Vol. 6, No. 1, 2025 | Hal 55-64 DOI: https://doi.org/10.55757/dimensi.v6i1.1113 Eco Print pada Peserta Didik Sekolah Luar Biasa Tamima Mumtaz dengan Memanfaatkan Bahan Alam Fitria Maudy Wardhani1,, Ratna Tri Maharani2 1* Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, Indonesia 2* Universitas Negeri Malang, Indonesia Korespondensi*: fitriamaudyw@gmail.com Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submited: Juni 05, 2025 Revision: Juni 05, 2025 Accepted: Juni 05,2025 Publish: Juli 30, 2025, Anak berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan mereka, termasuk melalui terapi seni yang dapat mengembangkan kemampuan motorik, sensorik, dan kreativitas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pengalaman berkarya seni melalui membatik eco print kepada peserta didik Sekolah Luar Biasa Tamima Mumtaz di Pujon, Malang. Eco print merupakan teknik membatik ramah lingkungan yang memanfaatkan bahan-bahan alami seperti daun dan bunga untuk menciptakan motif pada kain tanpa menggunakan malam atau bahan kimia berbahaya. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi pengenalan bahan alam, penjelasan teknik membatik eco print, pencarian bahan alam, dan pembuatan batik eco print menggunakan teknik pounding. Sebanyak 26 peserta didik dari berbagai tingkat kelas berpartisipasi dalam kegiatan yang dilaksanakan selama satu hari dengan pendampingan dari tenaga pendidik. Hasil kegiatan menunjukkan respons positif dari peserta didik yang terlihat dari antusiasme mereka dalam mencari bahan alam dan membuat karya batik. Kegiatan ini terbukti efektif sebagai media terapi seni yang dapat melatih fokus, kesabaran, koordinasi mata dan tangan, serta penyaluran emosi. Peserta didik juga memperoleh pengetahuan tentang pemanfaatan bahan alam di lingkungan sekitar dan pengembangan kreativitas. Meskipun beberapa peserta didik mengalami kesulitan pada tahap awal, pendampingan yang tepat membantu mereka menyelesaikan karya dengan baik. Kegiatan membatik eco print ini memberikan nilai tambah tidak hanya dari aspek terapeutik dan edukatif, tetapi juga berpotensi menjadi bekal keterampilan vokasional bagi peserta didik di masa depan. Disarankan agar kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan peran aktif guru dan orang tua untuk mengoptimalkan manfaat bagi perkembangan anak berkebutuhan khusus.. Kata Kunci : Anak berkebutuhan khusus, Batik, Eco print Abstract Children with special needs require a learning approach tailored to their characteristics and needs, including through art therapy that can develop motor, sensory, and creative skills. This community service activity aims to provide artistic experience through eco-print batik to students at the Tamima Mumtaz Special Needs School in Pujon, Malang. Eco-print is an environmentally friendly batik technique that utilizes natural materials such as leaves and flowers to create motifs on fabric without the use of wax or harmful chemicals. The methods used in this activity include an introduction to natural materials, an explanation of eco-print batik techniques, searching for natural materials, and making eco-print batik using the pounding technique. A total of 26 students from various grade levels participated in the one-day activity with guidance from educators. The results of the activity showed a positive response from students, as seen from their enthusiasm in searching for natural materials and creating batik works. This activity has proven effective as an art therapy medium that can train focus, patience, hand-eye coordination, and emotional channeling. Students also gained knowledge about the use of natural materials in the surrounding environment and the development of creativity. Although some students experienced initial difficulties, appropriate guidance helped them successfully complete their work. This eco-print batik activity provides added value not only from a therapeutic and educational perspective but also has the potential to provide vocational skills for students in the future. It is recommended that this activity be carried out sustainably, with the active involvement of teachers and parents to optimize the benefits for the development of children with special needs. PENDAHULUAN Tamima Mumtaz adalah penyelenggara pendidikan khusus bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Sekolah ini dirintis oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Luar Biasa untuk membantu anak berkebutuhan khusus di kecamatan Pujon dalam mendapatkan ilmu (Jamil & Alivia, 2025). Peserta didik yang ada merupakan warga sekitar. Dan kini jumlah murid yang ada kurang lebih 40 murid yang terdiri dari jenjang sekolah dasar hingga menengah atas(Hazmi & Zenmira, 2021). Anak kebutuhan khusus memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa yang dimiliki oleh anak berkebutuhan khusus(Prasetya Aryani et al., 2024). Anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang memerlukan penanganan khusus karena adanya gangguan perkembangan dan kelainan pada anak. Anak-anak tersebut memiliki salah satu daru beberapa kemampuan baik itu bersifat tunanetra dan tuna rungu, maupun bersifat psikologis seperti autism dan ADHD (Desiningrum, 2017). Kategori anak yang termasuk dengan anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan ketidakmampuan belajar, gangguan komunikasi, gangguan emosional dan perilaku. Dalam PP No. 17 Tahun 2010 Pasal 129 ayat (3) menetapkan bahwa peserta didik berkelainan terdiri atas peserta didik yang: a. tunanetra; b. tunarungu; c. tunawicara; d. tunagrahita; e. tunadaksa; f. tunalaras; g. berkesulitan belajar; h. lamban belajar; i. autis; j. memiliki gangguan motorik; k. menjadi korban penyalahgunaan narkotika, obat terlarang, dan zat adiktif lain; dan l. memiliki kelainan lainnya(Setiawan & Kurnia, 2022). Seni rupa sebagai cabang seni yang bentuk dan kualitasnya dapat dirasakan oleh indra manusia (Naraswari & Syafiq, 2018). Kegiatan seni rupa ini dapat dimanfaatkan sebagai terapi seni hal ini dikarenakan seni rupa mempunyai berbagai macam teknik yang dapat dimanfaatkan dalam terapi, baik dalam seni rupa dua dimensi maupun tiga dimensi. Tujuan dari terapi seni dalam seni rupa adalah meningkatkan proses kreatif, penyaluran energi, emosi, dan ekspresi serta membangun kepercayaan diri bagi anak berkebutuhan khusus. Karena dengan adanya terapi seni dapat membina kemampuan motorik, sensorik, imajinasi dan melatih kemampuan konsentrasi dalam durasi waktu tertentu (Gunawan & Tjandradipura, 2017). Dalam terapi seni terjadi pencurahan perasaan sebagai bentuk proses pembukaan dan pelepasan tekanan tersembunyi dalam alam bawah sadar terutama bagi anak berkebutuhan khusus(Tri & Nooryan, 2023). Terapi seni menjadi kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik dengan membuat karya seni. Akan menjadi tantangan bagi pengajar untuk menciptakan media tertentu yang dapat menarik perhatian peserta didik. Selain itu belajar sambil bermain berguna mendorong kemampuan sensorik dan kinestetik mereka melalui pendekatan terapi (Muqtadiroh et al., 2018). Dengan berkebutuhan khusus yang dimiliki oleh para siswa yang ada di sekolah luar biasa Tamima Mumtaz, maka proses kreatif diharapkan dapat melatih fokus dan motorik para siswa. Dalam hal ini diperlukan sebuah kegiatan yang dapat melatih dua hal tersebut dalam sebuah kegiatan dengan memanfaatkan bahan alam yang tersedia di lingkungan sekolah berada sebagai kegiatan utama(Syafril & Agel, 2024). Terapi seni memiliki berbagai macam kegiatan yang dapat dilakukan. Kegiatan tersebut disesuaikan dengan kondisi dan potensi dari masing-masing peserta didik. Beragam kegiatan terapi seni yang dapat dilakukan berupa; bermain brush, melukis, berkarya dengan plastisin, bermain kolase, berkarya cetak dengan teknik cap (Naraswari & Syafiq, 2018). Pada kegiatan pengabdian ini, peserta didik Sekolah Luar Biasa Tamima Mumtaz diberikan kegiatan membatik eco print dengan bahan-bahan alam yang ada pada lingkungan sekolah(Isfianadewi et al., 2025). Batik tulis eco print merupakan batik tulis tanpa malam dengan proses pembuatannya sangat sederhana dan tidak membutuhkan ketrampilan khusus seperti harus dipola terlebih dahulu, tidak membutuhkan tungku maupun api. Batik eco print ini hanya membutuhkan daun segar sebagai pengganti malam (Widyaningsih et al., 2020). Memanfaatkan alam sekitar dapat membantu pembelajaran terutama pada anak usia dini, hal tersebut dikarenakan sumber belajar dekat dengan anak-anak (Vavilya, 2014). Dikarenakan hasil belajar yang dekat dengan lingkungan anak dapat bermain dengan bahan belajar yang sebelumnya telah dikenal dan diketahui. Sehingga perubahan tingkah laku yang diharapkan oleh pendidik dapat tercapai secara optimal (Ambarwati & Suprayitno, 2014). Eco print berasal dari kata eco yang asal kata ekosistem (alam) dan print yang berarti mencetak, batik diciptakan dengan cara mencetak dari bahan-bahan yang terdapat di alam sekitar sebagai kain, pewarna, maupun membuat pola motif. Bahan yang digunakan berupa dedaunan, bunga, batang bahkan ranting sebagai pewarnaan batik dengan konsep pemanfaatan produk ramah lingkungan dengan bersumber pewarna alami (Setyowati & Wijayanti, 2021). Selain itu eco print merupakan pencetakan warna yang berasal dari tumbuhan yang memiliki kandungan zat warna ke media kain. Tumbuhan yang digunakan dapat berupa daun jati, daun jambu batu, daun kelengkeng, daun ketepeng, bunga sepatu, dan bunga daun lainnya (Sedjati & Sari, 2019). Lebih sederhana lagi eco print merupakan proses mentransfer warna dan bentuk ke kain melalui kontak langsung (Saptutyningsih & Wardani, 2019). Teknik ecoprint secara umum terdiri dari empat tahapan yaitu: 1) Penyiapan bahan (treatment) bahan kain dan penyiapan daun/bunga. 2) Proses penataan komposisi motif (susunan dedaunan, ranting kecil, bunga pada kain. 3) Pencetakan (print) motif pada kain. Pada proses pencetakan motif ada dua cara yaitu: dengan cara dipukul (pounding) dan dikukus (steaming). 4) Fiksasi akhir (Salma & Ristiani, 2021). Dari keempat tahapan tersebut sangat menjelaskan bahwa batik ecoprint ini merupakan batik yang memiliki proses yang sederhana. Kegiatan membatik eco print di Sekolah Luar Biasa Tamima Mumtaz ini juga sebagai bentuk pengenalan berbagai jenis tumbuhan yang ada disekitar. Karena lokasi sekolah berada di sekitar perkebunan dan hutan. Terdapat berbagai jenis dedaunan dan bunga dari berbagai tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan dari motif batik eco print. Bila pada pembuatan batik pada umumnya menggunakan malam atau parafin untuk membentuk motif, maka pada batik eco print tidak memerlukannya. Pelaksanaan kegiatan pengabdian antara Universitas Negeri Malang dengan Sekolah Luar Biasa Tamima Mumtaz diharapkan dapat memberikan pengalaman baru bagi para peserta didik anak berkebutuhan khusus dalam berkreasi, mengembangkan ide dan kreativitas, serta memberikan bekal dalam kehidupan bermasyarakat di masa depan. Selain itu menambah pengetahuan dan keterampilan pada peserta didik(Jamil et al., 2024; Muqtadiroh et al., 2018). METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan metode pendampingan partisipatif yang dikombinasikan dengan metode pelatihan atau workshop langsung sebagai pendekatan utama dalam pelaksanaannya. Menurut Naraswari dan Syafiq (2018), metode pendampingan merupakan pendekatan yang sangat tepat diterapkan dalam kegiatan pemberdayaan peserta didik berkebutuhan khusus, karena mampu melatih kreativitas mereka sekaligus menumbuhkan kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia secara tepat guna. Sasaran dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah peserta didik berkebutuhan khusus dari kelas kecil hingga kelas besar di Sekolah Luar Biasa Tamima Mumtaz Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, dengan jumlah peserta sebanyak dua puluh enam siswa yang didampingi oleh tiga orang tenaga pendidik SLB Tamima Mumtaz. Kegiatan dilaksanakan selama satu hari penuh pada jam sekolah peserta didik agar tidak mengganggu jadwal belajar yang telah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini menerapkan metode demonstrasi yang dikombinasikan dengan praktik langsung atau experiential learning, di mana panitia terlebih dahulu mendemonstrasikan seluruh tahapan pembuatan batik eco print kepada peserta didik sebelum mereka mempraktikkannya secara mandiri dengan bimbingan pendamping. Kolb (2015) menegaskan bahwa pembelajaran melalui pengalaman langsung terbukti jauh lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta didik berkebutuhan khusus dibandingkan metode pembelajaran yang bersifat teoritis semata, karena keterlibatan fisik dan emosional secara langsung dalam proses pembelajaran menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna dan berkesan. Selain metode demonstrasi dan praktik langsung, kegiatan ini juga menerapkan metode eksplorasi lingkungan, di mana peserta didik diberi kebebasan untuk mencari dan memilih sendiri bahan-bahan alam berupa daun dan bunga yang akan mereka gunakan dalam pembuatan batik eco print di lingkungan sekitar sekolah. Pemberian kebebasan ini mencerminkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik atau student-centered learning yang sangat dianjurkan dalam pendidikan luar biasa, karena memberikan ruang bagi setiap peserta didik untuk mengekspresikan kreativitas dan preferensi mereka secara bebas sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing individu (Mulyono, 2017). Gambar 1 Desain Kegiatan Pengabdian Masyarakat (Sumber: Kolaborasi Penulis) Secara keseluruhan, pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan melalui empat tahapan yang berurutan dan saling berkaitan satu sama lain. Tahap pertama adalah pengenalan bahan alam yang ada di lingkungan sekitar sekolah, di mana panitia memperkenalkan berbagai jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan tidak hanya sebagai obat-obatan herbal, tetapi juga sebagai bahan baku pembuatan kerajinan berbasis alam seperti batik eco print. Tahap kedua adalah penjelasan teknik membatik eco print, di mana panitia menjelaskan dan mendemonstrasikan teknik pounding sebagai metode yang dipilih dalam kegiatan ini dari beberapa teknik batik eco print yang tersedia, termasuk teknik iron blanket. Tahap ketiga adalah kegiatan eksplorasi dan pencarian bahan alam di lingkungan sekolah, di mana peserta didik secara mandiri mencari dan memilih daun serta bunga yang akan mereka gunakan dalam proses pembuatan batik, memanfaatkan kekayaan tumbuhan yang tersedia di lingkungan SLB Tamima Mumtaz. Tahap keempat adalah proses pembuatan batik eco print secara langsung, di mana setiap peserta didik membuat karyanya sendiri menggunakan media tas jinjing berwarna putih dengan alat berupa plastik pelapis dan palu kayu, mulai dari proses penataan daun dan bunga, pemukulan hingga motif terbentuk, perendaman dalam air tawas, hingga penjemuran hasil karya. Keempat tahapan ini dirancang secara progresif dan terpadu untuk memastikan setiap peserta didik dapat mengikuti dan memahami seluruh rangkaian proses pembuatan batik eco print dengan baik sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan khusus masing-masing (Sugiyono, 2019). HASIL PENELITIAN Kegiatan membatik eco print dilaksanakan di SLB Tamima Mumtaz Pujon. Dalam melaksanakan kegiatan ini memerlukan waktu tiga jam, dari awal pengenalan hingga karya dinyatakan selesai. Jumlah peserta yang ikut dalam kegiatan membatik eco print ini sebanyak 25 peserta didik. Sebelum dicetuskan kegiatan membatik eco print, pihak pelaksana kegiatan melakukan diskusi dengan kepala sekolah dan guru SLB Tamima Mumtaz. Hasil dari diskusi yaitu dibutuhkan kegiatan berkesenian yang dapat menjadi peluang usaha peserta didik. Tujuan lain dari kegiatan membatik eco print, juga untuk melatih fokus anak berkebutuhan khusus. Dengan kondisi sekolah yang berada dikelilingi oleh perkebunan dan hutan, tim memutuskan untuk melakukan kegiatan yang menggunakan bahan alam seperti daun dan bunga yang ada disekitar. Membatik eco print dipilih, karena membatik eco print merupakan kegiatan yang mudah dan aman dilakukan oleh peserta didik berkebutuhan khusus. Selain itu, sebelumnya membatik eco print belum pernah dilakukan di SLB Tamima Mumtaz hal ini menjadi pertimbangan dalam memilih kegiatan yang sesuai dilakukan pada peserta didik. Batik eco print memiliki dua teknik dalam pembuatannya dengan teknik iron blanket dan teknik pounding. Pada kegiatan ini dalam pembuatan batik eco printing menggunakan teknik pounding(Yusti & Zenmira, 2022). Teknik pounding merupakan teknik yang paling mudah dalam pembuatan eco printing. Karena dalam pembuatan motif batik cukup dengan cara memukul-mukul media yang sudah diberi daun hingga pigmen warna dari daun tertransfer ke kain(Wicaksana et al., 2025). Bahan-bahan yang digunakan dalam batik eco print dengan teknik pounding cukup sederhana yakni daun atau bunga, plastik, palu kayu, dan kain. Daun yang dapat digunakan dalam eco print ini biasanya daun-daun yang mudah ditemukan seperti daun dari tanaman liar. Pada kegiatan ini daun yang digunakan yaitu daun pepaya, daun sirih, daun pakis, daun cabai, dan daun dari tanaman liar disekitar sekolah. Plastik sebagai alas selama proses membatik, kemudian palu kayu dipilih karena tidak merusak media kain dan daun ketika membatik eco print. Bila dijabarkan lebih detail mengenai proses pembuatan batik eco print sebagai berikut; 1) Siapkan plastik sebagai dasaran media, fungsi plastik lapisan dasaran ini untuk menahan pigmen tumbuhan, 2) Susun tumbuhan diatas plastik, dapat menggunakan daun dan bunga, 3) Kemudian taruh kain diatas tumbuhan, pada kegiatan ini menggunakan tas kain sebagai media, 4) Setelah media kain beri plastik lagi diatas kain, hal ini untuk menahan pigmen tumbuhan yang keluar dan mencegah kain kotor, 5) Kemudian pukul-pukul kain yang terdapat tumbuhan tersebut, hingga pigmen warna dari tumbuhan tertransfer ke media kain, 6) Langkah terakhir, bila sudah keluar motifnya rendam kain dengan air tawas selama 10 - 15 menit, setelah itu di jemur di bawah panas matahari. Tahapan dalam kegiatan ini dibagi menjadi empat. Pada tahapan pertama melakukan pengenalan bahan-bahan alam yang ada dilingkungan sekitar. Kegiatan ini merupakan pengenalan mengenai apa saja bahan alam yang dapat digunakan untuk berkreasi. Pada kondisi lapangannya dalam menjelaskan bahan-bahan beberapa peserta didik dapat menyimak dengan baik dan beberapa asik bermain dengan temannya dan bermain sendiri(Zenmira & Bainarqi, 2025). Tahap kedua yaitu menjelaskan cara membuat batik eco print. Pada tahapan ini reaksi peserta didik hampir sama dengan tahapan pertama. Beberapa dari peserta didik tidak mendengarkan penjelasan yang diberikan. Akan tetapi hal ini bukan menjadi masalah besar, dikarenakan kondisi dari masing-masing peserta didik yang berbeda-beda(Saptutyningsih & Wardani, 2019). Tahap ketiga mencari bahan alam untuk membatik eco print. Peserta didik diberikan kebebasan mencari dan memilih daun yang digunakan untuk motif batik eco print yang akan mereka buat(Bashory, 2024). Masing-masing peserta didik diberi kesempatan untuk mencari satu hingga dua daun. Peserta didik antusias dalam mencari daun dan bertanya apakah daun yang mereka pilih dapat digunakan atau tidak(Saptutyningsih & Wardani, 2019). Tahap terakhir, yaitu membuat batik eco print dari bahan yang sebelumnya mereka kumpulkan(K Nanda Zenmira, 2022). Pada tahapan ini memakan waktu cukup lama, karena pada tahapan ini merupakan kegiatan utama. Banyak peserta didik yang awalnya asik sendiri atau bermain dengan teman disebelah, menjadi fokus membatik(Naraswari & Syafiq, 2018). Daun atau bunga yang mereka temukan diletakkan dalam tas jinjing kain yang telah disiapkan dan dilapisi plastik yang selanjutnya di pukul-pukul sebagai proses membatik eco print dengan teknik pounding. Dengan penuh semangat peserta didik membatik hingga motif yang mereka dapat dari daun yang mereka pilih tertransfer di tas kain masing-masing(Zulkif, 2022). Sebelum memasuki proses memukul, peserta didik diharapkan dapat bisa fokus dalam memilih daun dan bunga yang ingin digunakan, serta dapat menyusun ataun menatanya. Diperlukan kehati-hatian dalam menyusun daun dan bunga agar tidak terlipat dan juga mudah bergeser Ketika proses selanjutnya. Maka hal tersebut membutuhkan kesabaran dan fokus yang lebih pada peserta didik. Meskipun membutuhkan kesabarab dan fokus, pada pelaksanaan sebagaian besar peserta didik dapat melaluinya dan sebagaian kecil memerlukan bantuan guru dan panitia (Zulkif, 2024). Gambar 2 Hasil ecoprint oleh siswa Secara keseluruhan dari kegiatan membatik eco print yang dilaksanakan di SLB Tamima Mumtaz dapat terlaksana dengan baik. Kegiatan ini membatik eco print yang dilaksanan oleh peserta didik SLB Tamima Mumtaz, merupakan program yang tepat(K N Zenmira, 2022). Karena dari kegiatan ini dapat mengembangkan motirik kasar dan halus dari mata dan tangan. Selain itu kegitan ini perlu dilakukan secara berulang, dikarenakan anak-anak dengan yang berkebutuhan khusus ini memiliki kemampuan kognitif dibawah normal(Setyowati & Wijayanti, 2021). KESIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pembuatan batik eco print yang dilaksanakan di Sekolah Luar Biasa Tamima Mumtaz mendapatkan respons yang sangat positif dari seluruh peserta didik yang terlibat, sebagaimana tercermin dari tingginya antusiasme dan semangat mereka dalam mengikuti setiap tahapan rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. Kegiatan ini terbukti efektif sebagai media terapi seni yang mampu melatih kemampuan fokus, membangun kesabaran, dan menjadi saluran ekspresi emosi yang sehat bagi anak-anak berkebutuhan khusus (Sedjati & Sari, 2019). Melalui penerapan teknik pounding dalam proses pembuatan batik eco print, peserta didik secara aktif mengembangkan kemampuan motorik kasar dan motorik halus mereka melalui koordinasi gerak antara mata dan tangan yang terlatih secara berulang dan terstruktur, sekaligus menumbuhkan kreativitas personal dan rasa percaya diri yang sangat berharga bagi perkembangan psikologis mereka. Pemanfaatan bahan-bahan alam yang diambil langsung dari lingkungan sekitar sekolah tidak hanya memberikan pengalaman berkarya yang menyenangkan, bermakna, dan autentik bagi peserta didik, tetapi juga secara efektif menumbuhkan kesadaran dan kepedulian mereka terhadap potensi dan kekayaan alam yang ada di sekitar kehidupan mereka sehari-hari. Meskipun pada tahap-tahap awal pelaksanaan beberapa peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami dan mengikuti instruksi yang diberikan, namun dengan pendampingan yang sabar, penuh perhatian, dan disesuaikan dengan kebutuhan khusus masing-masing individu dari para guru dan panitia pelaksana, sebagian besar peserta didik pada akhirnya berhasil menyelesaikan karya batik eco print mereka dengan baik dan memuaskan. Keberhasilan ini secara meyakinkan menunjukkan bahwa metode pembelajaran berbasis pengalaman langsung atau experiential learning sangat sesuai dan efektif diterapkan dalam konteks pendidikan anak berkebutuhan khusus, karena keterlibatan fisik dan emosional secara langsung dalam proses pembelajaran menciptakan pengalaman belajar yang jauh lebih bermakna dan berkesan dibandingkan pendekatan pembelajaran yang bersifat teoritis. Bagi pihak SLB Tamima Mumtaz, sangat disarankan agar kegiatan pembuatan batik eco print tidak hanya dilaksanakan sebagai kegiatan pengabdian yang bersifat insidental semata, melainkan dikembangkan menjadi program yang berkelanjutan dan terjadwal secara rutin dengan mengintegrasikannya ke dalam kurikulum sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler tetap atau program terapi seni yang terstruktur (Susanti & Tjandradipura, 2017). Tenaga pendidik di SLB Tamima Mumtaz juga disarankan untuk secara aktif meningkatkan penguasaan teknik eco print melalui berbagai pelatihan dan workshop lanjutan, sehingga mereka mampu membimbing peserta didik secara mandiri dan konsisten tanpa harus selalu bergantung pada kehadiran pihak luar. Keterlibatan aktif orang tua atau wali peserta didik dalam mendukung dan mendampingi anak-anak mereka untuk melanjutkan praktik pembuatan batik eco print di lingkungan keluarga juga sangat dianjurkan, karena dukungan keluarga merupakan salah satu faktor paling berpengaruh dalam keberhasilan perkembangan anak berkebutuhan khusus (Mulyono, 2017). Selain itu, dokumentasi proses dan hasil karya peserta didik perlu dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan sebagai portofolio perkembangan kemampuan masing-masing peserta didik, sehingga kemajuan yang dicapai dapat dipantau, dievaluasi, dan dikomunikasikan kepada orang tua secara transparan dan akuntabel (Astuti, n.d.). Kegiatan ini juga memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi bekal keterampilan vokasional yang berharga bagi peserta didik berkebutuhan khusus, melalui penjalinan kemitraan yang strategis dengan komunitas pengrajin, pelaku UMKM lokal, dan berbagai lembaga terkait untuk memberikan pelatihan lanjutan yang lebih intensif sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk hasil karya peserta didik (Ambarwati & Suprayitno, 2014). Variasi teknik eco print seperti teknik iron blanket dan berbagai teknik lainnya, serta penggunaan media yang lebih beragam seperti kain, tas, dompet, dan produk fashion lainnya, perlu terus dikembangkan dan dieksplor untuk memperkaya pengalaman belajar dan meningkatkan nilai jual produk yang dihasilkan oleh peserta didik. Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk mengembangkan kajian di bidang yang sama, terdapat beberapa saran yang dapat menjadi pertimbangan dalam perencanaan penelitian berikutnya. Pertama, disarankan untuk melakukan penelitian dengan cakupan yang lebih luas dengan melibatkan lebih banyak sekolah luar biasa dari berbagai kategori kebutuhan khusus, seperti tunanetra, tunarungu, tunadaksa, dan tunagrahita, agar hasil penelitian dapat lebih merepresentasikan efektivitas kegiatan eco print bagi berbagai jenis kebutuhan khusus yang berbeda. Kedua, peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan instrumen pengukuran yang lebih terstandar dan komprehensif dalam mengevaluasi dampak kegiatan eco print terhadap perkembangan kemampuan motorik, kreativitas, kepercayaan diri, dan kesejahteraan psikologis peserta didik berkebutuhan khusus, sehingga manfaat terapeutik kegiatan ini dapat diukur dan dibuktikan secara lebih ilmiah dan terukur. Ketiga, penelitian selanjutnya juga disarankan untuk mengeksplorasi potensi pengembangan produk batik eco print karya peserta didik berkebutuhan khusus sebagai produk ekonomi kreatif yang bernilai jual tinggi, termasuk kajian tentang strategi pemasaran, penetapan harga, dan pengembangan branding produk yang dapat mendukung kemandirian ekonomi komunitas penyandang disabilitas secara berkelanjutan. Keempat, studi komparatif antara efektivitas teknik pounding dengan teknik iron blanket dalam konteks pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus juga menjadi topik yang sangat menarik dan relevan untuk dikaji lebih mendalam dalam penelitian selanjutnya, guna mengidentifikasi teknik yang paling sesuai dan optimal diterapkan untuk berbagai kategori kebutuhan khusus yang berbeda (Sedjati & Sari, 2019). PERNYATAAN ETIKA & PERAN PENULIS (CREDIT STATEMENT) REFERENSI Ambarwati, S. V., & Suprayitno. (2014). Pemanfaatan Bahan Alam untuk Meningkatkan Kreativitas Membuat Mozaik pada Siswa Di Sekolah Dasar. Jpgsd, 2(2). Asir, M., Ganika, G., Nasril, N., Mokodongan, E. N., Adriana, N. P., Widiastuti, B. R., & ... (2024). PSIKOLOGI KONSUMEN TEORI DAN APLIKASI. CV WIDINA MEDIA UTAMA. Astuti, E. (n.d.). Dampak Investasi Sektor Pertanian terhadap Perekonomian dan Upaya Pengurangan Kemiskinan di Indonesia. IPB (Bogor Agricultural University),. Bashory, K. A. (2024). Mitos Bawang sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis. INVENSI, 9(2), 265-275. Hazmi, F. Al, & Zenmira, K. N. (2021). Persepsi Partisipan Terhadap Kualitas Pameran Seni Rupa Secara Virtual dalam Situasi Pandemi Covid-19. Jurnal Tata Kelola Seni, 7(2), 79-90. Isfianadewi, D., Utami, T. L. W., & Kusumaningrum, S. D. (2025). The Role of Green Supply Chain Management and Green Innovation Towards the Sustainable Firm Performance of Eco-Print Businesses in Indonesia. International Journal of Sustainable Development and Planning, 20(2). https://doi.org/10.18280/ijsdp.200221 Jamil, A. S., & Alivia, P. F. (2025). Perancangan UI/UX Website Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Dimensi: Jurnal Ilmiah Komunikasi Dan Seni Desain Grafis, 5(2), 65-73. Jamil, A. S., Astuti, E. R. W., & Hani, R. (2024). PENGEMBANGAN POP UP BOOK BERBASIS KEARIFAN LOKAL: MEDIA EDUKASI JAJANAN DAN MINUMAN TRADISIONAL PASURUAN UNTUK ANAK USIA DINI. Jurnal Caksana: Pendidikan Anak Usia Dini, 7(2), 201-215. Muqtadiroh, F. A., Sirajuddin, A., Herdiyanti, A., Sani, N. A., Shodiq, Suryotrisongko, H., & Ghozali, K. (2018). SAKTI (Sanggar Anak Kreatif dan Teknologi Inklusif) Wadah Pengembangan Potensi Anak Berkebutuhan Khusus Melalui Pendekatan Art Theraphy dan Computer Technology. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(4). Naraswari, C. C., & Syafiq, M. (2018). Kebermaknaan Hidup Mahasiswa Difabel Unesa yang Menjadi Relawan di Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD). Jurnal Penelitian Psikologi, 5(2). Prasetya Aryani, N., Dian Muismi, A., & Melani, S. (2024). Peningkatan Kreatifitas melalui Teknik Eco-Print pada Siswa. BERDAYA Indonesian Journal of Community Empowerment, 3(1). Saptutyningsih, E., & Wardani, D. T. K. (2019). PEMANFAATAN BAHAN ALAMI UNTUK PENGEMBANGAN PRODUK ECOPRINT DI DUKUH IV CERME, PANJATAN, KABUPATEN KULONPROGO. Warta LPM, 21(2). https://doi.org/10.23917/warta.v21i2.6761 Sedjati, D. P., & Sari, V. T. (2019). MIX TEKNIK ECOPRINT DAN TEKNIK BATIK BERBAHAN WARNA TUMBUHAN DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI TEKSTIL. Corak, 8(1). https://doi.org/10.24821/corak.v8i1.2686 Setiawan, G., & Kurnia, E. D. N. (2022). EVOLUSI ECO PRINT: PENGEMBANGAN DESAIN DAN MOTIF. Corak, 10(2). https://doi.org/10.24821/corak.v10i2.5638 Setyowati, T., & Wijayanti, F. N. (2021). Pemberdayaan Ekonomi Pengrajin Batik Eco Print Yang Berdaya Saing Dimasa New Normal Covid 19. Jurnal Pengabdian Masyarakat IPTEKS, 7(1). https://doi.org/10.32528/jpmi.v7i1.5270 Susanti, E. G., & Tjandradipura, C. (2017). Workshop Seni Rupa sebagai Terapi Seni (Art Therapy) untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Prosiding Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2). Syafril, E. P. E., & Agel, H. H. (2024). Eco-print Batik: Eco-Friendly Products of Green Business based on Indigenous Knowledge in Bantul. London Journal of Social Sciences, (7). https://doi.org/10.31039/ljss.2024.7.165 Tri, Y., & Nooryan, B. (2023). THE DEVELOPMENT AND ANALYSIS OF ECO-PRINT AND SCREEN PRINTING COMBINATION USING NATURAL DYES. Vlakna a Textil, 30(2). https://doi.org/10.15240/TUL/008/2023-2-006 Wicaksana, M. F., Sari, N. K., & Alfiana, N. (2025). Assessing the Impact of Game-Based Learning via TikTok on EFL Vocabulary Acquisition: An Innovative Approach Toward Achieving SDGs. Internasional Conference on Games Based Learning, 1(1), 38-53. Yusti, D. A., & Zenmira, K. N. (2022). Analis Desain Cover Novel Twilight Seri Pertama Karya Stephenie Meyer. Qualia: Jurnal Ilmiah Edukasi Seni Rupa Dan Budaya Visual, 2(2), 61-65. Zenmira, K N. (2022). Analisis Gaya Kepemimpinan Organisasi Nirlaba Terhadap Efisiensi Event Studi Kasus: Event Timur Liar oleh Komunitas Serbuk Kayu, Surabaya, Jawa Timur. Jurnal Tata Kelola Seni, 8(1), 13-22. Zenmira, K Nanda. (2022). Manajemen Event Gandheng Renteng oleh Komunitas Guru Seni dan Seniman Pasuruan (KGSP)(Doctoral dissertation, Institut Seni Indonesia Yogyakarta). Zenmira, K. N., & Bainarqi, M. S. (2025). PERANCANGAN DESAIN KEMASAN KERIPIK PISANG KELOMPOK USAHA RUMAH HEBAT DISABILITAS SEBAGAI PENINGKATAN KUALITAS PRODUK. Dimensi: Jurnal Ilmiah Komunikasi Dan Seni Desain Grafis, 5(2), 37-47. Zulkif, S. M. (2022). PERANCANGAN PHOTOBOOK BANGUNAN SEJARAH DI PASURUAN. Dimensi: Jurnal Ilmiah Komunikasi Dan Seni Desain Grafis, 3(2), 13-18. Zulkif, S. M. (2024). PERANCANGAN BUKU ILUSTRASI DIGITAL PANDUAN PEMBUATAN BIOPESTISIDA DARI DAUN PEPAYA UNTUK PETANI DI INDONESIA. Center of Education Journal (CEJou), 5(2). Ashlach : Journal of Islamic Education Alfiya, Sandri & Nisa ¦ Integrasi Pendidikan Islam Berbasis Aswaja... Dimensi: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Seni Desain Grafis Wardhani, F. M., & Maharani, R. T. ¦ Eco Print pada Peserta Didik Sekolah Luar Biasa..... 2| | 3 Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Seni Desain Grafis p-ISSN: 2721-5091 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/dimensi Copyright (c) 2025 The Author(s) | Published by: UNU Pasuruan.