MANAGEMEN KARIR GURU MIN 11 BOYOLALI DALAM UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN Ravi Dwi Ramandhika 1) Rizky Arianty 2), Luqman Rohmad Maghribi 3) 1 2 3 Universitas Pamulang Universitas Pamulang Universitas Pamulang Abstrak Pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu, memberikan berdampak yang signifikan terhadap penyesuaian dan penyempurnaan kurikulum. Salah satu dampak negative dari pergantian kurikulum ialah mengakibatkan rendahnya mutu pendidikan di setiap jenjang yang disebabkan kesiapan yang belum merata pada setiap instansi pendidikan. Oleh karena itu sekolah harus mampu memanagemen pendidik agar mutu pendidikan dapat meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskusikan managemen karir guru MIN 11 Boyolali dalam meningkatkan mutu Pendidikan. Metode penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MIN 11 Boyolali untuk meningkatkan mutu Pendidikan dengan menjalankan 3 program yaitu program kualifikasi, sertifikasi dan pelatihan. Kata kunci: managemen, karir guru, mutu pendidikan . Volume 6 Edisi 1 *Autor (a) correspondence: dosen03190@unpam.ac .id Submit 4 mei 2024 Accept 15 Mei 2025 Published 6 Juni 2025 Ravi Dwi Ramandhika,Riz ky Aryanti,Luqman Rohmad Maghribi (2025). Managemen Karir Guru MIN 11 Boyolali Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Pendidikani (CEJou), 6(1). 18. php/cejou/article/vie w/603. Abstract . The rapid development of technology and science, so that it has an impact on curriculum adjustments. This change resulted in the low quality of education at each level due to adjustments that could not be evenly made by schools. Therefore, schools must be able to manage educators so that the quality of education can improve. This study aims to discuss the career management of MIN 11 Boyolali teachers in improving the quality of education. The research method uses qualitative research by collecting data through interviews, observations and documentation. The results showed that MIN 11 Boyolali is to improve the quality of education by running 3 programs, namely qualification, certification and training programs. Keywords: management, teacher career, quality of education 1 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan adalah sebuah proses humanime yang selanjutnya dikenal dengan istilah memanusiakanmanusia. Oleh karena itu kita seharusnya bias menghormati hak asasi setiap manusia. Murid dengan kata lain siswa bagaimanapu bukan sebuah manusia mesin yang dapat diatur sekehendaknya, melainkan mereka adalah generasi yang perlu kita bantu dan memberi kepedulian dalam setiap reaksi perubahannya menuju pendewasaan supaya dapat membentuk insan yang swantrata, berpikir kritis seta memiliki sikap akhlak yang baik. Untuk itu pendidikan tidak saja membentuk insan yang berbeda dengan sosok lainnya yang dapat beraktifitas menyantap dan meneguk, berpakaian serta memiliki rumah untuk tinggal hidup, ihwal inilah disebut dengan istilah memanusiakan manusia (Ab Marisyah1, Firman2, 2019). 2 Pembelajaran Edupreneurship Berbasis Proyek Dalam Meningkatkan Keterampilan 4c Siswa Dalam Kurikulum Merdeka Pembagunan sumber daya manusia baik di negara maju maupun negara berkembang tentu memiliki orientasi yang sama yaitu menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing di era society 5.0 (Solikhah, 2022). Pembangunan sumber saya manusia berorietasi pada beberapa aspek di antaranya; 1) Memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, 2) Memiliki kemampuan memcahkan masalah secara tepat dan cermat, 3) Memiliki kemampuan berpikir kritis dan kreatif, 4) Memiliki kemampuan inovasi yang tinggi, 4) Memiliki kemampuan kepekaan sosial yang tinggi, 5) Memiliki kemampuan analitis yang logis (Zhao & Wang, 2022). Semakin pesatnya perkembangan teknologi dan bermacam-macam ilmu yang terus berkembang serta kurikulum yang berganti-ganti, terjadi masalah yang dihadapi oleh Indonesia didalam bidang pendidikan antara lain yaitu kualitas yang buruk dari semua tingkatan dan unit pendidikan, terutama dalam pembentukan sekolah dasar dan menengah. Berbagai perusahaan telah menyebabkan peningkatan kualitas pendidikan nasional, termasuk pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, memasok buku, instrumen pembelajaran, dan meningkatkan lembaga dan infrastruktur untuk meningkatkan kualitas pendidikan di semua unit pendidikan. Indikator kualitas pendidikan yang berbeda tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan.(Modelu, 2019) Adanya perubahan juga memberikan manfaat bagi kehidupan yang nyata di tengah tengah persaingan global yang semakin terkonsentrasi. Untuk bersaing, Anda perlu meningkatkan kualitas pekerjaan Anda, terutama di bidang pendidikan. Karena pendidikan berkualitas tinggi adalah dasar dari pengembangan dan kemajuan, manajer pendidikan perlu memenuhi pedoman dan harapan berbagai negara bagian di komunitas mereka ketika upaya meningkatkan kualitas yang muncul dengan memprioritaskan kreativitas, inovasi tinggi dan manajemen sekolah yang sangat baik dalam kaitannya dengan mengoptimalkan semua elemen manajemen sekolah. (Zazin, 2011) Berbagai langkah dan teknik yang dapat digunakan sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka termasuk merevisi kurikulum, meningkatkan pengembangan sumber daya manusia (guru), dan aspek manajemen lainnya. Selain itu, mengelola karier guru di sekolah adalah salah satu hal. Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efisien untuk mencapai tujuan spesifik (Muhaimin, 2011). Manajemen mencakup berbagai fungsi seperti perencanaan, organisasi, pembentukan karyawan, manajemen dan pengawasan. (Wati, 2014). Karier seorang guru mengacu pada keterampilan dan pengembangan guru di bidang pendidikan. Karier dapat dipahami sebagai tanda pekerjaan yang membentuk pola kemajuan yang teratur dan jelas. Ini mempengaruhi kualitas pembelajaran dengan menunjukkan peningkatan skill serta pekerjaan pendidik pada suatu kegitan dalam belajar. Ketika karier guru berkembang dengan baik, kualitas belajar lebih baik (soekidjo notoatmodjo, 1998). Kualitas pembelajaran adalah aspek mendasar yang perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Dalam konteks ini, guru adalah pusat catatan utama dalam inisiatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Jika semua komponen bekerja dengan baik untuk meningkatkan pendidikan, ini adalah tanda keberhasilan guru. (Usman, 2014) Rani Dkk mengungkapkan dalam penelitiannya tentang untuk meningkatkan manajemen pengembangan karir guru dalam sekolam MIN 1 langkat melaksanakan pelaksanaan berlatih serta mengembangkan karir guru dengan melakukan program kualifikasi, melakukan program sertifikasi guru dan mengadakan berbagai program pelatihan (Rani Febriyanni & Sari, 2022). Mohammad arief dalam penelitiannya juga menyebutkan dalam meningkatkan manajemen harus dilandasi dengan pemilihan SDM guru yang dirancan dan disusun secara sistematis, sehingga mendapatkan guru yang professional yang dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.(Arief, 2021) Berdasarkan hasil wawancara dengan sutradara Boyolali, sutradara Boyolali, yang diadakan pada 11 Desember 2022 di min. Langkah -langkah untuk meningkatkan karier guru di Min 11 Boyolali termasuk mengambil bagian dalam berbagai pelatihan baik di dalam maupun di luar sekolah. Boilari adalah salah satu sekolah paling populer di wilayah Boilari Utara, dari pengamatan yang saya buat dalam hitungan menit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana langkah-langkah dalam manajemen karier guru di sekolah dasar dapat membantu mencapai tujuan yang ditentukan sekolah 2/ 10 3 Pembelajaran Edupreneurship Berbasis Proyek Dalam Meningkatkan Keterampilan 4c Siswa Dalam Kurikulum Merdeka dan meningkatkan kualitas pendidikan. 2 METODE PENELITIAN Jenis Penelitian yang dituju ini dengan menggunakan kualitatif melalui adanya pendekatan analisis dekskritip. Penelitian kualitatif adalah jenis studi yang menciptakan informasi deskriptif atau perilaku lisan untuk membuat informasi deskriptif dalam bentuk pernyataan individu dan lisan dan secara sistematis menjelaskan fakta bahwa fenomena tanpa teks atau angka disimpan secara verbal (Sugiyono, 2015). Topik atau informan yang dicatat berisikan anggota guru dan kepala sekolah yang dipertimbangkan oleh dokumen, pengamatan, dan wawancara menggunakan teknik tes yang secara sengaja didepresiasi sesuai dengan tujuan penelitian. Data sekunder adalah informasi yang diterima melalui pencarian berbagai referensi terkait pelatihan dan pengembangan karir untuk min 11 guru Boyolali yang ingin meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data berlanjut dengan model Miles dan Huberman. Ini menjelaskan bagaimana analisis data kualitatif dapat dilakukan secara interaktif di beberapa level: perekaman data, pengurangan data, presentasi data, dan menyimpulkan kesimpulan. (Sugiyono, 2015) 3/ 10 4 Pembelajaran Edupreneurship Berbasis Proyek Dalam Meningkatkan Keterampilan 4c Siswa Dalam Kurikulum Merdeka 3 HASIL DAN DISKUSI Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui reduksi data, observasi, wawancara dengan guru dan siswa, serta dokumentasi selama proses pembelajaran STEAM di sekolah dasar, ditemukan bahwa pendekatan ini memiliki dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan literasi sains, literasi matematika, serta kecerdasan kinestetik siswa. Temuan utama dalam penelitian ini mencakup beberapa aspek penting, yaitu pengaruh pembelajaran berbasis STEAM terhadap keterampilan motorik siswa, peningkatan konsentrasi dan koordinasi, serta bagaimana strategi pembelajaran yang inovatif dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. Sekolah agama (madrasah) memiliki berbagai aspek, dan hanya meningkatkan kualifikasi tertentu tidak akan membuat madrasah lebih baik. Perkembangan di madrasah merupakan peluang besar untuk perbaikan yang positif. Peran guru sangat penting untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah. Oleh karena itu, profesionalisme guru harus senantiasa ditingkatkan dan dikembangkan. Guru yang memiliki profesionalisme baik secara biologis maupun profesi adalah inti dari kemajuan pendidikan. Keterampilan atau keahlian ini adalah keterampilan mendasar atau teknis yang terkait dengan kemampuan pendidik untuk mengelola proses pembelajaran. Selain itu, para pendidik perlu memiliki kepribadian yang baik, sikap sopan, dan sopan santun yang tepat. Dari perspektif ini, pendidik dapat dinilai sebagai orang yang memadai, memadai, atau hilang, seperti yang terlihat dalam kemampuan mereka untuk mencapai pembelajaran dan hubungan sosial di luar sekolah. Sehubungan dengan pelatihan dan peningkatan profesionalisme guru, kehadiran guru yang berkualitas adalah salah satu faktor utama yang harus dipenuhi untuk mendukung sistem pendidikan yang ada. Profesionalisme guru yang ditingkatkan adalah kegiatan yang bertujuan mengembangkan kemampuan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran mereka dengan cara yang efisien dan efektif. Menurut pimpinan MIN 11 Boyolali, terdapat beberapa langkah penting yang harus dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme para pengajar. Intinya, kita memerlukan: 1. Meningkatkan kualitas guru: Inisiatif yang dirancang untuk membantu guru mencapai tingkat kompetensi yang lebih baik. 2. Memberikan imbalan dan sertifikasi: Program yang memastikan pengajar memperoleh penghargaan yang sesuai dan pengakuan resmi atas kemampuan mereka. 3. Pelatihan terintegrasi yang berfokus pada kompetensi: Program pelatihan menyeluruh yang benar-benar meningkatkan kemampuan dan keterampilan mengajar para guru. 4. Pengawasan dalam pendidikan: Inisiatif untuk memonitor dan menilai kinerja guru agar tetap sesuai dengan standar yang ditetapkan. 5. Pemberdayaan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran): Program yang memberikan dukungan dan sumber daya kepada kelompok guru mata pelajaran agar dapat berkolaborasi dan berkembang bersama. A. Manajemen dalam Peningkatan Standar Kualifikasi Karir Guru Kualifikasi pendidik adalah persyaratan mendasar yang harus dipenuhi oleh pendidik. Ini karena guru yang memenuhi syarat memiliki keterampilan dan keterampilan yang lebih baik untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk mencapai tujuan pembelajaran mereka. Dalam sebuah wawancara, kepala sekolah menyatakan: “guru yang baik dimana mempunyai standar kualifikasi yang baik pula” Secara keseluruhan, standar kualifikasi pengajar di MIN 11 Boyolali sudah berjalan dengan baik, di mana 85% dari para guru yang mengajar telah memiliki ijazah minimal S1 yang relevan. Namun, masih terdapat beberapa guru yang mengajar di bidang yang tidak sesuai 4/ 10 5 Pembelajaran Edupreneurship Berbasis Proyek Dalam Meningkatkan Keterampilan 4c Siswa Dalam Kurikulum Merdeka dengan kualifikasi mereka. Jika ada guru yang berminat untuk meningkatkan kualifikasinya melalui studi lanjut, sekolah mendukung hal tersebut. Terdapat juga program studi lanjut yang diadakan oleh pemerintah serta yang dilakukan secara mandiri. Dalam sebuah wawancara, kepala sekolah menjelaskan mengenai kualifikasi di MIN 11 Boyolali seperti berikut: “banyak guru di MIN 11 boyolali yang sudah sesuai kualifikasi yang telah ditentukan disekolah bahkan ada yang lulusan s2, tetapi adapula guru yang belum memenuhi kualifikasi dan saya memberikan ijin penuh kepada guru untuk study lanjut” Dalam wawancara guru MIN 11 Boyolali juga mengungkapkan sebagai berikut: “saya belum sesuai dengan kualifikasi yang ada disekolah ini, dan kepala sekolah memberikan ijin untuk saya study guna sesuai dengan kualifikasi yang akan bertujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran” Di MIN 11 Boyolali, aturan yang ditetapkan cukup jelas: setiap guru minimal harus memiliki gelar sarjana. Namun, di lapangan, terdapat beberapa guru yang mengajar mata pelajaran di luar bidang pendidikan mereka. Dari jumlah 15 guru, terdapat 3 orang yang berada dalam situasi ini. Hal ini sangat penting untuk menjadi perhatian, terutama bagi kepala sekolah, guna mendorong para guru untuk terus mengembangkan keterampilan mereka. Walaupun kemampuan mengajar guru yang sudah memenuhi kualifikasi masih terbatas sehingga perlu bimbingan dan pelatihan guna memperdalam wawasan serta keterampilan sehingga kompetensi yang dimiliki dapat terus meningkat. Ini didasarkan pada pengamatan tentang implementasi program pelatihan dan pengembangan profesionalisme guru min. 11 Boyolali, situasi guru di fasilitas ini menunjukkan bahwa kualifikasi saat ini baik. Ini dapat dilihat oleh semua pendidik di Min 11 Boyolali yang memenuhi kualifikasi akademik dan mengajar menurut lapangan, beberapa di antaranya terus meneliti. Munwir dan rekan -rekannya menyatakan bahwa dalam penelitian untuk meningkatkan kualifikasi pelatihan guru, semua guru yang belum menyelesaikan gelar sarjana mereka harus meningkatkan kualifikasi pendidikan mereka (Munawir et al., 2022). Ketika meningkatkan kualifikasi ini, guru tidak hanya bertanggung jawab, tetapi juga memiliki peran yang sama dengan Pasal 3 Undang -Undang Guru dan Dosen, dan pemerintah harus memberikan bimbingan dan pengembangan kualifikasi akademik dan keterampilan guru di semua unit pendidikan. (Sunhaji, 2012). B. Manajemen Penyetaraan dan Sertifikasi Guru Program sertifikasi bagi guru adalah usaha dari pemerintah yang bertujuan untuk mengenali secara resmi kompetensi para pendidik. Di MIN 11 Boyolali, inisiatif ini telah membantu banyak guru untuk memperoleh sertifikasi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa mayoritas guru PNS di tempat tersebut sudah memiliki sertifikasi. Di sisi lain, beberapa guru honorer juga telah sukses mendapatkan sertifikasi, meskipun masih ada banyak yang belum mencapainya. Data ini bersumber dari wawancara dengan kepala sekolah. “di sekolah MIN 11 Boyolali mengadakan program untuk guru bisa memiliki sertifikasi yang memadai karena ada beberapa guru yang masih honorer, apalagi pemerintah banyak merencanakan kegiatan sertifikasi untuk guru yang belum PNS” Pemerintah telah melaksanakan berbagai inisiatif. Beberapa tahun yang lalu, ada program sertifikasi yang aturannya diawali dari portofolio, dan ada juga yang dimulai dari PPPG. Semua 5/ 10 6 Pembelajaran Edupreneurship Berbasis Proyek Dalam Meningkatkan Keterampilan 4c Siswa Dalam Kurikulum Merdeka inisiatif ini dijalankan sesuai dengan pedoman yang telah ditentukan oleh pemerintah. Berdasarkan hasil temuan khusus yang di peroleh dalam penelitian ini melalui hasil observasi bahwa banyak guru yang sudah mulai menganggap bahwa sertifikasi perlu dilakukan. Hal tersebut juga di ungkapan kepala sekolah MIN 11 Boyolali sebagai beritkut: “kami dari pihak sekolah berusaha membantu dan support guru dalam mengikuti setifikasi yag di programkan oleh pemerintah, bukti dari pihak sekolah membantu dalam hal perijinan dan administrasi pendaftaran yang dibutuhkan untuk mendaftar sertifikasi” Guru juga lebih lanjut, menuturkan bahwa: “sekolah mendukung penuh bagi guru yang belum mempunyai sertifikasi” Madrasah memberikan dukungan penuh kepada para guru dalam mengikuti program sertifikasi. Inisiatif ini berasal dari pemerintah untuk mengakui status profesional seorang guru. Pihak madrasah tidak pernah menyulitkan guru yang ingin melakukan sertifikasi. Mereka bahkan membantu memenuhi berbagai syarat yang diperlukan, seperti mengajak para guru berpartisipasi dalam kegiatan ilmiah dan memberi izin saat guru masuk daftar tunggu sertifikasi.Observasi menunjukkan bahwa banyak guru di MIN 11 Boyolali telah mendapatkan sertifikasi. Hal ini berkat dukungan dan izin dari madrasah. Sebagian besar guru PNS sudah memiliki sertifikat, sementara beberapa guru honorer juga sudah ada yang tersertifikasi, meskipun ada yang belum. Tujuan dari program sertifikasi ini adalah untuk meningkatkan keterampilan dan kesejahteraan para guru di MIN 11 Boyolali. Secara umum, baik sertifikasi maupun kualifikasi adalah program yang berasal dari pemerintah. Meskipun mayoritas guru sudah terlibat dalam program ini, masih terdapat kesempatan untuk memperbaiki pelaksanaan program pengembangan karir guru di madrasah agar hasilnya dapat lebih maksimal. Sandi dan Suherman dalam penelitiannya mengukapkan program penyetaraan dan sertifikasi guru yang diselenggarakan oleh pemerintah memiliki tujuan untuk memenuhi standar professional guru. Program sertifikasi dilakukan melalui beberapa tahap dan uji cob kompetensi sehingga dengan begitu dapat meningkatkan mutu para guru sesuai ketentuan pemerintah. (Sunhaji, 2012). C. Program Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Program pelatihan yang terintegrasi dan berbasis kompetensi di sekolah biasanya melibatkan guru dalam aktivitas pelatihan dan pendidikan, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Terdapat berbagai jenis pelatihan, seperti seminar, pendidikan dan pelatihan, workshop, atau lokakarya, serta banyak lagi kegiatan pelatihan lainnya. Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah MIN 11 Boyolali sebagai berikut: “untuk meningkatkan kompetensi guru yang ada di MIN 11 Boyolali saya mengadakan workshop internal disekolah untuk meningkatakan kompetensi guru dengan memanggil para ahli untuk memberikan pembelajaran, dan saya sangat memberikan ijin untuk semua guru mengikuti diklat, seminar ataupun workshop diluar sekolah untuk meningkatkan kompetensinya” MIN 11 Boyolali sebenarnya cukup baik dalam melatih dan mendukung perkembangan karir para pengajarnya. Banyak loh aktivitas yang sering diikuti oleh para guru di sana. Selain mengirimkan guru untuk mengikuti pelatihan atau workshop di luar sekolah, mereka juga sering menyelenggarakan workshop internal. Pelatihan-pelatihan ini banyak dihubungkan langsung dengan metode pengajaran serta beberapa yang berkaitan dengan bidang lainnya. 6/ 10 7 Pembelajaran Edupreneurship Berbasis Proyek Dalam Meningkatkan Keterampilan 4c Siswa Dalam Kurikulum Merdeka Contohnya, ada sesi pelatihan untuk meningkatkan kemampuan akademis dan metode pengajaran sesuai dengan mata pelajaran yang mereka ajar. Selain itu, ada juga pelatihan yang berfokus pada kurikulum, seperti bimbingan teknis mengenai kurikulum. Bahkan, terdapat pelatihan yang mendorong pengembangan diri guru, seperti cara membuat karya ilmiah atau menciptakan media pembelajaran yang inovatif. Sesuai yang diungkapkan oleh guru dalam wawancaranya, sebagai berikut; “banyak pelatihan yang diselenggaran oleh pemerintah dan instansi Pendidikan lainnya untuk guru agak menambah keilmuan para guru, sekolah juga memfasilitasi guru dengan mengadakan workshop secara internal dengan mengundang para ahli kesekolah. Salah satu cara untuk mendukung para pendidik dalam mengembangkan profesi dan meningkatkan keterampilan mereka adalah dengan mengajak mereka mengikuti berbagai program pelatihan atau workshop. Ini bisa diselenggarakan oleh Kementerian Agama atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sesuai dengan kebutuhan dan jumlah peserta yang ada. Di samping itu, lembaga pendidikan juga sering melaksanakan workshop internal, biasanya pada awal tahun ajaran baru. Di kegiatan ini, para guru mempelajari analisis kurikulum, pengembangan alat bantu mengajar, cara menyusun materi pengajaran, serta berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang mungkin mereka temui. Tidak hanya terbatas di lingkungan sekolah, guru-guru juga didorong untuk berpartisipasi dalam pelatihan di luar, seperti workshop yang berfokus pada penulisan akademik, yang pastinya sangat bermanfaat untuk kemajuan karir mereka. Dari hasil observasi yang dilakukan bahwa guru yang telah mengikuti banyak kegiatan lebih memiliki ketrampilan dan kecapakan dalam mengajar menjadi lebih baik ataupun menguasai ilmu yang baru. Hal ini juga diungkapkan oleh guru dalam wawancara sebagai berikut: “mengikuti banyak kegiatan membawa dampak yang positif kepada guru tentang berbagai hal keilmuan yang sebelumnya susah dipahamhi, atau bahkan belum tau sama sekali” Menurut Ahmad Sabandi dalam penelitiannya mengungkapkan program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi harus disesuaikan dengan kebutuhan pendidik yaitu berorientasi pada kompetensi professional guru yang akan di capai sesuai dengan kebutuhan peserta didik. (Sabandi, 2021) 7/ 10 8 Pembelajaran Edupreneurship Berbasis Proyek Dalam Meningkatkan Keterampilan 4c Siswa Dalam Kurikulum Merdeka 4 PENGAKUAN Terima kasih kepada Universitas Pamulang yang telah mendukung penelitian ini. 5 KESIMPULAN Program Peningkatan Karir Guru di MIN 11 Boyolali. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian di MIN 11 Boyolali dengan menyoroti bagaimana lembaga ini mengelola perkembangan karir guru untuk memperbaiki kualitas pendidikan. Terdapat beberapa program utama yang di implementasikan, diantaranya yaitu: 1. Program Kualifikasi Guru. Para pengajar di MIN 11 Boyolali telah memenuhi syarat kualifikasi yang ditentukan oleh pemerintah, yang menunjukkan bahwa mereka memiliki kompetensi yang baik. Namun, masih ada sejumlah guru yang mengajar mata pelajaran di luar bidang pendidikan mereka. 2. Program Sertifikasi Guru. Mirip dengan kualifikasi, perhatian juga diberikan pada program sertifikasi guru. Beberapa pengajar belum menjalani sertifikasi. Dalam hal ini, Kepala Madrasah terus berusaha, dan Wakil Kepala Madrasah selalu memberikan dukungan serta layanan yang diperlukan oleh para guru. 3. Program Pelatihan. Madrasah secara aktif mengirimkan guru untuk mengikuti pelatihan jika ada kesempatan. Selain pelatihan eksternal, madrasah juga mengadakan pelatihan internal. Pelatihan ini dilakukan secara terencana, mulai dari identifikasi masalah yang dihadapi oleh guru sampai pada tindak lanjut hasil dari pelatihan tersebut. Salah satu metode efektif untuk mendukung perkembangan karir guru adalah melalui program riset. Terutama, penelitian tindakan kelas (PTK) yang dipimpin oleh Kepala Madrasah, sehingga fokusnya lebih pada pengawasan. Sudah ada beberapa guru yang mencoba menerapkan PTK ini, namun sayangnya, implementasinya belum merata. Walaupun demikian, MIN 11 Boyolali menunjukkan komitmen yang sangat besar dalam memajukan karir guru-gurunya, semuanya demi peningkatan mutu pendidikan. Batasan dalam penelitian yang dilakukan ini tidak sepenuhnya menjelaskan semua elemen yang memengaruhi manajemen karir guru dalam memperbaiki kualitas pendidikan di MIN 11 Boyolali berdasarkan informasi yang ada. Untuk penelitian berikutnya, diharapkan peneliti dapat lebih mendalam dalam membahas elemen yang berpengaruh terhadap manajemen karir guru di sekolah tersebut agar data yang diperoleh lebih komprehensif. 6 REFERENSI Beatrica, A. R. (2020). Implementasi Pembelajaran STEAM dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SD My Little Island Malang. Skripsi, Universitas Negeri Malang. Kelley, T., & Knowles, J. G. (2016). A conceptual framework for integrated STEM education. International Journal of STEM Education, 3(1), 11. Miller, J. (2022). Enhancing STEM Education: Innovations and Strategies. Educational Research Review, 45(2), 112-130. Maya, S. (2023). Evaluasi Implementasi STEAM dalam Kurikulum Sekolah Dasar: Studi Kasus di SDI Biringkaloro Kecamatan Pallangga Gowa. Jurnal Pendidikan Dasar, 18(2), 87-102. Nasrah, R. H., & Purwanti, R. Y. (2021). Efektivitas Model Pembelajaran STEAM pada Siswa Kelas IV SD. Jurnal Kajian Pendidikan Dasar, 6(1), 23-35. Neneng, N. (2023). Penerapan Pembelajaran STEAM untuk Mengembangkan Kreativitas Siswa di RA AlManshuriyah Kota Sukabumi. Jurnal Arjuna: Publikasi Ilmu Pendidikan, Bahasa dan Matematika, 1(5), 73-93. https://doi.org/10.61132/arjuna.v1i5.158 Rahmawati, B. A. (2020). Implementasi Pembelajaran Berbasis STEAM dalam Menumbuhkan Keterampilan Berpikir Kritis di SD My Little Island Malang. Skripsi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 8/ 10 9 Pembelajaran Edupreneurship Berbasis Proyek Dalam Meningkatkan Keterampilan 4c Siswa Dalam Kurikulum Merdeka Santoso, A. (2022). Strategi Pembelajaran Matematika Berbasis STEAM untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan, 30(1), 23-37. https://doi.org/10.5678/jpp.2022.3001 Sirinding, A. (2024). Implementasi Model Pembelajaran STEAM terhadap Minat Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPA Kelas V SD Inpres 14 Kabupaten Sorong. Skripsi, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong. Wahyu, N., & Rilianti, A. P. (2023). Pendekatan STEAM untuk Mengembangkan Keterampilan Abad 21 Siswa Sekolah Dasar. PRIMER: Journal of Primary Education Research, 1(2), 78-85. Trilling, B., & Fadel, C. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Times. Jossey-Bass. 9/ 10 10 Pembelajaran Edupreneurship Berbasis Proyek Dalam Meningkatkan Keterampilan 4c Siswa Dalam Kurikulum Merdeka 10/ 10