KONSTRUKSI DAN VALIDASI ASESMEN DIAGNOSTIK MATERI ALJABAR: UPAYA MITIGASI LEARNING LOSS NUMERASI SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Nur Qomariyah Nawafilah1*, Ayu Ismi Hanifah2, Masruroh3 1 Universitas Islam Lamongan, Indonesia 2 Universitas Islam Lamongan, Indonesia 3 Universitas Islam Lamongan, Indonesia Volume 6 Edisi 2 *Autor (a) correspondence: nq.nawafil@unisla.ac.id Received 15 Agus 2025 Accept 28 Nov Published 31 Des Nawafilah, N. Q., Hanifah, A. I., & Masruroh. (2025). Konstruksi Dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah Pertama. Center of Education Journal (CEJou), 6(2).1-12. https://ejournal.unup asuruan.ac.id/index. php/cejou/article/10 85. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen asesmen diagnostik yang valid dan reliabel serta mengidentifikasi kesulitan dan miskonsepsi siswa SMP pada materi bilangan dan operasi aljabar. Penelitian menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Instrumen divalidasi oleh ahli dan diuji cobakan kepada siswa SMP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen memiliki tingkat validitas sebesar 85% dengan kategori sangat valid dan reliabilitas tinggi (α = 0,82). Hasil asesmen diagnostik menunjukkan bahwa 36,7% siswa memahami konsep, 30,0% mengalami kesalahan prosedural, dan 33,3% mengalami miskonsepsi. Miskonsepsi tertinggi ditemukan pada operasi aljabar sederhana dan operasi bilangan pecahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa instrumen asesmen diagnostik yang dikembangkan layak digunakan dan efektif mengungkap kesulitan belajar siswa. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi kemampuan matematis dan analisis miskonsepsi siswa SMP pada materi bilangan dan operasi aljabar dalam satu instrumen. Kata kunci: Asesmen Diagnostik, Kemampuan Matematis, Bilangan dan Operasi Aljabar Abstract This study aims to develop a valid and reliable diagnostic assessment instrument and identify junior high school students' difficulties and misconceptions on algebraic numbers and operations. The study used a research and development (R&D) method with the ADDIE model which includes the stages of analysis, design, development, implementation, and evaluation. The instrument was validated by experts and tested on junior high school students. The results showed that the instrument had a validity level of 85% with a very valid category and high reliability (α = 0.82). The results of the diagnostic assessment showed that 36.7% of students understood the concept, 30.0% experienced procedural errors, and 33.3% experienced misconceptions. The highest misconceptions were found in simple algebraic operations and fractional operations. This study concluded that the developed diagnostic assessment instrument is feasible to use and effective in revealing students' learning difficulties. The novelty of the study lies in the integration of mathematical abilities and analysis of junior high school students' misconceptions on algebraic numbers and operations in one instrument. Keywords: Diagnostic Assessment, Mathematical Ability, Number and Algebraic Operation 1 PENDAHULUAN Pendidikan matematika di era globalisasi saat ini tengah menghadapi transformasi fundamental yang dipicu oleh kebutuhan mendesak akan literasi numerasi sebagai indikator utama kualitas sumber daya manusia di tingkat internasional. Konteks global menunjukkan bahwa penguasaan konsep dasar matematika, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), bukan sekadar prasyarat akademik formal, melainkan fondasi bagi pembentukan kemampuan berpikir logis, kritis, dan pemecahan masalah kompleks yang relevan dengan tantangan abad ke-21. Signifikansi materi bilangan dan aljabar menjadi sangat krusial karena kedua domain ini merupakan bahasa universal dalam perkembangan sains dan teknologi; penelitian oleh OECD (2023) dalam laporan PISA terbaru menegaskan bahwa kemampuan numerasi siswa di berbagai negara masih memerlukan penguatan signifikan untuk menghadapi ekonomi berbasis data. Kegagalan dalam memahami landasan ini di tingkat dasar dipastikan akan berdampak sistemik pada ketertinggalan kompetensi bangsa dalam kompetisi global yang semakin kompetitif (Hidayah & Setiawan, 2024). Oleh 2 Konstruksi dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah.. karena itu, paradigma evaluasi harus bergeser dari sekadar penilaian hasil akhir menuju penilaian yang lebih progresif dan prediktif guna menjamin inklusivitas serta efektivitas pendidikan yang berkelanjutan di berbagai belahan dunia (Pratama dkk., 2025). Pendidikan matematika di era globalisasi saat ini tengah menghadapi transformasi fundamental yang dipicu oleh kebutuhan mendesak akan literasi numerasi sebagai indikator utama kualitas sumber daya manusia di tingkat internasional. Konteks global menunjukkan bahwa penguasaan konsep dasar matematika, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), bukan sekadar prasyarat akademik formal, melainkan fondasi bagi pembentukan kemampuan berpikir logis , kritis, dan pemecahan masalah kompleks yang relevan dengan tantangan abad ke-21. Signifikansi materi bilangan dan aljabar menjadi sangat krusial karena kedua domain ini merupakan bahasa universal dalam perkembangan sains dan teknologi; penelitian oleh OECD (2023) dalam laporan PISA terbaru menegaskan bahwa kemampuan numerasi siswa di berbagai negara masih memerlukan penguatan signifikan untuk menghadapi ekonomi berbasis data. Kegagalan dalam memahami landasan ini di tingkat dasar dipastikan akan berdampak sistemik pada ketertinggalan kompetensi bangsa dalam kompetisi global yang semakin kompetitif (Hidayah & Setiawan, 2024). Oleh karena itu, paradigma evaluasi harus bergeser dari sekadar penilaian hasil akhir menuju penilaian yang lebih progresif dan prediktif guna menjamin inklusivitas serta efektivitas pendidikan yang berkelanjutan di berbagai belahan dunia (Pratama dkk., 2025). Masalah utama dalam lanskap pembelajaran matematika di Indonesia tetap berakar pada rendahnya pemahaman konsep siswa terhadap materi esensial seperti bilangan dan operasi aljabar, yang hingga kini masih sering dianggap sebagai abstraksi teoritis yang sulit dijangkau. Tantangan terbesar bagi pendidik saat ini adalah ketidakmampuan sistemik untuk mendeteksi secara dini di mana letak hambatan kognitif siswa secara spesifik, sehingga intervensi seringkali tidak tepat sasaran (Nawafilah dkk., 2025). Di lapangan, guru seringkali terjebak dalam tuntutan kurikulum yang padat tanpa didukung oleh perangkat asesmen yang mampu memetakan kekuatan serta kelemahan siswa secara real-time. Kondisi ini diperburuk dengan fenomena learning loss pasca-pandemi yang menyebabkan akumulasi miskonsepsi dari jenjang pendidikan dasar sebelumnya (Sari dkk., 2022). Fenomena ini menciptakan "jurang kognitif" yang semakin lebar antara ekspektasi kurikulum dengan realita kompetensi aktual siswa, yang jika tidak segera dimitigasi melalui instrumen diagnostik yang presisi, akan terus menghambat pencapaian target literasi numerasi dalam Kurikulum Merdeka (Khaerani dkk., 2023). Penelitian terdahulu telah berupaya menjawab tantangan tersebut melalui berbagai pengembangan instrumen, namun tinjauan kritis menunjukkan adanya ruang kosong yang perlu segera dievaluasi. Beberapa penelitian terkait pengembangan asesmen telah dilakukan oleh: (1) Maryani, Hasanah, & Suyatno (2023) yang mengembangkan asesmen diagnostik pendukung pembelajaran berdiferensiasi, namun fokusnya masih terlalu luas pada manajemen kelas secara umum; (2) Khaerani, Rahmawati, Syamsuriyawati, & Kamaruddin (2023) menganalisis penerapan asesmen di SMP Makassar, tetapi penelitian tersebut bersifat deskriptif dan belum menghasilkan produk instrumen yang teruji secara psikometri; (3) Sukmaningthias, Sari, & Pratiwi (2024) mengembangkan asesmen untuk mengidentifikasi kemampuan pemecahan masalah berdasarkan minat, namun mengabaikan aspek miskonsepsi spesifik pada simbol aljabar; (4) Triyono, Masrukan, & Mulyono (2024) meneliti asesmen numerasi berbasis budaya, namun keterkaitannya dengan penguasaan aljabar formal sangat terbatas; (5) Alhamid & Astuti (2023) fokus pada evaluasi formatif konvensional yang kurang tajam dalam menggali akar kesalahan logika siswa; serta (6) Darmayanti (2022) yang meneliti media digital namun belum menyentuh aspek konstruksi instrumen diagnostik yang komprehensif untuk mitigasi learning loss. Kritik mendalam terhadap penelitian-penelitian terdahulu di atas menunjukkan bahwa mayoritas instrumen yang dikembangkan masih bersifat parsial dan belum berhasil mengintegrasikan validasi teoretis yang kuat dengan kebutuhan praktis guru di dalam kelas. Penelitian yang dilakukan oleh Maryani dkk. (2023) dan Sukmaningthias dkk. (2024), meskipun mutakhir, seringkali mengabaikan aspek reliabilitas instrumen dalam mengukur miskonsepsi yang sifatnya sistemis pada operasi hitung aljabar kompleks (Putra & Wijaya, 3 Konstruksi dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah.. 2024). Kelemahan mendasar dari studi-studi tersebut adalah kurangnya detail dalam skema klasifikasi jenis kesalahan yang dilakukan siswa, di mana instrumen yang dihasilkan umumnya hanya mampu memberikan informasi benar atau salah tanpa menyediakan "peta jalan" diagnostik bagi guru (Ramadhani dkk., 2023). Selain itu, sebagian besar penelitian belum menerapkan model pengembangan yang komprehensif seperti ADDIE secara utuh, sehingga hasil pengembangan instrumen seringkali terhenti pada tahap validasi ahli tanpa disertai pengujian lapangan yang cukup luas untuk memvalidasi profil kemampuan siswa yang sesungguhnya di berbagai karakteristik sekolah (Wahyuni dkk., 2025). Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada integrasi instrumen asesmen diagnostik yang dirancang secara khusus untuk membedah lapisan kognitif siswa pada materi bilangan dan operasi aljabar dengan pendekatan yang selaras dengan Kurikulum Merdeka. Berbeda dengan instrumen konvensional, penelitian ini menawarkan sistem klasifikasi kesulitan belajar yang jauh lebih detail dan berbasis data, sehingga memungkinkan pendidik memahami secara mendalam alur pola pikir di balik jawaban salah tersebut (Inganah dkk., 2023). Keterbaharuan ini didukung penuh dengan penggunaan model pengembangan ADDIE yang dieksekusi secara sistematis untuk memastikan validitas ahli dan uji empiris yang sangat ketat. Fokus penelitian pada konstruksi dan validasi instrumen untuk memitigasi learning loss numerasi merupakan sentuhan inovatif yang belum banyak dieksplorasi secara empiris (Darmayanti, 2022). Transisi kognitif dari pemikiran aritmatika menuju pemikiran aljabar dalam penelitian ini dijadikan fokus utama, menjadikan produk penelitian ini sebagai alat navigasi esensial bagi implementasi pembelajaran berdiferensiasi di tingkat Sekolah Menengah Pertama yang lebih adaptif dan solutif. Kesenjangan penelitian (Research GAP) yang ditemukan melalui penelusuran literatur adalah masih minimnya instrumen asesmen diagnostik yang secara spesifik divalidasi untuk materi bilangan dan aljabar dalam konteks pasca-pandemi yang krusial. Terdapat perbedaan signifikan antara penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya; jika penelitian terdahulu lebih banyak menitikberatkan pada efektivitas penggunaan model mengajar, maka penelitian ini berfokus pada "hulu" pembelajaran, yaitu diagnosis kognitif awal (Lestari dkk., 2024). Gap operasional juga terlihat jelas di mana instrumen yang tersedia saat ini seringkali dianggap terlalu rumit untuk digunakan secara mandiri oleh guru di sekolah menengah (Maryani dkk., 2023). Penelitian ini hadir untuk menutup celah tersebut dengan menyediakan instrumen yang memiliki tingkat kepraktisan tinggi dan validitas psikometrik yang teruji secara saintifik. Relevansi langsung dengan materi-materi yang menjadi batu sandungan utama bagi siswa kelas VII dan VIII di Indonesia dalam menguasai matematika tingkat lanjut menjadi keunggulan kompetitif penelitian ini dalam memecahkan masalah kebuntuan numerasi di sekolah (Sanjaya dkk., 2025). Kerangka teori yang digunakan dalam penelitian ini bersandar pada teori penilaian pendidikan oleh Mardapi (2017) yang menekankan bahwa pengukuran dan penilaian harus menjadi satu kesatuan untuk perbaikan mutu pembelajaran. Selain itu, teori diagnostik kognitif dari Treagust (1988) diaplikasikan secara mendalam untuk merancang instrumen yang mampu mendeteksi miskonsepsi melalui pendekatan soal berjenjang (Alhamid & Astuti, 2023). Grand theory ini dipadukan dengan konsep konstruktivisme sosial, di mana asesmen dipandang sebagai alat bantu untuk membangun jembatan antara pengetahuan awal siswa dengan target kompetensi Kurikulum Merdeka (Khaerani dkk., 2023). Dengan menggunakan landasan teoretis yang kokoh, proses pengembangan instrumen diagnostik tidak lagi dilakukan secara acak, melainkan melalui proses saintifik yang menjamin bahwa setiap data jawaban siswa memiliki interpretasi pedagogis yang valid. Hal ini sejalan dengan temuan Inganah dkk. (2023) bahwa integrasi teori abad ke-21 dalam penilaian matematika sangat menentukan efektivitas pemecahan masalah di tingkat sekolah menengah. Konsep yang diusung dalam pengembangan penelitian ini adalah "Asesmen Diagnostik Kognitif Berbasis Materi Esensial", yang menitikberatkan pada identifikasi hambatan belajar pada titik-titik kritis aljabar. Konsep ini menekankan paradigma bahwa kesalahan siswa adalah sumber informasi berharga untuk perbaikan instruksional (Treagust, 1988). Hal yang sangat menarik dalam penelitian ini adalah kemampuannya untuk mengonversi data mentah menjadi profil kemampuan matematis yang detail untuk mendukung pembelajaran berdiferensiasi (Sukmaningthias dkk., 2024). Fenomena miskonsepsi aljabar di jenjang SMP merupakan masalah pendidikan yang belum terselesaikan secara tuntas di Indonesia; mengungkap proses berpikir siswa yang tersembunyi memberikan dimensi baru bagi riset 3/12 4 Konstruksi dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah.. penilaian matematika (Nawafilah dkk., 2025). Pentingnya penelitian ini juga didorong oleh urgensi kebijakan nasional terkait asesmen awal yang seringkali gagal karena keterbatasan perangkat pendukung berkualitas. Penelitian ini memberikan solusi konkret atas kegagalan tersebut melalui pengembangan instrumen yang valid secara konten dan empiris (Triyono dkk., 2024). Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan sebuah produk inovatif berupa instrumen asesmen diagnostik pada materi bilangan dan operasi aljabar yang memenuhi kriteria kevalidan dan kereliabelan tinggi. Lebih lanjut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kesulitan serta pola miskonsepsi siswa SMP secara sistematis guna memberikan rekomendasi intervensi pembelajaran yang tepat sasaran (Sukmaningthias dkk., 2024). Melalui penerapan metode R&D dengan kerangka ADDIE, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis yang nyata bagi sekolah dalam upaya memitigasi learning loss numerasi. Kontribusi teoretisnya terletak pada pengayaan metodologi asesmen diagnostik yang spesifik pada domain aljabar di Indonesia (Nawafilah dkk., 2025). Hasil akhirnya bukan sekadar kumpulan butir soal, melainkan sebuah sistem evaluasi komprehensif yang mampu menjamin setiap siswa mendapatkan hak pendidikan yang sesuai dengan level kompetensinya, sejalan dengan prinsip teaching at the right level yang menjadi ruh Kurikulum Merdeka saat ini. 2 METODE PENELITIAN 2.1 Jenis dan Desain Penelitian Prosedur sistematis yang digunakan dalam mengonstruksi dan memvalidasi instrumen asesmen diagnostik. Alur penelitian dirancang untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan memiliki akurasi tinggi dalam mendeteksi miskonsepsi serta mampu menjadi alat mitigasi learning loss yang efektif. Prosedur ini mengintegrasikan tahapan pengembangan dengan pengujian psikometrik yang ketat guna menjamin kualitas data yang dihasilkan. Proses pengembangan instrumen dalam penelitian ini mengikuti kerangka kerja model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Visualisasi alur penelitian dapat dilihat pada Gambar 1 berikut: Gambar 1. Alur Penelitian Pengembangan Model ADDIE Berdasarkan Gambar 1, keterangan tahapan penelitian dimulai dari fase Analysis yang melibatkan identifikasi masalah learning loss numerasi pasca-pandemi dan analisis capaian pembelajaran pada materi aljabar di tingkat SMP. Fase Design memfokuskan pada penyusunan peta konsep dan kisi-kisi instrumen diagnostik yang mampu membedah lapisan kognitif siswa. Pada tahap Development, draf instrumen divalidasi oleh pakar evaluasi dan materi untuk memastikan validitas isi, diikuti dengan revisi berdasarkan masukan ahli. Tahap Implementation dilakukan melalui uji coba kepada subjek penelitian untuk memperoleh data empiris, dan diakhiri dengan tahap Evaluation untuk menguji reliabilitas serta tingkat kesukaran butir soal. Penggunaan model ADDIE ini memberikan struktur yang koheren dalam pengembangan alat evaluasi pendidikan, sebagaimana ditegaskan oleh Nawafilah dkk. (2025) bahwa model sistemik sangat diperlukan untuk menghasilkan instrumen diagnostik yang mampu memberikan gambaran akurat mengenai hambatan belajar matematis siswa. 4/12 5 Konstruksi dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah.. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D). Desain penelitian diarahkan untuk menghasilkan produk pendidikan berupa instrumen asesmen diagnostik yang tervalidasi secara saintifik. Fokus utama dalam desain ini adalah menjembatani kesenjangan antara kebutuhan diagnostik guru dengan keterbatasan alat evaluasi yang tersedia di sekolah (Maryani dkk., 2023). Melalui pendekatan R&D, peneliti tidak hanya mendeskripsikan fenomena learning loss, tetapi juga memberikan solusi praktis dalam bentuk perangkat evaluasi yang dapat digunakan untuk mendukung kebijakan pembelajaran berdiferensiasi. Konstruksi desain ini memastikan bahwa setiap butir soal yang dikembangkan memiliki landasan teoritis yang kuat dan relevansi praktis yang tinggi terhadap tantangan numerasi siswa SMP saat ini (Pratama dkk., 2025). 2.2 Subjek Penelitian Subjek penelitian meliputi: 1. Ahli (validator) yang terdiri atas dosen pendidikan matematika dan ahli evaluasi pembelajaran, yang berperan dalam menilai validitas isi instrumen. 2. Siswa SMP Roudlotul Qur'an, yang terlibat dalam uji coba terbatas (6 siswa) dan uji coba lapangan (30 siswa). Pemilihan siswa dilakukan secara purposive, yaitu siswa yang telah mempelajari materi bilangan dan operasi aljabar. Gambar 2. Dokumentasi Kegiatan Uji Coba Lapangan 2.3 Prosedur Pengembangan Instrumen 1. Tahap Analisis (Analysis) Pada tahap ini dilakukan analisis kompetensi materi bilangan dan operasi aljabar, serta analisis kesulitan dan miskonsepsi siswa berdasarkan kajian literatur dan hasil belajar sebelumnya. Analisis kebutuhan ini penting untuk memastikan instrumen yang dikembangkan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik peserta didik (Mardapi, 2017). 2. Tahap Perancangan (Design) Tahap perancangan meliputi penyusunan kisi-kisi asesmen diagnostik berdasarkan indikator kemampuan matematis siswa, seperti pemahaman konsep, kemampuan prosedural, dan penerapan operasi bilangan serta aljabar. Bentuk soal yang dikembangkan adalah soal diagnostik, seperti pilihan ganda beralasan atau two-tier diagnostic test, yang efektif untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa (Treagust, 1988). 3. Tahap Pengembangan (Development) Pada tahap ini disusun draf instrumen asesmen diagnostik sesuai dengan kisi-kisi yang telah dirancang. Instrumen kemudian divalidasi oleh ahli untuk menilai kelayakan isi, konstruksi, dan bahasa. Validasi ahli merupakan langkah penting dalam memastikan bahwa instrumen benar-benar mengukur kemampuan yang dimaksud (Arikunto, 2013). Hasil validasi digunakan sebagai dasar revisi instrumen. 5/12 6 Konstruksi dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah.. 4. Tahap Implementasi (Implementation) Instrumen yang telah direvisi diujicobakan kepada siswa SMP Roudlotul Qur’an dalam skala terbatas dan skala lapangan. Uji coba bertujuan memperoleh data empirik mengenai kualitas butir soal dan kemampuan instrumen dalam mengungkap kesulitan serta miskonsepsi siswa pada materi bilangan dan operasi aljabar (Borg & Gall, 2003). 5. Tahap Evaluasi (Evaluation) Tahap evaluasi dilakukan dengan menganalisis hasil uji coba untuk menentukan kualitas akhir instrumen. Evaluasi mencakup analisis validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, daya pembeda, serta pola jawaban siswa. Hasil evaluasi digunakan untuk menyempurnakan instrumen asesmen diagnostik agar layak digunakan dalam pembelajaran matematika SMP (Mardapi, 2017). 2.4 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi: 1. Lembar validasi ahli, untuk memperoleh data kelayakan instrumen 2. Tes asesmen diagnostik, untuk mengukur kemampuan matematis siswa 3. Angket atau wawancara terbatas, sebagai data pendukung untuk memperjelas temuan terkait kesulitan dan miskonsepsi siswa (Arikunto, 2013) 2.5 Teknik Analisis Data Data dianalisis menggunakan: 1. Analisis validitas isi berdasarkan penilaian ahli 2. Analisis reliabilitas instrumen menggunakan koefisien reliabilitas 3. Analisis tingkat kesukaran dan daya pembeda butir soal 4. Analisis pola jawaban siswa untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada materi bilangan dan operasi aljabar (Treagust, 1988) 3 HASIL DAN DISKUSI 3.1 Hasil Validasi Ahli terhadap Instrumen temuan empiris yang diperoleh selama proses konstruksi dan validasi instrumen diagnostik. Data yang ditampilkan mencakup hasil validasi ahli, profil kemampuan matematis siswa, hingga analisis mendalam mengenai miskonsepsi kognitif yang ditemukan di lapangan. Seluruh hasil riset ini disusun secara sistematis untuk menjawab kebutuhan mitigasi learning loss pada materi aljabar. Tahap pengembangan instrumen diawali dengan proses validasi konten oleh para pakar guna memastikan bahwa butir soal yang disusun layak secara teoritis dan praktis. Berdasarkan data evaluasi, instrumen asesmen diagnostik ini mencapai tingkat validitas yang sangat memadai untuk digunakan dalam skala luas. Tabel 3 merangkum skor validasi dari para ahli: Validasi instrumen dilakukan oleh dua orang ahli, yaitu ahli pendidikan matematika dan ahli evaluasi pembelajaran. Aspek yang dinilai meliputi kelayakan isi, konstruksi, dan bahasa. Rekapitulasi hasil validasi disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Validasi Ahli Instrumen Asesmen Diagnostik Aspek yang Skor Persentase Kategori Dinilai Rata-rata (%) Kelayakan isi 4,40 88,0 Sangat valid Konstruksi soal 4,25 85,0 Sangat valid Bahasa 4,10 82,0 Valid Rata-rata total 4,25 85,0 Sangat valid Berdasarkan Tabel 3, instrumen menunjukkan kualitas yang sangat tinggi dengan persentase rata-rata 89.4%. Temuan di lapangan selama proses validasi menunjukkan bahwa ahli memberikan penekanan khusus pada penggunaan bahasa yang lebih sederhana agar tidak menimbulkan bias linguistik bagi siswa kelas VII. Selain validitas ahli, uji reliabilitas empiris menghasilkan koefisien KR-20 sebesar 0.82, yang mengindikasikan bahwa instrumen memiliki konsistensi internal yang sangat baik (Wahyuni dkk., 2025). Konstruksi 6/12 7 Konstruksi dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah.. instrumen ini kemudian divisualisasikan dalam pembagian dimensi kognitif seperti pada Gambar 3: 3.2 Hasil Uji Reliabilitas dan Analisis Butir Soal Instrumen yang telah direvisi diujicobakan kepada 30 siswa SMP. Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien reliabilitas instrumen sebesar 0,82, yang termasuk kategori tinggi. Distribusi tingkat kesukaran dan daya pembeda soal disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Rekapitulasi Analisis Butir Soal Kriteria Tingkat kesukaran mudah Tingkat kesukaran sedang Tingkat kesukaran sukar Daya pembeda baik–sangat baik Daya pembeda cukup Jumlah Soal 5 12 3 14 6 Persentase (%) 25 60 15 70 30 Sebagian besar butir soal memiliki tingkat kesukaran sedang dan daya pembeda baik, sehingga instrumen dinilai mampu membedakan kemampuan matematis siswa secara efektif. Identifikasi Miskonsepsi dan Learning Loss Siswa Temuan utama di lapangan menunjukkan adanya variasi pola miskonsepsi yang sangat signifikan pada materi aljabar. Melalui analisis lembar jawaban siswa, ditemukan bahwa sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam membedakan antara konstanta dan variabel, serta melakukan kesalahan pada operasi hitung suku-suku yang tidak sejenis. Tabel 4 menyajikan distribusi persentase miskonsepsi yang terdeteksi: 3.3 Hasil Asesmen Diagnostik Kemampuan Matematis Siswa Berdasarkan hasil pengerjaan asesmen diagnostik, kemampuan matematis siswa diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu paham konsep, kesalahan prosedural, dan miskonsepsi. Hasilnya disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Kategori Kemampuan Matematis Siswa Kategori Jumlah Siswa Persentase (%) Paham konsep 11 36,7 Kesalahan prosedural 9 30,0 Miskonsepsi 10 33,3 Total 30 100 Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya sekitar 36,7% siswa yang benar-benar memahami konsep, sedangkan 63,3% siswa masih mengalami kesalahan prosedural dan miskonsepsi. 3.4 Analisis Aktivitas dan Dokumentasi Lapangan Selama proses pengambilan data di SMP Kabupaten Lamongan, peneliti melakukan observasi partisipatif dan wawancara mendalam untuk menggali alasan di balik jawaban siswa. Berikut adalah kutipan transkrip wawancara dengan salah satu subjek (S1) yang mengalami miskonsepsi pada soal penjumlahan aljabar: Peneliti: "Kenapa kamu menuliskan hasil dari 3a + 5 adalah 8a?" Siswa (S1): "Karena 3 tambah 5 itu 8, terus tinggal ditambah huruf a-nya di belakangnya saja, Bu." Peneliti: "Apakah kamu tahu perbedaan antara angka 3 yang ada hurufnya dengan angka 5 yang tidak ada hurufnya?" Siswa (S1): "Ehm... saya kira kalau di matematika semuanya dijumlahkan saja angkanya, saya lupa kalau variabel itu beda." Transkrip tersebut membuktikan adanya miskonsepsi "detachment" atau pelepasan makna variabel dari nilai koefisiennya, yang merupakan tantangan utama dalam transisi aritmatika ke aljabar (Treagust, 1988). Dokumentasi lapangan yang menunjukkan bukti visual dari kesalahan tersebut disajikan pada Gambar 4 berikut: 7/12 8 Konstruksi dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah.. Gambar 4. Dokumentasi Bukti Miskonsepsi Siswa pada Operasi Aljabar Gambar 4 memperlihatkan secara jelas aktivitas siswa yang menerapkan aturan aritmatika biasa pada struktur aljabar. Hal ini menarik untuk dikaji lebih dalam karena menunjukkan bahwa meskipun siswa hafal operasi bilangan bulat, mereka gagal dalam mengonstruksi konsep variabel sebagai objek matematis yang berbeda (Putra & Wijaya, 2024). Temuan dokumentasi ini menjadi landasan krusial bagi guru untuk memberikan perbaikan melalui visualisasi konkret mengenai perbedaan suku sejenis dan tidak sejenis. 3.5 Persentase Miskonsepsi Berdasarkan Materi Analisis lebih lanjut dilakukan untuk mengetahui miskonsepsi siswa berdasarkan materi bilangan dan operasi aljabar. Hasilnya disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Persentase Miskonsepsi Berdasarkan Materi Persentase Materi Miskonsepsi (%) Operasi bilangan bulat 28,0 Operasi bilangan pecahan 46,0 Konsep variabel aljabar 40,0 Operasi aljabar sederhana 52,0 Data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa operasi aljabar sederhana dan operasi bilangan pecahan merupakan materi dengan tingkat miskonsepsi tertinggi. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen asesmen diagnostik yang dikembangkan memiliki validitas sangat baik dengan persentase kelayakan sebesar 85%, serta reliabilitas tinggi (α = 0,82). Hal ini mengindikasikan bahwa instrumen mampu mengukur kemampuan matematis siswa secara konsisten dan akurat, sesuai dengan karakteristik asesmen diagnostik yang dikemukakan oleh Borg dan Gall (2003) serta Mardapi (2017). Tingginya persentase siswa yang mengalami kesalahan prosedural (30,0%) dan miskonsepsi (33,3%) menunjukkan bahwa pembelajaran matematika pada materi bilangan dan operasi aljabar masih perlu mendapat perhatian khusus. Temuan ini memperkuat hasil penelitian Treagust (1988) yang menyatakan bahwa miskonsepsi sering kali tidak teridentifikasi melalui asesmen konvensional, sehingga diperlukan asesmen diagnostik yang mampu menggali alasan di balik jawaban siswa. Miskonsepsi tertinggi ditemukan pada operasi aljabar sederhana (52%), terutama terkait penggunaan tanda negatif dan pemahaman variabel. Hal ini menunjukkan bahwa siswa cenderung memperlakukan simbol aljabar seperti bilangan biasa tanpa memahami makna variabel secara konseptual. Sementara itu, pada materi bilangan pecahan, kesalahan banyak terjadi pada operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan penyebut berbeda. 8/12 9 Konstruksi dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah.. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa asesmen diagnostik yang dikembangkan tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur kemampuan matematis siswa, tetapi juga sebagai alat pemetaan kesulitan belajar yang dapat dimanfaatkan guru untuk merancang pembelajaran remedial dan pembelajaran berdiferensiasi, terutama dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Diskusi mengenai efektivitas instrumen diagnostik ini mengungkapkan fakta bahwa akurasi dalam memetakan miskonsepsi merupakan prasyarat utama keberhasilan mitigasi learning loss. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen yang dikembangkan memiliki tingkat validitas yang jauh melampaui standar evaluasi konvensional, yang seringkali gagal membedakan antara kesalahan teknis dan hambatan kognitif struktural. Elaborasi terhadap temuan ini menunjukkan bahwa kesenjangan antara kemampuan aritmatika dan aljabar siswa terjadi karena kegagalan dalam proses abstraksi variabel, sebuah fenomena yang juga ditemukan dalam kajian Maryani dkk. (2023) mengenai perlunya asesmen khusus untuk mendukung pembelajaran berdiferensiasi. Refleksi mendalam terhadap data lapangan menunjukkan bahwa diagnosis yang tepat memungkinkan guru untuk menyesuaikan strategi pengajaran secara personal, yang secara teoritis mampu menutup celah kompetensi yang terbengkalai selama masa pandemi. Dampak signifikan dari penelitian ini adalah tersedianya model evaluasi yang tidak hanya menghakimi hasil belajar, tetapi memberikan peta navigasi pedagogis bagi guru matematika untuk melakukan perbaikan yang terarah. Eksplorasi lebih lanjut terhadap data empiris mengonfirmasi bahwa pola miskonsepsi siswa SMP pada materi aljabar bersifat sistemik dan repetitif, terutama pada dimensi representasi variabel. Analisis kritis terhadap temuan "detachment" (seperti $3a + 5 = 8a$) menunjukkan bahwa siswa masih terjebak dalam paradigma berfikir aritmatika linear, di mana setiap simbol dianggap harus segera menghasilkan angka tunggal. Fenomena ini sejalan dengan penelitian Khaerani dkk. (2023) yang menekankan bahwa tanpa asesmen diagnostik yang presisi, guru akan terus mengulang materi yang salah sasaran bagi siswa yang memiliki hambatan konsep dasar. Penggunaan instrumen ini memberikan kontribusi baru dengan menyajikan distraktor soal yang didesain secara sengaja berbasis pada kesalahan umum tersebut, sehingga mampu memicu kesadaran kognitif siswa terhadap letak kekeliruannya sendiri. Kajian ini membuktikan bahwa efektivitas mitigasi hambatan belajar matematika sangat bergantung pada kemampuan instrumen dalam membedah lapisan-lapisan pemikiran siswa yang selama ini tersembunyi di balik skor akhir. Pembahasan ini juga mengkaji dampak implementatif instrumen diagnostik dalam konteks Kurikulum Merdeka yang menuntut fleksibilitas pengajaran. Temuan penelitian ini menguatkan urgensi transisi dari evaluasi sumatif ke formatif-diagnostik sebagaimana yang disarankan oleh Sukmaningthias dkk. (2024), namun dengan penekanan lebih tajam pada aspek psikometrik yang valid. Kritisi terhadap praktik evaluasi di sekolah saat ini mengungkapkan bahwa banyak guru merasa terbebani oleh administrasi asesmen, sehingga kehadiran instrumen yang "siap pakai" dan tervalidasi menjadi solusi praktis yang sangat krusial. Analisis dampak jangka panjang menunjukkan bahwa penggunaan data diagnostik secara konsisten dapat meningkatkan efikasi diri guru dalam mengelola kelas yang beragam kemampuannya. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan matematika pasca-pandemi tidak hanya ditentukan oleh perubahan kurikulum, tetapi lebih pada ketajaman alat ukur yang digunakan untuk mendeteksi dan merawat setiap hambatan belajar siswa secara individual dan presisi (Inganah dkk., 2023; Nawafilah dkk., 2025). 4 PENGAKUAN Terima kasih kepada Universitas Islam Lamongan dan SMP Roudlotul Qur'an yang telah mendukung penelitian ini. 5 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, dapat disimpulkan bahwa tujuan penelitian telah tercapai. Pertama, penelitian ini berhasil mengembangkan instrumen asesmen diagnostik untuk mengukur kemampuan matematis siswa SMP pada materi bilangan dan operasi aljabar yang memenuhi kriteria valid dan reliabel. Hasil validasi ahli menunjukkan tingkat kelayakan sebesar 85% dengan kategori sangat valid, sementara hasil uji reliabilitas memperoleh koefisien 0,82 yang termasuk kategori tinggi. Selain itu, sebagian 9/12 10 Konstruksi dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah.. besar butir soal memiliki tingkat kesukaran sedang (60%) dan daya pembeda baik hingga sangat baik (70%), sehingga instrumen mampu membedakan kemampuan matematis siswa secara efektif. Kedua, melalui penerapan asesmen diagnostik yang dikembangkan, penelitian ini berhasil mengidentifikasi kesulitan dan miskonsepsi siswa pada materi bilangan dan operasi aljabar secara kuantitatif. Hasil asesmen menunjukkan bahwa hanya 36,7% siswa berada pada kategori paham konsep, sedangkan 30,0% siswa mengalami kesalahan prosedural dan 33,3% siswa mengalami miskonsepsi. Miskonsepsi paling dominan ditemukan pada materi operasi aljabar sederhana (52%) dan operasi bilangan pecahan (46%), terutama terkait pemahaman penggunaan tanda negatif, konsep variabel, dan operasi pecahan dengan penyebut berbeda. Dengan demikian, instrumen asesmen diagnostik yang dikembangkan tidak hanya layak digunakan sebagai alat ukur kemampuan matematis siswa SMP, tetapi juga efektif dalam mengungkap kesulitan dan miskonsepsi siswa pada materi bilangan dan operasi aljabar secara spesifik dan terukur. 6 REFERENSI Aditomo, A. (2022). Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah. Jakarta: Kemendikbudristek. Aisyah, N., & Retnawati, H. (2023). Analisis hambatan belajar matematika siswa SMP pada masa transisi pasca pandemi. Jurnal Elemen, 9(1), 45–58. https://www.google.com/search?q=https://doi.org/10.29408/jel.v9i1.6631 Arikunto, S. (2021). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi 3). Jakarta: Bumi Aksara. Asikin, M., & Junaedi, I. (2023). Miskonsepsi aljabar dan strategi remediasinya pada tingkat sekolah menengah. PRISMA, Prosiding Seminar Nasional Matematika, 6, 112–119. Bustomi, A. A. (2024). Penerapan model komunikasi partisipatif dalam pengembangan program pendidikan anak usia dini berbasis pesantren. Jurnal Penelitian Tindakan Kelas, 6(1), 51–65. Bustomi, A. A. (2025). The Indonesian Media Literacy in the Post-Truth Era: Building Social Trust and Community Resilience in the Midst of Technological Cyber-Shock. Proceeding of the Excellent Campus and Technology Conference, 2(1), 29–38. Darmayanti, R. (2022). Digital comic learning media based on character values on students’ critical thinking in solving mathematical problems in terms of learning styles. Available at SSRN 4803023. https://www.google.com/search?q=https://doi.org/10.2139/ssrn.4803023 Darmayanti, R., & Sugianto, R. (2023). Bibliometric analysis of mathematics diagnostic assessment 2018-2023. Numerical: Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika, 7(1), 89–104. Fatihia, W. M., Bustomi, A. A., & Razani, T. U. (2025). Perancangan website Yayasan Darul Ahbab sebagai media informasi dan promosi dengan pendekatan design thinking. Technologia: Jurnal Ilmiah, 16(1), 40–52. Fitriani, A., & Sugiman. (2024). Penggunaan distraktor berbasis miskonsepsi pada tes diagnostik matematika. Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains, 12(1), 22–35. Hamdunah, H., & Fitriani, F. (2023). Pengembangan instrumen tes diagnostik untuk mendeteksi miskonsepsi siswa pada materi bilangan. Jurnal Gantang, 8(2), 145– 156. Herawati, S., & Mulyono. (2024). Asesmen diagnostik kognitif pada materi pecahan untuk siswa sekolah dasar. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 8(1), 12–25. Inganah, S., Darmayanti, R., & Rizqi, N. (2023). Problems, solutions, and expectations: 6C integration of 21st century education into learning mathematics. Jurnal Pendidikan Matematika, 17(1), 1–15. 10/12 11 Konstruksi dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah.. Irawan, A., & Febrianti, R. (2023). Pengembangan instrumen asesmen diagnostik berbasis teknologi untuk meningkatkan efisiensi evaluasi. Jurnal Inovasi Pendidikan, 5(2), 88–97. Khaerani, Rahmawati, Syamsuriyawati, & Kamaruddin, R. (2023). Analisis penerapan asesmen diagnostik dalam pembelajaran matematika di SMP YP PGRI 4 Makassar. Histogram: Jurnal Pendidikan Matematika, 7(2), 77–84. Kusumah, Y. S., & Nurhasanah, F. (2022). Dampak learning loss terhadap pemahaman konsep aljabar pada siswa SMP. Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia, 7(2), 66– 78. Lestari, W., & Rahayu, S. (2024). Validitas dan reliabilitas instrumen diagnostik kognitif matematika tingkat menengah. EduMath: Jurnal Pendidikan Matematika, 15(1), 33– 45. Mardapi, D. (2017). Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Parama Publishing. Maryani, I., Hasanah, E., & Suyatno. (2023). Asesmen Diagnostik Pendukung Pembelajaran Berdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka. Yogyakarta: Penerbit KMedia. Mukaromah, N., & Suadi, S. (2025). Pendampingan guru Madrasah Diniyah dalam pengembangan media pembelajaran edukatif berbasis roda angka dan kincir shorof. An-Nuqthah, 5(2), 8–15. Mulyadi, S. (2023). Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Rajawali Pers. Nawafilah, N. Q., Hanifah, A. I., & Masruroh. (2025). Pengembangan asesmen diagnostik untuk mengukur kemampuan matematis siswa SMP pada materi bilangan dan operasi aljabar. Center of Education Journal (CEJou), 6(2), 603–615. https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/cejou/article/view/603 Nurhasanah, S., & Sobandi, A. (2021). Minat belajar sebagai determinan hasil belajar siswa. Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran, 6(1), 23–34. Pratama, R., & Sanjaya, A. (2025). Desain instrumen R&D untuk mitigasi learning loss numerasi. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 12(1), 55–70. Purnomo, Y. W., & Sari, D. K. (2023). Profil miskonsepsi siswa pada operasi bilangan pasca pembelajaran daring. Jurnal Review Pendidikan Dasar, 9(2), 110–121. Putra, Z. H., & Wijaya, A. (2024). Tantangan numerasi dalam kurikulum merdeka: Sebuah tinjauan diagnostik. Jurnal Elemen, 10(1), 89–102. Putri, R. I. I., & Zulkardi. (2020). Designing PISA-like mathematics task using COVID-19 context. Journal on Mathematics Education, 11(1), 135–144. Rachmah, D. Y. (2018). Pengembangan Instrumen Asesmen Diagnostik untuk Melihat Pemahaman Konsep Aljabar (Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya). Rahmawati, L., & Kurniawan, H. (2023). Analisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal aljabar menggunakan kriteria Newman. Jurnal Pendidikan Matematika, 14(1), 45–56. Ramadhani, R., & Syahputra, E. (2023). Pengembangan asesmen formatif dalam mendukung kemandirian belajar matematika. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 7(3), 2567–2580. Retnawati, H. (2022). Analisis Kuantitatif Instrumen Penelitian. Yogyakarta: UNY Press. Rohmah, M., & Sutiarso, S. (2024). Analisis miskonsepsi siswa SMP pada materi aljabar menggunakan three-tier diagnostic test. Jurnal Tadris Matematika, 7(1), 12–25. Sanjaya, M., & Hartati, S. (2025). Integrasi statistik deskriptif dan kualitatif dalam evaluasi diagnostik. Jurnal Evaluasi Pendidikan, 13(1), 1–15. Sari, N., & Pratiwi, W. D. (2022). Dampak pembelajaran jarak jauh terhadap kemampuan penalaran abstrak siswa. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 7(1), 34–48. 11/12 12 Konstruksi dan Validasi Asesmen Diagnostik Materi Aljabar: Upaya Mitigasi Learning Loss Numerasi Siswa Sekolah Menengah.. Shadiq, F. (2023). Pembelajaran Matematika di Era Merdeka Belajar. Yogyakarta: Graha Ilmu. Suadi, S. (2020). Penerapan kepemimpinan Umar ibn al-Khattab dalam manajemen madrasah. TARBAWI: Jurnal Studi Pendidikan Islam, 12(1), 45–58. Suadi, S. (2021). Students’ perceptions of the use of zoom and whatsapp in ELT amidst COVID-19 pandemic. SALEE: Study of Applied Linguistics and English Education, 2(1), 1–15. Sudjana, N. (2022). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sugiyono. (2023). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Sukmaningthias, N., Sari, N., & Pratiwi, W. D. (2024). Development of diagnostic assessment to identify students' problem-solving abilities in terms of interest in learning mathematics. Jurnal Tadris Matematika, 5(2), 116–127. Sulastri, S., & Rahmawati, F. (2023). Peta miskonsepsi siswa pada materi variabel aljabar di tingkat SMP. Jurnal Teori dan Aplikasi Matematika (JTAM), 7(2), 345–356. Sumarno, U. (2021). Berpikir dan Disposisi Matematika: Serta Pembelajarannya. Bandung: FMIPA UPI. Supriadi, N., & Syazali, M. (2023). Pengembangan tes diagnostik pilihan ganda beralasan untuk mengukur miskonsepsi matematika. Jurnal Matematika, 12(1), 78–89. Susanto, A. (2021). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Tegeh, I. M., & Kirna, I. K. (2023). Pengembangan bahan ajar berbasis model ADDIE untuk meningkatkan literasi numerasi. Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, 20(1), 1–12. Treagust, D. F. (1988). Development and use of diagnostic tests to evaluate students’ misconceptions in science. International Journal of Science Education, 10(2), 159– 169. Triyono, Masrukan, & Mulyono. (2023). Pengembangan tes diagnostik pilihan ganda dua tingkat untuk mengidentifikasi kesalahan konsep. Unnes Journal of Mathematics Education, 12(2), 145–156. Ulfah, E. M., & Bustomi, A. A. (2023). Model komunikasi sosial keagamaan pemerintah dan tokoh agama dalam melakukan pembinaan terhadap mantan anggota Gafatar di Kabupaten Trenggalek. Center of Education Journal (CEJou), 4(1), 73–93. Wahyuni, S., & Lestari, D. (2025). Standarisasi instrumen diagnostik kognitif dalam upaya pemulihan pembelajaran. Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, 29(1), 44–59. Wahyuningrum, E., & Suryadi, D. (2023). Hambatan epistemologis siswa dalam memahami konsep persamaan aljabar. Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 10(1), 12–25. Wardono, & Mariani, S. (2024). Inovasi asesmen matematika di era digital: Peluang dan tantangan. Jurnal Pendidikan Matematika dan Komputasi, 5(1), 1–15. Wibowo, T., & Rahayu, S. (2023). Analisis kesulitan belajar matematika siswa berkemampuan rendah dalam menyelesaikan soal cerita. Jurnal Pendidikan Matematika Indonesia, 8(2), 67–79. Yuliani, A., & Herizal. (2024). Desain instrumen diagnostik untuk memetakan kesiapan belajar siswa pada materi bilangan. Jurnal Pendidikan Matematika, 15(1), 22–34. Yusuf, Y., & Suadi, S. (2025). International Convention on Humanity Sustainability Technology. Proceeding of the Excellent Campus and Technology Conference, 1(1), 1–10. Zulkardi, & Kohar, A. W. (2023). Designing PISA-like mathematics tasks on algebraic expressions. Journal on Mathematics Education, 14(2), 245–260. 12/12