Ekliptika : Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan

Vol. 5 No. 1 Juli 2024 | Hal. 33–42

doi: https://doi.org/10.55757/ekliptika.v5i1/452

Pengukuran Produktivitas dan Usulan Perbaikan dengan Model Marvin E Mundel dan APC pada Industri Kayu PT ABC

Nur Hamidah¹, Iis Riyana¹, Enik Sulistyowati¹

¹ Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, Indonesia

Email: nurhamidah@itsnupasuruan.ac.id ; enik@itsnupasuruan.ac.id

Received: Juni 2024; Revised: Juli 2024; Accepted: Juli 2024

Abstrak

PT ABC merupakan perusahaan pengolahan kayu turning yang memerlukan pengukuran pemanfaatan sumber daya sebagai dasar perbaikan kinerja. Penelitian ini mengevaluasi produktivitas menggunakan model Marvin E. Mundel dan American Productivity Center (APC), dengan tahun 2022 sebagai periode dasar dan 2023 sebagai periode pengukuran. Analisis mencakup material, tenaga kerja, energi, dan modal, serta evaluasi kualitatif melalui wawancara dan diagram sebab akibat. Indeks produktivitas total Mundel yang dilaporkan sebesar 96,18 menunjukkan penurunan 3,82% terhadap dasar 100. Indeks parsial Mundel menunjukkan kenaikan tenaga kerja 11,57% dan penurunan energi 12,39%. Pada APC, indeks tenaga kerja yang dilaporkan sebesar 111,47 menunjukkan kenaikan 11,47%. Namun, indeks total APC sebesar 271,9 belum dapat dikonfirmasi karena tabel lain memuat 96,45 dan rincian agregasi harga konstan tidak tersedia. Pemeriksaan rasio energi 520,9/543,3 menghasilkan indeks 95,88, berbeda dari 92,57 yang dilaporkan. Rekap harga berlaku menghasilkan indeks profitabilitas total sekitar 98,78 setelah penjumlahan ulang komponen input. Hasil mendukung prioritas pemeriksaan penggunaan energi, mutu material, dan pengaturan kerja. Usulan perbaikan belum diuji melalui pengukuran setelah penerapan, sehingga keunggulan salah satu model dan besarnya peningkatan produktivitas belum dapat ditetapkan.

Kata kunci: produktivitas; Marvin E. Mundel; APC; energi; industri kayu

Abstract

PT ABC is a wood turning manufacturer that requires resource utilization measurement to support performance improvement. This study evaluated productivity using the Marvin E. Mundel and American Productivity Center (APC) models, with 2022 as the base period and 2023 as the measurement period. The analysis covered materials, labor, energy, and capital, supported by interviews and a cause-and-effect diagram. The reported Mundel total productivity index of 96.18 indicated a 3.82% decline from a base of 100. Its partial indices indicated an 11.57% increase for labor and a 12.39% decline for energy. The reported APC labor index of 111.47 represented an 11.47% increase. However, the reported APC total index of 271.9 could not be confirmed because another table presented 96.45 and constant-price aggregation details were unavailable. Checking the energy ratio of 520.9/543.3 yielded an index of 95.88, differing from the reported 92.57. Recalculating current-price input totals yielded a total profitability index of approximately 98.78. The findings support further examination of energy use, material quality, and work organization. The proposed measures have not undergone post-implementation evaluation; therefore, model superiority and the magnitude of productivity improvement remain undetermined.

Keywords: productivity; Marvin E. Mundel; APC; energy; wood industry

[1] N. Hamidah, I. Riyana, and E. Sulistyowati, “Pengukuran Produktivitas dan Usulan Perbaikan dengan Model Marvin E Mundel dan APC pada Industri Kayu PT ABC,” Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan, vol. 5, no. 1, pp. 33–42, 2024, doi: 10.55757/ekliptika.v5i1.452.

PENDAHULUAN

Produktivitas menggambarkan hubungan keluaran dengan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan keluaran tersebut. Pengukuran memerlukan definisi output, cakupan input, dan periode pembanding yang konsisten. Pedoman OECD [1] membahas dasar pengukuran serta persoalan penerapan dan interpretasinya. Tangen [2] menjelaskan perlunya membedakan produktivitas dari konsep kinerja yang lebih luas. Karena itu, perubahan pendapatan atau keuntungan perusahaan perlu ditelusuri bersama perubahan penggunaan input sebelum ditafsirkan sebagai perubahan produktivitas.

Pengukuran pada tingkat perusahaan dapat menggunakan indikator parsial untuk mengidentifikasi sumber daya yang memerlukan perbaikan. Fithri dan Sari [3] mengkaji produktivitas perusahaan manufaktur berdasarkan data keuangan serta kaitannya dengan profitabilitas. Bakar dkk. [4] menerapkan model Mundel dan APC untuk merumuskan prioritas perbaikan pada material, tenaga kerja, energi, dan modal. Prastyo dan Lukmandono [5] juga menggunakan kedua model tersebut untuk mengevaluasi produktivitas industri. Kajian ini menjadi dasar penggunaan lebih dari satu indikator dalam penilaian pemanfaatan sumber daya.

APC menyediakan pemisahan antara perubahan produktivitas pada harga konstan, profitabilitas pada harga berlaku, dan faktor perbaikan harga. Penerapannya pada jasa uji tak merusak oleh Ristanti dkk. [6] menunjukkan ruang penggunaan metode di luar manufaktur. Manullang [7], Mahmudi dan Suparto [8], serta Muhartono dkk. [9] membandingkan Mundel dan APC pada perusahaan dengan karakteristik produksi berbeda. A’Yun dan Lukmandono [10] serta Suseno dan Fitri [11] mengkaji penggunaannya sebagai dasar evaluasi kinerja. Perbedaan hasil antarmodel perlu ditelusuri melalui definisi input dan dasar harga, bukan dijadikan alasan memilih hasil indeks yang paling besar.

PT ABC berada di kawasan Panceng KM 52 A, Gresik, Jawa Timur, dan menghasilkan produk kayu turning. Perusahaan dilaporkan belum melakukan pengukuran produktivitas secara terstruktur dan lebih banyak menilai kinerja dari pencapaian profit. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi produktivitas tahun 2023 terhadap tahun 2022 menggunakan model Mundel dan APC, menelaah konsistensi indeks, serta menyusun usulan perbaikan berdasarkan temuan penggunaan sumber daya. Evaluasi juga membedakan hasil pengukuran dari rekomendasi yang belum diterapkan.

TINJAUAN PUSTAKA

Produktivitas dan Profitabilitas

Produktivitas parsial membandingkan keluaran dengan satu kelompok input, sedangkan produktivitas total membandingkan keluaran dengan seluruh input dalam cakupan analisis. Agregasi beberapa input memerlukan satuan atau dasar valuasi yang seragam. Jika nilai uang digunakan, perubahan harga perlu diperhatikan karena penjualan dapat berubah tanpa perubahan jumlah produk. Profitabilitas dalam kerangka rasio APC mengacu pada hubungan nilai output dengan biaya input; rasio ini tidak sama dengan nominal laba bersih atau margin laba.

Deoranto dkk. [12] membahas hubungan produktivitas dan profitabilitas dengan APC pada produksi sari apel. Hanif dkk. [13] menghubungkan pengukuran APC dengan evaluasi sebab perubahan menggunakan diagram fishbone. Ali dkk. [14] menghitung produktivitas, profitabilitas, dan perbaikan harga pada industri minuman. Katili dkk. [15] membandingkan APC dengan model Craig–Harris. Penerapan tersebut mendukung penggunaan indikator keuangan secara terstruktur, tetapi definisi biaya dan tingkat agregasinya harus ditetapkan sesuai kegiatan perusahaan yang diteliti.

Model Marvin E Mundel

Model Mundel membandingkan rasio perubahan output dengan rasio perubahan input terhadap periode dasar. Pada perhitungan parsial, input mewakili satu sumber daya; pada perhitungan total, input merupakan agregat sumber daya. Rumusan yang digunakan adalah persamaan (1).

IPM=(AOt/AO0)/(RIt/RI0)×100{IP}_{M}\ = \ ({AO}_{t}\ /\ {AO}_{0})\ /\ ({RI}_{t}\ /\ {RI}_{0})\ \times \ 100 (1)

AOₜ dan AO₀ masing-masing merupakan output agregat periode pengukuran dan periode dasar. RIₜ dan RI₀ adalah input pada kedua periode dengan cakupan yang sama. Dasar indeks ditetapkan 100. Nilai di atas 100 menunjukkan kenaikan rasio output terhadap input, sedangkan nilai di bawah 100 menunjukkan penurunan. Definisi agregat, penyesuaian harga, dan pembulatan perlu dilaporkan agar indeks dapat direplikasi [3]–[5].

Model American Productivity Center

Untuk membedakan perubahan kuantitas dan perubahan harga, output serta input dapat dinilai pada harga periode dasar dan harga yang berlaku. Persamaan (2) dan (3) mendefinisikan nilai tersebut; persamaan (4) dan (5) menghitung indeks produktivitas dan profitabilitas. Penetapan dasar harga penting dalam penyusunan angka indeks, sebagaimana pembahasan teori indeks oleh Diewert [16].

Ot,0=Σjpj,0qj,tIt,0=Σiwi,0xi,tO_{t,0}\ = \ \Sigma_{j}\ p_{j,0}\ q_{j,t}\ \ \ \ \ \ \ I_{t,0}\ = \ \Sigma_{i}\ w_{i,0}\ x_{i,t} (2)

Ot,t=Σjpj,tqj,tIt,t=Σiwi,txi,tO_{t,t}\ = \ \Sigma_{j}\ p_{j,t}\ q_{j,t}\ \ \ \ \ \ \ I_{t,t}\ = \ \Sigma_{i}\ w_{i,t}\ x_{i,t} (3)

IP={(Ot,0/It,0)/(O0,0/I0,0)}×100IP\ = \ \{(O_{t,0}\ /\ I_{t,0})\ /\ (O_{0,0}\ /\ I_{0,0})\}\ \times \ 100 (4)

IPF={(Ot,t/It,t)/(O0,0/I0,0)}×100IPF\ = \ \{(O_{t,t}\ /\ I_{t,t})\ /\ (O_{0,0}\ /\ I_{0,0})\}\ \times \ 100 (5)

qⱼₜ adalah jumlah output produk j dan pⱼₜ harga output per unit. xᵢₜ merupakan jumlah input i dan wᵢₜ harga input per unit. Subskrip 0 menunjukkan periode dasar. Untuk produktivitas parsial, penyebut hanya menggunakan satu kelompok input. Kuantitas dan harga satuan harus dapat ditelusuri; nilai output atau biaya agregat saja belum cukup untuk membentuk seri harga konstan secara lengkap.

FPH=IPF/IPIPH=(IPF/IP)×100FPH\ = \ IPF\ /\ IP\ \ \ \ \ \ \ IPH\ = \ (IPF\ /\ IP)\ \times \ 100 (6)

FPH pada persamaan (6) merupakan faktor perbaikan harga dengan dasar 1, sedangkan IPH merupakan indeks perbaikan harga dengan dasar 100. Faktor 0,999 berarti sedikit di bawah dasar, bukan kenaikan sebesar 0,999%. Istilah perbaikan harga menunjukkan pengaruh relatif perubahan harga output terhadap harga input dan tidak langsung menjelaskan kenaikan upah pekerja. Interpretasi mengikuti hubungan IPF = IP × FPH dengan skala indeks yang seragam.

METODE PENELITIAN

Objek dan Data Penelitian

Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus deskriptif pada PT ABC. Periode dasar adalah tahun 2022 dan periode pengukuran adalah tahun 2023. Input mencakup material, tenaga kerja, energi, dan modal; output merupakan nilai produk turning yang dilaporkan. Analisis kualitatif didasarkan pada wawancara mengenai kendala penggunaan sumber daya. Jumlah informan, waktu wawancara, instrumen, dan prosedur pemilihan informan tidak dirinci, sehingga hasil wawancara digunakan sebagai identifikasi dugaan penyebab, bukan estimasi pengaruh kausal.

Data numerik yang tersedia berupa nilai output pada harga berlaku, komponen biaya untuk perhitungan profitabilitas, rasio harga konstan parsial APC, serta rekap indeks Mundel dan APC. Tabel input Mundel memuat penulisan nilai uang yang terpotong dan tidak menjelaskan satuan skala secara lengkap. Rincian kuantitas, harga satuan dasar, penyesuaian harga, dan agregasi input harga konstan tidak disajikan. Oleh karena itu, indeks yang dilaporkan dibedakan dari pemeriksaan aritmetika yang dapat dilakukan atas angka yang tersedia.

Tahapan Analisis

Tahapan penelitian meliputi identifikasi masalah melalui studi lapangan dan pustaka, penetapan tujuan, pengumpulan data, perhitungan model Mundel dan APC, perbandingan hasil, serta evaluasi penyebab dan penyusunan usulan. Alur tersebut diringkas pada Gambar 1. Pemeriksaan dilakukan sebelum interpretasi agar perbedaan indeks tidak disimpulkan sebagai keunggulan model tanpa kesesuaian data.

Gambar 1. Tahapan pengukuran dan evaluasi produktivitas

Pemeriksaan numerik mencakup selisih indeks terhadap dasar 100, pembagian rasio harga konstan yang tercantum, penjumlahan biaya input pada harga berlaku, dan kesesuaian faktor perbaikan harga dengan IPF/IP. Perhitungan ulang mempertahankan angka input yang tertulis; angka yang tidak tersedia tidak diestimasi. Persentase perubahan dihitung sebagai IP − 100 ketika indeks dasar bernilai 100. Pembulatan hasil pemeriksaan ditetapkan dua angka desimal, kecuali faktor perbaikan harga yang disajikan empat angka desimal.

Evaluasi perbaikan menggunakan kelompok tenaga kerja, material, modal, dan energi dalam diagram sebab akibat. Usulan diturunkan dari wawancara dan arah perubahan indeks, kemudian dilengkapi indikator yang dapat digunakan dalam evaluasi lanjutan. Pengujian statistik dan perbandingan sebelum–sesudah implementasi tidak dilakukan karena data pengukuran lanjutan tidak tersedia.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Indeks Produktivitas Mundel

Tabel 1 menyajikan rekap indeks Mundel pada dasar 2022 = 100. Tenaga kerja merupakan satu-satunya input dengan peningkatan rasio produktivitas yang dilaporkan, yaitu 11,57%. Produktivitas material berada pada dasar, sedangkan energi dan modal berada di bawah dasar. Indeks energi 87,61 menunjukkan penurunan 12,39% dan merupakan penurunan parsial terbesar pada model ini.

Tabel 1. Indeks produktivitas Mundel yang dilaporkan

Input Rasio input 2023/2022 IP 2023 Perubahan (%)
Material 0,983 100,00 0,00
Tenaga kerja 0,881 111,57 +11,57
Energi 1,122 87,61 −12,39
Modal 0,999 98,39 −1,61
Total 1,022 96,18 −3,82

Sumber: rekap model Mundel. IP 2022 = 100 untuk seluruh input dan rasio output 2023/2022 yang ditampilkan adalah 0,983. Persentase perubahan merupakan selisih IP terhadap dasar 100; rasio input disajikan menurut pembulatan sumber.

Rasio output total yang ditampilkan dalam rekap Mundel adalah 0,983 dan rasio input total adalah 1,022. Pemeriksaan persamaan (1) menghasilkan 0,983/1,022 × 100 = 96,18. Hasil ini sesuai dengan indeks total yang dilaporkan dan menunjukkan penurunan 3,82%. Akan tetapi, agregat input yang membentuk rasio 1,022 tidak dapat ditelusuri dari tabel biaya yang terpotong. Kesesuaian pembagian indeks belum membuktikan bahwa seluruh nilai agregat telah menggunakan definisi dan dasar harga yang sama.

Rasio output 0,983 berarti nilai pembanding turun sekitar 1,7% jika dasar rasio adalah 1. Angka −0,017 pada tabel awal merupakan perubahan rasio, sehingga tidak ditulis sebagai penurunan −0,017%. Kenaikan indeks tenaga kerja menunjukkan peningkatan output relatif terhadap input tenaga kerja yang digunakan dalam model; hasil ini tidak dengan sendirinya membuktikan peningkatan keterampilan atau kapasitas fisik pekerja.

Indeks Produktivitas APC pada Harga Konstan

Rekap APC menunjukkan indeks tenaga kerja 111,47, material 97,51, energi 92,57, dan modal 95,93. Perubahan tenaga kerja terhadap dasar 100 adalah +11,47%, sehingga keterangan +14,47% dalam tabel awal diperbaiki. Tabel 2 menampilkan pemeriksaan pembagian rasio harga konstan yang tercantum untuk menilai kesesuaian rekap.

Tabel 2. Pemeriksaan rasio parsial APC yang tercantum

Input Rasio 2022 Rasio 2023 IP dilaporkan IP hasil pembagian
Tenaga kerja 73,44 81,87 111,47 111,48
Material 2.439 2.378 97,51 97,50
Energi 543,3 520,9 92,57 95,88
Modal 2,95 2,83 95,93 95,93

Keterangan: hasil pembagian = rasio 2023/rasio 2022 × 100. Satuan rasio harga konstan tidak dijelaskan dalam tabel awal; angka tidak diperlakukan sebagai nilai uang atau kuantitas fisik.

Selisih kecil pada tenaga kerja dan material dapat berkaitan dengan pembulatan angka yang ditampilkan, tetapi nilai sebelum pembulatan tidak tersedia untuk memastikannya. Pada energi, 520,9/543,3 × 100 menghasilkan 95,88, sedangkan tabel memuat 92,57. Selisih sekitar 3,31 poin indeks memerlukan penelusuran ke data perhitungan; angka hasil pembagian tidak menggantikan pengukuran yang belum tersedia. Kedua angka tetap menunjukkan arah penurunan terhadap dasar 100.

Indeks produktivitas total APC 271,9 diperoleh dalam rekap dari pembandingan angka 2,719 dengan 1. Namun, nilai input dan output harga konstan yang membentuk kedua angka tersebut tidak disajikan. Tabel perbaikan harga justru memuat indeks total 96,45. Dengan adanya dua nilai total, peningkatan 171,9% tidak dapat dipastikan sebagai hasil pengukuran yang konsisten. Kajian ini tidak memilih salah satu nilai untuk menyatakan keunggulan APC.

Gambar 2 memperlihatkan perbandingan indeks parsial yang dilaporkan untuk kedua model. Grafik menggunakan satu skala indeks dengan dasar 100. Total APC tidak dimasukkan karena terdapat ketidakkonsistenan agregat. Perbedaan antarinput bersifat deskriptif dan tidak dinyatakan signifikan secara statistik.

Gambar 2. Perbandingan indeks parsial yang dilaporkan pada tahun 2023

Profitabilitas pada Harga Berlaku

Nilai output turning pada harga berlaku turun dari Rp10.145.520.000 pada 2022 menjadi Rp9.979.200.000 pada 2023. Rasio output terhadap periode dasar adalah 0,9836066 atau penurunan sekitar 1,64%. Tabel 3 mempertahankan biaya input yang dicantumkan dan membedakan total yang dilaporkan dengan hasil penjumlahan ulang.

Tabel 3. Nilai output dan biaya input pada harga berlaku dalam rupiah

Komponen 2022 2023
Output turning 10.145.520.000 9.979.200.000
Tenaga kerja 138.139.500 121.889.500
Material 4.159.845 4.159.845
Energi 18.571.071 20.109.122
Modal 3.436.968.058 3.436.527.256
Total input dilaporkan 3.597.874.474 3.582.721.723
Jumlah ulang empat input 3.597.838.474 3.582.685.723

Sumber: tabel profitabilitas penelitian. Penjumlahan ulang dihitung dari empat komponen input yang tertulis; cakupan dan klasifikasi biaya tetap memerlukan konfirmasi.

Total yang dilaporkan lebih besar Rp36.000 dari penjumlahan empat input pada masing-masing tahun. Tidak terdapat keterangan mengenai komponen tambahan sebesar selisih tersebut. Total hasil penjumlahan ulang turun sekitar 0,42%, sedangkan nilai output turun sekitar 1,64%. Karena output menurun lebih cepat daripada biaya agregat, indeks profitabilitas total berada di bawah dasar 100.

Penerapan persamaan (5) pada angka harga berlaku menghasilkan indeks profitabilitas tenaga kerja 111,47, material 98,36, energi 90,84, modal 98,37, dan total sekitar 98,78. Nilai total yang dilaporkan sebesar 98,79 memiliki arah yang sama. Selisih kecil antara hasil perhitungan dan rekap menunjukkan perlunya konsistensi pembulatan. Indeks profitabilitas tenaga kerja 111,45 pada rekap berarti peningkatan sekitar 11,45%, sehingga tidak ditafsirkan sebagai penurunan 11,45% sebagaimana uraian awal.

Energi merupakan komponen dengan indeks profitabilitas terendah. Biaya energi naik dari Rp18.571.071 menjadi Rp20.109.122 ketika nilai output turun. Kondisi ini mendukung pemeriksaan terhadap konsumsi, jam operasi, dan tarif energi, tetapi data biaya saja belum dapat memisahkan pengaruh ketiganya. Nilai input material dan modal juga perlu dikaji definisinya agar tidak terjadi pencampuran harga satuan, biaya periode, serta nilai aset dalam satu agregat.

Faktor Perbaikan Harga

Tabel 4 menampilkan rekap IPF, IP, dan faktor harga beserta pemeriksaan hubungan IPF/IP. Angka faktor harga dipertahankan pada dasar 1 agar tidak tercampur dengan indeks produktivitas yang berdasar 100. Pemeriksaan menggunakan rekap indeks yang tersedia, termasuk nilai energi 92,57 yang belum sesuai dengan rasio pada Tabel 2.

Tabel 4. Kesesuaian faktor perbaikan harga dengan rekap indeks

Input IPF dilaporkan IP dilaporkan FPH dilaporkan FPH hasil IPF/IP
Tenaga kerja 111,45 111,47 0,999 0,9998
Material 98,30 97,51 1,008 1,0081
Energi 90,85 92,57 0,981 0,9814
Modal 98,39 95,93 1,025 1,0256
Total 98,79 96,45 0,363 1,0243

Keterangan: FPH berdasar 1. Hasil pemeriksaan dihitung dari IPF dan IP pada baris yang sama, bukan dari data harga satuan. Faktor harga energi belum final karena indeks produktivitasnya belum konsisten.

Faktor tenaga kerja 111,45/111,47 mendekati 1 dan sedikit lebih kecil daripada dasar. Faktor material dan modal berada di atas 1, sedangkan energi berada di bawah 1 berdasarkan rekap. Faktor ini menjelaskan hubungan relatif profitabilitas dan produktivitas, sehingga tidak dapat digunakan sendiri untuk menyatakan bahwa upah tenaga kerja naik atau turun.

Pada total, 98,79/96,45 menghasilkan faktor 1,0243, berbeda dari 0,363 yang tercantum. Angka 0,363 mendekati hasil 98,79/271,9 = 0,3633. Hal tersebut mengindikasikan penggunaan dua indeks produktivitas total yang berbeda pada satu tabel. Tanpa penelusuran lembar hitung dan data harga konstan, faktor total tidak diperlakukan sebagai hasil akhir yang sahih. Penilaian perbaikan perlu memperbaiki konsistensi ini sebelum model digunakan untuk menetapkan target perusahaan.

Perbandingan Model dan Makna Hasil

Mundel dan APC sama-sama menunjukkan kenaikan indeks parsial tenaga kerja dan penurunan energi serta modal berdasarkan rekap. Material berada pada dasar 100 pada Mundel dan di bawah dasar pada APC. Kesamaan arah pada energi memberi alasan untuk menjadikannya prioritas pemeriksaan. Perbedaan besaran indeks belum dapat diatribusikan hanya pada karakteristik metode karena rincian deflasi, cakupan biaya, dan agregasinya belum lengkap.

Perbandingan antarmodel harus menggunakan output, periode, dan cakupan input yang sama. Model yang menghasilkan angka lebih tinggi tidak otomatis lebih efisien atau lebih tepat. Neely dkk. [17] menekankan proses perancangan sistem pengukuran kinerja; dalam konteks ini, keterlacakan data dan keterkaitan indikator dengan tindakan perbaikan merupakan dasar evaluasi. Syverson [18] membahas berbagai faktor yang berkaitan dengan perbedaan produktivitas perusahaan, sehingga penjelasan perubahan kinerja perlu didukung data operasional yang sesuai.

Hasil pada PT ABC merupakan penilaian dua periode tahunan. Data belum memperlihatkan variasi bulanan, bauran ukuran produk, produk baik dan cacat, jam kerja, atau konsumsi energi fisik. Oleh karena itu, penurunan indeks tidak langsung menunjukkan penurunan efisiensi teknis pada semua proses. Pengukuran fisik per unit produk baik diperlukan untuk memperkuat penafsiran indikator biaya.

Evaluasi Dugaan Penyebab

Wawancara dalam penelitian mengidentifikasi beberapa kendala: kelelahan dan berkurangnya konsentrasi pekerja, pemakaian material yang boros atau cacat, keterbatasan modal kerja dan pencatatan manual, serta belum optimalnya penggunaan energi. Diagram sebab akibat pada Gambar 3 merangkum keterangan tersebut. Kenaikan tarif energi disebut dalam diagram awal, tetapi besarnya perubahan tarif tidak disajikan sebagai data terukur.

Gambar 3. Dugaan penyebab kendala produktivitas berdasarkan wawancara

Pada tenaga kerja, kelelahan diduga berhubungan dengan lambatnya penyelesaian pekerjaan dan penurunan konsentrasi. Keterangan ini tidak bertentangan dengan kenaikan indeks biaya tenaga kerja, karena indikator biaya dan kondisi individu mengukur aspek yang berbeda. Verifikasi dapat dilakukan melalui catatan waktu kerja, waktu menunggu, beban kerja, dan hasil produk baik; penelitian ini belum menyajikan hasil pengukuran tersebut.

Pada material, pemakaian bahan baku yang berlebihan dan bahan cacat berpotensi menambah kebutuhan input. Namun, jumlah kehilangan material, proporsi cacat, dan biaya pengerjaan ulang tidak tersedia. Pada modal, pencatatan manual disebut menyulitkan penelusuran aset dan biaya. Hubungan modal kerja, persediaan barang jadi, dan produktivitas perlu diperiksa melalui klasifikasi biaya agar nilai aset tidak langsung diperlakukan sebagai konsumsi input tahunan.

Pada energi, bertambahnya mesin dan rendahnya perhatian terhadap penghematan disebut sebagai dugaan penyebab. Indeks energi yang menurun pada kedua model mendukung perlunya pengamatan lebih rinci, tetapi belum membuktikan bahwa penggunaan mesin tambahan merupakan penyebab utama. Thollander dkk. [19] mengkaji program energi pada perusahaan manufaktur kecil dan menengah, sedangkan Fleiter dkk. [20] menelaah penerapan tindakan efisiensi berdasarkan data audit energi. Kedua kajian memberi konteks pentingnya pemeriksaan terukur sebelum menentukan investasi perbaikan.

Usulan Perbaikan Produktivitas

Perbaikan tenaga kerja diarahkan pada pengaturan beban kerja, pengawasan kegiatan produksi, dan pengurangan waktu menunggu. Pengawasan perlu disertai evaluasi penyebab waktu tidak produktif agar tindakan tidak hanya berfokus pada perilaku pekerja. Usulan ini sejalan dengan keterangan kelelahan dalam wawancara. Indikator evaluasi yang dapat digunakan adalah output produk baik per jam kerja dan proporsi waktu menunggu; nilai target belum ditetapkan karena data dasar fisik tidak tersedia.

Perbaikan material dilakukan melalui pemeriksaan bahan yang diterima dari pemasok sebelum memasuki proses pengolahan, pengendalian pemakaian, dan pencatatan bahan cacat. Jumlah input material perlu dihubungkan dengan hasil produk baik untuk menilai hasil guna bahan. Pencatatan dapat membedakan kehilangan pemotongan, cacat bahan awal, dan pengerjaan ulang, sehingga tindakan perbaikan diarahkan pada sumber pemborosan yang teridentifikasi.

Perbaikan modal diarahkan pada pencatatan biaya dan aset yang dapat ditelusuri serta peninjauan pengeluaran berdasarkan kebutuhan operasional. Biaya yang dinilai tidak perlu harus ditentukan melalui evaluasi kontribusinya terhadap produksi, pemeliharaan, dan mutu. Pengurangan pengeluaran tanpa menilai dampaknya dapat memindahkan masalah ke kerusakan mesin atau kualitas produk. Untuk pengukuran berikutnya, biaya modal perlu dibedakan dari nilai buku aset dan kebutuhan modal kerja.

Perbaikan energi mencakup pengawasan pemakaian, peningkatan kesadaran pekerja, dan penyesuaian jadwal beban mesin terhadap kebutuhan produksi. Evaluasi lanjutan dapat mencatat kWh, jam operasi dan kondisi tanpa beban, serta biaya energi per unit produk baik. Usulan penghentian peralatan saat tidak diperlukan harus mengikuti kebutuhan proses dan keselamatan operasi. Audit sederhana atas penggunaan energi membantu membedakan pengaruh konsumsi dengan perubahan tarif [19], [20].

Usulan tersebut merupakan rencana tindakan, belum merupakan bukti peningkatan produktivitas. Pelaksanaan perlu diikuti pencatatan dengan definisi indikator yang sama sebelum dan sesudah perubahan, disertai pengamatan mutu dan volume produksi. Manfaat keberlanjutan dapat dievaluasi melalui intensitas energi dan hasil guna material. Besarnya penghematan energi, penurunan emisi, maupun peningkatan laba belum dihitung dalam penelitian ini.

Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan meliputi data yang hanya membandingkan dua tahun, rincian harga konstan yang tidak lengkap, nilai input Mundel yang terpotong, dan ketidakkonsistenan indeks total APC. Agregat biaya harga berlaku juga berbeda dari penjumlahan komponen, sedangkan faktor perbaikan harga total tidak sesuai dengan indeks pada baris yang sama. Data wawancara belum dilengkapi jumlah informan dan prosedur analisis. Penelitian lanjutan perlu menelusuri catatan asli dan mengukur hasil setelah penerapan usulan agar kesimpulan efisiensi dapat diuji.

KESIMPULAN

Indeks produktivitas total Mundel yang dilaporkan sebesar 96,18 menunjukkan penurunan 3,82% pada 2023 terhadap dasar 2022 = 100. Indeks parsial tenaga kerja meningkat, sedangkan energi dan modal menurun. Pada APC, indeks tenaga kerja 111,47 menunjukkan peningkatan 11,47%. Namun, indeks total 271,9 belum dapat dikonfirmasi karena rekap lain memuat 96,45 dan data agregasi harga konstan tidak lengkap. Pemeriksaan rasio energi menghasilkan 95,88, berbeda dari rekap 92,57, sedangkan perhitungan harga berlaku menghasilkan indeks profitabilitas total sekitar 98,78. Konsistensi data dan faktor perbaikan harga perlu diperbaiki sebelum keunggulan salah satu model dinyatakan. Prioritas tindak lanjut mencakup pengendalian penggunaan energi, pemeriksaan material, pengaturan beban kerja, dan pencatatan biaya modal. Usulan belum dievaluasi setelah penerapan, sehingga besarnya peningkatan produktivitas belum dapat ditetapkan.

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak PT ABC atas informasi mengenai kegiatan produksi dan penggunaan sumber daya yang menjadi dasar kajian ini. Apresiasi juga disampaikan kepada pihak yang memberikan keterangan mengenai kendala operasional dalam proses evaluasi produktivitas.

Pernyataan Kontribusi Penulis (CRediT Statement)

Nur Hamidah, Iis Riyana, dan Enik Sulistyowati tercantum sebagai penulis artikel. Rincian pembagian peran berdasarkan taksonomi CRediT tidak dilaporkan dalam naskah sumber.

Pernyataan Ketersediaan Data

Data ringkasan output, biaya input, dan indeks disajikan dalam artikel. Data kuantitas dan harga satuan, lembar hitung asli, transkrip wawancara, serta ketentuan akses data mentah tidak disertakan dalam naskah sumber.

Persetujuan Etik

Penelitian melaporkan penggunaan data operasional perusahaan dan wawancara. Naskah sumber tidak mencantumkan lembaga atau nomor persetujuan etik maupun rincian persetujuan informan.

DAFTAR PUSTAKA

[1] OECD, Measuring Productivity OECD Manual: Measurement of Aggregate and Industry-level Productivity Growth. Paris: OECD Publishing, 2001, doi: 10.1787/9789264194519-en.

[2] S. Tangen, “Demystifying productivity and performance,” International Journal of Productivity and Performance Management, vol. 54, no. 1, hlm. 34–46, 2005, doi: 10.1108/17410400510571437.

[3] P. Fithri dan R. Y. Sari, “Analisis pengukuran produktivitas perusahaan alsintan CV. Cherry Sarana Agro,” Jurnal Optimasi Sistem Industri, vol. 14, no. 1, hlm. 138–155, 2015, doi: 10.25077/josi.v14.n1.p138-155.2015.

[4] A. Bakar, O. Suprianto, dan Y. Yuniati, “Usulan peningkatan produktivitas berdasarkan metode Mundel dan APC di PT. Raffsya Media,” Journal of Industrial Engineering Management, vol. 2, no. 2, hlm. 1–13, 2017, doi: 10.33536/jiem.v2i2.147.

[5] S. R. Prastyo dan Lukmandono, “Analisa produktivitas berdasarkan pendekatan metode American Productivity Center (APC) dan Marvin E Mundel di CV. Nipson Industrial Coating,” Jurnal SENOPATI, vol. 1, no. 1, hlm. 11–23, 2019, doi: 10.31284/j.senopati.2019.v1i1.526.

[6] D. M. R. Ristanti, Lukmandono, dan R. Prabowo, “Analisis produktivitas dengan pendekatan metode APC di perusahaan jasa uji tak merusak/NDT,” dalam Conference on Innovation and Application of Science and Technology (CIASTECH), 2018, hlm. 469–477.

[7] M. M. Manullang, “Analisis pengukuran produktivitas dengan menggunakan metode Mundel dan APC di PT X,” Jurnal Optimasi Teknik Industri, vol. 2, no. 1, 2020, doi: 10.30998/joti.v2i1.3847.

[8] A. A. Mahmudi dan Suparto, “Analisis dan evaluasi produktivitas di PT. Sawit Mas Parenggean dengan pendekatan metode APC (American Productivity Center) dan Marvin E. Mundel,” Jurnal SENOPATI, vol. 1, no. 2, 2020, doi: 10.31284/j.senopati.2020.v1i2.531.

[9] A. Muhartono, G. Basuki HM, dan Suparto, “Pengukuran produktivitas di PT. XYZ dengan metode APC (American Productivity Center) dan Marvin E. Mundel,” dalam Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan VIII, 2020, hlm. 131–138.

[10] Q. A’Yun dan Lukmandono, “Analisis pengukuran produktivitas di PT. Preshion Engineering Plastec Surabaya dengan metode APC (American Productivity Center) dan Marvin E Mundel,” dalam Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan IX, 2021.

[11] Suseno dan R. Fitri, “Analisis pengukuran produktivitas menggunakan metode American Productivity Center (APC) dan Marvin E. Mundel sebagai upaya peningkatan kinerja,” JUMANTARA Jurnal Manajemen dan Teknologi Rekayasa, vol. 1, no. 1, 2022, doi: 10.28989/jumantara.v1i1.1301.

[12] P. Deoranto, A. Harwitasari, dan D. M. Ikasari, “Analisis produktivitas dan profitabilitas produksi sari apel dengan metode American Productivity Center di KSU Brosem,” Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri, vol. 5, no. 3, hlm. 114–124, 2016.

[13] I. Hanif, I. Maflahah, dan M. Fahkry, “Analisis produktivitas roti pia pada IRT Pia Latief Kediri,” Agrointek, vol. 13, no. 2, hlm. 143–154, 2019, doi: 10.21107/agrointek.v13i2.5291.

[14] A. Ali, Syarifuddin, dan T. H. S. Manik, “Pengukuran produktivitas menggunakan metode American Productivity Center (APC) di PT. Ima Montaz Sejahtera,” Industrial Engineering Journal, vol. 7, no. 2, hlm. 11–17, 2018.

[15] P. B. Katili, A. Gunawan, U. Damayanti, Kulsum, dan B. Kurniawan, “Analisis pengukuran produktivitas PT XYZ menggunakan metode American Productivity Center dan Craig-Harris,” Journal Industrial Servicess, vol. 6, no. 2, 2021, doi: 10.36055/62009.

[16] W. E. Diewert, “Exact and superlative index numbers,” Journal of Econometrics, vol. 4, no. 2, hlm. 115–145, 1976, doi: 10.1016/0304-4076(76)90009-9.

[17] A. Neely, M. Gregory, dan K. Platts, “Performance measurement system design: A literature review and research agenda,” International Journal of Operations & Production Management, vol. 15, no. 4, hlm. 80–116, 1995, doi: 10.1108/01443579510083622.

[18] C. Syverson, “What determines productivity?” Journal of Economic Literature, vol. 49, no. 2, hlm. 326–365, 2011, doi: 10.1257/jel.49.2.326.

[19] P. Thollander, M. Danestig, dan P. Rohdin, “Energy policies for increased industrial energy efficiency: Evaluation of a local energy programme for manufacturing SMEs,” Energy Policy, vol. 35, no. 11, hlm. 5774–5783, 2007, doi: 10.1016/j.enpol.2007.06.013.

[20] T. Fleiter, J. Schleich, dan P. Ravivanpong, “Adoption of energy-efficiency measures in SMEs—An empirical analysis based on energy audit data from Germany,” Energy Policy, vol. 51, hlm. 863–875, 2012, doi: 10.1016/j.enpol.2012.09.041.