Inovasi Pembelajaran: Menerapkan Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar yang Signifikan Khoirun Nasihin*1 Wafiyul Ahdi2 Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin (STAIS) Pasuruan,? INDONESIA Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin (STAIS) Pasuruan,? INDONESIA Korespondensi* : nasihin@staispasuruan.ac.id ; Telp: +62 85236218596 Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submit: Agustus 09, 2024 Review: September 05, 2024 Publish: Oktober 23, 2024 Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar peserta didik yang masih menjadi tantangan di kelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis peningkatan hasil belajar peserta didik yang menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dibandingkan dengan metode pembelajaran konvensional. Model PBL mendorong peserta didik untuk berkreasi dan aktif dalam proses pembelajaran melalui diskusi kelompok. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan lokasi di SMK Darut Tauhid Bangil, dan subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada hasil belajar peserta didik yang menerapkan model PBL. Rata-rata nilai tugas peserta didik mencapai 82,7, dengan mayoritas siswa di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 75. Meskipun beberapa siswa masih di bawah KKM, hal ini memotivasi mereka untuk lebih aktif dan bersemangat dalam pembelajaran. Wawancara dengan peserta didik mengungkapkan bahwa model PBL meningkatkan motivasi mereka untuk menemukan jawaban secara aktif, sehingga materi pelajaran lebih mudah diingat dibandingkan dengan metode ceramah tradisional. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan model PBL dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Kata Kunci : Hasil Belajar: Inovasi pembelajaran; Problem Based Learning (PBL) PENDAHULUAN Abad 21 adalah masa dimana dunia pendidikan menjadi prioritas utama dan tidak dapat dipisahkan dari diri manusia. Dengan adanya pendidikan, esensinya manusia dapat menunjukkan eksistensinya. Tujuan dari pendidikan adalah mengembangkan bakat dan potensi dalam diri manusia dan menjadikan manusia memiliki martabat yang lebih tinggi dalam kehidupannya. Penyelenggaraan pendidikan dilakukan dalam proses pembelajaran. Untuk memahami apa itu pembelajaran, mari kita mengenal lebih jauh apa itu belajar, pembelajaran, inovasi dan inovasi pembelajaran. Belajar mempunyai arti tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Pembelajaran adalah kegiatan terprogram oleh guru melalui disain instruksional yang menciptakan proses interaksi antara sesama peserta didik, guru dengan peserta didik dan dengan sumber belajar, dengan tujuan menciptakan perubahan yang berkelanjutan pada aspek perilaku dan pemikiran siswa pada suatu lingkungan belajar dengan prosesnya terangkum pada kegiatan belajar mengajar. Pendapat lain, terkait pembelajaran adalah seperangkat acara peristiwa eksternal yang dirancang dalam rangka membantu mempermudah proses belajar mengajar dengan harapan membangun kreativitas siswa, serta dapat mendukung proses belajar yang sifatnya internal (Hayati & Setiawan, 2022; Heny Kusmawati, Abdul Jalil Nurus Shobah, Erfina Diah Kusumawati, 2023; Jusmawati et al., 2020) Pembelajaran adalah sebuah sistem yang bisa dibilang sebagai sistem yang kompleks. Keberhasilan pembelajaran dilihat dari dua aspek, yaitu produk dan proses. Pembelajaran bisa berhasil apabila peserta didik berhasil memperoleh hasil belajar dengan baik. Kristiawan dan Rahmat (Harahap & Harahap, 2022; Yuli Puji Lestari, 2018) mengartikan pembelajaran sebagai upaya dari orang (pendidik) yang membelajarkan orang lain (peserta didik). Dapat dikatakan bahwa pembelajaran merupakan upaya yang sistematis dan sistemik untuk memfasilitasi dan meningkatkan proses belajar, maka kegiatan pembelajaran berkaitan erat dengan hakikat dan jenis belajar serta hasil belajar tersebut. Pembelajaran harus menghasilkan belajar, tapi tidak semua proses balajar terjadi karena pembelajaran. Proses balajar juga terjadi dalam konteks interaksi sosial kultural dalam lingkungan masyarakat. Pembelajaran tidak hanya terjadi dalam lingkungan pendidikan formal saja, tapi bisa terjadi di luar sekolah. Proses belajar dan pembelajaran bisa terjadi dimana saja, dan kapan saja tidak dibatasi oleh jarak, ruang, dan waktu. Jadi, pembelajaran dapat diartikan sebagai sebuah interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai tujuan Pendidikan (Fieka Nurul, 2020; Octario Sakti Susilo, Nyoman Sudana Degeng, 2017). Dalam proses pembelajaran, perhatian peserta didik terhadap materi yang diberikan guru akan sangat mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Perhatian peserta didik yang lebih intensif terhadap materi yang diberikan guru akan menyebabkan transfer pengetahuan yang terjadi lebih mudah, sehingga diharapkan proses pembelajaran akan dapat lebih berhasil. Berhubungan dengan hal tersebut, guru harus dapat memilih dan menyajikan model pembelajaran yang efektif. Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial (Ummah, 2019). Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan - tujuan pengajaran, tahap-tahap kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas. Inovasi adalah sebuah temuan yang dihasilkan dengan sadar oleh seseorang baik itu melalui penelitian atau pengembangan sehingga menjadi sebuah hal yang baru. Selain itu, inovasi juga dapat diartikan sebagai sebuah gagasan atau pemikiran yang baru dan belum pernah ada sebelumnya dan dijadikan sebagai suatu hal yang baru bagi sekelompok orang (Ningsih, 2020; Sun'iyah, 2020). Jadi, inovasi adalah segala sesuatu yang merupakan temuan baru dan belum pernah ada sebelumnya. Inovasi bertujuan untuk melakukan perubahan dalam arah positif. Jika inovasi berhasil diadopsi, maka akan terjadi berbagai perubahan, pembaharuan, dan peningkatan kualitas dalam bidang Pendidikan (Destriani, 2022; Ningsih, 2020; Wulandari & Safitri, 2024). Inovasi pembelajaran adalah ide/gagasan/teknologi baru yang diterapkan dalam proses pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kulaitas pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, dan dilakukan oleh pendidik, pemerintah, dan lembaga kependidikan lainnya (Wulandari & Safitri, 2024). Kristiawan dan Rahmat (Nurul, 2020) menyatakan bahwa peran pendidik dalam inovasi pembelajaran adalah sebagai pihak yang memfasilitasi, pihak yang membimbing, sebagai konsultan, dan sebagai teman belajar yang bisa membuat peserta didik merasa senang dan nyaman ketika proses pembelajaran berlangsung. Untuk bisa melakukan inovasi pembelajaran, pemerintah dan lembaga kependidikan perlu melakukan upaya peningkatan kualitas pendidik agar pendidik dapat profesional. Dalam rangka meningkatkan profesionalisme seorang pendidik, maka dapat dilakukan dengan pelatihan ataupun mengikuti webinar/seminar yang diselenggarakan oleh berbagai pihak, diantaranya pemerintah ataupun civitas academica di lingkungan perguruan tinggi (Andi Musda Mappapoleonro, 2019). Salah satu model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik yaitu model pembelajaran berbasis masalah atau Problem Based Learning (PBL). Model Problem Based Learning (PBL) salah satu model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik tersebut dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupannya (Bekti Wulandari, 2013; Natsagdorj Bayarmaa, 2018). Model Problem Based Learning (PBL) adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disentis dalam usaha mencari pemecahan atau jawaban oleh peserta didik. Berdasakan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam Problem Based Learning (PBL) peserta didik diharapkan dapat menggunakan aktivitas mentalnya sehingga peserta didik dapat aktif saat proses pembelajaran berlangsung, dan diharapkan dengan meningkatkan hasil belajar peserta didik. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu Dwi Arvina yang berjudul "Penerapan model pembelajaran Probel Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran PAI materi berpakaian sesuai syariat islam" yang menyatakan bahwa penggunaan model Problem Based Learning (PBL) efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI, khususnya dalam materi berpakain sesuai syari'at islam di kelas X APHP 1 SMK Negeri 2 Slawi, sebelum diterapkannya PBL, hasil belajar peserta didik beblum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Setiap proses pembelajaran pasti akan menghasilkan hasil belajar, baik berupa tingkah laku, penegtahuan maupun keterampilan. Hasil belajar adalah suatu hasil yang diperoleh peserta didik setelah proses pembelajaran dalam beberapa waktu tertentu. Menurut Nanasudjana "Hasil belajar peserta didik adalah perubahan tingkah laku, tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang luas mencakup bidang kognitif, afektif,psikomotor." Hasil belajar mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran karena proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan peserta didik dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Untuk mengetahui berhasil atau tidaknya proses pembelajaran maka akan diadakan evaluasi dengan menggunakan tes hasil belajar. Hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI seharusnya tinggi,hal ini disebabkan bahwa hasil belajar pada mata pelajaran PAI merupakan materi yang sangat berguna untuk kemanfatan beragama.Pemahaman agama yang baik dibutuhkan untuk menuntun perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.Alasan lainnya adalah bahwa mata pelajaran PAI sangat erat kaitannya dengan kehidupan keberagamaan peserta didik baik dalam lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Hasil Pembelajaran mata pelajaran PAI yang tinggi ini akan berbanding lurus dengan optimal dan efektifnya pembelajaran yang dilakukan guru di dalam kelas. Pada kenyataannya, hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI di SMK Darut Tauhid Bangil tingkat penguasan materi masih rendah. Hal ini dikarenakan, nilai rata-rata peserta didik masih dibawah KKM yang telah ditetapkan sekolah, banyaknya peserta didik yang masih tidur pada saat pembelajaran, guru masih mendominasi proses pembelajaran sehingga peserta didik masih nampak pasif dan guru masih menggunakan metode ceramah sehingga kurang menarik perhatian peserta didik dalam proses pembelajaran. Menurut penelitian Hasniati dalam (Hulu, 2017), beberapa gejala dan indikator rendahnya hasil belajar PAI antara lain: 1) Sebagian besar peserta didik belum mencapai hasil belajar sesuai dengan KKM yang telah ditetapkan sekolah, 2) pada saat guru melakukan tanya jawab dengan peserta didik masih banyak yang tidak bisa menjawab dan 3) nilai rata-rata kelas cenderung rendah. Dari indikator-indikator tersebut diketahui bahwa hasil belajar di Indonesia masih rendah. Berdasarkan uraian diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah peningkatan hasil belajar peserta didik dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi Khutbah,Dakwah, dan Tabligh keals Xl di SMK Darut Tauhid Bangil. KAJIAN TEORI Inovasi Pembelajaran Perkembangan dunia pendidikan erat kaitannya dengan inovasi. Inovasi yang dilakukan haruslah dapat diukur agara terlihat kemajuan yang telah dan akan dicapai. Strategi yang dibutuhkan dalam melakukan inovasi ada empat, yaitu strategi fasilitas, strategi pendidikan, strategi bujukan, dan strategi paksaan (Sofyana & Rozaq, 2019). Penentuan suatu strategi harus berdasarkan kebutuhan yang ada karena strategi memegang peran penting untuk menentukan efektivitas inovasi yang ada. Strategi inovasi dalam pendidikan harus dapat mengimplementasikan penggunaan teknologi yang cerdas dan pemanfaatan potensi yang ada untuk mewujudkan proses pembelajaran dan praktik pembelajaran yang lebih baik. Strategi inovasi yang kuat harus didukung dengan model prioritas pemerintah yang berkaitan dengan mengidentifikasi agen utama perubahan dan pendukungnya, memahami kebijakan stakeholder, meminimalisir masalah yang ada, dan menyusun serta menggunakan pendekatan yang efektif agar dapat mengukur dan pengembangan inovasi dapat berjalan dengan baik dan maksimal. Kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan mampu mewadahi banyak potensi yang ada, karena kebijakan pendidikan menjadi salah satu strategi inovasi pendidikan. Keberhasilan inovasi pendidikan membutuhkan dukungan dan bantuan pemangku kepentingan, seperti masyarakat, swasta, dan pemerintah. fondasi berupa sistem yang kuat dan efisien. Inovasi pendidikan berkaitan dengan teknologi digital. Inovasi pendidikan memerlukan pemikiran kritis, kreatif, dan imajinatif. Di sekolah, para guru menciptakan strategi atau metode mengajar yang menurutnya sesuai dengan akal yang sehat, berkaitan dengan situasi dan kondisi bukan berdasarkan pengalaman guru tersebut. Di berbagai bidang, para pencipta inovasi melakukan perubahan dan inovasi untuk bidang yang ditekuninya berdasarkan pemikiran, ide dan pengalaman dalam bidangnya itu yang telah digeluti berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Inovasi yang demikian memberi dampak yang lebih baik dari pada model inovasi yang pertama. Hal ini disebabkan oleh kesesuaian dengan kondisi nyata di tempat pelaksanaan inovasi tersebut. Karakteristik inovasi pendidikan terdiri atas: 1) memiliki keunggulan relative, manfaat, menguntungkan bagi pengguna, bersifat ekonomis, dan memberikan kepuasan bagi pengguna, 2) memilki tingkat kompleksitas, kerumitan, dan kesulitan yang beragam, 3) kompatibilitas yaitu kesesuaian dengan nilai, pengalaman, dan kebutuhan yang ada, 4) trialabilitas yaitu dapat diuji coba dan berjalan sesuai dengan fakta yang ada, dan 5) observability yaitu inovasi tersebut dapat diamati, dilihat, dan dirasakan keberadaannya (Aliwar, 2016). Model Pembelajaran Problem Based Learning Menurut (Sasoeng et al., 2023) menyatakan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) membantu siswa dalam mengembangkan kecakapan memecahkan masalah, meningkatkan pemahaman dan pengetahuan, serta keaktifan dalam mendapatkan pengetahuan. Sedangkan menurut (Purnamaningrum et al., 2012) Model Problem Based Learning (PBL) digunakan dengan menyajikan masalah nyata atau dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dapat membangun pengetahuan baru dengan mencari solusi untuk menyelesaikan suatu masalah yang disajikan dan mendorong siswa untuk berpikir kreatif. Menurut Toharudin dalam penelitian yang ditulis oleh Anik Handayani (Handayani & Koeswanti, 2021) mendefinisikan pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah model pembelajaran yang mempunyai ciri-ciri permasalah dalam dunia nyata sebagai dasar dalam pada peningkatan berpikir kreatif serta penyelesaian permasalahan. Model Problem Based Learning (PBL) menurut Erwin dalam (Handayani & Koeswanti, 2021) merupakan urutan kegiatan belajar mengajar dengan memfokuskan pemecahan masalah yang benar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Model belajar "berbasis" masalah berkaitan erat pada kenyatan dalam keseharian siswa, jadi siswa dalam belajar merasakan langsung mengenai masalah yang dipelajari dan pengetahuan yang diperoleh siswa tidak hanya tergantung dari guru. Masalah dalam PBL menggunakan masalah nyata yang dialami siswa sehari-hari dan bersifat terbuka sebagai konteks bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah dan berpikir kreatif siswa untuk menyelesaikan suatu permasalahan serta untuk membangun pengetahuan baru. Pendapat lain diungkapkan oleh Eggen pembelajaran berbasis masalah memiliki dua level yaitu siswa harus mampu menyelesaikan permasalahan yang berkaitan, sehingga mampu meningkatkan berpikir kreatif dalam penyelesaian masalah dan menjadi siswa yang mandiri. Adapun sumber penelitian tentang model problem based Learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif diantaranya penelitian yang dilakukan oleh (Zainiyati, 2010) melakukan penelitian dengan judul Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Melalui Penerapan Model Problem Based Learning. Hasil penelitian menunjukkan penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa. Hal itu terbukti dari adanya peningkatan berpikir kreatif dan hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II, dan dikategorikan sangat kreatif. Penelitian relevean lain dilakukan oleh (Zainiyati, 2010) dengan judul Penggunaan Model PBL untuk Meningkatkan Kemampuan Kemampuan Berpikir Kreatif. Penelitian yang dilaksanakan di SD 3 Adiwarno pada kelas IV, dengan jumlah siswa 36. Menunjukkan bahwa hasil penelitian dari segi proses dengan menerapkan model PBL terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa dilihat dari peningkatan hasil pada setiap siklus pembelajaran. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode penelitian kualitatif merupakan suatu cara yang digunakan untuk menjawab masalah penelitian yang berkaitan dengan data berupa narasi yang bersumber dari aktivitas wawancara, pengamatan, pengalian dokumen (Ali Hardiyanti et al., 2020; Hendrawati, 2017; Sugiyono, 2016; Sulastri et al., 2020). Sifat permasalahan dalam penelitian ini bersifat deskriptif yaitu mengumpulkan data atau informasi untuk disusun, dijelaskan, dan dianalisis (Asiah, 2017; HAMZAH, 2020; Nugraheni & Nada, 2017; Nugraheny & Mahasiswi, 2020). Jenis penelitian yang dilakukan adalah Deskriptif untuk mendeskripsikan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada pemebelajaran PAI di SMK Darut Tauhid Bangil Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrument atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri atau disebut sebagai (human instrument) yang berfungsi menetapakan focus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis data menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas temuannya (Adolph, 2016). Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas Xl di SMK Darut Tauhid Bangil Objek dalam penelitian ini adalah hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran PAI. Dalam penelitian kualitatif tidak dipersoalkan jumlah sample atau informan, semuanya tergantung pada kompleksitas dan keberagaman fenomena yang diteliti (Suyitno dalam (Safrudin et al., 2023)). Pemilihan obyek dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik Probability Sampling yaitu simple random sampling. Pengambilan sample ini dilakukan secara acak yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel (Jamil & Aprilisanda, 2020; Ning Mukaromah, 2019; Rosiful Aqli, 2016; Silmi et al., 2022). Pada penelitian ini, sample yang ambil yaitu peserta didik kelas Xl di SMK Darut Tauhid Bangil. Teknik pengumpulan data penelitian melalui obsrvasi pembelajaran di kelas Xl dan wawancara langsung dengan guru PAI dan beberapa peserta didik kelas Xl di SMK Darut Tauhid Bangil. Wawancara adalah teknik pengambilan data melalui pertanyaan yang diajukan secara lisan kepada responden dan bisa juga melalui telepon (Amir dan Sartika dalam (Asiva Noor Rachmayani, 2015)). Menurut Pongtiku, observasi adalah usaha sadar untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dengan prosedur yang terstanda. Observasi merupakan teknik pengumpulan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung (Silmi et al., 2022). Teknik analisis data adalah proses pengumpulan data secara sistematis untuk mempermudah peneliti dalam memperoleh kesimpulan. Menurut Miles & Huberman dalam (Kurnianto, 2019) analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data, dilakukan dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Penelitian ini dilaksanakan di SMK Darut Tauhid Bangil kelas Xl pada mata pelajaran PAI materi Khutbah, Dakwah, dan Tabligh. Berdasarkan pada kondisi di lapangan menunjukkan bahwa terdapat permasalahan yaitu rendahnya keaktifan peserta didik pada saat pembelajaran, banyaknya peserta didik yang masih tidur pada saat pembelajaran, guru masih mendominasi proses pembelajaran sehingga peserta didik masih nampak pasif dan guru masih menggunakan metode ceramah sehingga kurang menarik perhatian peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga hasil belajar peserta didik kurang maksimal. Data nilai ulangan harian kelas Xl mata pelajaran PAI menunjukkan bahwa peserta didik masih belum mencapai KKM yaitu 75. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, maka diperlukan adanya variasi dalam penggunaan model pembelajaran agar bisa mendorong peserta didik untuk lebih berperan aktif dikelas dan meningkatkan hasil belajar. Model yang akan diterapkan oleh peneliti untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Model Problem Based Learning (PBL) adalah salah satu model yang direkomendasikan untuk digunakan dalam kurikulum merdeka. Menurut (Sasmita & Harjono, 2021) Problem Based Learning (PBL) sendiri memiliki makna yakni belajar dengan penglibatan peserta didik dalam memecahkan problematika nyata. Jadi model Problem Based Learning (PBL) adalah salah satu model pembelajaran dengan menggunakan konteks permasalahan dunia nyata untuk diselesaikan oleh peserta didik sehingga meningkatkan berpikir kritis peserta didik untuk menghadapi dan mengatasi permasalahan dunia nyata sehingga akan meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dalam buku (Nurdyansyah & Fahyuni, 2016), sintaks pembelajaran berbasis masalah meliputi : 1) Orientasi peserta didik pada masalah, 2) Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar, 3) Membimbing pengalaman individual atau kelompok, 4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, 5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Proses pembelajaran menggunakan PBL dalam pembelajaran PAI materi Khutbah, Dakwah, dan Tabligh di SMK Darut Tauhid Bangil kelas XI dengan cara pemberian masalah kepada peserta didik, peserta didik berusaha memecahkan masalah yang diberikan oleh guru, sedangkan guru membantu proses pemecahan masalah yang dilakukan peserta didik dengan membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok, setelah itu guru menjelaskan persoalan yang harus ditemukan jawabannya oleh peserta didik. Peserta didik berusaha untuk menganalisis permasalahan yang diberikan. Pada kegiatan pembelajaran di SMK Darut Tauhid Bangil kelas XI tidak terlepas dari tahapan - tahapan yang harus dipenuhi guru guna lancarnya proses pembelajaran yaitu, guru membantu peserta didik dalam proses PBL dengan memberikan masalah kepada peserta didik untuk mencari literatur perbedaan antara khutbah,dakwah, dan tabligh, peserta didik mempelajari dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk memahami perbedaan tersebut, guru memberikan kesempatan bertanya kepada peserta didik terkait permasalahan seputar tema khutbah,dakwah, dan tabligh. Kemudian guru membagi peserta didik dalam beberapa kelompok, menentukan urutan kelompok yang melakukan presentasi, serta mempersiapkan penilaian dari pembelajaran yang dilakukan. Diskusi di akhiri dengan melakukan penilaian pembelajaran yang telah dilakukan. Evaluasi pada proses pembelajaran yang telah dilakukan yaitu dengan memberikan apresiasi terhadap kelompok yang sudah mempresentasikan dan bagi peserta didik yang terlihat aktif dalam pembelajaran, dan memberikan penguatan apabila ada jawaban peserta didik yang kurang sesuai. Hasil Belajar Setiap proses pembelajaran pasti akan menghasilkan hasil belajar, baik berupa tingkah laku, penegtahuan maupun keterampilan. Hasil belajar adalah suatu hasil yang diperoleh peserta didik setelah proses pembelajaran dalam beberapa waktu tertentu. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) telah diterapkan pada pembelajaran materi Khutbah,Dakwah, dan Tabligh di kelas Xl SMK Darut Tauhid Bangil, respon peserta didik adalah aktif dan antusias. Mereka lebih mudah mengerti ketika pembelajaran menggunakan model PBL dari pada model ceramah. Menurut Bu Iin, jika Peserta didik hanya diberikan pembelajaran dengan model ceramah, peserta didik mudah lupa dengan materi pelajaran yang disampaikan. Berbeda ketika pembelajaran yang menggunakan PBL, mereka akan berdiskusi dengan teman dan mereka bisa membayangkan kejadian nyata atau pun permasalahan nyata yang ada di sekitar mereka, sehingga mereka akan lebih mudah mengingat meskipun pembelajaran telah dilakukan jauh hari. Tabel 1. Daftar Nilai Tugas dengan model PBL No Nama Kkm Nilai Keterangan Nilai Rata-Rata 1 Alif Cita Qur'ani 75 80 Tuntas 82,7 2 Isnaini Aulia R 75 85 Tuntas 3 Jeka Febrianti 75 89 Tuntas 4 Kunthi Jazimatul Izza 75 90 Tuntas 5 Lintang Tuda Pratama 75 70 Tidak Tuntas 6 M. Anang Firdaus 75 88 Tuntas 7 M. Sofyan Afianysah 75 68 Tidak Tuntas 8 Rajab Bagastian 75 91 Tuntas 9 Sufi Rizqiyah Rahmah 75 84 Tuntas Berdasarkan hasil nilai tugas peserta didik menunjukkan bahwa nilai rata-rata peserta didik adalah 82,7 yang diperoleh dari jumlah total nilai dibagi dengan jumlah peserta didik. peserta didik di kelas Xl SMK Darut Tauhid Bangil mayoritas mencapai lebih dari KKM yaitu 75, meskipun beberapa peserta didik masih ada yang nilai dibawah KKM. Tetapi hal tersebut membuat peserta didik semakin berusaha, semangat dan aktif dalam pembelajaran PAI. Berdasarkan hasil wawancara dengan sebagian peserta didik di kelas Xl SMK Darut Tauhid Bangil Menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) membantu peserta didik untuk termotivasi menemukan jawaban aktif dalam pembelajaran dan sangat cocok dengan pembelajaran yang di harapkan peserta didik, sehingga materi pelajaran yang disampaikan oleh guru mudah di ingat oleh peserta didik dibandingkan dengan hanya penjelasan (ceramah) dan penugasan saja tanpa menghubungkan dengan permasalahan yang nyata. Jika penjelasan dengan ceramah, peserta didik mudah bosan dan sulit mengingat materi pelajaran yang sudah disampaikan. Pembelajaran PAI yang diharapkan oleh peserta didik yaitu disuksi kelompok, Tanya jawab, menyukai media pembelajaran dengan youtube, dan pembelajaran diselingi dengan permainan atau ice breaking. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu (Arvina et al., n.d.) yang berjudul "Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran PAI materi berpakaian sesuai syariat islam" yang menyatakan bahwa penggunaan model Problem Based Learning (PBL) efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran PAI, khususnya dalam materi berpakain sesuai syari'at islam di kelas X APHP 1 SMK Negeri 2 Slawi, sebelum diterapkannya PBL, hasil belajar peserta didik belum memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM). Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa, implementasi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran matematika termasuk dalam kriteria baik serta kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah berdasarkan langkah Polya dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) termasuk dalam ketegori baik (Ulfah et al., 2022). Hasil penelitian lain menunjukkan temuan: 1. model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) dilakukan dengan langkahlangkah; a) pemberian pertanyaan mendasar, b) orientasi peserta didik kepada masalah, c) mengorganisasikan peserta didik, d) membimbing penyelidikan kelompok, e) mengembangkan dan menyajikan karya. Temuan lain adalah tentang Penerapan model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) berbantuan media papan catur dapat meningkatkan hasil belajar siswa ditunjukkan pada hasil belajar siswa. Hasil belajar siswa yang mencapai = 70 meningkat pada siklus 1 dan siklus 2 (Yuli Puji Lestari, 2018). Menggunakan model PBL menuntun peserta didik terus aktif. Baik segi pengetahuan maupun keterampilan.hal tersebut sesuai dengan pendapat Rumiati dalam (Pokhrel, 2024) Problem based learning mengharuskan untuk aktif dalam pembelajaran. Tuntutan untuk aktif dalam pembelajaran ini dapat membangun pengetahuan. Dengan demikian, dari hasil observasi dan wawancara dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik dilihat dari nilai tugas dan keaktifan peserta didik selama proses pembelajaran. KESIMPULAN Pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan model Problem Based Learning (PBL) di kelas XI SMK Darut Tauhid Bangil menunjukkan hasil yang positif. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, penerapan model PBL telah berhasil meningkatkan keaktifan dan kreativitas peserta didik dalam proses belajar. Model ini tidak hanya mendorong siswa untuk berkolaborasi dalam kelompok, tetapi juga membantu mereka dalam memecahkan masalah yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Keunggulan model PBL terlihat dari peningkatan motivasi belajar, pengembangan pengetahuan baru, dan kemampuan berpikir kritis siswa. Meskipun terdapat beberapa kendala dalam penerapannya, seperti kesulitan dalam menyesuaikan materi dan mencari media pembelajaran yang tepat, model ini tetap efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil nilai tugas menunjukkan bahwa mayoritas peserta didik mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dan mereka menunjukkan semangat yang tinggi dalam pembelajaran. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa model Problem Based Learning (PBL) merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik, serta mendorong mereka untuk lebih aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran. REFERENSI Adolph, R. (2016). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Ali Hardiyanti, R., Roza, Y., & Maimunah. (2020). Analisis Kemampuan Komunikasi Matematis Siswan Di Tinjau Dari Self Confidence Siswa MTs. Jurnal Pendidikan Matematika APOTEMA, 7(1). Aliwar. (2016). Penguatan Model Pembelajaran Baca Tulis Qur'an dan Manajemen Pengelolaan Organisasi (TPA). Jurnal Al-Ta'dib, 9. Andi Musda Mappapoleonro. (2019). Profesionalisme Guru PAUD Abad 21 dalam Mengembangkan Pembelajaran Kreativitas Anak Usia Dini. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan STKIP Kusuma Negara PUTM-004, 2. Arvina, D., Riyadi, R., Islam, U., Abdurrahman, N. K. H., & Pekalongan. (n.d.). PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN PAI MATERI BERPAKAIAN SESUAI SYARIAT ISLAM KELAS XHP 1 SMK NEGERI 2 SLAWI. 511-531. Asiah, N. (2017). ANALISIS KEMAMPUAN PRAKTIK STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF (ACTIVE LEARNING) MAHASISWA PGMI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN IAIN RADEN INTAN LAMPUNG. TERAMPIL Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Dasar, 4(1), 20. Asiva Noor Rachmayani. (2015). Buku Ajar Metodologi Penelitian Dasar Bidang Pendidikan. Bekti Wulandari, H. D. S. (2013). Pengaruh problem-based learning terhadap hasil belajar ditinjau dari motivasi belajar PLC di SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, 3(2), 178. https://journal.uny.ac.id/index.php/jpv/article/view/1600/0 Destriani. (2022). Inovasi Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Di SMKN Negeri 1 Rejang Lebong. International Journal Of Educational Resources, 2(6), 614. Fieka Nurul, A. (2020). Tantangan Pelaksanaan Kebijakan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Covid-19. Info Singkat;Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual Dan Strategis. HAMZAH, A. (2020). METODE PENELITIAN KUALITATIF (A. Ariyanto (ed.); 1st ed.). Literasi Nusantara. Handayani, A., & Koeswanti, H. D. (2021). Meta-Analisis Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif. Jurnal Basicedu, 5(3), 1349-1355. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i3.924 Harahap, A., & Harahap, M. F. (2022). Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Kegiatan Ekonomi Di Sekolah Dasar. Dirasatul Ibtidaiyah, 2(1), 97-107. https://doi.org/10.24952/ibtidaiyah.v2i1.5626 Hayati, N., & Setiawan, D. (2022). Dampak Rendahnya Kemampuan Berbahasa dan Bernalar terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 6(5), 8517-8528. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i5.3650 Hendrawati. (2017). Pemaparan Metode Penelitian Kualitatif. Jurnal Akuntansi, 11, 1-17. Heny Kusmawati, Abdul Jalil Nurus Shobah, Erfina Diah Kusumawati, W. F. (2023). Pendidikan Islam di Abad 21. ). ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(9). Hulu, K. R. (2017). Jurnal Peningkatan-Hasil-Belajar-Pendidikan. 6(September), 379-388. Jamil, S. H., & Aprilisanda, I. D. (2020). PENGARUH PEMBELAJARAN DARING TERHADAP MINAT BELAJAR MAHASISWA PADA MASA PANDEMIK COVID-19. Behavioral Accounting Journal, 3(1), 37-46. https://doi.org/10.33005/baj.v3i1.57 Jusmawati, J., Satriawati, S., & Sabilah, B. (2020). Pengaruh Pembelajaran Berbasis Daring Terhadap Minat. Jurnal Kajian Pendidikan Dasar. Kurnianto, B. (2019). Dampak Sosial Ekonomi Masyarakat Akibat Pengembangan Lingkar Wilis Di Kabupaten Tulungagung. Jurnal AGRIBIS, 13(15), 1-31. Natsagdorj Bayarmaa, K. L. (2018). A Study on the Application of Google Classroom for Problem-Based Learning. Journal of Korea Academia-Industrial Cooperation Society. Ning Mukaromah. (2019). Korelasi metode pembelajaran dosen dengan motivasi belajar mahasiswa prodi PAI STAI Salahuddin Pasuruan. Tarbawi, Jurnal Studi Pendidikan Islami, 07(01), 39-45. http://ejournal.kopertais4.or.id/tapalkuda/index.php/tarbawi/issue/view/761 Ningsih, S. (2020). Persepsi Mahasiswa Terhadap Pembelajaran Daring Pada Masa Pandemi Covid-19. JINOTEP (Jurnal Inovasi Dan Teknologi Pembelajaran): Kajian Dan Riset Dalam Teknologi Pembelajaran. https://doi.org/10.17977/um031v7i22020p124 Nugraheni, A. S., & Nada, R. K. (2017). Studi Analisis Pembelajaran Bahasa Indonesia Pada Siswa Berkesulitan Menulis (Dysgraphia) Di Sd Intis School Yogyakarta. LITERASI (Jurnal Ilmu Pendidikan), 7(1), 1. https://doi.org/10.21927/literasi.2016.7(1).1-10 Nugraheny, A. R., & Mahasiswi. (2020). Peran teknologi, guru dan orang tua dalam pembelajaran daring di masa pandemi. Peran Teknologi, Guru Dan Orang Tua Dalam Pembelajaran Daring Di Masa Pandemi. Nurdyansyah, & Fahyuni, E. F. (2016). Inovasi Model. In Nizmania Learning Center. Nurul, F. (2020). Tantangan Pelaksanaan Kebijakan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Covid-19. Info Singkat;Kajian Singkat Terhadap Isu Aktual Dan Strategis. Octario Sakti Susilo, Nyoman Sudana Degeng, S. (2017). Pengembangan Multimedia Interaktif Ipa Kelas V Sd Pokok Bahasan Organ Tubuh Manusia dan Hewan. Edcomtech, Jurnal Kajian Teknologi Pendidikan, 2(2), 161-165. http://journal2.um.ac.id/index.php/edcomtech/article/view/2087/1232 Pokhrel, S. (2024). IMPLEMENTASI MODEL PBL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR MATEMATIKA SD GISIKDRONO 02 SEMARANG. ??a?, 15(1), 37-48. Purnamaningrum, A., Dwiastuti, S., Maya Probosari, R., & Noviawati. (2012). Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Melalui Problem Based Learning (PBL) pada Pembelajaran Biologi Siswa Kelas X-10 SMA Negeri 3 Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012 Increasing of Student'S Creative Thinking Through Implementation of Problem Based Learn. Pendidikan Biologi, 4(3), 39-51. Rosiful Aqli. (2016). Implementasi metode dirosati dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur'an di TPQ al-Falah Wuluhan Jember tahun pelajaran 2014/2015. Institut Agama islam Negeri Jember. Safrudin, R., Zulfamanna, Kustati, M., & Sepriyanti, N. (2023). Penelitian Kualitatif. Journal Of Social Science Research, 3(2), 1-15. Sasmita, R. S., & Harjono, N. (2021). Efektivitas Model Problem Based Learning dan Problem Posing dalam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 5(5), 3472-3481. https://doi.org/10.31004/basicedu.v5i5.1313 Sasoeng, N. J., Wonggo, D., & Liando, O. E. S. (2023). Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMK. Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi Dan Komunikasi, 3(2), 243-252. https://doi.org/10.53682/edutik.v3i2.7000 Silmi, B., Fariyatul Fahyuni, E., & Puji Astutik, A. (2022). Analisis Penerapan Model Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar Pai Siswa Sekolah Dasar. AL-MUADDIB: Jurnal Kajian Ilmu Kependidikan, 4(2), 135-146. https://doi.org/10.46773/muaddib.v4i2.370 Sofyana, L., & Rozaq, A. (2019). PEMBELAJARAN DARING KOMBINASI BERBASIS WHATSAPP PADA KELAS KARYAWAN PRODI TEKNIK INFORMATIKA UNIVERSITAS PGRI MADIUN. Jurnal Nasional Pendidikan Teknik Informatika (JANAPATI). https://doi.org/10.23887/janapati.v8i1.17204 Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif dan R & D (23rd ed.). Alfabeta. Sulastri, D., Maula, L. H., & Uswatun, D. A. (2020). Pemanfaatan Platform Digital Dalam Pembelajaran Online Selama Masa Pandemi Covid-19 Di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Dasar. Sun'iyah, S. L. (2020). Sinergi Peran Guru Dan Orang Tua Dalam Mewujudkan Keberhasilan Pembelajaran Pai Tingkat Pendidikan Dasar Di Era Pandemi Covid-19. DAR EL-ILMI : Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan Dan Humaniora. Ulfah, M., Karim, & Budiarti, I. (2022). Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning pada Pembelajaran Matematika Siswa Islam Sabilal Muhtadin Banjarmasin. Jurnal Pendidikan Matematika Undiksha, 13(2), 2613-9677. Ummah, M. S. (2019). TEORI DAN PRAKTIK MODEL PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR. In Sustainability (Switzerland) (Vol. 11, Issue 1). Wulandari, S. A., & Safitri, S. (2024). Penerapan Metode Game Based Learning Dalam Materi Sejarah Bandung Lautan Api Di Kelas XI IPS SMA Negeri 4 Pagar Alam. JIPSOS: Jurnal Inovasi Pendidikan Dan Ilmu Sosial, 2(1), 334-341. https://ejournal.uniramalang.ac.id/index.php/jipsos/article/download/3507/2794/26927 Yuli Puji Lestari, S. (2018). Jurnal Pendidikan Dasar PerKhasa Volume 4, Nomor 1, April 2018 PENERAPAN PBL. Jurnal Pendidikan Dasar PerKhasa, 4(April), 53-62. Zainiyati, H. S. (2010). Model Dan Strategi Pembelajaran Aktif (Teori dan Praktek dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam). Putra Media Nusantara Surabaya & IAIN PRESS Sunan Ampel, 1-232. Ashlach : Journal of Islamic Education Khoirun Nasihin, Wafiyul Ahdi ¦ Inovasi Pembelajaran: Menerapkan Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar yang Signifikan Ashlach : Journal of Islamic Education Khoirun Nasihin, Wafiyul Ahdi ¦ Inovasi Pembelajaran: Menerapkan Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar yang Signifikan 2| | 3 Journal of Islamic Education Vol. 02 No. 02 Oktober 2024 | Hal. 33 - 42 e-ISSN/p- ISSN : 2988-1285/2988-1277 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/ashlach Hak cipta (c) 2025 Ashlach : Jurnal Pendidikan Islam. Karya ini dilisensikan di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 .