Ekliptika : Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan Vol. 4 No. 2 Januari 2024 | Hal. 63–70 doi: 10.55757/ekliptika.v4i2.290 doi: https://doi.org/10.55757/ekliptika.v4i2/290 [] Pembuatan Glukosa Cair dari Singkong Jenis Bagor dan Barokah dengan Metode Hidrolisis Enzimatis Menggunakan Enzim Amilase M. Nurul Huda¹, Yunita Khilyatun Nisak² ¹,² Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Pasuruan Email: nurulhudel07@gmail.com ; yunita@itsnupasuruan.ac.id Pasuruan, Indonesia Received: 6 Oktober 2023; Revised: 26 November 2023; Accepted: 2 Januari 2024 +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ | Abstrak | | | | Penelitian ini bertujuan membandingkan hasil glukosa cair dari singkong jenis Bagor dan Barokah | | melalui hidrolisis enzimatis menggunakan enzim amilase. Penelitian menggunakan rancangan acak | | kelompok dengan dua faktor, yaitu jenis singkong dan konsentrasi enzim 0,1%, 0,2%, serta 0,3%, | | dengan tiga ulangan pada setiap kombinasi. Parameter yang diamati meliputi pati secara | | kualitatif, rendemen yang dilaporkan, dan pembacaan refraktometer. Seluruh sampel perlakuan | | menunjukkan hasil positif pada uji Lugol dengan warna biru tua. Rerata rendemen tertinggi | | diperoleh pada Bagor dengan konsentrasi enzim 0,3%, sebesar 62,83 ± 1,49, sedangkan rerata | | pembacaan refraktometer tertinggi diperoleh pada Bagor dengan konsentrasi enzim 0,1%, sebesar | | 27,00 ± 6,24. Hasil ini menunjukkan bahwa perlakuan dengan rerata rendemen tertinggi berbeda dari | | perlakuan dengan rerata pembacaan refraktometer tertinggi. Hasil dibahas secara deskriptif; | | pembacaan refraktometer tidak menetapkan kemurnian glukosa. | | | | Kata kunci: enzim; glukosa; hidrolisis; singkong | | | | Abstract | | | | This study compared liquid glucose production from Bagor and Barokah cassava through enzymatic | | hydrolysis using amylase. A randomized block design was used with two factors: cassava type and | | enzyme concentrations of 0.1%, 0.2%, and 0.3%, with three replicates per combination. The | | parameters examined were qualitative starch detection, reported yield, and refractometer | | readings. All treated samples tested positive in the Lugol test, producing a dark blue color. The | | highest mean yield was obtained from Bagor cassava at an enzyme concentration of 0.3%, reaching | | 62.83 ± 1.49. The highest mean refractometer reading was obtained from Bagor cassava at an enzyme | | concentration of 0.1%, reaching 27.00 ± 6.24. Thus, the treatment with the highest mean yield | | differed from the treatment with the highest mean refractometer reading. The findings are | | interpreted descriptively; refractometer readings do not establish glucose purity. | | | | Keywords: cassava; enzyme; glucose; hydrolysis | +===================================================================================================+ +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ [1] M. N. Huda and Y. K. Nisak, “Pembuatan Glukosa Cair dari Singkong Jenis Bagor dan Barokah dengan Metode Hidrolisis Enzimatis Menggunakan Enzim Amilase,” Ekliptika: Jurnal Inovasi Teknologi Berkelanjutan, vol. 4, no. 2, pp. 63–70, 2024, doi: 10.55757/ekliptika.v4i2.290. PENDAHULUAN Gula cair merupakan salah satu produk pemanis yang dapat diperoleh melalui hidrolisis bahan berpati. Pengembangan gula cair berbahan baku ubi kayu telah dikaji sebagai alternatif gula kristal dengan mempertimbangkan sistem inovasi [1]. Pemanfaatan sumber pati nontebu menjadi dasar untuk menilai produksi glukosa cair dari singkong Bagor dan Barokah. Ketersediaan bahan baku singkong berkaitan dengan produksi dan pengembangan kawasan pertanian. Ariningsih membahas peningkatan produksi ubi kayu berbasis kawasan, sedangkan Asriani mengkaji daya saing ekspornya [2], [3]. Literatur tersebut memberikan konteks pengembangan bahan baku, bukan data produksi atau kebutuhan gula nasional saat penelitian ini. Singkong (Manihot esculenta) merupakan bahan berpati yang berpotensi diolah menjadi gula cair. Komposisi bahan dapat berbeda menurut varietas dan umur panen, sebagaimana dikaji Feliana et al. [4]. Pati memiliki rumus umum (C₆H₁₀O₅)ₙ dan tersusun terutama atas amilosa serta amilopektin. Struktur dan komposisinya berkaitan dengan sifat fungsional pati [5]. Persentase pati umbi segar dan persentase amilosa dalam pati merupakan ukuran yang berbeda sehingga tidak dipertukarkan. Hidrolisis memecah ikatan pada pati dengan bantuan air serta katalis asam atau enzim. Enzim pengonversi pati memiliki fungsi dan produk reaksi yang berbeda [6]. Aktivitas amilase dan kondisi proses berkaitan dengan pembentukan dekstrin serta gula yang lebih sederhana [7]. Struktur granula dan gelatinisasi juga memengaruhi kerentanan pati terhadap hidrolisis [8]. Penelitian ini bertujuan membandingkan nilai hasil hidrolisis pada singkong Bagor dan Barokah dengan variasi konsentrasi amilase. Hidrolisis Pati Hidrolisis pati menghasilkan komponen yang lebih sederhana seperti dekstrin, oligosakarida, maltosa, dan glukosa, bergantung pada jenis enzim dan kondisi proses. Rahmawati dan Sutrisno meninjau pengolahan tepung ubi jalar ungu secara enzimatis menjadi sirup glukosa [9]. Produk gula tidak diasumsikan berupa glukosa murni hanya karena bahan awalnya pati. Pengolahan pati secara enzimatis dapat melibatkan likuefaksi dengan α-amilase dan sakarifikasi dengan glukoamilase. Hargono mengkaji hidrolisis pati singkong pada suhu rendah dengan campuran enzim [10]. Gambar 1 mempertahankan skema yang terdapat dalam artikel; fungsi enzim dan keragaman produk hidrolisis dibahas dalam literatur pengonversi pati [6]. [] Gambar 1. Skema Hidrolisis Pati dalam Artikel Sumber Pemutusan rantai pati oleh α-amilase berlangsung pada ikatan α-1,4 di bagian dalam rantai. β-amilase terutama menghasilkan maltosa, sedangkan glukoamilase melepaskan glukosa dan enzim pemutus cabang membantu menguraikan ikatan cabang. Glukosa isomerase mengonversi glukosa menjadi fruktosa; enzim tersebut tidak disamakan dengan enzim penghasil glukosa dari pati [6], [7]. Triyono mengkaji karakteristik gula glukosa hasil hidrolisis pati ubi jalar [11]. Glukosa Sirup glukosa merupakan produk hidrolisis pati yang dapat mengandung glukosa dan komponen karbohidrat lainnya. Pengolahan pati singkong melalui hidrolisis asam dibahas oleh Fajri et al. [12], sedangkan Safitri et al. mengkaji hidrolisis ubi jalar kuning menggunakan asam klorida [13]. Kajian kinetika hidrolisis pati pisang tanduk oleh Yuniwati et al. juga menunjukkan pentingnya kondisi proses pada hidrolisis asam [14]. Hasil dari proses asam menjadi pembanding literatur dan tidak diperlakukan sebagai hasil proses enzimatis penelitian ini. Glukosa merupakan monosakarida dengan rumus molekul C₆H₁₂O₆. Pembacaan refraktometer mencerminkan sifat optik larutan dan tidak mengidentifikasi glukosa secara selektif. Oleh sebab itu, nilai pembacaan pada penelitian ini dibahas secara terpisah dari kemurnian atau komposisi glukosa. METODE Rancangan Penelitian Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan dua faktor. Faktor A adalah jenis singkong, yaitu Bagor dan Barokah. Faktor B adalah konsentrasi enzim amilase, yaitu 0,1%, 0,2%, dan 0,3%. Setiap kombinasi diulang tiga kali sehingga terdapat enam kombinasi perlakuan dan 18 satuan percobaan. Data diperoleh pada Maret–Mei 2023. Dasar pengelompokan, tata pengacakan, dan asal bahan tidak dirinci dalam pelaporan penelitian. Pengamatan dan Analisis Data Parameter yang diamati meliputi keberadaan pati secara kualitatif, rendemen yang dilaporkan, dan pembacaan refraktometer. Pati dianalisis menggunakan larutan Lugol. Rincian preparasi, kondisi hidrolisis, merek dan aktivitas enzim, dasar konsentrasi enzim, rumus rendemen, serta kalibrasi refraktometer tidak disertakan. Nilai numerik dipertahankan dalam skala yang dilaporkan tanpa menetapkan satuan yang tidak dapat ditelusuri. Hasil disajikan sebagai rerata dengan notasi ± dan huruf superskrip dari pelaporan penelitian. Jenis ukuran penyebaran serta metode uji lanjut tidak dicantumkan. Pembahasan membandingkan rerata secara deskriptif; tidak dilakukan penghitungan ulang ANOVA atau penetapan signifikansi baru karena data individual ulangan tidak tersedia. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Pati Kualitatif Uji Lugol digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan pati pada sampel. Seluruh kombinasi perlakuan menghasilkan warna biru tua sebagaimana ditampilkan pada Tabel 1. Hasil positif menunjukkan bahwa sampel masih mengandung pati yang belum terhidrolisis sepenuhnya. Tabel 1. Hasil Analisis Pati Kualitatif ---------------------------------------------------------------------------------------------------- Jenis Singkong Konsentrasi Enzim (%) Hasil Analisis ---------------------------- ----------------------------------- ----------------------------------- Barokah 0,1 Biru tua Barokah 0,2 Biru tua Barokah 0,3 Biru tua Bagor 0,1 Biru tua Bagor 0,2 Biru tua Bagor 0,3 Biru tua ---------------------------------------------------------------------------------------------------- Pada kontrol, warna ungu pekat dilaporkan untuk Barokah dan merah muda untuk Bagor. Sampel perlakuan menunjukkan warna biru tua atau ungu setelah penambahan Lugol. Hasil tersebut merupakan pemeriksaan kualitatif; intensitas warna tidak digunakan untuk menghitung kadar pati atau memastikan persentase konversi. Umbi Barokah dilaporkan berukuran relatif lebih besar, berkulit lebih tipis, dan berdaging lebih putih dibandingkan Bagor, sedangkan Bagor disebut terasa sedikit lebih pahit. Pengamatan fisik dan warna uji Lugol tidak cukup untuk menetapkan bahwa salah satu jenis mengandung pati lebih tinggi tanpa pengukuran kuantitatif. Sutamihardja, Srikandi, dan Herdiani melaporkan hasil negatif pada pemeriksaan pati dalam kajian gula cair dari singkong dengan hidrolisis asam [15]. Perbedaan hasil dapat dipengaruhi bahan serta kondisi proses. Hasil negatif pada pengujian tersebut tidak diperlakukan sebagai bukti konversi sempurna secara kuantitatif, sedangkan hasil positif penelitian ini menunjukkan masih terdeteksinya pati. Rendemen Rerata rendemen pada enam kombinasi perlakuan berkisar 17,06–62,83. Pada Barokah, nilai meningkat dari 17,06 pada konsentrasi enzim 0,1% menjadi 37,64 pada 0,2% dan 40,75 pada 0,3%. Pada Bagor, nilai meningkat dari 47,19 pada 0,1% menjadi 58,68 pada 0,2% dan 62,83 pada 0,3%. Nilai lengkap beserta notasi penyebaran dan huruf superskrip sumber disajikan pada Tabel 2. Tabel 2. Rerata Rendemen Glukosa Cair Akibat Perlakuan Enzim ---------------------------------------------------------------------------------------------------- Jenis Singkong Konsentrasi Enzim (%) Rendemen* ---------------------------- ----------------------------------- ----------------------------------- Barokah 0,1 17,06 ± 1,82^(d) Barokah 0,2 37,64 ± 3,99^(c) Barokah 0,3 40,75 ± 4,91^(c) Bagor 0,1 47,19 ± 1,81^(b) Bagor 0,2 58,68 ± 0,91^(a) Bagor 0,3 62,83 ± 1,49^(a) ---------------------------------------------------------------------------------------------------- Nilai rendemen mengikuti pelaporan penelitian; satuan dan rumus perhitungannya tidak disertakan secara konsisten. Notasi ± serta superskrip dipertahankan dan tidak ditafsirkan sebagai hasil uji ulang. Rerata rendemen tertinggi pada kedua jenis singkong diperoleh pada konsentrasi enzim 0,3%. Nilai tertinggi adalah Bagor pada 0,3%, yaitu 62,83 ± 1,49ᵃ. Nilai ini merupakan maksimum di antara perlakuan yang diuji dan tidak menetapkan optimum proses untuk seluruh rentang konsentrasi. Kajian Dewi, Wrasiati, dan Arnata membahas variasi kondisi hidrolisis pada gula cair dari ampas brem [16]. Peningkatan rerata rendemen searah dengan konsentrasi amilase pada enam perlakuan ini. Devita, Pratjojo, dan Sedyawati membandingkan hidrolisis enzim dan asam pada sirup glukosa ubi jalar ungu [17]. Literatur tersebut menjadi konteks pemilihan metode; hubungan sebab-akibat dan derajat konversi dalam penelitian ini tidak dihitung dari rendemen saja. Pembacaan Refraktometer Nilai pembacaan refraktometer pada kontrol dilaporkan sebesar 0. Pada Barokah, rerata pembacaan refraktometer tertinggi diperoleh pada konsentrasi enzim 0,2%, sebesar 25,00 ± 4,36ᵃ, sedangkan nilai terendah diperoleh pada 0,3%, sebesar 23,67 ± 1,15ᵃ. Pada Bagor, nilai tertinggi diperoleh pada 0,1%, sebesar 27,00 ± 6,24ᵃ, dan nilai terendah pada 0,3%, sebesar 23,00 ± 0ᵃ. Tabel 3 mempertahankan seluruh nilai sumber. Tabel 3. Rerata Pembacaan Refraktometer pada Sampel Glukosa Cair ---------------------------------------------------------------------------------------------------- Jenis Singkong Konsentrasi Enzim (%) Pembacaan Refraktometer* ---------------------------- ----------------------------------- ----------------------------------- Kontrol 0 0 Barokah 0,1 24,67 ± 3,79^(a) Barokah 0,2 25,00 ± 4,36^(a) Barokah 0,3 23,67 ± 1,15^(a) Bagor 0,1 27,00 ± 6,24^(a) Bagor 0,2 23,67 ± 1,15^(a) Bagor 0,3 23,00 ± 0^(a) ---------------------------------------------------------------------------------------------------- Nilai pada tabel merupakan pembacaan yang dilaporkan melalui refraktometer. Pelaporan % dan Brix tidak konsisten sehingga satuan tidak ditetapkan ulang. Notasi ± dan huruf a mengikuti sumber; pembacaan ini tidak disamakan dengan kadar glukosa murni. Pembacaan 0 pada kontrol tidak menunjukkan ketiadaan pati karena pemeriksaan pati dilakukan terpisah dengan Lugol. Pengukuran refraktometer juga tidak memisahkan glukosa dari zat terlarut lain; penetapan komposisi gula memerlukan metode analisis yang spesifik. Wahyuningsih meneliti variasi konsentrasi α-amilase pada hidrolisis pati labu Jepang [18]. Suryani dan Nisa menggunakan α-amilase untuk modifikasi pati singkong menjadi agen pembuih [19], menunjukkan bahwa tujuan produk pengolahan pati dapat berbeda. Tambunan et al. menilai suhu dan waktu hidrolisis asam pada sirup glukosa biji alpukat [20]. Kondisi penelitian tersebut tidak dipindahkan menjadi kondisi percobaan Bagor dan Barokah. Dalam data penelitian ini, konsentrasi enzim yang lebih tinggi tidak selalu diikuti pembacaan refraktometer lebih tinggi. Seluruh perlakuan pada Tabel 3 memiliki superskrip a sehingga tidak dinyatakan berbeda nyata tanpa keluaran uji statistik. KESIMPULAN Seluruh sampel perlakuan menunjukkan hasil positif pada uji pati dengan warna biru tua. Rerata rendemen tertinggi dilaporkan pada Bagor dengan enzim 0,3%, yaitu 62,83 ± 1,49ᵃ. Pembacaan refraktometer tertinggi dilaporkan pada Bagor dengan enzim 0,1%, yaitu 27,00 ± 6,24ᵃ. Dengan demikian, perlakuan yang memaksimalkan kedua parameter secara numerik berbeda. Satuan dan notasi mengikuti batas pelaporan pada Tabel 2–3. Kesimpulan dibatasi pada perbandingan deskriptif karena data ulangan serta keluaran uji interaksi dan uji lanjut tidak disertakan. Hasil ini belum menetapkan pengaruh signifikan kedua faktor pada seluruh parameter atau kemurnian glukosa produk. Penelitian lanjutan disarankan mencakup variasi konsentrasi enzim dan jenis singkong yang lebih luas serta analisis pati secara kuantitatif pada Bagor dan Barokah untuk memeriksa perbedaan jumlah pati kedua jenis tersebut. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang membantu pelaksanaan penelitian hidrolisis enzimatis pati singkong Bagor dan Barokah. Dukungan dalam persiapan bahan, pelaksanaan percobaan, dan pengamatan parameter penelitian membantu tersusunnya kajian mengenai pemanfaatan amilase dalam pengolahan bahan berpati menjadi glukosa cair. +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ | Pernyataan Kontribusi Penulis (CRediT Statement) | | | | M. Nurul Huda dan Yunita Khilyatun Nisak tercantum sebagai penulis artikel. Pembagian peran | | CRediT tidak dilaporkan. | | | | Pernyataan Ketersediaan Data | | | | Ringkasan hasil tersedia dalam tabel artikel. Data individual ulangan dan ketentuan akses data | | mentah tidak disertakan. | | | | Persetujuan Etik | | | | Penelitian menggunakan bahan pangan singkong dan enzim. Artikel tidak melaporkan penggunaan | | subjek manusia atau hewan maupun nomor persetujuan etik. | +===================================================================================================+ +---------------------------------------------------------------------------------------------------+ DAFTAR PUSTAKA [1] S. Suripto, M. S. Maarif, dan Y. Arkeman, “Pengembangan gula cair berbahan baku ubi kayu sebagai alternatif gula kristal dengan pendekatan sistem inovasi,” Jurnal Teknik Industri, vol. 3, no. 2, 2013, doi: 10.25105/jti.v3i2.1575. [2] E. Ariningsih, “Peningkatan produksi ubi kayu berbasis kawasan di Provinsi Jawa Barat dan Sulawesi Selatan,” Analisis Kebijakan Pertanian, vol. 14, no. 2, hlm. 125–148, 2016, doi: 10.21082/akp.v14n2.2016.125-148. [3] P. S. Asriani, “Analisis daya saing ekspor ubikayu Indonesia,” Agroland, vol. 18, no. 1, hlm. 65–70, 2011. [4] F. Feliana, A. H. Laenggeng, dan F. Dhafir, “Kandungan gizi dua jenis varietas singkong (Manihot esculenta) berdasarkan umur panen di Desa Siney Kecamatan Tinombo Selatan Kabupaten Parigi Moutong,” Jurnal E-Jipbiol, vol. 2, no. 3, hlm. 1–14, 2014. [Daring]. Tersedia: http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/EBiol/article/view/3015. [5] R. F. Tester, J. Karkalas, dan X. Qi, “Starch—composition, fine structure and architecture,” Journal of Cereal Science, vol. 39, no. 2, hlm. 151–165, 2004, doi: 10.1016/j.jcs.2003.12.001. [6] M. J. E. C. van der Maarel, B. van der Veen, J. C. M. Uitdehaag, H. Leemhuis, dan L. Dijkhuizen, “Properties and applications of starch-converting enzymes of the α-amylase family,” Journal of Biotechnology, vol. 94, no. 2, hlm. 137–155, 2002, doi: 10.1016/S0168-1656(01)00407-2. [7] R. Gupta, P. Gigras, H. Mohapatra, V. K. Goswami, dan B. Chauhan, “Microbial α-amylases: a biotechnological perspective,” Process Biochemistry, vol. 38, no. 11, hlm. 1599–1616, 2003, doi: 10.1016/S0032-9592(03)00053-0. [8] R. F. Tester, X. Qi, dan J. Karkalas, “Hydrolysis of native starches with amylases,” Animal Feed Science and Technology, vol. 130, no. 1–2, hlm. 39–54, 2006, doi: 10.1016/j.anifeedsci.2006.01.016. [9] A. Y. Rahmawati dan A. Sutrisno, “Hidrolisis tepung ubi jalar ungu (Ipomea batatas L.) secara enzimatis menjadi sirup glukosa fungsional: kajian pustaka,” Pangan dan Agroindustri, vol. 3, no. 3, hlm. 1152–1159, 2015. [10] H. Hargono, “Kinetika hidrolisis pati singkong manis (Manihot esculenta) pada suhu rendah,” Jurnal Inovasi Teknik Kimia, vol. 4, no. 1, hlm. 11–15, 2019, doi: 10.31942/inteka.v4i1.2680. [11] A. Triyono, “Karakterisasi gula glukosa dari hasil hidrolisa pati ubi jalar (Ipomea batatas, L.) dalam upaya pemanfaatan pati umbi-umbian,” dalam Prosiding Seminar Nasional Teknoin 2008 Bidang Teknik Kimia dan Tekstil, vol. 5, hlm. 7–10, 2008. [12] M. S. Fajri, M. A. Satrio, L. I. Utami, dan K. N. Wahyusi, “Produksi gula cair dengan proses hidrolisis asam dengan bahan pati singkong,” ChemPro, vol. 3, no. 1, hlm. 58–64, 2022, doi: 10.33005/chempro.v3i1.157. [13] A. D. Safitri, R. Dewi, R. Nurlaila, Z. Zulnazri, dan M. Muhammad, “Glukosa cair dari proses hidrolisis ubi jalar kuning (Ipomoea batatas L) menggunakan katalis asam klorida,” Chemical Engineering Journal Storage (CEJS), vol. 2, no. 4, hlm. 81, 2022, doi: 10.29103/cejs.v2i4.7729. [14] M. Yuniwati, D. Ismiyati, dan R. Kurniasih, “Kinetika reaksi hidrolisis pati pisang tanduk dengan katalisator asam chlorida,” Jurnal Teknologi, vol. 4, no. 2, hlm. 107–112, 2011. [15] R. T. M. Sutamihardja, Srikandi, dan D. P. Herdiani, “Hidrolisis asam klorida tepung pati singkong (Manihot esculenta Crantz) dalam pembuatan gula cair,” Sains Natural, vol. 5, no. 1, hlm. 83–91, 2015, doi: 10.31938/jsn.v5i1.103. [16] K. N. Dewi, L. P. Wrasiati, dan I. W. Arnata, “Karakteristik gula cair dari ampas padat produk brem di perusahaan Fa. Udiyana pada perlakuan konsentrasi H₂SO₄ dan waktu hidrolisis,” Jurnal Rekayasa dan Manajemen Agroindustri, vol. 5, no. 3, hlm. 24–34, 2017. [17] C. Devita, W. Pratjojo, dan S. M. R. Sedyawati, “Perbandingan metode hidrolisis enzim dan asam dalam pembuatan sirup glukosa ubi jalar ungu,” Indonesian Journal of Chemical Science, vol. 4, no. 1, 2015, doi: 10.15294/ijcs.v4i1.4759. [18] S. Wahyuningsih, “Pengaruh konsentrasi enzim α-amilase pada hidrolisis pati labu Jepang (Kabocha),” CHEESA: Chemical Engineering Research Articles, vol. 2, no. 1, hlm. 26–32, 2019, doi: 10.25273/cheesa.v2i1.4433. [19] R. Suryani dan F. C. Nisa, “Modifikasi pati singkong (Manihot esculenta) dengan enzim α-amilase sebagai agen pembuih serta aplikasinya pada proses pembuatan marshmallow,” Jurnal Pangan dan Agroindustri, vol. 3, no. 2, hlm. 723–733, 2015. [20] M. P. M. Tambunan, Z. Ginting, R. Nurlaila, M. Muhammad, dan I. Ishak, “Pengaruh suhu dan waktu hidrolisis terhadap kadar glukosa dalam pembuatan sirup glukosa dari biji alpukat dengan metode hidrolisis asam,” Chemical Engineering Journal Storage (CEJS), vol. 1, no. 3, hlm. 17–26, 2021, doi: 10.29103/cejs.v1i3.4798. NOMENKLATUR α = taraf signifikansi statistik yang dinyatakan dalam sumber (0,05). α-amilase dan β-amilase = nama jenis enzim dalam pembahasan sumber. (C₆H₁₀O₅)ₙ = rumus umum pati; n = jumlah unit berulang. C₆H₁₂O₆ = rumus molekul glukosa. ± = notasi penyebaran yang dilaporkan; jenis ukurannya tidak dinyatakan. a, b, c, d = huruf superskrip dari pelaporan hasil; keluaran uji lanjut tidak disertakan.