Cashless : Journal of Sharia Finance and Banking| Page : 13-34 Vol. 04 No. 01 April 2026 | e-ISSN/p-ISSN : 2988-1390/ 2988-1382 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/cashless DOI : https://doi.org/10.55757/cashless.v4i1.1516 Analisis Break Even Point (BEP) sebagai Dasar Penentuan Kelayakan Usaha pada Cafe Akademos Warungdowo Herlina Widya Ananta1, Dessy Boegiyati 2 1 Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, Indonesia Email : erlinpasuruan@gmail.com 2 Universitas Nahdlatul Ulama Pauruan, Indonesia Email : dessyboegiyati@gmail.com Korespondensi: erlinpasuruan@gmail.com Submit : 25/01/2025 | Revission : 09/02/2025 | Accept : 12/03/2025 | Publish : 08/04/2026 Abstrak Penelitian ini bertujuan menganalisis Break Even Point (BEP) sebagai dasar penentuan kelayakan usaha pada Cafe Akademos Warungdowo dengan pendekatan kuantitatif deskriptif dan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi laporan keuangan periode 16 April–15 Mei 2026. Analisis dilakukan menggunakan perhitungan biaya tetap, biaya variabel, contribution margin, Weighted Average Contribution Margin Ratio (WA-CMR), Break Even Point (BEP), Margin of Safety (MoS), dan laporan laba rugi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya tetap café sebesar Rp1.300.000 dengan total penjualan Rp3.945.000 dan contribution margin Rp1.376.760. Nilai WA-CMR diperoleh sebesar 34,90%, sedangkan BEP berada pada Rp3.725.051 atau 762 unit produk. Penjualan aktual sebanyak 806 unit telah melampaui titik impas sehingga usaha memperoleh laba bersih Rp76.760. Meskipun usaha dinyatakan layak secara finansial, nilai Margin of Safety (MoS) Ratio sebesar 5,58% menunjukkan bahwa usaha masih rentan terhadap penurunan penjualan. Oleh karena itu, pengelola café perlu meningkatkan profitabilitas melalui efisiensi biaya, evaluasi harga jual, dan optimalisasi penjualan produk dengan contribution margin tinggi. Kata Kunvi : Break Even Point, kelayakan usaha, contribution margin, margin of safety, UMKM café Abstract This study aims to analyze the Break Even Point (BEP) as a basis for determining business feasibility at Cafe Akademos Warungdowo using a descriptive quantitative approach and case study method. Data were collected through interviews, observations, and documentation of financial reports during the period of April 16–May 15, 2026. The analysis included calculations of fixed costs, variable costs, contribution margin, Weighted Average Contribution Margin Ratio (WA-CMR), Break Even Point (BEP), Margin of Safety (MoS), and profit-loss reports. The results showed that the café’s total fixed costs amounted to Rp1,300,000, with total sales of Rp3,945,000 and a contribution margin of Rp1,376,760. The WA-CMR value was 34.90%, while the BEP was achieved at sales of Rp3,725,051 or 762 product units. Actual sales of 806 units exceeded the break-even point, resulting in a net profit of Rp76,760. Although the business was considered financially feasible, the Margin of Safety (MoS) Ratio of 5.58% indicates that the business remains vulnerable to declining sales. Therefore, the café management needs to improve profitability through cost efficiency, price evaluation, and optimization of products with high contribution margins. Copyright © 2026 The Author(s) | Published by: Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan Herlina Widya Ananta, Dessy Boegiyati Keyword : Break Even Point, business feasibility, contribution margin, margin of safety, UMKM cafe. How to Cite this article (APA 7 th Edition): Ananta, H. W., & Boegiyati, D. (2025). Analisis Break Even Point (BEP) sebagai dasar penentuan kelayakan usaha pada Cafe Akademos Warungdowo. Cashless: Journal of Sharia Finance and Banking, 3(1), 1–13. https://doi.org/10.55757/cashless.v4i1.1286 Pendahuluan Kemajuan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) di Indonesia telah menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Menurut informasi dari Kementerian Koperasi dan UKM, UKM berkontribusi sekitar 60,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan mempekerjakan lebih dari 97% tenaga kerja Indonesia (Kemenkop UKM, 2022). Statistik ini menyoroti peran penting yang dimainkan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional, sementara juga menunjukkan persaingan yang semakin ketat di antara entitas bisnis. Salah satu sektor UMKM yang berkembang pesat adalah industri makanan dan minuman, terutama di bidang usaha kafe dan kedai kopi. Munculnya coffee shop yang berada hampir setiap kota di Indonesia telah mendorong pertumbuhan bisnis kafe mulai dari skala besar hingga skala rumahan. Seperti yang dilansir dari Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (APKRINDO), jumlah kafe di Indonesia meningkat rata-rata 15-20% per tahun, dengan meningkatnya persaingan terutama di kalangan usaha kecil dan menengah (APKRINDO, 2021). Situasi ini memaksa operator kafe untuk unggul tidak hanya dalam memberikan produk berkualitas tetapi juga dalam mengelola keuangan bisnis mereka secara efektif dan sistematis. Namun, kenyataan di lapangan mengungkapkan bahwa banyak UMKM, termasuk bisnis kafe, terus menghadapi tantangan yang signifikan dalam manajemen keuangan. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh (Sari & Wijaya, 2020) menemukan bahwa lebih dari 60% UKM di Indonesia tidak memiliki sistem akuntansi keuangan yang memadai dan tidak dapat secara akurat menilai titik perputaran modal mereka. Akibatnya, banyak bisnis kafe beroperasi tanpa pemahaman yang jelas apakah mereka secara finansial di atas impas atau masih mengalami kerugian. Kurangnya kejelasan ini dapat menyebabkan pengambilan 14 | Vol. 04 No. 01 April 2026 Analisis Break Even..... keputusan yang salah, seperti strategi penetapan harga yang salah, manajemen biaya yang tidak efisien, dan akhirnya, kegagalan bisnis. Dalam konteks ini, analisis Break Even Point (BEP) muncul sebagai alat analisis yang sangat relevan. BEP mewakili titik di mana total pendapatan cocok dengan total biaya, yang tidak menghasilkan laba atau rugi bagi perusahaan (Horngren et al., 2021). Dengan memahami BEP, operator bisnis dapat mengidentifikasi jumlah minimum unit produk dan barang makanan yang harus dijual atau pendapatan minimum dalam rupiah yang harus dihasilkan untuk memastikan bisnis mereka tetap menguntungkan. Selain itu, analisis BEP juga membantu dalam perencanaan laba, mengevaluasi struktur biaya, dan menetapkan harga jual yang kompetitif namun menguntungkan (Mulyadi, 2018). Cafe Akademos Warungdowo adalah tempat kuliner yang terletak di Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kafe ini menargetkan demografis mahasiswa dan masyarakat setempat, kafe ini menawarkan menu makanan ringan dan minuman dalam lingkungan belajar yang nyaman. Meskipun telah beroperasi dan mempertahankan basis pelanggan yang relatif stabil, pemilik bisnis tidak pernah melakukan analisis BEP formal. Keputusan mengenai harga, tingkat produksi, dan alokasi biaya masih dibuat secara naluriah daripada berdasarkan perhitungan sistematis. Keadaan ini menyebabkan ketidakpastian dalam peramalan laba dan menghambat kemampuan pemilik untuk mengevaluasi kelangsungan hidup bisnis secara objektif. Berdasarkan kondisi tersebut serta terbatasnya kajian yang secara spesifik menitikberatkan pada usaha kafe dengan segmen mahasiswa di wilayah kabupaten. Penelitian ini hadir untuk mengisi celah tersebut dengan menganalisis BEP Cafe Akademos Warungdowo secara komprehensif mencakup perhitungan BEP unit dan BEP rupiah, analisis margin of safety, serta proyeksi kelayakan usaha berdasarkan data keuangan riil. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi praktis yang terukur bagi pengelola Cafe Akademos maupun menjadi referensi bagi pelaku usaha sejenis di wilayah Pasuruan. Vol. 04 No. 01 April 2026 | 15 Herlina Widya Ananta, Dessy Boegiyati Kerangka Teori A. Matematika Ekonomi Matematika ekonomi merupakan suatu disiplin ilmu yang memanfaatkan teknik dan alat matematika untuk menganalisis, merumuskan, serta menyelesaikan berbagai permasalahan dalam bidang ekonomi. Menurut (Chiang & Wainwright, 2020), matematika ekonomi berfungsi sebagai bahasa formal yang memungkinkan para ekonom mengekspresikan teori ekonomi secara lebih akurat, konsisten, dan dapat diuji secara empiris. Dengan kata lain, matematika ekonomi menjadi penghubung antara konsep-konsep ekonomi yang bersifat abstrak dengan kondisi nyata yang dapat diukur dalam lingkungan bisnis. Dalam dunia bisnis dan manajemen, matematika ekonomi mencakup berbagai alat analisis, seperti fungsi biaya, fungsi pendapatan, fungsi keuntungan, analisis optimasi, dan analisis Break Even Point (BEP). Instrumen-instrumen tersebut membantu pelaku usaha dalam mengambil keputusan yang lebih rasional dan berbasis data (Syaefulloh & Nurdiansyah, 2022). Secara khusus, dalam usaha kecil dan menengah, matematika ekonomi memiliki tiga peran utama, yaitu: (1) memodelkan hubungan antara biaya, volume, dan produksi, (2) menentukan titik ketika usaha mulai memperoleh keuntungan, dan (3) menyediakan kerangka kuantitatif untuk perencanaan laba. Ketiga peran tersebut menjadi dasar utama dalam analisis Break Even Point pada penelitian ini. B. Konsep Biaya dalam Usaha Memahami konsep biaya merupakan langkah penting sebelum melakukan analisis BEP. Menurut (Siregar et al., 2021), biaya dalam akuntansi manajemen diartikan sebagai pengorbanan sumber daya ekonomi yang diukur dalam satuan uang, baik yang telah terjadi maupun yang kemungkinan akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam analisis BEP, biaya diklasifikasikan menjadi dua kelompok berdasarkan responsnya terhadap perubahan volume aktivitas usaha, yaitu biaya tetap (Fixed Cost) dan biaya variabel (Variable Cost). 16 | Vol. 04 No. 01 April 2026 Analisis Break Even..... 1. Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang jumlah totalnya tidak berubah dalam kisaran aktivitas tertentu, meskipun volume penjualan atau produksi mengalami kenaikan atau penurunan (Bustami & Nurlela, 2021). Biaya ini harus tetap dibayarkan oleh perusahaan, baik ketika produksi tinggi maupun rendah, bahkan ketika tidak ada produksi sama sekali. Contoh biaya tetap dalam usaha kafe antara lain: sewa tempat usaha, gaji karyawan tetap, biaya penyusutan peralatan (mesin kopi, kulkas, meja-kursi), serta iaya langganan WiFi dan listrik minimum. Secara matematis, biaya tetap total (FC) tidak berubah berapapun volume produksi (Q): FC = Konstanta. Namun, biaya tetap per unit (AFC) semakin menurun seiring bertambahnya volume: AFC = FC / Q. Fenomena ini disebut spreading of fixed cost, dan menjadi dasar logika pentingnya peningkatan volume penjualan bagi efisiensi usaha. 2. Biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang jumlah totalnya berubah secara proporsional seiring perubahan volume aktivitas produksi atau penjualan (Mulyadi, 2018). Semakin banyak unit diproduksi, semakin besar total biaya variabel yang ditanggung. Contoh biaya variabel pada usaha kafe meliputi: Bahan baku (biji kopi, susu, gula, sirup, topping), Kemasan (cup, sedotan, kantong plastik), Biaya bahan bakar atau gas untuk memasak. Secara matematis: TVC = VC per unit × Q. Karena biaya variabel per unit (AVC) bersifat konstan, maka total biaya seluruhnya adalah: TC = FC + (VC × Q). Persamaan inilah yang menjadi dasar penyusunan model matematis BEP. C. Konsep Pendapatan dan Laba Pendapatan keseluruhan (Total Revenue/TR) adalah total uang yang diterima dari penjualan barang atau layanan. Secara matematis: TR = P × Q, dengan P sebagai harga per unit dan Q sebagai total unit yang terjual. Di kafe, pendapatan diperoleh dari penjualan makanan ringan, minuman, dan produk tambahan lainnya (Fahmi, 2021). Laba (profit) adalah perbedaan positif antara total pendapatan dan total biaya: π = TR − TC = (P × Q) − FC − (VC × Q). Jika TR > TC maka usaha mendapat keuntungan, jika TR < TC maka Vol. 04 No. 01 April 2026 | 17 Herlina Widya Ananta, Dessy Boegiyati mengalami kerugian, dan jika TR = TC maka usaha berada pada titik impas kondisi ini adalah inti dari analisis BEP (Rahayu & Sunarto, 2023). D. Break Even Point (BEP) 1. Devinisi BEP Break Even Point (BEP) atau titik impas merupakan keadaan di mana total pendapatan perusahaan tepat sama dengan total biaya yang dikeluarkan, sehingga tidak ada keuntungan maupun kerugian. BEP menjawab pertanyaan utama "Berapa jumlah unit produk paling sedikit yang perlu dijual agar bisnis tidak mengalami kerugian?". Menurut (Lestari & Permatasari, 2022), BEP adalah titik di mana produksi atau penjualan menghasilkan laba nol, yaitu saat TR = TC. Menurut (Rahayu & Sunarto, 2023), analisis BEP adalah instrumen perencanaan keuangan yang sangat penting bagi UMKM untuk menentukan target penjualan minimum serta strategi harga yang kompetitif dan tetap menguntungkan. 2. Formula Perhitungan BEP a. BEP dalam Unit (BEP Unit) BEP dalam unit adalah jumlah minimum unit produk yang harus terjual agar perusahaan mencapai kondisi impas, yaitu Secara matematis dapat dirumuskan sebagai: BEP(unit) = FC / (P−VC) di mana FC = Biaya Tetap Total. P = Harga jual per unit. VC = Biaya variabel per unit. (P − VC) = Contribution Margin per unit, yaitu kontribusi setiap unit terjual untuk menutup biaya tetap. b. BEP dalam Rupiah (BEP Sales) Break Even Point dalam rupiah menunjukkan jumlah pendapatan minimum yang harus dicapai agar perusahaan berada pada kondisi titik impas. Rumus ini lebih praktis digunakan bagi perusahaan yang menjual berbagai jenis produk dengan harga yang berbeda-beda. Secara matematis dirumuskan sebagai: BEP (Rp) = FC / (1 − VC/P) atau BEP (Rp) = FC / Contribution Margin Ratio 3. Asumsi-Asumsi dalam Analisis BEP Analisis Break Even Point disusun berdasarkan beberapa asumsi penyederhanaan yang perlu dipahami agar tidak terjadi kesalahan dalam 18 | Vol. 04 No. 01 April 2026 Analisis Break Even..... menafsirkan hasil analisis. Menurut (Hery, 2021), asumsi-asumsi tersebut meliputi harga jual yang konstan, biaya variabel per unit yang tetap, biaya tetap yang tidak berubah dalam kisaran relevan, seluruh hasil produksi terjual habis, serta komposisi penjualan yang tetap. Penelitian yang dilakukan oleh (Prasetyo & Widayanti, 2022) menyatakan bahwa dalam konteks usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan produk yang relatif homogen dan operasional sederhana seperti café skala kecil, asumsi-asumsi tersebut cukup representatif dan mampu memberikan estimasi yang memadai untuk kebutuhan perencanaan keuangan. E. Contribution Margin dan Margin of Safety Contribution Margin (CM) atau margin kontribusi adalah selisih antara harga jual per unit dengan biaya variabel per unit. CM menunjukkan kontribusi setiap unit yang terjual dalam menutupi biaya tetap dan, setelah biaya tetap terpenuhi, dalam menghasilkan laba (Sari et al., 2023). Secara matematis: CM per unit = P − VC CM Ratio = (CM per unit / P) × 100% Total CM = CM per unit × Q terjual Semakin tinggi CM ratio, semakin efisien struktur biaya perusahaan dalam menghasilkan laba. Perusahaan dengan CM ratio tinggi cenderung lebih cepat mencapai BEP dan menghasilkan laba lebih besar pada tingkat penjualan yang sama dibandingkan perusahaan dengan CM ratio rendah. Margin of Safety (MoS) adalah selisih antara penjualan aktual dengan penjualan pada titik BEP. MoS mencerminkan seberapa mana volume penjualan dapat menurun sebelum perusahaan mengalami kerugian (Lestari & Permatasari, 2022). Semakin besar MoS, semakin aman posisi keuangan perusahaan. MoS (unit) = Penjualan Aktual − BEP Unit MoS (Rp) = Penjualan Aktual (Rp) − BEP (Rp) MoS Ratio = MoS (Rp) / Penjualan Aktual (Rp) × 100% Sebagai pedoman umum menurut (Prasetyo & Widayanti, 2022): • MoS Ratio < 20% : kondisi keuangan tergolong rentan sehingga diperlukan efisiensi biaya atau peningkatan penjualan sesegera mungkin. • MoS Ratio 20–40% : kondisi keuangan cukup aman dan stabil. Vol. 04 No. 01 April 2026 | 19 Herlina Widya Ananta, Dessy Boegiyati • MoS Ratio > 40% : kondisi keuangan perusahaan sangat sehat dan relatif aman dari risiko kerugian. F. Kelayakan Usaha Studi kelayakan usaha pada dasarnya merupakan suatu evaluasi menyeluruh yang dilakukan untuk menentukan apakah suatu usaha atau proyek layak untuk didirikan, dipertahankan, maupun dikembangkan ditinjau dari aspek finansial, teknis, pasar, hukum, dan sosial (Suliyanto, 2020). Dari sudut pandang keuangan, kelayakan usaha dapat dianalisis melalui beberapa indikator, salah satunya adalah analisis Break Even Point (BEP). Menurut (Rahayu & Sunarto, 2023), suatu usaha dapat dinilai layak secara finansial melalui pendekatan BEP apabila memenuhi tiga kriteria utama, yaitu: (1) penjualan aktual berada di atas titik impas, (2) Margin of Safety bernilai positif dan berada pada tingkat yang memadai, serta (3) Contribution Margin Ratio menunjukkan nilai yang cukup tinggi. Dalam konteks usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya bisnis café, analisis BEP sering dianggap sebagai salah satu alat penilaian kelayakan yang paling praktis karena sifatnya yang sederhana dan mudah dipahami oleh pelaku usaha yang tidak memiliki latar belakang akuntansi, namun tetap mampu menyediakan informasi penting untuk pengambilan keputusan manajerial (Sari et al., 2023). Penelitian yang dilakukan oleh (Fahmi, 2021) juga menegaskan bahwa bagi UMKM dengan sumber daya terbatas, analisis BEP menjadi langkah awal yang efektif dan efisien dalam membangun sistem perencanaan keuangan yang lebih terstruktur. Sejumlah penelitian terdahulu, seperti penelitian (Puspitasari & Rahayu, 2021) pada usaha kuliner skala kecil di Malang serta (Haryanto & Susanto, 2023) pada bisnis café di Surabaya, menunjukkan bahwa penerapan analisis BEP secara signifikan mampu meningkatkan kemampuan manajerial pemilik usaha dalam menentukan target penjualan dan mengendalikan biaya operasional secara lebih efektif. Selain itu, penelitian (Rahayu & Sunarto, 2023) yang berjudul “Peran Analisis BEP dalam Pengambilan Keputusan UMKM F&B Surabaya” dengan pendekatan penelitian kuantitatif menemukan 20 | Vol. 04 No. 01 April 2026 Analisis Break Even..... bahwa UMKM yang menerapkan analisis BEP memiliki tingkat profitabilitas sekitar 23% lebih tinggi dibandingkan usaha yang tidak menerapkannya. Berdasarkan hasil berbagai penelitian terdahulu tersebut, dapat disimpulkan bahwa analisis BEP terbukti efektif sebagai alat evaluasi kelayakan usaha pada berbagai skala UMKM di sektor kuliner dan minuman. Kebaruan penelitian ini terletak pada penerapan analisis BEP secara khusus pada Cafe Akademos Warungdowo, yaitu sebuah usaha café lokal di wilayah Pasuruan yang sebelumnya belum pernah dianalisis secara finansial secara formal. Selain itu, penelitian ini juga mengintegrasikan analisis BEP dengan Margin of Safety dan Contribution Margin Ratio untuk menghasilkan pengukuran kelayakan usaha yang lebih komprehensif. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena secara sistematis berdasarkan data numerik yang diukur (Sugiyono, 2022). Pendekatan ini dipilih karena penelitian memerlukan perhitungan matematis yang akurat terhadap biaya, pendapatan, dan volume penjualan di Cafe Akademos Warungdowo sehingga hasil penelitian bersifat objektif, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus tunggal agar analisis dilakukan secara komprehensif serta menghasilkan rekomendasi yang spesifik, operasional, dan dapat langsung diterapkan oleh pengelola Cafe Akademos Warungdowo. Penelitian dilaksanakan di Cafe Akademos Warungdowo yang berlokasi di Desa Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Lokasi dipilih karena Cafe Akademos telah memiliki segmen pasar yang jelas namun belum melakukan analisis BEP secara formal, sehingga sangat relevan untuk diteliti. Akses data juga terbuka karena peneliti memiliki hubungan dengan pengelola kafe. Subjek dalam penelitian terdiri dari atas: (1) pemilik atau pengelola Cafe Akademos Warungdowo sebagai informan utama (2) karyawan yang menangani keuangan dan operasional sebagai informan pendukung, serta (3) dokumen laporan keuangan kafe sebagai sumber data tertulis. Adapun objek penelitian meliputi beberapa variabel yang dianalisis, meliputi: (1) struktur biaya tetap dan variabel, (2) volume dan nilai penjualan produk, (3) perhitungan BEP Vol. 04 No. 01 April 2026 | 21 Herlina Widya Ananta, Dessy Boegiyati dalam unit dan rupiah, (4) margin of safety, dan (5) penilaian kelayakan usaha berbasis BEP. Penelitian ini menggunakan dua jenis data, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti dari sumber asli. Pada penelitian ini, Data primer diperoleh langsung melalui wawancara mendalam dengan pemilik dan karyawan Cafe Akademos Warungdowo serta observasi operasional cafe. Informasi yang dikumpulkan meliputi biaya operasional, harga jual menu, dan rata-rata penjualan harian maupun bulanan (Sugiyono, 2022). Data sekunder adalah data yang telah tersedia dan diperoleh dari pihak lain (Creswell, 2022). Dalam penelitian ini, Data sekunder diperoleh dari laporan arus pemasukan dan pengeluaran cafe, daftar harga produk, nota pembelian bahan baku, serta dokumen pembayaran biaya tetap seperti sewa, listrik, dan gaji karyawan. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik yang saling melengkapi (triangulasi teknik): 1. Wawancara mendalam (In-depth Interview) dengan pemilik dan pengelola terkait biaya tetap, biaya bahan baku, harga jual, omzet, sistem pencatatan keuangan, dan biaya semi-variabel. 2. Observasi langsung (Direct Observation) untuk mengamati operasional, alur produksi, dan pola kunjungan pembeli guna memverifikasi data wawancara (Creswell, 2022). 3. Dokumentasi (Documentation) melalui penelaahan catatan keuangan, nota pembelian, daftar harga menu, dan bukti pembayaran biaya tetap sebagai penguat validitas data (Sugiyono, 2022). Results/Hasil a. Gambaran Umum Cafe Akademos Warungdowo Cafe Akademos Warungdowo merupakan sebuah usaha café berskala kecil yang berada di wilayah Warungdowo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Usaha ini menargetkan kalangan pelajar, mahasiswa, serta masyarakat sekitar dengan menyediakan berbagai pilihan minuman dan makanan ringan dengan harga yang relatif terjangkau. Salah satu faktor yang menjadi kelebihan café ini adalah tidak adanya biaya sewa bangunan karena 22 | Vol. 04 No. 01 April 2026 Analisis Break Even..... tempat usaha merupakan aset pribadi milik pemilik café. Selain itu, pengeluaran listrik juga masih ditanggung secara langsung oleh pemilik usaha. Data penelitian dikumpulkan selama periode 16 April hingga 15 Mei 2026. Dalam rentang waktu tersebut, Cafe Akademos Warungdowo menawarkan 21 variasi produk yang terdiri atas 10 jenis minuman dan 11 jenis makanan. Selama periode penelitian, total produk yang berhasil terjual mencapai 806 unit dengan total pendapatan sebesar Rp3.945.000. Analisis penelitian dilakukan menggunakan pendekatan multi-produk dengan metode weighted average contribution margin yang disesuaikan dengan kondisi operasional usaha secara nyata (Hansen & Mowen, 2021). b. Identifikasi dan Klasifikasi Biaya 1) Biaya Tetap (Fixed Cost / TFC) Biaya tetap merupakan jenis biaya yang total nilainya cenderung tetap dan tidak dipengaruhi oleh perubahan jumlah penjualan dalam batas aktivitas tertentu (Garrison et al., 2018). Rincian biaya tetap pada Cafe Akademos Warungdowo disajikan pada tabel berikut. Tabel 1. Rincian Biaya Tetap Cafe Akademos Warungdowo No Komponen Biaya Tetap Jumlah 1 Gaji Karyawan Tetap Rp 1.000.000 2 Penyusutan Peralatan Rp 300.000 3 Sewa Tempat Rp 0 (milik sendiri) 4 Biaya Listrik (tetap) Rp 0 (ditanggung pemilik) TOTAL BIAYA TETAP (TFC) Rp 1.300.000 Sumber: Data Primer Cafe Akademos Warungdowo, 2026 Total keseluruhan biaya tetap (Total Fixed Cost/TFC) pada Cafe Akademos Warungdowo tercatat sebesar Rp1.300.000 untuk setiap periode penelitian. Porsi biaya terbesar berasal dari gaji karyawan yang mencapai 76,9%, sedangkan sisanya sebesar 23,1% berasal dari biaya penyusutan peralatan. Tidak adanya kewajiban pembayaran sewa tempat menjadi salah satu keunggulan utama café ini karena mampu menekan nilai TFC secara cukup signifikan. Kondisi tersebut menyebabkan titik impas (Break Even Point/BEP) yang harus dicapai menjadi lebih rendah Vol. 04 No. 01 April 2026 | 23 Herlina Widya Ananta, Dessy Boegiyati dibandingkan usaha café lain yang masih menanggung biaya sewa tempat usaha (Haryanto & Susanto, 2023). 2) Biaya Variabel Per Unit dan Contribution Margin Per Produk Biaya variabel dalam penelitian ini mencakup pengeluaran untuk bahan baku serta biaya kemasan, seperti cup, sedotan, plastik, dan gas, untuk setiap unit produk yang dijual. Tabel berikut menampilkan rincian lengkap biaya variable contribution margin (CM), serta contribution margin ratio (CMR) dari masing-masing produk. Tabel 2. Biaya Variabel, Contribution Margin, dan CMR Per Produk No Nama Menu Qty Harga (P) Kemasan VC/unit Rp 5.000 Bahan Baku Rp 2.300 1 Beng-Beng 25 Rp 700 Rp 3.000 2 Chocolatos 16 Rp 5.000 Rp 2.000 Rp 700 Rp 2.700 3 Good Day Cpcn 41 Rp 5.000 Rp 2.300 Rp 700 Rp 3.000 4 Good Day Freeze 32 Rp 5.000 Rp 2.300 Rp 700 Rp 3.000 5 Jasjus 108 Rp 2.500 Rp 330 Rp 700 Rp 1.030 6 Kapal Api 59 Rp 3.000 Rp 1.000 Rp 800 Rp 1.800 7 Nutrisari 44 Rp 5.000 Rp 1.200 Rp 700 Rp 1.900 8 Pop Ice 57 Rp 5.000 Rp 1.200 Rp 700 Rp 1.900 9 Teh 46 Rp 3.000 Rp 1.000 Rp 700 Rp 1.700 10 White Coffee 36 Rp 3.000 Rp 1.500 Rp 700 Rp 2.200 11 Basreng Chili Oil 24 Rp 5.000 Rp 4.000 Rp 500 Rp 4.500 12 Dimsum Goreng 27 Rp 5.000 Rp 4.000 Rp 500 Rp 4.500 13 Kentang Goreng 16 Rp 5.000 Rp 2.700 Rp 500 Rp 3.200 14 Mie Sedap 35 Rp 5.000 Rp 3.000 Rp 500 Rp 3.500 15 Mie Indomie 40 Rp 5.000 Rp 3.000 Rp 500 Rp 3.500 24 | Vol. 04 No. 01 April 2026 CM/unit (CMR) Rp 2.000 (40.0%) Rp 2.300 (46.0%) Rp 2.000 (40.0%) Rp 2.000 (40.0%) Rp 1.470 (58.8%) Rp 1.200 (40.0%) Rp 3.100 (62.0%) Rp 3.100 (62.0%) Rp 1.300 (43.3%) Rp 800 (26.7%) Rp 500 (10.0%) Rp 500 (10.0%) Rp 1.800 (36.0%) Rp 1.500 (30.0%) Rp 1.500 (30.0%) Analisis Break Even..... 16 Mie Sarimie 27 Rp 6.000 Rp 3.700 Rp 500 Rp 4.200 17 Piscok 23 Rp 5.000 Rp 3.000 Rp 500 Rp 3.500 18 Rice Bowl 88 Rp 10.000 Rp 7.500 Rp 500 Rp 8.000 19 Roti Bakar 24 Rp 5.000 Rp 2.500 Rp 500 Rp 3.000 20 Nugget Tempura 22 Rp 5.000 Rp 3.100 Rp 500 Rp 3.600 21 Otak-Otak Chili 16 Rp 5.000 Rp 4.000 Rp 500 Rp 4.500 Oil Sumber: Data Primer Cafe Akademos Warungdowo, diolah 2026 Rp 1.800 (30.0%) Rp 1.500 (30.0%) Rp 2.000 (20.0%) Rp 2.000 (40.0%) Rp 1.400 (28.0%) Rp 500 (10.0%) Berdasarkan tabel tersebut, terlihat adanya perbedaan nilai CMR yang cukup signifikan antarproduk. Produk dengan tingkat CMR tertinggi adalah Nutrisari dan Pop Ice dengan nilai sebesar 62,0%, sedangkan nilai CMR terendah ditemukan pada produk Basreng Chili Oil, Dimsum Goreng, dan Otak-Otak Chili Oil yang hanya mencapai 10,0%. Rendahnya nilai CMR pada beberapa produk makanan tersebut disebabkan oleh tingginya biaya bahan baku, yaitu sekitar Rp4.000, dibandingkan harga jual yang hanya Rp5.000. Akibatnya, margin kontribusi yang tersisa hanya sebesar Rp500 per porsi sehingga kontribusinya terhadap penutupan biaya tetap menjadi sangat kecil. c. Rekap Penjualan dan Perhitungan Weighted Average CMR Mengingat Cafe Akademos Warungdowo menawarkan berbagai jenis produk dengan tingkat harga yang berbeda-beda, maka perhitungan Break Even Point (BEP) dalam penelitian ini menggunakan metode Weighted Average Contribution Margin Ratio (WA-CMR). Metode ini merupakan perhitungan rata-rata Contribution Margin Ratio (CMR) yang disesuaikan dengan proporsi pendapatan dari masing-masing produk yang dijual (Hansen & Mowen, 2021). Adapun rekapan data penjualan secara lengkap disajikan pada tabel berikut. Vol. 04 No. 01 April 2026 | 25 Herlina Widya Ananta, Dessy Boegiyati Tabel 3. Rekap Penjualan dan Total Contribution Margin Per Produk No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Menu Beng-Beng Chocolatos Good Day Cpcn Good Day Freeze Jasjus Kapal Api Nutrisari Pop Ice Teh White Coffee Basreng Chili Oil Dimsum Goreng Qty 25 16 41 32 108 59 44 57 46 36 24 27 P (Rp) Rp 5.000 Rp 5.000 Rp 5.000 Rp 5.000 Rp 2.500 Rp 3.000 Rp 5.000 Rp 5.000 Rp 3.000 Rp 3.000 Rp 5.000 Rp 5.000 VC/unit Rp 3.000 Rp 2.700 Rp 3.000 Rp 3.000 Rp 1.030 Rp 1.800 Rp 1.900 Rp 1.900 Rp 1.700 Rp 2.200 Rp 4.500 Rp 4.500 CM/unit Rp 2.000 Rp 2.300 Rp 2.000 Rp 2.000 Rp 1.470 Rp 1.200 Rp 3.100 Rp 3.100 Rp 1.300 Rp 800 Rp 500 Rp 500 Total CM Rp 50.000 Rp 36.800 Rp 82.000 Rp 64.000 Rp 158.760 Rp 70.800 Rp 136.400 Rp 176.700 Rp 59.800 Rp 28.800 Rp 12.000 Rp 13.500 Revenue Rp 125.000 Rp 80.000 Rp 205.000 Rp 160.000 Rp 270.000 Rp 177.000 Rp 220.000 Rp 285.000 Rp 138.000 Rp 108.000 Rp 120.000 Rp 135.000 13 14 Kentang Goreng Mie Sedap 16 35 Rp 5.000 Rp 5.000 Rp 3.200 Rp 3.500 Rp 1.800 Rp 1.500 Rp 28.800 Rp 52.500 Rp 80.000 Rp 175.000 15 Mie Indomie 40 Rp 5.000 Rp 3.500 Rp 1.500 Rp 60.000 Rp 200.000 16 17 Mie Sarimie Piscok 27 23 Rp 6.000 Rp 5.000 Rp 4.200 Rp 3.500 Rp 1.800 Rp 1.500 Rp 48.600 Rp 34.500 Rp 162.000 Rp 115.000 18 Rice Bowl 88 Rp 10.000 Rp 8.000 Rp 2.000 Rp 176.000 Rp 880.000 19 Roti Bakar 24 Rp 5.000 Rp 3.000 Rp 2.000 Rp 48.000 Rp 120.000 20 21 Nugget Tempura Otak-Otak Chili Oil 22 16 Rp 5.000 Rp 5.000 Rp 3.600 Rp 4.500 Rp 1.400 Rp 500 Rp 30.800 Rp 8.000 Rp 110.000 Rp 80.000 TOTAL 806 — — — Rp 1.376.760 Rp 3.945.000 Sumber: Data Primer Cafe Akademos Warungdowo, diolah 2026 Berdasarkan data pada tabel tersebut, nilai WA-CMR dihitung menggunakan rumus: WA-CMR= Total Contribution Margin / Total Revenue WA-CMR= Rp 1.376.760 / Rp 3.945.000 WA-CMR= 0,3490= 34,90% Nilai WA-CMR sebesar 34,90% menunjukkan bahwa dari setiap Rp1 pendapatan yang diperoleh café, sebesar Rp0,349 dapat digunakan untuk menutupi biaya tetap sekaligus berkontribusi terhadap pembentukan laba usaha. Persentase tersebut dapat dikategorikan cukup baik untuk usaha café 26 | Vol. 04 No. 01 April 2026 Analisis Break Even..... berskala kecil. Meskipun demikian, nilai tersebut masih memiliki peluang untuk ditingkatkan melalui evaluasi terhadap product mix atau komposisi produk, terutama dengan memperbesar proporsi penjualan produk yang memiliki margin kontribusi lebih tinggi (Mulyadi, 2022). d. Perhitungan Break Even Point (BEP) 1) BEP dalam Satuan Rupiah Break Even Point (BEP) dalam satuan rupiah menunjukkan jumlah pendapatan minimum yang harus diperoleh agar seluruh biaya operasional dapat tertutupi secara keseluruhan. Perhitungan BEP rupiah dalam penelitian ini menggunakan rumus sebagai berikut: BEP(Rp)= Total Fixed Cost (TFC)/WA-CMR BEP(Rp)= Rp 1.300.000/0,3490 BEP(Rp)=Rp 3.725.051 Berdasarkan Warungdowo hasil perlu perhitungan memperoleh tersebut, pendapatan Cafe Akademos minimal sebesar Rp3.725.051 dalam satu periode agar seluruh biaya tetap dan biaya variabel dapat tertutupi sehingga usaha berada pada kondisi titik impas atau tidak mengalami laba maupun rugi. Nilai tersebut dapat dijadikan sebagai batas minimum pendapatan (minimum revenue threshold) yang perlu dicapai oleh pengelola café dalam setiap periode operasional. 2) BEP dalam Satuan Unit Mengingat Cafe Akademos Warungdowo menjual berbagai jenis produk dengan harga yang berbeda-beda, maka perhitungan BEP dalam satuan unit dilakukan menggunakan pendekatan harga rata-rata tertimbang dan biaya variabel rata-rata tertimbang. Adapun proses perhitungannya adalah sebagai berikut: Weighted Average Price=Rp 3.945.000/806=Rp 4.895 Weighted Average VC=Rp 2.568.240 / 806=Rp 3.186 Average CM=Rp 4.895−Rp 3.186=Rp 1.708 BEP(Unit)=TFC / Average CM BEP(Unit)=Rp 1.708 / Rp 1.300.000 =761,1 unit≈762 unit Vol. 04 No. 01 April 2026 | 27 Herlina Widya Ananta, Dessy Boegiyati Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Cafe Akademos Warungdowo harus mampu menjual sedikitnya 762 unit produk dalam satu periode agar usaha berada pada kondisi impas dan tidak mengalami kerugian. Nilai tersebut dibulatkan ke atas (ceiling) karena penjualan sebanyak 761 unit masih berada di bawah titik BEP sehingga belum sepenuhnya mampu menutupi seluruh biaya operasional usaha. Tabel 4. Ringkasan Hasil Perhitungan Break Even Point (BEP) Komponen Nilai Satuan Total Biaya Tetap (TFC) Rp 1.300.000 Rupiah/periode Harga Rata-rata Tertimbang Rp 4.895 Rupiah/unit VC Rata-rata Tertimbang Rp 3.186 Rupiah/unit CM Rata-rata Tertimbang Rp 1.708 Rupiah/unit Weighted Average CMR 34,90% % BEP (Rupiah) Rp 3.725.051 Rupiah/periode BEP (Unit) 762 unit Cup+Porsi/periode Sumber: Data Primer Cafe Akademos Warungdowo, diolah 2026 e. Perhitungan Margin of Safety (MoS) Margin of Safety (MoS) merupakan indikator yang digunakan untuk mengetahui selisih antara tingkat penjualan aktual dengan titik Break Even Point (BEP), sehingga dapat menggambarkan sejauh mana penurunan penjualan masih dapat ditoleransi sebelum usaha mengalami kerugian (Garrison et al., 2018). Adapun hasil perhitungan Margin of Safety pada Cafe Akademos Warungdowo adalah sebagai berikut: MoS (Unit) = aktual (806 unit) − BEP (762 unit) = 44 unit MoS (Rp) = Rp 3.945.000 − Rp 3.725.050 = Rp 219.950 MoS Ratio = Rp 219.950 / Rp 3.945.000 × 100% = 5,58% Tabel 5. Ringkasan Margin of Safety (MoS) dan Interpretasinya 28 | Vol. 04 No. 01 April 2026 Analisis Break Even..... Indikator Nilai Aktual Nilai BEP MoS Status Penjualan (Unit) 806 unit 762 unit 44 unit Positif Pendapatan (Rp) Rp 3.945.000 Rp 3.725.050 Rp 219.950 Positif MoS Ratio (%) 5.58% > 20% — RENTAN Sumber: Data Primer Cafe Akademos Warungdowo, diolah 2026 Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, nilai MoS Ratio sebesar 5,58% menunjukkan bahwa tingkat keamanan operasional usaha masih tergolong rendah. Persentase tersebut berada jauh di bawah batas aman umum sebesar 20%, sehingga mengindikasikan bahwa kondisi keuangan Cafe Akademos Warungdowo masih cukup rentan terhadap penurunan penjualan. Dengan kondisi tersebut, penurunan penjualan sebesar 5,58% dari tingkat penjualan aktual berpotensi menyebabkan usaha berada pada kondisi rugi. Dalam nominal rupiah, penurunan pendapatan sekitar Rp219.950 telah menjadi batas kritis yang dapat menggeser posisi usaha dari kondisi impas menuju kerugian. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Rahmawati & Kusuma, 2023) yang menyatakan bahwa usaha mikro dan kecil di sektor kuliner dengan nilai MoS Ratio di bawah 10% memiliki tingkat risiko kebangkrutan yang lebih tinggi dibandingkan usaha dengan MoS Ratio di atas 30%. f. Laporan Laba/Rugi Aktual Analisis laporan laba/rugi dilakukan sebagai bentuk verifikasi terhadap hasil perhitungan Break Even Point (BEP) berdasarkan data penjualan aktual yang diperoleh selama periode penelitian. Melalui laporan laba/rugi tersebut, kondisi keuangan usaha dapat dievaluasi untuk mengetahui apakah kegiatan operasional telah menghasilkan keuntungan atau masih berada pada kondisi mendekati titik impas. Adapun laporan laba/rugi sederhana Cafe Akademos Warungdowo disajikan pada tabel berikut. Vol. 04 No. 01 April 2026 | 29 Herlina Widya Ananta, Dessy Boegiyati Tabel 6. Laporan Laba/Rugi Cafe Akademos Warungdowo Keterangan Jumlah (Rp) Total Penjualan (806 unit × rata-rata Rp 4.895) Rp 3.945.000 PENDAPATAN BIAYA VARIABEL Total Biaya Variabel (semua produk) (Rp 2.568.240) CONTRIBUTION MARGIN Rp 1.376.760 BIAYA TETAP Gaji Karyawan (Rp 1.000.000) Penyusutan Peralatan (Rp 300.000) Total Biaya Tetap (Rp 1.300.000) LABA BERSIH Rp 76.760 Sumber: Data Primer Cafe Akademos Warungdowo, diolah 2026 Berdasarkan laporan laba/rugi tersebut, Cafe Akademos Warungdowo tercatat memperoleh laba bersih sebesar Rp76.760 selama periode penelitian. Meskipun usaha telah menghasilkan keuntungan, nilai laba yang diperoleh masih relatif rendah karena hanya mencapai sekitar 1,9% dari total pendapatan penjualan. Hal tersebut menunjukkan bahwa dari setiap Rp100 pendapatan yang diperoleh, laba bersih yang dihasilkan hanya sekitar Rp1,9. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tingkat profitabilitas usaha masih tergolong rendah dan posisi operasional café berada sangat dekat dengan titik Break Even Point (BEP). Temuan ini sekaligus memperkuat hasil analisis Margin of Safety (MoS) yang sebelumnya menunjukkan bahwa usaha memiliki tingkat keamanan penjualan yang relatif kecil sehingga cukup rentan terhadap penurunan pendapatan. g. Analisis Kelayakan Usaha Berdasarkan keseluruhan hasil analisis dan perhitungan yang telah dilakukan, penilaian terhadap kelayakan usaha Cafe Akademos Warungdowo dirangkum dalam matriks evaluasi berikut. 30 | Vol. 04 No. 01 April 2026 Analisis Break Even..... No Indikator Aktual BEP/Batas Selisih 1 Volume (unit) 806 unit 762 unit +44 unit 2 Pendapatan (Rp) Rp 3.945.000 Rp 3.725.050 +Rp 219.950 3 MoS Ratio (%) 5.58% ≥ 20% −14.42% 4 Laba Bersih Rp 76.760 > Rp 0 Positif Sumber: Data Primer Cafe Akademos Warungdowo, diolah 2026 Hasil evaluasi menunjukkan bahwa secara teknis usaha Cafe Akademos Warungdowo masih dapat dinyatakan layak untuk dipertahankan. Penilaian tersebut didasarkan pada fakta bahwa volume penjualan aktual sebanyak 806 unit serta total pendapatan sebesar Rp3.945.000 telah berada di atas nilai Break Even Point (BEP) yang telah dihitung sebelumnya. Selain itu, usaha juga mampu menghasilkan laba bersih positif sebesar Rp76.760 selama periode penelitian. Meskipun demikian, tingkat kelayakan usaha tersebut masih tergolong sangat terbatas dan berada pada kondisi yang cukup rentan. Hal ini terlihat dari nilai Margin of Safety Ratio yang hanya mencapai 5,58%, sehingga penurunan penjualan dalam jumlah yang relatif kecil berpotensi langsung menyebabkan usaha mengalami kerugian. Penurunan sekitar 44 unit penjualan atau setara dengan Rp219.950 telah cukup untuk menggeser posisi usaha dari kondisi laba menuju rugi. Oleh karena itu, kondisi ini menunjukkan perlunya langkah strategis dari pihak pengelola untuk meningkatkan stabilitas dan keberlanjutan usaha (Sari et al., 2022). Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis Break Even Point (BEP) yang telah dilakukan, Cafe Akademos Warungdowo dinyatakan layak dipertahankan secara finansial meskipun tingkat keamanan usahanya masih tergolong rendah. Total biaya tetap yang dimiliki cafe sebesar Rp1.300.000 dengan total penjualan mencapai Rp3.945.000 dari 806 unit produk terjual. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai WA-CMR sebesar 34,90%, sedangkan BEP berada pada Rp3.725.051 atau 762 unit produk. Penjualan aktual cafe telah melampaui titik impas sebesar 44 unit atau Rp219.950 sehingga usaha memperoleh laba bersih Vol. 04 No. 01 April 2026 | 31 Herlina Widya Ananta, Dessy Boegiyati Rp76.760. Namun, nilai Margin of Safety (MoS) sebesar 5,58% menunjukkan bahwa usaha masih rentan terhadap penurunan penjualan karena berada di bawah batas aman 20%. Dengan demikian, analisis BEP dapat digunakan sebagai alat evaluasi kelayakan usaha dan dasar pengambilan keputusan keuangan pada UMKM cafe. Oleh karena itu, pengelola disarankan untuk meningkatkan penjualan produk dengan contribution margin tinggi, melakukan efisiensi biaya, serta memperkuat strategi pemasaran agar profitabilitas usaha meningkat. Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih memiliki keterbatasan, terutama pada periode penelitian yang relatif singkat dan objek penelitian yang hanya berfokus pada satu usaha cafe. Peneliti juga memohon maaf apabila masih terdapat kekurangan dalam penulisan, analisis, maupun penyajian data pada artikel ini. Oleh sebab itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan periode penelitian yang lebih panjang serta menambahkan metode analisis kelayakan usaha lainnya agar hasil penelitian menjadi lebih lengkap dan akurat. Referensi APKRINDO. (2021). Laporan Tahunan Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia 2021. APKRINDO. https://www.apkrindo.or.id Bustami, B., & Nurlela. (2021). Akuntansi Biaya: Teori dan Aplikasi (Edisi ke-4). Mitra Wacana Media. Chiang, A. C., & Wainwright, K. (2020). Fundamental Methods of Mathematical Economics (5th ed.). McGraw-Hill Education. Creswell, J. W. (2022). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (6th ed.). SAGE Publications. Fahmi, I. (2021). Analisis Break Even Point sebagai Dasar Perencanaan Penjualan pada Kedai Kopi Skala Kecil. Jurnal Akuntansi Dan Manajemen Bisnis, 5(1), 23–35. Garrison, R. H., Noreen, E. W., & Brewer, P. C. (2018). Managerial Accounting (16th ed.). McGraw-Hill Education. Hansen, D. R., & Mowen, M. M. (2021). Cornerstones of Cost Management (4th ed.). Cengage Learning. Haryanto, B., & Susanto, A. (2023). Analisis Break Even Point dan Strategi Peningkatan Profitabilitas Usaha Kafe. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 11(1), 45– 62. 32 | Vol. 04 No. 01 April 2026 Analisis Break Even..... Hery. (2021). Analisis Laporan Keuangan: Pendekatan Rasio Keuangan (Edisi ke3). PT Grasindo. Horngren, C. T., Datar, S. M., & Rajan, M. V. (2021). Cost Accounting: A Managerial Emphasis (16th ed.). Pearson Education. Kemenkop, U. (2022). Perkembangan Data Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar (UB) Tahun 2021–2022. https://kemenkopukm.go.id/data-umkm/ Lestari, P. A., & Permatasari, D. (2022). Analisis Break Even Point pada Usaha Kuliner Kelas Menengah di Yogyakarta. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis Terapan, 8(2), 112–128. Mulyadi. (2018). Akuntansi https://uppstimykpn.ac.id Biaya (Edisi ke-5). UPP STIM YKPN. Mulyadi. (2022). Akuntansi Biaya (Edisi ke-6). UPP STIM YKPN. Prasetyo, H., & Widayanti, R. (2022). Analisis Titik Impas sebagai Alat Perencanaan Laba Kafe Indie di Malang. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan Indonesia, 10(1), 55–71. Puspitasari, D., & Rahayu, S. (2021). Penerapan Analisis Break Even Point dalam Menentukan Kelayakan Usaha Kuliner Skala Kecil di Malang. Jurnal Manajemen Dan Kewirausahaan, 9(1), 45–60. Rahayu, S., & Sunarto, T. (2023). Peran Analisis BEP dalam Pengambilan Keputusan UMKM Food and Beverage Surabaya. Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis, 11(2), 89–105. Rahmawati, N., & Kusuma, H. (2023). Implementasi Analisis BEP sebagai Alat Pengendalian Keuangan UMKM Kuliner. Jurnal Akuntansi Dan Manajemen, 18(1), 30–48. Sari, R. A., & Wijaya, H. (2020). Permasalahan Pengelolaan Keuangan UMKM di Indonesia: Studi Literatur. Jurnal Akuntansi Dan Keuangan Indonesia, 17(1), 1–18. https://doi.org/10.21002/jaki.2020.01 Sari, R. A., Wijaya, H., & Pratama, D. (2022). Analisis Kelayakan Usaha UMKM Berbasis Break Even Point: Studi Empiris pada Sektor Kuliner Jawa Timur. Jurnal Riset Akuntansi Dan Keuangan, 10(3), 201–218. https://doi.org/10.17509/jrak.v10i3 Sari, Wibowo, A., & Nugroho, F. (2023). Evaluasi Kelayakan Finansial UMKM Minuman Kekinian Berbasis BEP di Sidoarjo. Jurnal Ilmiah Ekonomi Bisnis, 9(3), 200–218. Siregar, B., Suripto, B., Hapsoro, D., Lo, E. W., & Biyanto, F. (2021). Akuntansi Manajemen (Edisi ke-3). Salemba Empat. Vol. 04 No. 01 April 2026 | 33 Herlina Widya Ananta, Dessy Boegiyati Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Edisi ke-3). Alfabeta. Suliyanto. (2020). Studi Kelayakan Bisnis: Pendekatan Praktis (Edisi ke-2). Andi Offset. Syaefulloh, A., & Nurdiansyah, H. (2022). Aplikasi Matematika Ekonomi dalam Analisis Break Even Point pada Usaha Kafe. Jurnal Matematika Dan Pembelajaran, 10(1), 34–50. 34 | Vol. 04 No. 01 April 2026