Implementasi Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning Tipe Inquiry Based Learning Untuk Meningkatkan Berfikir Kritis Siswa Yunus 1 Sekolah Tinggi Agama Islam Salahuddin (STAIS) Pasuruan INDONESIA Korespondensi : mukaromahning17@gmail.com Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submit: Februari 16, 2024 Review: Maret 10, 2024 Publish: April 29, 2024 Penelitian ini membahas penerapan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) tipe Inquiry-Based Learning dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas VII pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MTs Darumafatihil Ulum, khususnya materi sifat-sifat wajib Allah SWT. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model CTL tipe Inquiry dilaksanakan melalui tiga tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Faktor pendukung meliputi ketersediaan media pembelajaran, pengalaman dan karakter siswa, serta kompetensi guru. Faktor penghambat antara lain keterbatasan waktu, kurangnya pengalaman siswa, karakter pasif, dan kompetensi guru yang belum optimal. Respons siswa beragam, dengan respons positif berupa meningkatnya motivasi, keterlibatan langsung, dan kemampuan berpikir kritis, sedangkan respons negatif muncul dari siswa pendiam atau kurang berpengalaman yang merasa kesulitan dan jenuh. Kata Kunci : Model Pembelajaran; Contextual Teaching and Learning; Inquiry Based Learning; Berpikir Kritis PENDAHULUAN Model Pembelajaran merupakan proses interaksi dalam proses belajar yang terdiri dari semua komponen yang ada. Komponen pembelajaran yang ada di kelas diantaranya adalah guru, peserta didik, materi, media, sumber belajar dan lingkungan. Untuk melancarkan proses pembelajan suatu Lembaga menggunakan model pembelajar. Model pembelajaran biasanya disusun berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan berbagai prinsip atau teori pengetahuan. Dalam penyusunannya, para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran, teori-teori psikologis, sosiologis, analisis sistem, atau teori-teori yang lain yang dapat mendukung dalam penyusunan tersebut (Jamaluddin, 2010). Menurut Joyce & Weil berpendapat bahwasannya model pembelajaran adalah rancangan atau suatu pola yang nantinya dapat membentuk suatu kurikulum, merancang / mendesain bahan-bahan pembelajaran, dan membina proses belajar di kelas atau yang lainnya. Model pembelajran juga dapat di jadikan pola pilih, maksudnya para dapat memilih sebuah model pembelajran yang di anggapnya sesuai dan efisien untuk mempermudah dalam pencapaiaian pembelajaran dalam Pendidikan (Hendracipta, 2021). Menurut Zubaedi model pembelajarab mempunyai arti suatu pola yang di dapat di gunakan untuk menyusun suatu kurikulum, mengatur materi, dan member petunjuk bagi guru dikelas (Zubaedi, 2011). Seorang guru di tuntut untuk memikili karakteristik kepribadian yang baik dengan persyaratan yang bersifat psikilogis - pedagogis. Seorang guru berwibawa pedagogis tidak tertuju pada bakat bawa an saja (sejak lahir), akan tetapi dari hasil kerja keras dan ketekunan yang terarah serta berkesinambungan dari guru dengan orang - orang terkait di dalamnya. Terutama pimpinan pendidikan yakni kepala sekolah yang tugasnya menjadi administrator dan supervisor yang menjadikan pembelajaran di pendidikan tersebut makin maju dan berkembang serta guru dan murid dapat melaksanakan kegitan pembelajaran dengan baikagar seorang guru bisa mengajar dengan baik (Soetopo & Soemanto, 1984). Dalam meningkatkan mutu pendidikan, seorang guru harus memiliki keterampilan dalam memilih model pembelajaran yang nantinya akan di terapkan dalam sebuah system pembelajaran yang efektif. Salah satu factor keberhasilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran adalah kemampuan penguasa an macam - macam metode yang akan di terapkan, yang penerapannya menyesuaikan dengan karakteristik siswa dan materi yang ada. Keaktifan siswa dalam belajar juga sangat di perlukan untuk menghidupkan dan melatih memori siswa agar bekerja secara optimal, dalam hal ini guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk mengoptimalkan memorinya yang bekerja keras sesuai bahasanya dan kreativitasnya sendiri. Jadi siswa tidak diam dan mendengarkan saja dalam proses pembelajaran yang biasa terjadi pada guru yang memakai metode ceramah. Namun, dalam sebuah pembelajaran terdapat beberapa komponen yang di pandang sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran pendidikan agama islam, salah satu dari komponen tersebut adalah metode pembelajaran agam, apa bila di tinjau dari karakteristik siswa per individu pasti mempunyai perbedaan kemampuan,gaya belajar,budaya,kepercayaandan lain sebagainya, dari berbagai macam perbedaan siswa, guru harus mempunyai kemampuan sekiranya semua siswa terlibat dan merasa senang dalam proses pembelajaran. Pada zaman sekarang pendidikan agama di merupakan jalan alternatife untuk memangun karakter dan keperibadian yang baik, namun tak jarang kegagalan itu terjadi, besar kemungkinan dalam proses pemebalajarannya kurang memperhatikan masalah atau persoalan gimana sekiranya pengetahuan keagamaan yang bersifat kognitif menjadi makna dan nilai dalam kehidupan yang sangat perlu di tanamkan pada diri siswa (Muhaimin et al., 2001). Seorang guru sangat berperan dalam mengembangkan nilai nilai agam pada siswa. Ada beberapa factor dalam keberhasilan guru dalam proses pembelajaran pendidikan agama islam, salah satunya adalah kemampuan guru dalam menguasai model model pembelajaran. Sebagaimana yang telah kita ketahui banyak sekali model pembelajaran yang di tawarakn pada zaman sekarang ini, namun tak semua model pembelajaran tersebut sesuai dengan kondisi yang ada, perlu penyaringan dan pengujian dalam penerapan suatu model pemebelajaran yang tepat. Pemilihan model pembelajaran yang tepat sangat penting dalam proses pembelajaran karena memiliki hubungan yang erat dengan kesuksesan pendidikan. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan penerapan kurikulum saat ini adalah Model Pembelajaran Kontekstual. Model ini mengharuskan peserta didik untuk berpikir lebih mendalam dan mampu menghubungkan konsep-konsep yang mereka pelajari di sekolah dengan permasalahan yang ada di masyarakat. Dengan penerapan pembelajaran kontekstual, peserta didik dilatih untuk berpikir kritis dan menyelesaikan masalah secara tepat. Pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah pendekatan pembelajaran yang fokus pada keterlibatan aktif siswa untuk menghubungkan materi yang dipelajari di kelas dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari dan mengaplikasikannya. Dengan cara ini, pembelajaran menjadi lebih bermakna, karena prosesnya tidak hanya sebatas transfer pengetahuan dari guru ke siswa, tetapi lebih menekankan pada pencapaian hasil pembelajaran yang tercermin dalam aktivitas dan kegiatan di kehidupan nyata. Hal ini membuat siswa menyadari bahwa apa yang mereka pelajari tidak hanya sekadar pengetahuan, tetapi juga memiliki nilai praktis dan relevansi dalam kehidupan mereka (Harudin & Saputra, 2018). Dalam model pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) sendiri banyak sekali macam macam tipenya, salah satunya adalah Inquiry Based Learning. Menurut Anggareni, dkk Model Inquiry Learning adalah suatu rancangan pembelajaran yang mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan mereka dalam mencari dan menganalisis informasi secara kritis, analitis, logis, dan sistematis, sehingga siswa dapat dengan percaya diri merumuskan temuan mereka sendiri (Anggareni et al., 2013). Menurut Erlinda (2016), pembelajaran inkuiri mencakup beberapa tahap, yaitu: 1) Mengidentifikasi masalah; 2) Mengumpulkan informasi; 3) Berpikir kreatif untuk mencari solusi masalah; 4) Mengambil keputusan; 5) Menarik kesimpulan mengenai masalah tersebut. Salah satu tujuan dari Inquiry Learning adalah untuk membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan berpikir dan disiplin intelektual mereka dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat memacu rasa ingin tahu siswa hingga mereka menemukan jawaban.(Kholik et al., 2016). Penelitian ini bukanlah penelitian baru. Hal terkait sebelumnya pernah menjadi pokok bahasan penelitian dengan judul "Implementasi Model Pembelajaran contextual teaching learning untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PAI di SMPIT Baitul Jannah Bandar Lampung.". Tujuan penelitiannya untuk mengetahui bagaimana prestasi siswa SMPIT Baitul Jannah Bandar Lampung dapat ditingkatkan melalui penerapan Model Pembelajaran contextual teaching learning.(WIBOWO, 2019) Persamaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis adalah model pembelajaran contextual dan metode penelitiannya menggunakan metode penelitian kualitatif sementara perbedaannya adalah untuk mendeskripsikan bagaimana Implementasi Model Pembelajaran contextual teaching learning tipe inquiry untuk meningkatkan berfikir kritis siswa kelas VII pada mata pelajaran Aqidah Akhlaq materi sifat-sifat wajib Allah di MTs Darumafatihil Ulum. Oleh karena itu, pada penelitian ini lebih menekankan Implementasi Model Pembelajaran contextual teaching learning tipe inquiry untuk meningkatkan berfikir kritis siswa kelas VII pada mata pelajaran Aqidah Akhlaq materi sifat-sifat wajib Allah di MTs Darumafatihil Ulum. Pondok Pesanteran Darumafatihiul Ulum mempunyai lembaga formal yakni MTs Darumafatihil Ulum yang merupakan salah satu lembaga Pendidikan yang mengajarkan aqidah akhlak sebagai pondasi keimanan dan membiasakan siswa siswa beraklakul karimah , maka dalam penerapannnya MTs darumafatihil ulum berusaha agar peserta didik bisa mempunyai keimanan yang kuat untuk mengimbangi pengaruh modern di era digtal serta selamat dari pemikiran yan radikalisme, serta mempunyai akhlakul karimah sebagai bentuk hasil dari pembelajaran aqidah akhlaq. MTs Darumafatihil Ulum ini berada dalam nauangan yayasan pondok pesantren Darumafatihil Ulum Podokaton Yang mana setiap pembelajarannya sangat kental dengan pembeljaran agama, yang mana dalam pembelajaran agama khususnya mata pelajaran aqidah akhlak banayk materi yang bisa di terapkan dalam kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu memahami kejadian dan permasalahan di lingkungan sekitarnya. Dalam hasil penelitian di MTs Darumafatihil Ulum, dalam mata Pelajaran aqidah akhlaq di kelas VII, para pendidik di MTs Darumafatihil Ulum menggunakan model pembelajaran CTL tipe IBL karna model pembelajaran ini sangat relevan dengan harapan bisa menjadikan peserta didik di MTs Darumafatihil Ulum lebih mudah dalam memahami materi serta memperluas pemikiran dengan menumbuhkan pemikiran kritis peserta didik dalam memahami akidah akhlaq sifat sifat wajib Allah S.A.W , yang mana sebelum di terapkannya model ini , para pendidik melaksanakan pengajaran denga metode ceramah, yang mana dalam metode ini semua berfokus pada guru tanpa memperhatikan interaksi aktif dengan para peserta didik. hal ini menyebabkan keadaan kelas menjadi membosankan dan tidak menambah semangat peserta didik. Disamping itu juga, karena kebanyakan siswa kelas VII adalah siswa yang dulunya berasal dari berbagai sekolah. Ada yang dulunya dari sekolah dasar, sehingga masalah aqidah kurang diperhatikan. Maka tak jarang di temukan siswa kurang faham dan kurang menguasai tentang materi aqidah akhlak tentang sifat - sifat wajib allah s.a.w. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti dapat merumuskan dalam fokus masalah sebagai berikut ; 1). Bagaimana Implementasi Model Pembelajaran contextual teaching learning tipe Inquiry Based Learning untuk meningkatkan berfikir kritis siswa kelas VII pada mata pelajaran aqidah akhlak materi sifat-sifat wajib allah di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton Bayeman GondngWetan Pasuruan.?. 2). saja faktor pendukung dan penghambat selama proses Implementasi Model Pembelajaran contextual teaching learning tipe Inquiry Based Learning? 3). Bagaimana respons siswa terhadap Implementasi Model Pembelajaran contextual teaching learning tipe Inquiry Based Learning? KAJIAN TEORI Model adalah pola atau bentuk yang dijadikan sebagai acuan pelaksanaan (Nurhadi, 2010). Menurut Kemp dalam Rusman, model pembelajaran merupakan serangkaian aktivitas yang perlu dilakukan oleh guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif.(Rusman, 2011). Menurut Zubaedi, model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai pola yang digunakan dalam merancang kurikulum, menyusun materi pelajaran, serta memberikan panduan bagi guru dalam proses pengajaran di kelas (Zubaedi, 2011). Menurut Suprijono, sebagaimana dikutip oleh Zubaedi, model pembelajaran merupakan pola yang dijadikan acuan untuk merancang proses pembelajaran, baik di kelas maupun dalam kegiatan tutorial (Zubaedi, 2011). Dari berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah pola atau bentuk yang menjadi acuan dalam melaksanakan metode, strategi, atau alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Model ini mencakup aktivitas yang harus dilakukan oleh guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan sesuai dengan materi yang akan diajarkan. Kata "Contextual" sering kita dengar yang mempunyai arti sitiasi nyata, dalam conteks Pendidikan"contextual" mempunyai arti menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata , sedangkan Teaching and Learning adalah proses Pendidikan yang melibatkan guru dan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, sedangkan Inquiry based learning mempunyai arti pembelajaran berbasis pertanya an. Inquiry berasal dari kata dalam bahasa Inggris "inquiry," yang secara harfiah berarti penyelidikan.(Echols & Shadily, 1995). Inquri based learning merupakan pembelajaran yang tidak terpusat pada pendidik, peserta didik aktif dalam mencari literasi sumber sumber di luar.(Aditya, 2024) Pendekatan inquiry adalah metode pengajaran yang bertujuan untuk membangun dan mengembangkan pola pikir ilmiah. Pendekatan ini mendorong siswa untuk lebih aktif belajar secara mandiri dan mengasah kreativitas mereka dalam menyelesaikan masalah. Jika dilihat dari keumumannya, kelebihan Contextual Teaching and Learning Tipe IBL ini adalah pembahasan materi yang dilakukan sedemikian detail dengan menggali jawaban yang di tanyakan, siswa terlibat aktiv dalam proses pembelajan yang meningkatkan motivasi belajar siswa, siswa juga di latih menganalisis dan menyelesaikan masalah yang dapat menumbuhkan perkembangan kemampuan berfikir krititis siswa, yang mana hasilnya cenderung mengarah terhadap kebenaran dimana hal tersebut berbeda dengan proses belajar yang dilakukan secara individu yang potensi kesalahannya sangatlah besar dan tidak terukur. Inti dari model ini adalah melibatkan siswa dalam proses penyelidikan terhadap masalah-masalah nyata. Siswa diajak untuk menjelajahi bidang penelitian, mengidentifikasi masalah konseptual yang ada, dan merancang solusi untuk mengatasinya. Model-model inquiry ini menjadi salah satu pendekatan yang paling banyak didukung dan digunakan oleh para pendidik. Namun, hal ini tidak berarti metode lain diabaikan, karena metode-metode tersebut tetap diperlukan untuk melengkapi dan mendukung pencapaian tujuan pembelajaran berbasis inquiri.(Hulaimi, 2019) Di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton sendiri menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning Tipe IBL, model pembelajaran Contextual Teaching and Learning Tipe IBL ini merupakan suatu bentuk model pembelajaran yang efektiv di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton. Dalam pelaksanaannya MTs Darumafatihil Ulum Podokaton demi mengoptimalkan model pembelajaran tersebut maka perlu adanya menyusun sebuah perenca an tentang pelaksanaannya serta melakukan evaluasi di setiap selesai pembelajaran. MTs Darumafatihil Ulum Podokaton menganggap model pembelajaran ini sngat efektiv karna mudah di terima oleh siswa serta memberi suana aktiv karna siswa di ajak berlajar dengan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata, selain dari pada itu, dengan mengaitkan materi pada kehidupan nyata tersebut siswa bisa berpendpat dengan pendapatnya sendiri yang menumbuhkan perkembangan berfikir kritis siswa, siswa di ajari menggali sebuah pembeljaran dari hasil pertanya an ( inquiri ).(Hasil Observasi Di MTs Darumafatihil Ulum Pada Tanggal 03 Februari 2025, n.d.) Disamping itu peran guru sangat berpengaruh pada proses pembelajaran Contextual Teaching and Learning Tipe IBL karna guru harus tau karakter persiswa masing masing untuk di jadikan perkelompok, sebagai fasilitator guru membantu siswa dalam menjelajahi konsep-konsep baru. Dalam IBL, siswa diajak untuk bertanya, menggali informasi, dan mencari pemahaman versi mereka sendiri. Guru juga menyediakan lingkungan yang mendukung dan mendorong siswa untuk aktif berinovasi, bereksperimen, dan berpikir kritis. Guru perlu mengarahkan proses berpikir kritis siswa selama kegiatan pembelajaran berbasis inkuiri. Ini termasuk membantu siswa dalam merumuskan hipotesis, melakukan percobaan atau investigasi, serta menganalisis data yang dikumpulkannya. Dalam konteks IBL, guru harus membantu siswa mengorganisir ide-ide dan menjelaskannya secara lebih mudah dipahami melalui kegiatan nyata. guru juga harus bisa memberikan rangsangan pada pertanya an dan jawaban siswa, Guru harus dapat menciptakan tantangan yang sekiranya siswa dapat merangsang kerasa keingintahuannya. Tantangan ini harus relevan dengan kehidupan nyata, sehingga siswa merasa bahwa pembelajaran mereka berguna dan dapat diaplikasikan dalam situasi dan kondisi di kehidupan nyata. Dalam model IBL, siswa sering kali menghadapi tantangan dan kebingungannya sendiri dalam menemukan jawaban atau solusi. Peran guru adalah memberi motivasi agar siswa tidak mudah menyerah dan terus berusaha dalam mencari pemahaman. Guru memberi dorongan positif dan apresiasi terhadap usaha yang dilakukan siswa, baik dalam pencapaian besar maupun kecil. Guru juga berfungsi sebagai model atau teladan dalam cara belajar yang kritis dan kreatif. Melalui pendekatan inquiry, guru dapat menunjukkan bagaimana cara mencari informasi, menganalisis masalah, dan menyusun solusi dengan cara yang terstruktur dan sistemati, apalagi MTs Darumafatihil Ulum berada di naungan Pondok Pesantren yang mana suasana pondok sangat membantu dalam mengaitkan materi dengan kehidupan nyata.(Rahayu et al., 2022). Dalam suatu Contextual Teaching and Learning Tipe IBL terdapat beberapa tahapan yang perlu dilaksanakan agar kegiatan berjalan lancar diantaranya adalah: 1. Perencanaan Sebelum penerapkannya guru merencanakan terlebih dahulu dengan 1) mengidentifikasi tujuan pembelajaran. 2) menentukan tokpik dan materi. 3) mengembangkan pertanyan (inquestion) 4) merancang strategi pembelajaran. 2. Pengenalan Setelah perencana an guru mengenalkan topik dan tujuan pembelajaran, membangkitkan rasa ingin tahu pada siswa dan membagi siswa dalam beberapa kelompok. Hal ini bertuan agar siswa dapat berdiskusi dan saling bertukar fikiran satu sama lain. 3. Penjelajahan Dalam sesi ini di ajukan sebuah pertanyan kemudian setiap kelompok mencari informasi melalui penelitiannya dengan mengumpulkan data yang nantinya data tersebut akan di analisis Bersama. 4. Pengembangan Mengembangkan hipotesis (pernyata an sementara) yang mana hipotesisnya akan di uji kebenarannya dengan mngumpulkan bukti- bukti, setelah itu akan di analisis hasil yang nantinya akan menarik kesimpulan. 5. Penggunaan Dalam pengguna an siswa akan mengaplikasikan pengetahuannya kemudian membuat keputusan berdasarkan hasil penelitiannya, setelah di tentukan sebuah keputusan maka siswa akan mempresentasikan hasil yng di perolehnya 6. Evaluasi Dalam sesi ini setelah semua kelompok mempresntasikan hasil penelitiannya, guru akan mengetahui nilai proses pembelajaran serta mengindentifikasi factor factor kelebihan dan kelemahan yang nantinya akan di tindak lanjut di pertemuan selanjutnya.(Syafrianti, 2010). Secara etimologis, kata "aqidah" berasal dari akar kata 'aqida-ya'qidu 'aqdan-aqidatan. Hubungan antara makna kata 'aqdan dan aqidah terletak pada keyakinan yang erat tertanam dalam hati, bersifat kuat, mengikat, dan mencerminkan adanya perjanjian. Dengan demikian, aqidah dapat diartikan sebagai sesuatu yang diyakini oleh seseorang dengan penuh keyakinan.(Amri et al., 2018) Secara terminologis, terdapat beberapa definisi mengenai aqidah, di antaranya: 1. Menurut Hasan Al-Banna, 'aqaid (bentuk jamak dari aqidah) merujuk pada sejumlah hal yang harus diyakini kebenarannya dengan sepenuh hati, sehingga memberikan ketenangan jiwa dan menjadi keyakinan yang murni tanpa sedikit pun keraguan. 2. Abu Bakar Jabir al-Jazairy mendefinisikan aqidah sebagai serangkaian kebenaran yang diterima secara umum oleh manusia melalui akal, wahyu, dan fitrah. Kebenaran tersebut tertanam dalam hati, diyakini sepenuhnya, serta ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengannya (Amri et al., 2018). Aqidah adalah keyakinan hidup yang dimiliki oleh manusia dan menjadi kebutuhanmendasar sebagai pedoman untuk menentukan arah serta tujuan hidupnya sebagai makhluk Allah. Keyakinan ini berfungsi sebagai fondasi utama yang menopang seluruh aktivitas manusia. Dalam Islam, aqidah memiliki peranan yang sangat penting. Sebagaimana fondasi pada sebuah bangunan, aqidah menjadi dasar utama, sementara ajaran Islam lainnya, seperti ibadah dan akhlak, dibangun di atasnya. Tanpa fondasi yang kokoh, sebuah bangunan akan menjadi rapuh. Karena itulah, para Nabi dan Rasul memprioritaskan dakwah dan pengajaran Islam yang berfokus pada aqidah sebelum membahas aspek-aspek lainnya. Secara etimologis, istilah akhlak dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari khuluq, yang bermakna budi pekerti, perangai, perilaku, atau tabiat. Kata ini berasal dari akar kata khalaqa, yang berarti menciptakan. Akar kata tersebut juga terkait dengan istilah khaliq (Pencipta), makhluq (yang diciptakan), dan khalq (penciptaan) (Qomari, 2009). Aqidah merujuk kepada pokok-pokok ajaran agama Islam yang harus diyakini dan diterima dengan penuh keyakinan oleh setiap Muslim. Aqidah adalah inti dari iman seseorang dan berkaitan dengan keyakinan terhadap Allah, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, malaikat, takdir, dan kehidupan setelah mati. Dalam Islam, aqidah dianggap sebagai dasar dari segala amalan, karena tidak ada amalan yang diterima oleh Allah tanpa adanya aqidah yang benar. Pokok-pokok aqidah yang wajib diyakini dalam Islam terdiri dari enam hal: 1. Iman kepada Allah: Meyakini bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak memiliki sekutu. 2. Iman kepada malaikat: Meyakini bahwa Allah menciptakan malaikat sebagai makhluk yang tidak tampak oleh manusia dan diberi tugas-tugas khusus oleh Allah. 3. Iman kepada kitab-kitab Allah: Meyakini bahwa Allah menurunkan kitab-kitab suci sebagai pedoman hidup bagi manusia, dengan Al-Qur'an sebagai kitab terakhir. 4. Iman kepada rasul-rasul Allah: Meyakini bahwa Allah mengutus para rasul untuk menyampaikan wahyu dan memberikan petunjuk kepada umat manusia. 5. Iman kepada hari kiamat: Meyakini bahwa kehidupan di dunia ini bersifat sementara dan akan ada kehidupan akhirat yang mempertanggungjawabkan segala perbuatan manusia. 6. Iman kepada takdir: Meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia adalah ketetapan Allah, meskipun manusia tetap diberikan kebebasan untuk berusaha.(Al-hadrami, n.d.) Ibn Maskawaih dalam kitabnya Tahdzib Al-Akhlak menjelaskan bahwa akhlak adalah kondisi jiwa seseorang yang mendorongnya untuk bertindak secara spontan, tanpa perlu melalui proses pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu. Sementara itu, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya' Ulum Al-Din mendefinisikan akhlak sebagai sifat yang tertanam dalam jiwa, yang darinya muncul tindakan-tindakan dengan mudah dan tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan (Muhammad, 2011). Berdasarkan kedua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu tindakan atau sikap dapat dianggap sebagai akhlak jika memenuhi kriteria tertentu. Akhlak mengacu pada perilaku atau sikap seseorang yang terlihat dalam aktivitas sehari-hari dan didasarkan pada keyakinan agama. Menurut Abraham Anis, akhlak adalah sifat yang melekat dalam jiwa seseorang, yang menjadi sumber lahirnya berbagai tindakan, baik yang baik maupun buruk, tanpa memerlukan proses pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu (Tirtarahardja & La, 2015). Menurut Moh. Rifai, pendidikan aqidah akhlak adalah salah satu sub-mata pelajaran pada jenjang pendidikan dasar yang mempelajari ajaran Islam dari aspek aqidah dan akhlak. Mata pelajaran ini merupakan bagian dari pendidikan agama Islam yang bertujuan memberikan bimbingan kepada siswa agar dapat memahami, menghayati, dan meyakini kebenaran ajaran Islam, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.(Padli & Darlis, 2023). Alasan peneliti memilih aqidah akhlak dalam model pembeljaran CTL tipe IBL ini karena dalam memahami aqidah akhlak juga butuh di kaitkan dengan kehidupan nyata yang mana aqidah akhlak menjadi pelajaran penting untuk menumbuhkan iman dan mempraktekkannya di kehidupan sehari hari. Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah model pembelajaran yang bertujuan mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata siswa, menjadikannya relevan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam konteks Islam, model ini mengutamakan pembelajaran yang tidak hanya mencakup aspek kognitif (pengetahuan) tetapi juga aspek afektif (nilai-nilai) dan psikomotorik (praktik). Islam sangat menghargai pembelajaran yang kontekstual karena mengajarkan kepada umatnya untuk selalu mengaitkan pengetahuan yang mereka peroleh dengan tujuan hidup yang lebih besar, yaitu menjalani hidup sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Dalam Islam, penting bagi siswa untuk memahami bahwa pengetahuan yang mereka peroleh harus relevan dengan kehidupan mereka sebagai hamba Allah. Pembelajaran dalam Islam tidak hanya dilihat dari sisi teori, tetapi harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Pembelajaran yang sesuai dengan model CTL harus dapat mengaitkan materi dengan kehidupan nyata siswa, agar ilmu yang mereka peroleh bermanfaat baik untuk dunia maupun akhirat. Dalam kolaborasi dan Pembelajaran Sosial Pembelajaran dalam model CTL menekankan pada kerja sama antar siswa. Dalam konteks Islam, kolaborasi ini sangat dianjurkan, karena Islam mengajarkan bahwa umat Muslim harus saling membantu dan bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan. Islam mengajarkan umatnya untuk tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain, melainkan harus berusaha secara mandiri, dengan tetap bertawakal kepada Allah. Dalam CTL, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu siswa mengembangkan kemandirian mereka dalam belajar. Siswa didorong untuk aktif mencari informasi dan menemukan solusi atas masalah yang ada. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang bertujuan menggambarkan, memahami, dan menjelaskan fenomena secara objektif berdasarkan data lapangan (Nyayu, 2014). Menurut Moleong (Lexy J. Moleong, 2012), penelitian kualitatif memfokuskan pada makna dan proses, bukan sekadar hasil. Dalam pendekatan ini, peneliti menjadi instrumen utama yang secara langsung mengamati, berinteraksi, dan mengumpulkan data di lapangan (Anggito & Setiawan, 2018). Kehadiran peneliti di lokasi bersifat mutlak, berperan sebagai pengamat partisipatif yang terlibat langsung dalam aktivitas pembelajaran, sehingga data yang diperoleh lebih akurat dan kontekstual (Suharsimi Arikunto, 2006, 2013). Penelitian dilaksanakan selama ±2,5 bulan (Februari-April) di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton. Sumber data terdiri dari primer (kepala madrasah, guru Aqidah Akhlak, wali kelas VII, waka kurikulum) dan sekunder (buku, dokumen, serta literatur relevan) (Abdussamad & SIK, 2021). Teknik pengumpulan data meliputi: (1) Observasi partisipatif untuk mengamati proses pembelajaran secara langsung; (2) Wawancara mendalam guna menggali informasi dari informan; dan (3) Dokumentasi untuk melengkapi data hasil observasi dan wawancara (Anggito & Setiawan, 2018). Analisis data menggunakan model interaktif Miles & Huberman dalam Sugiyono (Sugiyono, 2018) yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Uji keabsahan data dilakukan melalui triangulasi teknik dan triangulasi sumber untuk memastikan validitas temuan (Satori & Komariah, 2009). HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Tipe Inquiri Untuk Mningkatkan Berfikir Kritis Siswa Kelas VII Pada Mata Pelajaran Fikih Materi Sifat - sifat Wajib Allah di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton Perencanaan. Setelah peneliti melakukan serangkaian penelitian dan menemukan data yang diharapkan tentang Implementasi Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Tipe Inquiri Untuk Mingkatkan Berfikir Kritis Siswa Kelas VII Pada Mata Pelajaran Fikih Materi Sifat - sifat Wajib Allah di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton bahwa model pembelajaran ini dilakukan agar mencapai tujuan yang di inginkan MTs darumafatihil Ulum yakni pembelajaran yang lebih bermakna karna dikaitkan dengan keada an alam sekitar juga pengalaman yang dialami di kehidupan nyata sehingga siswa lebih aktif karna siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran yang dapat meningkatkan berfikir ktitis siswa, guru akan menyiapkan terlebih dahulu segala kebutuhan terkait proses pelaksanaaan model pembelajaran tersebut. Perencanaan model pembelajaran contextual teaching learning tipe inquiri based learning di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton dilakukan dengan cara merencakan beberapa Langkah hal ini di perkuat oleh pendapat Hamalik dalam skripsi yanto yang berjudul Manajemen dan Mutu Pembelajaran Bahasa Indonesia, perencanaan adalah suatu proses manajemen yang melibatkan penetapan tindakan yang perlu dilakukan dan cara melaksanakannya, menjelaskan tujuan yang dapat dicapai, serta menyusun program kerja untuk mencapai tujuantujuan tersebut. Perencanaan merupakan langkah-langkah yang diambil sebelum melakukan suatu tugas, melibatkan pemikiran dan penentuan strategi untuk mencapai tujuan tertentu. Ini merupakan tahap awal dari proses manajemen yang bertujuan untuk mencapai hasil dengan efektif dan efisien.(Yanto, 2018) Berdasarkan pendapat di atas, dalam merencakan model pembelajaran contextual teaching learning tipe inquiri based learning MTs Darumafatihil Ulum melakukan perencana an terlebih dahulu dengan menyiapkan perangkat pembelajaran yang materinya beresta langkah-langkahnya di sesuaikan dengan keadaan siswa, sehingga guru lebih mudah pengatur jalannya pembelajaran, motivasi belajar juga semakin meningkat dengan adanya bahan ajar yang di siapkan jauh hari sebelumnya. Pelaksanaan. Menurut van Metter dan van harn dalam jurnal ilmu pemerintahan, pengertian pelaksanaan/implementasi yaitu "tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individuindividu (atau kelompok-kelompok) pemerintah maupun swasta yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan-keputusan kebijakan sebelumnya.(Janice, 2014) Diperkuat pendapat diatas, terkait pelaksanaannya MTs Darumafatihil Ulum dalam menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning dalam aqidah akhlaq yaitu dengan melakukan beberapa langkah rangkaian kegitan, langkah - langkah ini dilakukan agar suapaya siswa lebih mudah dalam memahami aqidah dengan menghubungkannya pada kehidupan sehari-hari siswa. Dalam pelaksanaannya, pendidik mengikuti prosedur sesuai dengan perangkat pembelajaran. Berikut langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran contextual teaching learning tipe inquiri based learning di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton: 1) Membagi siswa pada beberapa kelompok 2) Menjelaskan materi yang akan di bahas 3) Memberikan pertanyaan yang akan di jawab dengan melakukan observasi 4) Siswa melakukan observasi untuk menggali informasi untuk menjawab pertanyaan 5) Siswa mempresentasikan hasil 6) Tanya jawab dengan kelompok 7) Guru menyimpulkan hasil temua kelompok Tekait langkah-langkah di atas yang terinti adalah ketika kelompok siswa mempresentasikan hasil yang mana siswa akan dilatih mentalnya untuk mempresentasikan kepada teman temannya yang nantinya akan di kritisi oleh kelompok lain dalam hal ini siswa bebas bertanya atau pun mendukung pendapat kelompok yang mempresentasikan, dengan adanya Tanya jawab akan mengembangkan berfikir kritis siswa. Kegitan akhirnya yaitu guru menyimpulkan hasil diskusi setiap kelopok, setelah semua kelompok mempresentasikan hasil dan saling bertukar fikiran maka guru akan menyimpulkan dari semua hasil kelompok tersebut, dalam hal ini guru hanya sebagai penyempurna dan penfilter dari hasil presentasi kelompok siswa. Evaluasi. Dalam Kemudian dalam evaluasi dalam pelaksanaan Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Tipe Inquiri Untuk Mningkatkan Berfikir Kritis Siswa Kelas VII Pada Mata Pelajaran Fikih Materi Sifat - sifat Wajib Allah di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton, sesuai dengan teori yang disampaikan oleh Mahira dalam pendapatnya: Evaluasi merupakan suatu proses benchmarking untuk mengetahui Tingkat keberhasilan yang dicapai dalam dunia pendidikan.(Mahirah, 2017). Berdasarkan pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Tipe Inquiri Untuk Mningkatkan Berfikir Kritis Siswa Kelas VII Pada Mata Pelajaran Fikih Materi Sifat - sifat Wajib Allah di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton memiliki beberapa evaluasi didalamnya agar kemampuan dan hasil pelaksanaannya bisa berjalan dengan baik dan maksimal. beberapa evaluasi yang dilakukan oleh guru untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam memahami sifat-sifat wajib allah. Dimulai dengan evaluasi keaktifan dan keikutsertaan siswa dalam kegiatan pembelajaran, hal ini menjadi penting karena akan menjadi modal awal siswa memahami sifat-sifat wajib allah, kemudian evaluasi kemampuan sejauh mana siswa menguasai materi yang telah di sampaikan, dalam hal ini guru akan memberikan tugas dan soal lewat kertas yang di kerjakan secara individu, dengan adanya pemberian soal ini guru akan tau sejauh mana siswa dalam memahami materi. Faktor penghambat dan pendukung Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Tipe Inquiri Untuk Mningkatkan Berfikir Kritis Siswa Kelas VII Pada Mata Pelajaran Fikih Materi Sifat - sifat Wajib Allah di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton 1. Faktor Penghambat Adapun terkait faktor penghambatnya, maka Firdanil Afiah menyebut setidaknya ada tiga hal yang menjadi faktor penghambat penerapan model CTL ini, yaitu: a. Kurangnya alokasi waktu jam pelajaran Bahasa Arab Telah menjadi rahasia umum bahwa alokasi jam belajar Bahasa Arab di tingkat MA itu tidak banyak, sehingga pembelajaran Bahasa Arab tidak akan maksimal dengan jumlah jam pelajaran yang sedikit. b. Tidak meratanya kemampuan Bahasa Arab siswa Tidak meratanya kemampuan Bahasa Arab siswa menjadi salah satu penghambat penerapan model CTL ini, terlebih lagi pada saat pembagian kelompok dan proses mencari dan mengidentifikasi kosakata Bahasa Arab benda-benda yang ada di ruangan tertentu yang menjadi tugas tiap kelompok. Hal ini sendiri juga diakui oleh bebeapa orang siswa seperti Feri Afandi dan Uswatun Hasanah yang kesulitan dalam menyebutkan nama benda-benda yang ada dalam Bahasa Arab, dikarenakan merupakan alumni SMP yang belum pernah belajar Bahasa Arab sebelumnya hingga hanya memiiliki sedikit pengetahuan tentang itu. c. Kurangnya sumber belajar yang dimiliki siswa. Model pembelajaran CTL ini merupakan model yang menuntut siswa untuk belajar secara mandiri. Saat mereka melakukan observasi yang menjadi salah satu langkah penerapan model ini, mereka dituntut untuk dapat menyebutkan nama benda-benda yang ada dalam Bahasa Arab. Kurangnya sumber belajar yang dimiliki oleh siswa seperti kamus, baik yg berbentuk buku maupun aplikasi, menjadi salah satu faktor penghambat proses penerapan model ini (Muthmainnah et al., 2025). Selaras dengan pendapat diatas ada beberapa faktor penghambat yang peneliti temukan dalam lokasi diantaranya adalah kurangnya pengalaman siswa serta karakter pendiam sehingga mengakibatkan siswa kurang aktif dalam keikut sertaan proses pembelajaran, tak jarang kurangnya keikut sertaan ini membuat siswa menjadi jenuh dan mengantuk di tengah-tengah proses pembelajaran. Kompetensi guru juga menjadi faktor penghambat dalam penerapan model pembelajaran ini, terkadang guru mengalami kesulitan dalam mengaitkan materi dengan kehidupan nyata karna guru juga harus mempertimbangkan keadaan dan karakter siswa itu sendiri sehingga materi yang diberikan harus benar benar dapat di jangkau oleh siswa. Borosnya waktu juga menjadi faktor penghambat yang sangat sering terjadi, borosnya waktu ini terjadi karna dalam proses pembelajaran model pembelajaran ini memerlukan beberapa rangkaian kegiatan mulai dari guru menjelaskan materi yang akan di bahas, siswa menggali informasi keluar kelas serta presentasi yang didalamnya terjadi tanya jawab yang mebuat waktu terkuras secara signifikan sehingga guru yang mempunyai jam berikutnya kadang masih menunggu selesainya pelajaran yang menerapkan model pembelajaran contektual ini. 2. Faktor pendukung Faktor pendukung dalam model pembelajaran ini adalah ketersediaan media pembelajaran seperti lcd proyektor, laptop, buku majalah dan koran yang disiapkan Lembaga. Hal ini sesuai dengan teori yang di sampaikan oleh Riyana bahwa Media pembelajaran adalah perantara atau pengantar; sedangkan kata pembelajaran diartikan sebagai suatu kondisi yang diciptakan untuk membuat seseorang melakukan suatu kegiatan belajar". Dengan demikian media pembelajaran memberikan penekanan pada posisi media sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar sehingga mengkondisikan seseorang untuk belajar, dalam kata lain pada saat kegiatan belajar berlangsung bahan belajar (learning matterial) yang diterima siswa diperoleh melalui media (Riyana, 2012). Selaras dengan pendapat diatas MTs Darumafatihil Ulum menggunakan media pembelajaran ini untuk membantu mempermudah dalam proses pembeljaran, siswa lebih mudah dalam mendapatkan informasi serta guru juga di permudah dalam memahamkan materi yang telah di sampaikan, buku majalah dan koran sering kali dibaca untuk menambah wawasan dan pengalaman siswa sehingga siswa mendapat pengetahuan pengalaman cukup dengan membaca saja, dalam hal ini siswa bisa mengheat waktu karna wawasan mereka di dapat dengan tanpa mengalami sendiri.. Bagi siswa yang mempunyai karakter aktif dan pengalaman yang luas akan menjadikan siswa lebih mudah memahami materi yang di sampaikan, siswa yang aktif akan mendapat poin plus dalam memhami pembeljaran, keatifn dlm bertanya dan ikut andil dalam proses pembelajaran membut siswa tesebut semkin berkembang pengetahuannya. Di lain sisi berkah dari keaktifan siswa inilah yang mebuat suasana dalam proses pembelajaran semakin hidup. Sehingga suasana dalam kela tidk sepi dan para siswa terkurangi rasa ngantuk dan jenuh di saat mengikuti proses pembelajaran. Resposn siswa terhadap Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Tipe Inquiri Untuk Mningkatkan Berfikir Kritis Siswa Kelas VII Pada Mata Pelajaran Fikih Materi Sifat - sifat Wajib Allah di MTs Darumafatihil Ulum Podokaton. Menurut soekanto dalam skripsi Chandra Lesmana mengatakan bahwa Respons merupakan konsekuensi dari perilaku sebelumnya dan dianggap sebagai tanggapan ataupun jawaban terhadap sesuatu hal, Respons seseorang dapat dalam bentuk baik atau buruk, positif atau negative (Padli & Darlis, 2023). Menurut pendapat diatas dalam penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning Tipe Inquiri Untuk Mningkatkan Berfikir Kritis Siswa di MTs Darumafatihil Ulum ada dua respon yakni respon positif dan negatif. Respons positifnya adalah siswa merasa termotivasi dan sangat bersemangat dalam mengikuti pembelajaran selain pembelajaran lebih bermakna juga karna materi yang di bahas sesuai dengan kehidupan nyata, sehingga siswa lebih mudah untuk memahami materi yang ada, nilai siswa juga semakin meningkat karna dalam penerapan model pembelajaran ini siswa di ajak mencari sendiri jawaban dari suatu pertanya yang membuat siswa semakin yakin dalam menjawab, hal ini juga membuat siswa semakin kritis dalam berfikir. Respons negatif ini terjadi pada siswa yang memiliki karakter pendiam, kurangnya pengalaman dan mental akan membuat siswa menjadi jenuh didalam kelas, tak jarang siswa akan merasakan ngantuk Ketika pembelajaran berlangsung, dalam keadaan seperti ini guru akan memberikan respon baik seperti menawarkan siswa tersebut untuk bertanya yang menumbuhkan respons baik pada siswa tersebut. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan Pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1. Implementasi model pembelajaran contextual teaching learning tipe inquiri based learning melaui tiga tahapan yaitu perencanaan, implementasi dan evaluas. perencanaan di awali dengan guru membuat perangkat pembelajaran dan menyiapkan beberapa kasus di kehidupan nyata yang di sesuaikan dengan materi. Implementasinya siswa di bagi menjadi beberapa kelompok kemudian guru akan menjelaskan materi yang akan di bahas, guru memberikan tugas untuk di gali informasinya, kelompok siswa melakukan observasi, mempresentasikan hasil yang akan di tanggapi kelompok laian, terahir guru akan menyimpulkan hasil. Evaluasinya guru memberikan tugas secara individu melaui tes tulis untuk mengetahui seberapa siswa dalam menguasai materi 2. Faktor pendukungnya adalah tersedianya media pembelajaran oleh sekolah seperti laptop, proyektor, koran, majalah sehingga siswa dapat menggali pengalaman dari media tersebut, karakter siswa yang aktif dan banyaknya pengalaman yang membuat siswa mempunyai banyak peluang untuk mengaitkan materi dengan banyaknya pengalaman yang dimilikinya, kompetensi guru juga sangat mendukung yang mana kepala sekolah selalu mengontrol setiap guru dengan mensupervisinya. Faktor penghambatnya adalah kurangnya kompetensi guru yang membuat siswa merasa kurang faham dan jenuh, borosnya waktu yang di tempuh dalam kegiatan model pembelajaran ini, karakter siswa pendiam yang pengalamannya kurang luas akan menjadikan siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran. 3. Respons siwa pada model pembelajaran ini yaitu respons positif dan negatif. Respons positif diantaranya adalah siswa termotivasi dan semakin semangat dalam belajar siswa menjadi sangat aktif karna telibat langsung dalam proses pembelajaran, siswa merasa sangat senang dan lebih mudah dalam memahami karna materinya di sesuaikan dengan kehidupan nyata, serta meningkatnya berfikir keritis siswa karna siswa di beri kesempatan untuk menanggapi hasil dari temannya. Kemudian respons negatif diantaranya adalah siswa merasa jenuh dan kurang bersemangat karna kurangnya pengalaman yang di milkinya, Ada juga siswa yang mempunyai banyak pengalaman namun secara mental kurang yang berdampak pada ketidak percayaan diri untuk melontarkan pendapatnya, hal tersebut menjadikan siswa kurang dalam memahamin materi yang diajarkan. REFERENSI Abdussamad, H. Z., & SIK, M. S. (2021). Metode penelitian kualitatif. CV. Syakir Media Press. Aditya, N. P. (2024). PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN IBL DENGAN PBL TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN KOLABORASI PESERTA DIDIK KELAS XI DI SMAN 5 BANDAR LAMPUNG PADA MATERI FISIKA. UIN RADEN INTAN LAMPUNG. Al-hadrami, salim ibn sumair. (n.d.). safinatunnajah. 13. Amri, M., Ahmad, L. O. I., & Rusmin, M. (2018). Aqidah Akhlak. Jurnal Ilmiah, 10(2). Anggareni, N. W., Ristiati, N. P., & Widiyanti, N. (2013). Implementasi strategi pembelajaran inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep IPA siswa SMP. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran IPA Indonesia, 3(1). Anggito, A., & Setiawan, J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. CV Jejak (Jejak Publisher). Echols, J. M., & Shadily, H. (1995). Kamus inggris-indonesia. (No Title). Harudin, M., & Saputra, E. (2018). PENERAPAN PENDEKATAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DAN PEMBELAJARAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (Studi pada siswa kelas V SD Islam Terpadu Madani Kabupaten Aceh Tenggara. At-Tazakki: Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan Islam Dan Humaniora, 2(1), 121-130. Hasil Observasi Di MTs Darumafatihil Ulum Pada Tanggal 03 Februari 2025. (n.d.). Hendracipta, N. (2021). Model Model Pembelajaran SD. Multikreasi Press. Hulaimi, A. (2019). Strategi Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). Jurnal Tarbawi, 4(1), 76-92. Jamaluddin, D. (2010). Metode Pendidikan Anak. Janice, A. (2014). studi tentang pelaksanaan tugas dan fungsi badan Pemberdayaan masyarakat desa (bpmd) dalam Pembangunan desa di desa tanjung lapang Kecamatan malinau barat kabupaten malinau. Jurnal Ilmu Pemerintahan, 3(3), 2015. Kholik, A., Holisin, I., & Kristanti, F. (2016). Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Guided Inquiry Pokok Bahasan Garis Singgung Lingkaran pada Siswa Madrasah Tsanawiyah. MUST: Journal of Mathematics Education, Science and Technology, 1(1), 1-9. Lexy J. Moleong. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif. Mahirah, B. (2017). Evaluasi belajar peserta didik (siswa). Idaarah: Jurnal Manajemen Pendidikan, 1(2). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif,Dan R&D, Alfabeta, cv. ___ (2016). Muhaimin, Ali, N., Suti'ah, & Azizah, S. L. (2001). Paradigma Pendidikan Islam: Upaya mengefektifkan pendidikan agama Islam di sekolah. Remaja Rosdakarya. Muhammad, A. (2011). Pendidikan Agama Islam, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 6-8. Muthmainnah, A., Muchtar, M. I., & Amin, N. F. (2025). Implementasi Model Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam Pembelajaran Bahasa Arab di SMA Muhammadiyah 1 Unismuh Makassar. Iqra: Jurnal Ilmu Kependidikan Dan Keislaman, 20(2), 217-225. Nurhadi, M. P. I. P. S. (2010). Efektif dan Menyenangkan. Jakarta: Multi Kreasi Satu Delapan. Nyayu, K. (2014). Psikologi pendidikan. Jakarta: Pt. Raja Grafindo Persada. Padli, P., & Darlis, A. M. (2023). Peran Pendidikan Aqidah Akhlak dalam Membentuk Siswa Unggul. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam, 12(02). Qomari, R. (2009). Prinsip dan Ruang Lingkup Pendidikan Aqidah Akhlaq. INSANIA: Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 14(1), 47-67. Rahayu, N., Ndona, Y., & Setiawan, D. (2022). Peran Guru dalam Meningkatkan Keaktifan Siswa dengan Model Contextual Teaching and Learning (CTL) Muatan Pelajaran PKN Disekolah Dasar. Jurnal Sintaksis, 4(1), 89-96. Riyana, C. (2012). Media pembelajaran. KEMENAG RI. Rusman. (2011). Model-model pembelajaran: Mengembangkan profesionalisme guru. Rajawali Pers/PT Raja Grafindo Persada. Soetopo, H., & Soemanto, W. (1984). Kepemimpinan dan supervisi pendidikan. (No Title). Sugiyono. (2018). Metode Peneltian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik (Cet. 13). Suharsimi Arikunto. (2013). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Renika Cipta. Syafrianti, Y. (2010). PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL) DENGAN METODE INQUIRY BASED LEARNING (IBL) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA KELAS VIII B2 MTs DAREL HIKMAH PEKANBARU. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Tirtarahardja, U., & La, S. (2015). Pengantar Pendidikan (C. Kedua). Rineka Cipta. WIBOWO, P. A. R. I. (2019). IMPLEMENTASI STRATEGI CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN PAI DI SMP IT BAITUL JANNAH. UIN Raden Intan Lampung. Yanto, M. (2018). Manajemen dan Mutu Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Negeri 4 Rejang Lebong. Tadbir: Jurnal Studi Manajemen Pendidikan, 2(1), 71-88. Zubaedi, D. P. K. (2011). Konsepsi dan aplikasinya dalam lembaga pendidikan. Jakarta: Kencana. Ashlach : Journal of Islamic Education Yunus ¦ Implementasi Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning Tipe Inquiry Based Learning Untuk Meningkatkan Berfikir Kritis Siswa Ashlach : Journal of Islamic Education Yunus ¦ Implementasi Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning Tipe Inquiry Based Learning Untuk Meningkatkan Berfikir Kritis Siswa 2 | | 3 Journal of Islamic Education Vol. 02 No. 01 April 2024 | Hal. 33 - 45 e-ISSN/p- ISSN : 2988-1285/2988-1277 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/ashlach Hak cipta (c) 2025 Ashlach : Jurnal Pendidikan Islam. Karya ini dilisensikan di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 4.0 .