Ekliptika : Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan

Vol. 4 No. 2 Januari 2024 | Hal. 89–98

doi: https://doi.org/10.55757/ekliptika.v4i2/350

Pengaruh Konsentrasi Jahe pada Minuman Herbal Kapulaga dan Gula Semut Aren terhadap Karakteristik Kimia dan Organoleptik

M. Sa’roni1

¹ Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Pasuruan

Email: Msaroni558@gmail.com

Received: 11 November 2023; Revised: 29 November 2023; Accepted: 8 Januari 2024

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh jumlah jahe terhadap karakteristik kimia dan organoleptik minuman herbal berbahan kapulaga dan gula semut aren. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Jumlah jahe berturut-turut adalah 3,5; 3,0; 2,5; 2,0; dan 1,5 g, sedangkan kapulaga dan gula semut aren tetap sebesar 0,25 g dan 30 g pada setiap perlakuan. Parameter kimia meliputi kadar air, kadar abu, dan total padatan terlarut; uji hedonik meliputi warna, aroma, tekstur, rasa, dan kelarutan. Data dianalisis menggunakan ANOVA dengan Minitab pada taraf signifikansi 5%. Berdasarkan hasil yang dilaporkan, perlakuan berbeda nyata pada kadar abu, rasa, dan kelarutan, tetapi tidak berbeda nyata pada kadar air, total padatan terlarut, warna, aroma, dan tekstur. Perlakuan A5 dipilih sebagai formulasi terbaik dengan kadar air 2,0%, kadar abu 0,175%, dan total padatan terlarut 97,8 °Brix. Skor warna, aroma, tekstur, rasa, dan kelarutannya masing-masing 3,8; 3,5; 3,5; 4,2; dan 3,8. A5 memperoleh skor rasa dan kelarutan tertinggi, sedangkan aroma tertinggi terdapat pada A2 dan tekstur tertinggi pada A3.

Kata kunci: gula semut aren; jahe; kapulaga; minuman herbal; organoleptik

Abstract

This study examines the effect of ginger amount on the chemical and organoleptic characteristics of a herbal drink containing cardamom and granulated palm sugar. A completely randomized design with five treatments and three replications was used. Ginger amounts were 3.5, 3.0, 2.5, 2.0, and 1.5 g, while cardamom and palm sugar were fixed at 0.25 and 30 g per treatment. Chemical parameters comprised moisture, ash, and total soluble solids; hedonic attributes comprised color, aroma, texture, taste, and solubility. Data were analyzed using ANOVA in Minitab at a 5% significance level. The reported results indicated significant differences in ash, taste, and solubility, but no significant differences in moisture, total soluble solids, color, aroma, or texture. Treatment A5 was selected as the best formulation, with moisture of 2.0%, ash of 0.175%, and reported total soluble solids of 97.8 °Brix. Its color, aroma, texture, taste, and solubility scores were 3.8, 3.5, 3.5, 4.2, and 3.8, respectively. A5 had the highest taste and solubility scores, whereas A2 had the highest aroma score and A3 the highest texture score.

Keywords: cardamom; ginger; granulated palm sugar; herbal drink; organoleptic

[1] M. Sa’roni, “Pengaruh Konsentrasi Jahe pada Minuman Herbal Kapulaga dan Gula Semut Aren terhadap Karakteristik Kimia dan Organoleptik,” Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan, vol. 4, no. 2, pp. 89–98, 2024, doi: 10.55757/ekliptika.v4i2.350.

PENDAHULUAN

Rempah dan herba merupakan bahan yang dapat dikembangkan menjadi produk minuman dengan karakteristik rasa dan aroma yang khas. Pemanfaatannya sebagai bahan baku pangan dibahas dalam literatur rempah dan herba [1]. Penggunaan tanaman dalam ramuan tradisional juga tercakup dalam buku Purwanto [2] dan Santoso [3]. Pengembangan minuman herbal perlu disertai evaluasi mutu produk dan penerimaan konsumen.

Jahe (Zingiber officinale) digunakan sebagai rempah dan bahan minuman. Ware [4] membahas jahe serta pemanfaatannya dalam konsumsi pangan. Kapulaga memiliki nilai ekonomi sebagai komoditas rempah; pengembangan ekspornya bersama pala dan lawang dianalisis oleh Nurhayati, Hartoyo, dan Mulatsih [5]. Kombinasi jahe dan kapulaga memberi dasar pemilihan bahan untuk minuman herbal yang dikaji dalam penelitian ini.

Kajian terhadap kapulaga mencakup aktivitas antiinflamasi pada sel RAW 264.7 [6], penghambatan pertumbuhan Trichophyton rubrum oleh ekstrak daun [7], serta aktivitas antibakteri dan sitotoksik ekstrak biji [8]. Penelitian Ifandari, Suranto, dan Wuryaningsih [9] menggunakan meniran merah pada mencit, sehingga berbeda bahan dan objek dengan penelitian minuman ini. Kajian tersebut merupakan latar belakang penelitian bahan herbal; hasilnya tidak membuktikan manfaat terapeutik atau keamanan formulasi minuman yang diuji.

Gula semut aren merupakan bahan pemanis berbentuk serbuk atau kristal yang digunakan dalam formulasi. Pembuatan gula semut dibahas oleh Ashari [10]. Pengolahan minuman dalam bentuk serbuk dapat memudahkan penyajian, tetapi mutu kimia serta penerimaan sensoris tetap perlu dievaluasi.

Penelitian terdahulu mengkaji rasio jahe dan gula aren terhadap sifat fisikokimia serta sensoris jahe instan [11]. Jenis jahe dan perlakuan blansing juga diteliti dalam pengembangan minuman jahe instan [12]. Optimasi campuran rempah dan pemanis dilakukan melalui metode mixture D-optimal [13], sedangkan penambahan ekstrak jahe dan kencur dikaji pada minuman temulawak instan [14]. Temuan tersebut menunjukkan perlunya menilai formulasi dalam konteks bahan dan proses masing-masing produk, tanpa menerapkan hasil numeriknya langsung pada formulasi yang berbeda.

Pengembangan produk juga membutuhkan pengendalian cara produksi. Koswara dan Diniari [15] mengevaluasi formulasi serta cara produksi minuman jahe merah instan pada industri rumah tangga. Estiasih, Ahmadi, dan Purwantiningrum [16] meneliti parameter pengolahan kritis, termasuk waktu sedimentasi dan rasio jahe terhadap gula. Anastasia dan rekan [17] mengkaji variasi pemanis terhadap karakteristik fisik serta kesukaan minuman serbuk jahe dan temu putih. Kajian atribut sensoris pangan juga dibahas dalam tinjauan Tarwendah [18]. Literatur tersebut memberikan konteks mutu proses dan penerimaan produk bagi pengembangan formulasi minuman herbal.

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi jumlah jahe pada minuman herbal berbahan kapulaga dan gula semut aren terhadap kadar air, kadar abu, total padatan terlarut, serta penerimaan organoleptik. Kapulaga dan gula semut aren dipertahankan pada jumlah tetap, sedangkan jahe divariasikan pada lima perlakuan untuk menentukan formulasi terbaik berdasarkan hasil yang dilaporkan.

METODE

Bahan dan Rancangan Penelitian

Bahan penelitian terdiri atas bubuk jahe, bubuk kapulaga, dan gula semut aren. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, sehingga terdapat 15 unit percobaan. Jumlah jahe untuk A1, A2, A3, A4, dan A5 berturut-turut adalah 3,5; 3,0; 2,5; 2,0; dan 1,5 g. Setiap perlakuan menggunakan kapulaga 0,25 g serta gula semut aren 30 g. Istilah konsentrasi pada judul merujuk pada variasi jumlah jahe dalam formulasi ini; tidak dinyatakan sebagai g/mL karena volume pelarut tidak dilaporkan.

Tahapan Penelitian dan Pengujian

Tahap pendahuluan digunakan untuk menentukan komposisi minuman herbal. Tahap berikutnya mengevaluasi variasi jumlah jahe pada lima formulasi. Parameter kimia yang diamati adalah kadar air (%), kadar abu (%), dan total padatan terlarut (°Brix). Pengujian organoleptik menggunakan uji hedonik yang meliputi warna, aroma, tekstur, rasa, serta kelarutan. Prinsip penilaian sensoris pangan dibahas oleh Setyaningsih, Apriyantono, dan Sari [19].

Nilai organoleptik disajikan sebagai skor penilaian panelis pada setiap atribut. Kelarutan dalam uji ini merupakan atribut yang dinilai melalui penerimaan panelis.

Analisis Data

Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) dengan aplikasi Minitab pada taraf signifikansi α = 0,05. Tabel sumber juga menyajikan notasi huruf kelompok perlakuan, tetapi tidak menyebutkan nama uji lanjut. Huruf yang sama atau saling beririsan ditafsirkan sebagai kelompok yang tidak berbeda nyata menurut notasi sumber.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Kimia

Tabel 1. Hasil Analisis Kimia Minuman Herbal

Perlakuan Kadar Air (%) Kadar Abu (%) Total Padatan Terlarut (°Brix)
A1 2,3a 0,232a 97,5a
A2 2,2a 0,185bc 97,6a
A3 2,2a 0,204abc 97,6a
A4 2,0a 0,218ab 97,8a
A5 2,0a 0,175c 97,8a

Keterangan: A1–A5 mengikuti formulasi pada bagian metode. Notasi huruf dipertahankan dari sumber; huruf yang sama atau beririsan pada kolom yang sama menunjukkan kelompok yang tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

Tabel 1 menunjukkan kadar air 2,0–2,3%, kadar abu 0,175–0,232%, dan total padatan terlarut yang dilaporkan sebesar 97,5–97,8 °Brix. Berdasarkan analisis yang dilaporkan, jumlah jahe memberikan perbedaan nyata pada kadar abu, sedangkan kadar air serta total padatan terlarut tidak berbeda nyata pada α = 0,05. Perbedaan angka rata-rata pada kedua parameter terakhir tidak ditafsirkan sebagai bukti pengaruh yang signifikan.

Kadar Air

Kadar air berkaitan dengan mutu dan kestabilan bahan pangan selama penyimpanan [20]. Gambar 1 memperlihatkan nilai tertinggi pada A1 sebesar 2,3%, sedangkan nilai terendah terdapat pada A4 dan A5 sebesar 2,0%. Seluruh perlakuan memiliki notasi a, sehingga penurunan numerik tersebut tidak menunjukkan perbedaan nyata menurut hasil sumber.

Gambar 1. Diagram Kadar Air

Artikel sumber membandingkan kadar air dengan batas maksimum 3,0% pada SNI 01-4320-1996 tentang serbuk minuman tradisional [21]. Seluruh nilai yang dilaporkan berada di bawah batas tersebut. Perbandingan ini hanya mencakup parameter kadar air dan tidak menyatakan bahwa seluruh persyaratan mutu atau keamanan produk telah terpenuhi. Pengujian umur simpan tidak dilakukan dalam hasil yang disajikan.

Kadar Abu

Kadar abu menunjukkan fraksi anorganik yang tersisa setelah proses pengabuan dan digunakan sebagai salah satu parameter komposisi pangan [22]. Gambar 2 memperlihatkan nilai tertinggi pada A1 sebesar 0,232% serta terendah pada A5 sebesar 0,175%. Perubahan kadar abu tidak mengikuti pola penurunan yang sepenuhnya berurutan terhadap jumlah jahe; A4 lebih tinggi daripada A2 dan A3.

Gambar 2. Diagram Kadar Abu

Perbedaan nyata pada kadar abu dilaporkan pada α = 0,05. Notasi kelompok menunjukkan A1 (a) dan A5 (c) tidak memiliki huruf yang sama, sedangkan A3 (abc) beririsan dengan seluruh kelompok. Nilai kadar abu berada di bawah batas 1,5% yang digunakan sebagai pembanding SNI pada sumber. Perbedaan tersebut tidak digunakan untuk menyimpulkan kadar mineral tertentu karena identifikasi mineral individual tidak dilaporkan.

Total Padatan Terlarut

Total padatan terlarut digunakan untuk menggambarkan komponen yang larut dalam sistem pangan. Kajian pengolahan sirup glukosa oleh Megavitry dan rekan [23] merupakan salah satu konteks pengamatan komponen terlarut pada produk pangan. Pada penelitian ini, Gambar 3 menunjukkan nilai 97,5–97,8 °Brix sebagaimana dilaporkan dalam sumber. Nilai tertinggi terdapat pada A4 dan A5, bukan hanya A5.

Gambar 3. Diagram Total Padatan Terlarut

Semua perlakuan memiliki notasi a sehingga tidak berbeda nyata pada taraf 5%. Nilai °Brix dipertahankan sesuai tabel sumber. Basis sampel, pengenceran, dan prosedur pengukurannya tidak dijelaskan; nilai ini tidak dikonversi menjadi persen gula, tidak dibandingkan dengan kadar sukrosa, dan tidak dianggap sebagai konsentrasi minuman setelah penyeduhan.

Karakteristik Organoleptik

Tabel 2. Hasil Uji Organoleptik Minuman Herbal

Perlakuan Warna Aroma Tekstur Rasa Kelarutan Notasi
A1 3,3a 3,5a 3,5a 3,2b 2,8b B
A2 3,3a 3,6a 3,5a 3,2b 3,3ab AB
A3 3,4a 3,3a 3,6a 2,9b 3,4a B
A4 3,5a 3,3a 3,4a 3,4b 3,5a AB
A5 3,8a 3,5a 3,5a 4,2a 3,8a A

Keterangan: nilai pada kolom warna sampai kelarutan adalah skor hedonik. Notasi huruf kecil pada tiap atribut serta notasi huruf kapital pada kolom terakhir dipertahankan sebagaimana sumber. Dasar perhitungan notasi kapital tidak dijelaskan.

Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa warna, aroma, dan tekstur tidak berbeda nyata; semua perlakuan pada masing-masing kolom memiliki notasi a. Perbedaan nyata dilaporkan untuk rasa dan kelarutan. Oleh karena itu, perubahan skor numerik pada setiap atribut perlu dibedakan dari perbedaan yang dinyatakan signifikan.

Warna

Warna merupakan atribut visual yang berperan dalam penerimaan pangan [22]. Skor warna tertinggi secara numerik adalah A5 sebesar 3,8, dengan warna yang dijelaskan dalam sumber sebagai agak kecokelatan. Skor terendah adalah 3,3 pada A1 dan A2. Gambar 4 memperlihatkan kecenderungan kenaikan skor, tetapi kesamaan notasi a menunjukkan bahwa perbedaan antartingkat perlakuan tidak nyata.

Gambar 4. Diagram Skor Warna

Aroma

Aroma menjadi bagian dari penilaian sensoris yang memengaruhi penerimaan produk [22]. Skor aroma tertinggi terdapat pada A2 sebesar 3,6, sedangkan A3 dan A4 memperoleh 3,3. A5 memperoleh 3,5. Sumber menggambarkan aroma A2 sebagai khas jahe dan tidak terlalu menyengat. Uraian tersebut merupakan deskripsi sensoris, bukan hasil pengukuran senyawa volatil. Seluruh perlakuan memiliki notasi a.

Gambar 5. Diagram Skor Aroma

Tekstur

Tekstur merupakan atribut mutu pangan yang dapat dipertimbangkan dalam evaluasi penerimaan produk; penelitian Midayanto dan Yuwono [24] membahas atribut tersebut pada tahu. Dalam minuman herbal ini, skor tekstur tertinggi secara numerik terdapat pada A3 sebesar 3,6, sedangkan skor terendah terdapat pada A4 sebesar 3,4. Skor A1, A2, dan A5 sama-sama 3,5. Notasi a pada seluruh perlakuan tidak mendukung perbedaan nyata.

Gambar 6. Diagram Skor Tekstur

Sumber menduga penyaringan bubuk jahe dan kapulaga berkaitan dengan tekstur produk. Karena ukuran ayakan dan distribusi ukuran partikel tidak disajikan, dugaan tersebut tidak ditetapkan sebagai mekanisme yang telah dibuktikan.

Rasa

Penilaian rasa merupakan bagian dari analisis sensori pangan [19]. Gambar 7 memperlihatkan skor tertinggi pada A5 sebesar 4,2 dan terendah pada A3 sebesar 2,9. A5 memiliki notasi a, sedangkan A1–A4 memiliki notasi b. Hasil ini konsisten dengan perbedaan nyata pada rasa yang dilaporkan sumber.

Gambar 7. Diagram Skor Rasa

Penurunan jumlah jahe menjadi 1,5 g pada A5 berkaitan dengan skor rasa yang lebih tinggi pada data penelitian ini. Sumber mengaitkannya dengan intensitas rasa pedas jahe, tetapi kandungan gingerol, shogaol, atau intensitas kepedasan tidak diukur. Temuan formulasi jahe dan gula aren pada penelitian Syamsul, Alam, dan Priyantono [11] mendukung penggunaan evaluasi kimia dan sensoris secara bersama. Perbedaan bahan serta rancangan membuat skor antarpenelitian tidak dapat dibandingkan secara langsung.

Kelarutan

Skor kelarutan tertinggi terdapat pada A5 sebesar 3,8, sedangkan terendah pada A1 sebesar 2,8. Gambar 8 menyajikan skor panelis, sehingga satuannya tidak diubah menjadi detik. A1 (b) berbeda kelompok dengan A3, A4, dan A5 (a), sedangkan A2 (ab) beririsan dengan kedua kelompok. Perbedaan nyata pada atribut kelarutan mengikuti analisis yang dilaporkan sumber.

Gambar 8. Diagram Skor Kelarutan

Penerimaan terhadap atribut kelarutan perlu dibedakan dari pengukuran waktu larut atau persentase bahan yang larut. Evaluasi teknis berikutnya dapat mencakup pengukuran tersebut pada kondisi penyeduhan yang ditetapkan.

Formulasi Terpilih dan Keterbatasan Penelitian

Perlakuan A5, yaitu jahe 1,5 g, kapulaga 0,25 g, dan gula semut aren 30 g, dipilih sebagai formulasi terbaik dalam sumber. Pilihan tersebut terutama didukung oleh skor rasa 4,2 dan kelarutan 3,8 yang tertinggi secara numerik, serta kadar abu 0,175% yang terendah. A5 tidak memperoleh skor tertinggi untuk seluruh atribut: aroma tertinggi terdapat pada A2 dan tekstur tertinggi pada A3. Karena tidak tersedia bobot keputusan atau indeks agregat, pemilihan A5 tidak dinyatakan sebagai hasil optimasi multikriteria yang dihitung ulang.

Hasil penelitian dibatasi oleh tidak tersedianya data individual ulangan, jumlah panelis, definisi skala hedonik, prosedur uji lanjut, dan rincian pengukuran °Brix. Hasil tidak digunakan untuk menetapkan manfaat klinis, ketiadaan efek samping, umur simpan, atau pemenuhan seluruh persyaratan SNI. Pengembangan berikutnya dapat melengkapi pelaporan metode, variasi data, pengujian stabilitas penyimpanan, dan penilaian sensoris pada kondisi penyeduhan yang ditetapkan.

KESIMPULAN

Variasi jumlah jahe pada minuman herbal kapulaga dan gula semut aren memberikan perbedaan nyata pada kadar abu, rasa, dan kelarutan menurut hasil yang dilaporkan, sedangkan kadar air, total padatan terlarut, warna, aroma, dan tekstur tidak berbeda nyata pada α = 0,05. Formulasi A5 dipilih sebagai perlakuan terbaik dengan komposisi jahe 1,5 g, kapulaga 0,25 g, serta gula semut aren 30 g. Formulasi tersebut mempunyai kadar air 2,0%, kadar abu 0,175%, total padatan terlarut yang dilaporkan 97,8 °Brix, dan skor rasa serta kelarutan tertinggi masing-masing 4,2 dan 3,8. Pemilihan ini berlaku pada perlakuan serta kondisi pengujian yang dilaporkan dan tidak menunjukkan keunggulan A5 pada semua atribut sensoris.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan terima kasih kepada para panelis yang telah berpartisipasi dalam penilaian organoleptik minuman herbal berbahan jahe, kapulaga, dan gula semut aren. Penilaian terhadap warna, aroma, tekstur, rasa, dan kelarutan memberikan informasi yang mendukung evaluasi penerimaan produk serta pemilihan formulasi dalam penelitian ini.

Pernyataan Kontribusi Penulis (CRediT Statement)

Penulis: M. Sa’roni. Rincian peran CRediT tidak dijelaskan dalam artikel sumber.

Pernyataan Ketersediaan Data

Ringkasan data tersedia pada tabel dan diagram artikel. Data tiap ulangan dan penilaian individual panelis tidak disertakan dalam sumber.

Persetujuan Etik

Artikel sumber tidak mencantumkan persetujuan komite etik atau nomor protokol untuk uji panelis.

DAFTAR PUSTAKA

[1] L. Hakim, Rempah dan Herba. Malang: Diandra Creative, 2015.

[2] N. B. Purwanto, Obat Herbal Andalan Keluarga. Flash Books, 2016.

[3] H. B. Santoso, Ragam & Khasiat Tanaman Obat. Agromedia Pustaka, 2008.

[4] M. Ware, “Ginger: Health benefits and dietary tips,” Medical News Today, 2017. [Daring]. Tersedia: https://www.medicalnewstoday.com/articles/265990.php. [Diakses: 21 Desember 2021].

[5] E. Nurhayati, S. Hartoyo, dan S. Mulatsih, “Analisis pengembangan ekspor pala, lawang, dan kapulaga Indonesia,” Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia, vol. 19, no. 2, hlm. 173–190, 2019, doi: 10.21002/jepi.2019.11.

[6] J. A. Lee, M. Y. Lee, I. S. Shin, C. S. Seo, H. Ha, dan H. K. Shin, “Anti-inflammatory effects of Amomum compactum on RAW 264.7 cells via induction of heme oxygenase-1,” Archives of Pharmacal Research, vol. 35, hlm. 739–746, 2012.

[7] Khusnul, D. M. Madinatul, dan L. A. Rahmah, “Uji daya hambat ekstrak etanol daun kapulaga (Amomum compactum Soland ex. Maton) terhadap pertumbuhan Trichophyton rubrum,” Pharmacoscript, vol. 2, hlm. 31–36, 2019.

[8] T. Juwitaningsih, I. S. Jahro, dan S. A. Sari, “Evaluation of North Sumatera cardamom seed (Amomum compactum) extract as antibacterial and anticancer,” Journal of Physics: Conference Series, vol. 1485, art. 012019, 2020, doi: 10.1088/1742-6596/1485/1/012019.

[9] Ifandari, Suranto, dan Y. N. S. Wuryaningsih, “Pengaruh pemberian ekstrak meniran merah (Phyllanthus urinaria) terhadap penekanan jumlah limfosit pada organ timus mencit balb/C yang diinfeksi bakteri Salmonella thypi,” Asian Journal of Tropical Biotechnology, vol. 9, no. 1, hlm. 1–6, 2012, doi: 10.13057/biotek/c090101.

[10] Ashari, “Perilaku petani dalam pembuatan gula semut,” Universitas Indonesia, Jakarta, 2008.

[11] W. Syamsul, N. Alam, dan E. Priyantono, “Pengaruh rasio jahe dan gula aren terhadap sifat fisikokimia dan sensoris jahe instan,” Agrotekbis: Jurnal Ilmu Pertanian, vol. 11, no. 3, 2023, doi: 10.22487/agrotekbis.v11i3.1734.

[12] Z. Fidela, I. Muflihati, E. P. Nurlaili, dan A. R. Affandi, “Efek jenis jahe dan pre treatment blansing terhadap karakteristik fisikokimia minuman jahe instan,” Journal of Food and Culinary, vol. 4, no. 2, 2021, doi: 10.12928/jfc.v4i2.5425.

[13] S. Assalam, “Optimasi formula minuman rempah serbuk instan menggunakan Design Expert metode mixture D-optimal,” Pasundan Food Technology Journal, vol. 9, no. 1, 2022, doi: 10.23969/pftj.v9i1.5572.

[14] A. T. Septiana, Triyanto, dan H. Winarsi, “Pengaruh penambahan ekstrak jahe dan ekstrak kencur terhadap sifat fisikokimia minuman temulawak instan dan sifat sensoris minuman seduhannya,” Jurnal Gizi dan Pangan Soedirman, vol. 3, no. 2, hlm. 157–166, 2019, doi: 10.20884/1.jgps.2019.3.2.2274.

[15] S. Koswara dan A. Diniari, “Peningkatan mutu dan cara produksi pada industri minuman jahe merah instan di Desa Benteng, Ciampea, Bogor,” Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, vol. 1, no. 2, hlm. 149–161, 2015, doi: 10.29244/agrokreatif.1.2.149-161.

[16] T. Estiasih, K. Ahmadi, dan I. Purwantiningrum, “Determination of critical processing parameters during instant ginger drink production in small scale industry,” Current Research in Nutrition and Food Science, vol. 5, no. 3, hlm. 230–237, 2017, doi: 10.12944/CRNFSJ.5.3.07.

[17] D. S. Anastasia, S. Luliana, R. Desnita, Isnindar, dan N. Atikah, “Pengaruh variasi gula terhadap karakteristik sediaan minuman serbuk instan kombinasi rimpang jahe dan temu putih,” Journal Syifa Sciences and Clinical Research, vol. 4, no. 2, hlm. 253–262, 2022, doi: 10.37311/jsscr.v4i2.14003.

[18] I. P. Tarwendah, “Jurnal review: Studi komparasi atribut sensoris dan kesadaran merek produk pangan,” Jurnal Pangan dan Agroindustri, vol. 5, no. 2, hlm. 66–73, 2017. [Daring]. Tersedia: https://jpa.ub.ac.id/index.php/jpa/article/view/531.

[19] D. Setyaningsih, A. Apriyantono, dan M. P. Sari, Analisis Sensori untuk Industri Pangan dan Agro. Bogor: IPB Press, 2010.

[20] F. G. Winarno, Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.

[21] Badan Standardisasi Nasional, Serbuk Minuman Tradisional, SNI 01-4320-1996, 1996. [Daring]. Tersedia: https://pesta.bsn.go.id/produk/detail/4741-sni01-4320-1996.

[22] F. G. Winarno, Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002.

[23] R. Megavitry, A. Laga, A. Syarifuddin, dan S. Widodo, “Pengaruh suhu gelatinasi dan waktu sakarifikasi terhadap produk sirup glukosa sagu,” dalam Prosiding Seminar Nasional Sinergitas Multidisiplin Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, vol. 2, hlm. 26–27, 2019.

[24] D. N. Midayanto dan S. S. Yuwono, “Penentuan atribut mutu tekstur tahu untuk direkomendasikan sebagai syarat tambahan dalam standar nasional Indonesia,” Jurnal Pangan dan Agroindustri, vol. 2, no. 4, hlm. 259–267, 2014. [Daring]. Tersedia: https://jpa.ub.ac.id/index.php/jpa/article/view/98.

NOMENKLATUR

A1–A5 = kode lima formulasi dengan jumlah jahe berbeda.

α = taraf signifikansi yang digunakan (0,05).

°Brix = satuan total padatan terlarut sebagaimana dilaporkan.

ANOVA = analysis of variance atau analisis ragam.

RAL = rancangan acak lengkap.