Dakwah Pada Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Perspektif Komunikasi Terapeutik Di Sekolah Luar Biasa Imas Ismahayati *1 Sekolah Tinggi Agama Islam KH Badruzzaman Garut,? INDONESIA Korespondensi : Ismaimas85@gmail.com Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submit: Juli 05, 2023 Review: Agustus 17, 2023 Publish: Oktober 09, 2023 Dakwah kepada anak berkebutuhan khusus (ABK) memerlukan metode, pendekatan, media dan diperlukan metode, media dan pesan yang khusus. Dakwah pada hakikatnya adalah komunikasi antara komunikator dengan komunikan untuk menyampaikan pesan dan informasi, sehingga dengan komunikasi tersebut nilai-nilai dakwah dapat dipahami, diyakini dan diamalkan kepada mad'u. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan metode, media dan pesan komunikasi terapeutik dakwah fardiyyah bagi anak berkebutuhan khusus di SLB C Bina Grahita Leles Garut. Penelitian ini menggunakan teori interpersonal dan self. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma interpretatif, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan interaksional. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode fenomenologi. Jenis penelitian adalah kualitatif, sedangkan sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Prosedur analisis data menggunakan reduksi data, analisis data, dan penarikan simpulan. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa dakwah terhadap anak berkebutuhan khusus menggunakan komunikasi terapeutik yang dilaksanakan di SLB C Bina Grahita Leles Garut melalui komunikasi persuasif yang dilakukan secara terus menerus dan intensif baik melalui komunikasi verbal maupun non verbal. Kata Kunci : Dakwah; Anak Berkebutuhan Khusus; Komunikasi Terapeutik; PENDAHULUAN Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya lahir dalam keadaan normal, tanpa ada kecacatan dan kekurangan sesuatupun. Anak yang normal baik secara fisik maupun psikis merupakan dambaan setiap keluarga. Karena mereka diharapkan dapat hidup dengan baik, sejahtera, dan dapat menghadapi problem samudera kehidupan yang penuh luka-liku, tantangan dan halangan yang berat serta dapat bergaul dengan masyarakat secara normal (Rusdiana, 2012). Sehingga mereka dapat hidup mandiri setelah mereka dewasa, dan ketika kedua orang tua telah tiada. Dalam sisi religius, anak diharapkan dapat melanjutkan tradisi keagamaan orang tuanya, baik dari sisi akidah, ibadah maupun akhlak yang dibiasakan dan ditradisikan (Jalil, 2016). Semua harapan orang tua memiliki keturunan yang normal seperti biasanya, baik secara fisik maupun psikis, akan tetapi Ada yang anaknya sejak dilahirkan dalam keadaan tidak normal, baik fisik maupun psikis (Safitri & Yuniwati, 2019). Mereka memiliki satu atau beberapa kekurangan (tuna). Kekurangan dalam segi fisik, misalnya tuna rungu, tuna grahita, tuna wicara, tuna daksa dan sebagainya. Kekurangan dari segi psikis seperti cacat mental, idiot, dan sebagainya. Dalam hal ini tentu mereka, anak-anak yang memiliki kekurangan tersebut harus ditangani agar mereka dapat hidup normal, atau setidaknya ada perubahan ke arah yang lebih baik. Perbaikan dalam kehidupan beragama tentu sangat penting. Karena secara imanen merupakan fitrah manusia (Syatori, 2014). Sehingga anak yang memiliki kebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk didakwahi, sebagaimana anak-anak yang normal. Mendakwahi anak yang berkebutuhan Khusus, tentu berbeda dengan mendakwahi anak-anak yang normal. Mereka harus didakwahi dengan cara tertentu, media tertentu dan strategi tertentu. Cara, media dan strategi mendakwahi anak yang berkebutuhan Khusus berbeda dengan anak yang normal seperti biasanya. Cara yang dipilih dalam mendakwahi ABK, salah satunya dengan Komunikasi Tarapeutik (Azizah et al., 2024). Komunikasi Tarapetik perlu dikaji dalam penelitian mengingat Anak ABK memiliki keterbatasan dan kekurang baik secara fisik maupun psikis. Keterbatasan dan kekeurangan tersebut tentu harus dibedakan dalam mendakwahi mereka, baik dai sisi metode, pesan dan media yang digunakan dalam dakwah kepada ABK. Kewajiban manusia sebagai Umat Islam adalah menggali, memaknai dan mengaplikasikan dakwah sesuai dengan tuntutan kehidupan manusia yang terus berkembang (Basit & Suwito., 2011) Termasuk pada anak ABK. Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan Ibu Rosita dijelaskan bahwa fenomena seperti ini tentu harus digali bagaimana dakwah pada anak berkebutuhan khusus. Salah satu yang menerapkan dakwah pada anak berkebutuhan khusus adalah SLB C Bina Grahita Leles Garut. Berdasarkan survei awal yang dilakukan di SLB C Bina Grahita Leles, Garut. Hasil wawancara sementara dengan ibu Rosita selaku kepala Sekolah mengatakan SLB C Bina Grahita merupakan sekolah bagi anak berkebutuhan khusus yang berada di desa Haruman kecamatan leles. Sekolah ini berdidiri untuk mempasilitasi anak berkebutuhan khusus supaya dapat berkembang dengan baik. Untuk itu, komunikasi yang dijalankan perlu diatur dengan perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi, harus seimbang dengan intelektual, cita, rasa, karsa, dan tingkah laku. Sehingga pesan yang disampaikan mudah dipahami, dan berjalan dengan baik. Seperti halnya yang penulis lihat pada saat penelitian berlangsung, aktivitas niali-nilai agama seperti dapat berdo'a dengan baik dan melakukan ibadah. Karena ibu Rosita mengatakan bahwa anak berkebutuhan khusus (ABK) dianggap berbeda dengan anak normal. Anak berkebutuhan khusus dianggap anak yang tidak berdaya sehingga perlu dibantu dan dikasihi. Pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Setiap anak mempunyai kekurangan dan kelebihan. Oleh karena itu, dalam melihat anak berkebutuhan khusus, kita harus melihat dari segi kemampuan dan tidak kemampuaannya. Anak berkebutuhan khusus memerlukan perhatian yang lebih, dengan demikian, ia akan dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. ABK di SLB C Bina Grahita bukan saja titipan dari para wali murid melainkan dari dinas sosial setempat. Sebagian ABK di sekolah tersebut diasramakan dan sebagian pulang-pergi kerumahnya. Namun yang diasramakan terdapat beberapa oarang yang sama sekali tidak tahu orang tuanya dan rumahnya karena mereka hasil penemuan Dinas Sosial dari jalan sehingga setiap hari raya pun tidak ada penjemputan seperti anak yang lainnya. Terdapat beberapa pemahaman mengenai konsep anak berkebutuhan khusus, antara lain Gearheart mengatakan bahwa seorang anak dianggap berkelainan bila memerlukan persyaratan yang berbeda dari rata-rata anak normal, dan untuk dapat belajar secara efektif memerlukan program, pelayanan, fasilitas, dan materi. Pada hakikatnya komunikasi terapeutik ini bertujuan mengembangkan pribadi pasien ke arah yang lebih positif atau adaftif dan diarahkan pada pertumbuhan pasien yang meliputi: (1) realisasi diri; (2) kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak seperfisal dan saling bergantung dengan orang lain; (3) peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan yang realisitis; (4) peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta mencapai tujuan realistis; (5) komunikasi terapeutik juga bertujuan membantu pasien/klien memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran, membantu mengambil tindakan yang efektif untuk mengubah situasi yang ada; dan (6) Interpersonal communication landasan komunikasi terapeutik (Andi Hilwa, 2012). Menurut Alo Liliweri, dalam bukunya Dasar-Dasar Komunikasi Kesehatan, sebagaimana dikutip Ramses Lalongkoe, menjelaskan interpersonal communication merupakan komunikasi yang berlangsung sebagai komunikasi antar pribadi yakni komunikasi yang dilakukan oleh 2 atau 3 orang dengan jarak fisik diantara mereka yang sangat dekat, bertatap muka atau bermedia dengan sifat umpan balik yang berlangsung cepat, adaptasi pesan bersifat khusus, serta memiliki tujuan/maksud (Lalongkoe, 2014). Proses dakwah yang dilakukan oleh da'i selama ini jarang menyentuh anak berkebutuhan khusus karena memiliki hambatan tersendiri yaitu terbelakangnya mental dan terlambatnya pikiran mad'u sebagai objek dakwah. Maka meneliti dakwah pada anak berkebutuhan khusus yang dibedah dengan teori komunikasi terapeutik alangkah sangat diperlukan sehingga objek dakwah dapat tersentuh secara merata. Berdasarkan latar belakang di atas maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan 1) metode komunikasi terapeutik dalam dakwah pada ABK SLB C Bina Grahita Leles Garut. 2) Media komunikasi terapeutik dalam dakwah pada ABK SLB C Bina Grahita Leles Garut. Dan 3) Pesan komunikasi terapeutik dalam dakwah pada ABK SLB C Bina Grahita Leles Garut. KAJIAN TEORI Da'wah Islam Substansi dalam mengkaji dakwah Islam paling tidak berkisar pada tiga hal penting. Pertama, dakwah sebagai aktivitas yang dilakukan oleh umat Islam. Kedua, dakwah sebagai ilmu yang ditelaah secara sistematis dan menggunakan metode ilmiah. Ketiga, dakwah sebagai gerakan yang dilakukan oleh organisasi dakwah. Menurut keterangan al-Qur'an, aktivitas dakwah telah berlangsung lama, yakni sejak zaman nabi Nuh AS ketika beliau memerintahkan kaumnya untuk menyembah Allah dan mengikuti ajaran-Nya. Jika dakwah dikaitkan dengan Islam, seperti yang diyakini oleh umat Islam sekarang ini, aktivitas dakwah diawali dengan perintah Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan dakwah secara sembunyi-sembunyi yang berlangsung kurang lebih tiga tahun. Kemudian beliau menerima perintah untuk melakukan dakwah secara terang-terangan(Abdul Karim Zaidân, 1988). Aktivitas dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad menggunakan berbagai cara sesuai dengan situasi dan kebutuhan objek dakwahnya. Nabi Muhammad tidak menetapkan satu cara atau metode terbaik yang mesti dikembangkan oleh umatnya. Dengan demikian, aktivitas dakwah setelah Nabi Muhammad berkembang sesuai dengan dinamika dan perkembangan zamannya (Larry Poston, 1992). Abdul al-Karim Zaidan menyatakan bahwa dakwah itu hanya berupa proses penyampaian ajaran Islam (Abdul Karim Zaidân, 1988). Muhammad al-Rawi (Al-Rawi, n.d.) memaknai aktivitas dakwah Islam adalah seluruh aktivitas keislaman karena dakwah merupakan agama Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad untuk kemaslahatan hidup di dunia dan di akhirat. Senada dengan al-Rawi, Hasan al-Bana memaknai dakwah identik dengan Islam itu sendiri yang mengandung makna yang luas (Al-Banna, n.d.) Anak Berkebutuhan Khusus Menurut Aqila (Psikologi et al., 2017) anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berebeda dengan anak pada umumnya. anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda pada anak umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidak mampuan mental, emosi atau fisik. Menurut Sumekar (Nugraha & Rahman, 2017) anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang mengalami penyimpangan, kelainan atau ketunaan dalam segi fisik, mental, emosi dan social. Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik merupakan suatu bentuk interaksi yang terencana dan tidak akan berlangsung dengan sendirinya. Komunikasi terapeutik harus direncanakan, dipertimbangkan dan dilaksanakan secara profesional oleh seorang perawat. Dalam melaksanakan komunikasi terapeutik seorang perawat harus memperhatikan fase-fase komunikasi terapeutik yang terdiri dari tiga fase yaitu fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi menurut Hildegard Peplau dalam (Sun'iyah, 2020) Menurut (Dewi, 2020) Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan, kegiatannya difokuskan pada kesembuhan pasien, perawat yang memiliki ketrampilan berkomunikasi tidak mudah untuk menjalin hubungan rasa percaya dengan pasien, juga mencegah terjadinya masalah illegal, memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan keperawatan dan meningkatkan citra profesi keperawatan serta citra rumah sakit. METODE Menurut Khotari metode penelitian dapat dipahami sebagai keseluruhan teknik-teknik yang digunakan untuk melakukan penelitian (In Setyorini, 2020; Ning Mukaromah, 2019; Zakariyah & Hamid, 2020). Maka dari itu penelitian ini menggunakan metode fenomenologi. Fenomenologi merupakan sebuah pendekatan filosofis untuk menyelediki pengalaman manusia. Fenomenologi bermakna metode pemikiran untuk memperoleh ilmu penegtahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang ada dengan langkah-langkah logis, sistematis kritis, tidak berdasarkan apriori/prasangka, dan tidak dogmatis. Fenomenologi sebagai metodologi tidak hanya digunakan dalam filsafat tetapi juga dalam ilmu-ilmu sosial. Konsep utama dalam fenomenologi adalah makna. Makna merupakan isi penting yang muncul dari pengalaman kesadaran manusia, untuk mengidentifikasi kualitas yang essensial dari pengalaman kesadran dilakukan dengan mendalam dan teliti (Cahyati Nika, 2020; HAMZAH, 2020; Hardiansyah, n.d.; Hayati & Setiawan, 2022)(Larkin et al., 2021). HASIL DAN PEMBAHASAN Metode komunikasi terapeutik dalam dakwah pada ABK SLB C Bina Grahita Leles Garut. Berdasarkan hasil observasi pada beberapa event dakwah pada Anak berkebutuhan Khusus dan wawancara dengan beberapa pihak sekolah seperti Ustadz (Guru pendidikan Agama Islam), kepala sekolah, pembina asrama, guru bimbingan konseling dan perwakilan orang tua, dapat diambil kesimpulan berkaitan dengan metode komunikasi terapeutik dalam dakwah terhadap ABK bahwasannya dalam dakwah pada ABK membutuhkan sebuah komunikasi yang sangat tepat dalam penyampaiannya. Sehingga komunikasi tersebut bisa dijadikan metode dalam penyampaian dakwah tersebut. Metode komunikasi terapeutik dalam dakwah pada anak berkebutuhan khusus di SLB C Bina Grahita Leles menggunakan metode persuasif (membujuk secara halus dan terus menerus) dengan pendekatan komunikasi antar personal (interpersonal). Metode ini banyak dilakukan oleh para guru yang ada di SLB Bina Grahita Leles terutama oleh ustdaz Ghofar selaku pelaku dakwah dalam sekolah itu. Dakwah kepada ABK harus dengan komunikasi interpersonal dan persuasive. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip dakwah Islam yang mengedepankan kasih sayang, kelembutan dan komunikasi. Dalam perspektif da'wah komunikasi interpersonal termasuk pada da'wah fardiyyah. Dakwah fardiyyah adalah mengajak manusia secara individual. Dakwah di sini adalah bersifat individu dari sisi mad'u (objek dakwah) (Abdul Karim Zaidân, 1988; Agustina et al., 2024). Dimana dalam da'wah Fardiyyah sangat memperhatikan pada kondisi mad'u, dalam hal anak yang berkebutuhan khusus. Walaupun seorang da'i kurang menyukai akan karakter mad'unya atau ada orang yang tidak disukai kepribadiannya (Abdul Karim Zaidân, 1988). Seorang tetap melayani mad'unya dengan baik dan sabar. Demikian pula dalam da'wah fardiyyah adanya tadarruj fidda'wah, yakni adanya tahapan dan graduasi dalam menda'wahi mad'unya. Tidak bersifat portal dan ketergesaan. Karena menda'wahi mad;u dengan portal tidak gradul menyelisihi sunnatullah dan manhaj da'wah para Nabi (Abdul Karim Zaidân, 1988). Metode yang digunakan dalam da'wah pada ABK di SLB C Bina Grahita Leles Garut adalah dengan menggunakan Metode Komunikasi tarapeutik sesuai dengan teori yang digunakan peneliti. Dalam Metode komunikasi tarapeutik ini digunakan pendekatan komunikasi interpersonal. Dimana komunikasi interpesonal dalam dunia da'wah sama dengan da'wah infirady, yaitu da'wah yang menekankan pada individu mad'u tertentu Media komunikasi terapeutik dalam dakwah pada ABK SLB C Bina Grahita Leles Garut. Berdasarkan hasil observasi dalam kegiatan dakwah pada anak berkebutuhan khusus dan wawancara dengan beberapa pembingbing kegiatan dakwah dapat ditarik kesimpulan terkait dengan media komunikasi terapeutik dalam dakwah pada anak berkebutuhan khusus yaitu menggunakan media shalat berjamaah, dzikir bersama, murotal qur'an, infocus dan handphon sebagai upaya terapi dalam penyampaian dakwah sehingga ABK tidak hanya mudah memahami dakwah melainkan memberi stimulus bagi perkembangannya seperti dapat menimbulkan semangat hidup, menjauh dari kebiasaan melamun yang disertai sedih dan marah. 1. Media Shalat berjama'ah. Para ahli Fiqih telah membahasa tentang keutamaan shalat berjama'ah yang di lakukan di masjid. Keutamaan shalat berjama'ah tersebut dilihat dari sisi ritual, individu, sosial, emosional bahkan kesejahteraan. Secara ritual shalat berjama'ah berdimensi pahala yang sangat besar di sisi Allah SWT, dengan dilipat gandakannya 27 kali lipat dibandingkan shalat sendirian. Sedangkan dari sudut individu, shalat berjamaah meningkatkan percaya diri, karena semua jamaah duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Sehingge terbentuk kesetaraan dalam status sosial. Dimana dalam shalat berjama'ah strata sosial, ekonomi, Pendidikan, karier dan jabatan lebur menjadi satu. Secara sosial dalam shalat berjama'ah berdampak pada interaksi sosial dan komunikasi yang intens antar sesame jema'ah. Idealnya dengan adanya shalat berjama'ah menimbulkan saling memperhatikan antara sesame jema'ah masjid. Sedangkan dari sudut emosional, shalat berjama'ah dapat menghilangkan rasa iri, dengki, dendam dan sakit hati dikarenakan sering berjumpa dan berinteraksi. 2. Dzikir bersama Dalam Islam dzikir kepada Allah merupakan ibadah yang agung. Dzikir dengan menyebut nama-nama Allah secara psikologis dapat menenangkan hati manusia. Tak terkeculi bagi anak-anak ABK. Dzikir dapat menstimulus pada ketenangan dan keteraturan emosional. Dimana anak ABK emosional mereka hampir tidak bisa dikendalikan. Maka dengan dilakukannya dzikir secara berjama'ah diharapkan emosional anak ABK dapat terkendali dan dapat mengontrol diri. Sebagaimana dalam al-Qur'an yang menyatakan bahwa dzikir dapat menenangkan hati, sebagaimana firmannya dalam surat ar-Ra'd ayat 28; ?????????? ????????? ?????????????? ???????????? ???????? ??????? ? ????? ???????? ??????? ???????????? ??????????? ? Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. 3. Media mendengarkan murratal al-Qur'an Al-Qur'an merupakan firman Allah menjadi obat bagi hati manusia. Hati manusia jika mendengarkan al-Qur'an, maka akan terpengaruh ikut larut dalam bacaan al-Qur'an. Al-Qur'an juga sebagai petunjuk bagi manusia secara umum dan kepada orang-orang beriman secara khusus. Berdasarkan penjelasan fungsi al-Qur'an tersebut di atas, maka memperdengarkan bacaan al-Qur'an kepada anak ABK dapat meningkatkan tingkat memori anak ABK, disebabkan bacaan yang diulang-ulang, dapat masuk ke dalam alam bawah sadar anak ABK. Selain itu memperdengarkan bacaan al-Qur'an dapat mengendalikan emosi anak ABK, sehingga emosinya dapat terkendali dengan baik 4. Media Smartphone Handpone dapat digunakan sebagai sarana dakwah dan komunikasi. Penggunaan handpone di zaman sekarang sangat diperlukan sebagai sarana komunikasi dan informasi. Pada handpone dengan berbagai aplikasinya dapat digunakan sebagai sarana dakwah pada anak ABK. Dalam hal ini penggunaan handphone di SLB C Bina Grahita Leles Garut diisi dengan aplikasi rekaman video animasi kartun anak yang dapat didownload dari internet yang memiliki konten pembentukan karakter anak, sepert kejujuran, keadilan, kerajinan ibadah, berbuat baik pada orang tua dsb. Kartun-kartun tersebut tentu mengandung konten dakwah islam yang efektif, mengingat anak ABK dari sisi emosional mereka Seperti anak kecil, sehingga membutuhkan sarana dalam menangkap pesan yang efektif. 5. Media infokus Dalam mendakwahi anak ABK, terutama dalam materi-materi dakwah yang perlu peragaan, penggunaan infokus perlu dilakukan. Materi-materi dakwah dengan melalui LCD Proyektor dapat mempermudah dipahami, sebab bersifat audio visual yang sehingga dapat memusatkan perhatian bagi anak ABK sebagai mad'u. LCD Proyektor merupakan layer yang digunakan untuk media penampilan gambar dari proyektor. Proyektor dapat dihubungkan dengan laptop, computer atau televisi digital yang berisi materi atau konten dakwah. Penelitian yang dilakukan oleh Moh Nazhirul Alam menunjukkan bahwa materi dakwah yang memakai infokus dengan yang tidak menggunakan infokus terjadi perbedaan. Da'i yang memakai infokus dalam dakwah kepada jamaahnya, merasa terbantu terhadap kegiatan dakwah. Hal tersebut dapat dilihat dari suasana yang lebih rileks dan lebih focus serta dapat menyerao materi dakwah yang disampaikan. Pesan-pesan dakwah yang disampaikan kepada anak-anak ABK dapat disajikan dilayar yang disorot oleh cahaya infokus akan terlihat oleh para anak-anak ABK SLB C Bina Grahita Leles Garut. Pesan dakwah Seperti tatacara berwudhu, shalat, membaca al-Qura'n, kartun anak islami dan sebagainya dapat ditampilkan di layar yang disorot cahaya infokus Pesan komunikasi terapeutik dalam dakwah pada ABK SLB C Bina Grahita Leles Garut. Berdasarkan hasil observasi pada beberapa kegiatan dakwah pada ABK dengan beberapa pihak SLB C Bina Grahita Leles dapat diambil kesimpulan berkaitan dengan pesan komunikasi terapeutik dalam dakwah pada anak berkebutuhan khusus dalam hal ini pesan komunikasi terpeutik diberikan melalui pendekatan persuasif (bujukan yang halus secara terus menerus). Pesan komunikasi terapeutik disampaikan melalui komunikasi verbal dan nonverbal. Pesan komunikasi terapeutik berupa nasihat baik. Deskripsi kesimpulan dari fokus-fokus penelitian dan diambil abstraksi general, yaitu bahwa, metode komunikasi terapeutik dalam dakwah pada Anak berkebutuhan khusus menggunakan metode persuasif (bujukan secara halus dan terus menerus) dengan pendekatan komunikasi antar personal (interpersonal), media komunikasi terapeutik dalam dakwah pada anak berkebutuhan khusus yaitu Infocus, Handphon shalat berjamaah dan dzikir bersama sebagai upaya terapi energi spritual dalam penyampaian dakwah sehingga ABK tidak hanya mudah memahami dakwah melainkan dapat memberi stimulus pada perkembangannya sehingga dapat menimbulkan semangat hidup, menjauh dari kebiasaan melamun yang disertai sedih dan marah. Media komunikasi terapeutik dalam dakwah pada anak berkebutuhan khusus diberikan mealalui pendekatn persuasif (bujukan secara harus dan terus menerus) yang disampaikan melalui komunikasi verbal dan nonverbal dalam bentuk nasihat yang baik. 1. Memberikan pemahaman kepada para mad'u (Anak ABK SLB Bina Grahita Leles Garut) bahwa putus asa dilarang dan berdosa. Anak ABK Tuna Grahita tentu memiliki kekurangan dalam segi kecerdasan dan mental yang di bawah rata-rata. Mereka sulit untuk mengingat sesuatu, emosi yang tidak menentu serta kekurangan-kekurangan lainnya baik fisik maupun psikis. Tentu hal ini menimbulkan beban fikiran , rasa rendah diri dan putus asa bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus. Karena itu para da'I harus mampu membangkitkan semangat, motivasi serta pengendalian emosi anak ABK. 2. Memberikan Pemahaman Pentingnya Bersabar Ketika Diuji Oleh Allah Hidup di dunia ini merupakan ujian, hidup dan mati pun hakikatnya adalah ujian. Ketika diuji dengan keterbatasan baik mental maupun kecerdasan, maka harus diterima dengan penuh kesabaran. Ibu Lia menemukan ada anak ABK yang kurang sabar dalam menanggung beban mentalnya. Maka dalam hal ini Ibu Lia memberikan pesan kepada anak ABK tersebut dengan komunikasi tarapeutik. Sabar yang dimaksud adalah menahan diri dari rasa gelisah, cemas, marah, Manahan lidah dari keluh kesah, dan menahan anggota tubuh dari perbuatan munkar. Kata sabar disebutkan sebanyak 74 kali di dalam al-Qur'an. Hal ini menunjukkan akan pentingnya memiliki sikap sabar. Allah menyediakan pahala yang sangat besar bagi orang-orang yang mampu bersabar. Allah tidak akan memberikan beban dan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya. Maka ketika memberikan ujian, hendaknya bersyukur bahwa Allah masih menyayangi hambaNya. Apalagi dengan bersabar membuat seseorang menjadi dewasa. Sebab sabar merupakan bentuk pengendalian diri yang mencerminkan kekuatan jiwanya. Semakin kuat jiwa seseorang, maka semakin kuat kesabaran dalam menghadapi ujian kehidupan. Orang-orang yang sabar adalah yang mampu mengendalikan dirinya dari ucapan dan perbuatan yang mengundang murka Tuhan. Disebabkan tidak menerima akan ketentuanNya yang menimpa dirinya.di mana dalam kehidupan pasti akan menghadapi musibah baik besar maupun kecil. Yang menjadi masalah bukan musibah yang datang, akan tetapi bagaimana mensikapi musibah tersebut dengan penuh kesabaran. 3. Memahamakan bahwa setiap manusia Memiliki Tanggung Jawab Sebagai Makhluk Pada Allah. Pesan yang disampaikan oleh para da'i kepada para mad'unya di SLB Bina Grahita Leles Garut, selain daripada memberikan pemahaman tentang putus asa adalah dosa, serta pentingnya bersabar ketika menerima cobaan dengan keterbatasan fisik maupun psikis. Mad'u, dalam hal ini adalah anak-anak ABK SLB Bina Grahita Leles Garut perlu di sadarkan tentang eksistensi manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Pengabdian kepada Allah tidak lepas dari setiap manusia manapun. Karena hal ini merupakan perintah dasar dalam agama islam. Apa yang dilakukan dalam dakwah terhadap anak ABK ini didasari oleh firman Allah Az-Zariyat ayat 56: ????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ?????????????? Artinya: Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Dalam ayat tersebut di atas,maka manusia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah untuk semata-mata untuk mengabdi kepada-Nya. Tanggungjawab ini merupakan konsekuensi hidup sebagai manusia yang diberikan berbagai kenikmata dan keunggulan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Ibadah pada hakikatnya adalah untuk melatih kecerdasan spiritual. Dimana dengan kecerdasan spiritual, manusia akan sukses di akhirat, walaupaun secara pendangan dunia,banyak kekurangan dan keterbatasan sepertiyang dialami oleh anak-anak ABK. 4. Penyadaran Memiliki Masa Depan Yang Cerah. Anak-anak ABK dengan segala keterbatasannya tentu akan sulit menentukan masa depan yang dicita-citakan. Mereka tentu tidak bisa merancang apa yang akan dilakukannya setelah dewasa atau masa tua mereka. Mau jadi apa, hendak kemana dan bagaimana menjalani gelombang kehidupan ini, tentu bagi ABK menjadi problem tersendiri. Jika dibiarkan mereka hanya akan menjadi beban di masayang akan datang baik bagi keluarganya maupun bagi masyarakat. Disinilah peran dakwah dengan komunikasi interpersonal diperlukan untuk memberikan motivasi, harapan, dorongan, dan semangat untuk tetap hidup survive di tengah gelombang kehidupan. Karena masa depan adalah suatu tujuan yang harus diusahan dan diperjuangkan, bukan Cuma angan-angan dan khayalan. Manusia tidak boleh menunggu dan pasrah dengan keadaan agar Allah mengubah masa depannya, tanpa melakukan usaha dan perbaikan sejak sekarang. Kepasrahan hanya dapat dilakukan setelah melakukan ikhtiar dan usahan dengan semaksimal mungkin. Ini yang disebut dengan tawakkal. Jika usaha dengan sekuat tenaga dan hasilnya tak sesaui harapan, maka harus diyakini bahwa Allah tak akan menyia-nyiakan usaha hambaNya. 5. Memberikan hiburan bahwa yang Memiliki Keterbatasan (Ketunaan) Ada Hikmahnya, serta meyakinakan Bahwa Kemulian Bukan Dilihat Dari Sempurnanya Fisik Melainakan Dari Banyaknya Manusia Beribadah Pada Allah, Dalam memberikan pesan kepada ABK, harus ditekankan bahwa segala sesuatu yang Allah jadikan pasti ada hikmah, pelajaran dan rahasia di balik semua peristiwa. Allah tidak mungkin mendzalimi hamba-hambaNya. Keterbatasan yang diberikan Allah kepada Anak ABK mungkin sebagai pemuliaan kepada hambanya. Disebabkan mereka bisa bersabar dan menerima ujian dari Allah. Karena tidak ada manusia yang mengharapkan lahir dalam keadaan cacat dan keterbatasan. Semuanya ingin lahir dalam keadaan baik dan normal, baik fisik maupun psikis. Kemuliaan seseorang bukan dilihat oleh normal dan tidak normalnya, baik dan buruknya fisik dan keterbatasan mental. Bukan juga kekayaan, jabatan, kecerdasan dan sebagainya. Dalam hal ini perlu dakwah kepada ABK diberikan nasihat tentang penilaian kemuliaan dan kehidupan. Mungkin dari pandangan manusia bahwa terhormat tidak seseorang diukur dengan normal dan tidaknya. Akan tetapi di sisi Allah orang yang paling mulia dan tinggi derajatnya hanyalah orang-orang yang bertakwa. Allah berfriman dalam surat Al-Hujurot ayat 13 : ??????????? ???????? ?????? ???????????? ????? ?????? ?????????? ?????????????? ????????? ?????????????? ?????????????? ? ????? ???????????? ?????? ??????? ??????????? ?????? ??????? ???????? ???????? Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti. Berdasarkan ayat di atas, maka orang yang paling mulia dan paling berharga bukan yang paling cantik atau ganteng, buka yang paling cerdas dan paling pintar. Akan tetapi yang paling berharga di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa, tentu yang beriman kepada-Nya. Dalam hal ini para da'i di SLB Bina Grahita Leles memberikan nasihat- nasihat kepada para mad'unya sebagaimana dalam komunikasi tarapeutik terjadi saling kepercayaan antara klien dengan pasien. Maka bapa Ustadz Gofar, sebagai salah seorang dai' sering menerima curhatan hati dari para anak ABK tentang keadaan perasaan mereka. Pesan ialah pernyataan yang disampaikan pengirim kepada penerima. Pernyataan bisa dalam bentuk verbal maupun nonverbal yang bisa dimengerti oleh penerima. Dalam bahasa inggris pesan biasa diartikan dengan kata message, conten, atau information. Atau segala sesuatu yang disampaikan oleh seseorang dalam bentuk symbol yang dipersepsi dan diterima oleh khalayak dalam serangkaian makna. Metode komunikasi tarapeutik dalam dakwah pada ABK menggunakan metode persuasif dengan pendekatan komunikasi interpersonal. Dimana komunikasi interpesonal dalam dunia da'wah sama dengan da'wah infirady (fardiyyah), yaitu da'wah yang menekankan pada individu mad'u tertentu. Komunkasi interpersonal dilakukan antara komunikator dengan komunikan secara langsung bertatap muka, yang memungkinkan setiap peserta atau klien dapat menangkap reaksi orang secara langsung, baik verbal maupun non verbal. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip da'wah infirady. Dalam hal ini para guru dan pembimbing sebagai da'i dan sebagai pelaku komunikasi sesuai dengan konsep diri (Self), merupakan hubungan komunikasi dengan dilihat dari sudut fenomenologis. Teori diri yang dikembangkan oleh Carl Ragers cenderung pada aspek helping relationship (hubungan tolong menolong) yang terpusat pada klien, dalam hal ini siswa-siswi ABK SLB Bina Grahita Leles Garut. Media komunikasi terapeutik dalam dakwah Pada ABK SLB C Bina Grahita Leles yaitu shalat berjamaah, dzikir bersama, mendengarkan murottal al qur'an, handphone, dan infocus. Penggunaan media ini tidak hanya untuk mempermudah penyampaian dakwah melainkan bentuk upaya untuk memberikan stimulus pada perkembangan mental mereka juga sebagai terapi energi positif kedalam jiwanya bahwa ABK harus selalu percaya diri, empati, gotong royong, kesetaraan derajat, kerukunan dan persatuan, kelembutan hati, silaturahmi, kemudahan dalam memahami pesan dan informasi, dan fokus dalam satu masalah. Pesan komunikasi terapeutik mengandung nasihat-nasihat dan motivasi kepada ABK untuk membangun jiwa mereka kuat. Sehingga mampu bangkit dari keterpurukan dan dapat menghadapi keterbatasan yang ada pada dirinya dengan ringan. Nasihat- nasihat yang berisi motivasi agar selalu semangat dan tidak putus, selalu bersabar dengan mengingat bahwa ada hikmah dibalik semua takdir yang diberikan, selalu memahamkan bahwa tetap manusia itu memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengabdi kepada Allah,serta bersemangat menatap masa depan yang cerah KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, serta setelah dilakukan analisis data, maka diketahui bahwa Dakwah Pada Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Perspektif Komunikasi Terapeutik Di SLB C Bina Grahita Leles Garut dilakukan melalui metode, media dan pesan komunikasi terapeutik. Melalui metode komunikasi terapeutik berupa komunikasi persuasif yang disertai pendekatan komunikasi interpersonal. Melalui media komunikasi terapeutik berupa shalat berjamaah, dzikir bersama,murottal qur'an, infokus, handphone. Selanjutnya melalui pesan komunikasi terapeutik berupa nasihat baik yang dapat menbangkitkan jiwa Anak Berkebutuhan Khusus. Selanjutnya dijadikan titik tolak dalam dakwah pada Anak berkebutuhan khusus sebagai unit analisis penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Metode komunikasi tarapeutik dalam dakwah pada ABK menggunakan metode persuasif dengan pendekatan komunikasi interpersonal. Dimana komunikasi interpesonal dalam dunia da'wah sama dengan da'wah infirady (fardiyyah), yaitu da'wah yang menekankan pada individu mad'u tertentu. 2. Media komunikasi terapeutik dalam dakwah Pada ABK SLB C Bina Grahita Leles yaitu shalat berjamaah, dzikir bersama, mendengarkan murottal al qur'an, handphone, dan infocus. Penggunaan media ini tidak hanya untuk mempermudah penyampaian dakwah melainkan bentuk upaya untuk memberikan stimulus pada perkembangan mental mereka juga sebagai terapi energi positif kedalam jiwanya bahwa ABK harus selalu percaya diri, empati, gotong royong, kesetaraan derajat, kerukunan dan persatuan, kelembutan hati, silaturahmi, kemudahan dalam memahami pesan dan informasi, dan fokus dalam satu masalah. 3. Pesan komunikasi terapeutik mengandung nasihat-nasihat dan motivasi kepada ABK untuk membangun jiwa mereka kuat. Sehingga mampu bangkit dari keterpurukan dan dapat menghadapi keterbatasan yang ada pada dirinya dengan ringan. Nasihat-nasihat yang berisi motivasi agar selalu semangat dan tidak putus, selalu bersabar dengan mengingat bahwa ada hikmah dibalik semua takdir yang diberikan, selalu memahamkan bahwa tetap manusia itu memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengabdi kepada Allah,serta bersemangat menatap masa depan yang cerah REFERENSI Abdul Karim Zaidân. (1988). Ushűl ad-Da'wah: Mu'assasah ar-Risalah. Agustina, F., Asrofi, A., Hakim, M. N., & Amien, S. (2024). Digital-based Muhammadiyah da'wah for generation z. AMCA Journal of Science and Technology, 2. Al-Banna, H. (n.d.). Majmu'ah Rasa'il al-Imam al-Syahid Hasan al-Banna. Al-Rawi, M. (n.d.). al-Da'wah al-Islamiyyah Da'wah 'Alamiyyah. Andi Hilwa. (2012). HUBUNGAN PELAKSANAAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT PELAKSANA DENGAN KEPUASAN PASIEN DI RUANG PERAWATAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH HAJI MAKASSAR TAHUN 2012. UIN ALAUDDIN MAKASSAR. Azizah, A. N., Hidayatulloh, R., & Hasyim, U. A. A. (2024). Development of Teaching Materials Using Canva Application for Students' Reading Comprehension. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 1. Basit, A., & Suwito. (2011). Dakwah remaja : kajian remaja dan institusi dakwah remaja. Cahyati Nika, K. R. (2020). Peran Orang Tua Dalam Menerapkan Pembelajaran Di Rumah Saat Pandemi Covid 19. Jurnal Golden Age. https://doi.org/10.29408/jga.v4i01.2203 Dewi, M. (2020). ANALISIS KERJA SAMA GURU DENGAN ORANG TUA DALAM PEMBELAJARAN ONLINE DI ERA COVID 19 DI MI AZIZAN PALEMBANG. JEMARI (Jurnal Edukasi Madrasah Ibtidaiyah). https://doi.org/10.30599/jemari.v2i2.661 HAMZAH, A. (2020). METODE PENELITIAN FENOMENOLOGI (A. RIYANTO (ed.); 1st ed.). Literasi Nusantara. Hardiansyah, F. (n.d.). Masâ€TM odi. 2020. Implementasi Nilai Religius Melalui Budaya Sekolah: Studi Fenomenologi. Jurnal Pengembangan Pendidikan Dasar, 1, 16-24. Hayati, N., & Setiawan, D. (2022). Dampak Rendahnya Kemampuan Berbahasa dan Bernalar terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6(5), 8517-8528. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i5.3650 In Setyorini. (2020). PANDEMI COVID-19 DAN ONLINE LEARNING : APAKAH BERPENGARUH TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN PADA KURUKULUM 13? Jiemar. Jalil, A. (2016). Karakter Pendidikan untuk Membentuk Pendidikan Karakter. Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam, 6(2), 175-194. https://doi.org/10.21580/nw.2012.6.2.586 Lalongkoe, M. R. dan T. A. E. (2014). Komunikasi Terapeutik Pendekatan Praktis Praktisi Kesehatan. Larry Poston. (1992). Islamic Da'wah in the West. Ning Mukaromah. (2019). PENGARUH KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA SMA TERPADU BUMI DARUN NAJAH LEKOK PASURUAN. Tarbawi, Jurnal Studi Pendidikan Islami, 07(02), 35. http://ejournal.kopertais4.or.id/tapalkuda/index.php/tarbawi/article/view/3488 Nugraha, A., & Rahman, F. A. (2017). Strategi Kolaborasi Orangtua Dengan Konselor Dalam Mengembangkan Sukses Studi Siswa. Jurnal Konseling GUSJIGANG, 3(1). Psikologi, P. M., Pascasarjana, S., & Surakarta, U. M. (2017). Dinamika penerimaan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. 4(1), 18-23. Rusdiana, H. dan M. N. F. (2012). Model Pendidikan Anak dalam Kandungan. http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng-8ene.pdf?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.regsciurbeco.2008.06.005%0Ahttps://www.researchgate.net/publication/305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELESTARI Safitri, F., & Yuniwati, C. (2019). Pengaruh Motivasi dan Dukungan Keluarga terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa Tingkat II Prodi D-III Kebidanan Universitas Ubudiyah Indonesia. Journal of Healthcare Technology and Medicine, 2(2), 154. https://doi.org/10.33143/jhtm.v2i2.248 Sun'iyah, S. L. (2020). Sinergi Peran Guru Dan Orang Tua Dalam Mewujudkan Keberhasilan Pembelajaran Pai Tingkat Pendidikan Dasar Di Era Pandemi Covid-19. DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan Dan Humaniora. Syatori, A. (2014). Ekologi Politik Masyarakat Pesisir (Analisis Sosiologis Kehidupan Sosial-ekonomi dan Keagamaan Masyarakat Nelayan Desa Citemu Cirebon ). Book Holistik, 15(2), 241. Zakariyah, A., & Hamid, A. (2020). Kolaborasi Peran Orang Tua dan Guru dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Online di Rumah. Intizar. https://doi.org/10.19109/intizar.v26i1.5892 Ashlach : Journal of Islamic Education Imas Ismahayati ¦ Dakwah Pada Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Perspektif Komunikasi Terapeutik Di Sekolah Luar Biasa Ashlach : Journal of Islamic Education Imas Ismahayati ¦ Dakwah Pada Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Perspektif Komunikasi Terapeutik Di Sekolah Luar Biasa 2 | | 3 Journal of Islamic Education Vol. 01 No. 02 Oktober 2023 | Hal. 22-32 e-ISSN/p- ISSN : 2988-1285/2988-1277 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/ashlach Hak cipta (c) 2025 Ashlach : Jurnal Pendidikan Islam. Karya ini dilisensikan di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 .