Penerapan Pembelajaran Active Learning Tipe Problem Solving Untuk meningkatkan Berpikir Kritis Siswa Kelas Vll MTs Al-Ishlahiyyah, Wonorejo Pasuruan Nailatul Khoiriyah Cholil *1 Ma'rufah 2 Md Anisur Rahman 3 Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin (STAIS) Pasuruan,? INDONESIA Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin (STAIS) Pasuruan,? INDONESIA University of Dhaka Bangladesh Korespondensi: naylakyla83@gmail.com . Telp.: +6285646267204 Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submit: Februari 03, 2025 Review: Maret 15, 2025 Publish: April 28, 2025 Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya partisipasi siswa dalam pembelajaran fikih, yang berdampak pada lemahnya kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Untuk mengatasi hal ini, diterapkan pembelajaran Active Learning tipe Problem Solving guna merangsang partisipasi aktif dan berpikir tingkat tinggi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penerapan pembelajaran tersebut dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII di MTs Al-Ishlahiyyah Wonorejo Pasuruan, serta mendeskripsikan 1) penerapan pembelajaranactive learning tipe problem solving untuk meningkatkan berpikir kritis siswa kelas Vll MTs Al-ishlahiyyah wonorejo pasuruan, 2) implikasi yang ditimbulkan pembelajaran tersebut, 3) dan faktor pendukung serta penghambatnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif jenis studi lapangan, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa pembelajaran ini meningkatkan keterlibatan dan daya nalar siswa. Siswa lebih aktif berdiskusi, mampu menganalisis permasalahan, serta merumuskan solusi fikih. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong eksplorasi dan kolaborasi. Keberhasilan penerapan dipengaruhi oleh kesiapan guru, media pembelajaran yang bervariasi, dan keterbukaan siswa. Hambatannya meliputi keterbatasan waktu, variasi kemampuan akademik, serta adaptasi awal terhadap metode baru. Kata Kunci : Active Learning, Berpikir Kritis, Pembelajaran Fikih, Problem Solving PENDAHULUAN Penerapan pembelajaran mencakup keseluruhan proses pembelajaran dan menjadi dasar bagi strategi dan metode yang digunakan. Salah satu model yang dinilai efektif adalah Active Learning, yang berpusat pada siswa dan mendorong keterlibatan aktif serta pengembangan berpikir kritis. Untuk mengoptimalkan ini, metode Problem Solving digunakan sebagai pendekatan pemecahan masalah yang melatih siswa berpikir sistematis dan reflektif. Istilah pembelajaran kerap disamakan dengan pendekatan pembelajaran. Pendekatan ini mencakup rencana dan langkah-langkah yang digunakan sebagai panduan dalam merancang proses pembelajaran di kelas. Karena pembelajaran menjadi landasan bagi strategi dan metode, penting untuk memahami definisi model pembelajaran menurut para ahli untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. (Sartika, Untari, Rezania, & Rochmah, 2022). Menurut Kementrian Pendidikan Nasioanal, pembelajaran adalah rencena mengajar yang memperlihatkan "pola pengajaran" yang mengacu pada pendekatan tertentu dalam proses pengajaran yang meliputi tujuan, sintaks (urutan atau alur kegiatan), area, serta sistem pengelolaan secara keseluruhan. Pengajaran diartikan sebagai serangkaian syarat yang harus dilaksanakan, khususnya yang melibatkan siswa. Arends berpendapat bahwa untuk membentuk model pembelajaran yang utuh dan efektif, berbagai komponen dalam proses ini harus terpenuhi dengan baik.(Salamun et al., 2023). Menurut Adi, pembelajaran adalah kerangkat konseptual yang menjelaskan prosedur dalam mengorganisasi pengalaman belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, pemilihan pembelajaran harus mempertimbangkan tujuan pendidikan. Keselarasan antara model pembelajaran dan tujuan pendidikan akan mempermudah pengaturan model pembelajaran secara menyeluruh. Seiring waktu, pembelajaran terus berkembang dan menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya.(Agus Purnomo, 2022) Salah satu pembelajaran yang efektif adalah dengan mengimplementasikan Pembelajaran "Active Learning" karna sudah ada pada masa Socrates yang merupakan salah satu pencetus utama di antara para pendidik progresif seperti John Dewey yang beranggapan bahwa secara alami belajar merupakan proses yang aktif, Pembelajaran aktif atau active learning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang mengarah pada optimalisasi yang melibatkan aspek intelektual dan emosional siswa dalam proses pembelajaran yang mengarah pada pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai. Keterlibatan siswa secara aktif dalam proses Pendidikan yang diharapkan, yaitu keterlibatan mental (intelektual dan emosional) dan fisik siswa sangat diharapkan. Agar siswa benar-benar berpartisipasi dan berpartisipasi aktif dalam proses pendidikan, dengan memposisikan siswa sebagai subjek dan sebagai pihak penting dan kunci dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran.(Hidayat, Sapriya, Hasan, & Wiyanarti, 2022) Penerapan pembelajaran Active Learning menekankan pendekatan yang berpusat pada siswa, di mana mereka aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Tujuan utamanya adalah meningkatkan pemahaman, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan mendorong keterampilan kerja sama. Dalam pembelajaran ini, siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi juga terlibat dalam aktivitas yang mendorong interaksi, penemuan, dan refleksi. Salah satu kunci sukses dalam Active Learning adalah kemampuannya untuk mengasah kemampuan berpikir kritis siswa. Berpikir kritis merupakan kemampuan berpikir mandiri yang didasarkan pada kerangka berpikir yang relevan. Terdapat dua tipe berpikir kritis: berpikir lemah (sophistication) yang hanya memenuhi kebutuhan individu atau kelompok, dan berpikir kritis kuat yang melampaui kepentingan pribadi atau kelompok dengan mempertimbangkan konteks yang lebih luas.(Adisty, Evayenny, & Hasanah, 2021). Untuk mengoptimalkan pembelajaran, metode problem solving dapat diterapkan dalam Active Learning. Metode ini mengajarkan siswa cara menemukan solusi terhadap masalah melalui serangkaian langkah, mulai dari pengumpulan data hingga penarikan kesimpulan. Siswa dilatih untuk merumuskan masalah, memberikan respons terhadap situasi, serta menerapkan prinsip-prinsip yang telah dipelajari sebelumnya. Metode pembelajaran Active Learning tipe Problem Solving memiliki kelebihan dan kelemahan sebagaimana metode lainnya yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Dari segi kelebihan, metode ini menjadikan pembelajaran lebih bermakna karena siswa belajar menyelesaikan masalah dengan menerapkan pengetahuan yang telah mereka peroleh dan pahami. Selain itu, metode ini juga melatih siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam mencari solusi dengan lebih teliti. Kegiatan pembelajaran dengan tipe ini mendorong siswa untuk berpikir rasional, mengembangkan rasa tanggung jawab, dan menjadi lebih aktif di kelas. Tidak hanya itu, siswa juga dapat mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya untuk diaplikasikan dalam konteks yang relevan. Namun demikian, metode ini juga memiliki kelemahan. Salah satunya adalah membutuhkan alokasi waktu yang relatif lama dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Di sisi lain, guru sering mengalami kesulitan dalam menentukan tingkat kesulitan masalah yang sesuai dengan bidang studi yang diajarkan. Selain itu, dalam beberapa jenis mata pelajaran, kasus atau masalah yang diberikan kepada siswa sering kali membutuhkan biaya dan tenaga tambahan dalam pelaksanaannya. Menurut Sanusi dan Durratun Nafifah, metode dan strategi pembelajaran merupakan elemen yang sangat krusial dan saling terkait demi tercapainya proses pembelajaran yang optimal. Dalam penerapan model pembelajaran Problem Solving, terdapat beberapa faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi keberhasilannya. Faktor pendukung antara lain meliputi kualitas guru yang berperan sebagai pemimpin pembelajaran di kelas, dengan wawasan yang luas serta karakter yang disukai oleh siswa, orang tua, dan masyarakat. Guru juga harus memenuhi standar tanggung jawab, kemandirian, dan kedisiplinan. Selain itu, perhatian terhadap karakteristik siswa sangat penting, karena setiap siswa memiliki perbedaan yang perlu dipahami agar proses pembelajaran berjalan efektif dan menyenangkan. Sarana dan prasarana yang memadai juga menjadi penunjang utama karena dapat meningkatkan motivasi guru dan memberi ruang bagi siswa untuk belajar sesuai gaya dan minat mereka. Lingkungan pembelajaran yang baik, baik dari segi pengaturan kelas, rasio guru dan siswa, serta hubungan yang harmonis antar elemen sekolah dan masyarakat, juga turut mendukung keberhasilan penerapan metode ini. Sementara itu, terdapat pula beberapa faktor penghambat dalam penerapan pembelajaran Problem Solving. Di antaranya adalah kurangnya motivasi belajar pada siswa, di mana tidak semua peserta didik memiliki dorongan yang kuat untuk mengikuti pembelajaran, sehingga guru perlu memberikan dorongan semangat secara aktif. Dukungan yang kurang dari guru juga dapat menghambat proses ini, terutama jika guru tidak memberikan ruang bagi siswa untuk mengemukakan ide-ide kreatif dan tidak membimbing mereka dalam menyelesaikan masalah. Selain itu, rendahnya konsentrasi siswa, terutama pada siswa yang pendiam dan pemalu, dapat menyebabkan ketakutan dalam mencoba dan kurang fokus selama pembelajaran. Untuk mengatasi hal ini, guru perlu membangun keberanian dan kepercayaan diri siswa, serta menggunakan pendekatan yang tepat seperti ice breaking untuk mencairkan suasana dan membantu siswa lebih nyaman dalam proses belajar. Teori pembelajaran merupakan panduan yang digunakan dalam dunia pendidikan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi proses belajar mengajar agar tercapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien. Langkah pertama dalam pemecahan masalah Solso adalah identifikasi masalah, di mana masalah harus jelas dan relevan dengan kemampuan siswa, serta berkembang sesuai tingkat kemampuan mereka. Setelah itu, langkah kedua adalah representasi masalah, yaitu mencari data atau informasi yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah tersebut, seperti melalui buku, kitab Islam, Al-Qur'an, Hadits, riset, diskusi, dan lainnya. Langkah ketiga adalah perencanaan pemecahan, di mana siswa menetapkan jawaban sementara berdasarkan data yang telah diperoleh. Langkah keempat, menerapkan perencanaan, menguji jawaban sementara dengan berbagai metode untuk memastikan kevalidannya, misalnya melalui demonstrasi, tugas, dan diskusi. Setelah itu, langkah kelima adalah menilai perencanaan, di mana siswa menyimpulkan jawaban akhir dari permasalahan yang telah dibahas. Terakhir, pada langkah keenam, menilai hasil perencanaan, siswa diminta untuk mengevaluasi kembali jawaban yang ditemukan dengan bantuan guru, agar dapat memperbaiki dan mendapatkan hasil penilaian yang lebih akurat.(Sudarta, 2022) Menurut Muslich Berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, salah satunya melalui berpikir kritis, adalah suatu pendekatan berpikir yang mandiri dan mengikuti metode atau area tertentu untuk mencapai kesempurnaan dalam berpikir. Konsep berpikir kritis terbagi menjadi dua bentuk: jika berpikir digunakan untuk memenuhi kepentingan individu atau kelompok tertentu, maka itu disebut berpikir rasional atau berpikir kritis.(Sri satriani, 2020). Sesuai dengan Hasil penelitian terdahulu Penelitian ini memiliki orisinalitas yang terletak pada penerapan pembelajaran Active Learning tipe Problem Solving dalam pembelajaran fikih di kelas VII MTs, yang berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya. Penelitian terdahulu oleh Dewi Maria Ulfa menekankan pada peningkatan prestasi belajar siswa mata pelajaran IPS di kelas IV MI melalui metode Problem Solving dalam jenis penelitian studi kasus. Sementara itu, Nining Kristanti meneliti penggunaan model pembelajaran kooperatif Problem Solving pada mata pelajaran Ekonomi tingkat SMA dengan pendekatan kuasi eksperimen. Adapun Septi Ayuningsih mengkaji pengaruh metode Problem Solving terhadap kemampuan berpikir kreatif matematika siswa SMA, juga dengan desain kuasi eksperimen. Dengan demikian, fokus pada pembelajaran fikih dan penggunaan pendekatan kualitatif menjadikan penelitian ini berbeda dan orisinal dibandingkan penelitian-penelitian sebelumnya. Madrasah Tsanawiyah putri Al-Ishlahiyyah adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang bernaungan Pondok Pesantren yang terletak di Sambisirah Wonorejo Pasuruan .Mts Al-Ishlahiyyah mempunyai keunggulan mendalaman cara cepat baca kitab kuning dengan menggunakan metode Al-Miftah dan juga ungul dalam program tahfidzul Qur'an bagi yang minat menghafal 30 juz Al-Qur'an dan hanya menghfal surah yaumiyah, Berdasarkan wawancara dengan guru PAI dan guru fikih, ditemukan bahwa pendekatan Active Learning tipe Problem Solving memiliki potensi besar dalam meningkatkan keterlibatan siswa dan pemahaman materi. Namun, penerapannya masih belum optimal.(Laila, 2025). Penelitian yang di lakukan ini untuk meningkatkan keaktifan siswi Mts Al- Ishlahiyyah dalam belajarnya sehingga siswi dapat aktive dan kreatif dalam sebuah pembelajarn , dengan metode active learning tipe problem solfing memungkinkan terjadinya proses belajar-mengajar yang menyenangkan. Dengan demikian motivasi belajar peserta didik pun bisa ikut meningkat. Selain itu active learning juga memungkinkan peserta didik untuk lebih mudah memahami materi belajar yang disampaikan pendidik. Karena metode ini melibatkan partisipasi murid selama kegiatan belajar mengajar, maka bukan tidak mungkin hal tersebut dapat mengasah proses berpikir mereka. Menurut Djamarah, beberapa kelebihan dari strategi pembelajaran Problem Solving adalah: (a) metode ini dapat membuat pendidikan di madrasah lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks pekerjaan ; (b) pembelajaran berbasis pemecahan masalah dapat melatih siswa untuk menyelesaikan masalah secara kreatif, keterampilan penting bagi kehidupan; dan (c) strategi ini merangsang perkembangan kemampuan kognitif siswa secara kreatif dan merata, karena dalam proses belajarnya siswa mengalami berbagai proses yang berfokus pada konflik dari berbagai sudut pandang. Namun Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk metode Problem Solving. Hal ini terjadi karena perbedaan kondisi objek pembelajaran. (Observasi, 2025). Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik melakukan penelitian berjudul: "Penerapan Pembelajaran Active Learning Tipe Problem Solving untuk Meningkatkan Berpikir Kritis Siswa Kelas VII di MTs Al-Ishlahiyyah Wonorejo Pasuruan." Sebagaimana rumusan masalah sebagai berikut : Bagaimana proses penerapan model Active Learning tipe Problem Solving dalam meningkatkan berpikir kritis siswa kelas VII di MTs Al-Ishlahiyyah? Bagaimana implikasi penerapannya terhadap kemampuan berpikir kritis siswa? KAJIAN TEORI Active Learning a. Pengertian Active Learning Active Learning berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari dua kata, yaitu "Active" yang berarti penuh semangat atau giat, dan "Learning" yang berasal dari kata dasar "Learn" yang artinya mempelajari. Jadi peserta didik secara aktif akan mendominasi aktivitas selama pembelajaran dan penggunaan kepampuan berpikir dengan baik serta mampu menemukan ide pokok materi yang di sampaikan . Menurut Cahyo, Strategi pembelajaran Active Learning atau pembelajaran aktif adalah suatu metode pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan pola pikir peserta didik serta meningkatkan semangat belajar mereka melalui penggunaan strategi atau pendekatan yang menyenangkan.dalam strategi belajar active ,aktifitas belajar lebih di dominasi oleh peserta didik dengan menggunakan otak untuk menemukan konsep dan memecahkan masalah yang sedang di pelajari. Sedangkan pada pembelajaran konvensional, aktivitas lebih banyak menggunakan otak kiri dan bagian otak kanan kurang di perhatikan. berbeda dengan pembelajran active yang menggunakan otak kanan dan kiri secara seimbang. Active Learning pada dasarnya diterapkan untuk memperkuat stimulus dan respon pada peserta didik selama proses belajar mengajar dari hasil penelitian menunjukkan bahwa proses belajar sesungguhnya bukanlah dari kegiatan menghafal saja, hanya dengan hafalan hal yang di ingat akan mudah hilang.belajar bukan hanya menelan materi saja tetapi peserta didik perlu mengolahnya dan memahaminya untuk mengingat apa yang telah di pelajari. b. Karakteristik Pembelajaran Active Learning Pembelajaran Active Learning memiliki karakteristik sebagai berukut: 1) Sepanjang proses belajar mengajar ditekankan pada proses mengembangkan keahlian, pola pemikiran partisipan didik, dan bersikap kritis serta analitis dalam menanggulangi topik kasus. 2) Membagikan pengalaman nyata untuk partisipan didik terpaut modul pelajaranyang di informasikan, jadi partisipan didik bukan cuma mencermati secarapasif namun bila turut ikut serta aktif sepanjang aktivitas belajar mengajar. 3) Membagikan pergantian perilaku serta nilai pada partisipan didik kearah positif. 4) Partisipan didik diharapkan buat lebih berfikir kritis terhadap topick kasus yang lagi dibahas, dan sanggup mengevaluasi hasil kerja. 5) Terbentuknya proses umpan- balik yang balance antarapendidik serta partisipan didik. Pendekatan pendidikan dengan mempraktikkan strategi active learning guna memaksimalkan pola pikir intelektual serta emosional pada partisipasi peserta didik selama proses belajar mengajar berlangsung dalam tingkatan pengetahuan perasaan yang dapat mempengaruhi peserta didik dalam mengembangkan pengetahuan serta kecerdasan dalam diri. c. Prinsip Pembelajaran Active Learning Dengan adanya strategi belajar Active ini, dapat di terapkan oleh pendidik dalam proses pembelajaran serta mampu meningkatkan kemampuan sebagai guru yang kompeten,oleh sebab itu di perlukan mengetahui prinsip-prinsip dalam menerapkan pembelajaran active , antara lain: 1) Kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik 2) Pembelajaran di lakukan dengan pengalaman nyata 3) Mengembangkan rasa ingin tahu peserta didik,mengembangkan kreativitas dan membangun imajenasi peserta didik 4) Menberi dorongan dan motivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam memecahkan masalah. 5) Mengembangkan kemampuan dalam diri peserta didik . d. Manfaat Active Learning Keterlibatan interaksi antara peserta didik ,pendidik dan lingkungan belajar, dimana pada metode Active learning peserta didik di tuntut untuk lebih active dan mandiri dalam menerima pelajaran. adapun manfaat dari penerapan active learning sebagai berikut: 1) Memberikan pengalaman baru bagi peserta didik dalam kecakapan atau life skill,serta mampu beradaptasi dengan lingkungan secara mudah. 2) Membantu peserta didik supaya menjadi mandiri dan aktif dalam menyelesaikan tugas yang di berikan serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap suatu hal. 3) Wawasan peserta didik menjadi luas,terbuka,dan objektif.bersikap demokarasi serta menghargai pendapat orang lain ,memiliki rasa toleransi yang tinggi e. Kelebihan dan kekurangan Active Learning Setiap metode pengajaran yang digunakan dalam pendidikan memiliki kekurangan dan kelemahan, sehingga sebagai hasilnya, siswa selalu melakukan evaluasi setelah kegiatan selesai.Pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan metode pengajaran, memahami keadaan kelas, dan menggunakan teknik yang tepat. Adapun beberapa manfaat dari pembelajaran aktif meliputi: 1) Dengan menerapkan metode pembelajaran aktif di kelas, siswa dapat belajar melalui latihan yang menarik dan dengan mudah memahami materi yang sedang dibahas. 2) Partisipasi aktif siswa di kelas selama penerapan pembelajaran aktif dapat meningkatkan tingkat minat siswa dan memberikan pengalaman baru menggunakan media, permainan, gerakan, dan praktik di kelas. 3) Memberikan dorongan untuk belajar kepada siswa dan memberikan tantangan untuk belajar.Selain itu, pembelajaran aktif memiliki keterbatasan dalam hal implementasi. 1. Tipe Problem solving a. Pengertian Tipe Problem Solvig Problem Solving adalah proses menyelesaikan masalah dengan mendasarkan pada prinsip, gejala, atau peristiwa yang telah terjadi, disertai beberapa kemungkinan solusi. Pada tahap ini, peserta didik belajar untuk mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalah serta merespons rangsangan yang menggambarkan situasi tersebut. Menurut Miftahul Huda Problem Solving merupakan salah satu strategi pembelajaran yang termasuk dalam metode pembelajaran. Metode ini berfokus pada konsep pemecahan masalah. Melalui pembelajaran dengan metode Problem Solving, diharapkan siswa dapat menjadi lebih aktif dan kreatif dalam menyelesaikan berbagai masalah terkait ilmu pengetahuan. Selain itu, pembelajaran ini bertujuan untuk mendorong peserta didik agar lebih terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga tidak hanya bergantung pada metode ceramah dari guru. Dalam menerapkan pembelajaran dengan metode Problem Solving, guru perlu terlebih dahulu mempersiapkan masalah yang relevan dengan materi yang akan diajarkan kepada peserta didik. Masalah tersebut dapat berasal dari berbagai sumber tertulis, seperti buku, artikel, majalah, atau sumber kitab-kitab fikih, maupun dari sumber non tertulis, seperti peristiwa atau pengalaman yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. b. Manfaat dan tujuan Tipe Problem Solving Menurut Djahiri manfaat penggunaan metode pembelajaran Problem Solving dalam proses mengajar, adalah untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik. Metode ini juga memberikan berbagai keuntungan, beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: 1) Meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan masalah serta membuat keputusan secara mandiri dan objektif. 2) Mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik, dengan pemahaman bahwa kemampuan tersebut akan berkembang seiring bertambahnya pengetahuan. 3) Melalui penerapan metode pembelajaran Problem Solving, kemampuan berpikir peserta didik dikembangkan dalam situasi atau kondisi yang mereka amati dan minati, dengan berbagai pilihan pembelajaran yang beragam. 4) Membimbing siswa untuk mengembangkan rasa ingin tahu yang lebih mendalam serta kemampuan berpikir kritis, analitis, objektif, dan mandiri, baik secara individu maupun kelompok. c. Langkah-langkah pembelajaran Tipe Problem Solvig Langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan Tipe Problem Solving untuk siswa yang belum mampu berpikir pada tingkat tinggi dapat dirancang sebagai berikut: a) Lagkah Pemecahan Masalah Solso a. Identifikasi masalah: masalah nya harus jelas untuk diselesaikan, yang mana masalah ini harus relevan dengan kemampuan siswa dan berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. b. Representasi masalah : Mencari data atau keterangan yang dapat di gunakan untuk memecahkan masalah tersebut, misalnya dengan cara membaca buku-buku,kitab islam, rujukan Alqur'an dan Hadits,meneliti, bertanya, berdiskusi, dan lain sebagainya. c. Perencanaan pemecahan: Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut, tentu saja harus ada dasar yang dapat merujuk pada data yang telah di peroleh, dari langkah di poin dua yang atas. d. Menerapkan perencanaan: Yaitu dengan menguji jawaban yang benar yang bersifat sementara. dalam langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin dengan jawaban tersebut, apakah sesui ataukah cocok dengan masalah tersebut, untuk menentukan kevalidan sebuah jawaban ini pasti di perlukan metode-metode lainnya seperti demostrasi tugas, diskusi, dan lain-lain. e. Menilai perencanaan: Menyimpulkan, yaitu siswa harus dapat mencapai kesimpulan akhir mengenai jawaban dari permasalahan yang telah dibahas. f. Menilai hasil perencanaan : Yaitu setelah menyimpulkan hasil dari jawaban permasalahan, guru meminta siswa Mengvaluasi kembali dari jawaban nya dari beberapa kelompok, sehingga siswa dapat menemukan hasil penilaian tersebut sedang guru jugamembimbing terhadap penilaian hasil pemecahan tersebut. b) Langkah Pemecahan Masalah David Johnson Menurut Johnson, penyelesaian masalah dilakukan secara berkelompok. Dalam strategi ini, guru memberikan suatu isu yang relevan dengan materi pelajaran kepada siswa untuk mereka selesaikan. Oleh karena itu, pada awal pembelajaran, guru perlu membentuk beberapa kelompok agar siswa dapat berdiskusi mengenai permasalahan dan mencari solusinya. Pendekatan ini memungkinkan siswa untuk berpikir kritis, logis, dan kreatif, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kompetensi dan hasil belajar mereka. Prosedur penyelesaiannya sebagai berikut: 1. Menentukan Masalah: Tahap ini melibatkan perumusan masalah. Guru menyajikan beberapa permasalahan kepada siswa, lalu siswa diminta untuk menyusun rumusan masalah berdasarkan permasalahan yang telah diberikan. 2. Menganalisis Masalah: Pada tahap ini, siswa mengidentifikasi penyebab terjadinya masalah serta menganalisis faktor-faktor yang dapat membantu dalam menyelesaikan masalah maupun yang berpotensi menjadi hambatan dalam proses penyelesaiannya. 3. Merancang Alternatif Solusi: Siswa mencari dan menemukan berbagai pilihan strategi yang dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang telah diidentifikasi. 4. Memilih dan Menerapkan Strategi: Setelah menemukan beberapa pilihan strategi, siswa harus menentukan alternatif terbaik yang akan digunakan. Setelah keputusan dibuat, strategi yang telah dipilih kemudian diterapkan dalam penyelesaian masalah. 5. Menilai Keberhasilan Strategi: Pada tahap ini, siswa perlu mengevaluasi jalannya proses untuk menentukan apakah strategi yang diterapkan berhasil atau tidak. Selain itu, siswa juga harus menilai hasil dari penerapan strategi tersebut untuk memahami dampaknya. Dengan menerapkan langkah-langkah pengajaran Tipe Problem Solving yang telah disebutkan, guru dapat lebih mudah melaksanakan pembelajaran di kelas. Prosesnya dimulai dengan menyajikan masalah yang akan dikerjakan oleh peserta didik. Masalah ini kemudian diberikan kepada peserta didik untuk dipecahkan melalui eksperimen. Dalam proses tersebut, peserta didik dituntut untuk berpikir kritis dalam mengamati, mengevaluasi, atau mendiskusikan hasil jawaban dari masalah yang diberikan melalui diskusi kelompok. Pada tahap akhir, guru memperluas pemahaman tentang jawaban yang dihasilkan melalui presentasi dari setiap kelompok. d. Kelebihan dan Kelemahan metode Tipe Problem Solvig Hampir semua metode yang di terapkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah pasti memiliki kelebihan dam kelemahan salah satunya adalah metode Tipe Problem Solvig, berikut kelebihan dari meode Tipe Problem Solvig yaitu: 1) Pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa belajar untuk menyelesaikan masalah dengan menerapkan pengetahuan yang telah mereka peroleh dan pahami. 2) Pembelajaran ini dapat melatih siswa untuk berpikir kritis dan kreatif dalam mencari solusi masalah dengan teliti. 3) Metode ini mendorong siswa untuk berpikir rasional, mengembangkan rasa tanggung jawab, serta menjadi lebih aktif di dalam kelas. 4) Siswa dapat mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya, serta mengaplikasikannya dalam konteks yang sesuai. Kelemahan metode Tipe Problem Solvig sebagai berikut: 1) Membutuhkan Alokasi waktu yang sangat lama, dari model pembelajaran konversional. 2) Pada umumnya guru Kesulitan dalam menentukan tingkat suatu masalah atau kasus yang sesui dengan bidang studi. 3) Untuk beberapa jenis mata pelajaran, kasus atau masalah yang di berikan kepada siswa membutuhkan biaya dan tenaga tambahan. e. Faktor pendukung dan penghambat Tipe Problem Solving Menurut Sanusi dan Durratun Nafifah Metode dan strategi pembelajaran merupakan elemen yang sangat krusial dan saling terkait untuk memastikan proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efisien, sehingga keberhasilan kegitan pembelajaran dapat di hasilkan secara maksimal oleh karena itu di setiap pembelajaran membutuh kan beberapa faktor untuk mendukung keberhasilan tersebu, berikut adalah beberapa faktor yang mendukung metode Tipe Problem Solvig: Faktor pendukung 1) Guru sebagai pemimpin dalam proses pembelajaran di kelas memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas, serta memiliki sifat dan karakter yang disukai oleh siswa, orang tua, dan masyarakat. Oleh karena itu, guru harus memenuhi standar kualitas tertentu, yang meliputi tanggung jawab, kemandirian, dan kedisiplinan. 2) Siswa adalah aspek yang perlu mendapatkan perhatian lebih, sehingga guru harus memastikan tidak ada hambatan dalam proses pembelajaran. Hal ini akan membantu menciptakan rasa kekeluargaan, meningkatkan tingkat kecerdasan, hasil belajar, kepribadian, dan minat belajar yang kuat. Meskipun setiap siswa berbeda, mereka dapat ditangani dengan semangat yang tinggi. 3) Sarana dan prasarana yang memadai dapat meningkatkan motivasi guru dalam mengajar dan memberikan ruang yang lebih bagi siswa untuk belajar. Karena setiap siswa memiliki gaya belajar, minat, dan bakat yang berbeda-beda, fasilitas yang memadai sangat penting. 4) Lingkungan, baik dari segi organisasi kelas maupun faktor sosial psikologis, sangat memengaruhi keberhasilan suatu sistem pembelajaran. Hal ini mencakup pengaturan kelas, perbandingan jumlah guru dan siswa, serta hubungan yang baik dan harmonis antara guru, siswa, dan masyarakat. Faktor penghambat 1) Kurangnya motivasi belajar di kalangan peserta didik, di mana tidak semua siswa memiliki dorongan yang tinggi untuk belajar, membuat seorang guru perlu pintar dalam menyampaikan materi. Untuk itu, guru perlu memberikan motivasi agar siswa tetap bersemangat dan terinspirasi dalam proses pembelajaran. 2) Kurangnya dukungan dari guru juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Guru sebaiknya sering memperhatikan perkembangan siswa dan memberikan kebebasan bagi mereka untuk mengemukakan ide-ide kreatif. Hal ini bertujuan agar siswa merasa lebih percaya diri terhadap kemampuannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan tugas yang memungkinkan siswa untuk mencoba menyelesaikan masalah tersebut, setelah itu guru memberikan bimbingan dan membantu meluruskan jawaban yang mungkin salah. 3) Konsentrasi yang kurang dalam proses pembelajaran, terutama pada siswa yang cenderung ?pendiam, seringkali menyebabkan rasa takut dan kurangnya fokus karena mereka takut ?mencoba. Guru perlu menangani siswa yang pemalu dengan sabar, serta membantu ?mereka untuk tidak mudah tersinggung oleh kata-kata yang kurang menyenangkan. Dalam mengatasi masalah ini, guru perlu menumbuhkan sikap keberanian pada siswa, memberikan perhatian lebih, dan melatih mereka agar menjadi lebih berani dan percaya diri. Dengan pendekatan yang tepat, siswa dapat mengatasi kekurangan dalam konsentrasi, dan guru juga harus pandai mengelola emosi siswa, salah satunya dengan memberikan arahan di tengah pembelajaran guru melakukan ice breaking. 3. Kemampuan Berfikir Kritis a. Pengertian Berfikir Kritis Berpikir adalah kemampuan mental yang memungkinkan kita untuk menghubungkan berbagai pengetahuan yang kita miliki. Proses berpikir bersifat dialektis, yang berarti pikiran kita terlibat dalam interaksi tanya jawab untuk membentuk hubungan antarpengetahuan. Dalam berpikir, kita membutuhkan alat yang disebut akal. Berpikir juga merupakan bagian dari aktivitas mental yang tidak terpisahkan dari diri manusia, berlangsung dalam setiap proses mental untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, serta mencari alasan. Kemampuan berpikir sangat penting bagi siswa, sebagai persiapan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan dampak globalisasi di era sekarang. Menurut Johson Berpikir kritis merupakan aspek fundamental dalam berbagai aktivitas intelektual yang melibatkan siswa dalam proses belajar, seperti mengenali atau merumuskan argumen, menggunakan bukti sebagai pendukung, menarik kesimpulan yang logis, serta memanfaatkan informasi untuk menyelesaikan permasalahan. Proses berpikir kritis mencakup berbagai unsur dan prinsip yang penting dalam mengembangkan gagasan baru atau sudut pandang yang berbeda. Saat kita menganalisis karakteristik dari proses ini. Menurut Muslich Berpikir pada tingkat yang lebih tinggi, salah satunya melalui berpikir kritis, adalah suatu pendekatan berpikir yang mandiri dan mengikuti metode atau area tertentu untuk mencapai kesempurnaan dalam berpikir. Konsep berpikir kritis terbagi menjadi dua bentuk: jika berpikir digunakan untuk memenuhi kepentingan individu atau kelompok tertentu, maka itu disebut berpikir rasional atau berpikir kritis. Teori konstruktivisme mengungkapkan bahwa siswa memerlukan pengalaman belajar yang efektif untuk membangun pengetahuan dan mengasah keterampilan berpikir kritis. Sementara itu, pendidikan di era sekarang menuntut siswa untuk memiliki kemampuan dalam belajar dan berinovasi, dengan sebagian besar keterampilan yang melibatkan teknologi dan media informasi. Selain itu, keterampilan seperti berpikir kritis dan pengembangan kemampuan berpikir kritis sangat penting untuk meraih kesuksesan dan bersaing dalam kehidupan secara global. Proses berpikir kritis meliputi: 1) Menyelidiki kondisi atau keadaan 2) Mempertimbangkan pendapat berdasarkan bukti, data, atau asumsi 3) Menyampaikan argumen yang melebihi sekadar bukti 4) Menyampaikan dan mendukung kesimpulan, keputusan, atau solusi 5) Menerapkan kesimpulan, keputusan, dan solusi. b. Karakteristik Berfikir Kritis Kemampuan berpikir kritis sangat penting dalam menyelesaikan masalah. Karakteristik siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis antara lain: 1) Mampu menyatakan masalah dan persoalan dengan merumuskannya secara rinci dan cermat. 2) Mengumpulkan dan menilai informasi yang relevan dengan menentukan ide atau gagasan utama. 3) Menarik kesimpulan dan solusi berdasarkan alasan serta bukti yang tepat. 4) Berpikir secara terbuka dengan menilai, mengenali, dan mencari implikasi dari suatu hal. 5) Mengemukakan pendapat untuk mencari solusi terkait masalah kompleks tanpa terpengaruh oleh pandangan orang lain. 6) Mampu mengatasi kesalahan, membedakan fakta dan opini, serta memahami teori. c. Tahapan berfikir kritis Agus dan Purnama menyatakan kemampuan berpikir kritis adalah suatu proses di mana siswa secara aktif terlibat dalam berpikir reflektif dan mandiri melalui kegiatan membaca, mengamati, menganalisis, serta menentukan pilihan dan keputusan. Kemampuan ini mencakup keterampilan dalam menganalisis, berikut adalah tahapan-tahapan berpikir kritis: 1) Menganalisis adalah kemampuan untuk memecah suatu struktur menjadi bagian-bagian komponennya untuk memahami cara penyusunannya. Tujuan utama dalam menganalisis adalah untuk memahami proses dan keterampilan dalam mengurai suatu konsep baik secara umum maupun mendetail. 2) Sintesis merupakan proses menggabungkan berbagai informasi yang telah diperoleh untuk menciptakan ide-ide baru. Sintesis adalah keterampilan yang berlawanan dengan keterampilan analisis. 3) Mengidentifikasi dan memecahkan masalah adalah tahap yang memberikan pemahaman baru, mengenali dan menyelesaikan masalah yang muncul dapat menghasilkan sebuah konsep. Keterampilan ini mengharuskan pemahaman bacaan agar siswa dapat menangkap inti dari pokok pembahasan. 4) Kesimpulan adalah proses mengungkapkan kebenaran yang dimiliki serta memperbarui pengetahuan dengan informasi terbaru. 5) Mengevaluasi dan menilai adalah proses menyusun penilaian berdasarkan berbagai kriteria yang ada. Kedua hal ini merupakan tahap berpikir kognitif yang mengacu pada fakta dan konsep-konsep yang relevan. d. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berfikir kritis Setiap orang memiliki berbagai faktor yang memengaruhi kemampuan berpikir kritis mereka. Hal ini disebabkan oleh banyaknya faktor yang dapat memengaruhi kemampuan tersebut, Berikut adalah beberapa Faktor yang mempengaruhi kemampuan berfikir kritis: 1) Kondisi fisik dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis seseorang. Ketika individu dalam keadaan sedang sakit kemudian di tuntut untuk berpikir kritis lebih mendalam untuk memecahkan sebuah masalah sudah tentu kondisi seperti ini dapat mempengaruhi terhadap pemikiran individu, sehingga tidak bisa fokus dan konsentrasi di dalam berpikir . 2) Kegelisahan juga bisa mempengaruhi pada olah pikir, yang dampak nya dapat mempengaruhi kemampuan berfikir kritis. Secara kognitif kecemasan dapat membuat siswa kurang konsentrasi, sehingga dalam segi motorik siswa dapat mengakibatkan menjadi gugup dan dari segi efektif siswa menjadi emosi, yang mengakibatkan siswa menjadi mudah resah dan mudah tersinggung. 3) Perkembangan intelektual berhubungan dengan tingkat kecerdasan seseorang.dalam memberikan sebuah respon dan untuk menyelesaikan permasalahan, yang dapat menghubungkan dari suatu hal dengan hal yang lainnya. Adapun untuk mengenahi indikator di dalam perkembangan intelektual yaitu memiliki rasa ingin tahu, mandiri dalam berpikir, dan juga mampu untuk menyelesaikan permasalahan. 4) Motivasi adalah usaha untuk menciptakan dorongan atau rangsangan.yang dapat mendorong untuk melaksanakan suatu tujuan yang di tetapkan. Motivasi dapat di ketahui dengan kuatnya sebuah keinginan untuk bertindak, memiliki sikap yang ulet di dalam menghadapi kesulitan dan juga dapat mempertahankan argumen. Faktor eksternal yang mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa meliputi: 1) Gaya mengajar guru adalah cara yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan informasi dan materi, baik secara langsung maupun melalui perilaku, untuk menjelaskan pelajaran kepada siswa dengan memanfaatkan media pembelajaran. 2) Metode dan strategi pembelajaran, setiap guru memiliki pendekatan yang berbeda. Dalam memilih metode pembelajaran, harus disesuaikan dengan materi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. e. Indikator Berfikir Kritis Berpikir kritis adalah keterampilan kognitif yang memungkinkan seseorang untuk menelaah, menilai, dan menyusun argumen secara rasional berdasarkan bukti yang ada. Kemampuan ini memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam proses pengambilan keputusan, penyelesaian masalah, serta penalaran ilmiah. Menurut Ennis Indikator berpikir kritis digunakan sebagai pedoman untuk mengukur sejauh mana seseorang mampu berpikir secara analitis dan reflektif. Indikator-indikator ini mencakup berbagai aspek, mulai dari mengenali permasalahan hingga mengevaluasi solusi yang diusulkan. Dengan memahami indikator-indikator tersebut, seseorang dapat meningkatkan keterampilan berpikirnya agar lebih tajam dan objektif, hal ini dapat di tinjau sesuai berdasarkan indikator berpikir kritis menurut Ennis, adapun tahapan indikator dapat di lihat dalam tabel. 1) Pertama, peserta didik harus mampu menganalisis suatu permasalahan serta mempertimbangkan berbagai kemungkinan jawaban berdasarkan informasi yang diperoleh. Kemampuan ini dapat diamati melalui respons yang diberikan terhadap pertanyaan atau pernyataan yang diajukan. Dalam proses pembelajaran, siswa terlibat dalam berbagai aktivitas seperti membaca, berdiskusi, serta mengajukan atau menjawab pertanyaan yang diberikan. 2) Kedua, peserta didik harus mampu menilai kredibilitas suatu sumber, mengamati, serta mempertimbangkan hasil observasi. Siswa MTs kelas Vll Al-Ishlahiyyah dapat mencari jawaban dengan meneliti informasi yang diperoleh melalui pengamatan terhadap pencarian referensi dari masalah yang di tetapkan. kebebasan dalam mencari solusi dari setiap masalah dan keberanian bagi siswa untuk membedakan antara sumber yang valid dan tidak valid. Rasa ingin tahu yang tinggi menunjukkan bahwa siswa tersebut memiliki kemampuan berpikir kritis. 3) Ketiga, memberikan peluang bagi siswa untuk menafsirkan, menyusun kesimpulan, serta mempertimbangkan keputusan berdasarkan hasil analisis mereka. Proses ini dilakukan melalui interaksi antara guru dan siswa dalam merangkum materi yang telah dipelajari serta merumuskan hasil diskusi bersama, yang kemudian diikuti dengan penentuan langkah atau tindakan selanjutnya. 4) Keempat, mengasah keterampilan berpikir kritis dalam memahami makna suatu istilah sebagai bagian dari pengalaman lanjutan. Kemampuan memberikan penjelasan lebih mendalam menunjukkan bagaimana siswa dapat menyampaikan pemahaman yang tepat terkait penyelesaian suatu masalah. Pada tahap ini, siswa masih belum sepenuhnya optimal dalam melakukannya, karena suatu asumsi baru dapat diterima hanya jika disampaikan dengan jelas, logis, dan didukung oleh pengalaman yang luas. 5) Kelima, menyelesaikan masalah dan memberikan solusi yang tepat. Proses yang perlu dilakukan meliputi memahami konteks masalah, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan, serta mereview kembali informasi yang ada. METODE Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, yang menitikberatkan pada pemahaman mendalam terhadap proses, pengalaman, dan perspektif subjek penelitian. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang berfokus pada eksplorasi dan interpretasi perilaku manusia dalam konteks yang spesifik, yakni penerapan pembelajaran active learning dengan tipe problem solving. Dalam penelitian ini, peneliti terlibat langsung di lapangan, baik melalui observasi maupun wawancara, untuk menggali data yang kaya dan mendalam. Dengan pendekatan kualitatif, diharapkan dapat ditemukan pola, makna, serta pengalaman. Hal ini memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi bagaimana guru menerapkan strategi problem solving dan bagaimana siswa merespon serta mengembangkan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Pendekatan Deskriptif adalah jenis Pendekatan yang digunakan untuk memberikan gambaran rinci dan sistematis tentang Penerapan Pembelajaran Active Learning Dengan tipe Problem Solving. Deskriptif berarti bahwa penelitian ini bukan hanya sekadar menjelaskan, tetapi juga berupaya memahami konteks dan proses pelaksanaan pembelajaran PAI yang terjadi di Madrasah Tsanawiyah Al Ishlahiyyah. Pendekatan ini berfungsi untuk Menggambarkan langkah-langkah yang dilakukan oleh guru dalam menerapkan strategi problem solving pada pembelajaran PAI, Mengidentifikasi tantangan yang dihadapi oleh guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran ini serta Mengamati reaksi dan respon siswa terhadap pendekatan pembelajaran yang diterapkan serta dampaknya terhadap pemahaman mereka. Melalui pendekatan deskriptif, penelitian ini akan menyajikan data lapangan dalam bentuk narasi yang kaya dan bermakna, memberikan pemahaman yang mendalam terkait cara-cara efektif dalam mengajar PAI dengan menggunakan metode active learning dan problem solving.(Ummah, 2022) Penelitian ini dilakukan di Sekolah Madrasah Tsanawiyah (Mts) Al-Ishlahiyyah Tumpuk Sambisirah kecamatan Wonorejo Kabupaten Pasuruan Subyek penelitian ini adalah guru PAI di kelas Vll semester ganjil tahun akademik 2024/2025. Alasan pemilihan lokasi ini adalah karena Mts Al-Ishlahiyyah bertempat di kalagan pesantren yang mempunyai beberapa keunggulan yaitu dalam bidang pendalaman ilmu agama, terutama progam Tahfidz dan ekstrakulikuler yang menarik meliputi,Al-Banjari, Drum band dan lain-lain.(Henyy Kurniastuti, 2025) Sumber data utama dalam penelitian ini terdiri dari: pertama Guru yang mengajar PAI di MTs Al Ishlahiyyah menjadi salah satu sumber data penting. Informasi dari guru diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi langsung saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Data dari guru meliputi pendekatan, teknik, dan langkah-langkah yang diterapkan dalam Menerapkan model pembelajaran active learning dan tipe problem solving, serta tantangan yang dihadapi selama proses tersebut.Siswa MTs Al Ishlahiyyah: yang ke dua suber data yaitu Siswa yang menjadi peserta didik dalam kelas vii turut menjadi sumber data yang signifikan. Observasi dan wawancara dilakukan untuk mendapatkan data terkait pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan dengan strategi problem solving. Tehnik pengumpulan data data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati langsung proses pembelajaran PAI, khususnya penerapan Pembelajaran active learning tipe problem solving. Wawancara semi terstruktur dilakukan dengan guru dan siswa untuk menggali pandangan dan pengalaman mereka, sementara dokumentasi berupa silabus, RPP, dan catatan pembelajaran digunakan untuk mendukung data observasi dan wawancara.(Ardiansyah, Risnita, & Jailani, 2023) Penelitian ini menggunakan teknik analisis data interaktif yang meliputi tiga tahapan utama: (1) Reduksi Data, yaitu proses seleksi dan penyederhanaan data yang relevan dengan fokus penelitian, dilakukan secara berkelanjutan selama pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi; (2) Penyajian Data, yakni penyusunan data dalam bentuk narasi atau tabel yang sistematis untuk menggambarkan pelaksanaan model pembelajaran dan respons siswa; dan (3) Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi, yaitu proses merumuskan temuan utama yang menjawab rumusan masalah, disertai verifikasi data untuk menjamin validitas kesimpulan.(Sari & Zefri, 2019) Keabsahan data dalam penelitian ini diperiksa melalui teknik triangulasi, yaitu dengan membandingkan data dari berbagai sumber (guru, siswa, dan dokumentasi) untuk memastikan konsistensi dan validitas informasi. Triangulasi data juga dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, dan dokumentasi) sehingga informasi yang diperoleh lebih akurat dan dapat dipercaya Dengan pendekatan metode kualitatif deskriptif ini, diharapkan penelitian ini dapat memberikan gambaran yang lengkap dan mendalam terkait proses penerapan pembelajaran active learning dengan strategi problem solving, serta dampak yang ditimbulkan terhadap pemahaman siswa dalam pembelajaran PAI di Madrasah Tsanawiyah Al Ishlahiyyah.(Susanto, Risnita, & Jailani, 2023) HASIL DAN PEMBAHASAN Proses Penerapan Pembelajaran Active Learning Tipe Problem Solving Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Active Learning tipe Problem Solving pada mata pelajaran fikih di kelas VII MTs Al-Ishlahiyyah berjalan efektif. Proses penerapan diawali dengan pengenalan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, khususnya dalam topik macam-macam najis dan cara mensucikannya. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa untuk aktif dalam mengidentifikasi permasalahan, menggali informasi, berdiskusi dalam kelompok, dan menyusun solusi. Hasil dari penelitian yang di laksanakan di Madrasah Tsanawiyah Al-Ishlahiyyah Wonorejo Pasuruan pada mata pelajaran fikih kelas VII dengan materi "Bersuci" berdasar kan kondisi awal sebelum diadakan penelitian hampir setengah dari jumlah siswa kelas VII belum mencapai ketuntasan, Hal ini dikarenakan guru masih cenderung menggunakan ceramah dalam proses pembelajaran. Jadi guru lebih aktif sedangkan siswanya pasif dalam proses pembelajan yang berlangsung. Sehingga siswa tidak secara optimal menyerap materi pelajaran yang disampaikan, siswa akan merasa jenuh dan bosan. Sehingga hasil belajar siswa dalam pelajaran Fikih dengan pokok bahasan "Tata cara bersuci " deskripsi hasilnya rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut,maka di perlukan adanya variasi dalam menggunakan pembelajaran agar peserta didik untuk lebih berperan aktif di kelas dan meningkatkan hasil belajar. yang akan di terapkan oleh peneliti adalah dengan menggunakan penerapan Pembelajaran Active Learning dengan Strategi Broblem Solving diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.(Obsevasi, 2025) Siswa menunjukkan keterlibatan aktif melalui kegiatan diskusi, kerja kelompok, dan presentasi hasil pemecahan masalah. Tahapan pembelajaran problem solving mulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi solusi dijalankan secara sistematis dengan bimbingan guru. Aktivitas ini menciptakan suasana belajar yang lebih dinamis dan partisipatif dibandingkan dengan metode ceramah yang sebelumnya dominan digunakan.(Silvia Arianti, 2023) Berikut adalah langkah-langkah penerapan pembelajara Active Learning Tipe Problem Solving, pada mata pelajaran fikih di Madrasah Tsanawiyah Al- Ishlahiyyah: 1. Perencanaan Pada tahap ini, guru menyusun Modul, menyiapkan lembar observasi, LKS, dan soal evaluasi untuk mengukur ketuntasan belajar. Guru juga menciptakan suasana kelas yang kondusif agar pembelajaran berjalan lancar. Perencanaan meliputi: (1) Menentukan topik dan tujuan pembelajaran yang relevan dan menarik, seperti memahami konsep fikih atau memecahkan masalah keagamaan; (2) Merancang masalah yang menantang namun sesuai kemampuan siswa untuk merangsang berpikir kritis; dan (3) Membentuk kelompok heterogen agar terjadi saling belajar antar siswa. 2. Pelaksanaan Penerapan Pembelajaran Active Learning dengan tipe Problem Solving menggabungkan dua pendekatan efektif dalam pembelajaran. Active Learning mendorong siswa terlibat aktif, berpikir kritis, dan menemukan solusi, sedangkan Problem Solving menempatkan siswa pada situasi masalah yang harus mereka pecahkan untuk memperdalam pemahaman konsep. Solusi dan Problem Solving: Siswa dihadapkan pada masalah atau tantangan yang harus mereka pecahkan. Melalui pemecahan masalah, siswa membangun pemahaman konsep yang lebih mendalam. Berikut dijelaskan beberapa kegiatan yang dilakukan guru dalam mengimplementasikan model pembelajaran active learning dengan strategi problem solving pada mata pelajaran PAI (fikih) di kelas VII MTs Al-Ishlahiyyah." 3. Pendahuluan Pada kegiatan pendahuluan ini guru mengucapkan salam, bertanya kabar siswa, meminta ketua kelas untuk memimpin doa di depan, mengabsen siswa, melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawab terkait dengan materi yang sudah dipelajari pada pertemuan kemarin dan menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pertemuan kali ini 4. Kegiatan inti Pada kegitan inti ini sesai dengan teori solso, guru melakukan proses pembelajaran dengan cara sebagai berikut; a. Identifikasi masalah: masalah nya harus jelas untuk diselesaikan, yang mana masalah ini harus relevan dengan kemampuan siswa dan berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. b. Representasi masalah : Mencari data atau keterangan yang dapat di gunakan untuk memecahkan masalah tersebut, misalnya dengan cara membaca buku-buku,kitab islam, rujukan Alqur'an dan Hadits,meneliti, bertanya, berdiskusi, dan lain sebagainya. c. Perencanaan pemecahan: Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut, tentu saja harus ada dasar yang dapat merujuk pada data yang telah di peroleh, dari langkah di poin dua yang atas. d. Menerapkan perencanaan:Yaitu dengan menguji jawaban yang benar yang bersifat sementara. dalam langkah ini siswa harus berusaha memecahkan masalah sehingga betul-betul yakin dengan jawaban tersebut, apakah sesui ataukah cocok dengan masalah tersebut, untuk menentukan kevalidan sebuah jawaban ini pasti di perlukan metode-metode lainnya seperti demostrasi tugas, diskusi, dan lain-lain. e. Menilai perencanaan: Menyimpulkan, yaitu siswa harus dapat mencapai kesimpulan akhir mengenai jawaban dari permasalahan yang telah dibahas. f. Menilai hasil perencanaan: Yaitu setelah menyimpulkan hasil dari jawaban permasalahan, guru meminta siswa Mengvaluasi kembali dari jawaban nya dari beberapa kelompok, sehingga siswa dapat menemukan hasil penilaian tersebut sedang guru jugamembimbing terhadap penilaian hasil pemecahan tersebut. ini melibatkan siswa secara aktif dalam proses berpikir kritis dan kolaboratif, sehingga meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam menyelesaikan masalah. g. Penutup Kegiatan terakhir adalah penutup. Guru menutup pembelajaran dengan memberikan umpan balik dan penguatan terkait dengan materi yang sudah dipelajari. Guru juga menjelaskan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya serta menutup pembelajaran dengan salam dan berdoa bersama. Implikasi terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Berdsarkan hasil penelitian Penerapan pembelajaran active learning tipe problem solving pada mata pelajaran Fikih dibandingkan dengan pembelajaran lain seperti ceramah, diskusi biasa, menunjukkan beberapa perbedaan signifikan dalam respon peserta didik adalah aktif dan antusias, dan juga dapat berpikir kritis ini mempunyai bahan kontribusi yang penting agar di buat bahan evaluasi proses pembelajaran oleh guru PAI di Mts Al-ishlahiyyah dari hasil wawancara,mengatakan bahwa guru PAI mapel fikih menerapkan pembelajaran active learning dengan tipe problem solving. (Zaman, 2020) Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan salah satu siswa kelas Vll Mts Al-ishlahiyyah yang menyatakan bahwa beliau guru mapel fikih ketika mengajar tema Tata cara bersuci, beliau ibu Arini menyatakan bahwa dengan penerapan pembelajaran Active Learning dengan tipe Problem Solving, Siswa merasa lebih terlibat karena mereka diminta aktif berpikir, berdiskusi, dan mencari solusi terhadap memecahkan sebuah masalah nyata yang berkaitan dengan materi Fikih. Hal ini membuat mereka merasa dihargai dan berkontribusi dalam pembelajaran.Sehingga pembelajaran begitu menyenangkan dan memperkuat daya ingat peserta didik. Temuan ini sejalan dengan teori Ennis yang menyebutkan bahwa berpikir kritis dapat berkembang melalui pembelajaran yang menekankan analisis, evaluasi, dan sintesis informasi. Model Active Learning tipe Problem Solving memberikan ruang yang luas untuk mengasah aspek tersebut melalui pengalaman belajar yang aktif dan bermakna. Dibandingkan dengan metode konvensional, model ini juga lebih memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran yang bersifat afektif dan psikomotorik, karena siswa terlibat secara langsung dan bertanggung jawab atas proses belajarnya.(Sri satriani, 2020) Penerapan pembelajaran ini secara nyata meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, ditunjukkan dari beberapa indikator seperti: * Siswa mampu mengajukan pertanyaan yang relevan dan berbobot, * Mampu menganalisis dan membandingkan berbagai pandangan atau dalil, * Menunjukkan argumentasi logis dalam menjawab masalah fikih, * Aktif memberikan umpan balik terhadap ide teman sekelas Guru mengungkapkan bahwa dengan penerapan pembelajran ini, siswa tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga dapat mengaplikasikan nilai-nilai fikih secara kontekstual dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil temuan dari observasi dengan sebagian peserta didik di kelas Vll Mts Al- Ishlahiyyah Wonorejo Pasuruan Penerapan Pembelajaran Active Learning tipe Problem Solving sangat cocok untuk diterapkan di berbagai konteks pembelajaran. pembelajaran ini tidak hanya meningkatkan pemahaman materi, tetapi juga mengembangkan keterampilan siswa seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi. Dengan penyesuaian terhadap kebutuhan peserta didik, metode ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, namun pada dasar nya juga ada beberapa faktor pendukung dan penghambat nya dalam penerapan pembelajaran ini, berikut adalah faktor pendukung dan penghambat dalam hasil temuan observasi di tempat penelitian. (Nafisah & Sanusi, 2020) Faktor Pendukung dan Penghambat Beberapa faktor pendukung dalam penerapan model ini antara lain: * Semangat nya guru dan siswa * Profesionalisme Guru dalam pembelajaran * Adanya sarana dan prasarana Adapun faktor penghambat yang diidentifikasi mencakup: * Kurang semangat dan motivasi belajar * Kurangpersiapan guru KESIMPULAN 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Pembelajaran Active Learning tipe Problem Solving di kelas VII MTs Al-Ishlahiyyah Wonorejo Pasuruan berlangsung melalui tahapan-tahapan yang terstruktur, mulai dari pemberian permasalahan kontekstual, diskusi kelompok, eksplorasi ide, hingga pemaparan solusi oleh siswa. Proses ini menciptakan suasana pembelajaran yang partisipatif, di mana siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga aktif dalam membangun pengetahuan melalui interaksi dan refleksi. 2. Implikasi dari penerapan pembelajaran ini sangat positif terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Terlihat adanya perubahan perilaku siswa dalam hal keaktifan, keberanian menyampaikan pendapat, kemampuan menganalisis masalah, serta ketajaman dalam menarik kesimpulan atas permasalahan fikih yang dibahas. Pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa terlibat langsung dalam proses pencarian solusi terhadap kasus-kasus nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. 3. Keberhasilan pembelajaran ini ditunjang oleh beberapa faktor pendukung, antara lain kesiapan guru dalam merancang skenario pembelajaran, penggunaan media pembelajaran yang bervariasi, serta motivasi siswa untuk mencoba pendekatan baru. Adapun hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan waktu, perbedaan tingkat kemampuan akademik siswa, dan tantangan awal dalam beradaptasi dengan pembelajaran aktif. Kendati demikian, hambatan tersebut dapat diatasi melalui perencanaan yang matang dan pembinaan berkelanjutan. REFERENSI Adisty, A. N., Evayenny, & Hasanah, N. (2021). Analisis Kemampuan Bepikir Kritis Pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ). Semnara 2021, 1-7. Retrieved from https://jurnal.stkipkusumanegara.ac.id Agus Purnomo, D. (2022). Pengantar Model Pembelajaran. Ardiansyah, Risnita, & Jailani, M. S. (2023). Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian Ilmiah Pendidikan Pada Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Jurnal IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam, 1(2), 1-9. https://doi.org/10.61104/ihsan.v1i2.57 Henyy Kurniastuti, S. P. (2025). Transkrip Hasil Wawancara Kurikulum (7 Februari 2025), 1, 1. Hidayat, K., Sapriya, S., Hasan, S. H., & Wiyanarti, E. (2022). Keterampilan Berpikir Kritis Peserta Didik dalam Pembelajaran Hybrid. Jurnal Basicedu, 6(2), 1517-1528. https://doi.org/10.31004/basicedu.v6i2.2265 Laila, D. N. (2025). Tsankrip Hasil wawancara kepala sekolah ( 5 Februari 2025), 1, 1. Lubur, Dorothea Novia Ludo. "Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Pada Materi Fungsi Melalui Penerapan Model Pendidikan Matematika Realistik." Jurnal Ilmiah Mandala Education 7, no. 1 (2021): 182-189. Manurung. "Mimbar Kampius : Jurnal Pendidikan Dan Agama Islam Mimbar Kampius : Jurnal Pendidikan Dan Agama Islam." Mimbar Kampus: Jurnal Pendidikan dan Agama Islam 20, no. 1 (2021): 13-23. Nafisah, D., & Sanusi, S. (2020). Upaya Meningkatkan Kemampuan Berfikir Siswa Melalui Implementasi Metode Problem Solving Pada Mata Pelajaran Ips Di Mi Nu Tamrinul Aulad Kudus. IJTIMAIYA: Journal of Social Science Teaching, 4(1), 10. https://doi.org/10.21043/ji.v4i1.7382 Observasi, H. (2025). Lapangan 2 (25 februari 2025), 1, 3. Obsevasi, H. (2025). Lapangan ke 3 6 Maret 2025, 1, 2. Safitri, Ayu, Restu Lusiana, and Fatriya Adamura. "Karakteristik Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA Dengan Kemampuan Kognitif Tinggi Dalam Pemecahan Masalah Matematika" 9, no. 1 (2024): 14-29. Salamun, Widyastuti, A., Syawaluddin, Iwan, R. N. A., Simarmata, J., Simarmata, E. J., ... Arief, M. H. (2023). Buku-Referensi-Model-Model-Pembelajaran-Inovatif. Sari, M. S., & Zefri, M. (2019). Pengaruh Akuntabilitas, Pengetahuan, dan Pengalaman Pegawai Negeri Sipil Beserta Kelompok Masyarakat (Pokmas) Terhadap Kualitas Pengelola Dana Kelurahan Di Lingkungan Kecamatan Langkapura. Jurnal Ekonomi, 21(3), 311. Sartika, S. B., Untari, R. S., Rezania, V., & Rochmah, L. I. (2022). Belajar Dan Pembelajaran. Silvia Arianti. (2023). Metode Problem Solving Dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Ix Smpn 2 Sampit Pada Pelajaran Ips Sejarah. JURNAL MERETAS Volume 4, Nomor 1 | ISSN 2303 - 0100, 4, 84-97. Sri satriani, W. (2020). Implementasi Model Pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Mahasiswa, (1645), 1-76. Sudarta. (2022). Interaksi Belajar Mengajar, 16(1), 1-23. Sudrajat, Yayat. "Implementasi Pembelajaran Aktif (Active Learning) Untuk Meningkatkan Kompetensi Spiritual Dan Sosial Siswa Dalam Pembelajaran Pendidikan Pancasila." Academy of Education Journal 11, no. 2 (2020): 142-167. Sugeng Prianto, Darwin Hamisi, and Evi Octaviana. "Metode Pendidikan Agama Islam Dalam Al-Qur'an." At Turots: Jurnal Pendidikan Islam 2, no. 2 (2021): 118-127. Suharsimi, Arikunto. "Prosedur Penelitian" 2, no. 3 (2022): 211-213. Suherman, Ade Suherman, Yuyun Susanti Yuyun Susanti, and Yulianti Imaniar. "Metode Pembelajaran Active Learning Tipe Problem Solving Dan Cooperative Learning Tipe Group Investigation Dalam Meningkatkan Hasil Belajar." Journal Civics & Social Studies 4, no. 2 (2020): 57-63. Susanto, Dedi, Risnita, and M. Syahran Jailani. "Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data Dalam Penelitian Ilmiah." Jurnal QOSIM Jurnal Pendidikan Sosial & Humaniora 1, no. 1 (2023): 53-61. Ulya, Muhimmatul. "Transkrip Hasi Wawancara Kelas Vll (7 Maret 2025)" 1 (2025): 1. Umi Kultsum, S.Pd Guru PAI. "Wawancara (10 Desember 2024)." Ummah, M. S. (2022). Buku PEMIKIRAN KRITIS DAN KREATIF. Sustainability (Switzerland) (Vol. 11). Retrieved from http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng-8ene.pdf?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.regsciurbeco.2008.06.005%0Ahttps://www.researchgate.net/publication/305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELESTARI Zaman, B. (2020). Penerapan Active Learning Dalam Pembelajaran Pai. Jurnal As-Salam, 4(1), 13-27. https://doi.org/10.37249/as-salam.v4i1.148 Ashlach : Journal of Islamic Education Nailatul Khoiriyah, Ma'rufah ŠPenerapan Pembelajaran Active Learning Tipe Problem Solving Untuk Meningkatkan Berfikir Kritis Siswa Kelas VII MTs Al-Ishlahiyyah Wonorejo Pasuruan Ashlach : Journal of Islamic Education Nailatul Khoiriyah, Ma'rufah ŠPenerapan Pembelajaran Active Learning Tipe Problem Solving Untuk Meningkatkan Berfikir Kritis Siswa Kelas VII MTs Al-Ishlahiyyah Wonorejo Pasuruan 16| | 15 Journal of Islamic Education Vol. 03 No. 01 April 2025 | Hal. 15 -32 e-ISSN/p- ISSN : 2988-1285/2988-1277 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/ashlach Hak cipta (c) 2025 Ashlach : Jurnal Pendidikan Islam. Karya ini dilisensikan di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 .