Vol. 4, No. 1, 2026 | Hal 128 - 141 DOI: https://doi.org/10.55757/ashlach.v4i01.893 Keaktifan dalam Organisasi Siswa dan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam: Studi Korelasional pada Sekolah Islam Aulia Rosyida1* dan Sukari2 1* Institut Islam Mamba'ul 'Ulum Surakarta, Indonesia 2 Institut Islam Mamba'ul 'Ulum Surakarta, Indonesia Korespondensi*: auliarosyidarosss@gmai.com Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submited: Januari 23, 2026 Revision: Maret 30, 2026 Accepted: April 20, 2026 Publish: April 30, 2026 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat keaktifan siswa dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Islam 1 Surakarta Tahun Ajaran 2025/2026. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 30 siswa yang aktif dalam kegiatan OSIS dan ditentukan menggunakan teknik total sampling. Data keaktifan OSIS diperoleh melalui angket yang telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas (Cronbach's Alpha = 0,912), sedangkan data hasil belajar PAI diperoleh melalui dokumentasi nilai siswa. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji linearitas, dan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan IBM SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keaktifan OSIS memiliki nilai rata-rata 79,80, sedangkan hasil belajar PAI memiliki nilai rata-rata 81,73. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,155 dengan nilai signifikansi p = 0,413 (> 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara keaktifan OSIS dan hasil belajar PAI, namun hubungan tersebut berada pada kategori sangat lemah dan tidak signifikan secara statistik. Dengan demikian, keaktifan siswa dalam organisasi sekolah tidak secara langsung berhubungan dengan hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa capaian belajar PAI kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor lain, seperti motivasi belajar, regulasi diri, lingkungan keluarga, dan dukungan akademik. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap kajian pendidikan Islam mengenai hubungan antara aktivitas organisasi siswa dan capaian akademik keagamaan pada konteks sekolah Islam. Kata Kunci : Organisasi siswa, hasil belajar, pendidikan agama islam, sekolah islam Abstract This study aimed to examine the relationship between students' participation in the Student Council Organization (OSIS) and their achievement in Islamic Religious Education (IRE) at SMA Islam 1 Surakarta in the 2025/2026 academic year. The study employed a quantitative approach with a correlational research design. The sample consisted of 30 students actively involved in OSIS activities and was selected using a total sampling technique. Data on organizational participation were collected through a questionnaire that met the validity and reliability requirements (Cronbach's Alpha = 0.912), while data on IRE achievement were obtained from students' academic records. Data were analyzed using descriptive statistics, normality testing, linearity testing, and Pearson Product Moment correlation with the assistance of IBM SPSS software. The findings revealed that the mean score of students' organizational participation was 79.80, while the mean score of Islamic Religious Education achievement was 81.73. The correlation analysis yielded a coefficient of r = 0.155 with a significance value of p = 0.413 (> 0.05). These results indicate a positive but very weak and statistically insignificant relationship between participation in student organizations and achievement in Islamic Religious Education. Therefore, students' involvement in school organizations was not directly associated with their academic achievement in Islamic Religious Education. The findings suggest that IRE achievement is likely influenced by other factors, including learning motivation, self-regulation, family environment, and academic support. This study contributes to the growing body of Islamic education research by providing empirical evidence regarding the relationship between student organizational participation and religious academic achievement within the context of Islamic secondary schools. PENDAHULUAN Pendidikan abad ke-21 tidak lagi hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan akademik, tetapi juga menekankan pengembangan keterampilan sosial, kepemimpinan, kolaborasi, komunikasi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang cepat. Dalam konteks tersebut, sekolah dituntut mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan peserta didik secara holistik melalui integrasi kegiatan akademik dan nonakademik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam aktivitas sekolah yang bersifat partisipatif mampu meningkatkan keterikatan terhadap sekolah, memperkuat motivasi belajar, serta mendukung pencapaian akademik yang lebih baik. Oleh karena itu, partisipasi siswa dalam berbagai kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler menjadi salah satu indikator penting dalam pengembangan kualitas pendidikan modern (Ryan & Deci, 2020; Sandoval et al., 2026; Verner-Filion et al., 2025; Wang & Eccles, 2012). Pada tingkat internasional, berbagai studi menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam organisasi sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler berkontribusi terhadap perkembangan kompetensi sosial, kemampuan kepemimpinan, dan prestasi akademik. Eccles et al. (2003) menjelaskan bahwa aktivitas ekstrakurikuler menyediakan ruang bagi siswa untuk mengembangkan identitas diri, keterampilan interpersonal, serta komitmen terhadap tujuan pendidikan. Temuan tersebut diperkuat oleh Farb dan Matjasko (2012) yang menyimpulkan bahwa partisipasi dalam kegiatan sekolah dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar sekaligus mengurangi berbagai perilaku negatif selama masa remaja. Dengan demikian, organisasi siswa dipandang sebagai salah satu instrumen pendidikan yang memiliki nilai strategis dalam mendukung perkembangan akademik maupun nonakademik peserta didik. Dalam konteks Indonesia, pengembangan organisasi siswa diwujudkan melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) yang berfungsi sebagai wadah pembinaan kepemimpinan, tanggung jawab, dan partisipasi aktif siswa dalam kehidupan sekolah. Keberadaan OSIS tidak hanya diarahkan untuk mengembangkan keterampilan organisasi, tetapi juga untuk menumbuhkan karakter, kemandirian, dan kemampuan bekerja sama. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa yang aktif dalam organisasi cenderung memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik, rasa tanggung jawab yang tinggi, serta kemampuan manajemen diri yang lebih berkembang dibandingkan siswa yang kurang aktif dalam kegiatan organisasi (Dewanti et al., 2025; Fauzi et al., 2024; La Ode et al., 2020). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa organisasi siswa memiliki potensi untuk mendukung keberhasilan pendidikan secara lebih luas. Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa keterlibatan siswa dalam organisasi sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler masih menjadi bagian penting dalam pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik. Fauzi et al. (Fauzi et al., 2024) menemukan bahwa partisipasi siswa dalam organisasi sekolah berkorelasi dengan peningkatan tanggung jawab, kemampuan komunikasi, dan motivasi akademik. Temuan serupa dilaporkan oleh Dewanti et al. (Dewanti et al., 2025) yang menunjukkan bahwa organisasi siswa berkontribusi terhadap pengembangan kepemimpinan dan soft skills yang dibutuhkan dalam kehidupan akademik maupun sosial. Di lingkungan sekolah Islam, aktivitas organisasi juga sering dimanfaatkan sebagai sarana internalisasi nilai-nilai religius, pembentukan karakter, dan penguatan budaya sekolah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa organisasi siswa tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap kegiatan pendidikan, tetapi telah menjadi salah satu instrumen pembinaan peserta didik yang memperoleh perhatian cukup besar dalam praktik pendidikan di Indonesia. Meskipun demikian, hubungan antara keaktifan organisasi dan hasil belajar masih menjadi perdebatan dalam berbagai penelitian. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa aktivitas organisasi mampu meningkatkan prestasi akademik melalui peningkatan motivasi dan keterampilan pengelolaan diri. Namun, penelitian lain menemukan bahwa keterlibatan organisasi yang tinggi dapat mengurangi waktu belajar sehingga berpotensi menurunkan pencapaian akademik apabila tidak diimbangi dengan kemampuan manajemen waktu yang memadai (Deng & Li, 2025; Lastra et al., 2024; Vispo & Macalinao, 2024). Perbedaan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengaruh aktivitas organisasi terhadap hasil belajar belum dapat disimpulkan secara universal dan masih memerlukan kajian lebih lanjut pada berbagai konteks pendidikan yang berbeda. Dalam perspektif pendidikan Islam, proses pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter religius dan pengembangan kepribadian peserta didik secara menyeluruh. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam membentuk nilai-nilai keimanan, akhlak, dan tanggung jawab sosial yang menjadi fondasi kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, keberhasilan pembelajaran PAI tidak semata-mata diukur melalui penguasaan materi, tetapi juga melalui internalisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Agama Islam yang efektif diyakini mampu menghasilkan peserta didik yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, spiritual, dan sosial (Abdalla et al., 2018; Azzaky et al., 2024; Munawir et al., 2024; Sahin, 2018; Septianingsih et al., 2024). Dalam konteks sekolah Islam, keberhasilan pendidikan juga berkaitan dengan kemampuan sekolah membangun budaya religius yang mendukung pembentukan karakter peserta didik. Penguatan karakter religius melalui budaya sekolah, organisasi siswa, dan pembiasaan nilai-nilai Islam menjadi bagian penting dalam proses pendidikan yang berkelanjutan (Anti & Arifin, 2025; Hadi & Prayogi, 2025; Warsah et al., 2024). Berbagai ahli menegaskan bahwa aktivitas organisasi merupakan sarana penting dalam proses pembelajaran sosial dan pembentukan karakter peserta didik. Astin (Astin, 2014) melalui teori student involvement menjelaskan bahwa semakin tinggi keterlibatan siswa dalam aktivitas pendidikan, semakin besar peluang mereka memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Pandangan tersebut diperkuat oleh Dugan dan Komives (Dugan & Komives, 2010) yang menyatakan bahwa keterlibatan dalam organisasi berkontribusi terhadap perkembangan kepemimpinan, tanggung jawab sosial, dan kemampuan pengambilan keputusan. Dengan demikian, organisasi siswa dapat dipandang sebagai salah satu lingkungan belajar yang mendukung perkembangan kompetensi peserta didik di luar ruang kelas. Di sisi lain, hasil belajar merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Selain aktivitas organisasi, hasil belajar dipengaruhi oleh motivasi belajar, efikasi diri, dukungan sosial, lingkungan keluarga, serta kemampuan manajemen diri siswa. Ryan dan Deci (Ryan & Deci, 2020) menjelaskan bahwa motivasi intrinsik memiliki peran penting dalam menentukan kualitas keterlibatan siswa dalam proses belajar. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa motivasi, konsep diri, dan lingkungan keluarga memiliki kontribusi signifikan terhadap pencapaian hasil belajar siswa (Aspanizam & Ahmed, 2024; Mahdi & Hamdan, 2025; Zhao et al., 2023). Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa aktivitas organisasi dan ekstrakurikuler memiliki hubungan yang beragam dengan prestasi akademik. Verner-Filion et al. (Verner-Filion et al., 2025) menemukan bahwa keterlibatan dalam aktivitas ekstrakurikuler yang didukung oleh motivasi yang kuat berkontribusi terhadap peningkatan berbagai indikator keberhasilan siswa. Hasil serupa juga menunjukkan bahwa partisipasi dalam organisasi sekolah dapat mendukung perkembangan kepemimpinan, keterampilan sosial, dan performa akademik peserta didik. Temuan-temuan tersebut memperkuat asumsi bahwa aktivitas organisasi memiliki potensi memberikan dampak positif terhadap perkembangan siswa (Dewanti et al., 2025; Fauzi et al., 2024; Sandoval et al., 2026). Sebaliknya, beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda. Vispo dan Macalinao (Vispo & Macalinao, 2024) menemukan bahwa tingkat keterlibatan siswa dalam aktivitas ekstrakurikuler tidak selalu berkorelasi secara signifikan dengan pencapaian akademik. Deng dan Li (Deng & Li, 2025) juga menunjukkan bahwa pengaruh aktivitas organisasi terhadap prestasi akademik dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung lainnya, sehingga hubungan yang terbentuk tidak selalu bersifat langsung. Inkonsistensi temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan penelitian yang perlu dikaji lebih lanjut, khususnya pada konteks pendidikan Islam dan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan mata pelajaran umum. Selain itu, kajian bibliometrik terbaru menunjukkan bahwa penelitian pendidikan Islam masih lebih banyak berfokus pada pembelajaran, karakter, dan nilai-nilai keagamaan, sementara kajian yang menghubungkan aktivitas organisasi siswa dengan capaian akademik keagamaan masih relatif terbatas (Nirwana et al., 2024). Kesenjangan penelitian semakin terlihat ketika sebagian besar studi terdahulu lebih berfokus pada hubungan aktivitas organisasi dengan prestasi akademik secara umum, pengembangan kepemimpinan, atau pembentukan karakter siswa. Sementara itu, penelitian yang secara khusus menguji hubungan antara keaktifan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam masih sangat terbatas. Selain itu, temuan penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang belum konsisten; sebagian penelitian melaporkan adanya pengaruh positif aktivitas organisasi terhadap prestasi akademik, sedangkan penelitian lainnya menemukan hubungan yang lemah atau tidak signifikan. Inkonsistensi tersebut menunjukkan bahwa mekanisme hubungan antara aktivitas organisasi dan hasil belajar belum sepenuhnya dipahami, terutama pada konteks sekolah Islam yang mengintegrasikan tujuan akademik dan pembentukan karakter religius secara bersamaan. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya menguji secara empiris hubungan antara keaktifan OSIS dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada sekolah berbasis Islam, sehingga dapat memberikan perspektif baru mengenai sejauh mana keterlibatan organisasi siswa berkontribusi terhadap capaian akademik keagamaan. Secara teoretis, penelitian ini didukung oleh teori keterlibatan siswa (student involvement theory) yang menekankan pentingnya partisipasi aktif siswa dalam berbagai aktivitas pendidikan untuk mendukung perkembangan akademik dan personal (Astin, 2014). Selain itu, Self-Determination Theory menjelaskan bahwa kualitas motivasi yang dimiliki siswa akan memengaruhi tingkat keterlibatan mereka dalam berbagai aktivitas serta hasil belajar yang dicapai (Ryan & Deci, 2020). Integrasi kedua perspektif tersebut memberikan landasan konseptual untuk memahami bagaimana keaktifan siswa dalam organisasi sekolah dapat berhubungan dengan hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya berupaya menguji hubungan antarvariabel, tetapi juga memperluas pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran PAI pada lingkungan sekolah Islam dan berupaya mengisi kesenjangan empiris mengenai hubungan antara keaktifan organisasi siswa dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam pada konteks sekolah Islam yang masih relatif terbatas. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan tingkat keaktifan siswa dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam di SMA Islam 1 Surakarta Tahun Ajaran 2025/2026. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan kajian pendidikan Islam, khususnya mengenai hubungan antara aktivitas organisasi siswa dan hasil belajar PAI, sekaligus menjadi bahan pertimbangan bagi sekolah dalam mengembangkan program kesiswaan yang seimbang antara pembentukan karakter, penguatan kepemimpinan, dan pencapaian akademik siswa.. METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional untuk menganalisis hubungan antara tingkat keaktifan siswa dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam (PAI). Pendekatan kuantitatif dipilih karena penelitian berfokus pada pengukuran variabel secara objektif serta pengujian hubungan antarvariabel berdasarkan data numerik. Pengumpulan Data Data penelitian dikumpulkan melalui angket dan dokumentasi. Angket digunakan untuk mengukur tingkat keaktifan siswa dalam organisasi OSIS yang meliputi partisipasi dalam kegiatan organisasi, keterlibatan dalam program kerja, tanggung jawab terhadap tugas organisasi, kehadiran dalam kegiatan, serta kontribusi dalam pengambilan keputusan organisasi. Sementara itu, data hasil belajar Pendidikan Agama Islam diperoleh melalui dokumentasi nilai PAI yang diterbitkan oleh sekolah. Sampel, Populasi, dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMA Islam 1 Surakarta pada Tahun Ajaran 2025/2026. Populasi penelitian terdiri atas seluruh siswa yang aktif dalam kepengurusan maupun kegiatan OSIS di SMA Islam 1 Surakarta. Mengingat jumlah populasi relatif terbatas, penelitian menggunakan teknik total sampling sehingga seluruh anggota populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Dengan demikian, jumlah sampel penelitian sama dengan jumlah populasi yang memenuhi kriteria penelitian. Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan teknik qualitative content analysis yang dipadukan Analisis data dilakukan secara bertahap meliputi analisis deskriptif dan analisis inferensial. Analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan tingkat keaktifan OSIS dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Sebelum pengujian hipotesis dilakukan, data terlebih dahulu diuji menggunakan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji linearitas untuk memastikan terpenuhinya asumsi statistik. Selanjutnya, pengujian hipotesis dilakukan menggunakan korelasi Product Moment Pearson dengan bantuan perangkat lunak Statistical Package for the Social Sciences (SPSS). Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 0,05 untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan antara keaktifan siswa dalam OSIS dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Instrumen Penelitian Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket/kuesioner, tes. Validitas dan Reliabilitas Instrumen penelitian terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum digunakan dalam pengumpulan data. Uji validitas dilakukan menggunakan korelasi Product Moment Pearson untuk mengetahui tingkat keterkaitan antara setiap butir pernyataan dengan skor total. Adapun uji reliabilitas dilakukan menggunakan koefisien Cronbach's Alpha. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh item instrumen memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas sehingga layak digunakan sebagai alat pengumpulan data penelitian. HASIL PENELITIAN Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Penelitian ini melibatkan 30 siswa yang aktif mengikuti kegiatan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) di SMA Islam 1 Surakarta. Analisis statistik deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran umum mengenai tingkat keaktifan OSIS dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam (PAI). Hasil analisis menunjukkan bahwa variabel keaktifan OSIS memiliki skor minimum 66 dan skor maksimum 94 dengan nilai rata-rata (M = 79,80) dan standar deviasi (SD = 7,364). Nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa tingkat keaktifan siswa dalam kegiatan OSIS berada pada kategori cukup baik. Standar deviasi yang relatif kecil menunjukkan bahwa variasi skor responden tidak terlalu jauh dari nilai rata-ratanya sehingga data cenderung homogen. Selain itu, nilai skewness sebesar 0,063 menunjukkan distribusi data yang relatif simetris. Sementara itu, hasil belajar Pendidikan Agama Islam memiliki skor minimum 76 dan maksimum 89 dengan nilai rata-rata (M = 81,73) dan standar deviasi (SD = 3,290). Nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa capaian hasil belajar PAI siswa tergolong baik. Standar deviasi yang lebih kecil dibandingkan variabel keaktifan OSIS menunjukkan bahwa nilai PAI siswa relatif seragam. Distribusi data juga cenderung normal dengan nilai skewness sebesar 0,658 dan kurtosis sebesar -0,119. Hasil Statistik Deskriptif Variabel Penelitian bisa dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian Variabel N Min Max Mean SD Keaktifan OSIS 30 66 94 79,80 7,364 Hasil Belajar PAI 30 76 89 81,73 3,290 Validitas dan Reliabilitas Instrumen Sebelum digunakan dalam penelitian, instrumen keaktifan OSIS terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitasnya. Berikut Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen yang disajikan pada tabel 2. Tabel 2. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Keterangan Hasil Jumlah item 20 Rentang r-hitung 0,397-0,812 r-tabel 0,361 Status Valid Cronbach Alpha 0,912 Status Reliabel Pada tabel 2. Hasil uji validitas menunjukkan bahwa seluruh 20 item pernyataan memiliki nilai r-hitung lebih besar daripada r-tabel (0,361), dengan rentang nilai korelasi antara 0,397 sampai 0,812. Dengan demikian, seluruh item instrumen dinyatakan valid dan layak digunakan untuk mengukur variabel keaktifan OSIS. Selanjutnya, hasil uji reliabilitas menggunakan Cronbach's Alpha memperoleh nilai sebesar 0,912. Nilai tersebut melebihi batas minimum 0,60 sehingga instrumen penelitian dinyatakan memiliki tingkat reliabilitas yang sangat tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang baik dan dapat digunakan sebagai alat pengumpulan data penelitian. Hasil Uji Prasyarat Analisis Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Tests of Normality Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig. Total Hasil Angket .116 30 .200* .965 30 .408 Nilai Pelajaran PAI .168 30 .031 .938 30 .083 *. This is a lower bound of the true significance. a. Lilliefors Significance Correction Pada Tabel 3, uji normalitas dilakukan menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan Shapiro-Wilk. Pada variabel keaktifan OSIS diperoleh nilai signifikansi Shapiro-Wilk sebesar 0,408, sedangkan pada variabel hasil belajar PAI diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,083. Kedua nilai tersebut lebih besar dari 0,05 sehingga data dinyatakan berdistribusi normal. Dengan demikian, asumsi normalitas terpenuhi. Tabel 4. Hasil Uji Linieritas ANOVA Table Sum of Squares df Mean Square F Sig. Total Hasil Angket * Nilai Pelajaran PAI Between Groups (Combined) 1173.600 10 117.360 2.108 .0.78 Linearity 1.551 1 1.551 .028 .869 Deviation from Linearity 1172.049 9 130.228 2.339 .057 Within Groups 1057.867 19 55.677 Total 2231.467 29 Selanjutnya, pada tabel 4, uji linearitas menunjukkan nilai signifikansi pada komponen linearity sebesar 0,869 (> 0,05) dan nilai deviation from linearity sebesar 0,057 (> 0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara keaktifan OSIS dan hasil belajar PAI bersifat linear dan tidak terdapat penyimpangan linearitas yang signifikan. Oleh karena itu, data memenuhi syarat untuk dianalisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan analisis korelasi Pearson Product Moment untuk mengetahui hubungan antara tingkat keaktifan siswa dalam kegiatan OSIS dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Tabel 5. Hasil Uji Korelasi Pearson Product Moment Correlations Total Hasil Angket Nilai Pelajaran PAI Total Hasil Angket Pearson Correlation 1 .155 Sig. (2-tailed) .413 N 30 30 Nilai Pelajaran PAI Pearson Correlation .155** 1 Sig. (2-tailed) .413 N 30 30 Pada tabel 5, Hasil analisis menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,155 dengan nilai signifikansi (p) = 0,413. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,155 menunjukkan adanya hubungan positif antara keaktifan OSIS dan hasil belajar PAI, namun hubungan tersebut berada pada kategori sangat lemah. Selain itu, nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Dengan demikian, hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan adanya hubungan keaktifan OSIS terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam ditolak, sedangkan hipotesis nol (H0) diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam kegiatan OSIS bukan merupakan faktor yang secara langsung menentukan tinggi rendahnya hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Meskipun siswa aktif dalam organisasi sekolah, capaian hasil belajar PAI cenderung dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diukur dalam penelitian ini, seperti motivasi belajar, kemampuan akademik, lingkungan belajar, dan dukungan keluarga. Namun demikian, arah hubungan yang positif menunjukkan bahwa keaktifan organisasi tetap berpotensi memberikan kontribusi terhadap perkembangan siswa, meskipun kontribusi tersebut tidak terbukti signifikan dalam penelitian ini. DISKUSI DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat keaktifan siswa dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Islam 1 Surakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kedua variabel dengan koefisien korelasi sebesar 0,155. Akan tetapi, hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik karena nilai signifikansi yang diperoleh sebesar 0,413 atau lebih besar dari 0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam kegiatan OSIS tidak memiliki hubungan yang berarti dengan hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Dengan kata lain, peningkatan atau penurunan tingkat keaktifan organisasi siswa tidak secara langsung diikuti oleh perubahan hasil belajar PAI yang signifikan. Temuan ini menjadi menarik karena memberikan perspektif yang berbeda dari asumsi umum bahwa keterlibatan organisasi selalu berimplikasi positif terhadap pencapaian akademik siswa. Dari perspektif Student Involvement Theory yang dikemukakan (Astin, 2014) keterlibatan siswa dalam berbagai aktivitas pendidikan memang dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan mendukung perkembangan diri. Namun, teori tersebut tidak menyatakan bahwa seluruh bentuk keterlibatan akan menghasilkan dampak akademik yang sama. Efektivitas keterlibatan sangat bergantung pada kualitas aktivitas yang dijalani, intensitas partisipasi, serta relevansi aktivitas tersebut terhadap tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Dalam konteks penelitian ini, aktivitas OSIS lebih banyak berorientasi pada pengembangan kepemimpinan, kemampuan komunikasi, kerja sama, dan tanggung jawab sosial. Kompetensi tersebut penting bagi perkembangan peserta didik, tetapi tidak selalu berkaitan secara langsung dengan capaian akademik pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Oleh karena itu, meskipun siswa aktif dalam organisasi, aktivitas tersebut belum tentu memberikan kontribusi langsung terhadap peningkatan nilai PAI. Temuan penelitian ini juga dapat dijelaskan melalui Self-Determination Theory yang dikembangkan Ryan dan Deci (Ryan & Deci, 2020). Teori tersebut menekankan bahwa hasil belajar lebih banyak dipengaruhi oleh motivasi intrinsik, regulasi diri, dan keterlibatan siswa dalam aktivitas belajar yang relevan dengan tujuan akademik. Dalam perspektif ini, keaktifan organisasi hanya merupakan salah satu bentuk aktivitas siswa yang belum tentu berkaitan langsung dengan motivasi belajar pada mata pelajaran tertentu. Seorang siswa dapat menjadi pengurus OSIS yang aktif, tetapi pada saat yang sama memiliki tingkat motivasi belajar PAI yang biasa saja. Sebaliknya, siswa yang kurang aktif dalam organisasi dapat memperoleh hasil belajar PAI yang tinggi karena memiliki motivasi religius, kebiasaan belajar yang baik, atau dukungan lingkungan yang lebih kuat. Dengan demikian, hasil belajar PAI tampaknya lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dibandingkan tingkat keterlibatan siswa dalam organisasi sekolah. Hasil penelitian ini berbeda dengan beberapa penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa partisipasi dalam organisasi atau kegiatan ekstrakurikuler berkontribusi terhadap peningkatan prestasi akademik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Chetioui dan Verner-Filion ditemukan bahwa keterlibatan siswa dalam aktivitas ekstrakurikuler dapat meningkatkan berbagai indikator keberhasilan pendidikan melalui penguatan keterampilan sosial dan motivasi belajar (Chetioui et al., 2025; Verner-Filion et al., 2025). Temuan serupa juga dilaporkan oleh Fauzi et al. dan Dewanti et al. yang menunjukkan bahwa siswa yang aktif dalam organisasi cenderung memiliki kemampuan kepemimpinan, tanggung jawab, dan keterampilan interpersonal yang lebih baik (Dewanti et al., 2025; Fauzi et al., 2024). Perbedaan hasil tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan konteks penelitian, karakteristik responden, jenis aktivitas organisasi yang diteliti, maupun indikator akademik yang digunakan sebagai variabel hasil. Sebagian penelitian terdahulu menggunakan prestasi akademik secara umum, sedangkan penelitian ini secara khusus menelaah hasil belajar Pendidikan Agama Islam yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan mata pelajaran lainnya. Di sisi lain, hasil penelitian ini memiliki kesesuaian dengan sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa hubungan antara aktivitas organisasi dan prestasi akademik tidak selalu signifikan. Vispo dan Macalinao (Vispo & Macalinao, 2024) menemukan bahwa tingkat keterlibatan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler tidak secara otomatis meningkatkan capaian akademik. Deng dan Li (Deng & Li, 2025) juga menjelaskan bahwa pengaruh aktivitas organisasi terhadap prestasi belajar sering kali dimediasi oleh faktor lain, seperti manajemen waktu, motivasi belajar, efikasi diri, dan dukungan lingkungan pendidikan. Temuan tersebut memperkuat hasil penelitian ini bahwa aktivitas organisasi bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan akademik siswa. Dengan demikian, hubungan yang tidak signifikan antara keaktifan OSIS dan hasil belajar PAI dapat dipahami sebagai konsekuensi dari kompleksitas faktor-faktor yang memengaruhi proses belajar siswa. Temuan penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengelolaan pendidikan di sekolah. Selama ini, aktivitas organisasi siswa sering dipandang sebagai sarana yang dapat meningkatkan berbagai aspek perkembangan peserta didik, termasuk prestasi akademik. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keaktifan organisasi tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk memprediksi keberhasilan belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Sekolah perlu memastikan bahwa kegiatan organisasi tetap berjalan seimbang dengan aktivitas akademik serta memberikan dukungan yang memadai agar siswa mampu mengelola waktu dan tanggung jawabnya secara efektif. Dengan demikian, organisasi siswa dapat berfungsi sebagai sarana pengembangan karakter dan kepemimpinan tanpa mengabaikan pencapaian akademik. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada kemampuannya memberikan bukti empiris bahwa hubungan antara aktivitas organisasi dan hasil belajar tidak selalu bersifat linear maupun signifikan. Berbeda dengan sebagian penelitian terdahulu yang cenderung menekankan dampak positif organisasi terhadap prestasi akademik, penelitian ini menunjukkan bahwa pada konteks sekolah Islam dan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, keterlibatan siswa dalam OSIS tidak secara otomatis menghasilkan peningkatan hasil belajar. Temuan ini memperluas pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran PAI sekaligus menegaskan pentingnya mempertimbangkan variabel lain, seperti motivasi belajar, religiusitas, disiplin belajar, dan dukungan lingkungan keluarga dalam menjelaskan variasi hasil belajar siswa. Dengan demikian, penelitian ini memberikan perspektif baru dalam kajian pendidikan Islam mengenai hubungan antara aktivitas organisasi siswa dan capaian akademik keagamaan. Implikasi Teoretis dan Praktis Temuan penelitian ini memberikan kontribusi teoretis terhadap kajian hubungan antara keterlibatan organisasi siswa dan hasil belajar dalam konteks pendidikan Islam. Selama ini, berbagai penelitian cenderung mengasumsikan bahwa partisipasi siswa dalam organisasi sekolah akan berdampak positif terhadap capaian akademik. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak selalu terjadi secara langsung. Temuan ini memperkuat pandangan Student Involvement Theory bahwa manfaat keterlibatan siswa sangat bergantung pada bentuk dan kualitas aktivitas yang diikuti, bukan semata-mata pada tingkat partisipasi. Selain itu, hasil penelitian juga mendukung perspektif Self-Determination Theory yang menempatkan motivasi intrinsik dan regulasi diri sebagai faktor yang lebih dekat dengan pencapaian akademik dibandingkan keterlibatan organisasi itu sendiri. Dengan demikian, penelitian ini memperluas pemahaman bahwa hubungan antara aktivitas organisasi dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam bersifat kompleks serta melibatkan berbagai faktor mediasi yang perlu diteliti lebih lanjut. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan masukan bagi sekolah, pembina OSIS, dan guru Pendidikan Agama Islam dalam merancang program pengembangan peserta didik yang lebih terintegrasi. Keaktifan siswa dalam organisasi perlu tetap didorong karena berkontribusi terhadap pengembangan kepemimpinan, tanggung jawab, kemampuan komunikasi, dan keterampilan sosial. Namun demikian, sekolah tidak dapat mengasumsikan bahwa keterlibatan organisasi secara otomatis akan meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang mampu menghubungkan aktivitas organisasi dengan penguatan budaya akademik dan religius di sekolah. Program OSIS dapat diarahkan untuk mendukung kegiatan yang relevan dengan pengembangan literasi keagamaan, pembiasaan karakter religius, maupun penguatan motivasi belajar sehingga manfaat organisasi tidak hanya dirasakan pada aspek sosial, tetapi juga pada perkembangan akademik dan spiritual peserta didik. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam menginterpretasikan hasil penelitian. Pertama, penelitian hanya melibatkan 30 siswa yang aktif dalam kegiatan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) pada satu sekolah menengah Islam, sehingga generalisasi temuan ke populasi yang lebih luas perlu dilakukan secara hati-hati. Karakteristik sekolah, budaya organisasi, serta lingkungan pendidikan yang berbeda memungkinkan munculnya pola hubungan yang tidak sama pada konteks sekolah lain. Kedua, penelitian ini hanya mengkaji hubungan antara keaktifan siswa dalam OSIS dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam tanpa mempertimbangkan faktor-faktor lain yang secara teoritis berpotensi memengaruhi capaian akademik siswa. Variabel seperti motivasi belajar, regulasi diri, religiusitas, manajemen waktu, dukungan keluarga, dan lingkungan belajar tidak diukur dalam penelitian ini, sehingga kontribusi masing-masing faktor terhadap hasil belajar belum dapat dijelaskan secara komprehensif. Ketiga, penggunaan desain penelitian korelasional membatasi kemampuan penelitian untuk menjelaskan hubungan sebab-akibat antarvariabel. Oleh karena itu, temuan yang diperoleh hanya menunjukkan ada atau tidaknya hubungan statistik antara keaktifan organisasi dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam, tanpa dapat menjelaskan mekanisme kausal yang mendasarinya. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat keaktifan siswa dalam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan hasil belajar Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Islam 1 Surakarta Tahun Ajaran 2025/2026. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara keaktifan OSIS dan hasil belajar PAI dengan koefisien korelasi sebesar 0,155. Namun demikian, hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik (p = 0,413 > 0,05), sehingga hipotesis yang menyatakan adanya hubungan signifikan antara kedua variabel tidak dapat diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa keaktifan siswa dalam organisasi sekolah tidak secara otomatis berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar Pendidikan Agama Islam. Hasil belajar PAI tampaknya lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang lebih dekat dengan proses pembelajaran, seperti motivasi belajar, regulasi diri, kebiasaan belajar, lingkungan keluarga, dan dukungan akademik yang diperoleh siswa. Meskipun demikian, aktivitas organisasi tetap memiliki nilai penting dalam mengembangkan kepemimpinan, tanggung jawab, kemampuan komunikasi, dan keterampilan sosial peserta didik. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris terhadap kajian pendidikan Islam dengan menunjukkan bahwa hubungan antara keterlibatan organisasi siswa dan hasil belajar keagamaan tidak selalu bersifat langsung maupun signifikan. Oleh karena itu, sekolah perlu mengembangkan program kesiswaan yang tidak hanya mendorong partisipasi organisasi, tetapi juga mengintegrasikan penguatan budaya akademik dan religius agar perkembangan karakter, kepemimpinan, dan capaian belajar siswa dapat tumbuh secara seimbang. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan jumlah responden yang lebih besar serta mempertimbangkan variabel lain, seperti motivasi belajar, religiusitas, disiplin belajar, manajemen waktu, dan dukungan keluarga, sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar Pendidikan Agama Islam. REFERENSI Abdalla, M., Chown, D., & Abdullah, M. (2018). Islamic schooling in the West. Cham: Springer International Publishing. Doi, 10, 973-978. Anti, N. D. K., & Arifin, S. (2025). Strengthening Students' Religious Character through REMAS Organizations: Synergistic School Culture and Education Strategies. Managere: Indonesian Journal of Educational Management, 7(3), 275-287. Aspanizam, A. A. B., & Ahmed, A. S. (2024). The Effect of Self-Concept and Family Environment on the Learning Outcomes of High School Students. Khalifa: Journal of Islamic Education, 8(2), 73-82. Astin, A. W. (2014). Student involvement: A developmental theory for higher education. In College student development and academic life (pp. 251-262). Routledge. Azzaky, W. H., Junaedi, M., & Wahib, A. (2024). The Contribution of Islamic Religious Education in Building Students' Character. TOFEDU: The Future of Education Journal, 3(5), 1441-1451. Chetioui, Y., Lebdaoui, H., Bakkali, A., Elalamy, A., & Aallali, A. (2025). Extracurricular Activities and academic performance among University Students. Deng, N., & Li, L. (2025). Study on the Effect of Association Participation on Academic Achievement of College Students. Education Insights, 2(9), 213-226. https://doi.org/10.70088/fwrf3g57 Dewanti, L., Soelistiyono, A., Astuty, H. S., & Rinovian, R. (2025). The role of student-led organizations in developing leadership and soft skills in higher education. Journal of Educational Development, 4(4), 517-532. Dugan, J. P., & Komives, S. R. (2010). Influences on college students' capacities for socially responsible leadership. Journal of College Student Development, 51(5), 525-549. Eccles, J. S., Barber, B. L., Stone, M., & Hunt, J. (2003). Extracurricular activities and adolescent development. Journal of Social Issues, 59(4), 865-889. Farb, A. F., & Matjasko, J. L. (2012). Recent advances in research on school-based extracurricular activities and adolescent development. Developmental Review, 32(1), 1-48. https://doi.org/10.1016/j.dr.2011.10.001 Fauzi, M., Darwis, M., & Nasrullah, M. (2024). The Influence of Student Participation in Student Organizations on Academic Achievement. Pinisi Journal of Education and Management, 90-101. Hadi, M. Y., & Prayogi, D. S. T. (2025). Managing Islamic school culture to develop students' religious character. Journal of Educational Research and Practice, 3(2), 255-275. La Ode, S., Widiningsih, S., & Setiawan, M. K. A. (2020). OSIS sebagai wadah siswa penggerak jenjang SMP. Lastra, D. A., Amallarinto, A. J., Deiparine, B. N. A., Montero, D. J., Calugay, L., & Rulona, J. (2024). The Relationship between Extracurricular Activities and Academic Performance among High School Students. Psychology and Education: A Multidisciplinary Journal, 21(5). https://doi.org/10.5281/zenodo.12594232 Mahdi, I., & Hamdan, M. F. (2025). The Influence of Motivation on the Learning Outcomes of Islamic Religious Education for Students at As-Shofa Islamic High School Pekanbaru. Journal of Comprehensive Science (JCS), 4(1), 105-119. Munawir, K., Rahim, A., Ismawati, I., & Mutmainna, F. (2024). Islamic religious education in student character development. Al-Hayat: Journal of Islamic Education, 8(1), 236-247. Nirwana, A., Mahmudulhassan, Muthoifin, & Waston. (2024). Bibliometric Analysis of Islamic Education and Character Development in Religious Education Practices in Indonesia. Pakistan Journal of Life & Social Sciences, 22(2), 1231-1245. Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2020). Intrinsic and extrinsic motivation from a self-determination theory perspective: Definitions, theory, practices, and future directions. Contemporary Educational Psychology, 61, 101860. https://doi.org/10.1016/j.cedpsych.2020.101860 Sahin, A. (2018). Critical issues in islamic education studies: Rethinking islamic and western liberal secular values of education. Religions, 9(11). https://doi.org/10.3390/rel9110335 Sandoval, A., Muschkin, C. G., & Arrau-Garcia, M. (2026). Participation in Extracurricular Activities and High School Academic Performance: Does Breadth and Type of Activity Matter?. International Journal of Research in Education and Science, 12(2), 455-478. Septianingsih, W., Amalia, R., & Oktafiani, D. (2024). Strategic Role of Islamic Religious Education in Character Building in the Digital Era: A Theoretical and Practical Analysis. PPSDP International Journal of Education, 3(2), 556-568. Verner-Filion, J., Holding, A. C., Gingras, I., & Koestner, R. (2025). Extracurricular Activities-Extra Beneficial: The Role of Motivation for Extracurricular Activities on Outcomes in High-School Students. Journal of Adolescence, 97(7), 1869-1881. https://doi.org/10.1002/jad.70008 Vispo, G. B., & Macalinao, Z. A. (2024). Extent of Students Involvement in Extracurricular Activities and Academic Performance Among Grade 8 Students. International Journal of Multidisciplinary: Applied Business and Education Research, 5(6), 2151-2161. Wang, M.-T., & Eccles, J. S. (2012). Social Support Matters: Longitudinal Effects of Social Support on Three Dimensions of School Engagement From Middle to High School. Child Development, 83(3), 877-895. https://doi.org/10.1111/j.1467-8624.2012.01745.x Warsah, I., Morganna, R., Warsah, B. A. A., & Warsah, B. H. H. (2024). Islamic psychology-based educational strategies for student character development. AJIS: Academic Journal of Islamic Studies, 9(2), 305-354. Zhao, Z., Ren, P., & Yang, Q. (2023). Student self-management, academic achievement: Exploring the mediating role of self-efficacy and the moderating influence of gender insights from a survey conducted in 3 universities in America. Journal of Integrated Social Sciences and Humanities, 1-12. Ashlach : Journal of Islamic Education Alfiya, Sandri & Nisa ¦ Integrasi Pendidikan Islam Berbasis Aswaja... Ashlach : Journal of Islamic Education Aulia Rosyida dan Sukari¦ Keaktifan dalam Organisasi Siswa dan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam: Studi Korelasional pada Sekolah Islam 2| | 129 Journal of Islamic Education e-ISSN/p- ISSN : 2988-1285/2988-1277 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/ashlach Copyright (c) 2026 The Author(s) | Published by: Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan.