Ekliptika : Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan
Vol. 5 No. 2 Desember 2024 | Hal. 43–52
doi: https://doi.org/10.55757/ekliptika.v5i2.576
Aulia Firda Alfiana¹, Handik Hendratama¹, Diana Novita Sari¹, Alifatun Nada¹
¹ Program Studi Teknik Kimia, Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, Indonesia
Email: alfiana@itsnupasuruan.ac.id
Received: November 2024; Revised: Desember 2024; Accepted: Desember 2024
Daun beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) mengandung senyawa fenolik yang dapat diperoleh melalui ekstraksi. Penelitian ini membandingkan kadar flavonoid ekstrak daun beluntas menggunakan maserasi dan sokletasi dengan pelarut metanol 96%. Simplisia sebanyak 10 g diekstraksi pada rasio massa terhadap volume pelarut 1:10, 1:15, dan 1:20 b/v. Maserasi berlangsung selama tiga hari pada suhu ruang, sedangkan sokletasi dilakukan selama 60, 120, dan 180 menit dengan suhu pemanasan yang dilaporkan 80 °C. Identifikasi kualitatif menggunakan uji Shinoda dan pengukuran kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi AlCl₃ serta standar kuersetin. Seluruh perlakuan menunjukkan respons warna kuning atau jingga. Kadar yang dilaporkan pada maserasi berkisar 50,62–51,52 mg QE/g, sedangkan pada sokletasi berkisar 40,59–53,96 mg QE/g. Nilai tertinggi diperoleh pada rasio 1:20, yaitu 51,52 mg QE/g untuk maserasi dan 53,96 mg QE/g untuk sokletasi 180 menit. Selisih kedua nilai tersebut sebesar 2,44 mg QE/g atau 4,74% relatif terhadap maserasi. Namun, grafik pemindaian dan skala persamaan kalibrasi belum konsisten dengan uraian pengukuran, sementara data absorbansi mentah, dasar massa, dan pengulangan tidak tersedia. Karena itu, hasil diperlakukan sebagai perbandingan deskriptif atas kadar yang dilaporkan. Penetapan keunggulan metode memerlukan verifikasi kalibrasi, pengulangan independen, serta evaluasi kebutuhan pelarut dan energi.
Kata kunci: daun beluntas; flavonoid; maserasi; metanol; sokletasi
Beluntas leaves (Pluchea indica (L.) Less.) contain phenolic compounds that can be recovered by extraction. This study compared the reported flavonoid contents of leaf extracts obtained by maceration and Soxhlet extraction using 96% methanol. A 10 g sample was extracted at solid-to-solvent ratios of 1:10, 1:15, and 1:20 w/v. Maceration lasted three days at room temperature, whereas Soxhlet extraction lasted 60, 120, or 180 minutes at a reported heating temperature of 80 °C. Qualitative screening employed the Shinoda test, while quantitative measurement used UV-Vis spectrophotometry with AlCl₃ and a quercetin standard. All treatments produced yellow or orange color responses. Reported contents ranged from 50.62 to 51.52 mg QE/g for maceration and from 40.59 to 53.96 mg QE/g for Soxhlet extraction. The highest values occurred at 1:20: 51.52 mg QE/g for maceration and 53.96 mg QE/g for 180-minute Soxhlet extraction. The difference was 2.44 mg QE/g, or 4.74% relative to maceration. However, the scanning plot and calibration equation scale were inconsistent with the measurement description, and raw absorbance data, the mass basis, and replicate results were unavailable. The findings therefore constitute a descriptive comparison of reported contents. Establishing method superiority requires calibration verification, independent replication, and assessment of solvent and energy requirements.
Keywords: beluntas leaves; flavonoids; maceration; methanol; Soxhlet extraction
[1] A. F. Alfiana, H. Hendratama, D. N. Sari, and A. Nada, “Perbandingan Metode Ekstraksi Maserasi dan Sokletasi terhadap Kadar Flavonoid Ekstrak Daun Beluntas,” Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan, vol. 5, no. 2, pp. 43–52, 2024, doi: 10.55757/ekliptika.v5i2.576.
Flavonoid merupakan kelompok metabolit tumbuhan dengan keragaman struktur dan sifat kimia. Kumar dan Pandey [1] menjelaskan bahwa perbedaan gugus fungsi dan susunan struktur memengaruhi sifat senyawa tersebut. Pietta [2] membahas hubungan struktur flavonoid dengan aktivitas antioksidan, terutama berdasarkan pengujian in vitro. Pengukuran kadar flavonoid dapat mendukung karakterisasi bahan alam, tetapi nilai kadar saja belum membuktikan aktivitas biologis atau manfaat klinis suatu ekstrak.
Beluntas (Pluchea indica (L.) Less.) merupakan salah satu bahan tumbuhan yang dikaji karena kandungan fenoliknya. Mahasuari dkk. [3] mengukur fenolik dan flavonoid ekstrak daun beluntas pada variasi konsentrasi metanol. Kongkiatpaiboon dkk. [4] mengoptimalkan ekstraksi dan menganalisis asam kafeoilkuinat daun beluntas dengan HPLC. Kedua penelitian menunjukkan perlunya menyelaraskan kondisi ekstraksi dengan golongan senyawa yang dianalisis. Hasil suatu metode tidak dapat langsung digeneralisasi untuk seluruh komponen ekstrak.
Pemilihan pelarut dan metode ekstraksi menentukan kontak antara bahan padat dan cairan serta kondisi termal selama proses. Pujiastuti dkk. [5] membandingkan kadar flavonoid dan aktivitas antioksidan ekstrak labu kuning pada variasi pelarut; perbedaan matriks tersebut memberi konteks mengenai pentingnya pemilihan pelarut, tanpa menggantikan pengujian pada beluntas. Zhang dkk. [6] dan Azmir dkk. [7] menguraikan berbagai teknik ekstraksi bahan alam serta pengaruh kondisi proses terhadap perolehan komponen sasaran.
Penelitian ini membandingkan maserasi selama tiga hari dengan sokletasi selama 60, 120, dan 180 menit pada rasio simplisia terhadap pelarut 1:10, 1:15, dan 1:20 b/v. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan respons uji kualitatif dan kadar flavonoid yang dilaporkan, menilai kecenderungan pengaruh volume pelarut serta waktu sokletasi, dan menelaah kecukupan informasi analitik untuk menafsirkan perbedaan kedua metode. Penilaian difokuskan pada ekstrak metanol daun beluntas dari wilayah Rejoso, Kabupaten Pasuruan.
Ekstraksi padat–cair melibatkan pembasahan bahan, pelarutan komponen, dan perpindahan zat terlarut ke fase cair. Volume pelarut, ukuran partikel, waktu kontak, dan suhu dapat memengaruhi proses tersebut. Dai dan Mumper [8] membahas pengaruh prosedur ekstraksi terhadap analisis fenolik tumbuhan. Stalikas [9] menekankan keterkaitan penyiapan sampel, pemisahan, dan deteksi dalam analisis asam fenolik serta flavonoid. Oleh karena itu, perubahan kadar terukur perlu ditafsirkan bersama kondisi ekstraksi dan prosedur pengukuran.
Maserasi menggunakan perendaman bahan dalam pelarut pada waktu tertentu, dengan kebutuhan peralatan yang relatif sederhana. Sokletasi menggunakan penguapan, kondensasi, dan pengaliran pelarut melalui bahan secara berulang. Luque de Castro dan Priego-Capote [10] membahas perkembangan serta penerapan sokletasi sebagai teknik ekstraksi. Pengulangan kontak dapat mempercepat penarikan komponen, sedangkan paparan panas perlu diperhatikan untuk senyawa yang kurang stabil. Keunggulan proses bergantung pada matriks dan tujuan analisis, sehingga waktu yang lebih singkat belum cukup untuk membuktikan efisiensi keseluruhan.
Pengukuran kolorimetri menggunakan AlCl₃ memanfaatkan pembentukan kompleks dengan senyawa yang memiliki gugus fungsi sesuai. Chang dkk. [11] menggunakan dua metode kolorimetri yang saling melengkapi untuk analisis flavonoid propolis. Pękal dan Pyrzynska [12] menunjukkan bahwa kondisi reaksi memengaruhi respons kompleks aluminium. Mammen dan Daniel [13] menilai keterbatasan penerapan metode tersebut pada beberapa flavonol dan flavon. Shraim dkk. [14] juga mengevaluasi masalah penggunaan satu standar untuk menyatakan keseluruhan flavonoid.
Satuan mg QE/g menyatakan respons analitik sebagai ekuivalen kuersetin per gram pada dasar massa yang digunakan. Nilai ini tidak sama dengan kadar kuersetin murni maupun jumlah setiap flavonoid secara individual. Suharyanto dan Hayati [15] menerapkan spektrofotometri UV-Vis untuk ekstrak buah gambas, yang memberi contoh penerapan analisis pada bahan tumbuhan. Pada setiap matriks, komposisi pereaksi, panjang gelombang, waktu pembentukan kompleks, dan kalibrasi perlu dijelaskan agar hasil dapat diperiksa kembali.
Daun beluntas diperoleh dari Desa Rejoso Kidul, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Bahan yang digunakan meliputi metanol 96%, kuersetin sebagai standar, AlCl₃ 10%, asam asetat 5%, HCl 2 N, serbuk magnesium, dan akuades. Identitas spesimen acuan, umur daun, waktu panen, serta kadar air akhir simplisia tidak dicantumkan dalam naskah sumber. Nama pelarut mengikuti uraian abstrak dan tahapan ekstraksi yang menyebut metanol; satu penyebutan etanol pada daftar bahan sumber belum didukung catatan pengadaan atau label pereaksi.
Peralatan utama terdiri atas rangkaian sokletasi, spektrofotometer UV-Vis B-ONE UV-Vis 100 DA-X, oven, hotplate, neraca analitik, blender, ayakan 40 mesh, dan vortex. Peralatan pendukung meliputi botol kaca, labu alas bulat, erlenmeyer, gelas beaker, labu ukur 500 mL, gelas ukur 10–500 mL, pipet ukur dan pipet tetes, corong, tabung reaksi, kertas saring, spatula, kaca arloji, dan botol semprot.
Daun dicuci menggunakan air bersih, kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 45 °C selama dua hari. Daun kering dihaluskan menggunakan blender dan diayak hingga lolos ayakan 40 mesh. Setiap perlakuan menggunakan 10 g simplisia. Rasio 1:10, 1:15, dan 1:20 b/v masing-masing setara dengan kebutuhan pelarut 100, 150, dan 200 mL untuk massa tersebut. Volume ini merupakan konversi dari rasio perlakuan, bukan hasil pengukuran konsumsi pelarut selama proses.
Pada maserasi, simplisia dimasukkan ke dalam wadah tertutup dan direndam menggunakan metanol 96% selama tiga hari pada suhu ruang. Maserat disaring melalui corong yang dilapisi kertas saring dan filtrat ditampung dalam erlenmeyer. Filtrat kemudian diuapkan menggunakan oven pada suhu 45 °C hingga diperoleh ekstrak kental. Frekuensi pengadukan, suhu ruang aktual, massa ekstrak, dan waktu penguapan tidak dirinci.
Pada sokletasi, simplisia dibungkus kertas saring dan ditempatkan dalam tabung soklet. Metanol 96% dimasukkan ke labu alas bulat pada ketiga rasio tersebut. Ekstraksi dilakukan selama 60, 120, dan 180 menit pada suhu pemanasan yang dilaporkan 80 °C. Karena posisi pengukuran suhu dan jumlah siklus sifon tidak dicantumkan, angka 80 °C tidak diperlakukan sebagai suhu aktual bahan di dalam tabung ekstraksi. Ekstrak ditampung dalam erlenmeyer lalu dipekatkan pada suhu 45 °C dengan prosedur yang sama seperti maserasi.
Untuk uji Shinoda, ekstrak diencerkan dengan metanol hingga konsentrasi yang dilaporkan 1.000 ppm. Sebanyak 1 mL larutan ekstrak dimasukkan ke tabung reaksi, kemudian ditambahkan 2 mL HCl 2 N dan 1 g serbuk magnesium. Campuran dihomogenkan menggunakan vortex. Pengamatan warna dicatat dengan simbol (+) untuk kuning dan (++) untuk jingga. Simbol digunakan sebagai kategori warna hasil pengamatan, tanpa menjadikannya skala konsentrasi atau tingkat kompleksitas struktur flavonoid.
Larutan induk kuersetin dibuat pada konsentrasi 1.000 ppm menggunakan metanol. Pemindaian larutan yang direaksikan dilakukan dengan mengambil 1 mL larutan kuersetin, menambahkan 1 mL AlCl₃ dan 8 mL asam asetat. Bagian metode menyebut rentang pemindaian 350–400 nm, sedangkan hasil dan grafik menggunakan 350–450 nm. Rentang yang diperlihatkan pada hasil dipertahankan untuk dokumentasi, dengan ketidaksesuaian tersebut dinyatakan sebagai keterbatasan prosedur.
Larutan standar dibuat pada konsentrasi 20, 40, 60, 80, dan 100 ppm. Masing-masing 1 mL standar dicampur dengan 1 mL AlCl₃ dan 8 mL asam asetat 5%, dihomogenkan menggunakan vortex, lalu didiamkan 15 menit. Larutan ekstrak 1.000 ppm diperlakukan dengan komposisi yang sama. Pembacaan sampel dan standar dilaporkan pada 410 nm. Metanol sebanyak 3 mL disebut sebagai blanko, tetapi blanko yang mencakup seluruh pereaksi tidak dijelaskan.
Data disajikan sebagai nilai yang tercantum dalam tabel sumber. Persamaan regresi yang dilaporkan dipertahankan pada persamaan (1), dengan A sebagai absorbansi dan x sebagai variabel pada grafik yang skala numeriknya masih perlu diverifikasi.
(1)
Secara umum, konsentrasi ekuivalen kuersetin dapat dihitung dari persamaan kalibrasi A = aC + b menggunakan persamaan (2). Konversi ke dasar massa mengikuti persamaan (3), apabila konsentrasi, volume, faktor pengenceran, dan massa acuan telah ditetapkan secara konsisten.
(2)
(3)
C dinyatakan dalam mg/mL, V dalam mL, F merupakan faktor pengenceran total, dan m adalah massa acuan dalam gram, sehingga TFC dinyatakan dalam mg QE/g. Konsentrasi dalam mg/L harus dikonversi sebelum digunakan dengan V dalam mL. Persamaan (2) dan (3) menjelaskan dasar perhitungan; keduanya tidak digunakan untuk membentuk ulang angka sampel karena absorbansi mentah, pengenceran lengkap, dan massa acuan tidak tersedia.
Perbedaan kadar dihitung secara deskriptif pada rasio yang sama. Selisih relatif sokletasi terhadap maserasi dihitung sebagai selisih kadar dibagi kadar maserasi, dikalikan 100%. Jumlah pengulangan, simpangan baku, dan rancangan randomisasi tidak dilaporkan, sehingga tidak dilakukan uji signifikansi. Prinsip validasi dalam ICH Q2(R2) [16] dan panduan Eurachem [17] digunakan sebagai dasar penilaian kelengkapan pelaporan, tanpa menyatakan bahwa penelitian ini telah memenuhi validasi tersebut.
Seluruh ekstrak menunjukkan respons warna yang dinyatakan positif pada uji Shinoda. Maserasi menghasilkan warna jingga pada ketiga rasio. Pada sokletasi, warna kuning ditemukan untuk rasio 1:10 pada 60 dan 120 menit, sedangkan perlakuan lainnya berwarna jingga. Tabel 1 menyatukan hasil kedua metode agar perbandingan pada rasio yang sama dapat dibaca langsung.
Tabel 1. Respons warna uji Shinoda pada seluruh perlakuan
| Rasio b/v | Maserasi 3 hari | Sokletasi 60 menit | Sokletasi 120 menit | Sokletasi 180 menit |
|---|---|---|---|---|
| 1:10 | ++ | + | + | ++ |
| 1:15 | ++ | ++ | ++ | ++ |
| 1:20 | ++ | ++ | ++ | ++ |
Keterangan: (+) = kuning; (++) = jingga. Simbol mengikuti kategori pengamatan pada naskah sumber.
Respons warna mendukung hasil skrining golongan senyawa, tetapi tidak mengidentifikasi senyawa individual. Perubahan kuning menjadi jingga tidak cukup untuk menentukan jumlah gugus fenol, kompleksitas struktur, atau dominasi kuersetin dalam ekstrak. Klaim tersebut memerlukan pemisahan dan identifikasi lebih lanjut. Kadar yang dilaporkan untuk sokletasi 1:10 meningkat dari 40,59 menjadi 47,54 mg QE/g meskipun kedua perlakuan masih berkategori (+), sehingga simbol warna tidak dapat digunakan sebagai pengganti pengukuran kuantitatif.
Uraian hasil menyebut absorbansi 0,681 pada panjang gelombang 410 nm sebagai acuan pembacaan. Akan tetapi, kurva pemindaian yang disertakan memperlihatkan puncak visual sekitar 390–400 nm dan penurunan setelahnya. Selain itu, sumbu vertikal diberi label “Konsentrasi” meskipun gambar dijelaskan sebagai absorbansi. Gambar 1 dipertahankan sebagai dokumentasi sumber; angka spektral tidak direkonstruksi karena tabel absorbansi terhadap panjang gelombang tidak tersedia.
Gambar 1. Reproduksi kurva pemindaian pada naskah sumber
Ketidaksesuaian antara posisi puncak, label sumbu, dan uraian 410 nm memerlukan pemeriksaan data instrumen. Panjang gelombang tidak dikoreksi menjadi 390 atau 400 nm hanya berdasarkan gambar. Respons serapan kompleks dipengaruhi senyawa dan kondisi reaksi sebagaimana dijelaskan oleh Pękal dan Pyrzynska [12] serta Mammen dan Daniel [13]. Karena itu, pemindaian ulang pada komposisi pereaksi yang sama dengan sampel diperlukan sebelum panjang gelombang pengukuran ditetapkan.
Gambar 2. Reproduksi kurva kalibrasi kuersetin pada naskah sumber
Kurva baku mencantumkan persamaan A = 0,0303x + 0,0233 dan R² = 0,9565. Jika x langsung dianggap konsentrasi 20–100 ppm, persamaan menghasilkan absorbansi 0,6293 pada 20 ppm dan 3,0533 pada 100 ppm. Nilai tersebut tidak sesuai dengan rentang absorbansi yang tampak pada Gambar 2, sekitar 0,03 hingga kurang dari 0,2. Skala x atau penyusunan regresi perlu ditelusuri pada lembar hitung asli. Kemungkinan penggunaan nomor urut titik tidak ditetapkan sebagai koreksi karena data setiap standar tidak tersedia.
Nilai R² sebesar 0,9565 juga belum cukup untuk menyatakan kalibrasi memenuhi tujuan kuantifikasi. Evaluasi memerlukan konsentrasi numerik yang benar, residu regresi, ketelitian penyiapan standar, blanko pereaksi, dan kesesuaian rentang kerja [16], [17]. Rentang absorbansi 0,2–0,8 yang disebut dalam sumber tidak diberlakukan sebagai batas universal hukum Beer–Lambert. Rentang yang dapat digunakan harus dibuktikan untuk prosedur dan instrumen yang bersangkutan.
Tabel 2 menampilkan seluruh nilai kadar dalam sumber. Pada maserasi, kadar meningkat dari 50,62 menjadi 50,94 dan 51,52 mg QE/g ketika rasio berubah dari 1:10 menjadi 1:15 dan 1:20. Pada sokletasi, setiap waktu pengujian menunjukkan nilai yang meningkat dengan bertambahnya volume pelarut. Setiap rasio juga memperlihatkan kenaikan kadar ketika waktu sokletasi diperpanjang dari 60 menjadi 180 menit.
Tabel 2. Kadar flavonoid yang dilaporkan pada kedua metode ekstraksi
| Rasio b/v | Maserasi 3 hari | Sokletasi 60 menit | Sokletasi 120 menit | Sokletasi 180 menit |
|---|---|---|---|---|
| 1:10 | 50,62 | 40,59 | 47,54 | 50,76 |
| 1:15 | 50,94 | 43,88 | 50,47 | 53,00 |
| 1:20 | 51,52 | 45,58 | 51,88 | 53,96 |
Keterangan: seluruh kadar dalam mg QE/g, mengikuti satuan sumber. Dasar massa per gram dan validitas kalibrasi belum dapat diverifikasi.
Gambar 3. Perbandingan deskriptif kadar flavonoid yang dilaporkan
Pada sokletasi 60 menit, kadar masih lebih rendah daripada maserasi pada seluruh rasio. Pada 120 menit, sokletasi lebih rendah pada rasio 1:10 dan 1:15, tetapi sedikit lebih tinggi pada rasio 1:20, yaitu 51,88 dibandingkan 51,52 mg QE/g. Pada 180 menit, kadar sokletasi lebih tinggi pada seluruh rasio. Dengan demikian, pernyataan bahwa sokletasi selalu menghasilkan kadar lebih besar tidak sesuai dengan seluruh perlakuan yang tersedia.
Selisih sokletasi 180 menit terhadap maserasi pada rasio 1:10 adalah 0,14 mg QE/g atau 0,28%. Pada rasio 1:15, selisihnya 2,06 mg QE/g atau 4,04%, sedangkan pada rasio 1:20 sebesar 2,44 mg QE/g atau 4,74%. Persentase menggunakan maserasi pada rasio yang sama sebagai dasar pembanding. Angka ini merupakan perbedaan aritmetika dari nilai tabel, tanpa ukuran ketidakpastian dan tanpa kesimpulan signifikansi statistik.
Pada maserasi, perubahan rasio dari 1:10 menjadi 1:20 menambah kadar yang dilaporkan sebesar 0,90 mg QE/g atau 1,78%. Pada sokletasi, kenaikan untuk perubahan rasio yang sama sebesar 4,99 mg QE/g pada 60 menit, 4,34 mg QE/g pada 120 menit, dan 3,20 mg QE/g pada 180 menit. Kecenderungan tersebut sesuai dengan dugaan bahwa penambahan volume pelarut memperbaiki kontak dan menyediakan kapasitas pelarutan lebih besar [6]–[8]. Namun, konsentrasi zat terlarut selama ekstraksi dan kondisi kesetimbangan tidak diukur, sehingga mekanisme tersebut tetap merupakan penjelasan proses yang perlu diuji.
Pada rasio 1:20, perpanjangan sokletasi dari 60 menjadi 120 menit menaikkan kadar yang dilaporkan sebesar 6,30 mg QE/g. Perpanjangan berikutnya menjadi 180 menit menambah 2,08 mg QE/g. Besarnya tambahan yang menurun dapat menjadi dasar penilaian waktu proses lebih lanjut, tetapi tidak membuktikan bahwa ekstraksi telah mencapai kesetimbangan. Penelitian tidak memuat waktu di atas 180 menit, hasil pengulangan, atau data degradasi komponen.
Perbandingan dengan penelitian beluntas oleh Mahasuari dkk. [3] dibatasi oleh perbedaan konsentrasi metanol dan prosedur analisis. Nilai yang lebih besar atau lebih kecil antarpublikasi tidak dapat langsung dinilai sebagai perbedaan mutu bahan. Variasi asal daun dan komponen sasaran juga perlu dipertimbangkan. Analisis HPLC oleh Kongkiatpaiboon dkk. [4] serta HPTLC oleh Chewchinda dan Vongsak [18] memberi contoh penetapan senyawa tertentu pada daun beluntas. Asam kafeoilkuinat yang dianalisis dalam kedua studi tersebut merupakan kelompok fenolik berbeda, sehingga nilainya tidak disamakan dengan hasil flavonoid ekuivalen kuersetin.
Maserasi berlangsung tiga hari atau sekitar 72 jam, sedangkan sokletasi terlama berlangsung tiga jam. Perbedaan durasi kontak ini menunjukkan potensi pemendekan tahap ekstraksi, tetapi waktu penyiapan, penguapan, dan pendinginan tidak dicatat. Konsumsi energi juga tidak diukur. Karena itu, rasio waktu 72 jam terhadap tiga jam tidak dinyatakan sebagai peningkatan efisiensi energi atau produktivitas proses.
Rasio 1:20 menggunakan dua kali volume pelarut awal dibandingkan 1:10 untuk massa simplisia yang sama. Pemilihan kondisi proses perlu memperhitungkan kadar, massa ekstrak, jumlah senyawa yang dipulihkan per gram simplisia, pemulihan pelarut, dan energi. Chemat dkk. [19] membahas pengurangan kebutuhan energi serta pemilihan pelarut dalam ekstraksi bahan alam. Prinsip tersebut dapat digunakan sebagai arah evaluasi lanjutan, sedangkan penelitian ini belum menyediakan data untuk menghitung biaya, limbah, atau manfaat lingkungan.
Teknik lain seperti ekstraksi berbantuan ultrasonik dapat dibandingkan pada penelitian berikutnya dengan mengacu pada mekanisme dan penerapan yang dibahas Chemat dkk. [20]. Teknik tersebut belum diuji dalam penelitian ini. Perbandingan yang adil perlu menggunakan bahan dengan karakteristik sama, prosedur analitik tervalidasi, serta dasar massa dan indikator pemulihan yang seragam.
Keterbatasan utama meliputi ketidaksesuaian kurva pemindaian dan kalibrasi, tidak tersedianya absorbansi mentah, dasar massa yang belum jelas, serta tidak dilaporkannya pengulangan. Kadar air simplisia, rendemen, siklus sifon, suhu aktual bahan, dan pemulihan pelarut juga belum dicantumkan. Data yang tersedia belum memungkinkan penetapan total massa flavonoid yang diperoleh atau penilaian metode secara statistik. Verifikasi pelarut, pembacaan spektrum, dan perhitungan perlu dilakukan sebelum hasil digunakan sebagai kondisi optimum untuk penerapan lebih luas.
Seluruh perlakuan ekstraksi daun beluntas menunjukkan respons positif pada uji Shinoda. Nilai flavonoid yang dilaporkan tertinggi pada maserasi adalah 51,52 mg QE/g, sedangkan pada sokletasi adalah 53,96 mg QE/g setelah 180 menit; keduanya diperoleh pada rasio 1:20 b/v. Selisih maksimum kedua metode sebesar 2,44 mg QE/g atau 4,74% relatif terhadap maserasi. Kadar sokletasi meningkat dengan waktu ekstraksi dan volume pelarut, tetapi sokletasi 60 menit masih lebih rendah daripada maserasi pada seluruh rasio. Ketidaksesuaian informasi kalibrasi dan ketiadaan pengulangan membatasi hasil pada perbandingan deskriptif atas nilai yang dilaporkan. Verifikasi metode analitik, dasar massa, rendemen, dan kebutuhan energi diperlukan sebelum menetapkan keunggulan metode atau kondisi optimum proses.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak yang membantu penyiapan bahan, pelaksanaan kegiatan laboratorium, dan penyusunan naskah. Dukungan tersebut menunjang kajian ekstraksi dan karakterisasi daun beluntas dalam bidang Teknik Kimia.
Pernyataan Kontribusi Penulis (CRediT Statement) Aulia Firda Alfiana, Handik Hendratama, Diana Novita Sari, dan Alifatun Nada tercantum sebagai penulis artikel. Rincian pembagian peran berdasarkan taksonomi CRediT tidak dilaporkan dalam naskah sumber. Pernyataan Ketersediaan Data Data ringkasan uji kualitatif, kadar flavonoid, dan grafik kalibrasi disajikan dalam artikel. Data absorbansi mentah, hasil pengulangan, lembar hitung, serta ketentuan akses data pendukung tidak disertakan dalam naskah sumber. Persetujuan Etik Penelitian menggunakan bahan tumbuhan dan pengujian laboratorium; naskah sumber tidak melaporkan pelibatan manusia atau hewan percobaan. Lembaga atau nomor persetujuan etik tidak dicantumkan dalam naskah sumber. |
|---|
[1] S. Kumar dan A. K. Pandey, “Chemistry and biological activities of flavonoids: An overview,” The Scientific World Journal, artikel 162750, 2013, doi: 10.1155/2013/162750.
[2] P. G. Pietta, “Flavonoids as antioxidants,” Journal of Natural Products, vol. 63, no. 7, hlm. 1035–1042, 2000, doi: 10.1021/np9904509.
[3] N. P. S. Mahasuari, N. L. P. V. Paramita, dan A. A. G. R. Y. Putra, “Effect of methanol concentration as a solvent on total phenolic and flavonoid content of beluntas leaf extract (Pulchea indica L.),” Journal Pharmaceutical Science and Application, vol. 2, no. 2, hlm. 77–84, 2020, doi: 10.24843/JPSA.2020.v02.i02.p05.
[4] S. Kongkiatpaiboon, S. Chewchinda, dan B. Vongsak, “Optimization of extraction method and HPLC analysis of six caffeoylquinic acids in Pluchea indica leaves from different provenances in Thailand,” Revista Brasileira de Farmacognosia, vol. 28, no. 2, hlm. 145–150, 2018, doi: 10.1016/j.bjp.2018.03.002.
[5] A. Pujiastuti, A. R. Erwiyani, dan I. Sunnah, “Perbandingan kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan ekstrak labu kuning dengan variasi pelarut,” Journal of Holistics and Health Sciences, vol. 4, no. 2, hlm. 324–339, 2022, doi: 10.35473/jhhs.v4i2.215.
[6] Q. W. Zhang, L. G. Lin, dan W. C. Ye, “Techniques for extraction and isolation of natural products: A comprehensive review,” Chinese Medicine, vol. 13, artikel 20, 2018, doi: 10.1186/s13020-018-0177-x.
[7] J. Azmir dkk., “Techniques for extraction of bioactive compounds from plant materials: A review,” Journal of Food Engineering, vol. 117, no. 4, hlm. 426–436, 2013, doi: 10.1016/j.jfoodeng.2013.01.014.
[8] J. Dai dan R. J. Mumper, “Plant phenolics: Extraction, analysis and their antioxidant and anticancer properties,” Molecules, vol. 15, no. 10, hlm. 7313–7352, 2010, doi: 10.3390/molecules15107313.
[9] C. D. Stalikas, “Extraction, separation, and detection methods for phenolic acids and flavonoids,” Journal of Separation Science, vol. 30, hlm. 3268–3295, 2007, doi: 10.1002/jssc.200700261.
[10] M. D. Luque de Castro dan F. Priego-Capote, “Soxhlet extraction: Past and present panacea,” Journal of Chromatography A, vol. 1217, no. 16, hlm. 2383–2389, 2010.
[11] C. C. Chang, M. H. Yang, H. M. Wen, dan J. C. Chern, “Estimation of total flavonoid content in propolis by two complementary colorimetric methods,” Journal of Food and Drug Analysis, vol. 10, no. 3, hlm. 178–182, 2002, doi: 10.38212/2224-6614.2748.
[12] A. Pękal dan K. Pyrzynska, “Evaluation of aluminium complexation reaction for flavonoid content assay,” Food Analytical Methods, vol. 7, hlm. 1776–1782, 2014, doi: 10.1007/s12161-014-9814-x.
[13] D. Mammen dan M. Daniel, “A critical evaluation on the reliability of two aluminum chloride chelation methods for quantification of flavonoids,” Food Chemistry, vol. 135, no. 3, hlm. 1365–1368, 2012, doi: 10.1016/j.foodchem.2012.05.109.
[14] A. M. Shraim, T. A. Ahmed, M. M. Rahman, dan Y. M. Hijji, “Determination of total flavonoid content by aluminum chloride assay: A critical evaluation,” LWT, vol. 150, artikel 111932, 2021, doi: 10.1016/j.lwt.2021.111932.
[15] Suharyanto dan T. N. Hayati, “Penetapan kadar flavonoid total ekstrak buah gambas (Luffa acutangula (L.) Roxb.) dengan metode spektrofotometri UV-Vis,” Pharmacon: Jurnal Farmasi Indonesia, vol. 18, no. 1, hlm. 82–88, 2021, doi: 10.23917/pharmacon.v18i01.10916.
[16] International Council for Harmonisation, ICH Harmonised Guideline Q2(R2) Validation of Analytical Procedures, versi final 30 November 2023. Tersedia: https://database.ich.org/sites/default/files/ICH_Q2(R2)_Guideline_2023_1130.pdf.
[17] B. Magnusson dan U. Örnemark, ed., Eurachem Guide The Fitness for Purpose of Analytical Methods A Laboratory Guide to Method Validation and Related Topics, ed. ke-2. Eurachem, 2014, ISBN 978-91-87461-59-0. Tersedia: https://www.eurachem.org/images/stories/Guides/pdf/MV_guide_2nd_ed_EN.pdf.
[18] S. Chewchinda dan B. Vongsak, “Simultaneous HPTLC quantification of three caffeoylquinic acids in Pluchea indica leaves and their commercial products in Thailand,” Revista Brasileira de Farmacognosia, vol. 29, hlm. 177–181, 2019, doi: 10.1016/j.bjp.2018.12.007.
[19] F. Chemat, M. Abert Vian, dan G. Cravotto, “Green extraction of natural products: Concept and principles,” International Journal of Molecular Sciences, vol. 13, no. 7, hlm. 8615–8627, 2012, doi: 10.3390/ijms13078615.
[20] F. Chemat, N. Rombaut, A. G. Sicaire, A. Meullemiestre, A. S. Fabiano-Tixier, dan M. Abert-Vian, “Ultrasound assisted extraction of food and natural products. Mechanisms, techniques, combinations, protocols and applications. A review,” Ultrasonics Sonochemistry, vol. 34, hlm. 540–560, 2017.