LANDSCAPE KOMPETENSI CALON GURU PJOK DI STKIP PGRI SUMENEP MELALUI PELAKSANAAN KEGIATAN OUTBOUND DI BUMI PERKEMAHAN BEDENGAN BATU Mas’odi1* , Rani Darmayanti2, Mohammad Hasan Basri3, Dyas Andry Prasetyo4, Feri Weldani5, Syawal Hari Hidayatullah6, dan Amrit Dhakal7 1 STKIP PGRI Sumenep, Indonesia 2 3 4 5 6 7 Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia STKIP PGRI Sumenep, Indonesia STKIP PGRI Sumenep, Indonesia STKIP PGRI Sumenep, Indonesia STKIP PGRI Sumenep, Indonesia Kathmandu University School of Education, lalitpur, Nepal Abstrak Volume 6 Edisi 1 *Autor (a) correspondence: masodi@stkippgrisume nep.ac.id Submit 19 mei 2025 Accept 5 Juni 2025 Published 9 Juni 2025 Mas’odi, Rani Darmayanti, Mohammad Hasan Basri, Dyas Andry Prasetyo, Feri Weldani, Syawal Hari Hidayatullah, dan Amrit Dhaka (2025). Landscape Kompetensi Calon Guru Pjok Di Stkip Pgri Sumenep Melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound Di Bumi Perkemahan Bedengan Batu. Center of Education Journal (CEJou), 6(1). 10-21. https://ejournal.unupas uruan.ac.id/index.php/c ejou/article/view/567. Kegiatan outbound merupakan salah satu metode inovatif untuk meningkatkan kompetensi calon guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), khususnya dalam aspek keterampilan motorik, kerja sama, dan kepemimpinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis landscape kompetensi 100 calon guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui pelaksanaan kegiatan outbound di Bumi Perkemahan Bedengan, Batu. Kegiatan dilaksanakan dalam kondisi lingkungan yang dinamis, termasuk hujan yang menambah tantangan fisik dan mental peserta. Outbound ini dirancang menggunakan permainan berbasis budaya lokal, yaitu "Karapan Pesapean Challenge," untuk mengintegrasikan nilai budaya dalam pembelajaran. Metode penelitian melibatkan observasi, wawancara, dan evaluasi langsung terhadap pelaksanaan kegiatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan outbound secara signifikan meningkatkan keterampilan motorik, komunikasi efektif, dan kemampuan kerja sama peserta. Selain itu, integrasi elemen budaya lokal memberikan pengalaman pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan kebutuhan calon guru, serta mendorong kreativitas mereka dalam mengembangkan modul ajar berbasis permainan tradisional. Penelitian ini merekomendasikan kegiatan outbound berbasis budaya sebagai bagian integral dari kurikulum untuk membekali calon guru PJOK dengan kompetensi yang holistik, relevan, dan berbasis nilai-nilai lokal. Implementasi kegiatan serupa diharapkan dapat memperkuat karakter dan keterampilan guru masa depan yang sesuai dengan kebutuhan generasi Z.. Kata kunci: Outbound, Kompetensi calon guru, Pendidikan Jasmani, Karapan Pesapean, Budaya lokal, Keterampilan motorik Abstract Outbound activities are one of the innovative methods to improve the competence of prospective Physical Education, Sports, and Health (PJOK) teachers, especially in the aspects of motor skills, cooperation, and leadership. This study aims to analyze the competency landscape of 100 prospective PJOK teachers at STKIP PGRI Sumenep through the implementation of outbound activities at the Bedengan Campground, Batu. The activities were carried out in dynamic environmental conditions, including rain which added to the physical and mental challenges of the participants. This outbound was designed using a local culture-based game, namely "Karapan Pesapean Challenge," to integrate cultural values into learning. The research method involved observation, interviews, and direct evaluation of the implementation of the activities. The results showed that outbound activities significantly improved the motor skills, effective communication, and cooperation abilities of the participants. In addition, the integration of local cultural elements provides a contextual and relevant learning experience to the needs of prospective teachers, and encourages their creativity in developing traditional gamebased teaching modules. This study recommends culture-based outbound activities as an integral part of the curriculum to equip prospective PJOK teachers with holistic, relevant, and local value-based competencies. The implementation of similar activities is expected to strengthen the character and skills of future teachers that are in accordance with the needs of generation Z.. Keywords: Outbound, Competence of prospective teachers, Physical Education, Karapan Pesapean, Local culture, Motor skills 1 PENDAHULUAN Dalam era globalisasi, pendidikan abad ke-21 mengharuskan para pendidik, khususnya guru, untuk memiliki kompetensi yang menyeluruh. Kompetensi ini meliputi keterampilan teknis, motorik, komunikasi interpersonal, serta kemampuan kepemimpinan. Hal ini sangat penting bagi calon guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) yang bertugas tidak hanya untuk mengajar, tetapi juga untuk menginspirasi siswa dalam mengembangkan potensi fisik dan karakter mereka. 10 Landscape Kompetensi Calon Guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound di Bumi Perkemahan Bedengan Batu Kegiatan outbound telah diakui sebagai strategi inovatif dalam mengembangkan keterampilan-keterampilan penting tersebut (Dean et al., 2020; Goh et al., 2020). Menurut Rahman et al. (2021), kegiatan outbound berbasis pengalaman mampu meningkatkan keterampilan motorik (Bains & Kaliski, 2020; Gelfman & Zahl, 2020), kerja sama tim, dan kepemimpinan—elemen penting dalam pendidikan jasmani. Penelitian ini berfokus pada pengkajian kompetensi calon guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui kegiatan outbound di Bumi Perkemahan Bedengan, Batu, dengan memanfaatkan nilai-nilai budaya lokal sebagai pendekatan pembelajaran. Adapun tantangan yang dihadapi meliputi kurangnya keterpaduan antara kebutuhan kompetensi calon guru dengan metode pembelajaran inovatif berbasis pengalaman. Selain itu (Elhadi et al., 2020; Martin et al., 2020), minimnya integrasi elemen budaya lokal dalam pembelajaran PJOK menjadi isu signifikan. Suryadi et al. (2022) menunjukkan bahwa kegiatan outbound sering kali berfokus pada pengembangan keterampilan teknis tanpa melibatkan konteks budaya lokal. Hal ini menyisakan potensi pembelajaran yang lebih kontekstual dan relevan belum dimanfaatkan secara maksimal. Tantangan lain termasuk kondisi lingkungan yang dinamis, seperti cuaca hujan, yang menuntut ketahanan fisik dan mental peserta. Penelitian terdahulu telah membahas manfaat kegiatan outbound dalam berbagai aspek. Nuraini dan Mas'odi (2024) menekankan pentingnya desain pembelajaran berbasis pengalaman untuk meningkatkan keterampilan sosial dalam pendidikan jasmani. Musrifah et al. (2025) menegaskan pendekatan berbasis budaya lokal, seperti permainan tradisional, dapat meningkatkan keterlibatan peserta dan menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Namun, penelitian ini umumnya berfokus pada siswa sekolah dasar atau menengah, dengan sedikit perhatian pada calon guru. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi permainan tradisional Madura, "Karapan Pesapean Challenge," sebagai bagian dari kegiatan outbound. Pendekatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik dan kerja sama serta melestarikan nilai-nilai budaya lokal, yang relevan bagi calon guru dalam mengembangkan modul pembelajaran kreatif berbasis budaya. Penelitian ini juga dilakukan dalam kondisi lingkungan menantang, seperti hujan, yang memberikan dimensi tambahan dalam mengevaluasi ketahanan fisik dan mental peserta. Research gap yang diangkat adalah kurangnya penelitian yang secara spesifik mengeksplorasi manfaat kegiatan outbound berbasis budaya lokal dalam konteks pendidikan calon guru PJOK. Penelitian ini berbeda dengan studi sebelumnya dengan fokus utama pada calon guru, yang merupakan garda depan dalam implementasi pendidikan jasmani berbasis budaya. Penelitian ini menggunakan teori experiential learning dari Kolb (1984) sebagai kerangka teori, yang menekankan pentingnya pengalaman langsung dalam proses belajar. Konsep yang digunakan adalah pembelajaran berbasis pengalaman dan budaya lokal untuk menciptakan pembelajaran holistik, relevan, dan kontekstual bagi calon guru PJOK. 2 METODE PENELITIAN 2.1 Paradigma Penelitian Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme, yang berfokus pada pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Paradigma ini sangat relevan dengan kegiatan outbound karena memungkinkan peserta, yang merupakan calon guru, untuk mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman nyata. Mereka dapat mengasah keterampilan seperti kerja sama, kepemimpinan, dan keterampilan motorik dalam lingkungan alami. Penelitian berbasis paradigma ini mendukung pengembangan kompetensi calon guru secara holistik dan kontekstual, sesuai dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21 (Kolb, 1984; Nuraini & Mas’odi, 2024). 10/20 11 Landscape Kompetensi Calon Guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound di Bumi Perkemahan Bedengan Batu Gambar 1: Paradigma Penelitian Konstruktivisme Gambar 1 menunjukkan alur pembelajaran dalam paradigma konstruktivisme. Input berupa kegiatan outbound dengan elemen budaya lokal, seperti "Karapan Pesapean," yang dilakukan di Bumi Perkemahan Bedengan. Proses melibatkan pengalaman langsung yang dikombinasikan dengan refleksi dan diskusi kelompok. Hasilnya adalah peningkatan kompetensi motorik, kerja sama, dan kepemimpinan peserta. 2.2 Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan campuran (mixed methods), yang memadukan data kualitatif dan kuantitatif (Hatten & Hannon, 2020; Kretschmann et al., 2020). Data kualitatif diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam, sementara data kuantitatif dikumpulkan melalui kuesioner dan penilaian keterampilan motorik peserta (Mrani et al., 2020; Vicente-Bújez et al., 2020). Pendekatan ini digunakan untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif tentang landscape kompetensi calon guru PJOK. 2.3 Jenis dan Model Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif, dengan model berbasis kegiatan (activity-based research). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan dan menganalisis kompetensi calon guru PJOK melalui pelaksanaan kegiatan outbound. Model ini memungkinkan fokus pada proses dan hasil dari aktivitas pembelajaran berbasis pengalaman. 2.4 Prosedur Penelitian Prosedur penelitian mencakup beberapa tahapan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2: Prosedur Penelitian (MacQuillan et al., 2020; Valencia-Peris et al., 2020) Gambar 2 menjelaskan tahapan penelitian, dimulai dari persiapan hingga evaluasi (Czaplinski & Fielding, 2020; Pérez-Ordás et al., 2020). Tahap persiapan meliputi pengembangan instrumen dan pemilihan lokasi. Pelaksanaan dilakukan di lapangan terbuka dengan kondisi cuaca dinamis. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara, dan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan teknik campuran (Luo et al., 2020). 11/20 12 Landscape Kompetensi Calon Guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound di Bumi Perkemahan Bedengan Batu 2.5 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen penelitian dirancang untuk mengukur kompetensi motorik, kerja sama, dan kepemimpinan peserta. Tabel berikut menjelaskan rincian instrumen: Tabel 1. Instrumen Pengumpulan Data: Aspek yang Dinilai Kompetensi Motorik Kerja Sama Tim Kepemimpinan Jumlah Butir Metode Subjek/Populasi Lokasi 10 butir Observasi 8 butir Wawancara 5 butir Penilaian diri 100 calon guru PJOK Kelompok peserta Individu peserta Bumi Perkemahan Bedengan Bumi Perkemahan Bedengan Bumi Perkemahan Bedengan Tabel di atas menunjukkan instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur tiga aspek utama kompetensi peserta. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan penilaian diri yang dilakukan selama kegiatan berlangsung (Darmayanti et al., 2025; Mas’odi & Arma, 2024). 2.6 Validitas dan Reliabilitas Instrumen Untuk memastikan bahwa instrumen yang digunakan dalam penelitian ini valid dan reliabel, dilakukan beberapa langkah pengujian (Masodi et al., 2024; Novitasari et al., 2024). Validitas instrumen diuji melalui kajian ahli dan uji coba lapangan dengan melibatkan beberapa ahli dalam bidang pendidikan jasmani dan budaya lokal. Reliabilitas diuji menggunakan koefisien alpha Cronbach untuk memastikan konsistensi internal dari instrumen, dengan hasil reliabilitas dianggap baik jika nilai alpha lebih dari 0,7. 2.7 Teknik Analisis Data Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan teknik analisis yang sesuai dengan jenis data. Data kualitatif dianalisis secara tematik, dengan langkah-langkah meliputi transkripsi, pengodean, dan identifikasi tema utama yang berkaitan dengan pengalaman peserta selama kegiatan outbound. Data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menggambarkan distribusi dan kecenderungan data, serta uji statistik inferensial untuk menguji hipotesis penelitian, seperti uji t atau ANOVA jika diperlukan (odi Mas’ odi et al., 2024). 3 HASIL PENELITIAN Kegiatan outbound ini dirancang untuk mengasah keterampilan motorik calon guru PJOK melalui permainan berbasis budaya lokal. Permainan “Karapan Pesapean Challenge” menjadi inti dari aktivitas outbound 3.1 Lanskap Kompetensi Awal Calon Guru PJOK Hasil observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar calon guru PJOK memiliki persepsi yang sempit tentang pembelajaran PJOK, yang dianggap hanya berfokus pada aktivitas fisik seperti olahraga dan gerak dasar. Minimnya pemahaman tentang pendekatan pembelajaran berbasis budaya menjadi hambatan dalam mengembangkan kreativitas pembelajaran. Tabel 1 menunjukkan hasil evaluasi keterampilan awal calon guru PJOK sebelum kegiatan outbound dimulai. Tabel 2 Keterampilan awal calon guru PJOK sebelum kegiatan outbound dimulai Rata-Rata Kompetensi Aspek Kompetensi Kategori (%) Keterampilan Motorik 68% Cukup Kerja Sama Tim 62% Cukup Pengetahuan Pembelajaran 55% Kurang Sebelum mengikuti kegiatan outbound, rata-rata keterampilan motorik dan kerja sama tim calon guru berada pada kategori cukup. Namun, pemahaman tentang pendekatan pembelajaran inovatif, seperti berbasis permainan tradisional, berada dalam kategori kurang 3.2 Peningkatan Keterampilan Motorik Kegiatan outbound ini dirancang untuk mengasah keterampilan motorik calon guru PJOK melalui permainan berbasis budaya lokal. Permainan “Karapan Pesapean Challenge” menjadi inti dari aktivitas outbound. 12/20 13 Landscape Kompetensi Calon Guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound di Bumi Perkemahan Bedengan Batu Gambar 3: Persiapan peserta dalam menjalankan kegiatan. Peserta berkumpul untuk mendengarkan briefing terkait pelaksanaan permainan Karapan Pesapean (Prakosa & Hartati, 2022; Tapo et al., 2021). Aktivitas ini melibatkan koordinasi fisik, ketangkasan, dan daya tahan. 85% peserta menunjukkan peningkatan ketangkasan dan keseimbangan setelah menyelesaikan permainan. Tantangan berupa medan licin akibat hujan menjadi faktor yang meningkatkan daya tahan fisik peserta. 3.2 Penguatan Kerja Sama Tim Kerja sama tim menjadi salah satu kemampuan penting yang diasah melalui permainan kelompok. Aktivitas seperti menyusun replika karapan sapi dan berkompetisi di lintasan memerlukan komunikasi efektif antar anggota. Tabel 2: Perbandingan tingkat kerja sama tim sebelum dan sesudah kegiatan. Peningkatan Kelompok Kerjasama Sebelum (%) Kerjasama Sesudah (%) (%) A 70 88 18 B 68 85 17 C 65 84 19 D 72 90 18 Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada kerja sama tim setelah kegiatan. Faktor utamanya adalah tantangan yang memerlukan sinergi antar anggota kelompok (Kurniawan & Sugiarto, 2024; Rame, 2022). 3.3 Pengembangan Kepemimpinan Kegiatan outbound ini juga memberikan ruang untuk mengasah kemampuan kepemimpinan peserta. Setiap kelompok diberi tugas untuk memilih seorang pemimpin yang bertanggung jawab mengarahkan tim selama permainan. Gambar 4: Pemimpin tim memberikan arahan strategi. Pemimpin kelompok terlihat sedang memberikan arahan kepada anggota tim terkait strategi permainan. Aktivitas ini menumbuhkan rasa percaya diri dan jiwa kepemimpinan. 80% peserta merasa lebih percaya diri untuk memimpin setelah mengikuti kegiatan. Pemimpin kelompok menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi lapangan. 13/20 14 Landscape Kompetensi Calon Guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound di Bumi Perkemahan Bedengan Batu 3.4 Integrasi Nilai Budaya Lokal Permainan “Karapan Pesapean Challenge” tidak hanya melatih keterampilan fisik (Deta, 2024), tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal seperti gotong royong dan kerja keras Gambar 3: Presentasi hasil karya miniatur karapan sapi. Deskripsi Gambar: Peserta memamerkan replika karapan sapi yang mereka buat sebagai bagian dari permainan. Replika ini menjadi simbol integrasi budaya (Rugkåsa, 2021; Song, 2018) lokal dalam pembelajaran. 90% peserta merasa terinspirasi untuk menggunakan permainan tradisional dalam pembelajaran PJOK. Pengalaman ini memperkaya wawasan calon guru tentang pentingnya melestarikan budaya lokal dalam pendidikan. 3.5 Tantangan dalam Kondisi Alam Terbuka Pelaksanaan kegiatan di alam terbuka memberikan tantangan tambahan, seperti medan yang licin dan hujan. Hal ini justru menjadi pengalaman berharga bagi peserta. Gambar 4: Aktivitas peserta di bawah hujan. Deskripsi Gambar: Peserta tetap semangat menjalankan permainan meskipun hujan turun. Kondisi ini melatih ketahanan fisik dan mental peserta (Chib, 2014; Kimura, 2024). 75% peserta merasa tertantang tetapi sekaligus termotivasi untuk menyelesaikan tugas di bawah kondisi yang sulit. Aktivitas ini meningkatkan kreativitas dalam menghadapi tantangan alam. 4 DISKUSI DAN PEMBAHASAN Kegiatan outbound berbasis permainan tradisional seperti "Karapan Pesapean Challenge" telah terbukti menjadi metode yang inovatif dan relevan dalam meningkatkan kompetensi calon guru PJOK, terutama pada aspek keterampilan motorik (Bondi et al., 2022; Kotevski, 2024; Mnif et al., 2024), kerja sama, dan kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis budaya lokal ini memiliki dampak signifikan dalam memberi pengalaman belajar yang kontekstual dan holistik. Temuan ini sejalan dengan studi oleh Nuraini & Mas’odi (2024) yang menekankan pentingnya desain pembelajaran berbasis permainan untuk meningkatkan keterampilan sosial dan keterlibatan siswa dalam pendidikan jasmani. 14/20 15 Landscape Kompetensi Calon Guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound di Bumi Perkemahan Bedengan Batu 4.1 Keterampilan Motorik dan Kreativitas Eksplorasi kegiatan di alam terbuka, terutama dalam kondisi lingkungan yang dinamis seperti hujan, memberikan peluang besar untuk mengembangkan keterampilan motorik dan kreativitas. Dalam situasi ini (Hadi et al., 2023; Yusroni & Alimah, 2023), peserta didorong untuk beradaptasi dengan tantangan yang tidak terduga, yang pada akhirnya meningkatkan daya tahan fisik dan mental mereka. Sebagai contoh, kegiatan seperti "Karapan Pesapean Challenge" melibatkan aktivitas fisik intensif yang membutuhkan koordinasi tubuh, keseimbangan (Darmayanti, 2024; Sugianto et al., 2017), dan ketangkasan motorik. Fakta bahwa 90% peserta melaporkan peningkatan koordinasi motorik setelah kegiatan ini menunjukkan efektivitas pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman. Hal ini sejalan dengan penelitian Almaturidi et al. (2022), yang menyatakan bahwa metode pembelajaran berbasis praktik langsung dapat mengoptimalkan keterampilan psikomotorik siswa. Selain keterampilan motorik, kegiatan di alam terbuka juga memupuk kreativitas. Dalam kondisi yang tidak terduga, seperti hujan, peserta harus menemukan solusi kreatif untuk menyelesaikan masalah yang muncul (Darmayanti et al., 2023; Muhammad et al., 2023; Susetyarini et al., 2024). Misalnya, mereka mungkin perlu memanfaatkan sumber daya alam di sekitar mereka untuk menyelesaikan tantangan tertentu. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan berpikir kreatif tetapi juga melatih peserta untuk berpikir kritis dalam situasi nyata. Peserta didorong untuk berpikir di luar kebiasaan, mencari cara-cara baru, dan berkolaborasi dengan rekan-rekan mereka untuk mencapai tujuan bersama. Dalam konteks pendidikan, kemampuan ini sangat berharga karena mendukung pengembangan strategi pengajaran yang inovatif dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Misalnya, dalam "Karapan Pesapean Challenge," peserta mungkin harus memodifikasi alat atau strategi permainan untuk menyesuaikan dengan kondisi medan yang licin, yang mendorong mereka untuk berimprovisasi dan berinovasi. Aktivitas semacam ini juga menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian untuk mencoba hal-hal baru, yang merupakan aspek penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang dinamis dan menyenangkan. Dengan berlatih memecahkan masalah secara kreatif, calon guru PJOK dapat mengadopsi pendekatan serupa dalam merancang kegiatan pembelajaran yang menarik dan relevan bagi siswa mereka, sekaligus memperkaya metode pengajaran dengan elemen-elemen budaya lokal yang unik dan bermakna. Penelitian lain juga mendukung pentingnya kegiatan berbasis praktik untuk meningkatkan keterampilan motorik. Sebagai contoh, penelitian tentang kegiatan kolase dengan media bahan alam menunjukkan bahwa aktivitas ini dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia dini. Meskipun fokusnya pada motorik halus, prinsip yang sama dapat diterapkan pada pengembangan motorik kasar melalui kegiatan fisik intensif di alam terbuka. Dengan demikian, pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman, terutama melalui kegiatan di alam terbuka, tidak hanya efektif dalam mengembangkan keterampilan motorik tetapi juga dalam memupuk kreativitas dan kemampuan adaptasi peserta. Kegiatan ini mengajarkan peserta untuk menjadi lebih tangguh dan kreatif dalam menghadapi situasi tak terduga, yang merupakan kemampuan penting dalam kehidupan sehari-hari dan profesional mereka sebagai calon guru PJOK. 4.2 Kritik dan Pengembangan Modul Salah satu kritik utama terhadap calon guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) adalah minimnya pengetahuan mereka mengenai pembelajaran berbasis permainan tradisional. Persepsi bahwa pendidikan jasmani hanya berfokus pada olahraga dan gerak fisik sering kali menyebabkan aspek budaya lokal kurang mendapat perhatian. Padahal, permainan tradisional memiliki potensi besar untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam pembelajaran (Almada et al., 2020; Sarnoto & Fathoni, 2020), sekaligus meningkatkan keterampilan motorik siswa. Untuk mengatasi kendala ini, diperlukan pengembangan modul pembelajaran berbasis budaya lokal, seperti "Karapan Pesapean". Modul ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan motorik siswa (Masruroh & Fikrati, 2022; Muliani & Gani, 2023), tetapi juga untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar keterampilan fisik, tetapi juga memahami dan menghargai warisan budaya mereka. 15/20 16 Landscape Kompetensi Calon Guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound di Bumi Perkemahan Bedengan Batu Studi oleh Mas’odi et al. (2024) mendukung pentingnya penggunaan media kreatif dalam pendidikan, termasuk modul berbasis permainan tradisional. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan semacam ini dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan relevansi pembelajaran, terutama dalam konteks lokal. Selain itu, modul berbasis budaya lokal dapat menjadi alat untuk memperkuat identitas budaya siswa di tengah arus globalisasi. Pengembangan modul berbasis permainan tradisional seperti "Karapan Pesapean" memerlukan pendekatan yang sistematis, termasuk: 1. Identifikasi Permainan Tradisional: Mengidentifikasi permainan tradisional yang relevan dan memiliki nilai edukatif. 2. Integrasi Nilai Budaya: Memasukkan nilai-nilai budaya lokal ke dalam modul untuk memperkuat identitas siswa. 3. Pendekatan Interaktif: Menggunakan metode pembelajaran yang interaktif untuk meningkatkan keterlibatan siswa. 4. Evaluasi dan Umpan Balik: Melakukan evaluasi terhadap efektivitas modul dan memperbaikinya berdasarkan umpan balik dari siswa dan guru. Pendidikan jasmani memiliki peran penting dalam mengembangkan keterampilan motorik, kognitif, dan sosial siswa. Dengan mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam pembelajaran, pendidikan jasmani dapat menjadi lebih holistik, mencakup aspek fisik, budaya, dan sosial. Hal ini juga dapat membantu mengubah persepsi bahwa pendidikan jasmani hanya berfokus pada olahraga, sehingga menciptakan pendekatan yang lebih inklusif dan relevan. Pengembangan modul berbasis budaya lokal seperti "Karapan Pesapean" adalah langkah penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran PJOK. Modul ini tidak hanya membantu siswa mengembangkan keterampilan motorik, tetapi juga memperkuat identitas budaya mereka. Dengan pendekatan yang tepat, modul ini dapat menjadi alat yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan relevansi pembelajaran di era modern. Langkah ini akan memperkuat fondasi pendidikan jasmani yang komprehensif, menggabungkan aspek fisik, sosial, dan budaya dalam satu kesatuan pembelajaran yang utuh. 4.3 Kerja Sama Tim dan Kepemimpinan Dari perspektif kerja sama tim, penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas kelompok seperti "Rantai Manusia" berhasil meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar anggota tim. Data kuantitatif menunjukkan peningkatan rata-rata skor kerja sama sebesar 30% setelah kegiatan outbound, yang mencerminkan efektivitas tugas berbasis kelompok dalam memperkuat sinergi antar individu. Studi oleh Saputra & Fepriyanto (2024) juga menyoroti bahwa permainan berbasis kolaborasi dapat meningkatkan kemampuan interpersonal siswa. Aspek kepemimpinan juga menjadi sorotan penting dalam penelitian ini. Aktivitas yang menuntut pengambilan keputusan cepat dan strategi kelompok memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan kepemimpinan situasional. Fakta bahwa 85% peserta merasa lebih percaya diri dalam memimpin kelompok setelah kegiatan menunjukkan bahwa metode ini berhasil dalam memupuk keterampilan kepemimpinan calon guru. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Hardiansyah & Mas’odi (2020) yang menemukan bahwa pendidikan berbasis pengalaman dapat memperkuat karakter kepemimpinan siswa. 4.4 Integrasi Budaya Lokal Pengintegrasian budaya lokal melalui permainan tradisional seperti "Karapan Pesapean" memberikan dampak positif yang luas. Sebanyak 92% peserta merasa termotivasi untuk mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam pembelajaran mereka di masa depan. Hal ini mendukung temuan oleh Nurwidodo et al. (2018) yang menekankan pentingnya pelestarian budaya lokal melalui pendidikan berbasis komunitas. Selain itu, penggunaan miniatur "Karapan Pesapean" sebagai media pembelajaran inovatif menunjukkan bagaimana nilai budaya dapat diadaptasi ke dalam konteks pembelajaran modern. 4.5 Refleksi dan Implikasi Kebijakan Secara reflektif, penelitian ini menyoroti bahwa kegiatan outbound berbasis budaya lokal tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kompetensi motorik tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang holistik, melibatkan aspek fisik, sosial, emosional, dan budaya. Modul pembelajaran berbasis permainan tradisional direkomendasikan sebagai bagian 16/20 17 Landscape Kompetensi Calon Guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound di Bumi Perkemahan Bedengan Batu integral dari kurikulum pendidikan guru untuk menciptakan generasi pendidik yang kompeten, kreatif, dan sadar akan nilai-nilai lokal. Selain itu, pelaksanaan kegiatan outbound di alam terbuka memberikan dampak signifikan terhadap kemampuan adaptasi dan ketahanan calon guru, yang sangat penting dalam menghadapi tantangan dunia pendidikan yang terus berkembang. Dampak dari penelitian ini juga relevan untuk tingkat kebijakan pendidikan. Hasil penelitian ini dapat menjadi landasan untuk mendorong pengembangan kurikulum yang lebih inklusif dan berbasis budaya lokal. Sebagai contoh, implementasi modul "Karapan Pesapean" dapat menjadi strategi untuk meningkatkan keterlibatan siswa sekaligus melestarikan budaya lokal. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi pada pengembangan kompetensi individu tetapi juga pada pelestarian warisan budaya di tengah dinamika globalisasi. 4.6 Rekomendasi Pengembangan Modul Pembelajaran Hasil riset menunjukkan perlunya pengembangan modul pembelajaran berbasis permainan tradisional seperti Karapan Pesapean. Modul ini diharapkan dapat membantu calon guru PJOK dalam melaksanakan pembelajaran yang kreatif dan berorientasi pada budaya lokal. Tabel 2: Komponen Modul Pembelajaran Karapan Pesapean Komponen Deskripsi Pendahuluan Memperkenalkan budaya Karapan Sapi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Aktivitas Pembelajaran Permainan berbasis Karapan Pesapean untuk melatih keterampilan motorik dan kerja sama. Evaluasi Mengukur keterampilan motorik, kerja sama, dan kreativitas peserta didik. Modul ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan relevan dengan kebutuhan generasi Z. Modul yang akan dirancang hendaknya dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih kreatif dan berfokus pada budaya lokal, yang diharapkan dapat membangun pemahaman dan apresiasi siswa terhadap warisan budaya mereka. Dengan mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam kurikulum, siswa tidak hanya akan mengembangkan keterampilan fisik, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya seperti kerja keras, sportivitas, dan kerja sama yang terkandung dalam tradisi Karapan Sapi. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan jasmani yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada pengembangan karakter dan kesadaran budaya siswa. Dengan demikian, guru dapat memberikan umpan balik yang konstruktif, membantu siswa memahami area yang perlu ditingkatkan, dan memastikan bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada perkembangan keterampilan dan pemahaman siswa. Keseluruhan modul ini bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang tidak hanya menyenangkan dan relevan, tetapi juga bermakna dan holistik, memperkuat identitas budaya siswa dan mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan dunia yang terus berkembang. 5 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan outbound berbasis permainan tradisional, seperti "Karapan Pesapean Challenge," memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan kompetensi calon guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di STKIP PGRI Sumenep. Desain kegiatan yang mengintegrasikan elemen kebudayaan lokal terbukti efektif dalam tidak hanya meningkatkan keterampilan motorik peserta, tetapi juga memperkuat kerja sama tim dan kemampuan kepemimpinan. Peningkatan koordinasi motorik dilaporkan oleh 90% peserta, yang menegaskan efektivitas pendekatan ini dalam mengasah keterampilan fisik yang esensial bagi calon guru. Selain itu, kegiatan berbasis kelompok memperlihatkan peningkatan komunikasi dan interaksi antar anggota, mendukung temuan bahwa permainan kolaboratif dapat meningkatkan kemampuan interpersonal. Pengalaman dalam kondisi alam yang dinamis, seperti cuaca hujan, menambah dimensi tantangan yang berharga bagi ketahanan fisik dan mental peserta. Sebanyak 78% peserta melaporkan peningkatan kemampuan adaptasi mereka, yang menggambarkan pentingnya 17/20 18 Landscape Kompetensi Calon Guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound di Bumi Perkemahan Bedengan Batu pembelajaran kontekstual yang melibatkan kondisi nyata dalam mengasah keterampilan pemecahan masalah. Penelitian ini menyoroti perlunya pengembangan modul pembelajaran berbasis permainan tradisional untuk memperkaya pengetahuan calon guru tentang pembelajaran berbasis budaya, yang diharapkan dapat menawarkan pendekatan inovatif dalam pendidikan PJOK. Secara keseluruhan, penelitian ini menekankan perlunya integrasi kegiatan outbound berbasis budaya lokal dalam kurikulum pendidikan, mempersiapkan calon guru PJOK yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran budaya yang tinggi. Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi pada pengembangan individu, tetapi juga mendukung pelestarian budaya lokal di era globalisasi. Saran 1. Pengembangan Modul Pembelajaran: Diperlukan pengembangan modul pembelajaran berbasis permainan tradisional seperti "Karapan Pesapean Challenge" untuk memperkaya kurikulum PJOK. Modul ini harus dirancang untuk meningkatkan keterampilan motorik, kerja sama, dan kepemimpinan, serta mengintegrasikan nilainilai budaya lokal. 2. Implementasi Rutin Kegiatan Outbound: Direkomendasikan untuk menjadikan kegiatan outbound sebagai bagian rutin dari program pendidikan calon guru. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis dan sosial, tetapi juga membangun ketahanan mental dan kemampuan adaptasi dalam menghadapi tantangan nyata. 3. Penelitian Lanjutan: Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang dari kegiatan outbound berbasis budaya lokal ini terhadap pengembangan kompetensi calon guru. Studi lanjutan juga dapat fokus pada implementasi modul pembelajaran dalam konteks pendidikan yang lebih luas, dan mengevaluasi keberhasilan program ini dalam berbagai setting pendidikan. 4. Kebijakan Pendidikan Berbasis Budaya Lokal: Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan pendidikan yang lebih inklusif dan sensitif terhadap budaya lokal. Implementasi modul berbasis budaya dapat meningkatkan keterlibatan siswa dan berkontribusi pada pelestarian warisan budaya. 6 REFERENSI Almada, I. K. B. A., Suwiwa, I. G., & Almada, H. (2020). PENGEMBANGAN MEDIA INOVATIF BOARD GAME MONOPOLI MATERI KESEHATAN PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN. Jurnal Kejaora (Kesehatan Jasmani Dan Olah Raga), 5(2), 66–71. https://doi.org/10.36526/kejaora.v5i2.931 Bains, M., & Kaliski, D. Z. (2020). An anatomy workshop for improving anatomy self-efficacy and competency when transitioning into a problem-based learning, Doctor of Physical Therapy program. Advances in Physiology Education, 44(1), 39 – 49. https://doi.org/10.1152/advan.00048.2019 Bondi, D., Robazza, C., Lange-Küttner, C., & Pietrangelo, T. (2022). Fine motor skills and motor control networking in developmental age. American Journal of Human Biology, 34(8). https://doi.org/10.1002/ajhb.23758 Chib, S. (2014). DSGE Models with Student-t Errors. Econometric Reviews, 33(1), 152–171. https://doi.org/10.1080/07474938.2013.807152 Czaplinski, I., & Fielding, A. L. (2020). Developing a contextualised blended learning framework to enhance medical physics student learning and engagement. Physica Medica, 72, 22 – 29. https://doi.org/10.1016/j.ejmp.2020.03.010 Darmayanti, R. (2024). Research Design: RnD Research Method. Available at SSRN 5012967. Darmayanti, R., Mas’odi, (ed) Mas’odi, & Rizkiya, (ed) Nur Bella. (2025). Pendidikan matematika dan sains di Eropa : sejarah, teori, dan terapan. Lima Aksara. Darmayanti, R., Utomo, D. P., Rahmah, K., Fauza, M. R., Laila, A. R. N., & Choirudin, C. (2023). Challenges of Indigenous Students in Overcoming Difficulties in Learning Algebra: A Problematic Perspective of Ethnomathematical. AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan, 2, 2636–2646. Dean, E., Jones, A., Peng-Ming Yu, H., Gosselink, R., & Skinner, M. (2020). Translating COVID-19 Evidence to Maximize Physical Therapists’ Impact and Public Health 18/20 19 Landscape Kompetensi Calon Guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound di Bumi Perkemahan Bedengan Batu Response. Physical Therapy, 100(9), 1458 – 1464. https://doi.org/10.1093/ptj/pzaa115 Deta, U. A. (2024). Potential development of teaching materials based on local wisdom Karapan Sapi Madura. AIP Conference Proceedings, 3058(1). https://doi.org/10.1063/5.0201512 Elhadi, M., Ahmed, H., Khaled, A., Almahmoudi, W. K., Atllah, S. S., Elhadi, A., & Esahli, H. (2020). Informed self-assessment versus preceptor evaluation: A comparative study of pediatric procedural skills acquisition of fifth year medical students. BMC Medical Education, 20(1). https://doi.org/10.1186/s12909-020-02221-2 Gelfman, D. M., & Zahl, S. B. (2020). A Decision-Directed Cardiac Exam in Medical School. Medical Science Educator, 30(3), 1019 – 1024. https://doi.org/10.1007/s40670-02000982-5 Goh, T. L., Moosbrugger, M., & Mello, D. (2020). Experiences of preservice and in-service teachers in a comprehensive school physical activity infusion curriculum. Education Sciences, 10(10), 1 – 13. https://doi.org/10.3390/educsci10100290 Hadi, F., Wahyuri, A. S., Gusril, & Umar. (2023). The Influence of Baseball Game, Strengthening and Training Motivation on the Motoric Ability of Class V Elementary School 112 Rejang Lebong. Kinestetik : Jurnal Ilmiah Pendidikan Jasmani, 7(1), 187– 195. https://doi.org/10.33369/jk.v7i1.25865 Hatten, J. D., & Hannon, J. C. (2020). A multi-factorial analysis of elementary students’ interest in physical education considering students’ ethnicity and gender. International Journal of Kinesiology and Sports Science, 8(2), 7 – 16. https://doi.org/10.7575//aiac.ijkss.v.8n.2p.7 Kimura, K. (2024). Development of Teaching Materials for Robot Programming for Junior High School Students: Student-Based Educational Activities. Proceedings of International Conference on Artificial Life and Robotics, 607–610. https://www.scopus.com/inward/record.uri?partnerID=HzOxMe3b&scp=85190282233 &origin=inward Kotevski, B. (2024). Augmented Reality Application for Improving Writing and Motoric Skills in Children With Disabilities. 2024 47th ICT and Electronics Convention, MIPRO 2024 - Proceedings, 718–723. https://doi.org/10.1109/MIPRO60963.2024.10569369 Kretschmann, J., Plien, M., Nguyen, T. H. N., & Rudakov, M. (2020). Effective capacity building by empowerment teaching in the field of occupational safety and health management in mining. Journal of Mining Institute, 242(2), 248 – 256. https://doi.org/10.31897/PMI.2020.2.248 Kurniawan, R., & Sugiarto, T. (2024). Hubungan Persepsi dan Motivasi Diri Terhadap Minat Mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Menjadi Guru PJOK. Sinar Dunia: Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Ilmu Pendidikan, 3(3), 118–134. https://doi.org/10.58192/sidu.v3i3.2434 Luo, Y.-J., Lin, M.-L., Hsu, C.-H., Liao, C.-C., & Kao, C.-C. (2020). The effects of team-gametournaments application towards learning motivation and motor skills in college physical education. Sustainability (Switzerland), 12(15). https://doi.org/10.3390/su12156147 MacQuillan, E., Ford, J., & Baird, K. (2020). Increased competency of registered dietitian nutritionists in physical examination skills after simulation-based education in the United States. Journal of Educational Evaluation for Health Professions, 17. https://doi.org/10.3352/JEEHP.2020.17.40 Martin, A., Jacobs, A., Krause, R., & Amsalem, D. (2020). The Mental Status Exam: An Online Teaching Exercise Using Video-Based Depictions by Simulated Patients. MedEdPORTAL : The Journal of Teaching and Learning Resources, 16, 10947. https://doi.org/10.15766/mep_2374-8265.10947 Mas’odi, M., & Arma, I. P. (2024). Characters and Non-Digital Media: Case Study Trends in English Language Learning in Secondary Schools. Assyfa Journal of Multidisciplinary Education, 2. Masodi, M., Ramadhani, D. D., Santoso, C. R., Agustin, F. W., & Darmayanti, R. (2024). Community Service Innovation of STKIP PGRI Sumenep Lecturers: Using Canva to Develop PE Modules in Elementary Schools. Jurnal Inovasi Dan Pengembangan Hasil Pengabdian Masyarakat, 2, 308–325. Masruroh, F., & Fikrati, A. N. (2022). The Hubungan Gaya Kognitif terhadap Keterampilan Spasial Mahasiswa Pendidikan Matematika STKIP PGRI Jombang. Paradigma: Jurnal Filsafat, Sains, Teknologi, Dan Sosial Budaya, 28(1), 117–122. https://doi.org/10.33503/paradigma.v28i1.2060 Mnif, M., Chikh, S., Watelain, E., Aissa, M. Ben, Rebhi, M., Guelmami, N., Dergaa, I., & Jarraya, M. (2024). The Impact of Social Context on Motor, Cognitive, and Affective 19/20 20 Landscape Kompetensi Calon Guru PJOK di STKIP PGRI Sumenep melalui Pelaksanaan Kegiatan Outbound di Bumi Perkemahan Bedengan Batu Behaviors: A Pilot Study Among Physical Education Students. Annals of Applied Sport Science, 12(S1). https://doi.org/10.61186/aassjournal.1239 Mrani, C. A., El Hajjami, A., & El Khattabi, K. (2020). Effects of the integration of PhET simulations in the teaching and learning of the physical sciences of common core (Morocco). Universal Journal of Educational Research, 8(7), 3014 – 3025. https://doi.org/10.13189/ujer.2020.080730 Muhammad, I., Angraini, L. M., Darmayanti, R., Sugianto, R., Usmiyatun, U., & da Silva Santiago, P. V. (2023). Students’ Interest in Learning Mathematics Using Augmented Reality: Rasch Model Analysis. Edutechnium Journal of Educational Technology, 2, 89–99. Muliani, S., & Gani, E. (2023). Korelasi Keterampilan Membaca Pemahaman Teks Eksplanasi Dengan Keterampilan Menulis Teks Eksplanasi. Dharma Acariya Nusantara: Jurnal Pendidikan, Bahasa Dan Budaya, 1(1), 36–45. https://doi.org/10.47861/jdan.v1i1.101 Novitasari, D. R., Safitri, N. D., & Masodi, M. (2024). The Role of Global Ecosystem in AI Animation-Based Learning Practices in Islamic Educational Environments. JPCIS: Journal of Pergunu and Contemporery Islamic Studies, 1. odi Mas’ odi, M., Hakim, M. N., Darmayanti, R., & Amien, S. (2024). Weaving Muhammadiyah educational hope: Implementation of behavior theory in the curriculum. AMCA Journal of Education and Behavioral Change, 1, 6–16. Pérez-Ordás, R., Pozo, P., & Grao-Cruces, A. (2020). Effects on aggression and social responsibility by teaching personal and social responsibility during physical education. Journal of Physical Education and Sport, 20(4), 1832 – 1838. https://doi.org/10.7752/jpes.2020.04248 Prakosa, T. K. W., & Hartati, S. C. Y. (2022). PENINGKATAN KEBUGARAN JASMANI SISWA MELALUI AKTIVITAS FISIK RINGAN DALAM PEMBELAJARAN PJOK. Riyadhoh : Jurnal Pendidikan Olahraga, 5(2), 39. https://doi.org/10.31602/rjpo.v5i2.7818 Rame, I. N. (2022). PENINGKATAN HASIL BELAJAR PJOK MATERI ANALISIS KETERAMPILAN GERAK MENGONTROL BOLA MELALUI METODE PERMAINAN (GAME) DI KELAS XI SMA NEGERI 2 KALABAHI. Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP), 7(2), 20–25. https://doi.org/10.59098/jipend.v7i2.811 Rugkåsa, M. (2021). From culturalisation to complexity–a critical view on the cultural competence discourse in social work. Nordic Social Work Research, 11(3), 239–248. https://doi.org/10.1080/2156857X.2019.1690558 Sarnoto, A. Z., & Fathoni, A. (2020). PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS KECERDASAN MAJEMUK. Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan Dan SosialBudaya, 9(1), 1–11. https://doi.org/10.53976/jmi.v9i1.215 Song, R. (2018). When marketing strategy meets culture: the role of culture in product evaluations. Journal of the Academy of Marketing Science, 46(3), 384–402. https://doi.org/10.1007/s11747-017-0525-x Sugianto, R., Darmayanti, R., Amany, D. A. L., Rachmawati, L. N., Hasanah, S. N., & Aji, F. B. (2017). Experiment on Ability to Understand Three Dimensional Material Concepts Related to Learning Styles Using the Geogebra-Supported STAD Learning Model. AlJabar: Jurnal Pendidikan Matematika, 2, 205–212. Susetyarini, R. E., Baiduri, B., Darmayanti, R., Nuryami, N., Siregar, Y. S., Sahara, N., & Suprayitno, K. (2024). Learning Reform: Why does Behavioral Theory prevent interactive teaching? AMCA Journal of Community Development, 1, 43–50. Tapo, Y. B. O., Bile, R. L., & Nenot, A. N. (2021). Pengembangan Model Latihan Spat-Desain Materi Bola Voli Dalam Pembelajaran PJOK pada Jenjang SMP. JURNAL PENJAKORA, 8(1), 16. https://doi.org/10.23887/penjakora.v8i1.30738 Valencia-Peris, A., Salinas-Camacho, J., & Martos-García, D. (2020). Hidden curriculum in physical education: A case study. Apunts. Educacion Fisica y Deportes, 141, 33 – 40. https://doi.org/10.5672/APUNTS.2014-0983.ES.(2020/3).141.04 Vicente-Bújez, M. R., Díaz-Mohedo, M. T., Vicente-Bújez, A., & López-Belmonte, J. (2020). Professional competences and selective procedures of teachers: Application of an analytical vision to corporal and musical expression. Journal of Human Sport and Exercise, 15(3), 718 – 726. https://doi.org/10.14198/jhse.2020.153.20 Yusroni, Moh., & Alimah, S. (2023). Stimulasi Keterampilan Motorik Anak Melalui Permainan Tradisional. Citius : Jurnal Pendidikan Jasmani, Olahraga, Dan Kesehatan, 3(2), 155– 162. https://doi.org/10.32665/citius.v3i2.2443 20/20