Ekliptika : Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan Vol. 4 No. 2 Januari 2024 | Hal. 99–108 doi: https://doi.org/10.55757/ekliptika.v4i2/164 [] Penilaian Postur Kerja pada Bagian Pemeriksaan Akhir PT ABC dengan Metode RULA Raditya Jarwenda Novasani¹, Syabanul Mustofa¹ ¹ Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Pekalongan, Indonesia Email: raditya.novasani@gmail.com Received: 27 Agustus 2023; Revised: 10 Januari 2024; Accepted: 26 Januari 2024 +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ | Abstrak | | | | Penelitian ini bertujuan menilai postur kerja pada bagian pemeriksaan akhir PT ABC, perusahaan | | manufaktur sarung yang melaksanakan pemeriksaan secara manual sebelum pengemasan. Data diperoleh | | melalui observasi dan dokumentasi foto ketika pekerja menjalankan aktivitasnya. Sudut dan kondisi | | segmen tubuh dinilai menggunakan Rapid Upper Limb Assessment (RULA), meliputi kelompok lengan dan | | pergelangan tangan serta kelompok leher, batang tubuh, dan kaki. Penilaian juga mempertimbangkan | | penggunaan otot dan beban kerja. Skor komponen yang dilaporkan adalah lengan atas 2, lengan bawah | | 2, pergelangan tangan 2, putaran pergelangan tangan 2, leher 3, batang tubuh 2, dan kaki 1. Kedua | | kelompok memperoleh skor postur dasar 3, tambahan penggunaan otot statis 1, dan tambahan beban 0, | | sehingga masing-masing menghasilkan skor 4. Penggabungan kedua kelompok menghasilkan skor akhir | | RULA 4 atau tingkat tindakan 2. Hasil tersebut menunjukkan perlunya investigasi lebih lanjut dan | | kemungkinan perubahan postur atau stasiun kerja. Penyesuaian media kerja dan tata letak merupakan | | arah perbaikan yang perlu dievaluasi pada kondisi kerja aktual; efektivitasnya belum diuji dalam | | penelitian ini. | | | | Kata kunci: ergonomi; pemeriksaan akhir; postur kerja; RULA; stasiun kerja | | | | Abstract | | | | This study assesses working posture during final inspection at PT ABC, a sarong manufacturing | | company where inspection is performed manually before packaging. Data were collected through | | observation and photographs of a worker performing the task. Body segment angles and conditions | | were assessed using Rapid Upper Limb Assessment (RULA), covering the arm and wrist group and the | | neck, trunk, and leg group. Muscle use and external load were also considered. The reported | | component scores were 2 for the upper arm, lower arm, wrist, and wrist twist; 3 for the neck; 2 | | for the trunk; and 1 for the legs. Both groups had a basic posture score of 3, a static muscle | | use adjustment of 1, and a load adjustment of 0, resulting in an adjusted score of 4 for each | | group. Combining these scores produced a final RULA score of 4, corresponding to action level 2. | | Further investigation and possible changes to posture or workstation design are indicated. | | Adjustments to the work surface and layout require evaluation under actual working conditions; | | their effectiveness was not tested in this study. | | | | Keywords: ergonomics; final inspection; RULA; working posture; workstation | +===================================================================================================+ +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ [1] R. J. Novasani and S. Mustofa, “Penilaian Postur Kerja pada Bagian Pemeriksaan Akhir PT ABC dengan Metode RULA,” Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan, vol. 4, no. 2, pp. 99–108, 2024, doi: 10.55757/ekliptika.v4i2.164. PENDAHULUAN PT ABC merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi sarung, mulai dari benang hingga sarung tenun siap pakai. Pemeriksaan akhir dilakukan sebelum pengemasan dan masih mengandalkan aktivitas manual. Selama aktivitas tersebut, pekerja mempertahankan posisi tubuh dalam waktu yang relatif lama. Kondisi ini menjadi alasan untuk menilai kesesuaian postur dengan tuntutan tugas, khususnya posisi leher, lengan, dan pergelangan tangan saat memeriksa produk. Penataan stasiun kerja perlu mempertimbangkan posisi tubuh dan jangkauan anggota gerak agar pekerja dapat menjalankan tugas dengan postur yang lebih sesuai. Oesman, Irawan, dan Wisnubroto [1] menggunakan penilaian RULA pada aktivitas pemotongan dan mengaitkan evaluasi postur dengan perancangan meja kerja. Pegiardi, Handika, dan Supriyadi [2] menerapkan metode yang sama pada operator gas cutting. Penilaian pada aktivitas gudang oleh Setiawan, Hunusalela, dan Nurhidayati [3] juga menunjukkan bahwa tingkat tindakan dapat berbeda antartugas. Oleh karena itu, evaluasi perlu dikaitkan dengan aktivitas yang diamati. Kajian pada industri tekstil memperlihatkan relevansi penilaian tersebut. Dianat et al. [4] mengidentifikasi hubungan faktor individu serta kondisi kerja dengan gejala muskuloskeletal pada operator jahit. Wang et al. [5] menelaah faktor organisasi kerja dan karakteristik individu, sedangkan Sealetsa dan Thatcher [6] mengkaji ketidaksesuaian stasiun kerja serta keluhan tubuh operator tekstil. Aktivitas menjahit berbeda dari pemeriksaan akhir sarung, tetapi kajian tersebut memberikan dasar untuk memperhatikan postur, desain stasiun, dan organisasi kerja secara bersama. Rapid Upper Limb Assessment (RULA) dikembangkan oleh McAtamney dan Corlett [7] untuk menilai paparan postural melalui pengodean segmen tubuh, penggunaan otot, dan beban eksternal. Metode ini menghasilkan tingkat tindakan yang membantu menentukan kebutuhan investigasi dan perubahan. Hunusalela, Perdana, dan Dewanti [8] menerapkan RULA dan REBA pada kegiatan konveksi, termasuk proses menjahit dan penyelesaian produk. Penggunaan RULA pada penelitian ini ditujukan untuk menilai postur kerja, bukan menetapkan diagnosis gangguan muskuloskeletal. Pemilihan pendekatan observasional sesuai dengan kebutuhan penilaian awal. David [9] membedakan laporan pekerja, observasi, dan pengukuran langsung sebagai pendekatan penilaian paparan. Survei Dempsey, McGorry, dan Maynard [10] mendokumentasikan penggunaan alat dokumentasi dan metode penilaian dalam praktik ergonomi. Tinjauan Takala et al. [11] menekankan pentingnya pemilihan metode berdasarkan kebutuhan serta keterandalan pengamatan. Penelitian ini bertujuan menilai postur pekerja pada bagian pemeriksaan akhir PT ABC menggunakan RULA dan menyusun arah evaluasi perbaikan berdasarkan skor yang diperoleh. METODE Objek dan Pengumpulan Data Penelitian dilakukan pada aktivitas pemeriksaan akhir sarung di PT ABC. Data dikumpulkan melalui observasi dan pengambilan foto ketika pekerja melaksanakan tugas. Foto digunakan untuk mengukur sudut segmen tubuh dan mengidentifikasi kondisi postur. Analisis disajikan untuk postur yang terdokumentasi. Jumlah pekerja yang diamati, jumlah foto, lama pengamatan, karakteristik pekerja, serta instrumen atau perangkat lunak pengukuran sudut tidak dilaporkan; karena itu, hasil tidak dianggap mewakili seluruh pekerja atau seluruh siklus kerja. Penilaian Kelompok Postur Penilaian mengikuti pengelompokan RULA [7]. Kelompok A meliputi lengan atas, lengan bawah, pergelangan tangan, dan putaran pergelangan tangan. Kelompok B meliputi leher, batang tubuh, dan kaki. Skor masing-masing komponen dipetakan ke matriks postur, kemudian ditambahkan skor penggunaan otot serta beban. Skor kelompok yang telah disesuaikan digabungkan menggunakan matriks akhir untuk menentukan skor RULA. Perbandingan metode observasional oleh Kee dan Karwowski [12] serta tinjauan Kee [13] menunjukkan bahwa klasifikasi antaralat dapat berbeda. Skor RULA tidak dikonversi menjadi skor REBA; REBA merupakan metode tersendiri yang dikembangkan Hignett dan McAtamney [14]. Lembar penilaian Cornell [15] digunakan sebagai acuan pemeriksaan matriks dan interpretasi. Skor 1–2 berada pada tingkat tindakan 1; skor 3–4 pada tingkat tindakan 2, dengan kebutuhan investigasi lebih lanjut dan kemungkinan perubahan; skor 5–6 pada tingkat tindakan 3, dengan investigasi serta perubahan dalam waktu dekat; dan skor 7 pada tingkat tindakan 4, dengan investigasi serta perubahan segera. Pada penilaian yang dilaporkan, penggunaan otot statis menambah 1 dan beban kurang dari 4,4 lb tidak menambah skor. Massa tersebut setara sekitar 2 kg; kondisi pembebanan dan durasi statis tetap perlu diperhatikan dalam penerapan lembar penilaian. Pengolahan dan Batas Analisis Data diolah secara deskriptif dengan menelusuri skor komponen, matriks postur, tambahan skor, dan matriks akhir. Tidak dilakukan uji hipotesis statistik, pengukuran produktivitas, atau evaluasi sebelum dan sesudah intervensi. Pengamatan postur perlu mempertimbangkan keterbatasan estimasi sudut dan kesepakatan antarpengamat, sebagaimana dibahas Bao et al. [16]. Pada penelitian ini, pengujian keterandalan antarpengamat tidak dilaporkan. Skor digunakan sebagai dasar prioritas evaluasi ergonomi pada postur yang ditampilkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Postur Pemeriksaan Akhir Dokumentasi pemeriksaan akhir ditampilkan pada Gambar 1. Foto memperlihatkan posisi pekerja ketika menangani sarung dan mempertahankan pandangan pada bidang pemeriksaan. Sudut yang dilaporkan pada gambar dan uraian adalah sekitar 20° untuk lengan atas, 110° untuk lengan bawah, dan 50° untuk leher. Batang tubuh dilaporkan pada posisi 0° dengan tekukan ke samping, sedangkan kaki memiliki penopang. Foto tersebut digunakan sebagai dasar penilaian berikut, tanpa menambahkan pengukuran dari sudut pandang lain. [] Gambar 1. Penilaian Postur Kerja Pemeriksaan Akhir Sumber: dokumentasi pada artikel Raditya Jarwenda Novasani dan Syabanul Mustofa. Penilaian Lengan dan Pergelangan Tangan Lengan atas membentuk sudut sekitar 20° dan dilaporkan memiliki skor 2. Lengan bawah membentuk sudut sekitar 110° dengan skor 2. Pergelangan tangan bergerak pada rentang 0–15° dengan skor 2, sedangkan putaran pergelangan tangan mendekati akhir jangkauan memiliki skor 2. Kombinasi lengan atas 2, lengan bawah 2, pergelangan tangan 2, dan putaran 2 menghasilkan skor postur dasar 3 pada Tabel 1. Tambahan penggunaan otot statis adalah 1 dan tambahan beban adalah 0, sehingga skor kelompok A menjadi 3 + 1 + 0 = 4. Tabel 1. Matriks Penilaian Lengan dan Pergelangan Tangan ----------------------------------------------------------------------------------------------------------- Lengan Lengan Skor atas bawah Pergelangan Tangan ----------- ----------- ------------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- --------- 1 2 3 4 1 2 1 2 1 2 1 2 1 1 1 2 2 2 2 3 3 3 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 1 3 2 3 2 3 3 3 4 4 2 1 2 2 2 3 3 3 4 4 2 2 2 2 3 3 3 3 4 4 2 3 2 3 3 3 3 4 4 5 3 1 2 3 3 3 4 4 5 5 3 2 2 3 3 3 4 4 5 5 3 3 2 3 3 4 4 4 5 5 4 1 3 4 4 4 4 5 5 5 4 2 3 4 4 4 4 4 5 5 4 3 3 4 4 5 5 5 6 6 5 1 5 5 5 5 5 6 6 7 5 2 5 6 6 6 6 7 7 7 5 3 6 6 6 7 7 7 7 8 6 1 7 7 7 7 7 8 8 9 6 2 8 8 8 8 8 9 9 9 6 3 9 9 9 9 9 9 9 9 ----------------------------------------------------------------------------------------------------------- Sumber: matriks RULA [7] dan lembar Cornell [15]. Sublajur 1 dan 2 menunjukkan skor putaran pergelangan tangan. Sel abu-abu adalah skor yang digunakan. Sudut lengan atas sekitar 20° berada pada batas kategori lembar penilaian. Skor komponen 2 dipertahankan sebagai nilai yang dilaporkan. Sebagai pemeriksaan sensitivitas kategori, apabila komponen tersebut diberi skor 1 dengan komponen lain tetap, skor postur dasar A menjadi 2 dan skor A setelah tambahan menjadi 3. Kombinasi A = 3 dan B = 4 tetap menghasilkan skor akhir 4 pada Tabel 3. Pemeriksaan ini merupakan penelusuran matriks, bukan pengukuran sudut baru. Penilaian Leher Batang Tubuh dan Kaki Leher membentuk sudut sekitar 50° dengan skor 3. Batang tubuh dilaporkan pada sudut 0° disertai tekukan ke samping sehingga memperoleh skor 2. Kaki memiliki penopang dengan skor 1. Kombinasi leher 3, batang tubuh 2, dan kaki 1 menghasilkan skor postur dasar 3 pada Tabel 2. Setelah tambahan penggunaan otot statis 1 dan tambahan beban 0, skor kelompok B menjadi 3 + 1 + 0 = 4. Posisi leher menjadi salah satu segmen yang perlu diperhatikan dalam evaluasi bidang pandang dan penempatan media pemeriksaan. Tabel 2. Matriks Penilaian Leher Batang Tubuh dan Kaki ----------------------------------------------------------------------------------------------------------- Leher Skor Batang Tubuh ---------- -------- ------- ------- ------- ------- ------- ------- ------- ------- ------- ------- ------- 1 2 3 4 5 6 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 1 1 3 2 3 3 4 5 5 6 6 7 7 2 2 3 2 3 4 5 5 5 6 7 7 7 3 3 3 3 4 4 5 5 6 6 7 7 7 4 5 5 5 6 6 7 7 7 7 7 8 8 5 7 7 7 7 7 8 8 8 8 8 8 8 6 8 8 8 8 8 8 8 9 9 9 9 9 ----------------------------------------------------------------------------------------------------------- Sumber: matriks RULA [7] dan lembar Cornell [15]. Sublajur 1 dan 2 menunjukkan skor kaki. Sel abu-abu adalah skor yang digunakan. Skor Akhir dan Tingkat Tindakan Skor A = 4 dipetakan pada baris dan skor B = 4 pada kolom Tabel 3. Perpotongannya menghasilkan skor akhir RULA 4. Skor ini termasuk tingkat tindakan 2, sehingga investigasi lebih lanjut diperlukan dan perubahan postur atau stasiun kerja mungkin dibutuhkan [7], [15]. Tingkat tindakan tersebut perlu dibedakan dari skor 5–6 atau 7 yang memiliki urgensi perubahan lebih tinggi. Tabel 3. Matriks Penggabungan Skor Akhir RULA --------------------------------------------------------------------------------------------------- Skor A Skor B Lengan dan Leher Pergelangan Tangan Batang Tubuh dan Kaki ---------------------- ---------- ---------- ---------- ---------- ---------- ---------- ---------- 1 2 3 4 5 6 7+ 1 1 2 3 3 4 5 5 2 2 2 3 4 4 5 5 3 3 3 3 4 4 5 6 4 3 3 3 4 5 6 6 5 4 4 4 5 6 7 7 6 4 4 5 6 6 7 7 7 5 5 6 6 7 7 7 8+ 5 5 6 7 7 7 7 --------------------------------------------------------------------------------------------------- Sumber: matriks RULA [7] dan lembar Cornell [15]. Sel abu-abu menunjukkan perpotongan A = 4 dan B = 4. Hasil ini memberikan dasar evaluasi postur yang terdokumentasi. Skor tersebut tidak mengukur prevalensi keluhan, kelelahan, atau produktivitas pekerja. Penelitian konveksi oleh Hunusalela et al. [8] serta penelitian gudang oleh Setiawan et al. [3] menggunakan aktivitas dan rancangan pengumpulan data yang berbeda. Skor antarpenelitian tidak digunakan untuk menyimpulkan bahwa pekerja PT ABC lebih sehat atau bahwa stasiun kerja tertentu telah aman. Arah Perbaikan Stasiun Kerja Perbaikan diarahkan pada penyesuaian media pemeriksaan dan tata letak agar pandangan serta jangkauan tangan sesuai dengan kebutuhan tugas. Ketinggian dan kemiringan media, jarak penempatan sarung, serta posisi tempat duduk dapat dievaluasi menggunakan ukuran tubuh pekerja dan pola aktivitas aktual. Ukuran rancangan tidak ditetapkan karena data antropometri dan dimensi stasiun kerja tidak tersedia. Pemeriksaan ulang perlu membandingkan postur sebelum dan sesudah penyesuaian pada kondisi tugas yang sebanding. Penelitian Rempel et al. [17] menguji desain kursi terhadap nyeri leher dan bahu operator jahit, sedangkan Wang et al. [18] menguji intervensi kursi terhadap nyeri punggung dan pinggul. Herbert et al. [19] mengevaluasi program ergonomi yang menggabungkan kursi yang dapat disesuaikan dan pelatihan pekerja. Hasil penelitian tersebut mendukung pertimbangan desain dan penggunaannya dalam evaluasi stasiun kerja, tetapi tidak membuktikan efektivitas intervensi yang belum diterapkan di PT ABC. Tinjauan van Niekerk, Louw, dan Hillier [20] menemukan kecenderungan penurunan gejala setelah intervensi kursi, dengan keterbatasan mutu dan heterogenitas bukti. Evaluasi juga perlu mencakup organisasi kerja. Kajian tindak lanjut Wang et al. [21] menghubungkan beban fisik dan lembur dengan perubahan nyeri leher atau bahu operator jahit. Pengaturan variasi tugas dan kesempatan pemulihan dapat menjadi bagian evaluasi berikutnya; durasi jeda atau target penurunan skor tidak ditentukan tanpa pengamatan lanjutan. Keterbatasan Penelitian Penilaian terbatas pada postur yang disajikan dan tidak menggambarkan variasi sepanjang giliran kerja. Lama postur statis, frekuensi gerakan, kondisi beban, jumlah pekerja, serta keterandalan pengukuran sudut belum dilaporkan secara terperinci. Tidak tersedia pengukuran keluhan dengan kuesioner, pemeriksaan klinis, data antropometri, maupun hasil intervensi. Pengembangan penelitian dapat menambah pengamatan beberapa fase tugas, penilaian kedua sisi tubuh, pengukuran keluhan pekerja, dan evaluasi setelah perubahan. Bukti tersebut diperlukan untuk menilai perubahan paparan dan keluhan secara lebih lengkap. KESIMPULAN Postur kerja pada aktivitas pemeriksaan akhir PT ABC yang didokumentasikan memperoleh skor akhir RULA 4, berasal dari skor kelompok A dan B yang masing-masing bernilai 4. Skor tersebut menempatkan aktivitas pada tingkat tindakan 2 dan menjadi dasar untuk investigasi lebih lanjut serta kemungkinan perubahan postur atau stasiun kerja. Kontribusi penilaian ini adalah penyediaan dasar prioritas evaluasi ergonomi pada proses pemeriksaan manual, terutama penyesuaian media kerja dan tata letak terhadap kebutuhan pandangan serta jangkauan pekerja. Efektivitas perubahan perlu dinilai melalui pengamatan ulang dan pengukuran pendukung pada kondisi kerja aktual. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada pekerja bagian pemeriksaan akhir PT ABC yang telah berpartisipasi dalam pengamatan aktivitas kerja. Dokumentasi postur selama proses pemeriksaan sarung menjadi dasar penilaian menggunakan metode RULA dan penyusunan arah perbaikan stasiun kerja sesuai dengan aktivitas yang diamati. +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ | Pernyataan Kontribusi Penulis (CRediT Statement) | | | | Raditya Jarwenda Novasani dan Syabanul Mustofa adalah penulis artikel. Pembagian peran CRediT | | tidak dilaporkan. | | | | Pernyataan Ketersediaan Data | | | | Dokumentasi postur dan ringkasan penilaian disajikan pada gambar serta tabel artikel. Catatan | | observasi lengkap dan data tambahan tidak disertakan. | | | | Persetujuan Etik | | | | Artikel sumber tidak mencantumkan persetujuan komite etik, nomor protokol, atau rincian | | persetujuan pekerja untuk dokumentasi. | +===================================================================================================+ +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ DAFTAR PUSTAKA [1] T. I. Oesman, E. Irawan, dan P. Wisnubroto, “Analisis postur kerja dengan RULA guna penilaian tingkat risiko upper extremity work-related musculoskeletal disorders. Studi kasus PT. Mandiri Jogja Internasional,” Jurnal Ergonomi Indonesia, vol. 5, no. 1, hlm. 39–46, 2019, doi: 10.24843/JEI.2019.v05.i01.p06. [2] I. Pegiardi, F. S. Handika, dan Supriyadi, “Analisis postur kerja operator dengan metode RULA di area gas cutting,” Jurnal INTECH Teknik Industri Universitas Serang Raya, vol. 3, no. 2, hlm. 73–77, 2017, doi: 10.30656/intech.v3i2.881. [3] D. Setiawan, Z. F. Hunusalela, dan R. Nurhidayati, “Usulan perbaikan sistem kerja di area gudang menggunakan metode RULA dan OWAS di proyek pembangunan jalan tol Cisumdawu Phase 2 PT Wijaya Karya (Persero) Tbk,” JATI UNIK: Jurnal Ilmiah Teknik dan Manajemen Industri, vol. 4, no. 2, hlm. 78–90, 2021, doi: 10.30737/jatiunik.v4i2.999. [4] I. Dianat, M. Kord, P. Yahyazade, M. A. Karimi, dan A. W. Stedmon, “Association of individual and work-related risk factors with musculoskeletal symptoms among Iranian sewing machine operators,” Applied Ergonomics, vol. 51, hlm. 180–188, 2015, doi: 10.1016/j.apergo.2015.04.017. [5] P.-C. Wang, D. M. Rempel, R. J. Harrison, J. Chan, dan B. R. Ritz, “Work-organisational and personal factors associated with upper body musculoskeletal disorders among sewing machine operators,” Occupational and Environmental Medicine, vol. 64, no. 12, hlm. 806–813, 2007, doi: 10.1136/oem.2006.029140. [6] O. J. Sealetsa dan A. Thatcher, “Ergonomics issues among sewing machine operators in the textile manufacturing industry in Botswana,” Work, vol. 38, no. 3, hlm. 279–289, 2011, doi: 10.3233/WOR-2011-1131. [7] L. McAtamney dan E. N. Corlett, “RULA: A survey method for the investigation of work-related upper limb disorders,” Applied Ergonomics, vol. 24, no. 2, hlm. 91–99, 1993, doi: 10.1016/0003-6870(93)90080-S. [8] Z. F. Hunusalela, S. Perdana, dan G. K. Dewanti, “Analisis postur kerja operator dengan metode RULA dan REBA di Juragan Konveksi Jakarta,” IKRA-ITH Teknologi: Jurnal Sains dan Teknologi, vol. 6, no. 1, hlm. 1–10, 2022, doi: 10.37817/ikraith-teknologi.v6i1.1656. [9] G. C. David, “Ergonomic methods for assessing exposure to risk factors for work-related musculoskeletal disorders,” Occupational Medicine, vol. 55, no. 3, hlm. 190–199, 2005, doi: 10.1093/occmed/kqi082. [10] P. G. Dempsey, R. W. McGorry, dan W. S. Maynard, “A survey of tools and methods used by certified professional ergonomists,” Applied Ergonomics, vol. 36, no. 4, hlm. 489–503, 2005, doi: 10.1016/j.apergo.2005.01.007. [11] E.-P. Takala et al., “Systematic evaluation of observational methods assessing biomechanical exposures at work,” Scandinavian Journal of Work, Environment & Health, vol. 36, no. 1, hlm. 3–24, 2010, doi: 10.5271/sjweh.2876. [12] D. Kee dan W. Karwowski, “A comparison of three observational techniques for assessing postural loads in industry,” International Journal of Occupational Safety and Ergonomics, vol. 13, no. 1, hlm. 3–14, 2007, doi: 10.1080/10803548.2007.11076704. [13] D. Kee, “Systematic comparison of OWAS, RULA, and REBA based on a literature review,” International Journal of Environmental Research and Public Health, vol. 19, no. 1, art. 595, 2022, doi: 10.3390/ijerph19010595. [14] S. Hignett dan L. McAtamney, “Rapid entire body assessment (REBA),” Applied Ergonomics, vol. 31, no. 2, hlm. 201–205, 2000, doi: 10.1016/S0003-6870(99)00039-3. [15] A. Hedge, “RULA employee assessment worksheet,” Cornell University, Februari 2001. [Daring]. Tersedia: https://ergo.human.cornell.edu/Pub/AHquest/RULAworksheet.pdf. [16] S. Bao, N. Howard, P. Spielholz, B. Silverstein, dan N. Polissar, “Interrater reliability of posture observations,” Human Factors, vol. 51, no. 3, hlm. 292–309, 2009, doi: 10.1177/0018720809340273. [17] D. M. Rempel, P.-C. Wang, I. Janowitz, R. J. Harrison, F. Yu, dan B. R. Ritz, “A randomized controlled trial evaluating the effects of new task chairs on shoulder and neck pain among sewing machine operators: The Los Angeles garment study,” Spine, vol. 32, no. 9, hlm. 931–938, 2007, doi: 10.1097/01.brs.0000261028.88020.fc. [18] P.-C. Wang et al., “A randomized controlled trial of chair interventions on back and hip pain among sewing machine operators: The Los Angeles garment study,” Journal of Occupational and Environmental Medicine, vol. 50, no. 3, hlm. 255–262, 2008, doi: 10.1097/JOM.0b013e318163869a. [19] R. Herbert et al., “Impact of a joint labor-management ergonomics program on upper extremity musculoskeletal symptoms among garment workers,” Applied Ergonomics, vol. 32, no. 5, hlm. 453–460, 2001, doi: 10.1016/S0003-6870(01)00024-2. [20] S.-M. van Niekerk, Q. A. Louw, dan S. Hillier, “The effectiveness of a chair intervention in the workplace to reduce musculoskeletal symptoms. A systematic review,” BMC Musculoskeletal Disorders, vol. 13, art. 145, 2012, doi: 10.1186/1471-2474-13-145. [21] P.-C. Wang, R. J. Harrison, F. Yu, D. M. Rempel, dan B. R. Ritz, “Follow-up of neck and shoulder pain among sewing machine operators: The Los Angeles garment study,” American Journal of Industrial Medicine, vol. 53, no. 4, hlm. 352–360, 2010, doi: 10.1002/ajim.20790. NOMENKLATUR RULA = Rapid Upper Limb Assessment. REBA = Rapid Entire Body Assessment. A = skor lengan dan pergelangan tangan setelah penyesuaian. B = skor leher, batang tubuh, dan kaki setelah penyesuaian. lb = satuan massa pound; 1 lb setara sekitar 0,454 kg.