Transformasi Pembelajaran Fiqih: Implementasi PjBL untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Kelas VII MTs Negeri Kota Pasuruan Ning Mukaromah *1 Raudhotul Jannah2 Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin (STAIS) Pasuruan,? INDONESIA Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin (STAIS) Pasuruan,? INDONESIA Korespondensi : mukaromahning17@gmail.com , Telp: 08563600978 Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submit: Agustus 03, 2024 Review: September 15, 2024 Publish: Oktober 17, 2024 Pendekatan Project Based Learning (PjBL) merupakan inovasi dalam pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk aktif, bereksperimen, dan menemukan prinsip belajar secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan implementasi model PjBL dalam pembelajaran Fiqih untuk meningkatkan kreativitas belajar siswa kelas VII di MTs Negeri Kota Pasuruan; dan (2) Mengetahui bentuk kreativitas siswa melalui penerapan model tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data primer berasal dari guru fiqih dan siswa kelas VII. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara terstruktur, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta keabsahan data diperoleh melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi model PjBL dilaksanakan melalui tiga tahap utama: perencanaan, pelaksanaan (kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup), serta evaluasi. Model ini terbukti mendorong kreativitas belajar siswa, seperti kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kerja sama kelompok, serta menghasilkan ide-ide inovatif. Secara keseluruhan, penerapan PjBL dalam mata pelajaran Fiqih memberikan dampak positif terhadap peningkatan kreativitas siswa dan menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan bermakna. Kata Kunci : Project Based Learning, Kreatifitas; Siswa PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Agar manusia dapat tumbuh mengikuti zaman dan berkompetitif dengan lingkungan yang dinamis, pendidikan harus berkembang dan beradaptasi dengan tuntutan zaman sekarang. Dunia pedidikan senantiasa dihadapkan pada tantangan, seperti pesatnya kemajuan teknologi dan informasi. Salah satu faktor utama keberhasilan dalam proses pendidikan adalah peran vital seorang guru dalam memberikan pengajaran (Cahayati, 2024). Oleh karena itu, sangat penting bagi dunia pendidikan untuk terus berupaya mencapai kemajuan dan penyempurnaan sistem pendidikan dengan melakukan perubahan strategi, pendekatan, dan model pembelajaran yang digunakan selama proses pembelajaran menjadi inovatif dan interaktif (Ambarwati & Widiastutiningsih, 2024). Model pembelajaran saat ini telah berubah, di mana siswa tidak lagi hanya dianggap sebagai objek pembelajaran, tetapi juga berperan aktif dan menjadi mitra dalam proses tersebut (Marnewick, 2023). Sehingga nantinya siswa aktif dan guru menjadi fasilitator dalam kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Seorang guru juga seharusnya menerapkan pendekatan pembelajaran yang memberikan kompetensi, pengetahuan, dan keterampilan yang dibutuhkan siswa. Jika siswa dibiarkan pasif, mereka akan kesulitan mengembangkan kemampuan berpikir, keterampilan interpersonal, dan keterampilan sosial. Joyce & Weil berpendapat bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas (Khoerunnisa & Aqwal, 2020). Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya. Penggunaan model pembelajaran yang inovatif sangatlah penting untuk meningkatkan efektivitas proses pembelajaran. Seiring dengan berkembanganya kurikulum pendidikan, model pembelajaran menjadi lebih fleksibel dan memprioritaskan kebutuhan peserta didik sehingga mereka tidak merasa bosan atau tertinggal. Pada era pendidikan yang terus berkembang, model pembelajaran telah menjadi fokus perhatian bagi pendidik. Salah satu model pembelajaran menarik yang diterapkan penulis adalah model Project Based Learning (PjBL). Model pembelajaran Project Based Learning adalah pemberian tugas berdasarkan permasalahan kompleks pada materi dan dipadukan dengan kondisi lingkungan yang diberikan kepada siswa untuk mengamati, menyelidiki, atau menganalisis permasalahan secara kelompok. Model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) adalah suatu model yang pembelajarannya berpusat pada peserta didik (Student Center Learning), dimana peserta didik bebas untuk mengutarakan gagasan yang dapat dituangkan ke dalam proyek mereka, memberikan peluang untuk mengetahui materi sehingga memiliki pemahaman tersendiri dan mendapatkan pengalaman melakukan eksperimen secara bersama-sama agar peserta didik dapat lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas (Anggelia et al., 2022). Menurut Indriya & Wrahatno Karakteristik model Project Based Learning yaitu membantu meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berpikir secara kritis, yang pada gilirannya memungkinkan mereka untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan kemampuan untuk berkolaborasi atau bekerja dalam kelompok. Tugas-tugas ini mencakup perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, dan penyerahan produk, semuanya dengan menggunakan proyek atau kegiatan sebagai media. Selain itu, siswa dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap sosial yang sesuai melalui kegiatan seperti penelitian, penilaian, observasi, dan interpretasi (Shofiyah, 2023). Ciri pembelajaran Project Based Learning oleh Create for Youth Development and Education Bottom di uraikan sebagai berikut: 1) peserta didik mengambil keputusan secara mandiri sesuai dengan kerangka kerja yang telah ditetapkan, 2) peserta didik diharapkan memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, menyelesaikan masalah, dan menggunakan berbagai cara komunikasi, 3) peserta didik bertanggung jawab dalam mencari dan mengelola informasi yang telah mereka kumpulkan, 4) melakukan evaluasi yang berkesinambungan selama proyek sedang berjalan, 5) peserta didik secara teratur melakukan refleksi dan penggalian lebih dalam terkait dengan apa yang mereka kerjakan, mulai dari proses hingga hasilnya (Ni Wayan Rati1, Nyoman Kusmaryatni2, 2017). Langkah-langkah pembelajaran dalam model Project Based Learning sebagaimana yang dikembangkan oleh George Lucas Educational Foundation adalah 1) menentukan pertanyaan dasar (start with the essential question), 2) mendesain perencanaan produk (design a plan for the project), 3) menyusun jadwal (create a schedule), 4) memonitor siswa dan kemajuan proyek (monitoring), 5) menguji hasil (assess the outcomes), 6) mengevaluasi pengalaman (evaluate the experience). Berdasarkan Penelitian yang dilakukan oleh Nur Cahayati dijelaskan bahwa implementasi model pembelajaran Project based learning pada mata Pelajaran fiqih dapat meningkatktan kreativitas belajar siswa dan meningkatkan keaktifan belajar karena sikap antusias peserta didik dalam menyelesaikan produk, dan kehausan serta inovatif dalam pembelajaran (Cahayati, 2024). Penelitian lain yang dilakukan oleh Eka Wahyuni (Wahyuni, 2021) implementasi dari model (PjBL) meningkat, hal ini ditunjukkan dengan persentase hasil belajar peserta didik ketika belum menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dimana jumlah peserta didik 36 perkelas, dan yang berhasil mencapai ketuntasan belajar minimum sekitar 22 peserta didik yaitu 60% dari 36 peserta didik, sedangkan setelah menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) terdapat peningkatan hasil belajar peserta didik sekitar 85% dari jumlah 36 peserta didik yaitu sekitar 31 peserta didik yang berhasil mencapai ketuntasan belajar minimum pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jadi rata-rata pekelas mendapatkan peningkatan sekitar 85%. Kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan bermacam macam alternatif jawaban. Menurut Winkel kreativitas adalah cara berfikir yang baru atau asli. Keterampilan berpikir kreatif ialah kemampuan membuat sesuatu yang baru. Guru harus mampu menggunakan model pembelajaran yang inovatif atau bervariasi yang disesuaikan dengan materi pembelajaran yang akan dipelajari oleh peserta didik, sehingga siswa tidak akan merasa bosan dalam mengikuti pelajaran dan termotivasi untuk belajar dengan baik serta semangat selama pembelajaran berlangsung.(Amriani et al., 2024) Pelajaraan fikih merupakan salah satu bagian mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, dan mengamalkan hukum Islam yang kemudian menjadi dasar pandangan hidupnya melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan penggunaan, pengalaman, dan pembiasaan. Pembelajaran fikih bertujuan untuk membekali peserta didik agar dapat: 1) mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam dalam mengatur ketentuan dan tata cara menjalankan hubungan manusia dengan sesama; 2) melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukum Islam dengan benar dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Swt dan ibadah sosial. Pengalaman tersebut diharapkan menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum Islam, disiplin, dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosial.(Heryanto et al., 2020) Madrasah Tsanawiyah Negeri Kota Pasuruan adalah satu-satunya madrasah setingkat SLTP diwilayah Kota Pasuruan dalam naungan Kementerian Agama. Pada asalnya lembaga ini dirintis oleh bapak KH. Amak Fadhol beserta beberapa rekannya sejak tahun 1959, usaha ini mendapatkan dukungan dari tokoh NU bapak KH. Basyar Yasin ketua LP Ma'arif Pasuruan dengan dibantu oleh bapak Khusen dan H. Sholeh beserta tokoh-tokoh yang lainnya. MTs Negeri Kota Pasuruan memiliki beberapa keunggulan dalam rangka menunjang bakat dan minat siswa yaitu menyelenggarakan Pembelajaran Pengembangan Ekstra Wajib seperti Tahfidz Qur'an, Karya Tulis Ilmiah (KTI), Robotik, English Coversation Club (ECC), Club Arabik, Robotik Mikrokontroler, Broadcasting, serta Teknologi Informasi. Mewajibkan seluruh siswa untuk menghafal juz'amma, namun berbeda dengan kelas tahfidz yang wajib hafal minimal 15 juz dalam waktu 3 tahun. Pelaksanaan kegiatan rutin BTQ setiap pagi sebelum pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan guru fiqih (Bapak Iqbal) pada bulan Oktober 2024 diketahui bahwasanya sebelum mengimplementasikan model pembelajaran Project based learning, guru menggunakan metode simulasi, demonstrasi, dan Mind Mapping pada pembelajaran fiqih. Hal ini mengakibatkan siswa kelas VII E kurang aktif, bercanda sendiri, tidak memperhatikan guru dalam menjelaskan materi fiqih. Karena adanya hal seperti ini belajar siswa cenderung masih rendah sehingga guru merubah cara mengajar dengan menerapkan model pembelajaran (PjBL) untuk meningkatkan kreativitas belajar siswa dalam proses pembelajaran di kelas dan penggunaan model pembelajaran berbasis proyek dianggap sesuai sehingga penerapannya difokuskan pada siswa. Melalui implementasi model pembelajaran Project Based Learning pada mata pelajaran fiqih kelas VII di MTs Negeri Kota Pasuruan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam berpikir secara kritis, membangun dan menggali pengetahuan mereka sendiri yang pada gilirannya memungkinkan mereka untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan kemampuan untuk berkolaborasi dalam kelompok. Selain itu proses pembelajaran akan lebih menyenangkan, tidak monoton, membuat siswa aktif, termotivasi untuk mengikuti pembelajaran dan berpusat pada siswa. Metode ini juga mendorong siswa untuk dapat belajar secara langsung dari buku atau sumber belajar lainnya, bukan hanya mengandalkan informasi yang disampaikan oleh guru. Berdasarkan latar belakang tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah 1) untuk mengetahui implementasi model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dalam meningkatkan kreativitas belajar siswa kelas VII E pada mata pelajaran fiqih di MTs Negeri Kota Pasuruan, 2) untuk meningkatkan kreativitas siswa sehingga dapat memecahkan masalah dalam mengerjakan sebuah proyek. KAJIAN TEORI Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Model pembelajaran Project Based Learning (PBL) dilaksanakan dengan memberikan tugas proyek kepada peserta didik. Tujuannya untuk mengembangkan perangkat pembelajaran. Hal ini dikemukakan oleh Thomas (Shofiyah, 2023) menyatakan bahwa PBL merupakan model pembelajaran yang dilaksanakan dengan proyek. PjBL menurut Buck Institute For Education (BIE) dalam Trianto (Trianto, 2011) adalah pembelajaran yang melibatkan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran baik dalam memecahkan suatu permsalahan dan memberikan peluang bagi siswa agar lebih mengekspresikan kreatifitas siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar dan kreatifitas siswa. Hasil belajar menurut (Susanto Ahmad, 2013) adalah perubahanperubahan yang terjadi pada siswa, baik perubahan yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan. Berdasarkan taksonomi Bloom hasil belajar lebih memusatkan perhatian terhadap pengetahuan, sikap, dan keterampilan (Suyono dan Hariyanto, 2011). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dan mendapat pengalaman dari kegiatan belajar yang telah dilaksanakan. Melalui model pembelajaran PjBL siswa dapat meningkatkan kreatifitas dalam berkarya. Produk kerajinan yang dihasilkan sangatlah memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Memberi peluang bagi siswa dalam menciptakan jiwa entrepreneur (wirausaha). Model pembelajaran PjBL adalah model pembelajaran yang membutuhkan keterampilan dengan menggunakan prinsip belajar sambil mengerjakan (learning by doing). Hal ini sejalan menurut (In'am et al., 2024b) menyatakan bahwa PjBL memberikan kesempatan pembelajar untuk meneliti, merencanakan, mendesain dan refleksi terhadap pembuatan proyek teknologi. Selain itu (Amriani et al., 2024; Ariyanto Andy, Sutama, 2022; In'am et al., 2024a; Joedanarni, 2018) mengemukakan bahwa model PjBL dapat meningkatkan kreativitas belajar siswa. Di dalam (Wusqo, 2014) disebutkan bahwa berpikir kreatif suatu PjBL tidak hanya membutuhkan perubahan metode mengajar dan suasana pembelajaran, tetapi juga harus mengadopsi metode asessmen baru seperti portofolio yang berdasarkan aktivitas mahasiswa. Portofolio akan merefleksikan apa yang sudah dipelajari oleh mahasiswa bagaimana cara mengajukan pertanyaan, menganalisis, mensitesis, mengatasi masalah dengan cara membuat ide baru, dan kemudian mendesain dan membuat suatu produk inovatif yang baru. Portofolio juga menampilkan bagaimana mahasiswa berinteraksi secara intelektual, emosional dan social dengan rekan kerjanya. Pada model pembelajaran Project Based Learning (PJBL) siswa diberi kesempatan untuk menyelesaika proyek yang diberikan guru. Pada penelitian ini guru ingin mengembangkan PJBL yang berupa Peta Konsep yakni guru memberi kesempatan yang luas kepada siswa untuk membuat petakonsep sendiri dan guru memberikan keleluasaan pada siswa untuk kreatif dan inovatif dengan berpikir ilmiah menghasilkan karya sehingga mudah untuk dipelajari. Guru melihat keefektifan siswa secara mandiri dan membuat karya seluas-luasnya sesuai kreatifitas siswa sehingga tidak ribut sendiri atau membuat ulah di Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) melainkan siswa berusaha untuk menyelesaikan proyek dengan rasa ingin tahu yang besar karena diberi kesempatan melengkapi dari internet. Kelebihan PJBL adalah (1) memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk merencanakan aktivitas belajar, (2) melaksanakan proyek secara kolaboratif, dan pada akhirnya menghasilkan produk kerja yang dapat dipresentasikan kepada orang lain, (3) peserta didik menjadi terdorong lebih aktif berakitivitas dalam belajar sehingga dapat meningkatkan kinerja ilmiah peserta didik, (4) guru berperan sebagai fasilitator dan evaluator (5) proses dan produk hasil kinerja peserta didik meliputi outcome yang mampu ditampilkan dari hasil proyek yang dikerjakan peserta didik. Kreatifitas Siswa Kreativitas merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berkaitan dengan realisasi diri (aktualisasi diri), dan dianggap sebagai kebutuhan tertinggi dalam hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow (Anggelia et al., 2022; Heryanto et al., 2020). Setiap individu pada dasarnya dilahirkan dengan potensi kreatif. Potensi ini dapat dikenali dan dikembangkan melalui pendidikan yang sesuai (Dewanty Widyastuti, 2018; Ni Wayan Rati1, Nyoman Kusmaryatni2, 2017). Kreativitas mencakup aspek-aspek kemampuan seperti kelancaran berpikir (fluency), keluwesan (flexibility), dan keaslian ide (originality), serta aspek non-kognitif seperti rasa ingin tahu, kebiasaan bertanya, dan keinginan untuk mencoba hal-hal baru. Kreativitas juga mencerminkan kemampuan individu untuk menggabungkan ide, memecahkan masalah, dan merespons tantangan, yang merupakan wujud dari keterampilan operasional pada anak yang kreatif (Prastowo, 2013). Menurut Bono (Wusqo, 2014; Zainiyati, 2010), berpikir kreatif merupakan keterampilan penting untuk meningkatkan kualitas hidup, melakukan inovasi, mendorong perubahan, dan memperbaiki sistem yang ada. Hal ini diperkuat oleh Liliasari (Purnamaningrum et al., 2012; Zakiyatul imamah dan Muqowin, 2020), yang menyatakan bahwa kemampuan berpikir kreatif berperan penting dalam membentuk kepribadian dan pola perilaku, sehingga pembelajaran perlu diarahkan untuk mendukung pengembangan keterampilan tersebut. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kreatif perlu mendapat perhatian dalam proses pendidikan. Dalam konteks belajar, kreativitas dapat diartikan sebagai kemampuan peserta didik untuk menciptakan hal-hal baru melalui pengembangan materi yang diperoleh dari guru, sehingga mampu menghasilkan kombinasi baru dalam proses belajarnya. Karakteristik utama dari kreativitas mencakup beberapa aspek, antara lain: (1) Kelancaran berpikir (fluency), yaitu kemampuan individu untuk dengan cepat menghasilkan banyak ide. Dalam aspek ini, yang lebih ditekankan adalah jumlah ide yang dihasilkan, bukan kualitasnya. (2) Keluwesan berpikir (flexibility), yakni kemampuan untuk mengemukakan berbagai macam ide, jawaban, atau pertanyaan yang berbeda-beda. Orang yang berpikir fleksibel mampu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang, mengeksplorasi berbagai kemungkinan solusi, dan mudah meninggalkan pola pikir lama untuk beralih ke pendekatan baru. (3) Elaborasi (elaboration), yaitu keterampilan dalam mengembangkan ide lebih lanjut dengan menambahkan rincian atau unsur-unsur pendukung, sehingga ide tersebut menjadi lebih kaya dan menarik. (4) Keaslian (originality), yaitu kemampuan untuk menciptakan ide-ide baru yang unik dan belum pernah ada sebelumnya (Pratama et al., 2023; Purnamaningrum et al., 2012; Zainiyati, 2010; Zakiyatul imamah dan Muqowin, 2020). Sementara itu, menurut Munandar (Taufiq Ridwan dan Imam Nasrulloh, 2022)terdapat sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap proses belajar siswa yang berkaitan dengan perkembangan kreativitas: (1) Kebebasan - Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang memberikan ruang kebebasan cenderung menunjukkan potensi kreativitas yang lebih tinggi. Orang tua tersebut tidak bersifat otoriter, tidak terlalu mengawasi, dan tidak banyak membatasi aktivitas anak. (2) Penghargaan terhadap individualitas - Anak kreatif biasanya memiliki orang tua yang menghargai mereka sebagai pribadi yang unik, mempercayai kemampuan mereka, serta mendukung keistimewaan masing-masing anak. (3) Kedekatan emosional yang sehat - Lingkungan emosional yang positif, tanpa adanya penolakan atau konflik, sangat penting dalam mendukung tumbuhnya kreativitas. (4) Fokus pada prestasi nyata, bukan sekadar nilai akademik - Orang tua yang menghargai hasil karya anak dan mendorong upaya terbaik anak dalam berkarya, turut membantu pengembangan kreativitas. (5) Apresiasi terhadap kreativitas - Dorongan dari orang tua untuk melakukan aktivitas kreatif juga menjadi salah satu pemicu penting berkembangnya kreativitas anak. Selama lebih dari tiga dekade, para ahli psikologi menyimpulkan bahwa sikap dan nilai-nilai yang dianut orang tua memiliki hubungan erat dengan kreativitas anak. Gabungan antara hasil observasi lapangan dan penelitian laboratorium melalui tes psikologis memberikan bukti bahwa sikap orang tua memiliki pengaruh langsung terhadap kemampuan kreatif anak-anak mereka. Model Pembelajaran Project Based Learning/PjBL dalam Meningkatkan Kreativitas Siswa Model pembelajaran berbasis proyek (PjBL) memainkan peran penting dalam mendorong tumbuhnya kreativitas siswa. Beberapa kontribusi utamanya antara lain: (1) Pengalaman langsung, di mana siswa memperoleh kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam situasi nyata, sehingga mendorong pemikiran inovatif dalam menyelesaikan persoalan; (2) Kemandirian, karena dalam PjBL siswa terlibat aktif dalam merancang, melaksanakan, dan menyelesaikan proyek, yang secara tidak langsung menumbuhkan kreativitas serta sikap inisiatif; (3) Kerja sama, karakter PjBL yang kolaboratif mendorong siswa untuk saling bertukar ide, bekerja dalam tim, serta belajar dari perspektif teman lain, yang memperkaya cara berpikir mereka; (4) Penguatan kemampuan berpikir kritis, karena siswa ditantang untuk mengevaluasi berbagai alternatif solusi, menganalisis masalah, dan mengambil keputusan yang tepat; (5) Kemampuan presentasi dan refleksi, karena siswa sering diminta mempresentasikan hasil proyek mereka, sehingga mereka dapat melatih keterampilan komunikasi dan melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran, yang selanjutnya mengembangkan cara berpikir kreatif untuk perbaikan di masa depan. Dengan semua unsur tersebut, pembelajaran berbasis proyek memberikan fondasi yang kokoh dalam mengembangkan kreativitas siswa melalui pengalaman belajar yang relevan, bermakna, dan menyenangkan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Bogdan dan taylor dalam moleong, penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata yang tertulis (dokumen) atau lisan (wawancara) dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini dilakukan di MTs Negeri Kota Pasuruan. Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan September sampai November 2024. Subyek penelitian ini adalah guru fiqih dan peserta didik MTs Negeri Kota Pasuruan semester ganjil tahun akademik 2024/2025. Alasan pemilihan lokasi ini adalah karena MTs Negeri Kota Pasuruan mempunyai beberapa keunggulan yaitu pembelajaran pengembangan ekstra wajib seperti Tahfidz Qur'an, Karya Tulis Ilmiah (KTI), Robotik, English Coversation Club (ECC), Club Arabik, Robotik Mikrokontroler, Broadcasting, serta Teknologi Informasi (TI). Serta mempunyai beberapa ekstrakulikuler seperti seperti albanjari, kaligrafi, pramuka, futsal dan lain-lain. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun kehadiran peneliti berperan sebagai peneliti participant observer (pengamatan langsung). Objek yang diobservasi adalah pelaksanaan kegiatan mata pembelajaran fiqih yang dilaksanakan oleh peserta didik MTs Negeri Kota Pasuruan kelas IT VII E yang berjumlah 33 peserta didik. Pada tahap analisis data peneliti mengolah, mengelompokkan dan memilah data-data yang dihasilkan dengan reduksi data, penyajian data, verifikasi data dan penulisan laporan dengan pengecekan keabsahan data: Uji Kredibilitas (credibility) dengan Ketekunan pengamatan, perpanjangan kehadiran atau pengamatan, dan triangulasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Untuk Meningkatkan Kreativitas Belajar Siswa Kelas VII Pada Mata Pelajaran Fiqih Di MTs Negeri Kota Pasuruan Berikut adalah langkah-langkah yang digunakan oleh guru dalam mengimplementasi model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) di MTs negeri kota pasuruan: 1. Perencanaan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Membuat perencanaan pembelajaran memiliki tujuan agar proses pembelajaran lebih terfokus dan bisa berjalan dengan baik, sesuai dengan yang direncanakan. Upaya yang dilakukan oleh guru fiqih MTs Negeri Kota Pasuruan untuk meningkatkan keberhasilan pembelajaran adalah dengan menciptakan suatu pembelajaran yang efektif dan efisien. Salah satunya dengan mengimplementasikan model pembelajaran Project Based Learning PjBL dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran Project Based Learning adalah suatu model yang pembelajarannya berpusat pada peserta didik (Student Center Learning), dimana peserta didik bebas untuk mengutarakan gagasan yang dapat dituangkan ke dalam proyek mereka, memberikan peluang untuk mengetahui materi sehingga memiliki pemahaman tersendiri dan mendapatkan pengalaman melakukan eksperimen secara bersama-sama. Agar peserta didik dapat lebih kreatif dalam menyelesaikan tugas.(Anggelia et al., 2022) Dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) peserta didik akan menggali konten (materi) dengan menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen secara kolaboratif. Menurut Waras Kamdi pembelajaran berbasis proyek merupakan satu model dan memberikan kesempatan penuh kepada peserta didik untuk membangun dan menggali pengetahuan mereka sendiri, yang kemudian dapat mereka tuangkan dalam proyek yang nantinya mereka buat.(Lailatunnahar, 2021) Dari bebarapa penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran Project Based Learning dikembangkan sesuai dengan paham filsafat konstruktivisme. Pendekatan konstruktivisme membantu menciptakan lingkungan belajar di mana peserta didik dapat membangun pengetahuannya sendiri. Project sistem pembelajaran yang terfokus pada peserta didik, dimana peserta didik ditugaskan membuat projek yang dapat melatih kreatifitas mereka, dan pendidik sebagai fasilitator. Dalam perencanaan ini langkah awal yang dilakukan oleh peneliti sebelum memulai pembelajaran yaitu menyusun Rencana Proses Pembelajaran (RPP)/Modul Ajar. Modul ajar diperlukan karena proses pembelajaran tidak bisa dilakukan tanpa adanya perencanaan terlebih dahulu. Tahap perencanaan ini meliputi penyusunan Modul ajar, penentuan model dan metode pembelajaran, persiapan materi yang akan disampaikan, serta penggunaan media sebagai pendukung kelancaran proses pembelajaran berjalan dengan baik, efektif serta efisien. Sebagaimana wawancara dengan Bapak Muhammad Iqbal Aziz selaku guru mata pelajaran fiqih mengatakan bahwa metode ini memberikan kesempatan penuh kepada peserta didik untuk membangun dan menggali pengetahuan mereka sendiri, peserta didik mampu berpikir kritis dan mampu meningkatkan peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap sosial, yang kemudian dapat dituangkan dalam proyek yang nantinya akan mereka buat. Implementasi model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik, karena peserta didik diberikan pengetahuan baru, ikut dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran, diajarkan bertanggungjawab, berfikir kreatif, dan dapat memecahkan masalah. Dalam pembelajaran proyek ini peserta didik dilatih untuk: a. Bertanggung jawab atas apa yang menjadi tanggung jawabnya. b. Menilai rencana kerja dan bekerja sesuai rencana yang telah dibuat. c. Berkompetensi secara sehat. d. Menerapkan atau mencari ilmu yang telah dipelajari 2. Implementasi Model Pembelajaran Project Based Learning Model pembelajaran Project Based Learning yaitu membantu meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berpikir secara kritis, yang pada gilirannya memungkinkan mereka untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan, dan kemampuan untuk berkolaborasi atau bekerja dalam kelompok. Tugas-tugas ini mencakup perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, dan penyerahan produk, semuanya dengan menggunakan proyek atau kegiatan sebagai media. Berikut akan dijelaskan beberapa kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam mengimplementasikan integrasi model pembelajaran Project Based Learning dalam proses pembelajaran fiqih di kelas VII E MTs Negeri Kota Pasuruan. a. Pedahuluan Dalam memulai kegiatan pendahuluan ini, pendidik mengawalinya dengan mengucapkan salam, bertanya kabar siswa, meminta ketua kelas untuk memimpin doa, mengabsen siswa, memberikan motivasi kepada siswa untuk semangat dalam belajar, melakukan kegiatan pemanasan (ice breaking), melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawab terkait dengan materi yang sudah dipelajari pada pertemuan kemarin dan menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pertemuan kali ini, serta memberikan stimulus terkait materi pelajaran. Setelah selesai dengan tahapan ini, proses pembelajaran dilanjutkan ke langkah berikutnya. b. Kegiatan Inti Sebelum memulai bagian inti dari pembelajaran, pendidik menyampaikan materi pelajaran fiqih tema shalat bejamaah secara global, dengan menggunakan ceramah interaktif. Setelah itu guru memulai untuk mengimplesentasi model pembelajaran Project Based Learning (PjBL). Adapun metode yang dipakai dalam implementasi Project Based Learning adalah metode collaborative learning dan technology-enhanced learning. Berikut langkah-langkah penerapan dari model pembelajaran PjBL: 1) Guru membentuk kelompok dengan mempersilahkan siswa untuk berhitung mulai dari 1 sampai 6, sehingga terbagi 6 kelompok. 2) Setelah terbagi 6 kelompok, guru menentukan ketua kelompok dan membagi tugas proyek yang berbeda untuk masing-masing kelompok. Adapun tugas proyek masing kelompok yaitu: 1) membuat panduan atau artikel sederhana tentang tata cara shalat berjamaah, 2) membuat poster ketentuan shaf dalam shalat berjamah, 3) membuat Mind Mapping tentang syarat menjadi imam dan makmum, 4) membuat simulasi video tentang makmum masbuk, 5) membuat simulasi video tentang cara mengingatkan imam yang lupa bacaan dan gerakan, 6) membuat simulasi video tentang cara menggantikan imam yang batal. 3) Guru menyusun jadwal pengerjaan proyek, yaitu proyek harus selesai dalam waktu seminggu. 4) Selanjutnya peserta didik bekerja sama dengan tim anggotanya untuk mendiskusikan dan merancang proyeknya. 5) Guru selalu memonitoring kemajuan proyek peserta didik jika ada kesulitan dan memantau kemajuan hasil proyeknya. 6) Setelah proyek selelsai, setiap kelompok mempresentasikan hasil proyeknya di depan kelas. 7) Guru mengevaluasi hasil kinerja dan materi yang dihasilkan peserta didik. 8) Guru memberikan penilaian berdasarkan aspek-aspek yang ditentukan, meliputi: pemahaman teoritis, keterampilan praktis, keterampilan sosial(kerja sama tim). c. Penutup Kegiatan akhir pembelajaran adalah penutup. Guru meminta peserta didik untuk merangkum kembali materi yang telah dipelajari dan meminta beberapa peserta didik untuk menyampaikan kesimpulan mereka di depan kelas. Setelah itu, Guru menutup pembelajaran dengan memberikan umpan balik dan penguatan terkait dengan materi yang sudah dipelajari. Guru juga menyampaikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya serta menutup pembelajaran dengan salam dan berdoa bersama. 3. Evaluasi Implementasi Model Pembelajaran Project Based Learning Adapun evaluasi yang peneliti lakukan di kelas VII E MTs Negeri Kota Pasuruan adalah dengan menggunakan teknik tes dan non tes. Evaluasi dengan teknik tes menggunakan tes pilihan ganda dan essay. Untuk non tes menggunakan lembar observasi untuk menilai sikap yang terdiri dari keaktifan, tanggung jawab dan disiplin. Kelebihan Model Pembelajaran Project based Learning (PjBL) adalah sebagai berikut: a. Meningkatkan motivasi belajar peserta didik b. Meningkatkan kemampuan memecahkan masalah c. Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan masalah-masalah yang kompleks d. Meningkatkan kolaborasi dan keterampilan peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi e. Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber lain seperti perelengkapan untuk menyelesaikan tugas f. Melibatkan peserta didik secara kompleks untuk belajar mengambil informasi dan menunjukan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata g. Membuat suasana belajar lebih menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran Adapun kekurangan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) adalah sebagai berikut: a. Memerlukan banyak waktu yang harus diselesaikan untuk menyelesaikan masalah b. Memerlukan biaya yang cukup banyak c. Banyak peralatan yang harus disediakan.(Wahyuni, 2021). Kreativitas Belajar Siswa Melalui Implementsi Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) Kelas VII Pada Mata Pelajaran Fiqih Di MTs Negeri Kota Pasuruan Kata kreativitas dalam Bahasa inggris adalah "create" berarti mengadakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada.(Ahmad & Tambak, 2017) Rhodes menjelaskan jenis kreativitas yang dikenal dengan four p's of creativity yakni person, process, press dan product. Kreativitas dari segi "pribadi" (person) menunjukan pada potensi daya kreatif yang ada pada setiap pribadi. Kreativitas sebagai suatu "proses" (process) dapat dirumuskan sebagai suatu bentuk pemikiran dimana individu berusaha menemukan hubungan yang baru, mendapatkan jawaban, metode atau cara baru menghadapi masalah. Kreativitas sebagai "pendorong" (press) yang datang dari diri sendiri berupa hasrat dan kreativitas yang kuat untuk berkreasi. Kreativitas dari segi "hasil" (product) segala sesuatu yang diciptakan seseorang sebagai hasil dari keunikan pribadinya dalam interaksi dengan lingkungannya (Ni Wayan Rati1, Nyoman Kusmaryatni2, 2017). Berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) menunjukkan adanya peningkatan kreatifitas belajar peserta didik pada kelas VII E dalam proses pembelajaran di dalam kelas. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan kreativitas belajar yakni banyaknya siswa yang memiliki kreativitas tinggi sebelum tindakan sebanyak 9 siswa (27%). Setelah diberikan tindakan pada siklus I, jumlah siswa yang memiliki kreativitas belajar tinggi meningkat menjadi 15 siswa (45%), dan pada siklus II jumlah siswa yang memiliki kreativitas belajar tinggi menjadi 28 siswa (90%). Hasil dari siklus I dan II enunjukkan bahwa model ini lebih mempengaruhi tingkat kemampuan berpikir kreatif peserta didik dibanding hanya menerapkan model pembelajaran secara konvensional. Dalam penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) di MTs Negeri Kota Pasuruan ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan peserta didik dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatifnya, karena dengan menerapkan model pembelajaran yang berbasis proyek maka peserta didik akan sangat termotivasi untuk menyelesaikan permasalahan dengan pemecahan masalah(Amriani et al., 2024). Peningkatan Project Based Learning lebih melibatkan siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran, kerjasama siswa dalam membentuk kelompok untuk menyelesaikan masalah dan mempersiapkan diri dari sebuah proyek untuk belajar.(Amriani et al., 2024) Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Zakiah yang meneliti terkait sinergi implementasi Project Based Learning dalam meningkatkan kreativitas siswa diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa pembelajaran menggunakan model PjBL mampu mengeksplorasi kreativitas dan kemampuan berpikir kreatif. Keberhasilan penerapan PjBL pada kemampuan berpikir kreatif telah diteliti oleh Zakiah & Fajriadi. Selanjutnya ia juga menunjukkan bahwa PjBL adalah pembelajaran yang memiliki potensi untuk lebih mengembangkan kemampuan berpikir siswa. Melalui pemberian proyek, siswa didorong untuk menggunakan kreativitas mereka mulai dari proses merencanakan produk, membuat produk, membangun pengetahuan, pemahaman dan keterampilan, mengembangkan produk, menyajikan dan mengevaluasi produk. Sehingga penilaian dapat dilakukan secara objektif dan menyeluruh, tidak semata-mata melakukan penilaian hanya berdasarkan hasil akhir saja. Peningkatan kreativitas belajar siswa dalam penelitian ini disebabkan oleh esensi dari pendekatan Project Based Learning yakni lebih melibatkan siswa aktif dalam proses pembelajaran, kerjasama siswa dalam membentuk kelompok dalam menyelesaikan masalah dan mempersiapkan diri dari sebuah proyek untuk belajar. membantu meningkatkan pengembangan keterampilan tertentu, seperti kreativitas dan berpikir kreatif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang disampaikan Lydiati, bahwa terdapat peningkatan kreativitas peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan pada materi shalat dengan menggunakan model PjBL, dimana penggunaan model tersebut dapat melatih siswa untuk menghasilkan ide-ide kreatif melalui penalaran, melakukan asosiasi, serta mengungkapkan kembali pengetahuan yang dimiliki sebelumnya untuk menyelesaiakan masalah. Temuan lain sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Satiadarma bahwa kreativitas merupakan salah satu modal yang harus dimiliki untuk mencapai prestasi belajar. Kreativitas siswa tidak seharusnya diartikan sebagai kemampuan menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, akan tetapi kecerdasan yang dimiliki mahasiswa dalam mengkombinasikan ide-ide yang sudah ada ataupun mengubah ide-ide tersebut sesuai dengan kebutuhan dan sarana yang ada kemudian menerapkannya. Adapun beberapa manfaat pendekatan pembelajaran berbasis proyek adalah: (1) meningkatkan kemandirian siswa, (2) meningkatkan tanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri, (3) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, (4) memperluas akses untuk belajar. KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) pada mata pelajaran Fiqih di kelas VII MTs Negeri Kota Pasuruan secara signifikan mampu meningkatkan kreativitas belajar siswa. Melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang sistematis, model ini berhasil menciptakan pembelajaran yang berpusat pada siswa, mendorong mereka untuk aktif berpikir kritis, bekerja sama dalam kelompok, serta menghasilkan solusi kreatif terhadap permasalahan pembelajaran berbasis proyek. Model PjBL memberikan ruang bagi peserta didik untuk membangun pengetahuan sendiri melalui eksplorasi dan pengalaman langsung. Siswa dilibatkan dalam pembuatan produk nyata yang relevan dengan materi pembelajaran, seperti poster, video simulasi, dan artikel sederhana, sehingga memperkuat pemahaman konsep keagamaan serta keterampilan sosial mereka. Evaluasi pembelajaran yang mencakup tes kognitif dan observasi afektif menunjukkan peningkatan signifikan pada indikator kreativitas siswa. Dengan demikian, model PjBL terbukti efektif dalam menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan bermakna. Model ini juga memberikan kontribusi positif dalam membentuk siswa yang mandiri, bertanggung jawab, dan mampu berpikir secara inovatif dalam konteks pembelajaran Fiqih. Oleh karena itu, pendekatan ini layak direkomendasikan untuk diterapkan lebih luas pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam lainnya. REFERENSI Ahmad, M., & Tambak, S. (2017). Hubungan Potensi Akal dengan Kreativitas Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SMK Kanada Sakura Indonesia ( KANSAI ) Pekanbaru. 2(1). Ambarwati, R., & Widiastutiningsih, N. (2024). Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Terintegrasi Teaching at The Right Level Terhadap Hasil Belajar Kognitif Peserta Didik Kelas IV Pada Mata Pelajaran. 3(3), 217-226. Amriani, S. D., Uzzakah, I., Prakoso, R. A., & Sabela, P. A. (2024). Analisis Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning ( PJBL ) Untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa. 2(2). Anggelia, D., Puspitasari, I., & Arifin, S. (2022). Penerapan Model Project-based Learning ditinjau dari Kurikulum Merdeka dalam Mengembangkan Kreativitas Belajar Pendidikan Agama Islam. 7(2). https://doi.org/10.25299/al-thariqah.2022.vol7(2).11377 Ariyanto Andy, Sutama, M. (2022). Pembelajaran Project Based Learning (Pjbl) Untuk. Jurnal Ilmiah Mitra Swara Ganesha, 9(2), 101-116. Cahayati, N. (2024). Implementasi Model Project Based Learning. Dewanty Widyastuti. (2018). Upaya Meningkatkan Kreativitas Dan Hasil Belajar Matematika Dengan Model Pembelajaran Flipped Classroom Di Kelas XII SMK N 1 Gedangsari. UNION: Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, 6(2), 83-90. https://doi.org/10.30738/.v6i2.2003 Heryanto, L., Amda, A. D., & Ristianti, D. H. (2020). Kreativitas Guru Fiqih Dalam Meningkatkan Keterampilan Belajar Siswa. 2(2), 244-261. In'am, A., Effendi, M. M., & Darmayanti, R. (2024a). Startegi Pembelajaran Inovatif: PjBL dan PizzaLuv untuk Self Efficacy dan Kemampuan 4C. CV Bildung Nusantara. In'am, A., Effendi, M. M., & Darmayanti, R. (2024b). The Effect of Project-Based Learning (PJBL) Ussing Pizzaluv-Mathemarics Media on Self-Efficacy and 4C Skills. AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika, 4, 1336-1360. Joedanarni, atik. (2018). Penerapan Project Based Learning (Pjbl) Berupa Peta Konsep Untuk Meningkatkan Karakter Dan Prestasi Belajar Biologi Siswa Smp. Jurnal Pembelajaran Sains, 1(1), 27-34. Khoerunnisa, P., & Aqwal, S. M. (2020). Analisis Model-Model Pembelajaran. 4, 1-27. Lailatunnahar, T. (2021). Penerapan Metode Pembelajaran Project Based Learning Guna Meningkatkan Hasil Belajar IPA di Masa Pandemi Covid 19 pada Siswa Kelas VII . 1 di SMP Negeri Binaan Khusus Kota Dumai. 5, 1084-1094. Marnewick, C. (2023). Student experiences of project-based learning in agile project management education. Project Leadership and Society, 4(August), 100096. https://doi.org/10.1016/j.plas.2023.100096 Ni Wayan Rati1, Nyoman Kusmaryatni2, N. R. (2017). Model Pembelajaran Berbasis Proyek, Kreativitas. 6(1), 60-71. Prastowo, A. (2013). Panduan Kreatif Membuat Pembelajaran Inovatif. Pratama, A. A., Choirudin, C., Wawan, W., Wardana, M. R. F., & Fanani, A. A. (2023). Analisis Kemampuan Berfikir Kreatif Matematis Siswa Ditinjau Dari Segi Gender. Delta-Phi: Jurnal Pendidikan Matematika, 2, 172-182. Purnamaningrum, A., Dwiastuti, S., Maya Probosari, R., & Noviawati. (2012). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Melalui Problem Based Learning (PBL) pada Pembelajaran Biologi Siswa Kelas X-10 SMA Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012 Increasing of Student'S Creative Thinking Through Implementation of Problem Based Learn. Pendidikan Biologi, 4(3), 39-51. Shofiyah, A. (2023). Pengaruh Model Pembelajaran Project Based Learning ( PjBL ) terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Fiqih Siswa di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Jombang Pendahuluan. 13(2), 948-958. Susanto Ahmad. (2013). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Daasr. Suyono dan Hariyanto. (2011). Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar. Taufiq Ridwan dan Imam Nasrulloh. (2022). Analisis kemampuan berpikir kreatif dan kritis siswa sekolah dasar. JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia), 8(2), 466-467. https://jurnal.iicet.org/index.php/jppi/article/download/1520/1143 Trianto. (2011). Mendesain model pembelajaran inovatif-progresif. Wahyuni, E. (2021). Implementasi Model Pembelajaran Project Based Learning Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Mata Pelajaran Agama Islam SMP Negeri 7 Kota Tangerang. 3(1), 320-327. Wusqo, I. U. (2014). Upaya Mendorong Kemampuan Berfikir Kreatif Mahasiswa Dalam Inovasi Konservasi Pangan. Indonesian Journal of Conservation, 3(1), 75-82. Zainiyati, H. S. (2010). Model Dan Strategi Pembelajaran Aktif (Teori dan Praktek dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam). Putra Media Nusantara Surabaya & IAIN PRESS Sunan Ampel, 1-232. Zakiyatul imamah dan Muqowin. (2020). Pengembangan Kreativitas dan Berpikir Kritis Pada Anak Usia Dini Melalui Metode Pembelajaran Berbasis STEAM and Losse Part. Yinyang Jurnal Studi Islam , Gender Dan Anak, 15(2), 275. Ashlach : Journal of Islamic Education Ning Mukaromah, Roudhotul Jannah ¦ Transformasi Pembelajaran Fiqih: Implementasi PjBL untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Kelas VII MTs Negeri Kota Pasuruan Ashlach : Journal of Islamic Education Ning Mukaromah, Roudhotul Jannah ¦ Transformasi Pembelajaran Fiqih: Implementasi PjBL untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa Kelas VII MTs Negeri Kota Pasuruan 2 | | 3 Journal of Islamic Education Vol. 02 No. 02 Oktober 2024 | Hal. 01-12 e-ISSN/p- ISSN : 2988-1285/2988-1277 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/ashlach Hak cipta (c) 2025 Ashlach : Jurnal Pendidikan Islam. Karya ini dilisensikan di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 .