Vol. 5, No. 1, 2024 | Hal 1-10 DOI: https://doi.org/10.55757/dimensi.v5i1.474 Pengaruh Aplikasi Tiktok Terhadap Perilaku Narsisme Di Kalangan Remaja Desa Parasrejo Kab. Pasuruan Afiyatul Chikmah1 , Eka Rini Widya Astuti2 1* Universitas Nahdlatul Ulama, Indonesia 2 Universitas Nahdlatul Ulama, Indonesia Korespondensi*: afiyatul.chikmah69@gmail.com Info Artikel Abstrak Riwayat artikel: Submited: Juli 17, 2024 Revision: Juli 25, 2024 Accepted: Juli 25, 2024 Publish: Juli 25, 2024, Mewabahnya demam tiktok di tengah masyarakat menjadikan remaja mulai penasaran dan tertarik untuk mengunduhnya, menggunakannya, serta mencoba meningkatkan kemampuan verbalnya dalam mengaktualisasikan diri. Seolah mereka mempunyai ruang bebas untuk mengekspresikan diri, mengembangkan kreativitas dan bakat yang dimiliki, serta mendorong mereka untuk mengekspos hal-hal yang ingin mereka tunjukkan kepada masyarakat luas melalui media sosial tiktok sehingga memicu sebagian besar remaja untuk tampil eksis dan mereka mulai berlomba-lomba untuk menampilkan sisi terbaik dan tampil luar biasa, yang mana secara tidak langsung hal tersebut cenderung menimbulkan perilaku narsisme pada remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor serta dampak yang ditimbulkan dari aplikasi tiktok terhadap perilaku narsisme dikalangan remaja Desa Paras Rejo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif (qualitative research) dengan pendekatan fenomenologi. Populasi dalam penelitian ini adalah remaja Desa Paras Rejo dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah dengan melakukan wawancara secara sistematis atau terstruktur kepada remaja pengguna aktif tiktok. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perilaku narsisme di kalangan remaja terhadap penggunaan aplikasi tiktok ditimbulkan karena adanya 3 faktor yang mempengaruhi serta dampak positif dan negatif yang ditimbulkan dari aplikasi tiktok terhadap kenarsisan remaja, namun hal tersebut tentu tidak akan terjadi jika tidak didukung oleh sebuah desain user interface dan user experience yang baik dimiliki aplikasi tiktok. Sehingga Aplikasi tiktok dapat mempengaruhi perilaku narsisme remaja di Desa Paras Rejo. Kata Kunci : Kata kunci : Aplikasi Tiktok, Narsisme, Remaja Abstract The widespread popularity of TikTok has made teenagers curious and interested in downloading, using, and improving their verbal skills to achieve self-actualization. It seems they have free space to express themselves, develop their creativity and talents, and encourage them to share what they want to show to the wider community through TikTok. This has triggered many teenagers to stand out and compete to show their best side and appear extraordinary. This indirectly tends to foster narcissistic behavior in teenagers. The purpose of this study was to determine the factors and impacts of the TikTok application on narcissistic behavior among teenagers in Paras Rejo Village. The method used in this study was a descriptive qualitative method (qualitative research) with a phenomenological approach. The population in this study was teenagers in Paras Rejo Village, using a purposive sampling technique. The instrument used was systematic or structured interviews with teenagers who are active TikTok users. Based on the research results, it can be concluded that narcissistic behavior among adolescents in relation to TikTok use is caused by three influencing factors, as well as the positive and negative impacts of the app on adolescent narcissism. However, this would certainly not occur without the support of a good user interface design and user experience. Therefore, the TikTok app can influence narcissistic behavior among adolescents in Paras Rejo Village. PENDAHULUAN Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein (2010), mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang dibangun diatas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 yang memungkinkan penciptaan pertukaran user-generated content. Disamping kemajuan inovasi, ada banyak media yang dapat digunakan sebagai perangkat khusus untuk menyampaikan pesan melalui data, foto, dan rekaman atau video. Sedangkan menurut Nasrullah (2015), media sosial adalah media di internet yang memungkinkan pengguna merepresentasikan dirinya saat berinteraksi, bekerja sama berbagi, berkomunikasi, dengan pengguna lain untuk membentuk ikatan sosial secara virtual. Salah satu aplikasi media sosial yang saat ini mengalami tren paling menonjol dan popular hampir semua kalangan di seluruh dunia adalah aplikasi tiktok. Tiktok merupakan sebuah perangkat sosial media dan platform video musik Tiongkok yang didirikan oleh Zhang Yimin lawadah bagi penggunanya untuk berekspresi dan berkreasi mengasah bakat secara bebas melalui konten video pendek dengan menghadirkan special effect serta berbagai macam fitur yang menarik juga unik disertai dukungan musik lengkap dari berbagai macam artis dengan desain aplikasi tampilan antar muka yang baik dan user friendly , memiliki akses yang ringan, tampilan menu yang sederhana dan lengkap sehingga membuat pengguna (user) nyaman untuk menggunakan aplikasi tersebut dalam waktu yang cukup lama. Hal inilah yang menjadikan tiktok sebagai aplikasi dengan banyak pengguna disemua kalangan terutama remaja yang dikenal dengan sebutan generasi "Z" yaitu dimana pada masa usia transisi tersebut, remaja tanpa sadar mengaktualisasikan minatnya dengan berusaha untuk dapat berpenampilan diri semanarik mungkin agar mendapatkan pengakuan dan daya tarik secara berlebihan sehingga memiliki kecenderungan berperilaku narsis. Halgin dan Whitbourne dalam Engkus dkk (2017) menjelaskan bahwa seseorang yang berperilaku narsisme memiliki penghargaan yang berlebihan terhadap kehidupan sendiri dan terus merasa kesal terhadap orang lain yang mereka rasa lebih sukses, cantik dan cerdas daripada orang lain. Narsisme diartikan sebagai perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Sifat narsisme pada remaja semakin meningkat sejak kemunculan media baru seperti tiktok. Hal tersebut dapat dilihat saat mereka insten menggunakan tiktok sebagai ajang eksistensi diri, mereka yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi menjadikan tiktok tempat menghibur diri, mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya dengan tujuan agar lebih dikenal, mendapat perhatian dan likes banyak dari orang lain, juga untuk meningkatkan pertemanan atau followers, berharap dirinya menjadi terkenal dan populer tanpa mengetahui dampak yang ditimbulkan dan kurangnya pemahaman dalam kebijakan menggunakan media sosial tiktok. Berdasarkan uraian diatas, maka dari permasalahan itulah peneliti tertarik melakukan penelitian yang berjudul "Pengaruh Aplikasi Tiktok Terhadap Perilaku Narsisme di Kalangan Remaja Desa Paras Rejo. Dengan Tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku narsisme dikalangan remaja terhadap penggunaan aplikasi tiktok di Desa Paras Rejo serta untuk mengetahui dampak negatif dan positif yang ditimbulkan dari aplikasi tiktok terhadap perilaku narsisme di kalangan remaja Desa Paras Rejo. Adapun hasil dari penelitian ini, peneliti berharap dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis: 1. Manfaat Teoritis Secara teoritis, penelitian ini dapat mengetahui dan memperkaya teori atau pemahaman tentang pengaruh sosial media tik tok terhadap perilaku narsisme di kalangan remaja, dapat menjadi landasan atau bahan pertimbangan dalam langkah meningkatkan mutu pendidikan, serta menjadi bahan kajian sejenis lebih lanjut. 2. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai acuan bagi orang tua, masyarakat umum terutama para remaja agar lebih mengawasi dan memahami batasan dalam penggunaan aplikasi tiktok serta sosial media lainnya. Karena maraknya pengaruh media sosial terutama tiktok mengakibatkan mental yang kurang sehat bahkan melakukan hal yang tidak wajar untuk mencari keeksistensian diri dalam kecenderungan perilaku narsisme. KAJIAN PUSTAKA A. Aplikasi Tiktok Tiktok merupakan sebuah jaringan sosial media dan platform video berdurasi pendek bermusik yang dikenal dengan sebutan "Douyin" (yang kemudian bertransformasi menjadi tiktok setelah diperkenalkan dunia) diluncurkan pada September 2016 oleh Zhang Yimin, pendiri Toutiao (layanan berita) di perusahaan teknologi China ByteDance. Memiliki user interface dan user experience yang baik menjadikan tiktok semakin banyak diminati berbagai kalangan mulai dari generasi milenial hingga baby boomer. Dengan begitu, pencapaian pengguna aplikasi tiktok terbilang cukup cepat bahkan perusahaan analitik mobile App Annie memprediksi pengguna tik tok diperkirakan mencapai 1,5 miliar pada tahun 2022 dan bakal melewati 3 miliar pengunduh juga pemasukan sebanyak USD 3 miliar secara global di IOS dan Google Play Store (Anggoro, 2021). B. Perilaku Narsisme Perilaku merupakan hasil berbagai macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terbentuk dalam wujud pengetahuan, sikap, dan tindakan. Narsisme sendiri, secara epistemologi berasal dari kata "narcissus" bersumber dari cerita mitologi Yunani konon dimana ada seorang pemuda bernama Narcissus yang terlahir dengan wajah tampan. Suatu hari ia pergi ke sungai dan bercermin di permukaan air untuk mengagumi dirinya sendiri. Ia jatuh cinta kepada bayangan dirinya sendiri, ditelan oleh hasrat diri sendiri, lalu jatuh kedalam sungai dan tenggelam. Oleh sebab itu, secara singkat narsisme berarti cinta diri, perhatian yang sangat berlebihan kepada diri sendiri (Nazirah, 2021). Aspek-Aspek Narsisme Menurut Raskin dan Terry (1988) terdapat tujuh dimensi atau tandatanda seseorang cenderung bersikap narsisme, diantaranya yaitu : 1. Otoritas (Authority) Yaitu pandangan yang berlebihan terhadap diri sendiri berkaitan dengan otoritas atau wewenang atas jabatan dan bakat yang dimilikinya, sehingga menganggap dirinya lebih baik dari orang lain (Raskin & Terry, 1988). Individu dengan dimensi otoritas yang tinggi cenderung memposisikan dirinya sebagai pemimpin dalam berbagai situasi sosial, meskipun tidak selalu memiliki kompetensi yang memadai untuk peran tersebut. Mereka merasa berhak untuk mendominasi percakapan, mengambil keputusan secara sepihak, dan mengharapkan kepatuhan dari orang-orang di sekitarnya (Campbell & Miller, 2011). Dalam konteks hubungan interpersonal dan lingkungan kerja, individu narsistik dengan otoritas tinggi seringkali menunjukkan perilaku kepemimpinan yang otoriter dan kurang empati terhadap bawahan maupun rekan sejawatnya (Grijalva et al., 2015). 2. Kemandirian (Self-Sufficiency) Yaitu kemampuan dari dalam diri seseorang yang berasumsi dan percaya bahwa dirinya dapat memenuhi kebutuhannya dengan kemampuannya sendiri (Raskin & Terry, 1988). Individu dengan dimensi kemandirian narsistik yang tinggi cenderung menolak bantuan orang lain dan merasa bahwa ketergantungan pada orang lain merupakan bentuk kelemahan. Mereka memiliki keyakinan yang kuat bahwa kemampuan dan sumber daya internal mereka cukup untuk mengatasi berbagai tantangan tanpa memerlukan dukungan eksternal (Twenge et al., 2017). Namun demikian, kemandirian dalam konteks narsisme ini berbeda dari kemandirian yang sehat, karena dilandasi oleh rasa superioritas dan ketidakpercayaan terhadap kompetensi orang lain, bukan semata-mata dari kepercayaan diri yang adaptif (Cain et al., 2008 dalam Fatmawati & Hidayat, 2019). 3. Superioritas (Superiority) Yaitu pandangan berlebihan terhadap diri sendiri tentang kompetensi, bakat, kemampuan, dan keunikan yang menjadikan dirinya merasa lebih hebat dan spesial (Raskin & Terry, 1988). Individu dengan superioritas narsistik yang tinggi memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan pencapaian dan kemampuan diri, serta meremehkan kontribusi orang lain. Mereka seringkali merasa bahwa hanya orang-orang dengan status atau kemampuan tinggi yang layak untuk menjadi rekan atau pasangan mereka (Morf & Rhodewalt, 2001 dalam Widodo, 2020). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa superioritas narsistik berkorelasi positif dengan perilaku kompetitif yang tidak sehat di lingkungan akademik maupun profesional, di mana individu cenderung merusak reputasi orang lain untuk mempertahankan citra dirinya yang superior (Fatfouta, 2019). 4. 4. Eksibisionisme (Exhibitionism) Yaitu kecenderungan untuk memikat dan menarik perhatian orang lain kepada dirinya terkait dengan kemampuan atau bakat yang dimiliki, sifat, perilaku dan kebiasaannya (Raskin & Terry, 1988). Dalam era digital saat ini, eksibisionisme narsistik semakin tampak jelas melalui penggunaan media sosial yang berlebihan. Individu dengan eksibisionisme tinggi cenderung sering memposting foto diri, pencapaian, dan momen-momen yang dapat memperkuat citra positif mereka di hadapan orang lain (Andreassen et al., 2017). Studi yang dilakukan oleh McCain dan Campbell (2018) menemukan bahwa individu dengan tingkat narsisme tinggi menunjukkan aktivitas yang lebih intens di platform media sosial seperti Instagram dan Facebook, menggunakan platform tersebut sebagai panggung untuk mendapatkan validasi dan perhatian sosial. 5. 5. Eksploitasi (Exploitativeness) Yaitu motivasi untuk memanipulasi dan mendayagunakan orang lain untuk kesenangan dan kepentingan diri sendiri, karena menganggap dirinya mampu memahami serta membuat orang lain percaya dan suka kepadanya (Raskin & Terry, 1988). Individu yang memiliki kecenderungan eksploitatif tinggi dalam dimensi narsisme seringkali menggunakan kemampuan interpersonal mereka untuk memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan pada korban manipulasinya. Mereka cenderung memanfaatkan kebaikan, kepercayaan, dan kerentanan orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan-tujuan pribadi mereka (Brunell & Campbell, 2011 dalam Akhtar & Thomson, 2019). Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dimensi eksploitatif dalam narsisme berkaitan erat dengan rendahnya tingkat empati kognitif maupun afektif, sehingga individu tidak merasakan penyesalan ketika merugikan orang lain (Wai & Tiliopoulos, 2012 dalam Priyatama et al., 2020). 6. Kesombongan (Vanity) Yaitu kekaguman yang berlebihan terhadap diri sendiri saat membandingkannya dengan orang lain. Seorang berkepribadian narsisme selalu menganggap dirinya lebih sempurna dan menganggap orang lain lebih rendah dan tidak sebanding dengannya (Raskin & Terry, 1988). Kesombongan dalam narsisme tidak hanya berkaitan dengan penampilan fisik semata, tetapi juga mencakup kekaguman berlebihan terhadap status sosial, kecerdasan, dan pencapaian pribadi. Individu dengan vanity tinggi seringkali menghabiskan banyak waktu dan sumber daya untuk mempertahankan citra diri yang sempurna di hadapan orang lain (Twenge & Campbell, 2019). Penelitian yang dilakukan Gnambs dan Appel (2018) menunjukkan bahwa perilaku kesombongan narsistik semakin diperkuat oleh budaya selfie dan konten visual di media sosial, di mana penampilan luar menjadi tolok ukur utama harga diri seseorang. 7. Hak (Entitlement) Yaitu kepercayaan bahwa orang lain berhutang rasa hormat dan kekaguman, di mana dirinya selalu membutuhkan pujian dan kehormatan dari orang lain yang menjadikannya bersikap arogan bilamana kebutuhan tersebut tidak terpenuhi (Raskin & Terry, 1988). Dimensi hak atau entitlement merupakan salah satu aspek narsisme yang paling banyak diteliti dalam dekade terakhir karena dampaknya yang signifikan terhadap hubungan interpersonal dan kesejahteraan psikologis. Individu dengan entitlement tinggi memiliki ekspektasi yang tidak realistis terhadap perlakuan istimewa dari lingkungannya, dan cenderung bereaksi dengan kemarahan atau agresi ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi (Campbell et al., 2011). Studi longitudinal yang dilakukan oleh Grapsas et al. (2020) menunjukkan bahwa entitlement narsistik berkorelasi negatif dengan kepuasan hubungan interpersonal jangka panjang, karena individu dengan entitlement tinggi sulit mempertahankan hubungan yang setara dan saling menghargai. Faktor-Faktor Narsisme Menurut Sedikides (2004), terdapat 4 faktor yang mempengaruhi perilaku narsisme seseorang yaitu : 1) Self-esteem (harga diri): seseorang yang memiliki harga diri tidak stabil dan terlalu bergantung pada interaksi sosialnya. 2) Depression (depresi): suatu pemikiran negatif tentang dirinya, dunia, dan masa depan. Adanya rasa bersalah dan kurang percaya dalam menjalani hidup. 3) Loneliness (kesepian): suatu perasaan tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kurang memilikinya rasa hasrat untuk berhubungan dengan orang lain. 4) Subjective Well-being (perasaan subjektif): individu merasa bahwa dirinya seakan-akan menjadi pribadi yang sempurna. C. Remaja Kata "remaja" berasal dari bahasa Latin yaitu Adolescene yang berarti to grow (tumbuh) atau to grow maturity (tumbuh dewasa) (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Dimana menurut Papalia dan Olds (2001) menyatakan masa remaja merupakan masa transisi perkembangan antara masa kanakkanan dan dewasa yang dimulai sejak usia 12 atau 13 tahun sampai usia akhir belasan tahun atau awal dua puluh tahun. Dengan ditandai perubahanperubahan fisik yang mendahului kematangan seksual dan proses perkembangan psikis remaja pada saat terlepas dari ikatan orang tuanya, bahkan perubahan-perubahan dalam kepribadiannya untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan bermasyarakat. (Gunarsa, 1998). D. User Interface (UI) User Interface (UI) atau antarmuka pengguna adalah tampilan sebuah produk berbentuk visual yang menghubungkan antara komputer (system) dengan penggunanya (user). UI menjadi salah satu unsur yang paling penting dari sebuah sistem aplikasi maupun website karena dengan desain dan penyusunan tampilan antarmuka yang tepat dan baik menjadikan penggunanya lebih tertarik, nyaman dan tidak mudah bosan saat mengoperasikan sistem tersebut. Sehingga membantu memudahkan pengguna menemukan penting serta dapat memenuhi kebutuhan dan tujuannya dengan tingkat kepuasan yang tinggi, efektif, dan efisien (Ar Razi et al, 2018). Schlatter & Devinson, (2013) mengemukakan pada bukunya "Visual Usability: Principles and Practices for Designing Digital Applications" mengenai aspek UI desain terdapat komponen-komponen yang berpengaruh dalam penyusunan sebuah desain aplikasi agar mudah dipahami dan digunakan, diantaranya sebagai berikut : 1. Consistency : konsistensi dari tampilan antarmuka pengguna. atau tampilan yang tidak terlalu berbeda akan memudahkan pengguna dalam memahami informasi yang disampaikan. 2. Hierarchy : penyusunan hirarki kepentingan dari objek-objek yang terdapat didalam aplikasi. 3. Personality : kesan pertama yang terlihat pada aplikasi yang menunjukkan ciri khas dari aplikasi tersebut. 4. Layout : tata letak dari elemenelemen di dalam sebuah aplikasi. 5. Type : tipografi yang digunakan didalam sebuah aplikasi. 6. Color : penggunaan warna yang tepat digunakan pada sebuah aplikasi. 7. Imagery : penggunaan gambar, icon, dan sejenisnya untuk menyampaikan sebuah informasi di dalam aplikasi. 8. Control and Affordances : elemen dari antarmuka pengguna yang dapat digunakan orang untuk berinteraksi dengan sistem melalui sebuah layar. E. User Experience (UE) ISO 9241-2011 yang bergerak dalam bidang sistem ergonomi interaksi manusia, mendefinisikan bahwa User Experience merupakan persepsi dan respon pengguna mengenai pengalaman atau perasaannya ketika berinteraksi atau menggunakan suatu sistem, produk, atau jasa atau layanan. Apakah produk tersebut mudah digunakan, bagaimana perasaannya saat menggunakan produk, dan bagaimana pengguna mencapai tujuannya melalui produk tersebut (Ar Razi et al, 2018). METODE Sesuai judul penelitian yang ingin diteliti, maka penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif (qualitative research) dengan pendekatan fenomenologi karena penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan fenomena atau perilaku yang dialami subjek penelitian, yaitu menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku narsisme terhadap penggunaan aplikasi tiktok dan dampak negatif juga positif yang ditimbulkan dari aplikasi tiktok terhadap perilaku narsisme di kalangan remaja (Sugiyono, 2013). Gambar 1 Metode Penelitian (sumber: kolaborasi penulis) Lokasi dalam penelitian ini menggunakan instrumen wawancara mendalam terhadap subjek penelitian yang merupakan kalangan remaja di Desa Paras Rejo, Kecamatan Pohjentrek, Kabupaten Pasuruan. Adapun waktu dalam melakukan penelitian ini selama kurang lebih 4 (empat) bulan, terhitung mulai tanggal 14 Februari sampai 31 Mei 2022. Adapun pemilihan subjek dalam penelitian kualitatif ini, peneliti menggunakan teknik non probability sampling dengan menggunakan teknik purposive sampling, yang merupakan teknik pengambilan sampel didasarkan populasi atau subjek yang mempunyai ciriciri atau karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2013). Berikut daftar nama sumber data atau informan dalam penelitian ini, yaitu : Tabel 1.1 Daftar Nama Informan Faktor penyebab Munculnya Perilaku Narsisme di Tiktok a Aktualisasi diri b Suka dan percaya diri di depan kamera c Memperbanyak follower dan mengejar popularitas d Intens membuka dan mengunggah video di Tiktok e Penguatan dari lingkungan Peneliti mengumpulkan data penelitian menggunakan beberapa teknik, seperti : i. Observasi atau pengamatan yaitu proses pengumpulan data dengan cara mengamati dan mencatat secara langsung terhadap permasalahan atau objek yang diteliti dengan menggunakan alat seperti buku catatan, alat perekam, dan kamera. ii. Wawancara secara sistematis atau terstruktur dengan menyiapkan pedoman (guide) atau pertanyaan yang disiapkan sebelumnya. iii. Dokumentasi, menurut Bungin (2007) menjelaskan bahwa dokumentasi merupakan proses pengumpulan data yang digunakan untuk data histori yang berkenaan dengan objek penelitian. Dengan begitu, peneliti akan mengumpulkan dokumen terkait permasalahan penelitian yang berbentuk foto dan rekaman video saat subjek membuat video tiktok. HASIL PENELITIAN Berdasarkan hasil wawancara dapat dijelaskan bahwa fenomena narsisme mewabahnya demam tiktok yang saat ini terjadi di kalangan remaja Desa Paras Rejo disebabkan beberapa faktor yang dianggap mempengaruhi remaja berperilaku narsisme, yaitu dalam bentuk tabel berikut : Tabel 1.2 Faktor Penyebab Munculnya Perilaku Narsisme Remaja di Tiktok No Nama Informan Nama Akun Tiktok Usia 1 Khoirun Nisak @nisaknisafirst 20 tahun 2 Della Nur Alivia @alapiyuuuuo 18 tahun 3 Putri Nadhifatul Maulidiyah @putri.puput.tri @putrina difa25 20 tahun 4 Yayuk Fida Yati @yayukfidayati 18 tahun 5 Intan Nabila @its.meinbl 17 tahun 6 Nasikha @anunyamasf 18 tahun 7 Fatimatuzazhro @telolilac 17 tahun Munculnya faktor-faktor tersebut, Berkaitan erat dengan teori yang dikemukakakn oleh Sedikides, (2004): Self-Esteem (harga diri), Depresi, Kesepian, dan Perasaan subjektif. Tetapi, penyebab perilaku narsisme remaja Desa Paras Rejo dianggap dipengaruhi oleh 3 faktor : 1. Self-esteem (harga diri) Dimana mereka meningkatkan harga diri dengan mengaktualisasikan dirinya membuat video tiktok. Saat videonya mendapat atensi dari pengguna lain, merasa diperhatikan membuat merak termotivasi untuk terus memposting video dengan ide-ide yang baru dengan tujuan demi mempertahankan dan mendapatkan kepuasan untuk memenuhi kebutuhannya (dikenal, diakui, dan disukai) sehingga membuatnya lebih aktif, semakin percaya diri dan mampu meningkatkan harga dirinya. 2. Loneliness (Kesepian) Perasaan emosi Dimana mereka menganggap bahwa kehidupan sosial dikehidupan nyatanya lebih kecil dari pada keinginannya (keinginan untuk lebih dikenal, diakui dipuji oleh banyak orang) dan merasa belum puas dengan kehidupan sosial disekitar dirinya sehingga mereka melampiaskan diri menggunakan tiktok untuk memilih melihat konten video FYP yang menghibur, untuk mengisi kesepian hidupnya, pengisi waktunya, sebagai pelepas rasa bosan dan jenuh dengan membuat video mengekspresikan diri dan mengembangkan kreatifitasnya. 3. Subjective Well-Being (Perasaan Subjektif) Keadaan yang memiliki rasa bahagia, kepuasan, dan tingkat stress yang rendah. Dimana mereka menganggap bahwa dengan tiktok mereka mendapatkan kebahagiaan karena tiktok banyak konten video pendek yang menarik, lucu, & menginspirasi sehingga dijadikan tempat menghibur diri dengan melihat, membuat video yang membebaskan mereka berekspresi, berkreatifitas dengan berbagai fitur tersedia. Dan menjadi kepuasaan tersendri saat mendapat atensi (like, pujian) dari pengguna lain . Banyaknya faktor penyebab munculnya perilaku narsisme tersebut, menimbulkan terjalinnya suatu bentuk interaksi yang tidak sehat karena semakin banyaknya orang yang memberikan tanggapan baik positif maupun negatif terhadap eksistensi yang ditunjukkan oleh remaja dan membuat mereka semakin berusaha untuk tampil lebih dan lebih yang kadang kala cenderung tampil narsis baik disadari maupun tidak (Sari, 2019). Oleh karena itu, hal inilah membawa berbagai dampak signifikan yang ditimbulkan dari adanya pola perilaku remaja yang narsis di tiktok khususnya remaja Desa Paras Rejo berdasarkan hasil wawancara terhadap beberapa informan yang membawa kerugian dan keuntungan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Berikut dampak yang ditimbulkan dari adanya perilaku narsisme remaja Desa Paras Rejo, yaitu Tabel 1.3 Dampak Dari Adanya Perilaku Narsis Remaja di Tiktok Positif Negatif 1. Memperluas jaringan pertemanan 2. Meningkatkan rasa percaya diri 3. Menambah wawasan dan saling terhibur 1. Munculnya haters 2. Kecanduan 3. Kurangnya empati 4. Memicu Terjadinya aksi pornografi dan pelanggaran asusila Namun, semua faktor-faktor yang menjadi penyebab serta dampak-dampak yang ditimbulkan remaja Desa Paras Rejo cenderung berperilaku narsisme tersebut tidak akan terjadi jika tidak didukung dengan desain User Inteface dan User Experience dari aplikasi tiktok yang baik. Yaitu tiktok memiliki User Inteface yang mudah di pahami & digunakan, konsisten, memiliki akses yang ringan, tampilan menu yang sederhana dan lengkap, dan memiliki isi atau konten yang jelas dan tepat sasaran sehingga membuat pengguna nyaman untuk menggunakannya dalam waktu yang lama. Juga memberikan User Experience yang terbaik yaitu kemudahan dalam menonton berbagai macam konten video pouler dari berbagai belahan dunia. Serta memberikan user Experience yang menyenangkan saat membuat video berupa fitur-fitu yang lengkap dan memadai dan mudah digunakan bahkan oleh pemula (Ferdianto, 2020). Jadi, sesuai penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa "Aplikasi tiktok dapat mempengaruhi perilaku narsisme remaja di Desa Paras Rejo". KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Paras Rejo, dapat disimpulkan tentang pengaruh aplikasi tiktok terhadap perilaku narsisme di kalangan remaja Desa Paras Rejo adalah sebagai berikut : 1. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku narsisme di kalangan remaja Desa Paras Rejo yaitu aktualisasi diri, suka dan percaya diri di depan kamera, memperbanyak followers dan mengejar popularitas, intens membuka dan mengunggah video di tiktok, serta penguatan dari lingkungan. 2. Dampak yang ditimbulkan dari aplikasi tiktok terhadap perilaku narsisme yaitu ada dampak positif dan negatif. Dampak positif meliputi memperluas jaringan pertemanan, meningkatkan rasa percaya diri, menambah wawasan dan saling terhibur. Sedangkan dampak negatif meliputi munculnya haters, kecanduan, kurangnya empati, memicu terjadinya aksi pornografi dan pelanggaran asusila. Adapun saran penulis yang berkaitan dengan pengaruh aplikasi tiktok terhadap perilaku narsisme di kalangan remaja Desa Paras Rejo adalah sebagai berikut : 1. Hendaknya para remaja Desa Paras Rejo lebih bijak dalam menggunakan aplikasi tiktok agar kecenderungan berperilaku narsisme berkurang. 2. Hendaknya para remaja Desa Paras Rejo membatasi waktu bersosial media khususnya saat menggunakan tiktok, dan alangkah baiknya lebih menyibukkan diri di dunia nyata baik dalam bidang akademik, organisasi, atau bergabung di komunitas agar hal yang diposting lebih matang, bermanfaat dan menginspirasi banyak orang. 3. Hendaknya para remaja Desa Paras Rejo lebih menumbuhkan rasa peduli dengan orang sekitar dan lebih meningkatkan akhlakul karimahnya PERNYATAAN ETIKA & PERAN PENULIS (CREDIT STATEMENT) REFERENSI Andreas, Kaplan M., & Michael, Haenlein. (2010). "Users of the World, Unite! The Challenges and Opportunities of Social Media". Business Horizons. Andreassen, C. S., Pallesen, S., & Griffiths, M. D. (2017). The relationship between addictive use of social media, narcissism, and self-esteem: Findings from a large national survey. Addictive Behaviors, 64, 287-293. https://doi.org/10.1016/j.addbeh.2016.03.006 Ar Razi, A., Mutiaz, I.R., & Setiawan, P. (2018). Penerapan Metode Design Thinking pada Model perancangan UI/UX Aplikasi Penanganan Laporan Kehilangan dan Temuan Barang Tercecer. 03(02), 75-93. Bungin, Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Putra Grafika. Campbell, W. K., & Miller, J. D. (2011). The handbook of narcissism and narcissistic personality disorder. John Wiley & Sons. Davison, G., Neale, J.M. & Kring, A.M. (2006). Psikologi Abnormal. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Engkus, dkk. (2017). Perilaku Narsis pada Media Sosial di Kalangan Remaja dan Upaya Penanggulangannya. Jurnal Penelitian Komunikasi, 20(2), 121-134. Fatfouta, R. (2019). Facets of narcissism and leadership: A tale of Dr. Jekyll and Mr. Hyde? Human Resource Management Review, 29(4), 100669. https://doi.org/10.1016/j.hrmr.2018.12.002 Fatmawati, I., & Hidayat, R. (2019). Narsisme dan perilaku prososial pada remaja pengguna media sosial. Jurnal Psikologi Integratif, 7(1), 45-58. Gnambs, T., & Appel, M. (2018). Narcissism and social networking behavior: A meta-analysis. Journal of Personality, 86(2), 200-212. https://doi.org/10.1111/jopy.12305 Grapsas, S., Brummelman, E., Back, M. D., & Denissen, J. J. A. (2020). The "why" and "how" of narcissism: A process model of narcissistic status pursuit. Perspectives on Psychological Science, 15(1), 150-172. https://doi.org/10.1177/1745691619873350 Grijalva, E., Newman, D. A., Tay, L., Donnellan, M. B., Harms, P. D., Robins, R. W., & Yuan, T. (2015). Gender differences in narcissism: A meta-analytic review. Psychological Bulletin, 141(2), 261-310. https://doi.org/10.1037/a0038231 Gunarsa, S.D. (1988). Psikologi Remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia. McCain, J. L., & Campbell, W. K. (2018). Narcissism and social media use: A meta-analytic review. Psychology of Popular Media Culture, 7(3), 308-327. https://doi.org/10.1037/ppm0000137 Nasrullah, Rulli. (2015). Media Sosial Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Papalia, D.E., Olds, S.W., & Feldman, Ruth D. (2001). Human Development (8th ed). Boston: Mc. Graw Hill. Priyatama, A. N., Karyanta, N. A., & Anggarani, F. K. (2020). Hubungan antara narsisme dengan perilaku agresif pada remaja. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 8(1), 12-21. Raskin, R. & Terry, H. (1988). A Principal Components Analysis of the Narcissistic Personality Inventory And Further Evidence of Its Construct Validity. Journal of Personality and Social Psychology, 54(5), 890-902. Rice, F.P. (1990). The Adolescent Development, Relationship & Culture (6th ed). Boston: Ally & Bacon. Saintek, Nazirah MT. (2021). Hati-hati, Narsis Berlebihan Tergolong Gangguan Kepribadian Lho!. Brain Academy. Sari, D., Madyan, M., & Mahendra, A. (2021). Penggunaan Aplikasi Tiktok Sebagai Ajang Eksistensi Diri (Fenomenologi Penggunaan Tiktok Pada Mahasiswa UIN Shultan Thaha Saifuddin Jambi) (Doctoral dissertation, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi). Diakses pada tanggal 18 Desember 2021, dari http://repository.uinjambi.ac.id/7196/ Sedikides, C., Rudich, E.A, et al. (2004). Are Normal Narcissists Psychologically Healthy : Selfesteem Matters. Journal Of Personality and Social Psychology, 87, 400-416. Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Ashlach : Journal of Islamic Education Alfiya, Sandri & Nisa ¦ Integrasi Pendidikan Islam Berbasis Aswaja... Dimensi: Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Seni Desain Grafis Chikmah, A., & Astuti, E.R.W ¦ Pengaruh Aplikasi Tiktok Terhadap..... 2| | 3 Jurnal Ilmiah Komunikasi dan Seni Desain Grafis p-ISSN: 2721-5091 https://ejournal.unupasuruan.ac.id/index.php/dimensi Copyright (c) 2024 The Author(s) | Published by: UNU Pasuruan.