Ekliptika : Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan Vol. 4 No. 1 Juli 2023 | Hal. 31–38 doi: https://doi.org/10.55757/ekliptika.v4i1/261 [] Lignin dari Jerami Padi sebagai Material Tabir Surya Diana Novita Sari^(1*), Lintang Alivia Anggerta², dan Aulia Firda Alfiana³ ¹,²,³ Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Pasuruan, Indonesia *Corresponding author: diana.novita0816@gmail.com Received: 29 Juni 2023; Revised: 15 Juli 2023; Accepted: 25 Juli 2023 doi: 10.55757/ekliptika.v4i1.261 +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ | Abstrak | | | | Penelitian ini bertujuan mengisolasi lignin dari jerami padi dan mengamati perubahan nilai Sun | | Protection Factor (SPF) pada variasi konsentrasi lignin dalam etanol 80%. Jerami dikeringkan, | | dihaluskan, dan diayak menggunakan ayakan 40 mesh. Perlakuan dilanjutkan dengan sokletasi | | menggunakan etanol 80% pada 80 °C selama 5 jam, delignifikasi menggunakan NaOH 5% pada 90 °C | | selama 5 jam, serta pengendapan lignin dengan H₂SO₄ 72% hingga pH 4. Endapan dicuci hingga netral | | dan dikeringkan pada 60 °C sampai berat konstan. Sampel lignin disiapkan pada konsentrasi 2%, 4%, | | 6%, 8%, dan 10% (b/v). Pengukuran absorbansi dilakukan pada 290–320 nm dengan interval 5 nm dan | | tiga kali pengulangan. Nilai SPF yang dilaporkan berturut-turut adalah 15,991; 16,039; 16,133; | | 16,284; dan 16,414. Nilai tertinggi diperoleh pada konsentrasi 10%, dengan peningkatan deskriptif | | sekitar 2,65% dibandingkan konsentrasi 2%. Hasil menunjukkan kecenderungan kenaikan SPF pada | | rentang konsentrasi yang diuji. Karakterisasi isolat, pelaporan data absorbansi dan variasi | | pengulangan, serta pengujian formulasi diperlukan untuk mengevaluasi potensi lignin sebagai | | material tabir surya. | | | | Kata kunci: lignin; jerami padi; tabir surya; SPF | | | | Abstract | | | | This study aimed to isolate lignin from rice straw and examine changes in the reported Sun | | Protection Factor (SPF) at different lignin concentrations in 80% ethanol. Rice straw was dried, | | ground, and sieved through a 40-mesh screen. Treatment comprised Soxhlet extraction with 80% | | ethanol at 80 °C for 5 h, alkaline delignification with 5% NaOH at 90 °C for 5 h, and lignin | | precipitation with 72% H₂SO₄ to pH 4. The precipitate was washed to neutral pH and dried at 60 °C | | to constant weight. Lignin samples were prepared at 2%, 4%, 6%, 8%, and 10% (w/v). Absorbance was | | measured from 290 to 320 nm at 5-nm intervals with three repetitions. The reported SPF values | | were 15.991, 16.039, 16.133, 16.284, and 16.414, respectively. The highest value occurred at 10%, | | representing a descriptive increase of approximately 2.65% relative to 2%. These results indicate | | an increasing SPF trend within the tested range. Isolate characterization, absorbance and | | replicate reporting, and formulation testing are required to assess lignin as a potential | | sunscreen material. | | | | Keywords: lignin; rice straw; sunscreen; SPF | +===================================================================================================+ +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ [1] D. N. Sari, L. A. Anggerta, and A. F. Alfiana, “Lignin dari Jerami Padi sebagai Material Tabir Surya,” Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan, vol. 4, no. 1, pp. 31–38, 2023, doi: 10.55757/ekliptika.v4i1.261. PENDAHULUAN Pengembangan material penyerap ultraviolet (UV) dari biomassa menghubungkan kebutuhan bahan fungsional dengan pemanfaatan sumber daya terbarukan. Salah satu parameter yang digunakan untuk menilai potensi bahan tabir surya adalah Sun Protection Factor (SPF). Pengujian spektrofotometri telah digunakan untuk mengevaluasi bahan alam, termasuk sari buah sirsak [1]. Pada tahap penelitian material, nilai hasil pengujian tersebut perlu dibaca sesuai jenis sampel dan metode pengukurannya, terutama ketika sampel berupa larutan dan belum diformulasikan menjadi produk yang diaplikasikan pada kulit. Lignin merupakan biopolimer aromatik penyusun dinding sel tumbuhan. Pembentukannya melibatkan jalur biosintesis dan polimerisasi monolignol [2]. Susunan lignin turut mendukung kekakuan dan fungsi pelindung jaringan tumbuhan [3]. Struktur aromatik dan gugus fungsionalnya menjadi dasar pengembangan aplikasi di luar fungsi biologis tersebut. Dengan demikian, isolasi lignin dari residu pertanian merupakan pendekatan pemisahan komponen biomassa untuk memperoleh material dengan fungsi yang lebih spesifik. Jerami padi menyediakan sumber lignoselulosa yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku lignin. Savitri dan Purwanto melaporkan rentang komposisi jerami dalam literatur berupa selulosa 32–47%, hemiselulosa 19–27%, dan lignin 5–24% [4]. Rentang ini merupakan informasi acuan, bukan hasil analisis komposisi jerami pada penelitian ini. Pemilihan perlakuan awal juga perlu mempertimbangkan karakteristik jerami; kajian Binod dkk. menyoroti kandungan abu dan silika serta peran perlakuan awal dalam pengolahan biomassa tersebut [5]. Potensi fotoproteksi lignin berkaitan dengan gugus kromofor yang menyerap UV serta sifat fenolik yang dapat mendukung aktivitas antioksidan [6]. Pengembangan lignin sebagai komponen tabir surya telah diteliti melalui pencampuran dengan basis krim [7]. Penelitian pada lignin dari sumber teknis berbeda memperlihatkan bahwa kinerja bergantung pada sifat material dan interaksinya dengan formulasi [8]. Temuan tersebut memberikan landasan untuk meneliti lignin jerami padi tanpa mengasumsikan bahwa seluruh isolat memiliki karakteristik dan efektivitas yang sama. Ukuran partikel dan kondisi pemisahan juga relevan terhadap aplikasi lignin. Qian dkk. mengembangkan partikel koloid lignin untuk tabir surya [9], sedangkan Lee dkk. meneliti lignin berwarna terang [10]. Widsten dkk. menggunakan nanopartikel lignin kraft termodifikasi [11]. Kajian Piccinino dkk. membahas lignin berstruktur nano untuk aplikasi kosmetik [12]. Penelitian-penelitian tersebut menjadi pembanding konseptual; ukuran partikel nano, warna isolat, dan aktivitas antioksidan belum diukur dalam penelitian ini. Penelitian ini berfokus pada isolasi lignin melalui ekstraksi awal, delignifikasi alkali, dan pengendapan asam, kemudian pengamatan nilai SPF pada lima konsentrasi dalam etanol 80%. Tujuannya adalah memperoleh isolat dari jerami padi dan mendeskripsikan kecenderungan nilai SPF pada konsentrasi 2–10% (b/v). Lingkup hasil dibatasi pada pengujian larutan di laboratorium. Data tidak digunakan untuk menyatakan efektivitas klinis, perlindungan spektrum luas, atau kelayakan produk kosmetik jadi. METODE PENELITIAN Alat dan bahan Peralatan yang digunakan meliputi satu set sokletasi, satu set refluks dengan labu leher tiga, gelas beker, gelas ukur, Erlenmeyer, corong kaca, batang pengaduk, spatula, hot plate, pengaduk, oven, neraca analitik, sentrifus, termometer, pipet tetes, serta spektrofotometer UV-Vis. Pengukuran pH dilakukan menggunakan pH meter. Bahan penelitian meliputi jerami padi, akuades, etanol 96%, NaOH, H₂SO₄ 98%, dan kertas saring. Larutan kerja yang digunakan ialah etanol 80%, NaOH 5%, dan H₂SO₄ 72%; dasar persentase larutan kerja selain lignin belum dirinci. Persiapan jerami dan ekstraksi awal Jerami padi dikeringkan di bawah sinar matahari, dihaluskan, dan diayak menggunakan ayakan 40 mesh. Sebanyak 40 g jerami ditempatkan dalam pembungkus kertas saring pada ekstraktor. Sokletasi dilakukan menggunakan etanol 80% dengan perbandingan jerami terhadap pelarut 1:5 pada suhu operasi yang dilaporkan 80 °C selama 5 jam. Padatan setelah ekstraksi dikeringkan dalam oven pada 60 °C, ditimbang, kemudian digunakan pada tahap delignifikasi. Jenis pelarut dan metode ekstraksi memengaruhi senyawa yang terambil, sebagaimana dibahas pada penelitian ekstraksi daun kersen [13]; rujukan tersebut tidak membuktikan kadar pengotor yang terpisah dari jerami pada penelitian ini. Delignifikasi dan pengendapan lignin Sebanyak 30 g padatan jerami setelah ekstraksi dicampurkan dengan 375 mL NaOH 5% dalam labu leher tiga. Delignifikasi dilakukan pada 90 °C selama 5 jam dengan perbandingan massa padatan terhadap volume larutan 1:12,5. Campuran disaring untuk memisahkan residu padat dari filtrat berwarna gelap atau lindi hitam. H₂SO₄ 72% ditambahkan perlahan pada filtrat, dengan volume yang dilaporkan 15 mL, hingga pH 4. Endapan dipisahkan menggunakan sentrifugasi dan penyaringan, dicuci dengan akuades sampai pH netral, lalu dikeringkan pada 60 °C hingga berat konstan. Kecepatan dan waktu sentrifugasi serta massa isolat akhir tidak dilaporkan. Pengukuran absorbansi dan penyajian SPF Isolat lignin disiapkan dalam etanol 80% pada konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10% (b/v). Absorbansi diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan etanol 80% sebagai blanko. Rentang pengukuran adalah 290–320 nm, dengan interval 5 nm dan tiga kali pengulangan. Prosedur ini merujuk pengujian SPF secara in vitro oleh Mokodompit dkk. [14]. Nilai SPF disajikan secara deskriptif menurut konsentrasi. Data absorbansi tiap panjang gelombang, hasil tiap pengulangan, dan persamaan perhitungan tidak tersedia sehingga simpangan baku, signifikansi statistik, dan penghitungan ulang SPF tidak ditetapkan. Spektrofotometri untuk estimasi SPF memerlukan ketentuan perhitungan dan kondisi analisis yang jelas [15]. Pada naskah ini, nilai SPF dipertahankan sebagai hasil yang dilaporkan; metode perhitungan lain tidak ditetapkan sebagai prosedur yang telah dilakukan. Selisih nilai antara konsentrasi terendah dan tertinggi dihitung langsung dari tabel untuk memperjelas besarnya perubahan deskriptif, tanpa menambahkan pengukuran baru. HASIL DAN PEMBAHASAN Perlakuan awal dan pemisahan lignin Penghalusan dan pengayakan menghasilkan serbuk jerami dengan ukuran yang lebih seragam dibandingkan bahan sebelum diayak. Pada massa yang sama, pengecilan ukuran partikel umumnya meningkatkan luas permukaan kontak dengan pelarut. Foto pada Gambar 1 memperlihatkan perubahan bentuk fisik bahan sebelum dan setelah pengayakan. Foto tersebut merupakan dokumentasi bahan baku, bukan karakterisasi kimia isolat lignin. [] [] (a) Sebelum diayak (b) Setelah diayak 40 mesh Gambar 1. Tampilan fisik jerami padi sebelum dan setelah pengayakan. Sokletasi mendahului perlakuan alkali untuk mengekstraksi komponen yang dapat terambil oleh etanol 80%. Delignifikasi menggunakan NaOH diikuti pemisahan lindi hitam dan pengendapan pada kondisi asam. Pembentukan endapan mendukung pemulihan fraksi yang disebut sebagai isolat lignin dalam penelitian ini. Identitas, kemurnian, dan rendemennya masih memerlukan karakterisasi, karena spektrum struktur kimia serta massa produk akhir belum dilaporkan. Nilai SPF pada variasi konsentrasi lignin Tabel 1. Nilai SPF yang dilaporkan pada larutan lignin dalam etanol 80%. --------------------------------------------------------------------------------------------------- Konsentrasi lignin (% b/v) Nilai SPF ----------------------------------------------------- --------------------------------------------- 2 15,991 4 16,039 6 16,133 8 16,284 10 16,414 --------------------------------------------------------------------------------------------------- Nilai SPF meningkat pada setiap kenaikan konsentrasi yang diuji. Nilai terendah 15,991 terdapat pada 2% dan nilai tertinggi 16,414 pada 10%. Selisih keduanya adalah 0,423. Perubahan relatif dihitung terhadap nilai pada 2% menggunakan Persamaan (1). $\Delta SPF\ (\%)\ = \ \frac{16,414\ - \ 15,991}{15,991}\ \times \ 100\%\ = \ 2,65\%$ (1) Kenaikan ini bersifat deskriptif. Konsentrasi meningkat dari 2% menjadi 10%, sedangkan nilai SPF berubah dalam rentang yang sempit. Data belum menunjukkan apakah selisih tersebut melebihi variasi antarulang pengukuran. Konsentrasi 10% merupakan kondisi dengan nilai tertinggi dalam pengujian ini; konsentrasi optimum belum dapat ditetapkan dari lima titik data tersebut. Pengaruh konsentrasi dan perbandingan dengan literatur Kenaikan nilai SPF sejalan dengan bertambahnya konsentrasi lignin dalam sistem pelarut yang sama. Penjelasan yang mungkin adalah bertambahnya jumlah komponen penyerap UV dalam sampel. Namun, hubungan konsentrasi terhadap hasil SPF tidak dapat dijelaskan hanya dengan angka akhirnya. Kurva absorbansi, homogenitas sampel, dan kondisi pengukuran diperlukan untuk menguji penjelasan tersebut. Konsentrasi tinggi juga perlu dinilai terhadap kemungkinan keterbatasan kelarutan atau dispersi, tanpa menyatakan bahwa masalah tersebut telah terjadi pada sampel. Penelitian bahan alam lainnya menggunakan spektrofotometri untuk mengevaluasi potensi fotoproteksi, antara lain fraksi n-heksana buah libo [16] serta ekstrak etanol tongkol jagung [17]. Perbedaan bahan baku, fraksi, satuan konsentrasi, dan prosedur analisis membatasi perbandingan langsung. Nilai SPF lignin jerami tidak dapat dinyatakan lebih baik daripada bahan lain hanya karena angka yang dilaporkan lebih tinggi, terutama ketika karakteristik sampel dan metode perhitungannya berbeda. Penelitian lignin dalam basis krim memberi konteks pengembangan yang berbeda dari pengujian larutan. Qian dkk. meneliti campuran lignin dari beberapa sumber teknis dengan krim dan tabir surya komersial [8]. Qian dkk. juga meneliti ukuran partikel koloid [9], sedangkan Lee dkk. menekankan lignin berwarna terang [10]. Oleh karena itu, hasil larutan dalam etanol merupakan tahap penilaian material yang masih perlu dilanjutkan dengan formulasi. Data penelitian ini tidak mengukur kinerja campuran dengan krim atau interaksi dengan filter UV lain. Kajian modifikasi lignin membahas pengaruh struktur kimia, morfologi, dan ukuran partikel terhadap pengembangan bahan tabir surya [18]. Pada penelitian ini, ketiga karakteristik tersebut belum tersedia. Proses pemisahan dipilih untuk memperoleh lignin dari jerami, tetapi perubahan struktur akibat kondisi ekstraksi belum dianalisis. Penetapan hubungan antara proses isolasi dan nilai SPF memerlukan karakterisasi isolat yang berasal dari kondisi proses yang sama dengan sampel pengujian. Batas interpretasi fotoproteksi SPF bukan ukuran waktu aman berjemur yang dapat diterapkan langsung pada seluruh kondisi penggunaan. Penetapan SPF produk melalui pengujian in vivo memiliki lingkup tersendiri sebagaimana ISO 24444:2019 [19]. Pengujian yang dilaporkan pada penelitian ini dilakukan pada larutan menggunakan spektrofotometer. Karena tidak tersedia pengujian produk pada kulit, hasilnya tidak digunakan sebagai nilai SPF label produk atau bukti perlindungan klinis. Persamaan dan data spektral juga diperlukan sebelum hasil spektrofotometri dapat direproduksi secara lengkap. Rentang 290–320 nm tidak cukup untuk menetapkan perlindungan UVA secara menyeluruh. Penilaian fotoproteksi UVA secara in vitro dibahas dalam ISO 24443:2021 [20]. Standar tersebut menjadi rujukan lingkup evaluasi lanjutan, bukan metode yang telah diterapkan pada penelitian ini. Dengan demikian, istilah perlindungan spektrum luas, UVA-PF, serta panjang gelombang kritis tidak dinyatakan sebagai hasil. Uji fotostabilitas, keamanan penggunaan pada kulit, dan stabilitas formulasi juga belum dilaporkan. Pengembangan proses dan pemanfaatan jerami Pemanfaatan jerami sebagai sumber lignin menyediakan arah pengembangan material berbasis residu pertanian. Rangkaian proses dalam penelitian ini mencakup pengeringan, ekstraksi etanol, perlakuan alkali, pengendapan asam, pencucian, dan pengeringan isolat. Penilaian keberlanjutan perlu mencakup seluruh tahapan tersebut, karena penggunaan bahan baku terbarukan belum menunjukkan besarnya pengurangan dampak lingkungan dari proses secara keseluruhan. Evaluasi proses berikutnya perlu mencatat rendemen isolat, konsumsi etanol, NaOH, H₂SO₄, air pencuci, dan energi pemanasan. Pemulihan pelarut serta pengelolaan cairan sisa proses dapat dikaji berdasarkan neraca massa dan kebutuhan operasinya. Data biaya dan dampak lingkungan belum tersedia, sehingga keuntungan ekonomi maupun pengurangan emisi tidak dihitung. Karakterisasi residu mineral juga diperlukan untuk menilai mutu isolat, terutama karena jerami merupakan biomassa dengan kandungan abu dan silika yang relevan dalam pengolahannya [5]. Peningkatan mutu pelaporan pengujian dimulai dari penyajian kurva absorbansi, hasil setiap pengulangan, dan persamaan perhitungan SPF. Data tersebut memungkinkan penilaian variasi hasil dan perbandingan konsentrasi yang lebih kuat. Setelah identitas dan kemurnian isolat diketahui, pengembangan dapat diarahkan pada formulasi yang homogen serta evaluasi warna, kestabilan, fotoproteksi, dan keamanan sesuai lingkup penggunaannya. Tahapan ini merupakan kebutuhan penelitian lanjutan, bukan hasil pengujian tambahan pada penelitian sekarang. KESIMPULAN Jerami padi diproses melalui sokletasi etanol 80%, delignifikasi NaOH 5%, serta pengendapan asam hingga pH 4 untuk memperoleh fraksi yang dilaporkan sebagai lignin. Pada konsentrasi 2%, 4%, 6%, 8%, dan 10% (b/v), nilai SPF berturut-turut adalah 15,991; 16,039; 16,133; 16,284; dan 16,414. Nilai tertinggi diperoleh pada 10%, dengan kenaikan deskriptif sekitar 2,65% terhadap 2%. Hasil mendukung potensi penelitian lanjutan terhadap lignin jerami sebagai material tabir surya. Kemurnian isolat, signifikansi perbedaan SPF, serta efektivitas dan keamanan formulasi belum ditetapkan dari data yang tersedia. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan apresiasi kepada para peneliti yang publikasinya menjadi rujukan dalam kajian isolasi lignin dan evaluasi fotoproteksi berbasis biomassa. +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ | Pernyataan Kontribusi Penulis (CRediT Statement) | | | | Diana Novita Sari, Lintang Alivia Anggerta, dan Aulia Firda Alfiana tercantum sebagai penulis. | | Pembagian peran individual menurut taksonomi CRediT belum dilaporkan. | | | | Pernyataan Ketersediaan Data | | | | Data ringkasan disajikan dalam tabel dan gambar artikel. Data absorbansi tiap panjang gelombang, | | hasil tiap pengulangan, serta ketentuan akses data mentah belum disertakan. | | | | Persetujuan Etik | | | | Penelitian yang dilaporkan merupakan pengujian material di laboratorium. Artikel sumber tidak | | melaporkan pengujian pada manusia atau hewan maupun nomor persetujuan etik. | +===================================================================================================+ +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ DAFTAR PUSTAKA [1] R. Rahmawati, A. Muflihunna, dan M. Amalia, “Analisis Aktivitas Perlindungan Sinar UV Sari Buah Sirsak (Annona muricata L.) Berdasarkan Nilai Sun Protection Factor (SPF) Secara Spektrofotometri UV-VIS,” Jurnal Fitofarmaka Indonesia, vol. 5, no. 2, hlm. 284–288, 2018, doi: 10.33096/jffi.v5i2.412. [2] W. Boerjan, J. Ralph, dan M. Baucher, “Lignin Biosynthesis,” Annual Review of Plant Biology, vol. 54, hlm. 519–546, 2003, doi: 10.1146/annurev.arplant.54.031902.134938. [3] C. J. Liu, “Deciphering the enigma of lignification: precursor transport, oxidation, and the topochemistry of lignin assembly,” Molecular Plant, vol. 5, no. 2, hlm. 304–317, 2012, doi: 10.1093/mp/ssr121. [4] E. Savitri dan E. Purwanto, “Degradasi Lignin dan Selulosa dari Jerami Padi dengan Proses Ozonasi,” Indonesian Polymer Journal (Majalah Polimer Indonesia), vol. 22, no. 2, hlm. 21–25, 2019, doi: 10.37889/mpi.2019.22.2.5. [5] P. Binod, R. Sindhu, R. R. Singhania, S. Vikram, L. Devi, S. Nagalakshmi, N. Kurien, R. K. Sukumaran, dan A. Pandey, “Bioethanol production from rice straw: An overview,” Bioresource Technology, vol. 101, no. 13, hlm. 4767–4774, 2010, doi: 10.1016/j.biortech.2009.10.079. [6] H. Sadeghifar dan A. Ragauskas, “Lignin as a UV Light Blocker—A Review,” Polymers, vol. 12, no. 5, artikel 1134, 2020, doi: 10.3390/polym12051134. [7] Y. Qian, X. Qiu, dan S. Zhu, “Lignin: a nature-inspired sun blocker for broad-spectrum sunscreens,” Green Chemistry, vol. 17, no. 1, hlm. 320–324, 2015, doi: 10.1039/C4GC01333F. [8] Y. Qian, X. Qiu, dan S. Zhu, “Sunscreen Performance of Lignin from Different Technical Resources and Their General Synergistic Effect with Synthetic Sunscreens,” ACS Sustainable Chemistry & Engineering, vol. 4, no. 7, hlm. 4029–4035, 2016, doi: 10.1021/acssuschemeng.6b00934. [9] Y. Qian, X. Zhong, Y. Li, dan X. Qiu, “Fabrication of uniform lignin colloidal spheres for developing natural broad-spectrum sunscreens with high sun protection factor,” Industrial Crops and Products, vol. 101, hlm. 54–60, 2017, doi: 10.1016/j.indcrop.2017.03.001. [10] S. C. Lee, T. M. T. Tran, J. W. Choi, dan K. Won, “Lignin for white natural sunscreens,” International Journal of Biological Macromolecules, vol. 122, hlm. 549–554, 2019, doi: 10.1016/j.ijbiomac.2018.10.184. [11] P. Widsten, T. Tamminen, dan T. Liitiä, “Natural Sunscreens Based on Nanoparticles of Modified Kraft Lignin (CatLignin),” ACS Omega, vol. 5, no. 22, hlm. 13438–13446, 2020, doi: 10.1021/acsomega.0c01742. [12] D. Piccinino, E. Capecchi, E. Tomaino, S. Gabellone, V. Gigli, D. Avitabile, dan R. Saladino, “Nano-Structured Lignin as Green Antioxidant and UV Shielding Ingredient for Sunscreen Applications,” Antioxidants, vol. 10, no. 2, artikel 274, 2021, doi: 10.3390/antiox10020274. [13] W. Yulianti, G. Ayuningtyas, R. Martini, dan I. Resmeiliana, “Pengaruh Metode Ekstraksi dan Polaritas Pelarut Terhadap Kadar Fenolik Total Daun Kersen (Muntingia calabura L),” Jurnal Sains Terapan, vol. 10, no. 2, hlm. 41–49, 2021, doi: 10.29244/jstsv.10.2.41-49. [14] A. N. Mokodompit, H. J. Edy, dan W. Wiyono, “Penentuan Nilai Sun Protective Factor (SPF) Secara In Vitro Krim Tabir Surya Ekstrak Etanol Kulit Alpukat,” Pharmacon: Jurnal Ilmiah Farmasi, vol. 2, no. 3, hlm. 83–85, 2013, doi: 10.35799/pha.2.2013.2385. [15] E. A. Dutra, D. A. G. C. Oliveira, E. R. M. Kedor-Hackmann, dan M. I. R. M. Santoro, “Determination of sun protection factor (SPF) of sunscreens by ultraviolet spectrophotometry,” Revista Brasileira de Ciências Farmacêuticas, vol. 40, no. 3, hlm. 381–385, 2004, doi: 10.1590/S1516-93322004000300014. [16] I. Aulia, W. D. Ayu, dan R. Rusli, “Aktivitas Tabir Surya Fraksi N-Heksana Buah Libo Berdasarkan Nilai SPF,” Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences, vol. 4, no. 1, hlm. 154–161, 2016, doi: 10.25026/mpc.v4i1.175. [17] F. U. Sineke, E. Suryanto, dan S. Sudewi, “Penentuan Kandungan Fenolik dan Sun Protection Factor (SPF) dari Ekstrak Etanol dari Beberapa Tongkol Jagung (Zea mays L.),” Pharmacon, vol. 5, no. 1, 2016, doi: 10.35799/pha.5.2016.11316. [18] M. H. Tran, D. P. Phan, dan E. Y. Lee, “Review on lignin modifications toward natural UV protection ingredient for lignin-based sunscreens,” Green Chemistry, vol. 23, no. 13, hlm. 4633–4646, 2021, doi: 10.1039/D1GC01139A. [19] International Organization for Standardization, ISO 24444:2019 Cosmetics — Sun protection test methods — In vivo determination of the sun protection factor (SPF). Geneva: ISO, 2019. [20] International Organization for Standardization, ISO 24443:2021 Cosmetics — Determination of sunscreen UVA photoprotection in vitro. Geneva: ISO, 2021.