan spiritual dengan Allah SWT dan memperkuat nilai-nilai moral yang diamanatkan dalam Islam. Urgensi ini juga terletak pada kontribusi yang signifikan dari karakter Islami dalam membentuk masyarakat yang beradab, penuh kasih sayang, dan berkeadilan. Dengan demikian, pembentukan karakter Islami melalui ibadah dan kebaikan menjadi esensial dalam memperkuat fondasi spiritual dan moral individu Muslim serta membangun masyarakat yang harmonis dan berbudaya (Amelya Ayu Syaputri et al., 2023; M. Yatimin Abdullah, 2007; Masnawati & Fitria, 2024). 4. Komitmen terhadap Kebenaran. Dengan memiliki komitmen yang kuat terhadap kebenaran, seorang Muslim akan mampu menjalani hidupnya dengan integritas dan kejujuran yang tinggi, serta mampu bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika Islam. Hal ini sangat penting dalam menjaga martabat dan kehormatan seorang Muslim, serta membangun kepercayaan dan rasa hormat dari orang lain. Selain itu, komitmen terhadap kebenaran juga membantu seorang Muslim untuk menjalani hidupnya dengan penuh keteguhan hati dan keberanian dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan. Dengan memiliki keyakinan yang teguh terhadap kebenaran, seseorang akan mampu melewati segala rintangan dan ujian hidup dengan penuh kepercayaan kepada Allah SW T. 5. Pembinaan Hubungan dengan Allah dan Sesama. Dengan memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah, doa, dan taqwa, seorang Muslim akan merasakan kedekatan spiritual yang mendalam dan bimbingan-Nya dalam menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan. Ini memberikan ketenangan batin, kepercayaan diri, dan kekuatan untuk menghadapi segala cobaan dan tantangan dengan penuh keyakinan. Selain itu, pembinaan hubungan yang baik dengan sesama manusia juga memiliki urgensi yang sama pentingnya dalam Islam. Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya kasih sayang, toleransi, dan keadilan dalam hubungan dengan sesama manusia. Dengan berinteraksi dan berhubungan dengan sesama manusia secara baik, seorang Muslim dapat memperkuat persaudaraan dalam Islam, memperluas jaringan sosial, dan menciptakan lingkungan yang harmonis dan berkah (Haerudin et al., 2020). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter Anak Pembentukan karakter islami merupakan sebauh proses yang sangat kompleksitas, karena dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal (Sanika & Hidayah, 2018; Sun'iyah, 2020). Pada umumnya dua faktor ini menjadi penentu keberhasilan dalam pembentukan karakter, secara internal kurangnya pendidikan dari orang tua sangat mempengaruhi seorang anak dalam bersikap dilingkungan sekitarnya, sehingga hal ini mengakibatkan kepribadian seorang anak menjadi terganggu, bahkan seorang anak akan cenderung menunjukkan eksistensi dengan berbagai cara yang negatif. Sedangkan faktor eksternal yang berasal dari lingkungan masyarakat perkotaan, yang tidak berkaitan langsung dengan berbagai masalah yang dialami siswa. Masyarakat berperan sebagai pendidikan lanjutan setelah sekolah, dan lingkungan masyarakat sering kali menjadi sumber pendidikan nonformal (Kurnia & Arifuddin, 2023). Dalam setiap proses yang dilakukan oleh guru, selalu ada faktor-faktor yang mempengaruhi, baik yang mendukung maupun yang menghambat pembentukan akhlak dan karakter Islami. Situasi ini sering dialami oleh para guru dalam menjalankan peran mereka. Meski begitu, terdapat juga beberapa hal yang mendukung dalam pendidikan karakter anak (Basri et al., 2023; Subianto, 2013). 1. Faktor Pendukung Tujuan utama dari seorang guru dalam mendidik muridnya adalah menciptakan generasi yang bermanfaat bagi bangsa dan agamanya. Tanggungjawab tersebut merupakan kewajiban yang mutlak dalam membentuk karakter peserta didik, sehingga guru akan secara maksimal mendidika muridnya di sekolah, tidak hanya pembelajaran umum melainkan pembelajaran yang berbobot agama menjadi perhatian khsusus agar tujuan pendidikan dapat terlaksana dengan baik. Adapun beberapa faktor yang seringkali mempengaruhi pembentukan karakter adalah peran orang tua, peran dari seorang guru, bahkan pengaruh lingkungan dan sosial media. a. Pendidikan Agama dari Keluarga. Orang tua menjadi pendidikan utama bagi anak-anaknya, hal ini dikarenakan mulaid ari bangun tidur hingga tidur kembali mereka lebih sering berinteraksi dengan orang tuanya. Kebiasaan yang dibentuk oleh orang tua terhadap anaknya tentu akan mempengaruhi kepribadian dan karakternya, orang tua yang baik tentunya akan memiliki sifat yang adil, lembut, dan penuh kasih sayang tanpa memilih kepada anak-anaknya. Dengan adanya pendidikan agama yang tepat dari orang tua, maka seorang anak akan dapat membentuk karakter yang baik didalam dirinya serta lingkungan disekitarnya. Peran ayah dan ibu sangat menentukan perkembangan anak, karena mereka bertanggung jawab atas seluruh keluarga. Orang tua menentukan arah keluarga dan nilai-nilai yang ditanamkan dalam keluarga, dengan menciptakan lingkungan rumah yang mendukung dengan menyediakan bacaan Islami, mendengarkan ceramah, dan musik religi, dan menggunakan komunikasi yang penuh kasih sayang dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Orang tua juga menanamkan kebiasaan yang diwarisi dari nenek moyang. b. Pendidikan Formal di Sekolah. Memilih sekolah yang menawarkan pendidikan Islami, baik secara akademis maupun moral, serta menerapkan kurikulum yang mengintegrasikan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam proses belajar mengajar. Ini adalah kewajiban dan tanggung jawab seorang guru. Guru bertanggung jawab untuk mengajar dan mendidik akhlak yang baik, sehingga siswa akan memiliki kepribadian yang baik saat mereka dewasa. Pendidikan formal di sekolah memainkan peran penting dalam pembentukan karakter Islami pada siswa. Melalui kurikulum, lingkungan pembelajaran, dan interaksi dengan guru dan staf sekolah, siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, yang membentuk dasar bagi karakter Islami yang kuat. c. Peran Lembaga Keagamaan. Lembaga keagamaan seperti masjid, majelis taklim, atau Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) memiliki peran penting dalam membentuk karakter Islami. Mereka menyediakan wadah untuk belajar, beribadah, dan memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam. Melalui kegiatan-kegiatan di lembaga keagamaan tersebut, anak-anak dapat belajar tentang nilai-nilai, praktik ibadah, dan etika yang diinginkan dalam Islam. Mereka juga bisa mendapatkan teladan dari para pengajar atau ulama yang terlibat dalam lembaga tersebut. d. Kelompok Sepermainan yang Baik dan pembiasaan sikap yang postitif. Pembentukan karakter Islami berkaitan erat dengan lingkungan sepermainan yang baik dan pembiasaan sikap yang positif. Lingkungan sepermainan yang baik, di mana anak-anak berinteraksi dengan teman-teman sebaya yang memiliki nilai-nilai yang sama, dapat memberikan kontribusi besar dalam pembentukan karakter Islami. Di lingkungan ini, anak-anak dapat belajar berbagi, bekerja sama, dan mempraktikkan nilai-nilai seperti kejujuran, tolong-menolong, dan penghargaan terhadap sesama. Pembiasaan sikap yang positif juga menjadi pondasi penting dalam pembentukan karakter Islami. Melalui pembiasaan sikap seperti kesabaran, kejujuran, kasih sayang, dan toleransi, anak-anak akan membentuk pola pikir dan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian, lingkungan sepermainan yang mempromosikan sikap-sikap positif tersebut akan menjadi wadah yang baik bagi anak-anak untuk menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. 2. Faktor Penghambat Perkembangan dunia teknologi informasi menjadi salah satu faktor terbesar dalam menghambat keberhasilan pembentukan karakter islami peserta didik, hal ini dikarenakan banyak ditemukan program tv yang tidak sesuai dengan usia anak, maraknya penggunaan gadget yang berlebihan melalui video game, maupun tontonan yang tidak seharusnya mereka lihat (Susena & Lestari, 2014; Zakariyah & Hamid, 2020). Hal ini juga berhubungan dengan pola asuh orang tua yang kurang baik dalam lingkungan keluarganya, karena terlalu membiarkan anak bermain dengan gadget dan yang lainnya, sehingga hal ini sangat mempengaruhi percepatan arus kedewasaan dan karakter yang ada didalamnya, sebagaimana yang diketahui bahwasanya saat ini kerapkali tontona yang muncul di sosial media lebih banyak konten yang bermuatan negatif, dibandingkan dengan konten yang positif. Sehingga hal ini memicu pembentukan karakter yang kurang baik bagi anak itu sendiri. a. Lingkungan keluarga yang tidak kondusif. Lingkungan keluarga merupakan faktor terpenting dalam membentuk karakter dan kepribadian seorang anak, lingkungan keluarga yang kurang baik akan menjadi penghambat utama dalam pembentukan karakter. Orang tua yang tidak kompeten dalam mendidik anak, tidak mencotohkan hal-hal yang baik, kurangnya pendidikan agama dari orang tuanya, bahkan kurangnya perhatian kepada keluarga membuat anak merasa diabaikan. Konflik dan ketidakharmonisan di dalam keluarga dapat menghambat perkembangan karakter anak. Rumah yang tidak menciptakan atmosfer Islami, seperti kurangnya kegiatan ibadah bersama atau kurangnya bacaan Islami, juga dapat mempengaruhi ini. Selain faktor pendukung, kesibukan orang tua juga dapat menjadi hambatan dalam pembentukan akhlak anak. Ketika orang tua sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, mereka mungkin tidak memiliki waktu atau perhatian yang cukup terhadap tingkah laku anak-anak mereka. Mereka mungkin tidak dapat memberikan perhatian atau kasih sayang yang cukup kepada anak-anak mereka. Selain itu, ketika orang tua tidak memberikan contoh perilaku Islami dalam kehidupan sehari-hari atau tidak mengajarkan nilai-nilai dan ajaran Islam sejak dini, hal ini juga dapat menghambat pembentukan karakter Islami anak (Nugraha & Rahman, 2017; Zuhrotul Khofifah, 2020). b. Pengaruh Negatif dari Media. Pengaruh negatif dari media dapat menjadi penghambat dalam pembentukan karakter Islami anak. Penggunaan media yang tidak terkontrol atau tidak selektif dapat mengarahkan anak-anak pada konten yang bertentangan dengan nilai-nilai dan ajaran Islam. Pengaruh negatif dari media dapat menghambat pembentukan karakter Islami anak dengan menyebabkan anak-anak terpapar pada konten yang tidak sesuai dan merugikan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pendidik untuk mengawasi dan mengontrol paparan media anak-anak, serta membantu mereka memahami nilai-nilai Islam yang benar agar dapat memfilter informasi yang mereka terima dari media. Anak yang terpapar dengan media yang menampilkan konten yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam, seperti kekerasan, pornografi, atau materialisme. Orang tua yang tidak mengontrol dan membatasi akses anak terhadap media yang tidak sesuai. Media massa, termasuk televisi, dapat memberikan pengaruh terhadap pendidikan akhlak anak, dan tayangan televisi seringkali tidak menampilkan hal-hal yang positif bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, sebagai orang tua, penting untuk mengurangi waktu anak menonton televisi (Susena & Lestari, 2014). c. Pergaulan yang Buruk. Bergaul dengan teman-teman yang memiliki perilaku negatif dapat berdampak pada karakter anak. Lingkungan sosial yang tidak mendukung perkembangan karakter Islami, seperti lingkungan yang penuh dengan perilaku buruk dan tidak Islami, juga dapat memengaruhi anak. Apabila seorang anak bermain dengan temannya yang kurang baik, maka hal ini dapat mempengaruhi karakter yang ada didalam dirinya, meskipun karakter tersebut telah dibentuk didalam keluarganya maupun sekolahnya, akan tetapi bisa mengikis karakter tersebut secara perlahan. Maka dari itu, peran dari lembaga pendidikan sangat penting, karena juga memberikan pengajaran karakter yang baik secara sistematis melalui pembelajaran yang diterapkan, karena secara kontekstual hal tersebut dapat membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi dan keterampilan yang dimilikinya agar dapat mempengaruhi pola pikir, moral, serta perilakunya (Masnawati & Fitria, 2024). d. Pendidikan Formal yang Tidak Mendukung. Pendidikan formal yang tidak mendukung dapat menghambat pembentukan karakter Islami pada siswa karena kurangnya pengenalan, dukungan, dan promosi terhadap nilai-nilai Islami di lingkungan sekolah. Ini menekankan pentingnya bagi lembaga pendidikan untuk menyelenggarakan program yang mendukung pembentukan karakter Islami siswa agar mereka dapat tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam. Sekolah yang kurang memperhatikan pendidikan agama dan moral, dengan kurikulum yang tidak memberikan kedalaman yang cukup dalam pendidikan agama. Kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar yang jarang atau tidak diikuti, seperti pengajian anak atau kegiatan di masjid. Kurangnya dukungan dari komunitas keagamaan dalam mendidik anak (Argawinata, 2020; Zakariyah & Hamid, 2020). METODE Pendekatan yang digunakan peneliti merupakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Rahmadi juga menjelaskan bahwa penelitian kualitatif merupakan suatu proses atau langkah-langkah dalam penelitian yang dapat menghasilkan data deskriptif yang dapat berupa kata-kata tertulis maupun perilaku yang telah diamati (Adolph, 2016; Hamdani et al., 2019; Hayati & Setiawan, 2022; Purwanto et al., 2020; Zainiyati, 2010). Sedangkan, Sri Yona menjelaskan bahwa, salah satu jenis penelitian yang menjawab beberapa objek atau issue terutama dibidang ilmu sosial dalam suatu fenomena merupakan metode penelitian studi kasus (Cahyati Nika, 2020; Hidayat et al., 2020; Purwanto et al., 2020). Pusat penelitian merupakan tempat dimana peneliti melakukan observasi. Penelitian ini dilakukan di TPQ Thoriqul Huda, Dusun Lowok, Desa Permanu, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Peneliti melakukan penelitian secara langsung terjun ke lapangan dengan meggunakan tiga teknik, antara lain: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan berupa data primer yang diambil langsung dari sumbernya (Sugiyono, 2018; Suharsimi Arikunto, 2006, 2013), berupa dokumentasi wawancara, kegiatan belajar mengajar di kelas, kondisi kelas saat proses belajar mengajar, dan lain-lain. Sedangkan data sekunder diambil dari informasi yang telah ada atau telah diolah, berupa absensi santri dan rapot santri TPQ Thoriqul Huda HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan paparan data dan hasil analisis data, maka terdapat konsep guru TPQ dalam menerapkan pendidikan karakter pada anak di Taman Pendidikan Al- Qur'an Thoriqul Huda, yaitu pendidikan karaketr melalui suatu pembelajaran kurikulum yang terdapat di TPQ tersebut, seperti: fikih, bahasa arab, tauhid, dan ilmu tajwid, serta progam unggulan TPQ yaitu tahfid. TPQ juga TPQ Thoriqul Huda juga memiliki rencana atau konsep untuk mengadakan kegiatan ekstrakulikuler yaitu karate pagar nusa dan Al-Banjari yang dilaksanakan pada hari minggu. Pada pembelajaran di TPQ, anak-anak TPQ Thoriqul Huda harus dapat menghafal surat-surat pendek dalam setiap harinya dengan menyetorkan hafalan dan hafalan surat Yasin akan dilakukan di setiap pertemuan setelah pembelajaran terakhir. Sehingga, konsep ini diharapkan dapat membuahkan keberhasilan di TPQ Thoriqul Huda. Hal ini sesuai dengan teori Argawinata, bahwa manajemen pendidikan sangat diperlukan terkait pada kualitas dan perkembangan seorang guru yang menjadi faktor utama dalam suatu keberhasilan program Pendidikan (Argawinata, 2020). Pada upaya guru TPQ, terdapat beberapa upaya guru TPQ dalam penerapkan pendidikan karakter pada anak di TPQ Thoriqul Huda yaitu melalui pengajaran pendidikan Al-Qur'an yang sesuai dengan kurikulum di TPQ Thoriqul Huda, seperti tajwid, fikih, hafalan surat-surat pendek, hafalan surat Yasin, menulis pegon, tauhid dan membaca Al-Qur'an. Selain itu, upaya guru TPQ Thoriqul Huda yaitu dengan memberikan pengarahan, nasihat, mengajarkan sopan santun, bersikap jujur, terbuka pada kesalahan, memberikan kesempatan anak-anak belajar menjadi pemimpin, pembiasaan yang baik dan dapat menjadi contoh serta suri tauladan yang baik bagi anak didiknya. Hal ini sesuai dengan teori Nurchaili, yang menjelaskan bahwa guru diharapkan mampu memiliki kematangan secara intelektual dan emosional seperti, dapat memberikan contoh yang baik, mampu bernalar dan bertutur, kreatif, mengerti dengan perkembangan anak di segala persoalannya, inovatif dalam menguasai materi dan metode pembelajaran yang sesui dengan perkembangan, intelegensi dan situasi peserta didik (Madjid, 2013). Adapun juga teori menurut Abbudin Nata, ada beberapa cara dalam upaya pembentukan akhlakul karimah, antara lain (Nata, 2010) : 1. Pembiasaan yang dilakukan terus menerus pada sejak kecil. Imam Ghazali menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia dapat menerima semua usaha pembentukan dalam sebuah pembiasaan. 2. Keteladanan, karena akhlak yang baik hanya dapat dibentuk melalui perintah, larangan dan pelajaran. Dalam menanamkan sopan santun memerlukan suatu pendidikan yang panjang. Suatu pembelajaran juga tidak akan sukses jika tidak disertai dengan contoh keteladanan yang baik dan nyata. Dalam menerapkan pendidikan karakter, upaya guru TPQ Thoriqul Huda juga memiliki faktor pendukung dan faktor penghambat. Faktor pendukung upaya guru TPQ yaitu terdapat pada gedung TPQ Thoriqul Huda yang sangat penting sebagai tempat guru TPQ untuk mentrafer ilmu kepada santri-santrinya. Adanya buku prestasi siswa sebagai buku penyambung dan komunikasi antara guru TPQ dengan wali santri yang berisi tentang kegiatan santri dan masalah santri saat belajar di TPQ Thoriqul Huda. Adanya dukungan wali santri yang membayar infaq sepuluh ribu setiap bulannya dan dukungan masyarakat Dusun Lowok memberikan bantuan berupa tenaga, iuran dan konsumsi saat proses pembangunan gedung dan kegiatan- kegiatan yang ada di TPQ Thoriqul Huda. Penjelasan diatas sesuai dengan teori Petrus Kpalet dan Frumensia Riniyanti, bahwa ada beberapa faktor pendukung dalam pembentukan karakter siswa, antara lain (Shaleh, 2016): 1. Adanya kesadaran yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri. 2. Adanya kerjasama atau relasi antara pihak sekolah dan orang tua. 3. Adanya kesadaran dari orang tua akan pentingnya suatu motivasi dan dukungan pada proses pembentukan karakter anaknya. 4. Adanya sarana dan prasarana di sekolah yang menunjang. Sedangkan faktor penghambat upaya guru TPQ dalam menerapkan pendidikan karakter pada anak di TPQ Thoriqul Huda antara lain: kurangnya fasilitas di TPQ seperti, media membaca anak-anak di depan kelas, meja atau dampar mengaji, rak buku, dan lain-lain. Hal ini dapat menjadi suatu penghambat bagi kelancaran dan kenyamanan kegiatan belajar mengajar. Selain itu, kurangnya tenaga pendidik dengan banyaknya santri TPQ yang belajar di TPQ Thoriqul Huda. Hal ini juga dapat menjadi penghambat pelaksanaan proses belajar mengajar di TPQ Thoriqul Huda. Dikarenakan saat anak bergilir maju satu persatu untuk mengaji di depan gurunya, anak yang lainnya menjadi tidak terawasi dan ramai KESIMPULAN Konsep guru TPQ Thoriqul Huda dalam menerapkan pendidikan karakter pada anak yaitu dengan melaksanakan pembelajaran melalui pembelajaran sesuai kurikulum di TPQ seperti, pembelajaran fikih, bahasa Arab, tajwid dan tauhid. Tidak hanya itu, TPQ juga memiliki program unggulan yaitu tahfid. Selain itu, rencananya TPQ akan mengadakan ektrakurikuler Al-banjari dan karate pagar nusa yang dilaksanakan setiap hari minggu. Upaya guru TPQ Thoriqul Huda dalam menerapkan pendidikan karakter pada anak yaitu melalui proses pembelajaran seperti membaca Al-Qur'an, menulis pegon, hafalan surat-surat pendek, hafalan surat Yasin, hafalan hadits tentang akhlak, belajar tajwid, dan belajar doa-doa sholat. Guru TPQ juga memberikan contoh dan nasihat yang dapat digugu dan ditiru oleh anak. Selain itu, upaya guru yang sudah diterapkan yaitu adanya suri tauladan, kegiatan pengajian, dan kerja bakti yang dilakukan bersama-sama wali santri, guru TPQ, santri TPQ dan masyarakat sekitar. Faktor pendukung upaya guru TPQ Thoriqul Huda dalam menerapkan pendidikan karakter pada anak yaitu dengan memiliki gedung TPQ sendiri yang sudah diresmikan sebagai tempat dalam proses belajar mengajar dan terdapat buku prestasi siswa untuk penyambung komunikasi antar guru dan wali santri sebagai bentuk pengawasan kegiatan anak di TPQ. Wali santri juga mendukung dengan mengikuti sekepakatan membayar infaq sebesar sepuluh ribu rupiah per bulannya. Selain itu, masyarakat juga sangat mendukung dengan berdirinya TPQ dengan memberikan bantuan iuran, konsumsi dan tenaga mereka dalam proses pembangunan gedung dan dalam kegiatan-kegiatan tertentu. Sedangkan Faktor penghambat upaya guru TPQ dalam menerapkan pendidikan karakter pada anak TPQ Thoriqul Huda yaitu kurangnya fasilitas yang ada di TPQ dan kurangnya tenaga pendidik, yang dimana hambatan tersebut harus diatasi dengan cara-cara yang lebih efektif dan efisien. REFERENSI Adibussholih, M. (2023). Aktualisasi Diri Keagamaan Dalam Pembentukan Akhlak Di Pondok Pesantren Al-Qudsi Tulang Bawang. Assyfa Journal of Islamic Studies, 1. Adolph, R. (2016). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Amelya Ayu Syaputri, Rizkia Ramadhania Nurbani, & Deri Hendriawan. (2023). Implementasi Kurikulum Taman Pendidikan Al-Qur'an di TPQ Baiturrahim Bekasi Timur Jawa Barat. Asghar : Journal of Children Studies, 3(1), 52-60. https://doi.org/10.28918/asghar.v3i1.1013 Amrillah, H. M. T., Yulizah, Y., & Widiyanti, D. (2022). Peran Guru Dalam Membentuk Karakter Percaya Diri Anak Usia Dini. Jurnal Literasiologi, 8(3), 24460-24474. https://doi.org/10.47783/literasiologi.v8i3.405 Argawinata, A. Z. (2020). Manajemen Pendampingan Guru Untuk Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Dan Profesional Guru-Guru Mata Pelajaran Sekolah Menengah Pertama Di Kota Bandung. Suparyanto Dan Rosad (2015, 5(3), 248-253. Basri, H., Subandi, S., & Jaenullah, J. (2023). Sinergitas Pengurus dan Masyarakat Dalam Pembentukan Akhlak Santri. Assyfa Journal of Islamic Studies, 1, 63-72. Cahyati Nika, K. R. (2020). Peran Orang Tua Dalam Menerapkan Pembelajaran Di Rumah Saat Pandemi Covid 19. Jurnal Golden Age. https://doi.org/10.29408/jga.v4i01.2203 Dirsa, A., & Kusumawati, I. (2019). Implementasi Pemikiran Imam Al-Ghazali tentang Pendidikan Karakter. Academy of Education Journal, 10(02), 159-169. https://doi.org/10.47200/aoej.v10i02.281 Endah Sulistyowati. (2012). Implementasi Kurikulum Pendidikan Karakter. Jogjakarta: Citra Aji Parama, 18. Firdaus, F. Z., Fauziah, L., Rukmana, H., & Jannah, S. R. (2023). Hereditas dan Lingkungan dalam Pendidikan Islam: Kajian Al-Qur'an dan Praktik Pendidikan Karakter. Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 2, 162-170. Haerudin, Cahyani, A., Sitihanifah, N., Setiani, R. N., Nurhayati, S., Oktaviana, V., & Sitorus, Y. I. (2020). Peran Orangtua Dalam Membimbing Anak Selama Pembelajaran Di Rumah Sebagai Upaya Memutus Covid-19. Universitas Singaperbangsa Karawang. Hamdani, M. S., . M., & Wardani, K. W. (2019). Penerapan Model Pembelajaran Team Games Tournamen (TGT) pada Pembelajaran Tematik Terpadu Kelas 5 untuk Peningkatan Keterampilan Kolaborasi. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, 3(4), 440. https://doi.org/10.23887/jisd.v3i4.21778 Hayati, N., & Setiawan, D. (2022). Dampak Rendahnya Kemampuan Berbahasa dan Bernalar terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6(5), 8517-8528. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i5.3650 Hidayat, A., Sa'diyah, M., & Lisnawati, S. (2020). Metode Pembelajaran Aktif Dan Kreatif Pada Madrasah Diniyah Takmiliyah Di Kota Bogor. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 9(1), 71-86. Hotimah, L. H., & Hasyim, U. A. A. (2024). Implementasi Pendidikan Agama Islam Dalam Penanaman Akhlak Siswa Kelas V SD Negeri 4 Simbarwaringin. Assyfa Journal of Multidisciplinary Education. Ibrahim, I., Annur, S., Badaruddin, K., Zainuri, A., Prihatin, S., Krista, K., & Hidayat, H. (2023). Peran Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) Masjid Nurul Iman Terhadap Pembentukan Akhlak Anak di Desa Suka Mulya Kecamatan Lempuing. Jurnal PkM (Pengabdian Kepada Masyarakat), 6(2), 216. https://doi.org/10.30998/jurnalpkm.v6i2.16660 Jalil, A. (2016). Karakter Pendidikan untuk Membentuk Pendidikan Karakter. Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam, 6(2), 175-194. https://doi.org/10.21580/nw.2012.6.2.586 Kurnia, F., & Arifuddin, A. (2023). Pembentukan Karakter Kepemimpinan Siswa Melalui Pengorganisasian Madrasah Di Madrasah Salafiyah Putri Pasuruan. Ashlach: Journal of Islamic Education, 2, 1-7. Laksana, S. D. (2021). Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Menghadapi Education Technology The 21. Jurnal Teknologi Pembelajaran, 1(1). M. Yatimin Abdullah. (2007). Studi Akhlak Dalam Perspektif Islam (Cet. I). Madjid, N. (2013). Pengembangan nilai-nilai Islam dalam Pembelajaran PAI di SMA. Maskuri Bakri. (2013). Paradigma Islam Tentang Pengembangan Pendidikan Islam. Islamica, 7(2), 6. Masnawati, E., & Fitria, S. N. (2024). Peran Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) dalam Pengembangan Akhlak Anak. Irsyaduna: Jurnal Studi Kemahasiswaaan, 4(2), 213-224. https://doi.org/10.54437/irsyaduna.v4i2.1738 Nata, A. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Nugraha, A., & Rahman, F. A. (2017). Strategi Kolaborasi Orangtua Dengan Konselor Dalam Mengembangkan Sukses Studi Siswa. Jurnal Konseling GUSJIGANG, 3(1). Purwanto, A., Pramono, R., Asbari, M., Budi Santoso, P., Mayesti Wijayanti, L., Chi Hyun, C., & Setyowati Putri, R. (2020). UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH ENREKANG Studi Eksploratif Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Proses Pembelajaran Online di Sekolah Dasar. EduPsyCouns: Journal of Education, Psychology and Counseling. Puspitaningrum, D. (2022). Sastra Anak Cerita Rakyat Nusantara dalam Pembentukan Pondasi Karakter Moderat. Jurnal Asghar, 2(2), 40-51. Rika Devianti, D. (2020). Pendidikan Karakter Untuk Anak Usia Dini. Mitra Ash-Shibyan Jurnal Penididkan Dan Konseling, 03(02), 67-78. Ritonga, A. R., Doli, R., Ritonga, J., Ritonga, M. S., & Hidayat, N. (2025). Implementasi Pendidikan Karakter di Taman Pendidikan Al- Qur ' an Al-Falah Kasihan Bantul Yogyakarta. 8(1), 1-4. Rosiful Aqli. (2016). Implementasi metode dirosati dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an di TPQ al-Falah Wuluhan Jember tahun pelajaran 2014/2015. Institut Agama islam Negeri Jember. Sanika, E., & Hidayah, F. (2018). Program Pembentukan Akhlak Siswa Pada Masa Pubertas (Studi Kasus di SMP Tri Bhakti Tegaldlimo Banyuwangi Tahun Pelajaran 2018/2019. Edureligia; Jurnal Pendidikan Agama Islam, 2(2), 82-93. https://doi.org/10.33650/edureligia.v2i2.458 Shaleh, M. (2016). Pengaruh Motivasi, Faktor Keluarga, Lingkungan Kampus Dan Aktif Berorganisasi Terhadap Prestasi Akademik. Phenomenon : Jurnal Pendidikan MIPA, 4(2), 109-141. https://doi.org/10.21580/phen.2014.4.2.122 Subianto, J. (2013). PERAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER BERKUALITAS. Edukasia : Jurnal Penelitian Pendidikan Islam. https://doi.org/10.21043/edukasia.v8i2.757 Sugiyono. (2018). Metode Peneltian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Cet. 13). Suharsimi Arikunto. (2013). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Renika Cipta. Sukiman, S. (2016). Menjadi Orang Tua Hebat. Sun'iyah, S. L. (2020). Sinergi Peran Guru Dan Orang Tua Dalam Mewujudkan Keberhasilan Pembelajaran Pai Tingkat Pendidikan Dasar Di Era Pandemi Covid-19. DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan Dan Humaniora. Susena, E., & Lestari, D. A. (2014). DAMPAK PENGGUNAAN INTERNET TERHADAP KECERDASAN PELAJAR SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) DI DAERAH PEDESAAN DALAM RANGKA PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN DI DAERAH PEDESAAN Edy. Sainstech Politeknik Indonusa Surakarta. Triatna Kesuma dan Purnama. (2013). Pendidikan Karakter. Yuli Puji Lestari, S. (2018). Jurnal Pendidikan Dasar PerKhasa Volume 4, Nomor 1, April 2018 PENERAPAN PBL. Jurnal Pendidikan Dasar PerKhasa, 4(April), 53-62. Zainiyati, H. S. (2010). Model Dan Strategi Pembelajaran Aktif (Teori dan Praktek dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam). Putra Media Nusantara Surabaya & IAIN PRESS Sunan Ampel, 1-232. Zakariyah, A., & Hamid, A. (2020). Kolaborasi Peran Orang Tua dan Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Online di Rumah. Intizar. https://doi.org/10.19109/intizar.v26i1.5892 Zuhrotul Khofifah, dan M. M. (2020). Pendidikan Anak dalam keluarga Perspektif Tafsir AL-Misbah Karya M. Quraish Shihab (Studi Literasi AL-qur'an Surat Luqman Ayat 13 - 19). Fikroh: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Islam, 13(2), 133-157. https://jurnal.stai-alazharmenganti.ac.id/index.php/fikroh/article/view/113/81 Ashlach : Journal of Islamic Education Alif Achadah, Nur Afni Mukholifah ¦ Implementasi Pendidikan Karakter Pada Anak Di Taman Pendidikan Al-Qur'an Ashlach : Journal of Islamic Education Alif Achadah, Nur Afni Mukholifah¦ Implementasi Pendidikan Karakter Pada Anak Di Taman Pendidikan Al-Qur'an 2 | | 3 Journal of Islamic Education Vol. 01 No. 02 Oktober 2023 | Hal. 10-21 e-ISSN/p- ISSN : 2988-1285/2988-1277 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/ashlach Hak cipta (c) 2025 Ashlach : Jurnal Pendidikan Islam. Karya ini dilisensikan di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 .